Sebuah tulisan iseng, yang berantakan, bukan cerpen atau cerbung
apalagi novel, hanya sebuah penyampaian dari hati yang paling dalam. Tak
begitu berguna, tapi jika membacanya dengan otak yang terbuka,
insyaallah tau maksud saya yang sebenarnya :)
‘Ayo maen, katanya mau maen.’
‘Iya, kita liat sunset ya ?’
‘Oke, aku tunggu.’
“Ntar kalo udah gede, kita tetep ke sini ya.”
“Iya, pokoknya ini tempat favorit kita ya.”
‘Sopari’ sebuah julukan untuk tempat favorit kami,
tak begitu menarik memang jika di pandang dengan kasat mata. Hanya
hamparan sawah yang tak begitu penuh dengan tanaman, dan pohon-pohon
besar mengelilinginya. Awalnya pun aku sama sekali tak tertarik ke
tempat itu, tapi sejak aku mengunjunginya bersama mereka aku jadi bisa
merasakan suasananya yang begitu bersahabat, apalagi jika menatap
matahari tenggelam disana, warna jingga dan angin yang menghembus
rambutku serasa menyejukan hati yang kala itu aku begitu tau benar cara
mengatasi masalah, yang aku tau, aku hanya ingin bersenang-senang dan
bebas.
“Ayo udah hampir malem, pulang.”
“Tapi masih betah.”
“Anginnya sejuk banget.”
Saat itu kami masih bersekolah dengan rok biru tua dan kemeja putih.
Hingga akhirnya kami lulus, melepas seragam smp, dan beranjak SMK, kami
terpisah satu sama lain. Karena perbedaan sekolah, dan perbedaan
kesibukkan itulah membuat kami jarang sekali bertemu, untuk mengunjungi
tempat favorit kami pun sangat sulit untuk mengatur waktunya.
1 tahun berlalu.......
2 tahun, 3 tahun..............
Saat itu aku tak sengaja lewat tempat itu, ntah salah siapa, tapi
tempat itu benar-benar berubah. Jalanan yang dulunya aspal sekarang
penuh dengan kerikil, tempat yang awalnya begitu indah tempat yang
terlihat luas sekarang semua terhalang oleh ‘gedung tinggi’ itu. Gedung
yang belum sepenuhnya jadi, masih dalam tahap pembangunan. Tempat
favorit kami sudah hilang, bukan hilang mungkin, lebih tepaatnya
tertutupi oleh sebuah gedung tinggi.
Haruskah gedung itu berdiri di tempat ini ??? tempat favorit kami.
Mungkin bukan hanya untuk kami, tapi beberapa orang pun pasti merasakan
nyaman disini ketika bisa melihat hamparan sawah dengan angin
sepoy-sepoy dan disuguhi pemandangan sunset, siapa yang tak suka ?
“Sopari, udah jadi gedung tinggi.”
“Iya, waktu itu aku kesana sopari udah rusak.”
Sawah itu, pohon-pohon itu, angin itu.......mereka kemana ? di telan gedung tinggi itukah ?
Haruskah dia berdiri di tempat itu ? haruskah dia merusak tempat yang
seharusnya bisa menjadi paru-paru kota. ? Haruskah gedung itu
menghalangi angin-angin sejuk yang harusnya menerpa ku ?
Lalu ini salah siapa ? kami tak menyesalkan tempat favorit kami, toh
kami telah menemukan tempat baru yang lebih bisa memberi kenyamanan,
tapi apakah ada yang bisa menjamin tempat kami sekarang tak akan dijajah
lagi ? tempat kami yang sekarang tak akan berubah menjadi gedung lagi ?
mungkin beberapa tahun lagi, atau mungkin hitungan bulan saja keindahan
ini bisa saja ditelan gedung-gedung besar itu.
Lalu kemana kami harus mencari keindahan kota ini lagi ? kemana kami
harus berlari ketika keindahan kota ini lama-lama lenyap ditelan
gedung-gedung itu ? Kemana kami ketika kami hendak mencari kenyamanan ?
Apa yang bisa kami banggakan dari kota kami jika semua tempat telah
menjadi gedung tinggi ?? Kemana anak cucu kami ketika mereka hendak
mencari apa yang dulu kami cari ???
Ini salah siapa jika sunset tak terlihat lagi dari tempat itu ????
Tidak ada komentar:
Posting Komentar