Mencintai seseorang begini ya rasanya.
Menahan rindu disetiap detakkan jarum jam yang menggema di malam hari.
Membayang-bayangkan apa yang dia lakukan di sana, membayang-bayangkan apa yang
dia pikirkan di sana. Memejamkan mata pun yang terlihat justru wajahnya. Ntah
kenapa setiap pesan yang ia kirimkan, selalu saja membuat sesuatu seperti
berterbangan di perutku. Pipiku menjadi memanas. Fikiranku terhenti. Aku tak
tau pasti perasaan apa itu. Yang kutau mencintai orang dalam keadaan seperti ini,
selalu menimbulkan Gravitasi Rindu.
Anggap
saja, cinta adalah bumi, lalu pertemuan dan perlakuannya adalah sebuah gaya
gravitasi, maka rindu adalah efek dari berkurangnya gaya gravitasi bukan ?
ketika gravitasi di bumi berkurang, maka yang terjadi adalah kita akan terbang,
sulit untuk menyentuh dan merasakan bumi, sama saja bukan ? ketika aku tak
kunjung bertemu dia, rindu yang terjadi, karena aku sulit menyentuhnya,
merasakan cintanya. Sekedar berbicara lewat telefon, saling bertukar kata
cinta, berkeluh tentang yang terjadi di sini, atau di sana, itu mengobati rindu,
karena menambah tarikannya, untuk setidaknya sedikit merasakan cintanya.
Tapi,
bagaimana jika, cintaku dikejauhan itu, tak pernah tau akan adanya cinta ini, tak
pernah tau harapan aku bisa bertemu dengannya, tak pernah tau bahwa setiap saat
aku butuh gravitasi rindu. Dia, cintaku itu, tak tau aku mencintainya. Aku, mencintai orang dikejauhan, yang tak
pernah tau aku mencintainya. Bagaimana aku bisa bertahan di bumi ini jika bumi
ini tak sadar tengah aku singgahi, bagaimana dengan gaya gravitasi yang selalu
aku harapkan, bagaimana rindu yang dia abaikan. Tapi percayalah, itu tak
seburuk yang dibayangkan. Aku merasakannya.
---
“Aku
sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. ” Katanya di sebuah aplikasi chatting
padaku. Senyumku mengembang dengan indahnya ketika dalam keadaan setengah
sadarku baru membuka mata di pagi hari, lalu membaca pesannya. Aku mengetikkan
jawaban untuknya. ‘Pagi sekali kau berangkat, sudah sarapan ? semalam kau pasti
ketiduran lagi ya, ah itu pasti karena kau ingin tidur lebih awal karena harus
ke kantor pagi-pagi kan ?’ Selesai, lalu kutekan ‘delete’.
“Hati-hati
ya, semoga harimu menyenangkan, Dokter Jun..” Itulah yang akhirnya ku kirimkan
padanya. Lalu kami pun bertukar chat di pagi itu. Itulah kebiasaan kami,
berkomunikasi lewat aplikasi di ponsel kami, sesekali menelfon untuk mengobati
efek dari kurangnya gravitasi. Jangan tanyakan apa hubunganku dengannya. Hanya
sebatas dokter, dengan mantan pasien. Aku mengenalnya sekitar 2 tahun lalu, di
sebuah rumah sakit tempatnya bekerja. Aku menjadi pasien di sana, lalu dia
menjadi dokter yang merawatku. Ntah karena terlalu lama aku di rawat atau apa,
aku jadi dekat dengannya, dan dia menjadi seperti dokter pribadiku, bahkan dia
memberiku contactnya, alasannya agar aku mudah menghubunginya, karena tak ada
yang menjagaku, keluargaku di Pontianak dan aku di Bandung, karenanya dia
merasa bertanggung jawab atasku. Dia dokter terbaik yang aku tahu, ntahlah aku
jadi seperti tak ingin sembuh, karena jika aku sembuh itu artinya aku akan
keluar dari rumah sakit dan akan jarang bertemu dengannya. Tapi tak terpungkiri, aku keluar dari rumah
sakit, dan untuk benar-benar sembuh aku tetap perlu check up, aku tetap bertemu
dengannya.
Satu
yang aku tau setelah aku benar-benar sembuh dan tak lagi ada alasan untukku
menemuinya, komunikasiku dengannya tak seintens saat aku masih menjadi pasien.
Aku sadar, bahwa dia benar-benar seorang dokter profesional, dia
memperlakukanku dengan baik, memperhatikan aku....selayaknya pasien-pasiennya,
bukan karena dia tertarik padaku atau apapun. Tapi toh aku tetap bisa
menghubunginya, dengan aku yang sedikit cerewet menghubunginya, kami akhirnya
benar-benar dekat, dan bisa kembali berhubungan intens dengannya.
Aku
tak tau pasti kapan ini terjadi, tapi aku jadi serasa menyukainya, bukan
sebagai dokter pribadiku, tapi sebagai lelaki special yang ingin kutinggali
hatinya. Sebagai lelaki yang kuharapkan gravitasinya untuk memenuhi rinduku. Aku
berbunga-bunga ketika kami bertukar pesan, rasanya bahagiaku hanya bergantung
pada pesannya saja. Ntah sejak kapan, tapi aku mulai gelisah ketika dia tak kunjung
membalas pesanku, atau tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar. Jangan tanya
seberapa sering aku bertemu dengannya, karena sejak kelulusanku satu tahun
lalu, aku kembali ke Pontianak. Satu yang kusesalkan, aku tak pernah sedikitpun
membicarakan tentang rasa ini, ataupun menanyakan perasaannya.
“Hey
Jun.” Sapaku di sambungan telefon, setelah sudah lebih dari satu minggu dia tak
membalas chat terakhirku dan tak memberi kabar apapun. Aku, mulai haus dengan
gravitasinya. Aku menebak-nebak alasan mengapa dia menghilang. Dan seberapa
banyakpun aku mencoba mencari alasan yang mungkin hanya satu yang terus
memutar-mutar di kepalaku ‘mungkin dia sibuk dengan pacarnya.’. Dan hebatnya,
dengan berbagai spekulasiku, ntah kenapa aku menjadi kesal dengannya, menjadi
gerah atas sikapnya yang.........tak pernah peka. Gravitasi rindu yang tak
terbayar, membuat rasa aneh tersendiri, bukan galau, bukan sedih, bukan sakit
hati atau apapun, hanya saja seperti ada yang mengganjal di dada.
“Iya,
ada apa Rena ?” Katanya tanpa dosa, yaa memang dia tak berdosa dalam hal rindu
yang dia buat. Dia tak berdosa atas kegelisahanku yang memiliki sejuta pertanyaan
dari dia yang menghilang dan atas nada bicaranya yang tiba-tiba berubah.
Beginilah efeknya, menyayangi seseorang diam-diam.
“Rena
?” Lanjutnya karena aku tak kunjung memberikan jawaban, aku kembali ke alam
nyataku. Caranya memanggilku benar-benar ampuh menarikku dari dunia manapun.
Sungguh.!
“Iya
Jun ?”
“Ada
apa telefon ? Kau baik-baik saja kan ?”
“Ah,
errr...iya juga yaa kenapa aku menelfon kamu. Hehe. Yasudah maaf mengganggumu.”
Gugupku saat itu. ‘Aku kangen kamu Jun.’ Itu yang harusnya ku katakan untuk
memenuhi permintaan atas gravitasi yang mulai berkurang, melayangkanku dari
tempat yang kupijaki.
“Kau
benar baik-baik saja ? Kau sakit Rena ?” Celetuknya, sesaat sebelum aku mematikan
sambungan. Oh shit, bagaimana dia bisa seperhatian ini padaku. Aku sedang kesal
denganmu Jun.!
“Aku
sangat baik-baik saja Dokter.” Aku menanggapi kekhawatirannya.
“Sudah
berapa kali aku memintamu untuk tak memanggilku dengan sebutan itu.” Katanya.
Ya itulah, setelah aku mulai dekat dengannya, dia tak lagi mau kupanggil
‘dokter’ seperti aku memanggilnya saat masih menjadi pasiennya.
“Karena
kau terlalu mengkhawatirkanku, kau memperlakukanku seperti pasienmu.” Jawabku
memutarkan mataku sendiri, yang sudah pasti tak bisa dia lihat.
“Aku
sedang banyak pasien, jadi aku terbawa seperti ini.”
“Kau
pasti sangat sibuk, pantas kau tak ada waktu.”
“Hm?”
“Ah,
ya itu kau pasti tak ada waktu untuk keluargamu kan ? atau pacarmu itu juga
sering kau tinggal kan ? Ku rasa juga kau tak ada waktu untuk istirahat.”
“......”
Dia tak bergeming, kurasa aku salah berbicara.
“Jun
?”
“Maaf
ya, belakangan aku tak ada waktu untukmu.” Strike.! Aku membeku sesaat, seperti
ada yang rontok di dadaku, sesuatu seolah membawa kabur otakku. Dia meminta
maaf atas kesibukannya padaku. PADAKU. Ya Tuhan, nikmat mana yang Kau dustai. Percakapan
malam itu terhenti sesaat. Aku tak tau harus berbicara apa dan dia masih tak
melanjutkan perbincangannya. Aku terdiam, mendengarkan desahan nafasnya yang
terdengar jelas di speaker ponselku. Jun, bisakah kita seperti ini untuk
beberapa waktu saja, aku begitu nyaman dengan situasi yang seperti ini saja,
mendengar desah nafasmu saja sudah seperti kau benar-benar ada di sampingku.
Hanya
sebatas itu gravitasi yang aku dapatkan, tapi sungguh itu justru daya terkuat.
Aku, aku yang hampir terbang ini, tertarik kembali padanya. Aku memutuskan
untuk kembali bertahan atasnya dengan gravitasi darinya yang tak pernah ia
sadari. Tapi seperti ini saja pun tak apa, sungguh tak apa. Aku menikmatinya,
dengan setiap harinya aku bisa menghubunginya, kami bisa saling berhubungan pun
aku sudah sangat bahagia. Dengan dia tertarik dengan hal yang kulakukan
sajapun, jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Sungguh, seperti ini
saja pun tak apa, kalau setiap hariku bisa dibuat senyum atasnya. Dan sungguh,
seperti sajapun tak apa, meskipun aku sering merindu karena kurangnya gravitasi
darinya.
Telefonku
masih tersambung dengannya, desahannya masih kudengar, dan aku tetap merasa dia
berbaring di sampingku, menghabiskan malam dengan merasakan hangatnya tubuh
masing-masing. Setiap desahannya, semakin lama, semakin membuat aku sadar, jika
aku hanya bermain dengan gravitasi rindu saja. Merindu lalu melayang atas
kurangnya daya tarik bumi, lalu dengan tarikan sepele, aku tehempas lagi ke
bumi, tempat ku memutuskan untuk tinggal, aku hanya dipermainkan oleh gravitasi
rinduku saja.
Ntah
apapun yang terjadi, aku akan baik-baik saja. Seperti ini saja, ntah berapa
kali lagi aku akan merindu lalu terhempas karena gravitasi, tak mengapa, karena
inilah jalanku, mencintaimu sebatas gravitasi rinduku. Rasanya aku tak perlu
meminta yang lebih dari ini, aku tak perlu memintamu lebih sering bersamaku,
lebih sering menyisakan waktu untukku, ataupun lebih sering menghubungiku, aku
tak mau jika aku dan kamu menjadi lebih dari suatu hubungan yang kusebut dengan
gravitasi rindu.
“Jun...”
Aku memanggilnya, setelah hampir satu jam ini kami tak bersuara satu sama lain
kecuali desahan nafas yang terdengar.
“.......”
Tak ada jawaban.
“Halo
Jun, Kau masih di sana ?”
“.......”
“Jun.!
Ahh kau pasti tertidur lagi.” Keluhku, desahannya masih terdengar jelas.
“......”
“Jun,
Kau benar-benar tidur ?”
“......”
Dia tak bergeming, aku menghela nafas panjang.
“Selamat
tidur Jun. Kau pasti kelelahan. Istirahatlah dari semua kesibukanmu. Kau tak
perlu meminta maaf atas kesibukanmu padaku. Aku tak berhak mendapat maafmu. Kau
sama sekali tak bersalah atas rindu yang merambahi diriku. Kau tak bersalah
atas gravitasi rinduku yang tak terbayar, Jun.”
“...........”
Dia masih tak berkata apapun, dia benar-benar sudah terlelap.
“Aku
mencintaimu Jun, meski hanya sebatas gravitasi rindu.”
“Rena...”
---End---