Sebelumnya, kalau ada yang pernah baca cerita ini sebelumnya di tempat dan atas nama orang lain, ya benar.! cerita ini hasil revisian saya dari sebuah cerita milik partner ngidol saya :D dan kesamaan nama, tokoh, karakter, tempat dan kejadian yang sama berupa kesengajaan semata :P , cerita ini hanya fiktif belaka, jangan di anggep serius yee:P
Waktu masih amat pagi,ketika kesunyian terlalu
siang baginya.Mataharipun terasa masih enggan untuk keluar,ketika kakinya telah
melangkahkan langkah seribunya dan bergegas dengan pakaian rapinya.Langkahnya
begitu cepat,bahkan lebih cepat dari hitungan detik,waktu terlalu berharga
untuknya,apalagi kalau hanya dibuang-buang untuk tidur pulas.
Jalanan kota
masih lengang,kemacetanpun belum nampak disana sini,mungkin ini alasan ia
berangkat lebih pagi disaat yang lainnya masih mendekap mimpi di tempat tidurnya.
Akhirnya tibalah
ia di tempat tujuannya,dibukanya pintu,dan masuklah ia kedalam
ruangannya,segera ia berkutat dengan laptop dan beberapa berkas yang tertata
rapi.Beberapa menit berselang,satu demi satu kawan seperjuangan datang,dan
mulai dengan pekerjaan mereka masing-masing.
“Pagi.....ibu direktur.......”ucap seorang laki-laki seusianya saat memasuki
ruangan,dan langsung duduk mengambil kursi dihadapannya.
“Pagi” Jawabnya singkat tanpa menatap dan masih sibuk dengan banyak file
yang dipegangnya.
“Sudah sarapan kah ibu direktur yang cantik ini?” Tanya laki-laki itu lagi
dengan gaya bicara tengilnya, yang ditanya hanya menjawab dengan anggukan
kepala.
“Akh.....kata pak slamet, penjaga malam di kantor ini,kamu masuk jam 6.15
pagi,kenapa ga nungguin aku sih, aku tau pagi ini aku rada telat,tapi mana
mungkin kamu udah sarapan, pasti belum.” Laki-laki itu masih mencoba perhatian
wanita di hadapannya yang tak menatapnya sedari tadi.
“Melody.......ayolah........kita sarapan dulu,lagian ini masih pagi......biarin
file itu ditinggal ajah,lagian siapa sih yang mau ngambil kertas-kertas kaya
gitu,paling juga tukang rongsok buat dikiloin,ayo....” Kali ini laki-laki itu hanya diam, dia
menarik tangan melody, menjauhkannya dari file-file yang menyita perhatiannya.
“Adit......tapi aku masih banyak kerjaan nih...” Ucap melody akhirnya,tapi
tak digubris Adit justru Adit semakin menariknya, hingga Melody bangun dari
duduknya dan mengikuti ajakan laki-laki itu, berjalan beriringan menuju kantin
kantor yang tak begitu jauh dari ruangan Melody.
“Ini ibu ratu, bubur ayam tanpa kacang dan sambal, selamat menikmati” Ucap
adit sambil membawakan mangkok bubur ayam untuk Melody bak pelayan melayani
Ratunya.
“Makasih dit.” Ucap melody menerima mangkuk dari Adit dan langsung melahap
isinya.
“Sama-sama, sarapan itu penting mel, kamu ngejar kerjaan ga akan ada
beresnya, lebih penting tuh kesehatan kamu” Ucap Adit sesaat sebelum memasukkan
sendok bubur ke dalam mulutnya.
“Oia, kemarin iklan yang buat cari asisten buat kamu udah menyebar, hasilnya
bagus, banyak yang daftar, hari ini langsung interview, lusa bisa langsung
kerja.” Ucap adit membuka topik baru, karena merasa topik bahasan sebelumnya
tak membuat Melody menanggapinya.
“Emangnya jadi yah? Kayanya ga perlu-perlu amat deh dit.” Ucap Melody santai
dengan nada remehnya.
“Ga perlu gimana? Sekarang aja kamu repot kaya gini, sarapan aja harus
dipaksa, kamu tuh perlu ada yang bantuin kerjaan kamu, jangan mikirin kerjaan
terus,seengganya pikirin tuh urusan pribadi kamu,tentang pacar kek atau.....” Ucap
adit yang langsung dipotong oleh Melody.
“Selesai......kenyang deh,”ucap Melody yang langsung beranjak dan pergi,
ceramah Adit yang panjang lebar membuatnya mempercepat gerak tangan dan
mulutnya untuk segera mencerna makanannya.
“Eh...mel...ni gimana?? Bayar donk woy...” Teriak Adit.
“Bayarin Adit dulu deh, gak ada uang kecil”ucap melody segera berlari ke
kantornya kembali.
“Wah, yakali ibu direktur minta di bayarin, harusnya kan gue yang
dibayarin.” Gerutu Adit kemudian menyuapkan lagi bubur ke dalam mulutnya. “
Rugi nih gue.” Lanjutnya.
Kesibukan
mulai terasa saat ini,tak terkecuali dengan melody, dia yang paling tak bisa
diam dalam segala hal yang dilalui dikantor itu. Melody adalah direktur
sekaligus pemilik tunggal perusahaan advertising itu, perusahaan yang sempat
terhempas dan hancur dan mulai berkembang lagi beberapa tahun belakangan. Perusahaan
yang diberi nama “Lighting Advertising” adalah perusahaan warisan dari
Ayahnya yang meninggal akibat tragedi kecelakaan Amsterdam 3tahun yang lalu, pada
saat itu hanya Melody dan seorang adiknya yang selamat. Namun adiknya ingin
tetap tinggal di Amsterdam,sedangkan Melody memilih untuk menjalankan bisnis
ayahnya.
“Ike...siap-siap yah?15 menit lagi kamu nemenin aku nemuin client,sekalian
bawa sample project baru kita untuk PT.Rully Sejahtera.” ucap Melody kepada
salah seorang anak buahnya.
“Iya Mba” Jawab dhike mematuhi.
Melody
adalah gadis muda bertalenta tinggi,pintar,cerdas dan termasuk type gila kerja,
apapun dia lakukan demi memajukan perusahaannya, usianya masih bisa dibilang
anak kemarin sore, tapi jangan tanya dengan cara kerjanya, dia termasuk ke
dalam 100 pebisnis muda yang mulai berkembang di Indonesia.
15
menit berselang, dengan mobil kantornya Melody dan Dhike menyusuri jalanan kota
dan melaju menuju tempat tujuan,Melody memperhatikan Dhike yang tiba-tiba
berkeringat dingin dan tangannya gemetar.
“Ke....kamu ga papa kan?” Ucap Melody khawatir dengan tetap fokus pada
jalanan.
“Ga...ga papa mba, i...ike e..mang suka gini kalau tegang.” Ucap dhike
terbata dengan rasa tegangnya.
“Ok...Dhike nggak usah tegang, pegang tangan mba ,nanti di tempat client, dhike
temenin mba aja,biar yang ngomong, yang presentasi, yang mulai negosiasi mba
semua...”ucap Melody menenangkan.
Pertemuan
pun selesai, project barupun akhirnya goal, Melody berjabatan tangan dengan
clientnya dan berakhir pula pertemuan itu. Di perjalanan pulang dhike
sudah terlihat lebih tenang dan ia kini yang mengendalikan laju mobil kantor, Melody
pun mulai membaca-baca kembali banyak kontrak yang sekarang dipegangnya.
“Mba...maafin dhike yah.” Ucap dhike memulai pembicaraan.
“Ke...mba ngerti, butuh waktu lama buat kamu mulai segalanya, kamu
tenang,semua pasti baik-baik saja.” Ucap Melody sambil mngelus pundak dhike.
Dhike
mengalami trauma, semenjak ia pernah menggagalkan proyek besar lighting
advertising beberapa bulan lalu, ia selalu mengalami gejolak pertentangan
dihatinya apabila berhadapan dengan client, dhike sempat beberapa kali
mengajukan surat pengunduran diri,namun Melody menolaknya, ia termasuk salah
satu dari teman seperjuangan Melody untuk membangun kembali perusahaannya, Melodypun
tak ingin siapapun keluar dari perusahaan dengan alasan yang masih bisa
ditolerir. Melody bukan pemimpin yang kaku, Melody selalu menganggap semua
anak buahnya adalah keluarga, kebetulan perusahan Melody belum begitu
besar dan hanya ada beberapa pekerja saja.
“Auw....” Melody mengaduh ketika masih dalam perjalanan kembali ke
kantornya.
“Kenapa mba?” Ucap dhike mengkhawatirkan Melody yang sedari tadi memegangi
dada bagian kanannya, kemudian dhike memberikannya sebotol air mineral yang
kebetulan ada di dalam tasnya.
“Mba ga kenapa-kenapa?sebaiknya kita kerumah sakit mba.” Tanya dhike lagi.
“Ga ke...mba gapapah,kantor sudah menunggu kita.”ucap Melody yang masih
terlihat menahan sakit.
“Tapi mba...”ucap dhike yang langsung dipotong Melody.
“Udah...”ucap Melody mengakhiri percakapan.
Sesampainya di kantor Melody memamerkan berkas
yang sudah ditanda tangani, semuapun tersenyum melihatnya.
“Mel,tuh anak-anak interview udah nungguin.”ucap Adit menghadang jalan
Melody.
“Haduh..... Adit baik deh, ganteng lagi, hari ini mau makan siang bareng ga
dit??” ucap Melody manja, menyandarkan tubuhnya pada tembok penghubung ruangan
karyawan dengan ruangannya, menatap Adit penuh maksud.
“Hmmm.....oke adit yg nginterview.....” Adit mengalah saja dengan kalimat
sahabatnya yang sudah sangat ia tau maksudnya.
“Makasih Adit.” Kata Melody melempar senyum pada Adit lalu beranjak masuk ke
ruangannya.
“Sama-sama,huh...Adit lagi Adit lagi...kalo misalkan manager boleh mecat
direktur, udah gue pecat tuh direktur,untung cantik...sahabat gue
pula....hadugh.....”ucap adit saat berjalan menuju ruang interview yg tak jauh dari
ruangan Melody.
“Apa dit......aku masih denger lho...” Teriak Melody dari dalam ruangannya.
“Ah...ga kog mel,melody cantik kok tadi gue bilangnya” Ucap Adit berlari
kecil, Melody yang masih berdiri di balik pintu hanya tersenyum membayangkan
kelakuan sahabatnya di luar.
Hari
ini masih seperti biasanya, kantor sibuk, apalagi ada project baru,walaupun
tidak terlalu besar ini cukup menguras tenaga dan pikiran Melody, Adit sudah
terlihat mengajak Melody untuk pulang, Melodypun bergegas.
Malam
bertabur bintang,begitu terang dan mengagumkan, udara malam begitu menyejukkan,
semilir angin terasa masuk hingga ke tulang rusuk, Melodypun segera menutup
jendela balkon rumahnya dan menghentikan hikayatnya tentang malam. Rumah itu
masih sepi, Melody memang memutuskan untuk tinggal sendiri, tanpa
siapapun,tidak juga untuk pembantu, dia lebih memilih melakukan semuanya
sendiri, rumah baginya tempat untuk mencari ketenangan dan melakukan hal
yang ia tak bisa lakukan diluar, termasuk menangis, dan ia paling tak suka
siapapun melihatnya menangis, karena ia tidak mau terlihat lemah dimata
siapapun.
Melody
menuruni anak tangga dan duduk bersantai di ruang tamu, namun ketika
dipandanginya tembok sekeliling, di dapatinya banyak foto dan lukisan, yang
baginya memandanginyapun seakan tak pernah punya waktu, kali ini ia mengambil
salah satu fotonya, disana ada ayah, ibu, dan dua malaikat cantik dengan senyum
manisnya, melody mengusapnya satu demi satu gambar foto itu, dan memeluknya, tiba-tiba
air matanya mulai terlihat disudut-sudut kelopak matanya. Melody merebahkan
tubuhnya di sofa,masih dengan mendekap foto itu iapun terlihat pulas mengantar
mimpinya.
***
Pagi
ini Melody telah bersiap seperti biasanya, ia hanya tinggal menunggu sahabatnya
membunyikan klakson mobilnya, kali ini Adit mengirim pesan ingin menjemput Melody
dan berangkat bersama, hingga akhirnya terlihat juga mobil Adit di depan rumah
Melody,Melody segera bergegas.
“Tumben, pake jemput segala.”Ucap Melody mengawali pertemuan.
“Kamu tau kan Jakarta itu macet,macet banget malah” Ucap Adit mulai
menjalankan mobilnya, menjauh dari rumah Melody.
“Iya terus ?”
“Kalau di hitung-hitung jumlah mobil di Jakarta itu jumlahnya udah ga
seimbang dengan luas jalan raya yang kuotanya sudah tidak bisa dihitung
dan jumlah mobilnya yag sudah tidak terbatas, jadi sebenarnya ga baik kalo naik
mobil sendiri-sendiri, mending kaya gini kan lagian kita kan rumahnya deket, tujuan
juga sama,lebih hemat, jadi ada temen ngobrol juga,ngurangin jumlah mobil, oia...ngurangin
polusi juga, sebagai warga ibukota yang baik, taat dan patuh jadi harus bisa
bantuin pemerintah mengurangi banyak masalah di jalanan, jadi......ehm.....maka
dari itu.....mel...mellody...kamu ga berhentiin aku ngomong nih??udah panjang
banget nih dialognya,mel...” Ucap adit yang dari tadi nyerocos dengan tatapan
masih kearah depan dan sekarang mulai memandang sahabatnya yang ternyata sedari
tadi memakai headset dan mendengarkan musik jazz dengan volume full.
“Astaga!Melllody.....”ucap Adit smbil menepuk keningnya sendiri.
“Hah?kenapa dit?udah selesai pidatonya?” Kata Melody dengan wajah polosnya sambil
melepaskan headsetnya.
“Udah, tuh sekarang acaranya salam-salaman sama penganten terus prasmanan
dah...” Adit kesal.
“Haha...ngambek...lagian aku kan Cuma tanya tumben jemput? jawabannya sampai
luas jalanlah,mobil lah,apalah tadi,banyak banget.” Melody terkikik menatap
wajah sahabatnya.
“Tapi kan mel....”Jawab Adit yang langsung dipotong Melody,
“Udah,ga ada Tapi adanya sarung,udah nyetir ajah yang bener,ga usah bawel
deh.”Ucap Melody yang mampu membungkam adit untuk diam.
Adit
dan Melody adalah dua orang sahabat yang rada aneh,satunya cewek tapi jarang
ngomong, sedangkan satunya lagi cowok, tapi bawelnya minta ampun, mereka
bertemu bukan karena satu perusahaan,mereka dipertemukan di bandara, ketika Melody
baru tiba di Indonesia dari Amsterdam sedangkan Adit baru pertama kali ke
Jakarta dari Makassar, mereka sama-sama mencari alamat yang sama waktu itu, akhirnya
dengan kebingungan keduanya berhasil menemukan alamatnya, walaupun membutuhkan
waktu sehari semalam, karena hampir semua angkot mereka naiki, dan ternyata, angkot-angkot
itu ga ada yang lewat alamat itu, alhasil taksilah yang mengantarkan mereka
berdua,berada di satu tempat kerja membuat mereka semakin dekat, akhirnya
jadilah persahabatan mereka.
“Ibu direktur....ditunggu di ruang meeting sama anak-anak,oia hari ini
ada perkenalan asisten barumu,dia juga udah ada disana.” ucap Adit
memberitahukan Melody.
“Dimulai sama kamu dulu deh dit,aku masih harus nyiapin file bwt
meetingnya dulu,mulai dulu acara perkenalannya.” Jawab Melody masih fokus
dengan file-filenya.
“Okeh.”ucap adit singkat dan langsung menutup pintu ruangan melody dan
menuju ke ruang meeting.
Beberapa
waktu berlalu,melodypun bergegas menyusul para pegawainya di ruang
meeting,dengan file yang telah di tangan Melody mulai memasuki ruangan, dari
luar terdengar riuh sekali, pasti sedang acara perkenalan, pikirnya. Iapun
terlihat tidak sabar melihat rekan kerjanya yang akan selalu mendampinginya
bekerja. Ia memulai membuka pintunya, keriuhanpun mulai terhenti.
“Pagi...” Sapanya sambil membuka pintu.
“pagi mba...” jawab semuanya kompak.
Melody
langsung melihat kearah semuanya termasuk ke arah pegawai barunya, kemudian
Melody terihat menghela nafas dan duduk membuka acara meeting siang itu.
“Oia mel,ini asisten barumu,namanya Stel......” Ucap Adit dengan maksud
ingin memperkenalkan asistennya, yang langsung dipotong oleh Melody.
“Ok, tadi acara perkenalannya udah kan,kita mulai meetingnya karena
mengingat waktu sudah siang,kita akan bahas project baru kita untuk PT.Rully
Sejahtera.”ucap Melody dengan ekspresi malaikat hitamnya yang langsung disambut
dengan kernyitan dahi oleh Adit dan anak baru itu.
Melodypun
mulai mempresentasikan semuanya,dibantu dhike yang juga ikut menjelaskan.
Hingga acara meetingpun berakhir,semuanya mulai masuk ke ruangan
masing-masing,termasuk melody.
(tok...tok...tok...) Suara ketukan ruangan melody.
“Masuk” Jawab melody sibuk dengan laptopnya.
“Ibu direktur,ini aku mengantarkan asisten baru kamu,ini Stella,Stella itu
Melody direktur Lighting Advertising.”ucap Adit memperkenalkan,kemudian Stella
mungulurkan tangannya dan disambut oleh Melody.
“OK,Stella itu meja kerja kamu,disini kamu akan membantu tugas-tugas mba
Melody,oke Melody aku keluar yah,selamat bekerja Stella” Ucap adit yang mulai
genit dengan Stella.
Stellapun
duduk di meja kerjanya yang berada dihadapan meja kerja Melody, beberapa waktu
hening, dengan suasana dingin yang Melody bangun karena pekerjaannya yang
numpuk dan Stella dengan kebingungannya dengan apa yang akan dilakukannya. Kemudian
Stella memberanikan diri menghampiri Melody.
“Mba...ada yang bisa saya bantu.” Ucap Stella sopan, hanya dijawab
dengan gelengan kepala oleh Melody, kemudian Stella kembali ke mejanya, dia
membersihkan mejanya sendiri, merapikan beberapa arsip, dan membuka jendela
kantor yang tertutup, kemudian Stella keluar ruangan, Melody yang sedari tadi
fokus dengan pekerjaannya ternyata diam-diam memperhatikan Stella,meskipun
dalam keadaan menunduk. Hingga tak lama Stella kembali.
“Ini mba, saya bawakan milk orange hangat, biar tambah semangat kerjanya.”
Ucap Stella meletakkan cangkir berisi minuman yang ntah di sukai Melody atau
tidak ,namun naasnya dia tak mendapat respon dari Melody, diapun kembali ke
mejanya.
Jam
istirahat makan siangpun tiba, Stellapun beranjak dan mengambil inisiatif untuk
mengajak Melody makan siang, namun seperti biasa Melody hanya menjawab dengan
gesture tubuhnya saja Stellapun keluar.
“Hai...cantik....”Ucap Adit menyapa Stella yang terlihat duduk sendiri di
kantin kantor.
“Saya??” Jawab kaget stella sambil menunjuk kearah dirinya.
“Iyah kamu,siapa lagi...Kamu ga papa kan??ga terasa sakit gitu??” Ucap Adit
lagi merubah ekspresi, kini telah mengambil posisi duduk di hadapan Stella.
“Saya?sakit??ga kok pa.”ucap Stella mulai bingung.
“Masa ga sakit sih?? kamu kan abis jatoh.” Kata Adit lagi.
“Jatoh???” Stella semakin bingung dengan managernya.
“Iya...kamu kan bidadari cantik yang baru jatoh di muka bumi,masa ga sakit
sih...” Ucap adit dengan senyumnya. Stellapun hanya tersenyum,kemudian
merekapun akhirnya saling mengobrol dan menghabiskan waktu makan siang bersama.
Sementara Melody masih
sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan waktu makan siangnya,dia akhirnya
keluar hanya untuk ke ruang pantry untuk mengambil air putih,setelah kembali,di
mejanya telah tersedia nasi gudeg plus krupuk udang kesukaannya.
“Hmm...enak nih kayanya,tau ajah adit” Ucap Melody dan langsung melahapnya.
Pekerjaan hari ini berakhir,masih dengan
kepenatan yang sama dan bayang-bayang kelelahan yang mengglayuti.
*
Pagi
ini udara segar begitu menyejukkan, hari libur yang menyenangkan, Melodypun
telah siap dengan baju joggingnya, dan mulai lari mengelilingi komplek, sekedar
menghilangkan pegal-pegal ditubuhnya. Setelah dirasa keringat telah mulai
keluar dan cukup lelah gadis ini pun memutuskan untuk pulang, namun...ketika
dia hendak membuka kunci rumah, tiba-tiba pintu rumahnya dalam keadaan tak
terkunci, diapun bingung,namun tetap masuk ke rumahnya, terdengar suara ribut
di ruang dapurnya, Melodypun mengambil gagang sapu di dekat pintu depannya,dia
berjalan perlahan, ternyata benar ada orang lain di rumahnya.
“Adit...........”Ucap melody kaget.
“Apa.....” ucap Adit tanpa dosa yang tengah sibuk membuat sesuatu.
“Aku kira kamu maling,nih...udah aku bawa sapu buat mukul kamu,ngapain
sih,masuk rumah orang ga ngomong-ngomong,perasaan udah dikunci deh.”ucap Melody
menghampiri sahabatnya.
“Yei....mana ada maling ganteng banget kaya aku gini??kan aku punya
duplikatnya, lupa...kamu yang ngasih,pas km nyuruh aku nganterin mobil kamu
yang mogok.”ucap Adit menjelaskan.
“Ganteng darimana??dari Hongkong?.pantesan aku cari kunci itu kmn2 ga ada.”
Ucap Melody mengingat ingat.
“Bikin apa kamu?hmmm...baunya enak.” Melody mengintip masakan yang Adit
buat.
“Nasi goreng.....sayur-sayuran,mnyak goreng,telur dan bumbu lainnya di
rumahku abis,jadi aku masak ajah disini,daripada kelaperan.” Jawab Adit santai.
“Yei...enak ajah,emangnya rumah aku apaan?” kesal Melody.
“Pinjem...nanti aku balikin kalo aku udah belanja,lagian aku juga cuma bikin
seporsi kok,Cuma sedikit.” Ucap adit.
“Seporsi?trus aku ga dibikinin?laper...” Ucap melody manja sambil
memanyunkan bibirnya.
“Bikin aja sendiri.” Ucap adit sambil menjulurkan lidahnya.
Tapi adit hanya menggoda melody, diapun telah membuatkan nasi goreng untuk
melody,akhirnya pagi itu merkapun sarapan bersama.setelah sarapan Melodypun
mandi,sedangkan adit bersantai di ruang tamu,dia melihat banyak foto dan
lukisan yang indah.Setelah rapi Melodypun keluar.Adit terlihat masih memandangi
salah satu foto dua gadis kecil yang tengah bergandengan tangan.
“itu Nabilah...adeku.”ucap Melody mengagetkan adit.
“manis banget mel,sekarang dia dimana?”tanya adit.
“dia di Amsterdam,dia sangat benci denganku.” jawab melody dengan
pandangan kosongnya.
“kenapa?” Adit penasaran.
“ehm...kenapa jadi curhat sih,ayo...mau ikut ga...aku mau keluar nih,apa mau
jadi penjaga rumahku??’ jawab melody mengalihkan pertanyaan,sambil menarik
tangan adit.
Minggu itu Melody megadakan riset,dia berjalan2
ke pusat kota untuk mencari inspirasi pembuatan iklan untuk project barunya, ditemani
Adit semuanya terasa lebih menyenangkan,walaupun Adit tidak terlalu berandil
membantu, malah lebih ke arah mengganggu, tapi semuanya berjalan cukup baik.Akhirnya
mereka putuskan untuk makan malam diluar.
“segitunya makan nasi gudeg??”Ucap Adit memperhatikan melody makan.
“yei...kan aku suka,suka banget malah”ucap melody sesaat setelah menyuapkan
senodk ke mulutnya.
“emang kamu gatau dit??bukannya beberapa hari ini kamu sediain nasi gudeg di
mejaku??” Lanjut Melody, mulai merasa aneh.
“Ga kok,ga pernah malah.”Ucap Adit masih sibuk memakan makanannya. Pikiran
Melody melayang, memikirkan seseorang yang telah bisa ia tebak.
*
Senin
mulai masuk kembali,hari ini cukup banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Hari
ini ada jadwal penting untuk bertemu client dari Jepang, perusahaan ini
termasuk perusahaan besar kalau sampai project ini goal maka bisa mengangkat
nama perusahaan advertising Melody.
“Dit....nanti temani aku bertemu mister matsumoto yah...” ucap Melody
sedikit berteriak di depan pintu ruangannya,ke arah meja anak buahnya.
“Hadugh...bentar lagi ada pertemuan sama pihak Rully kan,kayanya gabisa
deh.” ucap Adit.
“Dhike...” Lanjut melody.
“Tapi mba...” Jawab dhike.Melodypun mengingat kejadian kemarin, dhike ga
mungkin bisa.
“Ve....” Ucap melody lagi.
“Hari ini ada penyetoran uang ke bank mba.” Ucap ve, tanpa di kodekan semua
menatap kearah Stella yang baru berjalan dari arah depan. Melodypun tau yang
dimaksud mereka, memang seharusnya Melody pergi dengan asistennya tapi Melody
terlihat enggan dengan Stella.
“OK.saya pergi sendiri.”ucap Melody dan langsung pergi.
Stella
pun masih terlihat bingung.diapun akhirnya mengajak bicara adit dan menanyakan
semuanya. Terlihat percakapan yang serius terjadi,kemudian terlihat Melody
kembali karena ada file yang tertinggal,kemudian melody memandangi keduanya
dengan tatapan sinis, dan keluar kembali setelah mengambil file yang
tertinggal.
Baru
setengah perjalanan menuju tempat tujuan mobil Melody mengalami kerusakan, sedangkan
untuk menghindari kemacetan Melody melewati jalan yang sepi dan tidak dilewati
angkutan umum,bingung mulai menghinggapinya,apa yang harus ia lakukan?
Akhirnya
Melody menelpon kantor,dan meminta salah satu dari mereka menemui mister
matsumoto,yang jelas waktunya tidak banyak,apalgi orang jepang,paling tidak
suka kalau disuruh menunggu.Melody berusaha untuk meminta bantuan,menelpon
bengkel,atau menghubungi derek,tapi tak nampak juga ternyata.Hingga 3 jam
kemudian pihak bengkel datang,dan mobilnya tetap harus dibawa ke
bengkel,Melodypun menunggu,hingga anak buahnya menghubunginya.Akhirnya pesan
masukpun datang dari ve.
From :Ve
Sukses mba, PT.Hiroshi
menyetujui bekerja sama dengan kita.
Melodypun
menghela nafas panjangnya menunjukan kelegaannya.
“Ini awal segalanya mel....semangat.!”ucap melody sendiri.
Setelah
beberapa jam menunggu,mobilpun beres,Melodipun kembali ke kantor. Sampai disana
Melody langsung berterimakasih kepada para pegawainya.
“Makasih ve...kamu hebat.”Ucap Melody.
“Bukan saya mba yang kesana.” Jawab Ve yang masih berkutat dengan laptop
kerjanya.
“Berarti Adit yah....” ucap Melody lagi.
“Mas Adit masih belum pulang,dari pas tadi pagi.”ucap ve lagi.
“Lalu...??” tanya Melody, kali ini pandangannya diarahkan ke Dhike...
“Bukan Dhike jg mba,Dhike masih belum berani mba,yang kesana Stella
mba,setelah denger mba ada masalah dijalan,Stella langsung bergegas menuju
ke tempat Mr.Matsumoto.Dhike hanya menemani Stella mba,dia
hebat..presentasinya bagus,dan...” Belum selesai Dhike menjelaskan,Melody
telihat langsung masuk ruangannya.
Melody
duduk di mejanya,terlihat Stella masih berkutat dengan filenya.
“Ini mba file dari mr.matsumoto.” ucap Stella,Melody tak meresponnya,Stella
kembali ke mejanya setelah meletakkan file di atas meja Melody.
“Makasih.” ucap Melody tanpa menatap Stella. Stellapun langsung
tersenyum,ini kali pertama Melody merespon pekerjaannya.
*
Keesokan
paginya pembentukan panitia project barupun dimulai,Kali ini pekerjaan dibagi
dua,Adit memimpin di project Rully dan Melody memimpin di project
Pt.Hiroshi,yang secara langsung Melody juga akhirnya menunjuk Stella untuk
membantunya,karena mau tau atau tidak Stellalah yang berhasil mendapatkan
project ini. Melody terlihat memendam sesuatu yang dirasa kepada Stella,namun
demikian Melody terlihat mencoba profesional.
Mulailah
project itu dikerjakan,perusahaan Melody mendapat tugas untuk membuat iklan
tentang produk makanan cepat saji jepang.Ide mulai dibuka,ternyata kali ini
Kepala Melody dan Stella memiliki ide yang berbeda.terjadi perdebatan beberapa
saat.
“Kita harus meyakinkan publik bahwa makanan cepat saji jepang itu
berbeda dengan makanan cepat saji negara barat,kita sebaiknya memperlihatkan
keindahan jepang di dalamnya,ketertarikan orang Indonesia dengan keindahan
negara lain bisa kita tarik disisni.” ucap Melody menjelaskan. Tetapi Stella
memiliki ide yang berbeda.
“Kita memang akan membuat iklan produk jepang,tapi kita akan menjualnya di
Indonesia, dan bangsa Indonesia juga sekarang sudah memiliki sifat nasionalisme
yang tinggi kok,kita bisa menyajikannya dengan budaya Indonesia,dari itu lbih
meyakinkan bahwa itu produk yang cocok dengan kita,dan tidak ada kesan produk
asing.”ucap Stella.
Ide
mereka seakan berbanding terbalik,keduanya sama bagus,akhirnya diadakan
votting,hasilnya sama,mereka mendapat dukungan yang sama.Akhirnya mereka
memutuskan untuk merealisasikan keduanya dibawah pimpinan Melody dan
Stella,walaupun pada akhirnya hanya satu yang akan terpilih.
Waktu 2bulan diberikan oleh Mister Hiroshi untuk Lighting Advertising
menyelesaikan pekerjaannya.
Kedua srikandi hebat
ini sama-sama memiliki kemampuan ,namun dengan cara bekerja yang berbeda,Melody
yang bekerja dengan cepat dan waktu yang terus menerus,sedangkan Stella bekerja
dengan santai tapi terkonsep.Mereka bekerja di satu tempat,tetapi seakan rona
persaingan sungguh terasa.Suatu saat ketika Melody tengah memimpin rapat teamnya,tiba-tiba
jantungnya berdetak begitu cepatnya,terlihat Melody memegangi dadany.
“Ve...tolong pimpin sebentar,saya akan keluar sebentar.”Ucap Melody
mencoba terlihat biasa di depan rekan kerjanya. Diapun keluar,dan ketika
diluar,dia semakin merasakan sakitnya.Ternyata dari jauh Stella memperhatikan
Melody,dia ingin mendekat tapi rasanya dia takut Melody akan marah,hingga ia
lihat Melody tersungkur kali ini.
“Mel......”Ucap Stella berlari dan langsung coba membantu Melody
bangun.
“Lepas.....saya ga butuh bantuan kamu.”ucap Melody melepaskan tangan
Stella.
“Tapi Mel,kamu kenapa? kamu nggak apa-apa ?.”Ucap Stella, terdengar
begitu akrab, tanpa sebutan ‘ibu’ untuk seorang direktur seperti Melody.
“Udah, ngga usah kamu pura-pura lagi, kamu kan dari dulu ga pernah peduli
denganku, apalagi yang kamu pengen ambil dariku?dulu ishak??sekarang adit?kamu
memang ga pernah bisa bikin hidupku sedikit tenang.Tetaplah jadi orang asing
bagiku,menjauh dari ku, lepasss..”Ucap Melodi meronta dari tangan Stella yang
coba memapahnya,hingga Stella hampir terjatuh,Melodypun mncoba berjalan,tapi
baru beberapa langkah Melody te jatuh dan tak sadarkan diri,Stella berlari dan
menghampiri Melody.
Kepalanya
masih terasa begitu berat,nafas Melody pun masih memburu ketika ia mulai membuka
matanya.
Dilihatnya
sekelilingnya,ini kamar tidurnya,ketika ia rasakan ada kompres yang masih
dingin di keningnya.Iapun akan beranjak,namun tubuhnya belum mau tuk bangun.
“Mel...udah bangun...”Ucap suara mengagetkan Melody.
“Ngapain kamu disini.” Jawab ketus Melody, melihat stela yang menyapanya.
“Ini ada bubur,ayo makan dulu.” Ucap Stella tanpa memerdulikan ucapan
Melody.
“Saya ngga butuh siapapun,pintu keluar ada disana.” ucap Melody tanpa
menatap Stella dan menunjuk kearah pintu.
“Mel,aku tahu kamu masih marah soal masalah beberapa tahun yang lalu,tapi
kamu sakit saat ini,aku ga tau harus minta tolong sama siapa?sedangkan rumah
ini saja tidak ada satu orangpun,apa aku harus tinggalin kamu sendiri,saat kamu
berdiripun belum sanggup.Kalau kamu benci dengan seorang Stella Cornelia,maka
lihatlah aku sekarang sebagai assisten kamu bukan sebagai Stella.” ucap Stella
menatap Melody sendu.
Kemudian
keadaan hening sejenak,dan melody mulai membuka mulutnya.
“Apa tadi anak-anak lihat pas aku jatoh?’Ucap Melody masih dengan tidak
memandangnya.
“Ngga,mereka ga ada yang tau,aku tau kamu ga mau mereka tau bukan??”ucap
Stella kini dengan mulai mengambil mangkok bubur untuk Melody.
“Ayo...sekarang makan....”Ucap Stella mulai menyuapkan bubur ke arah Melody,
“Ngga,aq bisa makan sendiri.”ucap ketus Melody.
“Makan...atau aku akan bilang ke anak-anak kantor kalau kamu sakit?” Tantang
Stella, yang dibalas tatapan heran Melody.
Akhirnya
Melodypun membuka mulutnya dan menerima suapan tangan Stella walaupun masih
tetap tak memandang wajah Stella, Stellapun terlihat menyinggungkan sedikit
senyum dibibirnya.
Acara
makanpun selesai,Stellapun meminumkan obat-obatan kepada Melody,kali ini
Melodypun hanya menurut,Stellapun keluar untuk menaruh mangkuk dan gelas,dan
ketika ia masuk kembali Melody telah tertidur pulas.Stella terlihat memandangi
Melody,diusapnya rambut Melody,kemudian ditariknya selimut untuk menutup tubuh
Melody.Stellapun sekarang terlihat mulai tenang dan meninggalkan rumah Melody.
Keesokan paginya Stella kembali ke rumah Melody
dijinjingkan rantang makanan yang ia bawa dari rumah.Ia buka pintunya,kemudian
ia lihat ke kamar melody,melody sudah tidak ada,ia cari keberadaannya.Ternyata
dilihatnya Melody tengah berada ditaman belakang rumahnya tengah
mendendangkan sebuah lagu,
Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu
Kuperlihat semua hartaku
Kita s’lalu berpendapat, kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang indah
Aku raja kaupun raja
Aku hitam kaupun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi
.
Pegang pundakku, jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah… lelah dan tak bersinar
Remas sayapku, jangan pernah lepaskan
Bila ku ingin terbang… terbang meninggalkanmu
Ku s’lalu membanggakanmu, kaupun s’lalu
menyanjungku
Aku dan kamu darah abadi
Demi bermain bersama, kita duakan segalanya
Merdeka kita, kita merdeka
Tak pernah kita
pikirkan
Ujung perjalanan
ini
Tak usah kita pikirkan
Akhir perjalanan ini
(Prok...prok..prok....)terdengar suara tepukan tangan dari Stella. Melodypun
menoleh kebelakang.Lalu membalikan pandangannya kedepan lagi.
“Masih ingat dengan lagu itu??” Ucap stella tersenyum senang.
“Masih,ini laguku dengan sahabatku, sahabat yang paling mengerti dan paling
menyayangiku, sahabat yang dulu selalu bilang bahagiaku adalah bahagianya,dan
sedihku adalah sedihnya, dia juga bilang akan selalu ada buat aku,tapi dia
sekarang telah hilang entah dimana?”Ucap Melody dengan keketusannya, Stellapun
terlihat terdiam dengan pandangannya yang menjadi buram.
“Mel...sebegitu udah ga adakah aku untuk sekarang di hidup kamu,ga adakah
yang mampu buat kamu kembali memaafkanku.”Ucap stella.
“Ga ada,stella ku telah mati.” Ucap Melody begitu santai mengucapkan kata
‘Mati’.
“Mel....” bentak stella.
“Apa?? kamu mau berkata bahwa kini kamu telah kembali,kamu mau datang buat
aku,atau kamu mau bilang kalau kamulah sahabat aku itu??” Ucap Melody kali ini
dengan nada tinggi, emosinya terpantik begitu saja.
“Dulu,aku terlalu takut mengakui,kalau ternyata kita menyukai laki-laki yang
sama,atau aku takut mengakui kalau ternyata akulah yang telah mendapat
perhatian dari dia,bukan kamu, aku juga takut mengakui kalau
sebenarnya.......”ucap Stella yang langsung dipotong Mellody.
“Cuma itu alasan kamu pergi,ninggalin amsterdam,ninggalin rumah pohon
kita,ninggalin banyak kenangan yang kamu tinggal,bahkan ninggalin aku,emangnya
aku sepicik itu, membenci kamu karena seorang cowok stel,kamu mau tau apa yang
terjadi setelah kamu pergi?Aku ingin menemuimu di Indonesia,aku memaksa Ayah
dan Ibu untuk berlibur ke Indonesia,tapi ketika kami perjalanan menuju
Bandara,Mobil ayah melaju dengan sangat kencang,Mobil ayah menabrak truk,dan
kamu tau apa yang terjadi?? ayah.....ibu............mereka tak dapaat
tertolong,dan nabilah............” Ucap Melody sesegukan dalam tangisnya,Stella
coba memeluknya,namun Melody menolaknya,dan melanjutkan bicaranya.
“Dan nabilah............nabilah buta......,adikku satu-satunya tak bisa lagi
melihat,dan tau apa yang terjadi setelah itu,nabilah sangat membenciku,bahkan
dia bilang akulah yang menyebabkan kedua orang tuaku mati,andai aku tak memaksa
untuk pergi ke Indonesia, mungkin aku tak kan seperti ini,kenapa aku yang harus
hidup???kenapa aku yang harus selamat???” ucap Melody yang kali ini dengan air
mata yang ia biarkan menuruni wajah mulusnya. Stellapun terlihat kaget dan
mencoba membungkam mulut dan wajahnya di saat air matanya juga berderai tak
kalah derasnya.
“Dan kamu....dimana kamu saat itu?? dimana stella yang mengaku
sahabtku??dimana??kamu tau bagaimana aku setelah itu,aku bagai orang
gila???bahkan aku hidup seperti benda mati,dimana kamu???” ucap Melodi dengan
sesegukannya.
“Mel....maaf.....maaf...aku ngga tau...ga..ga mungkin.....”Ucap Stella yang
tak percaya semua ini,Stellapun mundur,mundur,dan berlari keluar.
Beberapa hari Melody tak datang ke kantor,bahkan
semua pegawai bingung,Stellapun menghilang,sedangkan Adit memang ditugaskan
beberapa Minggu untuk membuat iklan untuk PT.Rully di Bali. Melodypun kembali
ke kantor,semua pegawai memeluknya dan merindukannya,dia melihat ke semua arah
mencari-cari sosok lain yang tidak dilihatnya.
“Where is Stella??”ucapnya mengutarakan pertanyaan hatinya.
“Sudah tiga hari Stella tidak msuk kantor,dia sempat beberapa hari
menggantikan mba melody,tp setelah project PT.Hiroshi selesai,dia tak lagi
masuk kantor.”ucap Ve menjelaskan.
“lalu selama tiga hari ini,siapa yang menggantikanku??”ucap Melody lagi.
“Saya mba...”Ucap seseorang yang keluar dari ruangan Melody.
“Dhike?”Ucap Melodi kaget.
“Bukankah traumamu?”ucap Melodi masih kaget.
“Stella menyembuhkanku mba,Stella membentakku ketika aku hanya terdiam
ketika tak ada lagi orang dikantor selain aku yang bisa menghadiri pertemuan
dengan client itu,dia bilang aku slalu bertahan ketika ombak akan
menyerangku,dia bilang aku akan selamanya seperti ini jika aku tak mau
mencoba,dia bilang hanya pengecut seperti akulah yang akan mati dalam banjir
yang hanya semata kaki,karena aku tak mau bergerak,dan aku tak mau mati hanya
karena banjir yang semata kaki itu,aku bergerak dan aku ternyata bisa.aku bukan
pengecut.” Ucap Dhike dan Melodypun memeluknya.
“Dan tentang project mister matsumoto untuk PT.Hiroshi,kami pakai punya
Stella mba,maaf.”Ucap Dhike melanjutkan.
“Dan hasilnya?”tanya Melody ingin tahu.
“Kita berhasil mba....mister matsumoto bahkan akan mengontrak lighting untuk
30 seri iklan kedepannya” Ucap Dhike melanjutkan.
“Benarkah?aku tau...Stella slalu bisa.”Ucap Melody langsung berlari
keluar,dan ketika Melody berlari, Aditpun datang.
“Mel....”Ucap Adit.
“Aku titip Lighting....jaga Lighting”Ucap Melody berteriak,dan masuk ke
dalam mobilnya.
Perjalanan
itupun berhenti, tepat di depan rumah yang begitu asri dan sejuk. Diparkirnya
mobil Melody di depan rumah itu.
“Assalamualaikum.....”salam melody sambil mengetuk pintu. Kemudian
dibukanya pintu itu oleh seorang perempuan empat puluh tahunan.
“Melody...”Ucap ibu itu.
“Siapa bun yang dateng??” teriak anak perempuan dari dalam dan akhirnya
keluar juga.
“Melody???”Ucapnya anak perempuan tadi.
“Iya ini aku Melody bun,Stel.”Ucap Melody.
“Ayo nak melodi masuk, bunda akan buatkan minum.”Ucap Bunda Stella.
“Darimana kamu tahu aku disini Mel,dan.....”Ucap Stella yang langsung
dipotong oleh Bunda.
“Stella...ajak Melody untuk beristirahat,waktu sudah malam,ngobrolnya
lanjutkan besok saja.”Ucap Bunda.
“Iya bun.”ucap Stella.
Stellapun mengantarkan Melody sampai ke
kamarnya, kamar yang tidak terlalu besar,tapi begitu nyaman dan indah.
“Kamu boleh tidur disini,ini kamarku,biar aku tidur di kamar Bunda
bareng Sonia juga.” Ucap Stella kikuk dan langsung berbalik hendak meninggalkan
Melody.
“Stell....”Ucap Melody, Stella menghentikan langkahnya kemudian berbalik
menghadap si pemilik suara.
“Tak maukah kau menemaniku tidur disini? aku takut sendiri?” Ucap Melody,
sepersekian detik Stella hanya terdiam, untuk kemudian melempar senyum, dan
mengiyakan permintaan Melody.
Pagi menjelang,sinar mataharipun tlah
mnyelinap masuk melalui tirai-tirai kamar, sinarnya menyilaukan, membangunkan
Melody yang terlihat begitu lelah. Melodypun terbangun dan keluar dari kamar
Stella.Terdengar suara merdu Stella tengah mengalunkan sebuah lagu sambil
menyirami beberapa tanaman melati yang tumbuh dengan subur di taman belakang
rumahnya
“Eh....Mel...udah bangun?” Sapa Stella yang menyadari Melody tengah
mendengarkan dendangan suaranya.
“Kok ga dilanjutin...” Ucap Melody, Stellapun hanya tersenyum.
“Makasih stell buat semuanya,buat nasi gudeg yang slalu kamu taruh untuk
makan siangku.” Ucap Melody,stellapun tersenyum mendengar pernyataan melody.
“Iya sama-sama, kamu harus jaga pola makan mel,makan itu penting,aku ga tega
liat kamu bekerja terlalu keras seperti itu.”Ucap Stella menjawab pernyataan
Melody, sambil masih menyirami tanaman-tanamannya.
“Makasih juga buat projectnya?kamu memang selalu lebih hebat dari aku,kamu
bener,kerjaku hanya pakai tenaga,tapi pikiranku??”Ucap Melody yang langsung
dipotong oleh Stella.
“Kamu lebih hebat dari aku kok mel,nyatanya anak-anak lighting sangat
menyayangimu bukan,dan kamu bisa hidupin lighting sampai sekarang.”Ucap Stella
lagi.
“Tapi...”Ucap Melody yang ucapannya langsung ditimpal Stella.
“Liat deh,tanaman Melatiku,subur yah....seneng deh liat melati-melati
ini,walaupun kecil,tapi indah dan kuat,putih,bersih dan......”Ucap Stella dan
langsung disambung oleh Melody.
“Suci,kalau aku ditanya bunga apa yang paling indah?pasti kujawab
Melati,suatu hari nanti kalau akau udah punya keluarga,aku pengen bikin rumah
yang di dalamnya ada taman melatinya,dan semua rumahku akan kubuat dari kaca
biar melati-melati itu tetap bisa terlihat walau dari dalam......”Ucap Melody
yang kemudian mereka melanjutkannya bersamaan.
“Dan aku akan buat dua kamar besar,satu untuk kamar Melody dan satu untuk
kamar Stella,kita akan selalu bersama selamanya,demi melati yang selalu tumbuh
indah di taman ini.”Ucap Melody dan Stella melanjutkannya bersama,kemudian
mereka saling tersenyum.
“Kamu masih inget mel?” Ucap Stella menatap Melody bangga.
“Ya ingetlah.gimana ngga,dari umur 5tahun kamu slalu bilang kaya
gituh,berkali-kali kita ketemu kamu slalu bilang itu,ya jadi hafal lah.”Ucap
Melody.
“Apa sesering itu yah??aku ngga sadar.hehe”ucap Stella,kemudian Stella
melanjutkan menyiram bunganya dan keadaanpun hening beberapa saat.
“Aku sakit stel.......” Ucap Melody enteng memecah keheningan.
“Sakit apa? pusing?” JawabStella masih dengan menyirami bunganya.
“Kalau pusing lanjutin istirahatnya sana,kamu pasti capek,lagian....”Ucap
Stella yang langsung dipotong oleh Melodi.
“Jantungku bocor.” Ucap Melody,Stellapun kaget dan langsung membanting alat
penyiram bunganya. Diapun berbalik dan didapati Melody yang menatap dirinya
dari belakang dengan air mata di pipinya.
“Mel....ga mungkin.” Ucap Stela kali ini sambil memegangi pundak Melody.
“Dokter bilang umurku hanya tinggal kurang lebih 30hari lagi.”Ucap Melody
membuang pandang dari tatapan dalam Stella.
“Sssstt....kamu ga boleh ngomong kaya gituh,kamu pasti berumur panjang,pasti
ada cara keluarnya,kamu pasti sembuh.”Ucap Stella meyakinkan,melody hanya
menggelengkan kepala.
“Aku kesini karena aku pengen kamu gantiin aku di kantor,Cuma kamu yang bisa
bantu aku Stel,aku ga pengen ketika aku mati Lighting mati,aku pengen bisa
biayain Nabilah biar dia bisa liat lagi,aku mohon...kalau aku mati nanti
jagalah Lighting dan Nabilah untukku,Dokter bilang aku harus mulai perawatan
dari seminggu yang lalu,tapi aku ga mau,aku ga mau jadi mayat di rumah
sakit,aku takut stel.........aku belum siap.....aku masih pengen lihat senyum
nabilah.........” Ucap Melodi semakin menangis, kali ini Stella telah
memeluknya dengan erat.
“Kamu harus perawatan mel,kamu harus sembuh,kamu ga boleh takut,aku akan
temenin kamu,aku janji.kamu harus sembuh demi nabilah....demi anak-anak di
Lighting,mereka semua masih membutuhkan kamu?” Ucap Stella meyakinkan,masih
dengan pelukan eratnya untuk Melody.
“Jaga Adit juga,dia pasti akan bahagia denganmu.” Ucap Melodi.
“Adit???”Ucap Stella.
“Stella...Melody...ayo sarapan pagi dulu.”Sapa Bunda membuyarkan keduanya.
“Iya bun”Jawab Stella.Stellapun membersihkan air matanya,begitupun
Melody,melody tak ingin siapapun mengetahui tentang sakitnya.
“Ini bunda buatin Nasi goreng,ini buat Melody,yang ini untuk Sonia,dan yang
ini buat Stella tanpa sayur.”Ucap Bunda membagi.
“Kamu masih ga suka sayur stel?” Tanya Melody.
“Kayanya aku alergi deh mel,jadi gabisa makan sayur”Ucap Stella beralibi.
“Hah?mana ada alergi sayur,adanya juga kamu males makan sayur.”Ucap Melody
sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“Ada kok,belum diumumin aja.”Ucap Stella.disambut tawa kecil melody dan
bunda Stella. Kali ini kesedihan beberapa waktu yang lalu,masih bisa mereka
tutupi dengan baik.
“Oh.....ia kak,katanya mau ke Pantai??”Ucap Sonia menghentikan perdebatan
keduanya.
“O...I...yah...kakak hampir lupa de,ya udah setelah sarapan kita
siap-siap,ok?”Ucap Stella.
“OK.”singkat Sonia.
Pantai
masih tempat yang sangat indah untuk dinikmati,rasanya telah lama melody tak
pernah pergi ke tempat seperti ini,waktunya hanya dihabiskan ke kantor,kantor
dan kantor lagi.Dipandanginya Sonia yang terlihat sangat bahagia,dengan kamera
digital milik Bunda Stella,mereka saling berpose secara bergantian,bagi melody
mungkin foto ini bisa menjadi kenangan saat dia tidak ada lagi di dunia.Hari
yang begitu membahagiakan,hingga tiba-tiba terlihat Melody kembali memegangi
dadanya,dan tergeletak di atas pasir,Stella menyadarinya dan langsung berlari
menghampirinya.
“Mel......”Sapa Stella melihat Melody membuka matanya.
“Stell...aku dimana?”Ucap Melody terkaget.
“Kamu di rumah sakit,udah..tenang ada aku disini.”Ucap Stella
menggenggam tangan Melody menenangkan.
“Kamu jangan pergi kemana-mana” Ucap Melody, mengeratkan tangannya
dalam genggaman Stella.
“Iyah....aku akan disini.” Jawab Stella dengan senyum damainya.
Pagi
menjelang matahari sudah bertengger di tempatnya,terlihat suster tengah
mempersiapkan sarapan pagi untuk Melody.Melody bangun dan mencari sosok Stella
tapi tak didapatinya.
“Sus...Stella mana??”Ucap Melody.
“Sus.....” Ucap Melody berkali-kali yang tak kunjung mendapat jawaban dari
suster yang menjaganya.
“Mel....kamu kenapa?”Ucap Stella yang ternyata baru datang dan telah memakai
pakaian rapinya.
“Kamu darimana Stel??”Tanya Melody dan langsung menggenggam tangan Stella
dengan Eratnya.
“Aku ambil baju,aku akan mulai masuk kantor hari ini,bukankah kamu bilang
aku harus gantiin kamu,kamu pasti ga mau kan anak-anak tau tentang kamu.”Ucap
Stella menjelaskan, Melodypun hanya mengangguk.
“Aku janji,sepulang dari kantor,langsung kesini.Kamu jangan takut ya
mel...”Ucap Stella.
Sebelum
berangkat Stella menyempatkan diri untuk menyuapi sarapan pagi untuk sahabatnya
itu.
Semakin
hari kondisi Melody semakin memburuk,kondisi ini selalu bisa membuat Stella
berurai air mata,hingga suatu malam ketika Stella akan pulang.
“Kok belum tidur sih mel....udah malem lho...”Ucap Stella, memerhatikan
Melody yang nampak gelisah dengan pikirannya.
“Kamu mau nggak,menuhin permintaanku.” Ucap Melody, menatap serius pada
Stella.
“Apa aja buat kamu mel...” Jawab Stella.
“Nyanyiin aku sebuah lagu sampai aku tertidur pulas.” Pinta Melody yang
langsung diiyakan oleh Stella. Kemudian ia mulai melantunkan suara merdunya,dia
mulai menyanyikan lagunya,sambil sesekali mengusap rambut Melody.
Kita yang pernah merasakan hitam terangnya cinta
Bersamamu kan ku jelang hari bahagia
Tanpamu ku gelap, tanpamu gelap
Simpan saja semua cerita tentang hitamnya cinta
Bersamamu kan ku jelang hari bahagia
Tanpamu ku gelap, engkaulah terang
dan aku tlah yakinkan hatiku
Bahagiakan ku jelang bersamamu
Dan aku yang tak bisa tanpamu
Karna engkaulah terang dalam gelapku
Bulan bintang yang selalu datang setia terangi malam
Tak seterang hatimu
Tak seterang cinta yang kau berikan
Yang kau berikan
Kemudian Stellapun menghentikan nyanyiannya ketika dilihat Melody tlah tertidur
pulas,tapi ketika Stella akan beranjak,tangan Melody tiba-tiba memegangi lengan
Stella,padahal mata melody sudah dalam keadaan tertutup,kemudian dengan
perlahan Stella melepaskannya.
Hari-hari
setelah itu Melody masih dirawat di rumah sakit,walupun kali ini Stella telah
jarang terlihat menghampiri Melody.
“Sus.....Stella udah dateng??”Tanya melody setiap kali suster
menghampirinya,tapi jawabannya selalu gelengan. Berkali-kali Melody menanyakan
itu,tapi Stella selalu belum hadir juga. Hingga akhirnya tiba dimana Melody
harus melakukan operasi cangkok jantung,karena jantung yang ada di tubuhnya
sudah tak mampu di pertahankan,dia harap Stella ada disampingnya,dia begitu
takut,dalam keadaan seperti ini sosok stellalah yang ia butuhkan,karena tidak
ada satu orangpun yang tau kalau dirinya sakit,tapi semakin ia cari,sosok
Stella tak terlihat, “mungkin ia tengah sibuk dengan kantor” pikir benaknya.
Masuklah
ia ke dalam kamar operasi,lampu yang begitu menyilaukan memulai segalanya. 8
jam Melody berkutat dengan alat kedokteran,dan berharap bius ini akan segera
berakhir,dan ia bisa kembali hidup,walaupun sangat sulit bagi penderita jantung
bocor sepertinya untuk bertahan,hingga akhirnya waktu itu berakhir.
Operasi
berakhir,6 dokter yang mengoperasi Melody menyatakan operasinya berhasil,Melody
perlahan membuka matanya,pandangannya masih kabur,lalu sedikit demi sedikit
mulai jelas...ada Adit,Ve,Dhike,dan beberapa pegawai lainnya,namun pandangannya
masih belum berhenti,ia masih mencari sosok yang lain.
“Melodi...ini Adit,lihat kesini,tolong Mel,jangan kaya gini lagi, aku takut
kehilangan kamu, kuatlah.....aku sayang kamu, Mel.” Ucap Adit sambil menciumi
tangan Melody.
“Dit....aku juga sayang sama kamu,tapi Stella,bukankah kau
mencintainya?”Ucap Melody yang memang selama ini telah memendam rasa dengan
Adit.
“Stella??dia telah memiliki kekasih,dia dekat denganku,karena dia ingin tau
tentangmu,hanya itu.”Ucap Adit menjelaskan.
“Lalu dimana stella??” Tanya Melody yang tak kunjung melihat Stella sejak
malam dimana dia tertidur dengan lantunan suara Stella.
Semua
hanya diam,semuanya tak tau dimana Stella,beberapa waktu Stella menggantikan
Melody,tapi setelah itu menghilang entah kemana.
“Kak Melody.............” Suara teriakan yang jelas Melody kenal. Gadis
manis yang begitu tersenyum bagaikan malaikat yang turun ke bumi.
“Nabilah kangen Kak Melody.....” Ucapnya yang langsung memeluk Melody.
“Nabilah......Kakak juga kangen kamu dek” Ucap Melody membalas pelukan Nabilah.
Kemudian nabilah berdiri,dan Melodypun memainkan tangannya di wajah Nabilah.
“Nabilah udah bisa liat ka....Allah maha baik,Allah juga membuka mata hati
nabilah,bahwa nabilah ga boleh benci kakak,seperti kata kak Stella bahwa Kak
Melody pasti akan bertahan hidup demi Nabilah dan Nabilah akan tetap Melihat
demi kak Melody.”jelas Nabilah.
“Kak Stella??”Tanya Melody.
“Beberapa waktu yang lalu,kak stella menemui nabilah,dia kasih banyak cerita
ke nabilah,tentang kakak,tentang hidup,dan tentang bahagia,nabilah
sadar,nabilah ga punya siapa-siapa lagi selain kak Melo,dan Nabilah akan
bertahan demi Kak Melody”Ucap Nabilah kembali memeluk Melodi.
*
Beberapa
waktu berlalu,hidup Melody semakin baik,adik yang begitu baik,perusahaan yang
sangat maju dan juga kekasih yang sangat mengerty melody,namun bayang-bayang
tentang Stella semakin menari-nari di pikiran Melody,rumah yang beberapa waktu
disimbanginyapun sudah tak berpenghuni lagi,hal yang sama terulang
kembali,Stella meninggalkan Melody,Melodypun merasa Stella mungkin telah lelah
dengannya,lelah dengan kerepotan yang ia berikan.
Sampai
akhirnya,tiba-tiba akhir-akhir ini jantung Melody terasa berdetak lebih
cepat,kadang sampai terasa sakit,ia takut jantungnya mengalami masalah lagi. Kemudian
Ia putuskan untuk menemui dokter yang merawatnya waktu itu.Dan ia juga ingin
mencari tau,siapa orang baik yang telah mendonorkan jantung untuknya.
“Maaf mba Melody....saya tidak bisa menyebutkan nama pendonornya,ini sudah
ada di kode etik kedokteran.”Ucap dokter setelah melody mengungkapkan maksud
kedatangannya.
“Tapi dok,akhir-akhir ini jantung saya berdetak begitu cepat bahkan terasa
sakit,tapi dokter bilang jantung saya dalam keadaan baik-baik saja.Pasti
pemilik jantung ini ada apa-apa,mungkin keluarganya,saya hanya ingin
mengucapkan terimakasih dok,saya mohon....saya tidak bisa terus hidup dengan
jantung yang alur detaknyapun tak mau mengikuti saya.”Ucap Melody memohon.
“Ok mba melody.sebelum dia mendonorkan jantungnya,dia seorang pasien
kanker,saya tidak bisa memberikan alamatnya,tapi saya akan beri tahu nama rumah
sakitnya,RS.Kasih,saya harap Mba melody tak menanyakan tentang ini lagi kepada
saya.”Ucap dokter mengakhiri percakapan.
Melodypun langsung melanjutkan perjalanannya ke
RS.Kasih,dia terus berlari bahkan jantung ini tak menginginkan melody untuk
berjalan,cepat lebih cepat dan lebih cepat lagi,hingga akhirnya Melody menabrak
seorang dokter.
“Maaf mba....mba ga papah??”Ucap dokter itu,ia membantu melody berdiri.
“Ishak???”Ucap Melody mengenali laki-laki itu.
“Melody??”Ucap Ishak kepada Melody.
“Ishak....kamu harus bantu aku....pokoknya kamu harus bantu aku...”Ucap
Melody terengah-engah.
“Ok Mel,aku akan bantu kamu,tapi tenangin diri kamu dulu,lebih baik kita
bicara di ruangan ku.”Ucap Ishak.
Kemudian Ishak
mengajak Melody ke ruangan kerjanya,tiba-tiba Melody melihat sebuah pigura foto
diatas meja kerja Ishak.
“Stella....”Ucap melody melihat gambar di dalam pigura tersebut. Ishakpun
hanya mengangguk,dan mengelus foto stella tersebut.
“Jadi semenjak di Amsterdam sampai disini kalian masih berhubungan?”Ucap
Melody lagi.
“Aku sangat mencintai Stella mel,bahkan ketika Stella memutuskan hubungan
kita,karena kalian bertengkar,aku tetap mencintai Stella,aku ke Indonesiapun
karena aku ingin dekat dengan Stella.”jawab Ishak Menjelaskan.
“Lalu dimana Stella sekarang?”Ucap Melody,Ishakpun hanya menjawab dengan
mengangkat bahunya.
“Ok,sekarang aku mau tahu siapa pendonor jantungku??dokter yang pernah
merawatku bilang dia berasal dari rumah sakit ini,dan aku mau tau,jantungku
terasa berdetak lebih cepat,tapi dokter bilang aku baik2 saja,aku ingin
mengetahui apa yang terjadi sebenarnya?”Ucap Melody sudah tidak sabar.
“Kamu benar-benar ingin tahu??”Ucap Ishak.
“Jelas aku ingin tahu.”ucap Melody.
“Dia adalah seorang perempuan,dia penderita kanker otak semenjak tiga tahun
yang lalu,orangnya begitu ceria,bahkan ia tak seperti orang yang sedang
sakit,dia selalu menyemangati orang lain,bahkan orang yang lebih sehat
darinya,hingga akhirnya 3bulan yang lalu,kankernya mulai masuk ke stadium
akhir,dia harusnya melakukan perawatan,kemotheraphy,radioaktif atau theraphy
yang lainnya,tapi dia tidak mau,dengan alasan dia tidak mau menghabiskan
waktunya di rumah sakit,dia ingin membahagiakan orang yang dia sayang sebelum
dia pergi,saya jatuh cinta dengannya,sangat mencintainya,tapi dia bilang,cinta
saya sudah jelas,tapi cinta untuk orang itu belum pernah ia ungkapan,dia ingin
menebus kesalahan masa lampau yang ia pernah lakukan.,dia tak ingin mati di
rumah sakit,dia ingin mati dengan membawa senyuman dari orang yang ia sayang,dan
sekarang aku yakin dia telah mendapatkannya.”Jelas Ishak panjang Lebar.
“Lalu siapa??kenapa aku yang dia pilih untuk diberikan jantungnya?”Ucap
Melody penasaran,kini jantungnya kembali berdetak dengan hebatnya,bahkan lebih
kencang dari sebelumnya,Melody mulai memegangi jantungnya lagi,bahkan kali ini
diremas,karena begitu sakitnya.
“Dia orang yang kamu kenal,dia menghabiskan sisa hidupnya
denganmu,untukmu,dan demi senyummu,dia Stella,Stella Cornelia.”Ucap Ishak,yang
langsung disambut dengan derasnya air mata dari Melody.
“Ga.....ga mungkin,Stella...ga mungkin,dia ga bilang apa-apa.....ga
mungkin.”Ucap Melody dan kini jantungnya seakan mulai memompa dengan
cepatnya,seakan lepas dari tempatnya.Dan Melodypun tergeletak tak berdaya.
*
“suara itu...suara yang kukenal,Stella.........stel......kamu dimana??”Ucap
Melody di tengah hamparan pulau putih yang tak terlihat siapapun ada
disana,hanya saja dia mendengar suara emas sahabatnya,suara stella tengah
bernyanyi. Dari jauh terlihat sosoknya,Terlihat Stella begitu cantik,memakai
gaun putih,dan banyak bunga menghiasi mahkota kepalanya.
“Stella.......”Ucap Melody menepuk pundaknya.
“Melody....”Ucap Stella terkaget. Mereka berduapun saling berpeluk begitu
erat,menumpahkan kerinduan,hingga tetesan air mata jatuh dari pipi Melody.
“Stella...kamu kemana aja....aku kangen sama kamu.” Tanya Melody melepaskan
pelukannya.
“Aku disini Mel, lihat semua ini,taman melati yang begitu luas.....ini
mimpiku mel,mimpi yang menjadi kenyataan,lihat air ini,ketika ku menyiramnya,akan
tumbuh ribuan Melati,ini indah kan mel.....”Ucap Stella dengan senyumnya
menceritakan semuanya.
“Lihat bangunan itu?”Ucap Stella dengan menunjuk kesebuah bangunan diujung
sana.
“Iyah,seperti istana.”Kata Melody terkagum dengan bangunan yang di tunjukkan
Stella.
“Itu tempat tinggalku,disana ada ribuan melati,semuanya terbuat dari
kaca,jadi kita bisa lihat melati dari dalam rumah,disana juga ada dua kamar
besar,kamar Melody dan Kamar Stella,itu tempat kita mel..”Ucap Stella.
“Tapi ini...”Melody menunjuk kearah jantungnya.
“Aku tidak butuh jantung disini,disini lebih banyak detak yang lain yang
lebih indah,biarkan jantungku tetap hidup bersamamu,dan dua kornea mataku yang
hidup di Nabilah,dia sangat cantik bukan??dia sangat menyayangimu mel,dia
seperti malaikat yang begitu manis.”Ucap Stella.
“Tapi aku ingin bersamamu stel..”Ucap Melody menggenggam tangan Stella.
“Disana udah ada kamar untuk kita berdua,kamu tenang saja,aku akan
menjemputmu nanti,tapi bukan sekarang,pulanglah Mel.....”Ucap Stella.
“Stella.......stella.....stella......”Ucap suara besar dari arah langit.
“Iyah...stella akan kembali.”Stella seakan menjawab suara itu.
“Stel kamu mau kemana?aku ikut....stella.......aku ikut denganmu.......”Ucap
Melody tapi stella tetap berjalan diatas pelangi yang tiba-tiba hadir.Melody
coba mengejarnya tapi dia tidak bisa.
“Sampaikan pada ishak,aku sangat mencintainya....”Ucap Stella setelah
mencapai puncak dan melambaikan tangan pada melody.
“Stelllaaaaaaaaaaaa............”Ucap Melody dan kemudian ia membuka matanya.
“Melody......mel......Ya Tuhan Syukurlah...”Ucap Adit yang bersyukur atas
sadarnya Melody,Melody tak sadarkan diri sejak kejadian itu,dokter mengatakan
Melody koma,melody koma selama 7hari,dia seakan tak mau menerima jantung yang
berdetak ditubuhnya.
“Ini keajaiban”Ucap dokter yang merawat Melody.
“Kak Melo....nabilah ga mau kehilangan kakak.”Ucap Nabilah memeluk Kakaknya
yang masih belum sadar betul dengan yang terjadi.
“Stella....tadi aku bertemu stella.....stella begitu
cantik...stella....”Ucap Melody yang langsung dihentikan oleh Adit.
“Sssstt....Melody kamu harus sadar,stella udah ga ada,dia udah kembali
kepada Tuhan,biarkan dia tenang disana.”Ucap Adit. Mendengar ucapan itu Melody
menangis, ‘apakah kejadian itu hanya mimpi??’pikir benaknya.
Akhirnya Melody menyadari kejadian sebenarnya, Stella telah pergi ke tempat
impiannya, dengan jantung yang ia titipkan pada Melody. Melody masih terdiam
membayangkan wajah Stella yang terakhir ia lihat, membayangkan penderitaan
Stella, sakitnya, kekalutan hatinya, bahkan ketika dalam sakitnya pun masih
bisa tersenyum, memberikan ketegaran untuk sahabatnya. Melody menggigit bibir
bawahnya, dia merasa tak pernah menjadi sahabat yang baik untuk Stella, bahkan
ketika sahabatnya dalam keadaan hancur, dan dalam sisa waktunya, Melody masih
bisa menyalahkan Stella atas apa yang terjadi pada dirinya, atas apa yang
membuat dirinya sebenarnya tak lebih hancur dari Stella yang kehidupannya
dibayang-bayangi kematian.
(cklak....)suara pintu terbuka,kemudian terlihat Ishaklah yang memasuki
ruang rawat Melody.
“Ishak...”Ucap Melody ketika melihat seseorang yang membuka pintu.
“Akhirnya kamu sadar Mel,Bagaimana keadaanmu sekarang?”Ucap Ishak.
“Aku baik-baik saja.”Jawab Melody.
“Aku bawakan ini,titipan terakhir stella yang dia berikan ketika di
saat-saat terakhir hidupnya,bacalah...”Ucap Ishak sambil menyerahkan sepucuk
surat bersampul merah muda itu,kemudian Melody membukanya dan mulai membacanya.
Dear,
Melody Nurramdhani Laksani
Pagi yang indah saat kutulis surat ini,pagi yang di dalamnya kumasih bisa
memikirkan segala yang indah tentang bumi,tentang bunda,tentang Almarhum
Ayah,Tentang Sonia,dan tentang kamu....sahabatku.
Menulis surat ini seakan mengingatkanku pada kematian,kematian yang
sebenarnya tak begitu kutakutkan,kematian yang tiga tahun belakangan selalu
menjadi bayang-bayang pengikut dihidupku.
Tepat tiga tahun yang lalu,dokter memfonisku menderita kanker otak,penyakit
yang memikirkannya saja bahkan aku tak pernah,aku menangis saat itu,bukan
menangis karena takut mati,tapi menangis karena ternyata aku akan cepat pergi
meninggalkanmu, meninggalkan rumah pohon kita, keceriaan kita dan banyak
kenangan tentang kita.Semakin melihatmu pada waktu itu membuatku semakin takut
kehilanganmu.
Lambat laun waktu terus bergulir,cepat atau lambat kamu akan mengetahui
tentang ini, karena itu aku memutuskan untuk pindah ke Indonesia,selain bagi
bunda pengobatan di Amsterdam begitu mahal,akupun ingin ketika meninggal nanti
tak melihat air matamu,aku juga ingin meninggal di dekat pusara ayah.
Waktu masih berjalan saat itu,Tuhan masih baik hingga memberikanku waktu
selama tiga tahun ini,hingga akhirnya. Ishak bilang sisa waktu hidupku hanya
tinggal tiga bulan,pada saat itu entah mengapa otakku yang telah rusak ini
seakan memutarkan bayangan tentangmu, tentang kebersamaan kita dan tentang tawa
kita yang pernah kita lalui bersama.
Akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam hidupmu kembali,ku masih lihat
melody yang cantik,kuat,tangguh dan pekerja keras.Aku tak peduli kamu tak
menganggapku ada, yang terpenting adalah aku bahagia saat aku masih bisa
melihat kamu.
Mel, salahkanlah saja aku atas semua yang terjadi, aku hanya tak ingin kamu
melihatku sakit, karena aku tau kamu pasti akan merasakan sakit yang sama, walaupun
aku mengerti tak seharusnya aku pergi di saat-saat terakhir kebersamaan kita.
Untuk masalah Adit, aku sedikitpun tak mencintainya, karena dia sangat
mencintaimu,kamupun demikian kan? dia sangat baik,tapi aku masih mencintai
cinta yang lain.Kamu masih ingat Ishak? aku masih mencintainya sampai
sekarang,bahkan hingga aku tlah mengetahui umurku tak panjang lagi,dia masih
berada disisiku.
Aku telah memutuskan untuk pergi, tapi yakinlah aku tak mati, aku masih
hidup seiring berdetaknya jantungmu,dan kamu masih bisa melihat aku di kedua
kelopak mata nabilah. Ingatlah Mel, aku akan tetap hidup diantara kalian dan
selamanya akan seperti itu.
Tetaplah berdetak untukku,untukmu,dan untuk kita.
From,
Stella Cornelia.
Air
mata kini tak dapat dibendung lagi, perjalanan yang panjang, hingga akhirnya ia
sembuh atas kematian sahabatnya. Didekapnya dengan kuat surat itu,kini jantung
itu telah mampu berdetak mengikuti alur detak Melody, kemudianpun Melody
menatapi mata Nabilah, dia melihat Stella didalamnya,yang tengah tersenyum
kearahnya.
“Kamu akan selamanya hidup Stell”Ucapnya dalam hati dalam deraian harunya.
“Stella sangat menyayangimu mel,bahkan saat kejadian tiga tahun yang lalu
dia lebih memilihmu dari padaku,dia lebih memilih menghabiskan sisa waktunya
denganmu,bahkan menuliskan surat terakhirnyapun untukmu,dan jantungnya yang
berdetak itu diapun berikan kepadamu,mata indahnya dia beri untuk selalu
mendampingimu,dia bahkan lebih mencintaimu dari pada kepadaku.”Ucap Ishak kali
ini terlihat butir air mata diujung mata yang mulai membasahi kaca mata yang
dikenakannya.
“Ishak.....Stella sangat mencintaimu,bahkan dia mengucapkannya dengan jelas
ketika dia kembali ke langit,dia mengatakan dia sangat mencintaimu,dan kamu
harus percaya itu.”Ucap Melody yang kali ini mulai menggenggam tangan Ishak
untung menangkannya.
“Aku percaya mel,aku sangat percaya.”Ucap Ishak.
“Jasmine.................makan sayurnya sayang.”Ucap Melody mengejar gadis
cilik berusia lima tahunan.
“Ngga,ngga bunda,jasmine ga suka sayur,ngga bunda..jasmine alergi sayur.”Ucap
anak kecil yang bernama jasmine itu sambil terus berlari.
“Ngga ada itu yang namanya alergi sayur,Kalau kamu ngga mau makan sayur,kamu
akan gampang sakit.”Ucap Melody masih seperti bermain kucing-kucingan dengan
Jasmine.
“Halo.....Selamat Pagi....”Ucap seorang laki-laki dari arah pintu depan.
“Paman Ishak....”Ucap jasmine berlari,kearah laki-laki itu,dan laki-laki
itupun langsung menggendong Jasmine.
“Biarin Jasmin gampang sakit bunda,kan ada paman Ishak jadi pasti akan
sembuh,iya kan paman??”Ucap Jasmin,dan langsung dijawab anggukan dan kecupan
pipi dari pamannya itu.
“Ishak....jangan bela Jasmine terus,nanti dia kebiasaan.”Ucap Melody agak
kesal melihat tingkah putri tunggalnya.
“Udahlah Mel...biarin,sekali-kali.Lihat senyum manisnya,mana ada yang kuat
ngelihat senyum itu.”Ucap Ishak dengan menatap Jasmine yang masih dalam
gendongannya,dan Jasminepun memainkan senyumnya di hadapan bundanya.
“Akh...selalu saja.”Ucap Melody dan pergi meninggalkan keduanya.
“Sipp deh paman,paman Ishak memang TOP BGT deh.Jasmine pengen cepet-cepet
besar biar bisa jadi pendamping paman,kata eyang paman lagi cari
pendamping,biar jasmine ajah”Ucap Jasmine,dan kali ini Ishak hanya tertawa
kecil mendengar ucapan anak kecil itu.
“Oia paman,mau lihat taman melati punya Jasmine ga??sekarang semakin banyak
Bunganya,kemarin Jasmine tanam lagi,biar tambah banyak.”Ucap Jasmine sambil
menunjukan taman melati miliknya dari dalam rumah,rumah Melody dindingnya
terbuat dari kaca,jadi bisa melihat ke arah luar dari dalam.
“Ishak,Jasmine...Ini ada kue,ayo kesini.”Ucap Melody memanggil keduanya.
Merekapun
bergegas menuju ruang keluarga,disana semua keluarga sudah berkumpul.
“Hmmm....enak kuenya bunda,Jasmine sayang banget sama Bunda”Ucap Jasmine
sambil mengambil kuenya.
“lebih Sayang manakalau dibandingin sama paman Ishak?”Ucap Melody dan
terlihat Jasmine kebingungan menjawabnya,seluruh keluargapun tertawa dengan
tingkah lucu putri kecil itu.
“Oia,Jasmine itu sayang semuanya,sayang Bunda,Ayaah,Paman Ishak,Eyang
putri,Tante Nabilah,Tante Sonia,dan semuanya dengan cinta yang sama
besarnya,jawaban yang ini bener kan paman Ishak?”Jawab Jasmine dengan lugunya
dan dijawab oleh Ishak dengan mengangkat kedua jempolnya,dan mereka pun saling
menepukkan tangannya.
Hari minggu yang menyenangkan saat ini,semua
keluarga berkumpul dengan tawa mereka. Terlihat Melody berdiam diri di ujung
tangga sambil memperhatikan seluruh keluarga yang tengah sama-sama bersendau
gurau.
“Mel.....”Sapa seseorang dari belakang.
“Bunda...”Ucap Melody sambil segera menghapus butiran air mata yang mulai
keluar.
“kamu pasti lagi inget sama Stella yah?”Tanya Bunda lagi.
“Iya bun..coba Stella ada disini mungkin semuanya akan terasa lengkap.”Ucap
Melody dengan pandangan masih kearah yang sama.
“Lihat Jasmine,dia tumbuh bagaikan Stella kecil,sama-sama tidak suka
sayur,dan sama-sama sangat mencintai Melati sepertinya namanya Jasmine,bahkan
dia juga sangat menyayangi orang yang disayangi Stella yaitu Ishak.”Terang
Bunda sambil melihat kearah Jasmine.
“Stella sudah tenang disana,dia pasti bahagia melihat kita bahagia,makasih
juga Melody udah ijinkan Bunda menjadi bagian dari bahagia kalian.”Ucap Bunda
lagi.
“Kok bunda ngomong gitu sih?bunda adalah bunda Stella,bunda Melody
juga,bunda adalah satu-satunya orang tua untuk Melody sekarang,Bunda dan Sonia
adalah bagian dari keluarga ini,Melody sayang banget sama Bunda.”Ucap Melody
sambil memeluk Bunda dan dibalas oleh Bundanya.
“Bunda juga sayang sama kamu mel...”Balas Bunda.
“Lho kok ada acara peluk-pelukan ngga ngomong sih??”Ucap Adit dari belakang
dan langsung ikut memeluk keduanya,semuanyapun ikut bergabung, kini pelukan
erat itu sangat begitu indah,semuaa bahagia,dan Stellapun pasti juga bahagia
disana.
Kadang
untuk mendapatkan bahagia memang butuh banyak pengorbanan, bahkan butuh banyak
ribuan butir air mata sebelumnya. Perdebatan bukan selamanya malapetaka bagi
hidup, tapi perdebatan bisa menjadi kunci menuju kebahagiaan. Jagalah setiap
bahagia yang kita miliki, genggam dan dekaplah. Bagi yang belum merasa
bahagia,tetaplah berjuang,karena setiap manusia akhirnya harus bahagia,meskipun
bahagia yang kekal adalah kebahagiaan di padang surga sana.
Tersenyumlah semua saat ini,untuk memulai bahagia.
Keep fighting!
The End.
