Sabtu, 01 Oktober 2016

Dia pergi

Di malam yang sesunyi ini,
aku sendiri tiada yang menemani,
akhirnya kini kusadari,
dia telah pergi,
tinggalkan diriku.

Dia Pergi.
Deruan suara jatuhan air dari langit masih saja menggema di dalam kamar yang kutinggali saat ini.
Sepi. Sendiri. Hanya suara hujan dan petir saja yang saling bersatu padu unjuk kebolehan dalam menarik diri seseorang untuk terjebak dalam gelisah dan masa lalu. Masa lalu yang memaksaku menyadarkanku bahwa sekarang mama telah pergi, meninggalkan aku, meninggalkan dunia, meninggalkan semua.

Dia pergi. Sudah 40 hari sejak guncangan besar itu meruntuhkan segala pertahanan diri ini. Sebuah guncangan yang hanya berupa kalimat ‘Ke rumah sakit sekarang, Mamah udah ga ada.’ Aku terdiam setelah membaca pesan itu dan kemudian seseorang memelukku, erat, bahkan sangat erat, seolah tak akan membiarkanku jatuh, menahanku dari runtuhan pertahanan diriku.

Akankah semua kan terulang,
Kisah cintaku yang seperti dulu,
Hanya dirimu yang kucinta dan ku kenang,
Di dalam hatiku, takan pernah hilang,
Untuk selamanya....

‘Dia pergi’ batinku. Seseorang yang menjadi tumpuanku. Seseorang yang menjadi alasan aku berjuang selama ini. Seseorang yang begitu menguatkanku. Seseorang yang selalu kumintai pendapat untuk aku mengambil keputusan. Seseorang yang selalu menungguku kepulanganku ke rumah. Dan seseorang yang berat melepaskan tanganku ketika aku berpamitan hendak berangkat ke tempat rantauku, sebulan sebelum dia pergi. Ya, dia telah pergi.

Tangisku pecah ketika aku mengingat begitu banyak pintanya yang belum aku penuhi, begitu aku menyadari bahwa setelah sebulan aku tak menemuinya, sekarang hanya ada jasadnya yang tak lagi bernyawa. Aku menangis dipelukan seorang laki-laki yang bahkan bukan ayahku. Dan yang lebih membuatku hancur adalah aku yang kini ditinggal kedua orang tuaku. ‘aku sendiri, mama pergi dan tak ada papa.’ Ucapku dalam tangis.

Mengapa terjadi kepada diriku,
Aku tak percaya,
Kau telah tiada....

Dia pergi. Aku hancur melihat jasadnya terbujur kaku tertutup kain hingga menutup wajahnya. Secepat itu. Rasanya begitu sakit, menatapi dirinya yang telah tertutup kain kafan, menatapi raga yang dulu begitu lembut menyentuhku, memelukku, merawatku, membelaiku, menjagaku, menenangkanku, namun sekarang tak bernyawa, dingin dan kaku. Dada dan tenggorokanku serasa begitu sakit meski sudah kutangiskan sekalipun. Aku duduk dihadapannya, memeluk kedua kakiku dan menangis. Sudah seperti orang depresi bukan? Ya memang itu yang kualami. Hancur dan tak ada harapan.

Dia pergi dengan firasat yang sama sekali tak ku sadari. Aku benci firasat yang kurasa namun tak pernah bisa kuartikan. Mungkin, 40 hari sebelum kepergiannya, ntah kenapa aku begitu merasa hampa, takut, sendiri, dan aneh. Dan saat itu juga mama mengatakan hal yang seolah berkaitan dengan perasaanku, yang menghentikan detakanku sesaat. Namun dengan bodohnya aku tak menyadarinya dan membiarkan saja firasat itu berlalu.

Dia pergi. Aku masih selalu bertanya, dia yang pergi atau aku yang meninggalkan jasadnya sendiri dibawah gundukan tanah bertabur bunga bertandakan batu bertuliskan namanya. Meski aku memandikan jenazahnya, meski aku telah melakukan sholat jenazah atasnya, dan bahkan aku melihat sendiri tubuhnya dimasukan ke dalam liang kubur lalu perlahan tertutup tanah, hingga akhirnya benar-benar lubang itu tertutup, aku masih tak percaya bahwa dia telah tiada.

Dia pergi, meninggalkan lubang begitu besar di hatiku. Dan jelas aku kesulitan menutupinya. Aku tak tau akankah aku tetap bisa melanjutkan jalanku dengan lubang dan luka sebegitu besar di dalam diriku. Setelah berbagai sakit ku rasakan, setelah berbagai luka aku terima, rasanya ini yang membuatku begitu gundah dan tak tau harus bagaimana aku mengatasinya. Setelah berbagai kesulitan aku hadapi, rasanya ini yang teramat sulit. Bahkan ketika aku ditinggal ayah rasanya tak sesakit dan sesulit ini.

Dia pergi sudah empat puluh hari. Aku masih mempertanyakan, bagaimana ikhlas itu? Sudahkah aku benar-benar mengikhlaskan kepergiannya? Meski aku masih ingin bicara begitu banyak hal dengannya, meski aku masih ingin mempertanyakan segalanya, meski diri berkata bahwa hari-hari sampai saat ini bahkan belum cukup, namun hati ini selalu mencoba mengikhlaskannya, dengan harapan dia akan jauh lebih bahagia sekarang, tanpa sakit hatinya lagi, tanpa kesulitannya berjalan lagi, tanpa tanggungan lagi, dia akan tenang di sana. Ya, aku ikhlas demi itu semua.

Dia pergi, dia telah benar benar pergi, dan hidupku berlanjut meski diri ini runtuh. Aku, harus mulai menata diri kembali, memperbaiki runtuhannya dengan tetap berjalan menuju impianku dan segala pinta mama yang belum sempat kupenuhi. Aku janji, aku akan bahagia. Aku akan berusaha ikhlas dengan keadaanku sekarang. Aku akan terus berjalan, tak perduli sejauh apapun itu, sekeras apapun itu, sesulit apapun itu, seberapa kalipun aku terjatuh, dan meski aku tak akan sampai sekalipun.

Dia telah pergi....


----

Rabu, 27 Juli 2016

Pertemuan itu....


Pertemuan akan berakhir pada perpisahan.


Rasanya semua orang di dunia ini mengerti betul bahwa setiap orang yang bertemu akan berpisah pada waktunya. Ntah itu dalam waktu yang sangat lama, ataupun hanya beberapa hari, bahkan beberapa jam. 
Dan aku pun mengerti betul, pertemuanku dengannya akan berujung pada perpisahan. Oke tak selamanya berpisah, hanya saja dia meninggalkanku setelah beberapa hari menemuiku. 

Aku mengerti betul rasanya ditinggal orang di tempat kita sendiri, meskipun hanya beberapa saat mereka berkunjung. Lagipula aku tak hanya sekali ini ditinggalkan. Oleh orang tua, Kakak, teman, bahkan adik kelas yang beberapa hari menumpang di tempatku sudah pernah. Selama 3 tahun ini, aku dikunjungi banyak orang. Banyak rasa yang muncul, setiap saat mereka pergi. 

Dan, kali ini. Di awal tahun keempatku, di tanah rantauku ini. Aku dikunjungi seseorang. Orang yang belum begitu lama aku kenal, baru satu semester mungkin. Dan bahkan baru sekitar 113 hari aku benar-benar dekat dengannya. 


Siapa ? Teman. Dunia maya.

Ya, aku mengenalnya lewat dunia maya, lewat sebuah grup yang merangkul orang-orang yang memiliki hobi yang sama, jadi sudah jelas, aku dan dia memiliki hobi yang sama. Awalnya sebatas itu. Semakin lama, semakin dekat, semakin banyak berbincang lewat chat, kami sama-sama sadar bahwa bukan hobi saja yang sama. Semakin lama kami saling mengenal, bukan hanya tentang hobi saja yang kami bahas, namun merambah ke dunia pendidikan kami masing-masing, dan berujung pada masalah pribadi. 

Dia. Teman yang bisa aku ceritakan apa saja. APA SAJA. Bahkan satu rahasia terdalam diriku yang kujanjikan untuk tak kuberitahu pada siapapun, termasuk orang yang selama ini dekat. Alasannya bukan karena aku terlalu nyaman, meskipun nyatanya aku sangat nyaman, tapi karena aku dan dia benar-benar sama. Bahkan tak ada rasa risih sedikitpun ketika salah satu dari kami menceritakan hal tabu sekalipun.

Jika ditanya seberapa dekat. Sangat Dekat.

Aku ditinggalnya, setelah 4hari 3malam dia bersamaku. Rasanya ? Jangan tanya. Dia baru berkata ‘besok aku pulang.’ saja aku sudah menangisi dia. Dan itu, pertama kalinya aku menangisi seseorang di depan orang itu sendiri, lebih lagi aku dipeluknya, ditenangkannya, dan dihapus air mataku olehnya. Rasanya, sangat tidak cukup waktu 4 hari itu, ditambah dengan urusan kampusku yang menyita waktu dan membuatku meninggalkannya di kos-an sendirian. Rasanya masih banyak hal yang ingin aku lakukan dengannya selayaknya teman dekat yang menghabiskan waktu bersama. Jalan-jalan di mall, nongkrong di cafe, nonton, shopping, atau apalah.

Hari terakhir dengannya, saat aku membuka mata dan dia masih ada di sampingku, saat itu juga rasanya aku tak tahan lagi menahan air mata. Aku menangis sejadi-jadinya di hadapannya.

Aneh ? ya mungkin aneh, aku orang yang sangat tak mau menangis di depan orang lain, aku yang selalu memasang tampang sok tegar, aku yang sok kuat, menjadi lemah di hadapannya.  

Oke, biar kujelaskan kenapa aku bisa seperti ini.
Satu yang terpenting adalah. Dengannya aku benar-benar bisa jadi diriku sendiri. Bukan aku yang sok kuat, bukan aku yang sok tegar, bukan aku yang mandiri, bukan aku yang dewasa. Dia seperti membangkitkan diriku yang dulu, yang aku tinggalkan sejak aku duduk di bangku SMK dan berbagai masalah mendera, memaksaku menjadi orang dengan pribadi yang berbeda. Aku yang manja, aku yang gampang menangis, aku yang tak bisa mandiri, aku yang lemah, aku yang bergantung pada orang lain, dan aku menunjukkan sikapku ini kepadanya. Aku bahkan tak risih menangis dihadapannya, aku sangat manja kepadanya, aku lemah dengannya, aku bergantung padanya. 
Dan lagi ntah sejak kapan, aku merasa bahwa aku tak punya orang yang bisa andalkan, orang yang bisa membuatku bermanja-manja, bahkan orangtuaku sendiri. Lalu dengannya dia bisa menjadi seperti kakak, meskipun umurnya ada dibawahku, dia menjelma menjadi orang yang bisa aku andalkan, orang yang bisa membuatku bermanja. Dan dia sama sekali tak keberatan dengan hal itu. Bahkan aku merasakan ini sebelum aku bertemu dengannya, karena itulah saat dia benar-benar di sampingku aku benar-benar bahagia, karena aku seperti bisa kembali ke masa dimana aku bisa menjadi diri sendiri. Masa dimana tak ada yang memaksaku menjadi orang lain. 

Bersamanya, aku jadi seperti kembali memiliki pegangan.

Karenanya ketika dia pergi, aku jadi takut. Ntah apayang benar-benar aku takutkan, yang jelas aku takut. Dan yang jelas adalah, aku kesepian. Bagaimana tidak, biasanya dia ada di kamarku, ketika aku pulang dari kampus ada dia yang menunggu, ada orang yang aku ajak makan, ada orang yang ku ajak bercerita apa yang terjadi selama aku di kampus, ada orang yang kuajak berbincang sebelum tidurku, ada orang di sampingku saat aku membuka mata. Dan setelah dia pergi, semua itu tak ada lagi. Aku menangis seharian, semalaman, tak merelakan peganganku pergi. Rasanya, sakit setiap mengingat dia pernah ada di sini, dia pernah melakukan ini ketika aku begitu, dia tertawa setiap kali aku mengeluarkan candaan, dia diam saja ketika aku memberantakan muka dan rambutnya. Yang padahal hanya beberapa hari dia ada di sini, apa yang dia lakukan seperti sudah menjadi kebiasaan. 
Aku bahkan lupa, sudah berapa kali dia berkata ‘sudah jangan menangis lagi.’ Tapi bagaimana aku bisa menahan jika semua tentangnya masih terbayang jelas, dan membuat dadaku sakit setiap kali mengingatnya. Aku tau, bahkan sangat tau dengan aku menangis, seberapa keraspun dia tak akan begitu saja kembali ke tempatku, atau mendadak ada pintu doraemon di hadapanku membuatku mudah bertemu dengannya, namun bagaimana jika semakin aku menahan tangisku, semakin sakit sesaak di dadaku. Aku bahkan heran dia bisa terkesan baik baik saja setelah meninggalkan aku. Tapi katanya, dia hanya mencoba baik-baik saja meskipun dia sangat ingin memelukku ketika dia mendengarku menangis, sangat ingin makan bersama lagi, jalan berdua denganku. Mungkin memang beda, rasanya meninggalkan dan ditinggalkan. Aku tau dia berat meninggalkan dan aku di sini sangat sakit ditinggalkan.

Sampai sekarang, sampai aku mengetik tulisan ini, sampai 3 hari setelah dia pulang, aku masih saja belum bisa baik-baik saja, diri ini masih serasa kosong, bahkan orang yang melihatku berkata auraku berbeda. Aku bahkan tak pernah menyangka bisa senyaman ini dengan seseorang, aku bisa selemah ini ditinggal seseorang, aku bisa sesakit ini menahan rindu pada seseorang, dan bisa sesayang ini dengan seseorang. 


Jika mungkin pada awalnya aku hanya ‘tau’ adanya pertemuan akan berujung pada perpisahan, sekarang aku benar-benar mengerti bahagianya sebuah pertemuan dan sakitnya perpisahan. 
Aku sama sekali tak menyesali pertemuanku dengan teman dunia mayaku itu, namun aku membenci hal yang berkaitan dengan pertemuan, yaitu perpisahan dan rasa rindu. 

Selasa, 01 Desember 2015

Balon Udara



Dulu, dulu sekali aku pernah memiliki balon udara. Besar. Aku menaikinya setiap saat. Ah, bukan setiap saat, aku memang tinggal di sana. Aku bisa terbang, aku dapat menyentuh langit. Aku dibawa terbang tinggi dengan balon itu, aku aman, aku nyaman, aku merasa terlindungi di sana. Seberapapun tinggi balon ini terbang, aku tak pernah merasa takut, karena balon itu akan selalu menjagaku, tak mungkin membiarkanku jatuh, dan aku tak pernah sedikitpun berpikir untuk pergi dari sana.
Hingga suatu hari, balon ini yang selalu bergerak ke atas, terhenti. Aku menyadari perhentian itu, tapi aku sama sekali tak memperdulikannya. Selagi aku masih di langit, itu tak masalah. Pikirku saat itu. Aku bertahan dalam kenyamanan balon udaraku, yang ntah kenapa sejak hari itu justru semakin menurun ketinggiannya. Aku sangat menyadari itu dan aku masih tak mau ambil pusing dengannya. Meski ku akui, aku mulai cemas. Atau lebih tepatnya, aku hanya berlagak tak perduli atas nasib balon udara ini. Semakin hari, balonku semakin terbang rendah, aku mulai mencari penyebabnya, mencoba memperbaikinya. Tapi sayangnya, tak perduli seberapapun aku mencoba memperbaikinya, balonnya akan semakin turun, semakin mendekati tanah. Balonku mendarat, di tempat yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, tak pernah kupijaki selama ini. Balonku, benar-benar menurunkanku, dan dia tak mau terbang lagi. Aku berkeliaran, menjauh dari balon rusakku, aku mencari kesenangan yang tak pernah aku temukan, sambil berharap suatu hari nanti balonku akan baik dengan sendirinya, lalu menjemputku dan mengajakku terbang tinggi lagi.
Hariku berlalu begitu saja, ternyata aku bisa hidup tanpa balon udara itu, ku akui, aku rindu balon itu, tapi aku sendiri tak tau dimana balon itu sekarang, bagaimana keadaannya, aku tak pernah tau lagi. Tak mau tau sepertinya. Aku terlalu tak mau ambil pusing dengan masalah itu, sepertinya.
Sampai suatu hari, dimana aku hanya terduduk sendiri menatapi langit, aku sadar aku sangat merindukan langit itu, aku merindukan suasana berada ditengah-tengah langit, menyentuh awan, menikmati angin di atas sana, bernafas dengan leganya. Aku, ternyata aku lelah dengan hidup yang seperti ini saja, mencoba mencari kesenangan dengan hanya mendustai diri sendiri, menyebar tawa dengan menyimpan dalam-dalam kesedihan karena balonku tak kumiliki lagi. Berlagak tak perduli tapi selalu berharap kembalinya balonku itu, menangisi kerusakannya, kehilangan atas kepergiannya.
Semakin bergantinya hari aku semakin tumbuh dewasa dan aku masih menunggu balonku itu kembali. Namun selama aku menunggu, selama itulah balon itu tak pernah kembali. Semakin aku menunggunya, rasanya sama saja seperti aku semakin menyakiti diriku sendiri. Aku bernafas, tapi aku tak pernah lagi merasakan keringanan dalam setiaap hembusan nafasku, aku berjalan dan setiap kali aku berjalan itulah aku semakin menyakiti kakiku. Sampai aku akhirnya memutuskan untuk tak mengharapkannya lagi, aku akan terbang dengan balon-balon kecil yang akan kubuat sendiri, aku tak menunggunya lagi, aku tak akan memperdulikannya lagi.
Aku mulai membuat balon-balonku, mengumpulkan satu demi satu balon yang diisi angin untuk membawaku terbang lagi. Saat itu, aku bahkan tak perduli ketika aku sedang berusaha membuat balon yang satu namun balon yang lain pecah, aku tak perduli balon-balon yang lepas dari kumpulan balonku, yang kutau aku akan meniup balon-balon ini, demi aku bisa terbang lagi. Aku tetap mencoba meskipun lebih banyak balon yang pecah dibanding balon yang kutiup. Akan selalu ada pengganti dari balon yang pecah. Itu yang selalu kupikir. Aku terus meniupkan balon-balonku, setiap balon yang terkumpul, mengembangkan senyumku, melegakan nafasku, dan meyakinkan diri bahwa aku masih berhak terbang, aku masih berhak menyentuh langit.
Tapi sayangnya, sejak aku memutuskan untuk membuat balon sendiri, sampai saat ini. balon-balonku selalu tak cukup untuk membuatku terbang. Balon-balon yang kukumpulkan pecah satu persatu, atau terbang sendiri melepaskan ikatannya. Tak perduli berapa kalipun aku mencoba, balon-balonku selalu pecah. Aku kehabisan daya, aku kehabisan akal, dan aku mulai ragu...apakah aku masih berhak menyentuh langit, atau tidak. aku menjadi seperti tak percaya atas adanya kebaikan. Aku mulai merasa tidak diadili. Aku merasa dunia begitu egois. Aku merasa hanya aku saja yang tak bisa terbang. Apa aku tak bisa dibiarkan bernafas lega, menghembuskan setiap nafasku dengan ringan ? kalau aku tidak bisa terbang lagi bersama balon udaraku, bisakah setidaknya aku tinggal di dalamnya, karena di sanalah aku bisa merasa terjaga.
Kenapa keegoisan dunia sangat sulit untuk ditaklukan ?

Jumat, 20 November 2015

Gravitasi Rindu




Mencintai seseorang begini ya rasanya. Menahan rindu disetiap detakkan jarum jam yang menggema di malam hari. Membayang-bayangkan apa yang dia lakukan di sana, membayang-bayangkan apa yang dia pikirkan di sana. Memejamkan mata pun yang terlihat justru wajahnya. Ntah kenapa setiap pesan yang ia kirimkan, selalu saja membuat sesuatu seperti berterbangan di perutku. Pipiku menjadi memanas. Fikiranku terhenti. Aku tak tau pasti perasaan apa itu. Yang kutau mencintai orang dalam keadaan seperti ini, selalu menimbulkan Gravitasi Rindu.
Anggap saja, cinta adalah bumi, lalu pertemuan dan perlakuannya adalah sebuah gaya gravitasi, maka rindu adalah efek dari berkurangnya gaya gravitasi bukan ? ketika gravitasi di bumi berkurang, maka yang terjadi adalah kita akan terbang, sulit untuk menyentuh dan merasakan bumi, sama saja bukan ? ketika aku tak kunjung bertemu dia, rindu yang terjadi, karena aku sulit menyentuhnya, merasakan cintanya. Sekedar berbicara lewat telefon, saling bertukar kata cinta, berkeluh tentang yang terjadi di sini, atau di sana, itu mengobati rindu, karena menambah tarikannya, untuk setidaknya sedikit merasakan cintanya.
Tapi, bagaimana jika, cintaku dikejauhan itu, tak pernah tau akan adanya cinta ini, tak pernah tau harapan aku bisa bertemu dengannya, tak pernah tau bahwa setiap saat aku butuh gravitasi rindu. Dia, cintaku itu, tak tau aku mencintainya.  Aku, mencintai orang dikejauhan, yang tak pernah tau aku mencintainya. Bagaimana aku bisa bertahan di bumi ini jika bumi ini tak sadar tengah aku singgahi, bagaimana dengan gaya gravitasi yang selalu aku harapkan, bagaimana rindu yang dia abaikan. Tapi percayalah, itu tak seburuk yang dibayangkan. Aku merasakannya. 
 ---
“Aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. ” Katanya di sebuah aplikasi chatting padaku. Senyumku mengembang dengan indahnya ketika dalam keadaan setengah sadarku baru membuka mata di pagi hari, lalu membaca pesannya. Aku mengetikkan jawaban untuknya. ‘Pagi sekali kau berangkat, sudah sarapan ? semalam kau pasti ketiduran lagi ya, ah itu pasti karena kau ingin tidur lebih awal karena harus ke kantor pagi-pagi kan ?’ Selesai, lalu kutekan ‘delete’.
“Hati-hati ya, semoga harimu menyenangkan, Dokter Jun..” Itulah yang akhirnya ku kirimkan padanya. Lalu kami pun bertukar chat di pagi itu. Itulah kebiasaan kami, berkomunikasi lewat aplikasi di ponsel kami, sesekali menelfon untuk mengobati efek dari kurangnya gravitasi. Jangan tanyakan apa hubunganku dengannya. Hanya sebatas dokter, dengan mantan pasien. Aku mengenalnya sekitar 2 tahun lalu, di sebuah rumah sakit tempatnya bekerja. Aku menjadi pasien di sana, lalu dia menjadi dokter yang merawatku. Ntah karena terlalu lama aku di rawat atau apa, aku jadi dekat dengannya, dan dia menjadi seperti dokter pribadiku, bahkan dia memberiku contactnya, alasannya agar aku mudah menghubunginya, karena tak ada yang menjagaku, keluargaku di Pontianak dan aku di Bandung, karenanya dia merasa bertanggung jawab atasku. Dia dokter terbaik yang aku tahu, ntahlah aku jadi seperti tak ingin sembuh, karena jika aku sembuh itu artinya aku akan keluar dari rumah sakit dan akan jarang bertemu dengannya.  Tapi tak terpungkiri, aku keluar dari rumah sakit, dan untuk benar-benar sembuh aku tetap perlu check up, aku tetap bertemu dengannya.
Satu yang aku tau setelah aku benar-benar sembuh dan tak lagi ada alasan untukku menemuinya, komunikasiku dengannya tak seintens saat aku masih menjadi pasien. Aku sadar, bahwa dia benar-benar seorang dokter profesional, dia memperlakukanku dengan baik, memperhatikan aku....selayaknya pasien-pasiennya, bukan karena dia tertarik padaku atau apapun. Tapi toh aku tetap bisa menghubunginya, dengan aku yang sedikit cerewet menghubunginya, kami akhirnya benar-benar dekat, dan bisa kembali berhubungan intens dengannya.
Aku tak tau pasti kapan ini terjadi, tapi aku jadi serasa menyukainya, bukan sebagai dokter pribadiku, tapi sebagai lelaki special yang ingin kutinggali hatinya. Sebagai lelaki yang kuharapkan gravitasinya untuk memenuhi rinduku. Aku berbunga-bunga ketika kami bertukar pesan, rasanya bahagiaku hanya bergantung pada pesannya saja. Ntah sejak kapan, tapi aku mulai gelisah ketika dia tak kunjung membalas pesanku, atau tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar. Jangan tanya seberapa sering aku bertemu dengannya, karena sejak kelulusanku satu tahun lalu, aku kembali ke Pontianak. Satu yang kusesalkan, aku tak pernah sedikitpun membicarakan tentang rasa ini, ataupun menanyakan perasaannya.
“Hey Jun.” Sapaku di sambungan telefon, setelah sudah lebih dari satu minggu dia tak membalas chat terakhirku dan tak memberi kabar apapun. Aku, mulai haus dengan gravitasinya. Aku menebak-nebak alasan mengapa dia menghilang. Dan seberapa banyakpun aku mencoba mencari alasan yang mungkin hanya satu yang terus memutar-mutar di kepalaku ‘mungkin dia sibuk dengan pacarnya.’. Dan hebatnya, dengan berbagai spekulasiku, ntah kenapa aku menjadi kesal dengannya, menjadi gerah atas sikapnya yang.........tak pernah peka. Gravitasi rindu yang tak terbayar, membuat rasa aneh tersendiri, bukan galau, bukan sedih, bukan sakit hati atau apapun, hanya saja seperti ada yang mengganjal di dada.
“Iya, ada apa Rena ?” Katanya tanpa dosa, yaa memang dia tak berdosa dalam hal rindu yang dia buat. Dia tak berdosa atas kegelisahanku yang memiliki sejuta pertanyaan dari dia yang menghilang dan atas nada bicaranya yang tiba-tiba berubah. Beginilah efeknya, menyayangi seseorang diam-diam.
“Rena ?” Lanjutnya karena aku tak kunjung memberikan jawaban, aku kembali ke alam nyataku. Caranya memanggilku benar-benar ampuh menarikku dari dunia manapun. Sungguh.!
“Iya Jun ?”
“Ada apa telefon ? Kau baik-baik saja kan ?”
“Ah, errr...iya juga yaa kenapa aku menelfon kamu. Hehe. Yasudah maaf mengganggumu.” Gugupku saat itu. ‘Aku kangen kamu Jun.’ Itu yang harusnya ku katakan untuk memenuhi permintaan atas gravitasi yang mulai berkurang, melayangkanku dari tempat yang kupijaki.
“Kau benar baik-baik saja ? Kau sakit Rena ?” Celetuknya, sesaat sebelum aku mematikan sambungan. Oh shit, bagaimana dia bisa seperhatian ini padaku. Aku sedang kesal denganmu Jun.!
“Aku sangat baik-baik saja Dokter.” Aku menanggapi kekhawatirannya.
“Sudah berapa kali aku memintamu untuk tak memanggilku dengan sebutan itu.” Katanya. Ya itulah, setelah aku mulai dekat dengannya, dia tak lagi mau kupanggil ‘dokter’ seperti aku memanggilnya saat masih menjadi pasiennya.
“Karena kau terlalu mengkhawatirkanku, kau memperlakukanku seperti pasienmu.” Jawabku memutarkan mataku sendiri, yang sudah pasti tak bisa dia lihat.
“Aku sedang banyak pasien, jadi aku terbawa seperti ini.”
“Kau pasti sangat sibuk, pantas kau tak ada waktu.”
“Hm?”
“Ah, ya itu kau pasti tak ada waktu untuk keluargamu kan ? atau pacarmu itu juga sering kau tinggal kan ? Ku rasa juga kau tak ada waktu untuk istirahat.”
“......” Dia tak bergeming, kurasa aku salah berbicara.
“Jun ?”
“Maaf ya, belakangan aku tak ada waktu untukmu.” Strike.! Aku membeku sesaat, seperti ada yang rontok di dadaku, sesuatu seolah membawa kabur otakku. Dia meminta maaf atas kesibukannya padaku. PADAKU. Ya Tuhan, nikmat mana yang Kau dustai. Percakapan malam itu terhenti sesaat. Aku tak tau harus berbicara apa dan dia masih tak melanjutkan perbincangannya. Aku terdiam, mendengarkan desahan nafasnya yang terdengar jelas di speaker ponselku. Jun, bisakah kita seperti ini untuk beberapa waktu saja, aku begitu nyaman dengan situasi yang seperti ini saja, mendengar desah nafasmu saja sudah seperti kau benar-benar ada di sampingku.
Hanya sebatas itu gravitasi yang aku dapatkan, tapi sungguh itu justru daya terkuat. Aku, aku yang hampir terbang ini, tertarik kembali padanya. Aku memutuskan untuk kembali bertahan atasnya dengan gravitasi darinya yang tak pernah ia sadari. Tapi seperti ini saja pun tak apa, sungguh tak apa. Aku menikmatinya, dengan setiap harinya aku bisa menghubunginya, kami bisa saling berhubungan pun aku sudah sangat bahagia. Dengan dia tertarik dengan hal yang kulakukan sajapun, jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Sungguh, seperti ini saja pun tak apa, kalau setiap hariku bisa dibuat senyum atasnya. Dan sungguh, seperti sajapun tak apa, meskipun aku sering merindu karena kurangnya gravitasi darinya.
Telefonku masih tersambung dengannya, desahannya masih kudengar, dan aku tetap merasa dia berbaring di sampingku, menghabiskan malam dengan merasakan hangatnya tubuh masing-masing. Setiap desahannya, semakin lama, semakin membuat aku sadar, jika aku hanya bermain dengan gravitasi rindu saja. Merindu lalu melayang atas kurangnya daya tarik bumi, lalu dengan tarikan sepele, aku tehempas lagi ke bumi, tempat ku memutuskan untuk tinggal, aku hanya dipermainkan oleh gravitasi rinduku saja.
Ntah apapun yang terjadi, aku akan baik-baik saja. Seperti ini saja, ntah berapa kali lagi aku akan merindu lalu terhempas karena gravitasi, tak mengapa, karena inilah jalanku, mencintaimu sebatas gravitasi rinduku. Rasanya aku tak perlu meminta yang lebih dari ini, aku tak perlu memintamu lebih sering bersamaku, lebih sering menyisakan waktu untukku, ataupun lebih sering menghubungiku, aku tak mau jika aku dan kamu menjadi lebih dari suatu hubungan yang kusebut dengan gravitasi rindu.
“Jun...” Aku memanggilnya, setelah hampir satu jam ini kami tak bersuara satu sama lain kecuali desahan nafas yang terdengar.

“.......” Tak ada jawaban.

“Halo Jun, Kau masih di sana ?”

“.......”

“Jun.! Ahh kau pasti tertidur lagi.” Keluhku, desahannya masih terdengar jelas.

“......”

“Jun, Kau benar-benar tidur ?”

“......” Dia tak bergeming, aku menghela nafas panjang.

“Selamat tidur Jun. Kau pasti kelelahan. Istirahatlah dari semua kesibukanmu. Kau tak perlu meminta maaf atas kesibukanmu padaku. Aku tak berhak mendapat maafmu. Kau sama sekali tak bersalah atas rindu yang merambahi diriku. Kau tak bersalah atas gravitasi rinduku yang tak terbayar, Jun.”

“...........” Dia masih tak berkata apapun, dia benar-benar sudah terlelap.

“Aku mencintaimu Jun, meski hanya sebatas gravitasi rindu.”


“Rena...”
---End---

Senin, 21 September 2015

Pelangi Harapan




Aku selalu menangis dibalik hujan itu, merindukan terang yang dulu selalu datang. Aku menangis atas cahaya yang tak lagi menerangiku. Aku meratap atas hujan yang merampas terangku.
Aku selalu meratap dibalik hujan itu, menderita siksa atas dingin akibat terpaan hujan berangin. Aku meradang karena dingin yang selalu menyelimutiku. Aku merindu hangat yang tak kunjung datang padaku.
Aku selalu terpojok dibalik hujan itu, tersudut dalam suatu tempat bernama kenangan. Aku tersudut dalam ruang depresiku. Frustasi akan terang yang tak lagi kudapat.

Terangku tak datang karena hujan, terangku seolah lenyap seiring mendung dan hujan yang mengguyur. Hujan itu berhasil membuat aku tersiksa oleh dingin yang ditimbulkan darinya. Aku terpojok. Aku mengalah. Aku mengalah atas tekanan masa lalu di dalam ruang kenangan. Hujan itu seperti menjadi bully atas aku dan terangku.
Aku sempat berharap hujan itu berhenti, awan mendung itu memudar, lalu terangku datang.
Tapi selama aku berharap, selama itu juga hujan tak kunjung reda, mendung tak kunjung menghilang, harapan adanya cahaya pun semakin pudar, terangku..bisakah kembali kudapat ?
Suatu hari, ditengah ratapanku, ditengah kerinduanku pada terang, aku melihat pelangi. Lalu aku tersenyum mengartikan kemunculan pelangi itu. Pelangi berasal dari bias cahaya yang menembus air hujan bukan ? Yaa, dari cahaya..cahaya dari terangku. Terang yang selalu aku rindukan, terang yang menghangatkanku, terang yang menemaniku. Meskipun sudah beberapa hari pelangi itu tak lagi muncul, tapi bukankah itu cukup melegakan diri ini, meriangkan hati, bahwa terangku tak benar-benar hilang, terangku tak benar-benar pergi, dia hanya tersembunyi di balik hujan itu, dibalik mendung itu, dan pelangi lah yang akan menghantarkan terangku. Masih ada pelangi, masih ada harapan atas terangku.
Pelangi itu, kunamai Pelangi Harapan.
Pelangi itu memunculkan lagi semangatku, meyakinkanku bahwa dibalik awan mendung itu, sehabis hujan deras selama ini, masih ada terang yang akan datang. Pelangi itu memunculkan harapan padaku bahwa terangku masih bisa kudapat. Aku jadi semakin tak sabar, menunggu hujan itu habis, mendung itu pergi, lalu terangku akan datang, menyinariku atas gelap selama ini, menghangatkanku dari dingin yang membekukanku.
Seperti pelangi, menjanjikan terang setelah hujan deras.



Rabu, 15 Juli 2015

Karena Kau Tak Perlu Melakukannya





Aku berlari, menghabiskan garis pantai di tepian laut ini.
Aku berlari berharap aku meninggalkan kesedihan yang kamu tinggalkan untukku.
Aku, berlari secepat mungkin demi aku terlepas dari kenyataan bahwa kamu akan pergi.
Namun sayangnya, tak perduli sejauh apapun garis pantai yang kuhabiskan, tak perduli secepat apapun aku berlari, keadaannya tetap sama. Sakit itu masih terasa. Dan kamu tetap akan pergi.!

Aku mengurangi kecepatan, tenagaku untuk berlari terpecah karena tangis yang mulai tak bisa aku tahan, dadaku terasa sakit atas setiap tetesan air mata yang terjatuh, menyatu dengan air laut. Hingga akhirnya aku benar-benar berhenti, demi tak membiarkan tubuh ini menyatu dengan pasir pantai, dadaku benar-benar terasa sesak, jantungku sudah berdetak terlalu cepat setelah aku paksakan untuk berlari sejauh ini.
Aku tertunduk, berdiri di garis pantai, diantara biru laut dan putihnya pasir pantai. Aku memejamkan mataku, menikmati setiap sakit yang beradu di dadaku, menikmati perihnya lubang luka atas keputusanmu untuk pergi. Menutup mata dari rasa takut yang membayangi, takut dengan masa setelah kamu tidak di sini, tidak denganku. “Kita tidak akan benar-benar berpisah, Jurina.” Katamu, selalu setiap saat aku menyampaikan rasa takutku padamu. Kamu selalu tersenyum dihadapanku dan aku selalu menangis setiap senyuman yang kamu perlihatkan diantara kekhawatiranku. Ntah kenapa, sejak hari dimana kamu benar-benar mengumumkannya, senyummu terasa selalu membuat perih di dada ini. Aku egois jika meminta kamu untuk tetap tinggal, tapi jiwa ini terlalu butuh kamu di dekatku. Aku egois, aku berpikir bahwa kita akan jauh ketika kamu meninggalkanku, karena kenyataannya, hanya dengan kita disibukkan dengan aktifitas kita di tim yang berbeda saja sudah membuat jarak di antara kita. Aku merasa kamu jauh, aku merasa kamu tak perduli lagi dengan aku seiring aku yang bertumbuh dewasa. Aku egois, aku membayangkan sulitnya kamu aku raih, jika kamu di luar sana. Ini yang aku takutkan, ketika jarak di antara kita semakin jauh, lalu tanganku tak lagi bisa menggapaimu dan kamu semakin tak perduli denganku. Aku takut, Rena.
Aku menengadahkan kepalaku, menatap langit biru dihiasi awan-awan berbentuk bulu domba lucu.
“Minumlah, kau terlalu jauh berlari.” Suara itu dengan lembutnya menembus gendang telingaku, mengirimkan pesan kepada otakku, lalu merespon dengan mata yang kufokuskan pada kamu yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. Aku menerima minuman yang kamu tawarkan, demi menutupi kegugupanku yang tak mampu berkata dihadapanmu.
“Kau berlari terlalu cepat, bahkan aku tak bisa mengejarmu.” Katamu menatapku yang masih memindahkan isi botol kedalam mulutku. Aku berhenti menelan, aku kehilangan mood untuk meminum air.
“Untuk apa kamu mengejarku ?” Kataku menepi ke pasir pantai yang kering untuk aku singgahi agar aku bisa duduk. Kamu berbalik badan, menatapku sebentar lalu duduk di sampingku.
“Untuk berkata padamu bahwa kamu tak perlu melakukan itu.” Seperti biasa, kamu mengatakannya dengan tenang dan seperti tau keadaanku. Aku menengok ke arah tadi aku berlari. Jauh, orang-orang yang sedari tadi bersamaku terlihat kecil saat ini. dan Rena mengejarku ke sini demi untuk mengatakan kalimat itu. Sekarang aku dan Rena, berdua berada jauh dari orang-orang itu.
“Aku hanya ingin berlari saja. Kau tak perlu khawatir.”
“Bohong.” Katamu dengan cepat menyambar kalimatku.
“Tidak.”
“Lalu bagaimana jika aku berkata. ‘Aku hanya ingin pergi saja, kau tak perlu khawatir’. Apa kau akan tetap menangis seperti tadi.?” Lancarmu, kau senang sekali berbicara seolah mematikanku. “Kau berlari hanya karena ingin melupakan sakitmu kan ? Kau berlari dengan berharap aku tak jadi pergi kan ?” Tebakmu, aku tertunduk. Meski tebakkanmu tak sepenuhnya benar, tapi itulah kamu, selalu bisa mengerti rasaku. Aku merasakan hangat di kepalaku, aku tau itu berasal dari sentuhan tanganmu. Kau selalu meletakkan tanganmu di kepalaku setiap saat aku merasa takut, lalu menangis.
“Kau tak perlu melakukan itu, Jurina. Karena aku akan tetap pergi dan sakitmu tak akan begitu saja hilang hanya dengan kamu melupakan aku. Aku memang akan pergi, tapi kita tidak akan benar-benar berpisah, aku akan tetap bisa menemuimu, dan kamu tetap akan menemuiku kan ? Sejauh apapun jarak yang akan tercipta setelah aku pergi, itu tak akan membuat kita terpisah, karena jiwa kita saling membutuhkan. Aku akan tetap mencarimu dan kau pun akan menemukan aku. Kamu tak perlu takut aku aku meninggalkanmu, karena aku akan selalu membawamu dalam ingatanku.”