Selasa, 01 Desember 2015

Balon Udara



Dulu, dulu sekali aku pernah memiliki balon udara. Besar. Aku menaikinya setiap saat. Ah, bukan setiap saat, aku memang tinggal di sana. Aku bisa terbang, aku dapat menyentuh langit. Aku dibawa terbang tinggi dengan balon itu, aku aman, aku nyaman, aku merasa terlindungi di sana. Seberapapun tinggi balon ini terbang, aku tak pernah merasa takut, karena balon itu akan selalu menjagaku, tak mungkin membiarkanku jatuh, dan aku tak pernah sedikitpun berpikir untuk pergi dari sana.
Hingga suatu hari, balon ini yang selalu bergerak ke atas, terhenti. Aku menyadari perhentian itu, tapi aku sama sekali tak memperdulikannya. Selagi aku masih di langit, itu tak masalah. Pikirku saat itu. Aku bertahan dalam kenyamanan balon udaraku, yang ntah kenapa sejak hari itu justru semakin menurun ketinggiannya. Aku sangat menyadari itu dan aku masih tak mau ambil pusing dengannya. Meski ku akui, aku mulai cemas. Atau lebih tepatnya, aku hanya berlagak tak perduli atas nasib balon udara ini. Semakin hari, balonku semakin terbang rendah, aku mulai mencari penyebabnya, mencoba memperbaikinya. Tapi sayangnya, tak perduli seberapapun aku mencoba memperbaikinya, balonnya akan semakin turun, semakin mendekati tanah. Balonku mendarat, di tempat yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, tak pernah kupijaki selama ini. Balonku, benar-benar menurunkanku, dan dia tak mau terbang lagi. Aku berkeliaran, menjauh dari balon rusakku, aku mencari kesenangan yang tak pernah aku temukan, sambil berharap suatu hari nanti balonku akan baik dengan sendirinya, lalu menjemputku dan mengajakku terbang tinggi lagi.
Hariku berlalu begitu saja, ternyata aku bisa hidup tanpa balon udara itu, ku akui, aku rindu balon itu, tapi aku sendiri tak tau dimana balon itu sekarang, bagaimana keadaannya, aku tak pernah tau lagi. Tak mau tau sepertinya. Aku terlalu tak mau ambil pusing dengan masalah itu, sepertinya.
Sampai suatu hari, dimana aku hanya terduduk sendiri menatapi langit, aku sadar aku sangat merindukan langit itu, aku merindukan suasana berada ditengah-tengah langit, menyentuh awan, menikmati angin di atas sana, bernafas dengan leganya. Aku, ternyata aku lelah dengan hidup yang seperti ini saja, mencoba mencari kesenangan dengan hanya mendustai diri sendiri, menyebar tawa dengan menyimpan dalam-dalam kesedihan karena balonku tak kumiliki lagi. Berlagak tak perduli tapi selalu berharap kembalinya balonku itu, menangisi kerusakannya, kehilangan atas kepergiannya.
Semakin bergantinya hari aku semakin tumbuh dewasa dan aku masih menunggu balonku itu kembali. Namun selama aku menunggu, selama itulah balon itu tak pernah kembali. Semakin aku menunggunya, rasanya sama saja seperti aku semakin menyakiti diriku sendiri. Aku bernafas, tapi aku tak pernah lagi merasakan keringanan dalam setiaap hembusan nafasku, aku berjalan dan setiap kali aku berjalan itulah aku semakin menyakiti kakiku. Sampai aku akhirnya memutuskan untuk tak mengharapkannya lagi, aku akan terbang dengan balon-balon kecil yang akan kubuat sendiri, aku tak menunggunya lagi, aku tak akan memperdulikannya lagi.
Aku mulai membuat balon-balonku, mengumpulkan satu demi satu balon yang diisi angin untuk membawaku terbang lagi. Saat itu, aku bahkan tak perduli ketika aku sedang berusaha membuat balon yang satu namun balon yang lain pecah, aku tak perduli balon-balon yang lepas dari kumpulan balonku, yang kutau aku akan meniup balon-balon ini, demi aku bisa terbang lagi. Aku tetap mencoba meskipun lebih banyak balon yang pecah dibanding balon yang kutiup. Akan selalu ada pengganti dari balon yang pecah. Itu yang selalu kupikir. Aku terus meniupkan balon-balonku, setiap balon yang terkumpul, mengembangkan senyumku, melegakan nafasku, dan meyakinkan diri bahwa aku masih berhak terbang, aku masih berhak menyentuh langit.
Tapi sayangnya, sejak aku memutuskan untuk membuat balon sendiri, sampai saat ini. balon-balonku selalu tak cukup untuk membuatku terbang. Balon-balon yang kukumpulkan pecah satu persatu, atau terbang sendiri melepaskan ikatannya. Tak perduli berapa kalipun aku mencoba, balon-balonku selalu pecah. Aku kehabisan daya, aku kehabisan akal, dan aku mulai ragu...apakah aku masih berhak menyentuh langit, atau tidak. aku menjadi seperti tak percaya atas adanya kebaikan. Aku mulai merasa tidak diadili. Aku merasa dunia begitu egois. Aku merasa hanya aku saja yang tak bisa terbang. Apa aku tak bisa dibiarkan bernafas lega, menghembuskan setiap nafasku dengan ringan ? kalau aku tidak bisa terbang lagi bersama balon udaraku, bisakah setidaknya aku tinggal di dalamnya, karena di sanalah aku bisa merasa terjaga.
Kenapa keegoisan dunia sangat sulit untuk ditaklukan ?

Jumat, 20 November 2015

Gravitasi Rindu




Mencintai seseorang begini ya rasanya. Menahan rindu disetiap detakkan jarum jam yang menggema di malam hari. Membayang-bayangkan apa yang dia lakukan di sana, membayang-bayangkan apa yang dia pikirkan di sana. Memejamkan mata pun yang terlihat justru wajahnya. Ntah kenapa setiap pesan yang ia kirimkan, selalu saja membuat sesuatu seperti berterbangan di perutku. Pipiku menjadi memanas. Fikiranku terhenti. Aku tak tau pasti perasaan apa itu. Yang kutau mencintai orang dalam keadaan seperti ini, selalu menimbulkan Gravitasi Rindu.
Anggap saja, cinta adalah bumi, lalu pertemuan dan perlakuannya adalah sebuah gaya gravitasi, maka rindu adalah efek dari berkurangnya gaya gravitasi bukan ? ketika gravitasi di bumi berkurang, maka yang terjadi adalah kita akan terbang, sulit untuk menyentuh dan merasakan bumi, sama saja bukan ? ketika aku tak kunjung bertemu dia, rindu yang terjadi, karena aku sulit menyentuhnya, merasakan cintanya. Sekedar berbicara lewat telefon, saling bertukar kata cinta, berkeluh tentang yang terjadi di sini, atau di sana, itu mengobati rindu, karena menambah tarikannya, untuk setidaknya sedikit merasakan cintanya.
Tapi, bagaimana jika, cintaku dikejauhan itu, tak pernah tau akan adanya cinta ini, tak pernah tau harapan aku bisa bertemu dengannya, tak pernah tau bahwa setiap saat aku butuh gravitasi rindu. Dia, cintaku itu, tak tau aku mencintainya.  Aku, mencintai orang dikejauhan, yang tak pernah tau aku mencintainya. Bagaimana aku bisa bertahan di bumi ini jika bumi ini tak sadar tengah aku singgahi, bagaimana dengan gaya gravitasi yang selalu aku harapkan, bagaimana rindu yang dia abaikan. Tapi percayalah, itu tak seburuk yang dibayangkan. Aku merasakannya. 
 ---
“Aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. ” Katanya di sebuah aplikasi chatting padaku. Senyumku mengembang dengan indahnya ketika dalam keadaan setengah sadarku baru membuka mata di pagi hari, lalu membaca pesannya. Aku mengetikkan jawaban untuknya. ‘Pagi sekali kau berangkat, sudah sarapan ? semalam kau pasti ketiduran lagi ya, ah itu pasti karena kau ingin tidur lebih awal karena harus ke kantor pagi-pagi kan ?’ Selesai, lalu kutekan ‘delete’.
“Hati-hati ya, semoga harimu menyenangkan, Dokter Jun..” Itulah yang akhirnya ku kirimkan padanya. Lalu kami pun bertukar chat di pagi itu. Itulah kebiasaan kami, berkomunikasi lewat aplikasi di ponsel kami, sesekali menelfon untuk mengobati efek dari kurangnya gravitasi. Jangan tanyakan apa hubunganku dengannya. Hanya sebatas dokter, dengan mantan pasien. Aku mengenalnya sekitar 2 tahun lalu, di sebuah rumah sakit tempatnya bekerja. Aku menjadi pasien di sana, lalu dia menjadi dokter yang merawatku. Ntah karena terlalu lama aku di rawat atau apa, aku jadi dekat dengannya, dan dia menjadi seperti dokter pribadiku, bahkan dia memberiku contactnya, alasannya agar aku mudah menghubunginya, karena tak ada yang menjagaku, keluargaku di Pontianak dan aku di Bandung, karenanya dia merasa bertanggung jawab atasku. Dia dokter terbaik yang aku tahu, ntahlah aku jadi seperti tak ingin sembuh, karena jika aku sembuh itu artinya aku akan keluar dari rumah sakit dan akan jarang bertemu dengannya.  Tapi tak terpungkiri, aku keluar dari rumah sakit, dan untuk benar-benar sembuh aku tetap perlu check up, aku tetap bertemu dengannya.
Satu yang aku tau setelah aku benar-benar sembuh dan tak lagi ada alasan untukku menemuinya, komunikasiku dengannya tak seintens saat aku masih menjadi pasien. Aku sadar, bahwa dia benar-benar seorang dokter profesional, dia memperlakukanku dengan baik, memperhatikan aku....selayaknya pasien-pasiennya, bukan karena dia tertarik padaku atau apapun. Tapi toh aku tetap bisa menghubunginya, dengan aku yang sedikit cerewet menghubunginya, kami akhirnya benar-benar dekat, dan bisa kembali berhubungan intens dengannya.
Aku tak tau pasti kapan ini terjadi, tapi aku jadi serasa menyukainya, bukan sebagai dokter pribadiku, tapi sebagai lelaki special yang ingin kutinggali hatinya. Sebagai lelaki yang kuharapkan gravitasinya untuk memenuhi rinduku. Aku berbunga-bunga ketika kami bertukar pesan, rasanya bahagiaku hanya bergantung pada pesannya saja. Ntah sejak kapan, tapi aku mulai gelisah ketika dia tak kunjung membalas pesanku, atau tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar. Jangan tanya seberapa sering aku bertemu dengannya, karena sejak kelulusanku satu tahun lalu, aku kembali ke Pontianak. Satu yang kusesalkan, aku tak pernah sedikitpun membicarakan tentang rasa ini, ataupun menanyakan perasaannya.
“Hey Jun.” Sapaku di sambungan telefon, setelah sudah lebih dari satu minggu dia tak membalas chat terakhirku dan tak memberi kabar apapun. Aku, mulai haus dengan gravitasinya. Aku menebak-nebak alasan mengapa dia menghilang. Dan seberapa banyakpun aku mencoba mencari alasan yang mungkin hanya satu yang terus memutar-mutar di kepalaku ‘mungkin dia sibuk dengan pacarnya.’. Dan hebatnya, dengan berbagai spekulasiku, ntah kenapa aku menjadi kesal dengannya, menjadi gerah atas sikapnya yang.........tak pernah peka. Gravitasi rindu yang tak terbayar, membuat rasa aneh tersendiri, bukan galau, bukan sedih, bukan sakit hati atau apapun, hanya saja seperti ada yang mengganjal di dada.
“Iya, ada apa Rena ?” Katanya tanpa dosa, yaa memang dia tak berdosa dalam hal rindu yang dia buat. Dia tak berdosa atas kegelisahanku yang memiliki sejuta pertanyaan dari dia yang menghilang dan atas nada bicaranya yang tiba-tiba berubah. Beginilah efeknya, menyayangi seseorang diam-diam.
“Rena ?” Lanjutnya karena aku tak kunjung memberikan jawaban, aku kembali ke alam nyataku. Caranya memanggilku benar-benar ampuh menarikku dari dunia manapun. Sungguh.!
“Iya Jun ?”
“Ada apa telefon ? Kau baik-baik saja kan ?”
“Ah, errr...iya juga yaa kenapa aku menelfon kamu. Hehe. Yasudah maaf mengganggumu.” Gugupku saat itu. ‘Aku kangen kamu Jun.’ Itu yang harusnya ku katakan untuk memenuhi permintaan atas gravitasi yang mulai berkurang, melayangkanku dari tempat yang kupijaki.
“Kau benar baik-baik saja ? Kau sakit Rena ?” Celetuknya, sesaat sebelum aku mematikan sambungan. Oh shit, bagaimana dia bisa seperhatian ini padaku. Aku sedang kesal denganmu Jun.!
“Aku sangat baik-baik saja Dokter.” Aku menanggapi kekhawatirannya.
“Sudah berapa kali aku memintamu untuk tak memanggilku dengan sebutan itu.” Katanya. Ya itulah, setelah aku mulai dekat dengannya, dia tak lagi mau kupanggil ‘dokter’ seperti aku memanggilnya saat masih menjadi pasiennya.
“Karena kau terlalu mengkhawatirkanku, kau memperlakukanku seperti pasienmu.” Jawabku memutarkan mataku sendiri, yang sudah pasti tak bisa dia lihat.
“Aku sedang banyak pasien, jadi aku terbawa seperti ini.”
“Kau pasti sangat sibuk, pantas kau tak ada waktu.”
“Hm?”
“Ah, ya itu kau pasti tak ada waktu untuk keluargamu kan ? atau pacarmu itu juga sering kau tinggal kan ? Ku rasa juga kau tak ada waktu untuk istirahat.”
“......” Dia tak bergeming, kurasa aku salah berbicara.
“Jun ?”
“Maaf ya, belakangan aku tak ada waktu untukmu.” Strike.! Aku membeku sesaat, seperti ada yang rontok di dadaku, sesuatu seolah membawa kabur otakku. Dia meminta maaf atas kesibukannya padaku. PADAKU. Ya Tuhan, nikmat mana yang Kau dustai. Percakapan malam itu terhenti sesaat. Aku tak tau harus berbicara apa dan dia masih tak melanjutkan perbincangannya. Aku terdiam, mendengarkan desahan nafasnya yang terdengar jelas di speaker ponselku. Jun, bisakah kita seperti ini untuk beberapa waktu saja, aku begitu nyaman dengan situasi yang seperti ini saja, mendengar desah nafasmu saja sudah seperti kau benar-benar ada di sampingku.
Hanya sebatas itu gravitasi yang aku dapatkan, tapi sungguh itu justru daya terkuat. Aku, aku yang hampir terbang ini, tertarik kembali padanya. Aku memutuskan untuk kembali bertahan atasnya dengan gravitasi darinya yang tak pernah ia sadari. Tapi seperti ini saja pun tak apa, sungguh tak apa. Aku menikmatinya, dengan setiap harinya aku bisa menghubunginya, kami bisa saling berhubungan pun aku sudah sangat bahagia. Dengan dia tertarik dengan hal yang kulakukan sajapun, jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Sungguh, seperti ini saja pun tak apa, kalau setiap hariku bisa dibuat senyum atasnya. Dan sungguh, seperti sajapun tak apa, meskipun aku sering merindu karena kurangnya gravitasi darinya.
Telefonku masih tersambung dengannya, desahannya masih kudengar, dan aku tetap merasa dia berbaring di sampingku, menghabiskan malam dengan merasakan hangatnya tubuh masing-masing. Setiap desahannya, semakin lama, semakin membuat aku sadar, jika aku hanya bermain dengan gravitasi rindu saja. Merindu lalu melayang atas kurangnya daya tarik bumi, lalu dengan tarikan sepele, aku tehempas lagi ke bumi, tempat ku memutuskan untuk tinggal, aku hanya dipermainkan oleh gravitasi rinduku saja.
Ntah apapun yang terjadi, aku akan baik-baik saja. Seperti ini saja, ntah berapa kali lagi aku akan merindu lalu terhempas karena gravitasi, tak mengapa, karena inilah jalanku, mencintaimu sebatas gravitasi rinduku. Rasanya aku tak perlu meminta yang lebih dari ini, aku tak perlu memintamu lebih sering bersamaku, lebih sering menyisakan waktu untukku, ataupun lebih sering menghubungiku, aku tak mau jika aku dan kamu menjadi lebih dari suatu hubungan yang kusebut dengan gravitasi rindu.
“Jun...” Aku memanggilnya, setelah hampir satu jam ini kami tak bersuara satu sama lain kecuali desahan nafas yang terdengar.

“.......” Tak ada jawaban.

“Halo Jun, Kau masih di sana ?”

“.......”

“Jun.! Ahh kau pasti tertidur lagi.” Keluhku, desahannya masih terdengar jelas.

“......”

“Jun, Kau benar-benar tidur ?”

“......” Dia tak bergeming, aku menghela nafas panjang.

“Selamat tidur Jun. Kau pasti kelelahan. Istirahatlah dari semua kesibukanmu. Kau tak perlu meminta maaf atas kesibukanmu padaku. Aku tak berhak mendapat maafmu. Kau sama sekali tak bersalah atas rindu yang merambahi diriku. Kau tak bersalah atas gravitasi rinduku yang tak terbayar, Jun.”

“...........” Dia masih tak berkata apapun, dia benar-benar sudah terlelap.

“Aku mencintaimu Jun, meski hanya sebatas gravitasi rindu.”


“Rena...”
---End---

Senin, 21 September 2015

Pelangi Harapan




Aku selalu menangis dibalik hujan itu, merindukan terang yang dulu selalu datang. Aku menangis atas cahaya yang tak lagi menerangiku. Aku meratap atas hujan yang merampas terangku.
Aku selalu meratap dibalik hujan itu, menderita siksa atas dingin akibat terpaan hujan berangin. Aku meradang karena dingin yang selalu menyelimutiku. Aku merindu hangat yang tak kunjung datang padaku.
Aku selalu terpojok dibalik hujan itu, tersudut dalam suatu tempat bernama kenangan. Aku tersudut dalam ruang depresiku. Frustasi akan terang yang tak lagi kudapat.

Terangku tak datang karena hujan, terangku seolah lenyap seiring mendung dan hujan yang mengguyur. Hujan itu berhasil membuat aku tersiksa oleh dingin yang ditimbulkan darinya. Aku terpojok. Aku mengalah. Aku mengalah atas tekanan masa lalu di dalam ruang kenangan. Hujan itu seperti menjadi bully atas aku dan terangku.
Aku sempat berharap hujan itu berhenti, awan mendung itu memudar, lalu terangku datang.
Tapi selama aku berharap, selama itu juga hujan tak kunjung reda, mendung tak kunjung menghilang, harapan adanya cahaya pun semakin pudar, terangku..bisakah kembali kudapat ?
Suatu hari, ditengah ratapanku, ditengah kerinduanku pada terang, aku melihat pelangi. Lalu aku tersenyum mengartikan kemunculan pelangi itu. Pelangi berasal dari bias cahaya yang menembus air hujan bukan ? Yaa, dari cahaya..cahaya dari terangku. Terang yang selalu aku rindukan, terang yang menghangatkanku, terang yang menemaniku. Meskipun sudah beberapa hari pelangi itu tak lagi muncul, tapi bukankah itu cukup melegakan diri ini, meriangkan hati, bahwa terangku tak benar-benar hilang, terangku tak benar-benar pergi, dia hanya tersembunyi di balik hujan itu, dibalik mendung itu, dan pelangi lah yang akan menghantarkan terangku. Masih ada pelangi, masih ada harapan atas terangku.
Pelangi itu, kunamai Pelangi Harapan.
Pelangi itu memunculkan lagi semangatku, meyakinkanku bahwa dibalik awan mendung itu, sehabis hujan deras selama ini, masih ada terang yang akan datang. Pelangi itu memunculkan harapan padaku bahwa terangku masih bisa kudapat. Aku jadi semakin tak sabar, menunggu hujan itu habis, mendung itu pergi, lalu terangku akan datang, menyinariku atas gelap selama ini, menghangatkanku dari dingin yang membekukanku.
Seperti pelangi, menjanjikan terang setelah hujan deras.



Rabu, 15 Juli 2015

Karena Kau Tak Perlu Melakukannya





Aku berlari, menghabiskan garis pantai di tepian laut ini.
Aku berlari berharap aku meninggalkan kesedihan yang kamu tinggalkan untukku.
Aku, berlari secepat mungkin demi aku terlepas dari kenyataan bahwa kamu akan pergi.
Namun sayangnya, tak perduli sejauh apapun garis pantai yang kuhabiskan, tak perduli secepat apapun aku berlari, keadaannya tetap sama. Sakit itu masih terasa. Dan kamu tetap akan pergi.!

Aku mengurangi kecepatan, tenagaku untuk berlari terpecah karena tangis yang mulai tak bisa aku tahan, dadaku terasa sakit atas setiap tetesan air mata yang terjatuh, menyatu dengan air laut. Hingga akhirnya aku benar-benar berhenti, demi tak membiarkan tubuh ini menyatu dengan pasir pantai, dadaku benar-benar terasa sesak, jantungku sudah berdetak terlalu cepat setelah aku paksakan untuk berlari sejauh ini.
Aku tertunduk, berdiri di garis pantai, diantara biru laut dan putihnya pasir pantai. Aku memejamkan mataku, menikmati setiap sakit yang beradu di dadaku, menikmati perihnya lubang luka atas keputusanmu untuk pergi. Menutup mata dari rasa takut yang membayangi, takut dengan masa setelah kamu tidak di sini, tidak denganku. “Kita tidak akan benar-benar berpisah, Jurina.” Katamu, selalu setiap saat aku menyampaikan rasa takutku padamu. Kamu selalu tersenyum dihadapanku dan aku selalu menangis setiap senyuman yang kamu perlihatkan diantara kekhawatiranku. Ntah kenapa, sejak hari dimana kamu benar-benar mengumumkannya, senyummu terasa selalu membuat perih di dada ini. Aku egois jika meminta kamu untuk tetap tinggal, tapi jiwa ini terlalu butuh kamu di dekatku. Aku egois, aku berpikir bahwa kita akan jauh ketika kamu meninggalkanku, karena kenyataannya, hanya dengan kita disibukkan dengan aktifitas kita di tim yang berbeda saja sudah membuat jarak di antara kita. Aku merasa kamu jauh, aku merasa kamu tak perduli lagi dengan aku seiring aku yang bertumbuh dewasa. Aku egois, aku membayangkan sulitnya kamu aku raih, jika kamu di luar sana. Ini yang aku takutkan, ketika jarak di antara kita semakin jauh, lalu tanganku tak lagi bisa menggapaimu dan kamu semakin tak perduli denganku. Aku takut, Rena.
Aku menengadahkan kepalaku, menatap langit biru dihiasi awan-awan berbentuk bulu domba lucu.
“Minumlah, kau terlalu jauh berlari.” Suara itu dengan lembutnya menembus gendang telingaku, mengirimkan pesan kepada otakku, lalu merespon dengan mata yang kufokuskan pada kamu yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. Aku menerima minuman yang kamu tawarkan, demi menutupi kegugupanku yang tak mampu berkata dihadapanmu.
“Kau berlari terlalu cepat, bahkan aku tak bisa mengejarmu.” Katamu menatapku yang masih memindahkan isi botol kedalam mulutku. Aku berhenti menelan, aku kehilangan mood untuk meminum air.
“Untuk apa kamu mengejarku ?” Kataku menepi ke pasir pantai yang kering untuk aku singgahi agar aku bisa duduk. Kamu berbalik badan, menatapku sebentar lalu duduk di sampingku.
“Untuk berkata padamu bahwa kamu tak perlu melakukan itu.” Seperti biasa, kamu mengatakannya dengan tenang dan seperti tau keadaanku. Aku menengok ke arah tadi aku berlari. Jauh, orang-orang yang sedari tadi bersamaku terlihat kecil saat ini. dan Rena mengejarku ke sini demi untuk mengatakan kalimat itu. Sekarang aku dan Rena, berdua berada jauh dari orang-orang itu.
“Aku hanya ingin berlari saja. Kau tak perlu khawatir.”
“Bohong.” Katamu dengan cepat menyambar kalimatku.
“Tidak.”
“Lalu bagaimana jika aku berkata. ‘Aku hanya ingin pergi saja, kau tak perlu khawatir’. Apa kau akan tetap menangis seperti tadi.?” Lancarmu, kau senang sekali berbicara seolah mematikanku. “Kau berlari hanya karena ingin melupakan sakitmu kan ? Kau berlari dengan berharap aku tak jadi pergi kan ?” Tebakmu, aku tertunduk. Meski tebakkanmu tak sepenuhnya benar, tapi itulah kamu, selalu bisa mengerti rasaku. Aku merasakan hangat di kepalaku, aku tau itu berasal dari sentuhan tanganmu. Kau selalu meletakkan tanganmu di kepalaku setiap saat aku merasa takut, lalu menangis.
“Kau tak perlu melakukan itu, Jurina. Karena aku akan tetap pergi dan sakitmu tak akan begitu saja hilang hanya dengan kamu melupakan aku. Aku memang akan pergi, tapi kita tidak akan benar-benar berpisah, aku akan tetap bisa menemuimu, dan kamu tetap akan menemuiku kan ? Sejauh apapun jarak yang akan tercipta setelah aku pergi, itu tak akan membuat kita terpisah, karena jiwa kita saling membutuhkan. Aku akan tetap mencarimu dan kau pun akan menemukan aku. Kamu tak perlu takut aku aku meninggalkanmu, karena aku akan selalu membawamu dalam ingatanku.”

Sabtu, 04 Juli 2015

Aku Rindu Kamu, Sungguh.!



“Maaf.” Kata Taras merubah suasananya menjadi lebih serius, ketika akhirnya Aruna mengalah dan menyadarkan tubuhnya lagi di sofa cafe, lalu menyamankan punggungnya pada sandaran sofa. Aruna menatap luar cafe demi tak mau beradu tatap dengan laki-laki dihadapannya.
“Kau mengucapkan kata itu sudah berulang kali, tiga tahun lalu.” Kata Aruna, pandangannya kosong menerawang bayangan dirinya di masa lalu melepas orang yang sangat ia sayangi, pergi.
“Karena aku tau, berkali aku mengucapkan maafpun, kau akan tetap pada dirimu seperti ini, dingin.” Taras dengan seriusnya menjawabi pertanyaan Aruna yang masih menatapi keadaan luar yang.....biasa saja.
“Lalu kenapa kau masih terus meminta maaf.?” Masih tetap dengan posisinya ia melemparkan kata yang membuat skak mat diperbincangan mereka.
“Karena aku ingin menghangatkan lagi coklat yang telah mendingin.” Tegas Taras, Aruna akhirnya mengalihkan tatapannya pada lelaki dihadapannya yang menatapnya dengan sangat serius. Apa yang harus dia lakukan ketika lelaki yang biasa ia lihat slengekan dengan berbagai tingkahnya, kini menatapnya serius namun begitu meneduhkan, Taras yang sekarang memanglah berubah.
“Kenapa kau harus repot-repot melakukan itu  ? Bukankah akan lebih mudah untuk memesan coklat hangat lagi yang baru. ?” Aruna menatapi cangkir coklat baru yang baru saja diantar oleh pelayan, setelah akhirnya Taras memesankan lagi untuknya.
“Untuk apa aku memesannya lagi, kalau yang sudah mendingin bisa aku hangatkan lagi ? Bahkan bisa tetap aku tenggak dalam keadaan  dingin.” Katanya mengambil cangkir coklat dingin lalu benar-benar menenggaknya. Aruna hanya memperhatikan orang yang mulai bertingkah.
“Kau mau ? Meskipun dingin, coklat ini masih terasa manis, dan tetap bisa dinikmati lho.” Taras menatap Aruna dengan mata dan senyum penuh arti.
“Kenapa keras kepalamu tak kunjung berubah, Taras.” Aruna mulai menyentuh cangkir coklatnya untuk meminumnya, menikmati coklat hangat demi tak lagi ia biarkan mendingin.
“Kalau aku tak keras kepala sedari dulu, aku tak mungkin bisa duduk denganmu disini, bukan ? Mengenang tempat ini sebagai tempat yang dulu sering kita datangi, tempat yang dulu sering kita gunakan untuk menghabiskan waktu, tempat yang aku pertama ku kunjungi setelah tiga tahun tak di Indonesia.” Aruna menghentikan kegiatannya dalam rangka memindahkan isi cangkir ke dalam mulutnya. ‘Ternyata dia mengingatnya.’ Kalimat yang akhirnya melintas dipikirannya.
“Kau ke Indonesia hanya untuk mendatangi cafe ini ?” Aruna meletakkan cangkirnya, Taras menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Ya.” Katanya masih tersenyum menatapi Aruna.
“Selebihnya ?” Taras berhasil membalik keadaan, Aruna menjadi begitu penasaran akan kedatangannya ke Indonesia. Ya memang begitulah yang ia rencanakan.
“Aitakatta.” Singkat Taras mengedepankan tubuhnya, meletakkan lengannya di meja cafe.
“Aku mengerti kau lama di Jepang, tapi bisakah kau mengerti, aku tak mengerti bahasamu itu.” Aruna dengan malasnya menopangkan kepala di tangannya dengan meja sebagai penyangganya.
“Aku ingin menemuimu. Aku rindu kamu, sungguh.!” Taras menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Aruna menatapkan matanya pada mata lelaki dihadapannya, dengan posisi yang hanya berbataskan meja dengan ukuran kurang dari satu meter.
“Kau pasti bertemu banyak perempuan cantik di Jepang sana.” Kata Aruna menatap Taras lebih dekat, yang ditanyai hanya menaikkan satu alisnya, heran.
“Kau lebih pintar menggombal. Pasti karena kau sering menggombali wanita-wanita Jepang kan ?.” Aruna mengakhiri kuncian tatapan mereka, lalu menyamankan kembali punggungnya pada sofa empuk yang membuat pelanggan betah berlama-lama di sini.
“Aku memang belajar dari perempuan-perempuan Jepang. Tapi karena justru mereka yang menggombaliku.” Kata Taras ikut menyadarkan tubuhnya.
“Apa kau masih sadar mengucapkan kalimat itu ?”
“Sangat sadar. Mereka benar-benar menggombaliku, bahkan mengajakku berkencan.” Santai Taras bercerita tentang perempuan-perempuan Jepang yang dulu ia impi-impikan.
“Jadi, sebegitu menyenangkannya ya tinggal di Jepang.? Syukurlah.” Aruna membuang kembali pandangannya ke luar cafe.
“Tidak.” Jawab Taras cepat, Aruna melirik sebentar pada lelaki yang juga sedang menatap ke luar cafe, langit sore sudah menggelap sedari tadi. Pemandangan hujan di luar sudah berganti menjadi lampu-lampu dari gedung-gedung dan mobil yang simpang siur di jalanan.
“Hidup di negara yang aku impikan ternyata tak semenyenangkan yang aku bayangkan. Ternyata bahagiaku tak cukup hanya dengan setiap waktu menemui idol grup yang kusukai itu, tak cukup hanya dengan menghabis-habiskan uang untuk mendukung member kesayanganku demi keinginannya menjadi nomor satu.” Cerita Taras, dia masih memandangi langit luar sama dengan Aruna yang bertugas mendengarkan cerita Taras, yang pada akhirnya berbeda alurnya.
“Idol grup dari akihabara itu memang sudah begitu mudah aku temui, tapi akhirnya aku tersadar bahwa bahagiaku sesungguhnya bukan di mereka.” Aruna mendengarkan cerita Taras baik-baik, bahkan kini ia menatap wajah samping Taras demi menghayati setiap kalimat yang disampaikan.
“Aku akhirnya sadar, salah satu diri ini masih kosong walaupun banyak rasa yang kudapat di sana.” Taras mengalihkan pandangannya pada Aruna, yang ditatap menjadi salah tingkah.
“Dan bodohnya aku baru menyadari bahwa diri ini masih memikirkan satu orang, walaupun sangat banyak orang yang aku temui.”
“Kau menyesal tinggal di sana ?” Tanya Aruna pelan-pelan.
“Sedikit.” Taras memberi jeda pada jawabannya dengan menghelakan nafas beratnya. “Karena ternyata, hidup tanpa orang yang kita kasihi itu sulit. Ternyata bahagiaku memang hanyalah dengan berada di sini, dengan orang yang aku sayangi. Jika boleh aku bandingkan, aku jauh lebih bahagia, senang, nyaman, terharu, karena sekarang berada di sini beberapa jam denganmu dibandingkan aku di Jepang selama tiga tahun. Aku baru tahu ternyata jauh lebih membahagiakan bersama orang yang kita impikan dibandingkan berada di tempat impian.” Taras benar-benar membuat alur perbincangannya menjadi sendu.
“Beberapa jam disini denganku ?” Ulang Aruna, mendengar kalimat yang ganjil pada cerita yang Taras sampaikan.
“Ya.” Singkat Taras.
“Aku menunggumu di sini sejak seminggu lalu aku datang ke Indonesia, tapi kau tak datang..aku justru takut kalau kau tak akan pernah datang lagi ke tempat ini.” Kata Taras tanpa filterisasi. Aruna menatapi Taras dengan datarnya.
“Aku menunggumu di sini sejak tiga tahun lalu kau pergi ke jepang, tapi kau tak pernah datang, sampai aku mengira kau tak akan pernah datang ke tempat ini lagi.” Lancar Aruna menirukan apa yang Taras katakan, tanpa melepas tatapannya dari Taras dalam sekatapun.
“Tapi kau tak datang, selama seminggu ini, bukan ?” Santai Taras, menatap santai Aruna yang menatapnya absurd.
“Ya.! Karena seminggu lalu aku menemukan pemandangan tak enak di sekitar sini, saat hujan turun lalu ada orang yang kedinginan, dan ada orang yang menghangatkan.” Aruna lancar memfilterisasi kalimatnya, Taras tak langsung menjawab, dia meminum cangkir chococino nya yang keempat.
“Karena itu kau tak mau tak lagi ke sini ?” Kata Taras yang sebelumnya menghelakan nafas beratnya. Dia paham dengan waktu yang digambarkan Aruna. “Harusnya kau tak perlu cemburu. Kau tak perlu lari saat hujan deras seperti itu. Kau tak perlu menyiksa diri dengan hal yang kau simpulkan sendiri.” Taras menatap sendu Aruna, Aruna menunduk. Merasakan hal yang dulu ia rasakan, namun tak pernah ia dapat lagi, tatapan hangat dari Taras, dan kalimat-kalimat yang menggambarkan kasih sayangnya.
“Hmm, apa kau akan kembali ke Jepang lagi ?” Tanya Aruna. Ia terbuai, ia ingin berlama-lama dengan Taras, ia ingin merasakan kehangatan Taras lebih lama.
“Ya. Aku punya kewajiban di sana. Dan aku harus berangkat secepatnya setelah urusanku di sini selesai.” Tegas Taras menyebalkan bagi Aruna.
“Urusan ?” Aruna menatap agak sinis pada Taras, dia sangat tak paham dengan orang dihadapannya saat ini. Aneh, tapi saat dia mendengar bahwa Taras akan kembali ke Jepang, dadanya jadi sakit sekali.
“Mengurus surat resign dari tempat kerjamu, mengurus pasport, meminta izin pada orang tuamu, lalu membawamu ke Jepang. Aku ingin tinggal di tempat impianku bersama wanita yang ku impikan.”
“Aruna, aku tau tak mudah untukmu mempercayaiku lagi, tapi bersediakah kamu mengijinkanku berjuang untukmu, sekali lagi ?”