Pertemuan akan berakhir pada perpisahan.
Rasanya semua orang di dunia ini mengerti betul bahwa setiap orang yang bertemu akan berpisah pada waktunya. Ntah itu dalam waktu yang sangat lama, ataupun hanya beberapa hari, bahkan beberapa jam.
Dan aku pun mengerti betul, pertemuanku dengannya akan berujung pada perpisahan. Oke tak selamanya berpisah, hanya saja dia meninggalkanku setelah beberapa hari menemuiku.
Aku mengerti betul rasanya ditinggal orang di tempat kita sendiri, meskipun hanya beberapa saat mereka berkunjung. Lagipula aku tak hanya sekali ini ditinggalkan. Oleh orang tua, Kakak, teman, bahkan adik kelas yang beberapa hari menumpang di tempatku sudah pernah. Selama 3 tahun ini, aku dikunjungi banyak orang. Banyak rasa yang muncul, setiap saat mereka pergi.
Dan, kali ini. Di awal tahun keempatku, di tanah rantauku ini. Aku dikunjungi seseorang. Orang yang belum begitu lama aku kenal, baru satu semester mungkin. Dan bahkan baru sekitar 113 hari aku benar-benar dekat dengannya.
Siapa ? Teman. Dunia maya.
Ya, aku mengenalnya lewat dunia maya, lewat sebuah grup yang merangkul orang-orang yang memiliki hobi yang sama, jadi sudah jelas, aku dan dia memiliki hobi yang sama. Awalnya sebatas itu. Semakin lama, semakin dekat, semakin banyak berbincang lewat chat, kami sama-sama sadar bahwa bukan hobi saja yang sama. Semakin lama kami saling mengenal, bukan hanya tentang hobi saja yang kami bahas, namun merambah ke dunia pendidikan kami masing-masing, dan berujung pada masalah pribadi.
Dia. Teman yang bisa aku ceritakan apa saja. APA SAJA. Bahkan satu rahasia terdalam diriku yang kujanjikan untuk tak kuberitahu pada siapapun, termasuk orang yang selama ini dekat. Alasannya bukan karena aku terlalu nyaman, meskipun nyatanya aku sangat nyaman, tapi karena aku dan dia benar-benar sama. Bahkan tak ada rasa risih sedikitpun ketika salah satu dari kami menceritakan hal tabu sekalipun.
Jika ditanya seberapa dekat. Sangat Dekat.
Aku ditinggalnya, setelah 4hari 3malam dia bersamaku. Rasanya ? Jangan tanya. Dia baru berkata ‘besok aku pulang.’ saja aku sudah menangisi dia. Dan itu, pertama kalinya aku menangisi seseorang di depan orang itu sendiri, lebih lagi aku dipeluknya, ditenangkannya, dan dihapus air mataku olehnya. Rasanya, sangat tidak cukup waktu 4 hari itu, ditambah dengan urusan kampusku yang menyita waktu dan membuatku meninggalkannya di kos-an sendirian. Rasanya masih banyak hal yang ingin aku lakukan dengannya selayaknya teman dekat yang menghabiskan waktu bersama. Jalan-jalan di mall, nongkrong di cafe, nonton, shopping, atau apalah.
Hari terakhir dengannya, saat aku membuka mata dan dia masih ada di sampingku, saat itu juga rasanya aku tak tahan lagi menahan air mata. Aku menangis sejadi-jadinya di hadapannya.
Aneh ? ya mungkin aneh, aku orang yang sangat tak mau menangis di depan orang lain, aku yang selalu memasang tampang sok tegar, aku yang sok kuat, menjadi lemah di hadapannya.
Oke, biar kujelaskan kenapa aku bisa seperti ini.
Satu yang terpenting adalah. Dengannya aku benar-benar bisa jadi diriku sendiri. Bukan aku yang sok kuat, bukan aku yang sok tegar, bukan aku yang mandiri, bukan aku yang dewasa. Dia seperti membangkitkan diriku yang dulu, yang aku tinggalkan sejak aku duduk di bangku SMK dan berbagai masalah mendera, memaksaku menjadi orang dengan pribadi yang berbeda. Aku yang manja, aku yang gampang menangis, aku yang tak bisa mandiri, aku yang lemah, aku yang bergantung pada orang lain, dan aku menunjukkan sikapku ini kepadanya. Aku bahkan tak risih menangis dihadapannya, aku sangat manja kepadanya, aku lemah dengannya, aku bergantung padanya.
Dan lagi ntah sejak kapan, aku merasa bahwa aku tak punya orang yang bisa andalkan, orang yang bisa membuatku bermanja-manja, bahkan orangtuaku sendiri. Lalu dengannya dia bisa menjadi seperti kakak, meskipun umurnya ada dibawahku, dia menjelma menjadi orang yang bisa aku andalkan, orang yang bisa membuatku bermanja. Dan dia sama sekali tak keberatan dengan hal itu. Bahkan aku merasakan ini sebelum aku bertemu dengannya, karena itulah saat dia benar-benar di sampingku aku benar-benar bahagia, karena aku seperti bisa kembali ke masa dimana aku bisa menjadi diri sendiri. Masa dimana tak ada yang memaksaku menjadi orang lain.
Bersamanya, aku jadi seperti kembali memiliki pegangan.
Karenanya ketika dia pergi, aku jadi takut. Ntah apayang benar-benar aku takutkan, yang jelas aku takut. Dan yang jelas adalah, aku kesepian. Bagaimana tidak, biasanya dia ada di kamarku, ketika aku pulang dari kampus ada dia yang menunggu, ada orang yang aku ajak makan, ada orang yang ku ajak bercerita apa yang terjadi selama aku di kampus, ada orang yang kuajak berbincang sebelum tidurku, ada orang di sampingku saat aku membuka mata. Dan setelah dia pergi, semua itu tak ada lagi. Aku menangis seharian, semalaman, tak merelakan peganganku pergi. Rasanya, sakit setiap mengingat dia pernah ada di sini, dia pernah melakukan ini ketika aku begitu, dia tertawa setiap kali aku mengeluarkan candaan, dia diam saja ketika aku memberantakan muka dan rambutnya. Yang padahal hanya beberapa hari dia ada di sini, apa yang dia lakukan seperti sudah menjadi kebiasaan.
Aku bahkan lupa, sudah berapa kali dia berkata ‘sudah jangan menangis lagi.’ Tapi bagaimana aku bisa menahan jika semua tentangnya masih terbayang jelas, dan membuat dadaku sakit setiap kali mengingatnya. Aku tau, bahkan sangat tau dengan aku menangis, seberapa keraspun dia tak akan begitu saja kembali ke tempatku, atau mendadak ada pintu doraemon di hadapanku membuatku mudah bertemu dengannya, namun bagaimana jika semakin aku menahan tangisku, semakin sakit sesaak di dadaku. Aku bahkan heran dia bisa terkesan baik baik saja setelah meninggalkan aku. Tapi katanya, dia hanya mencoba baik-baik saja meskipun dia sangat ingin memelukku ketika dia mendengarku menangis, sangat ingin makan bersama lagi, jalan berdua denganku. Mungkin memang beda, rasanya meninggalkan dan ditinggalkan. Aku tau dia berat meninggalkan dan aku di sini sangat sakit ditinggalkan.
Sampai sekarang, sampai aku mengetik tulisan ini, sampai 3 hari setelah dia pulang, aku masih saja belum bisa baik-baik saja, diri ini masih serasa kosong, bahkan orang yang melihatku berkata auraku berbeda. Aku bahkan tak pernah menyangka bisa senyaman ini dengan seseorang, aku bisa selemah ini ditinggal seseorang, aku bisa sesakit ini menahan rindu pada seseorang, dan bisa sesayang ini dengan seseorang.
Jika mungkin pada awalnya aku hanya ‘tau’ adanya pertemuan akan berujung pada perpisahan, sekarang aku benar-benar mengerti bahagianya sebuah pertemuan dan sakitnya perpisahan.
Aku sama sekali tak menyesali pertemuanku dengan teman dunia mayaku itu, namun aku membenci hal yang berkaitan dengan pertemuan, yaitu perpisahan dan rasa rindu.
