Menyimpan rasa pada seseorang,
apa itu salah yaa...
Bahkan ketika hati dan diri ini
sudah dimiliki orang lain...
Apa salah, jika saja aku belum
bisa melupakan tentangnya dan hujan...
Tentang segala rasa yang kusimpan
dibalik rintikan air hujan...
Mengingatnya setiap kali rintikan
hujan itu mulai turun...
Ya..aku rasa itu salah....
Hujan, iya
hari ini hujan lagi. Kamu....masih ingatkah pada hujan ini ? Kalau saja kamu
tau..setiap kali hujan datang, rasa itu selalu datang lagi, rasa....semua rasa
tentang kamu selalu hadir bersamaan dengan aliran air yang mebasahi lahan-lahan
di bumi ini. Ntah kenapa, setiap rintikannya selalu membawaku pada rasa yang
harusnya telah kubuang jauh itu. Kenangan tentang kamu selalu menjalar begitu
saja seiring dingin yang merasuk tubuhku, aku tak berdaya jika saja bayanganmu
selalu masuk dalam pikiranku, lukisan senyummu selalu saja menghancurkan jiwa
ini, merusakkan pertahanan yang kubuat sedari dulu.
Bodoh ya,
kenapa aku masih harus selalu mengingat ingat kamu, terlebih senyum kamu. Aku....bahkan
aku ingat betul hari itu, aku ingat semua kalimat-kalimatmu, aku ingat senyum
santaimu, aku ingat tatap penuh harap itu, yang karena jawabanku kamu jadi
merubah pandanganmu, tatapan kecewa yang kamu sembunyikan, aku masih ingat
benar.! Senyum terpaksamu, air mata yang kamu tahan, nada bergetarmu,
semuanya..semuanya aku ingat, Ivan. Hujan itu yang membuatku ingat semuanya,
hujan setelah aku memberi tahumu tentang pernikahanku dan kamu menjawab
‘Selamat yaa.’ dengan memalingkan wajah, kemudian hujan itu mulai turun,
membuat kita terjebak di bawah pohon yang memayungi kita dari rintikan hujan. Iya,
aku ingat semua itu. Aku ingat saat itu, aku....aku tak tau apa yang harus kukatakan
lagi padamu, kamu tiba-tiba menjadi dingin mengalahkan dinginnya terpaan angin dan
air hujan, kamu yang tiba-tiba diam dengan segala pikiran kamu, dan kamu yang
beralasan wajahmu dibasahi air hujan padahal kamu menangis.! Aku tau kamu
menangis, Ivan. Aku tau kamu kecewa atas jawabanku, terlebih pernikahanku.
Tapi...maaf pun tak akan membuat kamu baik-baik saja setelah 6 tahun lebih
menunggu aku datang dan dikecewakan begitu saja, bukan ? Juga tak akan merubah
air mata itu menjadi senyum ceria kan ? Air matamu.....bagaimana aku
menjelaskannya yaa..itu adalah pertama kalinya aku melihat laki-laki meneteskan
air mata dihadapanku..aku tidak akan menghinamu..aku tau..air mata itu bukan
hanya karena kecewa, tapi penyesalanmu juga bukan ? ntah penyesalan karena
telah mencintaiku, atau karena telah dengan gigihnya menungguku selama 6 tahun,
atau karena penantianmu yang sia-sia..karena itu kan, Ivan ??
Saat itu aku
hanya diam, memandangi hujan sambil sesekali menengok ke atas, berharap-harap
hujan cepat reda, dan mencuri-curi pandang pada wajah sampingmu yang dari
lirikanku saja pun tergambar jelas kekacauan pikiranmu. Aku....aku juga bingung
dengan perasaanku, bagaimana mungkin aku biasa saja mendengar pengakuan orang
yang dulu sangat aku kagumi, bagaimana mungkin aku biasa saja melihat kamu
kecewa seperti itu, bagaimana mungkin aku bisa biasa saja ketika terjebak hujan
berdua di bawah pohon kenangan itu, bagaimana mungkin aku biasa saja berdiri di
samping kamu yang tak pernah tau bahwa aku dulu juga mencintai kamu, bahwa aku juga pernah sangat memperhatikan kamu,
kamu yang tak pernah tau rasaku. Aku saat itu juga kacau..kau tak mengerti
bukan ? Aku yang tiba-tiba menjadi seperti coklat meleleh ketika mendengar
kalimatmu, tapi di sisi lain aku sudah dimiliki seseorang, aku yang ingin
memelukmu tapi aku sadar akan posisiku, yang bahkan jika aku memelukmu bukankah
itu akan menjadi seperti harapan yang pasti kamu anggap palsu. Karenanya saat
itu aku hanya diam berpura-pura tak perduli. Aku diam ditengah kediaman dan
kedinginan kamu yang kamu pertahankan sampai hujan menjadi reda dan aku
berpamitan untuk lebih dulu pulang lalu kamu mengangguk saja tanpa menatapku
yang sebelumnya kutanyakan ‘apa kamu baik-baik saja?’ dan kamu tersenyum tipis
ntah senyum apa.
Ingatanku tak
berhenti di situ saja, aku juga masih mengingat betul, kamu yang tiba-tiba ada
di seberang rumah Mamaku di tengah derasnya hujan saat aku hendak kembali ke
Makassar. Bodohnya, aku melihatmu ketika
aku sudah terlanjur ada di dalam mobil. Harusnya aku menyadari keberadaanmu
sedari tadi ya, tidak membiarkan kamu hanya berdiri di sana, basah kuyup karena
hujan, sambil memandangiku yang tengah memindahkan barang-barang ke mobil. Harusnya
aku bisa menghampiri kamu sebentar untuk mengucapkan salam perpisahan, harusnya
aku bisa melihat kamu tersenyum sekali lagi. Ahh, aku selalu menyesal kalau
mengingat kamu yang kedinginan dengan pakaian dan rambut yang basah, wajah yang
juga dibasahi air..ntah air hujan atau air mata yang ketika mobilku melaju dan
kamu hanya memandangnya dengan tatapan kosong lalu menundukkan kepalamu seraya
mengusap matamu. Aku tak pernah bisa menjelaskan bagaimana kacaunya pikiran dan
perasaanku saat itu, Ivan.
Sampai saat
ini, sampai telah ada anak yang sedang lucu-lucunya memanggilku ‘Mama’,
aku...masih saja tak pernah bisa melupakan tentang kau dan hujan itu. Aku masih
saja tak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku yang sebenarnya, mencintai
seseorang yang menjadi imamku terlebih bersama anak kecil ini, tapi aku masih
belum bisa melupakan kamu, aku masih belum bisa membuang segala rasa tentang
kamu. Apa itu salah yaa...memiliki rasa pada seseorang, yang bahkan aku telah
dimiliki orang lain dan aku mencintainya..iya, kurasa ini salah.! Tapi...ntah
kenapa meskipun aku tau apa yang aku lakukan itu salah, meskipun aku tau rasa
ini salah, tapi aku selalu saja membenarkan perasaan ini, membenarkan rasa yang
sudah pasti salah dan tak pernah benar. Karena jika rasa ini harusnya dilarang,
jika rasa ini adalah sebuah larangan, maka larangan itulah yang akan selalu aku
langgar.!
Rasa dan hujan
inilah yang membuat aku tersiksa, setiap ingatan tentang kamulah yang membuat
jiwaku serasa hancur. Rasa bodoh itulah yang membuat aku, serasa menjadi wanita
paling jahat, seperti malaikat hitam mungkin. Menyesal ? menyesal karena aku dulu
tak mengungkapkan pada kamu itu mungkin, tapi menyesal atas pernikahanku tidak
sama sekali, aku sangat mencintaiku laki-laki yang kini bekerja untuk
menafkahiku, tak mungkin aku menyesalkan janjiku dan janjinya, tak mungkin aku
akan menyesalkan hidup dengannya yang sudah sangat menjaga dan menuntunku.
Walau satu dalam diri ini masih menyimpan namamu, bahkan selalu mengingatmu,
setidaknya setiap saat hujan turun..seperti saat ini.
Ivan maaf yaa
aku menjatuhkan kamu dari tempat tertinggi yang kamu capai, membuatmu kecewa
atas penantian kamu atas rindu kamu yang kamu tahan selama 6 tahun itu, aku
benar-benar minta maaf atas itu Ivan. Maaf, padahal dulu kita saling
memperhatikan, saling melihat, tapi tak pernah berani saling berbicara..maaf
untuk ketidakberanianku. Maaf atas air mata yang kamu jatuhkan demi
kekecewaanmu padaku, aku hargai penantianmu itu, aku hargai kegigihanmu
menungguku dalam ketidakpastian, aku hargai sesuatu besar yang kamu anggap
bodoh, aku menghargai semua kebodohanmu. Aku....sayang kamu Ivan, tapi aku
mencintai lelakiku..
Aku janji, tak akan ada yang tau
tentang kamu yang selalu aku ingat ketika hujan. Aku janji akan tetap menyimpan
namamu dibalik hujan, dibalik rintikan hujan yang membasahi bumi :’)
