Dulu,
dulu sekali aku pernah memiliki balon udara. Besar. Aku menaikinya setiap saat.
Ah, bukan setiap saat, aku memang tinggal di sana. Aku bisa terbang, aku dapat
menyentuh langit. Aku dibawa terbang tinggi dengan balon itu, aku aman, aku
nyaman, aku merasa terlindungi di sana. Seberapapun tinggi balon ini terbang,
aku tak pernah merasa takut, karena balon itu akan selalu menjagaku, tak
mungkin membiarkanku jatuh, dan aku tak pernah sedikitpun berpikir untuk pergi
dari sana.
Hingga
suatu hari, balon ini yang selalu bergerak ke atas, terhenti. Aku menyadari
perhentian itu, tapi aku sama sekali tak memperdulikannya. Selagi aku masih di
langit, itu tak masalah. Pikirku saat itu. Aku bertahan dalam kenyamanan balon
udaraku, yang ntah kenapa sejak hari itu justru semakin menurun ketinggiannya.
Aku sangat menyadari itu dan aku masih tak mau ambil pusing dengannya. Meski ku
akui, aku mulai cemas. Atau lebih tepatnya, aku hanya berlagak tak perduli atas
nasib balon udara ini. Semakin hari, balonku semakin terbang rendah, aku mulai
mencari penyebabnya, mencoba memperbaikinya. Tapi sayangnya, tak perduli
seberapapun aku mencoba memperbaikinya, balonnya akan semakin turun, semakin
mendekati tanah. Balonku mendarat, di tempat yang tak pernah aku bayangkan
sebelumnya, tak pernah kupijaki selama ini. Balonku, benar-benar menurunkanku,
dan dia tak mau terbang lagi. Aku berkeliaran, menjauh dari balon rusakku, aku
mencari kesenangan yang tak pernah aku temukan, sambil berharap suatu hari
nanti balonku akan baik dengan sendirinya, lalu menjemputku dan mengajakku
terbang tinggi lagi.
Hariku
berlalu begitu saja, ternyata aku bisa hidup tanpa balon udara itu, ku akui,
aku rindu balon itu, tapi aku sendiri tak tau dimana balon itu sekarang,
bagaimana keadaannya, aku tak pernah tau lagi. Tak mau tau sepertinya. Aku
terlalu tak mau ambil pusing dengan masalah itu, sepertinya.
Sampai
suatu hari, dimana aku hanya terduduk sendiri menatapi langit, aku sadar aku
sangat merindukan langit itu, aku merindukan suasana berada ditengah-tengah
langit, menyentuh awan, menikmati angin di atas sana, bernafas dengan leganya.
Aku, ternyata aku lelah dengan hidup yang seperti ini saja, mencoba mencari
kesenangan dengan hanya mendustai diri sendiri, menyebar tawa dengan menyimpan
dalam-dalam kesedihan karena balonku tak kumiliki lagi. Berlagak tak perduli
tapi selalu berharap kembalinya balonku itu, menangisi kerusakannya, kehilangan
atas kepergiannya.
Semakin
bergantinya hari aku semakin tumbuh dewasa dan aku masih menunggu balonku itu
kembali. Namun selama aku menunggu, selama itulah balon itu tak pernah kembali.
Semakin aku menunggunya, rasanya sama saja seperti aku semakin menyakiti diriku
sendiri. Aku bernafas, tapi aku tak pernah lagi merasakan keringanan dalam
setiaap hembusan nafasku, aku berjalan dan setiap kali aku berjalan itulah aku
semakin menyakiti kakiku. Sampai aku akhirnya memutuskan untuk tak mengharapkannya
lagi, aku akan terbang dengan balon-balon kecil yang akan kubuat sendiri, aku
tak menunggunya lagi, aku tak akan memperdulikannya lagi.
Aku
mulai membuat balon-balonku, mengumpulkan satu demi satu balon yang diisi angin
untuk membawaku terbang lagi. Saat itu, aku bahkan tak perduli ketika aku
sedang berusaha membuat balon yang satu namun balon yang lain pecah, aku tak
perduli balon-balon yang lepas dari kumpulan balonku, yang kutau aku akan
meniup balon-balon ini, demi aku bisa terbang lagi. Aku tetap mencoba meskipun
lebih banyak balon yang pecah dibanding balon yang kutiup. Akan selalu ada
pengganti dari balon yang pecah. Itu yang selalu kupikir. Aku terus meniupkan
balon-balonku, setiap balon yang terkumpul, mengembangkan senyumku, melegakan
nafasku, dan meyakinkan diri bahwa aku masih berhak terbang, aku masih berhak
menyentuh langit.
Tapi
sayangnya, sejak aku memutuskan untuk membuat balon sendiri, sampai saat ini.
balon-balonku selalu tak cukup untuk membuatku terbang. Balon-balon yang
kukumpulkan pecah satu persatu, atau terbang sendiri melepaskan ikatannya. Tak
perduli berapa kalipun aku mencoba, balon-balonku selalu pecah. Aku kehabisan
daya, aku kehabisan akal, dan aku mulai ragu...apakah aku masih berhak
menyentuh langit, atau tidak. aku menjadi seperti tak percaya atas adanya
kebaikan. Aku mulai merasa tidak diadili. Aku merasa dunia begitu egois. Aku
merasa hanya aku saja yang tak bisa terbang. Apa aku tak bisa dibiarkan
bernafas lega, menghembuskan setiap nafasku dengan ringan ? kalau aku tidak
bisa terbang lagi bersama balon udaraku, bisakah setidaknya aku tinggal di
dalamnya, karena di sanalah aku bisa merasa terjaga.
Kenapa
keegoisan dunia sangat sulit untuk ditaklukan ?
