Senin, 09 Maret 2015

Tentang Kau dan Hujan


Menyimpan rasa pada seseorang, apa itu salah yaa...



Bahkan ketika hati dan diri ini sudah dimiliki orang lain...



Apa salah, jika saja aku belum bisa melupakan tentangnya dan hujan...



Tentang segala rasa yang kusimpan dibalik rintikan air hujan...



Mengingatnya setiap kali rintikan hujan itu  mulai turun...



Ya..aku rasa itu salah....

Hujan, iya hari ini hujan lagi. Kamu....masih ingatkah pada hujan ini ? Kalau saja kamu tau..setiap kali hujan datang, rasa itu selalu datang lagi, rasa....semua rasa tentang kamu selalu hadir bersamaan dengan aliran air yang mebasahi lahan-lahan di bumi ini. Ntah kenapa, setiap rintikannya selalu membawaku pada rasa yang harusnya telah kubuang jauh itu. Kenangan tentang kamu selalu menjalar begitu saja seiring dingin yang merasuk tubuhku, aku tak berdaya jika saja bayanganmu selalu masuk dalam pikiranku, lukisan senyummu selalu saja menghancurkan jiwa ini, merusakkan pertahanan yang kubuat sedari dulu.

Bodoh ya, kenapa aku masih harus selalu mengingat ingat kamu, terlebih senyum kamu. Aku....bahkan aku ingat betul hari itu, aku ingat semua kalimat-kalimatmu, aku ingat senyum santaimu, aku ingat tatap penuh harap itu, yang karena jawabanku kamu jadi merubah pandanganmu, tatapan kecewa yang kamu sembunyikan, aku masih ingat benar.! Senyum terpaksamu, air mata yang kamu tahan, nada bergetarmu, semuanya..semuanya aku ingat, Ivan. Hujan itu yang membuatku ingat semuanya, hujan setelah aku memberi tahumu tentang pernikahanku dan kamu menjawab ‘Selamat yaa.’ dengan memalingkan wajah, kemudian hujan itu mulai turun, membuat kita terjebak di bawah pohon yang memayungi kita dari rintikan hujan. Iya, aku ingat semua itu. Aku ingat saat itu, aku....aku tak tau apa yang harus kukatakan lagi padamu, kamu tiba-tiba menjadi dingin mengalahkan dinginnya terpaan angin dan air hujan, kamu yang tiba-tiba diam dengan segala pikiran kamu, dan kamu yang beralasan wajahmu dibasahi air hujan padahal kamu menangis.! Aku tau kamu menangis, Ivan. Aku tau kamu kecewa atas jawabanku, terlebih pernikahanku. Tapi...maaf pun tak akan membuat kamu baik-baik saja setelah 6 tahun lebih menunggu aku datang dan dikecewakan begitu saja, bukan ? Juga tak akan merubah air mata itu menjadi senyum ceria kan ? Air matamu.....bagaimana aku menjelaskannya yaa..itu adalah pertama kalinya aku melihat laki-laki meneteskan air mata dihadapanku..aku tidak akan menghinamu..aku tau..air mata itu bukan hanya karena kecewa, tapi penyesalanmu juga bukan ? ntah penyesalan karena telah mencintaiku, atau karena telah dengan gigihnya menungguku selama 6 tahun, atau karena penantianmu yang sia-sia..karena itu kan, Ivan ??

Saat itu aku hanya diam, memandangi hujan sambil sesekali menengok ke atas, berharap-harap hujan cepat reda, dan mencuri-curi pandang pada wajah sampingmu yang dari lirikanku saja pun tergambar jelas kekacauan pikiranmu. Aku....aku juga bingung dengan perasaanku, bagaimana mungkin aku biasa saja mendengar pengakuan orang yang dulu sangat aku kagumi, bagaimana mungkin aku biasa saja melihat kamu kecewa seperti itu, bagaimana mungkin aku bisa biasa saja ketika terjebak hujan berdua di bawah pohon kenangan itu, bagaimana mungkin aku biasa saja berdiri di samping kamu yang tak pernah tau bahwa aku dulu juga mencintai kamu, bahwa  aku juga pernah sangat memperhatikan kamu, kamu yang tak pernah tau rasaku. Aku saat itu juga kacau..kau tak mengerti bukan ? Aku yang tiba-tiba menjadi seperti coklat meleleh ketika mendengar kalimatmu, tapi di sisi lain aku sudah dimiliki seseorang, aku yang ingin memelukmu tapi aku sadar akan posisiku, yang bahkan jika aku memelukmu bukankah itu akan menjadi seperti harapan yang pasti kamu anggap palsu. Karenanya saat itu aku hanya diam berpura-pura tak perduli. Aku diam ditengah kediaman dan kedinginan kamu yang kamu pertahankan sampai hujan menjadi reda dan aku berpamitan untuk lebih dulu pulang lalu kamu mengangguk saja tanpa menatapku yang sebelumnya kutanyakan ‘apa kamu baik-baik saja?’ dan kamu tersenyum tipis ntah senyum apa.

Ingatanku tak berhenti di situ saja, aku juga masih mengingat betul, kamu yang tiba-tiba ada di seberang rumah Mamaku di tengah derasnya hujan saat aku hendak kembali ke Makassar.  Bodohnya, aku melihatmu ketika aku sudah terlanjur ada di dalam mobil. Harusnya aku menyadari keberadaanmu sedari tadi ya, tidak membiarkan kamu hanya berdiri di sana, basah kuyup karena hujan, sambil memandangiku yang tengah memindahkan barang-barang ke mobil. Harusnya aku bisa menghampiri kamu sebentar untuk mengucapkan salam perpisahan, harusnya aku bisa melihat kamu tersenyum sekali lagi. Ahh, aku selalu menyesal kalau mengingat kamu yang kedinginan dengan pakaian dan rambut yang basah, wajah yang juga dibasahi air..ntah air hujan atau air mata yang ketika mobilku melaju dan kamu hanya memandangnya dengan tatapan kosong lalu menundukkan kepalamu seraya mengusap matamu. Aku tak pernah bisa menjelaskan bagaimana kacaunya pikiran dan perasaanku saat itu, Ivan.

Sampai saat ini, sampai telah ada anak yang sedang lucu-lucunya memanggilku ‘Mama’, aku...masih saja tak pernah bisa melupakan tentang kau dan hujan itu. Aku masih saja tak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku yang sebenarnya, mencintai seseorang yang menjadi imamku terlebih bersama anak kecil ini, tapi aku masih belum bisa melupakan kamu, aku masih belum bisa membuang segala rasa tentang kamu. Apa itu salah yaa...memiliki rasa pada seseorang, yang bahkan aku telah dimiliki orang lain dan aku mencintainya..iya, kurasa ini salah.! Tapi...ntah kenapa meskipun aku tau apa yang aku lakukan itu salah, meskipun aku tau rasa ini salah, tapi aku selalu saja membenarkan perasaan ini, membenarkan rasa yang sudah pasti salah dan tak pernah benar. Karena jika rasa ini harusnya dilarang, jika rasa ini adalah sebuah larangan, maka larangan itulah yang akan selalu aku langgar.!

Rasa dan hujan inilah yang membuat aku tersiksa, setiap ingatan tentang kamulah yang membuat jiwaku serasa hancur. Rasa bodoh itulah yang membuat aku, serasa menjadi wanita paling jahat, seperti malaikat hitam mungkin. Menyesal ? menyesal karena aku dulu tak mengungkapkan pada kamu itu mungkin, tapi menyesal atas pernikahanku tidak sama sekali, aku sangat mencintaiku laki-laki yang kini bekerja untuk menafkahiku, tak mungkin aku menyesalkan janjiku dan janjinya, tak mungkin aku akan menyesalkan hidup dengannya yang sudah sangat menjaga dan menuntunku. Walau satu dalam diri ini masih menyimpan namamu, bahkan selalu mengingatmu, setidaknya setiap saat hujan turun..seperti saat ini.

Ivan maaf yaa aku menjatuhkan kamu dari tempat tertinggi yang kamu capai, membuatmu kecewa atas penantian kamu atas rindu kamu yang kamu tahan selama 6 tahun itu, aku benar-benar minta maaf atas itu Ivan. Maaf, padahal dulu kita saling memperhatikan, saling melihat, tapi tak pernah berani saling berbicara..maaf untuk ketidakberanianku. Maaf atas air mata yang kamu jatuhkan demi kekecewaanmu padaku, aku hargai penantianmu itu, aku hargai kegigihanmu menungguku dalam ketidakpastian, aku hargai sesuatu besar yang kamu anggap bodoh, aku menghargai semua kebodohanmu. Aku....sayang kamu Ivan, tapi aku mencintai lelakiku..
Aku janji, tak akan ada yang tau tentang kamu yang selalu aku ingat ketika hujan. Aku janji akan tetap menyimpan namamu dibalik hujan, dibalik rintikan hujan yang membasahi bumi :’)