Sabtu, 01 Oktober 2016

Dia pergi

Di malam yang sesunyi ini,
aku sendiri tiada yang menemani,
akhirnya kini kusadari,
dia telah pergi,
tinggalkan diriku.

Dia Pergi.
Deruan suara jatuhan air dari langit masih saja menggema di dalam kamar yang kutinggali saat ini.
Sepi. Sendiri. Hanya suara hujan dan petir saja yang saling bersatu padu unjuk kebolehan dalam menarik diri seseorang untuk terjebak dalam gelisah dan masa lalu. Masa lalu yang memaksaku menyadarkanku bahwa sekarang mama telah pergi, meninggalkan aku, meninggalkan dunia, meninggalkan semua.

Dia pergi. Sudah 40 hari sejak guncangan besar itu meruntuhkan segala pertahanan diri ini. Sebuah guncangan yang hanya berupa kalimat ‘Ke rumah sakit sekarang, Mamah udah ga ada.’ Aku terdiam setelah membaca pesan itu dan kemudian seseorang memelukku, erat, bahkan sangat erat, seolah tak akan membiarkanku jatuh, menahanku dari runtuhan pertahanan diriku.

Akankah semua kan terulang,
Kisah cintaku yang seperti dulu,
Hanya dirimu yang kucinta dan ku kenang,
Di dalam hatiku, takan pernah hilang,
Untuk selamanya....

‘Dia pergi’ batinku. Seseorang yang menjadi tumpuanku. Seseorang yang menjadi alasan aku berjuang selama ini. Seseorang yang begitu menguatkanku. Seseorang yang selalu kumintai pendapat untuk aku mengambil keputusan. Seseorang yang selalu menungguku kepulanganku ke rumah. Dan seseorang yang berat melepaskan tanganku ketika aku berpamitan hendak berangkat ke tempat rantauku, sebulan sebelum dia pergi. Ya, dia telah pergi.

Tangisku pecah ketika aku mengingat begitu banyak pintanya yang belum aku penuhi, begitu aku menyadari bahwa setelah sebulan aku tak menemuinya, sekarang hanya ada jasadnya yang tak lagi bernyawa. Aku menangis dipelukan seorang laki-laki yang bahkan bukan ayahku. Dan yang lebih membuatku hancur adalah aku yang kini ditinggal kedua orang tuaku. ‘aku sendiri, mama pergi dan tak ada papa.’ Ucapku dalam tangis.

Mengapa terjadi kepada diriku,
Aku tak percaya,
Kau telah tiada....

Dia pergi. Aku hancur melihat jasadnya terbujur kaku tertutup kain hingga menutup wajahnya. Secepat itu. Rasanya begitu sakit, menatapi dirinya yang telah tertutup kain kafan, menatapi raga yang dulu begitu lembut menyentuhku, memelukku, merawatku, membelaiku, menjagaku, menenangkanku, namun sekarang tak bernyawa, dingin dan kaku. Dada dan tenggorokanku serasa begitu sakit meski sudah kutangiskan sekalipun. Aku duduk dihadapannya, memeluk kedua kakiku dan menangis. Sudah seperti orang depresi bukan? Ya memang itu yang kualami. Hancur dan tak ada harapan.

Dia pergi dengan firasat yang sama sekali tak ku sadari. Aku benci firasat yang kurasa namun tak pernah bisa kuartikan. Mungkin, 40 hari sebelum kepergiannya, ntah kenapa aku begitu merasa hampa, takut, sendiri, dan aneh. Dan saat itu juga mama mengatakan hal yang seolah berkaitan dengan perasaanku, yang menghentikan detakanku sesaat. Namun dengan bodohnya aku tak menyadarinya dan membiarkan saja firasat itu berlalu.

Dia pergi. Aku masih selalu bertanya, dia yang pergi atau aku yang meninggalkan jasadnya sendiri dibawah gundukan tanah bertabur bunga bertandakan batu bertuliskan namanya. Meski aku memandikan jenazahnya, meski aku telah melakukan sholat jenazah atasnya, dan bahkan aku melihat sendiri tubuhnya dimasukan ke dalam liang kubur lalu perlahan tertutup tanah, hingga akhirnya benar-benar lubang itu tertutup, aku masih tak percaya bahwa dia telah tiada.

Dia pergi, meninggalkan lubang begitu besar di hatiku. Dan jelas aku kesulitan menutupinya. Aku tak tau akankah aku tetap bisa melanjutkan jalanku dengan lubang dan luka sebegitu besar di dalam diriku. Setelah berbagai sakit ku rasakan, setelah berbagai luka aku terima, rasanya ini yang membuatku begitu gundah dan tak tau harus bagaimana aku mengatasinya. Setelah berbagai kesulitan aku hadapi, rasanya ini yang teramat sulit. Bahkan ketika aku ditinggal ayah rasanya tak sesakit dan sesulit ini.

Dia pergi sudah empat puluh hari. Aku masih mempertanyakan, bagaimana ikhlas itu? Sudahkah aku benar-benar mengikhlaskan kepergiannya? Meski aku masih ingin bicara begitu banyak hal dengannya, meski aku masih ingin mempertanyakan segalanya, meski diri berkata bahwa hari-hari sampai saat ini bahkan belum cukup, namun hati ini selalu mencoba mengikhlaskannya, dengan harapan dia akan jauh lebih bahagia sekarang, tanpa sakit hatinya lagi, tanpa kesulitannya berjalan lagi, tanpa tanggungan lagi, dia akan tenang di sana. Ya, aku ikhlas demi itu semua.

Dia pergi, dia telah benar benar pergi, dan hidupku berlanjut meski diri ini runtuh. Aku, harus mulai menata diri kembali, memperbaiki runtuhannya dengan tetap berjalan menuju impianku dan segala pinta mama yang belum sempat kupenuhi. Aku janji, aku akan bahagia. Aku akan berusaha ikhlas dengan keadaanku sekarang. Aku akan terus berjalan, tak perduli sejauh apapun itu, sekeras apapun itu, sesulit apapun itu, seberapa kalipun aku terjatuh, dan meski aku tak akan sampai sekalipun.

Dia telah pergi....


----