Cerita ini hanyalah FIKTIF BELAKA, kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu DISENGAJAKAN :D bukan maksud plagiarisme, ini cerita kolaborasi saya dengan seorang teman saya :D itu saja.! happy reading.! Nabilah, RUNNING.!!!
Perjalanan ini di mulai dari kejadian itu, ketika Ayah
dan Bunda berbahagia atas kehamilan Bunda, yaitu saat mengandung aku. Walaupun
awalnya mereka kaget, karena jarak umur Kakakku dan aku tidak terlalu jauh,
tapi Ayah bilang, ini semua pasti akan mudah karena kakak adik yang umurnya
tidak terpaut jauh, akan menjadi seperti teman.
Anehnya, saat Bunda mengandungku, anak pertama Bunda
yaitu Kakakku selalu menangis kalau di dekati Bunda, bahkan saat Bunda
menggendongnya dia selalu histeris. Mungkin di matanya ketika Bunda hamil,
menjadi sosok yang menyeramkan, dengan perut besar yang selalu menghantuinya,
atau mungkin matanya bisa menembus pandang perut Bunda, hingga ia melihat
keberadaanku yang mungkin seram untuknya. Ntahlah, mungkin dia lelah.
Sembilan bulan sudah kulalui hidupku di kandungan Bunda,
tempat yang gelap, namun begitu hangat dan terasa nyaman, hingga tubuhku
semakin membesar dan membuat perut Bunda terlalu bosan untuk menyimpanku di
dalamnya, sampai akhirnya aku menerobos keluar, dan menggemalah tangisku di
dunia yang sangat jauh berbeda dari duniaku sebelumnya. Kata Ayah, aku menangis
sangat kencang, dan katanya juga aku terlahir seperti bidadari yang baru turun
dari langit, bukan jatuh dihadapanmu, kemudian menangis ‘eeeaaa’. Tapi......sayangnya Bunda diambil Allah
beberapa saat setelah aku lahir, membuatku tak sempat mengetahui bagaimana
wajahnya saat itu, bagaimana cantiknya paras orang yang membiarkanku hidup di
tubuhnya selama 9 bulan.
Namaku Nabilah, Nabilah Ratna Ayu Azalia. Teman-temanku
biasa memanggilku Nabilah. Aku.....aku ya seperti ini, sedikit jail, sedikit
iseng, sedikit bawel, sedikit.....apalagi yaa, pokoknya Cuma sedikit ko, tenang
aja. Tapi aku sangat cantik, sangat imut, sangat lucu, dan sangaaatttt
mempesona, kali ini baru sangat.! Dan jangan sampai terbalik ya.! :D
“Nabilaahhhhhh, kamu
apain lagi sepatu basketku ? Kenapa warnanya jadi item gini.!” Teriak seorang
perempuan yang berdiri di hadapanku dengan ekspresi sangarnya sambil
menunjukkan sepatu yang warnanya sudah tak jelas itu.
“Oh itu, Kemarin
Nabilah dikejar anjing tetangga, terus yang Nabilah pegang Cuma sepatu itu,
jadi Nabilah lempar aja, ehh bukan kena anjingnya malah masuk keselokan.”
Jawabku santai. “Eitss, tapi tenang aja, Nabilah nggak papa ko, nggak luka sama
sekali.” Lanjutku masih memasang senyum biasa-biasa saja.
“Tapi kan kamu tau, ini
sepatu......” Ntahlah apa lanjutan dari kalimatnya tadi, aku terlalu pusing
mendengar ocehan panjangnya, kukeraskan saja volume headset dari I-Pod yang
sedari tadi menyumpal telingaku.
Oh ya, dia kakakku, namanya Shania Junianatha, pendek
amat ya namanya, beda dengan namaku yang puuaaanjang. Waktu itu, aku pernah
bertanya pada Ayah, kenapa namaku lebih panjang dari namanya, tapi Ayah bilang,
Bunda nulisin namaku sebelum Bunda meninggal, jadi kalau di tanya kenapa, tanya
saja sama Bundaku di Surga ;) Oke kembali lagi ke kakakku, Shanju, itu nama
kerennya, tapi dari nama pendeknya itu, dia tumbuh dengan postur yang panjang,
kakinya panjang, tangannya panjang, rambutnya panjang, pokoknya panjang semua
deh, tau deh apalagi yang panjang, sedangkan aku ? kaki pendek, tanganku
pendek, rambutku juga pendek, mungkin aku keberatan nama, jadi gak mau tinggi
kali ya ni badan.
“Shania, Nabilah.”
Suara Ayah memanggilku, dan membuatku langsung berlari menemui Ayah di meja
makan untuk makan malam.
“Halo Ayah.” Ucapku
sambil mengecup pipi Ayahku kemudian duduk di tempat biasanya.
“Hai Yah.” Sambung
Shania langsung mengambil tempat di hadapanku, padahal Ayah sudah bersiap untuk
menyodorkan pipi, tapi Shania malah mencampakkannya, sabar ya Yah. :)
“Kamu kenapa Shan ?
Muka kamu ko di tekuk kaya gitu.” Ucap Ayah membuka sesi tanya jawab di acara
makan malam ini.
“Shania lagi dapet kali
Yah, dari tadi bawaannya marah-marah sambil manyun-manyun mulu.” Ucapku meledek
Shania yang sejak awal kalimatku sudah menatapku geram.
“Apa sih kamu bil,
bikin tambah BT aja.!” Ucap Shania menendang kakiku yang ada tepat di depan
kaki panjang Shania.
“Ye, santai dong Shan,
gak usah nyolot pake nendang-nendang segala.” Balasku, karena tak mau kalah aku
menendangkan kakiku, maksudnya ke kaki Shania, tapi malah yang kena kaki Ayah.
Kakiku kependekan kali.
“Ehh, maaf yahh.”
Sesalku, air muka Ayah seperti menahan sakit.
“Kamu sih bil, kasian
Ayah kan.” Shania menyalahkan.
“Yang duluan
nendang-nendang kan kamu.!” Aku masih tak mau kalah.
“Cukuuupp.!!” Bentak
Ayah, sukses membuat mulut kita terjahit saat itu juga.
“Kalian tiap waktu
berantem, ada aja yang diributin,
masalah kecil bisa jadi besar. Kalian itu kakak adik, tapi sikap kalian malah
kaya musuh. Udahlah Ayah pusing.” Ucap Ayah kemudian meninggalkan meja makan.
Kita berduapun saling menatap dengan tanduk yang muncul dari kepala kita
masing-masing, tapi di sisi lain aku lega, karena kali ini tak mendapat
hukuman. Tapi ini tak berlangsung lama sepertinya.
“Karena kalian berantem
terus, mulai besok dan seminggu ke depan, Ayah tidak akan mengantar kalian ke
sekolah, dan uang jajan Ayah potong.” Yahh benar, Ayah berteriak dari kamarnya.
“Tapi yahh...” Ucapku
dan Shania yang ntah badai darimana, tumben bisa kompak.
“Keputusan Ayah tidak
bisa di ganggu gugat.!” Tutup Ayah.
“Kamu sih Bil.” Ucap
Shania menarik rambutku yang kuikat menjadi dua, kemudian pergi begitu saja.
“Yang duluan siapa
coba.” Balasku.
“Gak mau tau.! Pokoknya
salah kamu.” Ucap Shania lagi dari tangga sambil menjulurkan lidahnya.
Yap, inilah kita, setiap waktu ada saja hal yang
diperdebatkan, jujur saja, kadang aku bosan beradu mulut dengan Shania, tapi
dia....dia itu egoisnya keterlaluan, tiap waktu marah-marah, dan aku yang kena
omelannya, padahal masalahnya saja aku gak tau apa. Oh ya, seperti prologku di
atas, usiaku dan Shania tidak terpaut jauh, hanya 14 bulan, tapi kita di
sekolah beda 2 tingkat, aku kelas 2 SMP, dia kelas 1 SMA dan itu disebabkan
karena ketika aku hendak masuk SD, Shania ngambek dan nggak mau kalau aku dan
dia Cuma beda 1 tingkat, akhirnya dengan segala kerendahan hati aku masuk di
tahun selanjutnya. Ntahah apa yang ada dalam pikiran Shania, aku gak tau dan
gak mau tau.!
***
Pagi menjelang, udara segar menyapaku dan bermain di
kulitku yang tengah menatap diri di cermin sambil merapikan rambutku. Ntah
kenapa, jika diam seperti ini aku selalu memikirkan bunda.
“Pasti Bunda juga
cantik, secara anaknya juga cantik banget gini.” Ucapku sambil menatap bayangan
diriku di cermin.
“Woi.! Buruan, ngaca
mulu. Ditunggu Ayah sarapan di bawah.” Ucap Shania membuka kamarku begitu saja.
“Iya, bawel.!” Jawabku
sambil mempercepat tempo gerakanku untuk bersiap.
Setelah sarapan selesai, Ayah langsung berangkat ke
kantornya dan meninggalkan kami berdua. Ayah benar-benar menerapkan hukumannya.
“Buruan.! Lelet banget
sih kaya siput.” Ucap Shania yang berjalan beberapa meter di depanku.
“Tungguin Shan, berat
nih bawaan hari ini.” Jawabaku kerepotan membenarkan tas dan buku yang ku
jinjing karena tasku sudah penuh.
“Bodo amat.” Singkat
Shania acuh dan melanjutkan jalannya. Aku pun tak mau berjalan lambat, hingga
aku berlari lebih dulu mendahului Shania, sampai jarakku dan Shania sudah
lumayan jauh, aku kembali berjalan santai.
“Aduuhhhh....” Shania
mengaduh, akupun refleks berbalik badan, dan benar.! Bodohnya Shania pagi-pagi
gini udah mau mesra-mesraan sama aspal, yaa begitulah. Beberapa detik aku hanya
diam di tempatku, sebenarnya tawaku ingin aku ledakkan melihat wajah Shania
yang mengiba dan kesakitan, tapi kasihan, akhirnya aku menghampiri Shania dan
menolongnya. Walaupun gak ikhlas.
“Kamu kenapa Shan ? Gak
papa kan ? Ayo Bangun.” Ucapku sambil membantu Shania berdiri, setelah berhasil
berdiri, malah Shania mendorongku sampi berganti posisi, aku lah yang terduduk
di atas aspal, dan dia malah lari dengan tertawa puas.
“Shaniaaaa, nyebelin
banget sih.!” Gerutuku, aku pun akhirnya berdiri dan berjalan lagi.
“Ko aku bisa punya
kakak model gitu ya. Kalo bukan kakak, udah aku tembak pake pistol maenan aku. Hah.!”Kesalku
berjalan dengan santainya memperhatikan Shania yang berjalan jauh di depanku.
Di tengah kegondokanku, tiba-tiba mobil dari arah belakang menepi dan
membunyikan klakson ke arahku.
“Hay Nabilah, ngapain jalan
kaki ?” Ucap seseorang dengan poni depan dan pipi jatuhnya menyapaku dengan
melongokkan kepalanya dari jendela.
“Ehh, Sonia. Iya nih,
lagi kena hukum.” Jawabku jujur pada anak yang belakangan diketahui adalah teman
sekelasku.
“Wah kasian, yaudah
bareng aku aja.” Tawar Sonia. Bak gayung bersambut, akupun langsung menerima
tawaran Sonia, dan menaiki mobil Sonia. Kemudian mobil pun melaju dan melewati
Shania yang berjalan dengan wajahnya yang masih sama seperti sejak dia berlari
meninggalkanku, dengan jailnya aku melongokkan kepalaku di jendela mobil
kemudian menjulurkan lidahku meledek Shania, seakan berkata ‘Rasain .! siapa
suruh ngerjain Nabilah.’
“Hai Bil.” Sapa seseorang
dari sebelah Sonia tepatnya.
“Eh Kak Stella. Hai
kak.” Aku balik menyapanya, dia Kak Stella, kakaknya Sonia, setauku dia sekelas
dengan si jangkung yang super nyebelin, Shania.
“Tumben gak di anter ?
Shania mana ?” Tanya Kak Stella menatapku kepo.
“Tuh tadi udah kelewat,
kita lagi dihukum.” Jawabku disambut tengokan kompak kedua kakak beradik ini.
“Kenapa gak bareng aja
tadi dek ? kan kasian, jalan sendiri.” Ucap Kak Stella iba, tapi harusnya sih
yaa kalo orang mau nawarin gitu harusnya udah minta supirnya melanin mobilnya,
terus berenti dan nunggu si jangkung itu. Harusnya sih, tapi syukurlah, Kak
Stella tak melakukan itu.
“Gak usah Kak, lagian
tadi katanya lagi pengen jalan sendiri, mau besarin betis kayanya deh, biar gak
keliatan kurus.” Jawabku ngasal, dan ntah kenapa mereka tertawa begitu saja.
Perjalanan ke sekolah yang sudah tidak terlalu jauh, aku
gunakan untuk mengobrol dengan Sonia dan Kakaknya. Mereka begitu hangat, saling
menyayangi, pokoknya bedalah sama hubunganku dan Shania. Dan perjalanan pun
berakhir di depan sekolahku.
“Hati-hati turunnya,
ntar jatoh lho.” Kata Kak Stella sebelum aku dan Sonia keluar dari mobil.
“Iya kak.” Kataku
kemudian keluar mobil.
“Oh iya Kak, makasih ya
tumpangannya, sering-sering boleh kali.” Basa-basiku setelah kami bertiga
menapakkan kaki di halaman sekolah.
“Bisa aja kamu bil.”
Kak Stella tersipu, “Yaudah, Kakak masuk kelas dulu ya. Kalian belajarnya yang
rajin.” Tutup Kak Stella yang akhirnya berjalan mendahuluiku dan Sonia.
“Yok Bil, masuk kelas.”
Ajak Sonia menggandeng lenganku.
“Eh Son, Kakak kamu
baik yah. Pasti seneng deh punya kakak kaya Kak Stella.” Kataku iri dengan
perhatian Stella pada Sonia.
“Iya sih bil, tapi
terlalu diperhatiin juga jatohnya kaya anak kecil.” Keluh Sonia.
“Ih, tapi kan enak. Jadi
ngerasa ada yang perduli sama kita. Gak kaya Shan....” Ucapku yang terpotong
karena senggolan keras yang mengenai bahu kananku, dan kemudian orang berpostur
tinggi itu meninggalkanku tanpa tengokan sedikitpun.
“Tuh.! Gak kaya dia
tuh.! Boro-boro merhatiin aku, nggak ngajak berantem semenit aja udah untung
banget.” Kesalku pada Shania yang ku tumpahkan pada Sonia.
“Haha, Yaudahlahya. Ayo
masuk.”
Jam pelajaran hari ini pun dimulai, tapi jam pertama di
kelasku kosong, jadi bisa nyantai di pantai, asik kaya di tasik, slow kaya di
moscow, dan berlibur di cibubur. Tapi hal ini sepertinya tidak akan terjadi
padaku, di luar terdengar riuh dari lapangan basket.
“Bil, Ka Shanju tuh.!
Three on three.!! Keren bangeeett.!” Ucap salah seorang teman kelasku, dan
sukses membuat teman yang lain beranjak dari duduknya dan berhamburan menuju
lapangan basket, hanya untuk melihat pertandingan yang sedang dimainkan Shania.
Aku ?? sama sekali tak tertarik melihatnya, tapi karena Sonia memaksaku, dan
mengancam akan menangis bila aku tak menurutinya, akhirnya aku pun membutut
Sonia.
“Keren banget kakakmu
bil, ih liat tuh cara dia masukin bolanya. Keren banget!!” Kata Sonia dengan
hebohnya, aku melirik Sonia sekilas kemudian membuang pandangan malas ke
lapangan basket.
“Ihhh, Nabilah Sonia.!
Ko ke sini gak ngajakin aku sih.!” Ucap seseorang berkuncir dua dengan muka
agak arab, tapi gak mirip onta, dan matanya gak bisa kebuka.
“Lha, muncul darimana
kamu Ay. Bukannya tadi lagi tidur di kelas.” Kataku justru lebih memperhatikan
Ayana dibanding pertandingan tak penting itu. Oh ya, dia juga sahabatku di
sekolah, tapi lebih sering ketinggalan karena dia lebih bersahabat dengan
tidurnya.
“Aku kan kaya virus,
tanpa sempat kalian sadari aku sudah ada disini.” Kata Ayana yang matanya ia
arahkan ke lapangan basket.
“Yaelah, virus
berbentuk hati kalii.” Protesku.
“Eh bil.! Tuh kakak
kamu tuh, keren banget maennya, tapi ko nggak nurun ke adeknya yaa.” Ucap Ayana
tak menghiraukan protesanku.
“Biasa aja.! Biasa
banget malah. Tau ahh, bete.!” Kesalku, kemudian meninggalkan kedua sahabatku
yang akhirnya saling menyalahkan.
Sesampainya di kelas, keadaan masih sama, masih ngomongin
kehebatan Shania. Iya sih emang keren, bangga sih, tapi banyak keselnya, dia
mulu yang dipuji-puji. Lagian kalo mereka muji-muji Shania pasti ujung-ujungnya
ngledekin aku. Gak nurun ke aku lah, adeknya gak sehebat kakaknya lah.
Ntahlah..
Oh ya, walaupun beda tingkat dengan Shania, aku SMP dan
Shania SMA, tapi kita masih satu sekolah, apa sih itu namanya kalo yang SMP
sama SMA nya satu tempat gitu, yaa pokoknya gitulah.
“Halloooo
Nabillllllaahhhhh..” Sapa geng lebay dikelasku, kompak.!
“Apaan.?” Tanggapku
hanya melirik sekilas.
“Liat tuh Kak Shania
udah pinter, bertalenta. jago basket, volley, karate, cantik, tinggi, ideal,
tapi adiknya ???” Ucap ketua gengnya yang sepertinya bernama cindy, ya
sepertinya. Aku masih diam menanggapi ocehan anak berkacamata gede, yang muka
dan gaya sok diimut-imutin.
“Adiknya iuuuhh banget
cin, ihh..” Timpal ochi, buntutnya cindy, buntut yang satu lagi yang diberi
nama octi hanya mengangguk-angguk mengiyakan kata ochi.
“Apa sih.! Terus kalo
aku nggak bertalenta, kalian apaan ? cewe-cewe ganjen ga jelas yang bisanya
Cuma ngejekein orang. Punya kaca kan ?.” Ucapku, akhirnya emosi yang ku tahan
meluap juga, untunglah pengajarpun datang dan membubarkan aksi bully oleh genk
kampret.
Inilah moment yang
paling tak kusuka, ketika Shania mulai beraksi di sekolah, segala pertandingan
di ribetin, di buat heboh, dibikin keren, bikin Shania keliatan sangaaattt
hebat dibandingkan aku yang keliatan sangat bodoh. Oke, thanks Shanju.! Aku
rapopo.
Bel sekolah akhirnya berbunyi, pelajaran hari ini
berakhir sudah, akupun sesegera mungkin berlari keluar sekolah, rasanya sedari
tadi pagi suasana sekolah sangat menggerahkan, siapa lagi penyebabnya kalau
bukan si jangkung itu.
“Nabilah.!” Teriak
Sonia yang kutinggal kemudian mengejarku.
“Kenapa ?” Tanyaku
serius pada anak yang menghentikan laju cepat kakiku.
“Mau barang nggak ?”
Sonia menawari tumpangan, dia baik yaa....
“Nggak deh son, aku mau
ke suatu tempat dulu. Makasih tawarannya, kapan-kapan aja deh. Hehe.” Tolakku
sopan, kemudian sahabatku yang satunya, yang lagi-lagi ketinggalan gara-gara
ketiduran menyusul.
“Son, aku nebeng ya.
Supirku lagi dapet kayanya, jadi gak bisa jemput.” Kata Ayana lengkap dengan
mata sayu nya yang baru beberapa menit ia buka.
“Supir kamu ay ?” Aku
dan Sonia kompak.
“Bukannya, supir kamu
cowok ?” Lanjut Sonia, aku mengangguk mengiyakan.
“Istrinya maksudnya.
Hehe.” Jelas Ayana, kemudian senyum-senyum gak jelas.
“Halah, kamu itu ay,
kalo belum bangun tidur, nggak usah ngomong. Jadi ngelantur kan.” Kataku, kita
bertiga masih berjalan menyusuri koridor sekolah, menuju gerbang utama.
“Yee, aku udah bangun
tau. Son, boleh kan ?” Protes Ayana padaku kemudian dilanjutkan tanyanya pada
Sonia.
“Iya.” Jawab Sonia
santai.
“Yes. Yaudah ayo buruan.” Kata Ayana kemudian menarik lengan
Sonia untuk mempercepat langkahnya.
“Eh kenapa jadi kamu
yang nafsu ay ? itu kan mobil aku ?” Kata Sonia yang masih menyamakan
langkahnya dengan langkahku.
“Katanya kita
sahabatan, punyamu punyaku juga kan son. ? hehe.” Lanjut ayana, aku hanya
memicingkan mata dengan sedikit senyum melihat kelakuan dua sahabatku.
“Eh tuh, Kak Stella nya
udah nunggu.” Kataku melihat sosok kak Stella tengah berdiri di dekat gerbang,
menunggu adiknya.
“Kamu beneran nggak mau
bareng bil ?” Tanya Sonia memastikan.
“Iya, nggak papa ko.
Tuh kasian Kak Stellanya kepanasan nungguin kalian.” Lanjutku, kemudian setelah
berdadah ria, Sonia dan Ayana pun mendahului jalanku, aku hanya menatap mereka
menemui Kak Stella yang terlihat begitu hangat pada adiknya, andai Shania bisa
kaya gitu. Sedang asik memandangi mereka, tiba-tiba Shania lewat di sampingku,
dan melakukan hal yang sama seperti pagi tadi, menyenggol bahuku, kemudian
tanpa rasa bersalah, meninggalkanku tanpa menengokku sedikitpun. Shan, salahku
apa ?
Tak mau ambil pusing
aku langsung mengambil langkah seribu kemudian meninggalkan sekolah, tak
perduli Shania yang masih nongkrong di pinggiran gerbang dengan teman-temannya.
Aku bergegas lari menuju tempat yang biasa saja, namun sangat berarti untukku.
Rumah pohon, jelas dari namanya saja artinya rumah itu ada di atas pohon, eh
gak di atas juga sih, di tengah-tengah gitu.
Rumah pohon ini tempat
persembunyianku, dulu Ayah membuatkannya untukku dan Shania saat aku masih 4
th, tapi setelah rumah pohon itu jadi, Ayah baru menyadari kalau ternyata
Shania phobia ketinggian, jadilah rumah pohon ini hak paten milikku seorang,
lagian Shania badan aja di tinggiin, giliran sama ketinggian takut.
Kunaiki tanggannya satu demi satu, terbuat dari kayu dan
tambang, entah kenapa selalu ada kepuasan tersendiri ketika aku sampai di atas,
terasa bagai burung yang terbang bebas, lebih dekat dengan alam, dan seperti
memiliki dunia sendiri di sini. Kuambil kertas yang sengaja ku simpan disini,
di kertas-kertas yang kemudian aku tempel di dinding rumah pohon ini, aku
ceritakan segala kisahku, perasaanku, emosiku, ntah apa lagi, intinya setiap
sedihku, atau pertengkaranku dengan Shania, dimarahi Ayah, rindu dengan bunda,
aku selalu menuliskannya disini. Selesai aku menulis, sambil membuat
bayangan-bayangan sendiri, aku menatap langit yang sudah mulai memerah itu,
damai.! Aku suka langit, karena darinya aku bisa selalu merasa melihat Bunda,
selain itu dia selalu menunjukkanku keindahannya, luasnya, kemegahannya, dan
ntah apa lagi, aku terlalu tak bisa menggambarkan ciptaan-Nya. Hingga tak
terasa, aku akhirnya terlelap, angin di atas sini berhasil membuaiku dalam
keadaan nyaman senyaman nyamannya, dan mengantarkanku di alam yang mampu
membuatku melepas rasa lelahku.
Udara sejuk yang perlahan berganti dingin mulai membelai
kulit ku yang bebas dari pakaian ini, aku membuka mata dan hari telah gelap,
bahkan aku lupa kalau aku disini semenjak pulang sekolah, pasti Ayah khawatir
denganku. Akupun segera turun kemudian berlari untuk pulang, ntah kenapa di
cerita ini aku sering sekali berlari. Eh mbak yang bikin cerita, Nabilah capek
lari-lari terus ini ._. *abaikan*
“Yah.” Sapaku pada Ayah
masih dengan seragam SMPku plus tas ransel, sambil tanganku menjinjinng sepatu
yang tak kupakai dari rumah pohon.
“Darimana kamu ?” Tanya
Ayah yang berdiri di kursi depan pintu, ternyata dia menungguku.
“Nabilah tadi dari
rumah Sonia, iya yah rumah Sonia, ngerjain tugas.” Ucapku berdalih, sedikit
berbohong, sedikit ko Cuma ganti nama ‘rumah pohon’ jadi ‘rumah sonia’.
“Ya sudah, sana ganti
pakaian kamu, terus makan.” Kata Ayah, akupun langsung bergegas masuk sebelum
Ayah mulai menyadari kebohongaku, karena Ayah selalu tau jika aku berbohong.
Mungkin dia masih sedarah sama om Deddy.
“Nabilah..” Panggil
Ayah, matilah aku, pasti Ayah tau kebohonganku lagi.
“Iya Yah.” Jawabku
langsung membalik tubuh dengan suara datar, menundukkan kepala, pasrah, ntahlah
hukuman apalagi yang akan diberikan Ayah.
“Lain kali, kalau
pulang telat bilang ke Shania, biar Ayah nggak terlalu khawatir.” Lanjut Ayah,
aku pun menghelakan nafas lega, kuyakin mukaku saat ini cerah-cerah kusut
gimana gitu, yang penting aku nggak ketahuan.
“Oke Yah.” Ucapku
kemudian langsung berlari menuju kamarku, badan ini rasanya mulai gatal dengan
keringat yang betah nempel di tubuhku, mungkin dengan mandi dengan air mendidih
bisa menyegarkan badanku.
“Darimana kamu ? Jam
segini baru pulang.” Ucap Shania begitu aku hendak membuka kamarku. Kebetulan
kamarku dan kamarnya sebelahan.
“Emang penting buat
kamu ?” Jawabku nyolot, pasang muka cuek pada Shania.
“Gak juga sih.” Jawab
Shania menyenderkan tubuhnya di tembok pintu kamarnya, sambil melipatkan
tangannya di depan perutnya.
“Yaudah, bhay.!” Ucapku
kemudian kebanting pintu kamarku, jujur saja, aku masih malas melihat wajahnya,
yang selalu menang atas aku.
Dari kecil aku tak pernah memanggil Shania dengan sebutan
‘Kakak’, mungkin dari itu juga membuat aku merasa Shania lebih seperti musuhku
ketimbang kakakku, sifatnya lebih kekanakkan dariku sering membuatku risih.
Ntah kenapa, aku merasa Shania selalu membenciku, dimatanya apa yang kulakukan
selalu salah. Kata Ayah, dari dulu Ayah sudah mengajariku memanggil Shania
dengan sebutan ‘kakak’, tapi setiap aku mengejanya aku tak bisa, bahkan jika
aku dipaksa aku akan menangis.
Ini hari Rabu, jadwal kelasku untuk mata pelajaran
Olahraga, kamipun bersiap mengganti pakaian putih biru tua kamu dengan kaos dan
training olahraga.
“Heyyyy, announcement.
Teman friens kanca bantir sakabehe, look at me.! My o’clock hand new, very
funtustic” Ucap Cindy dengan bahasa inggrisnya yang super belepotan, memamerkan
jam barunya.
“Wahhhh, keren banget cin.
Pasti mahal deh.” Ucap Ochi mengagumi seraya memegangi tangan kiri Cindy yang
sudah dipasangi jam yang katanya mahal itu, padahal biasa aja ko.
“Hmm, paling juga dapet
lotre dari pedagang di depan sekolah.” Gumamku tak suka dengan tingkahnya,
serius.! Jamnya biasa saja.
“Hellloooooooowwwwww
Nabila pake H I J K K L M N, ini tuh jam dari Paris ya, ini harganya mahal.!”
Ucap Cindy marah-marah di depan mejaku.
“Terus aku suruh apa ?
Suruh ngambil jam itu, terus aku jual gitu ? iya ?” Aku tak mau kalah.
“Udahlah bil, udah udah
udah. Lanjutin aja berantemnya.” Kata Ayana polos.
“Ay, sehat ? malah
suruh lanjutin.! Harusnya udah jangan berantem, dasar kamu ay, jangan tidur
mulu makannya.” Protes Sonia, membenarkan kalimat sahabatnya.
“Itu maksud aku Son,
hehe.” Ucap Ayana tanpa rasa bersalah.
“Udahlah bil, ayo ke
lapangan. Ngapain ngomong sama dia, kaya ngajak ngomong knalpot motor tahun
48.an, berisik.” Ucap Sonia kemudian menggandeng Nabilah keluar, dan menyeret Ayana
yang hampir tertidur lagi dengan meninggalkan Cindy cs yang sudah tumbuh tanduk
di kepalanya.
Akhirnya jam olahraga pun dimulai, hari ini materinya
lari estafet, olahraga yang tak ku suka, sebenernya materi apapun dalam mata
pelajaran olahraga semuanya tak kusukai, karena sehebat dan usaha sekeras
apapun aku, akan selalu kelihatan lebih buruk dari Shania, karena itu aku jadi
tak menyukai olahraga, ya ada sih satu olahraga yang kusuka, bekel.
“Pak, Nabilah izin ke
kelas ya.” Ucapku di sela-sela keriuhan teman-teman kelas.
“Mau apa Nabilah ?”
Tanyanya biasa saja, guru ini tidak terlalu tua, tapi tidak muda juga, tapi dia
baik banget, nggak pernah marahin siswa sini, apalagi aku.
“Mau ambil tempat minum
pak, Nabilah haus.” Jawabku jujur.
“Yaudah, jangan lupa ke
sini lagi ya.” Katanya, kemudian aku bergegas ke kelas, saat aku meninggalkan
lapangan, si Cindy masih terus memperhatikanku ternyata sedari tadi, tatapannya
masih tajam setajam golok yang baru selesai di asah, aku sih cuek, paling juga
dia masih marah gara-gara perdebatan pagi tadi, atau dia baru liat orang cantik
kaya aku ? whatever lah yang penting aku haus, titik.!
“Ahh leganya, air ini
enak juga kalo lagi haus.” Gumamku, kemudian menenggak lagi air dalam tempat
minumanku.
“Baru olahraga gituan
aja,haus sampe segitunya.” Ucap Shania mengagetkanku, sampai aku menyedakkan
air yang sudah terlanjur masuk mulutku tapi terpaksa keluar lagi, dan mengenai
wajah Shania yang kebetulan ada di hadapanku.
“Ihhh, apaan sih.!”
Ucapku padanya yang masih merapikan wajahnya yang terkena semburanku.
“Kamu yang apaan!!
Nyembur-nyembur segala.! Kan aku jadi basah.!” Emosi Shania, aku hanya
mengerung memperhatikan wajahnya.
“Lagian kamu yaaa...”
“Stop.! Males aku
dengerin kamu.! Hah.” Tutupnya kemudian langsung pergi dari kelasku,
meninggalkanku yang belum sempat menutup mulutku.
Dengan masih ngedumel tentang Shania akupun kembali ke
lapangan dan mengikuti pelajaran olahraga lagi, sampai akhirnya jam pelajaran
ini berakhir, dan kami kembali ke kelas. Tapi tunggu deh, ko Shania tau ya aku
Cuma olahraga ringan aja, kan dia seharusnya ngikutin pelajaran, ngapain juga diaa
tiba-tiba muncul di kelas, jangan-jangan dia....
“Aahhhh....” Teriak
Cindy mengagetkan seisi ruang kelas, sampai Ayana yang tertidur karena
kelelahan terbangun dan rusuh.
“Hahhh, ituu itu suara
apa bil ? ada apa ? kebakaran ya ?” Tanya Ayana dengan matanya yang baru ia
buka separuh.
“Toa masjid rusak ay.”
Celetuk Sonia yang masih sibuk mengganti pakaian olahraganya.
“Jam baruku hilaaangg,
pasti ada yang ngambil, itu kan mahal banget, bisa-bisa aku dimarahin mamih
nih, aduh gimana dong. Help me help me...” Ucap Cindy sambil mengacak-acak isi
tasnya.
“Emang tadi kamu taruh
di mana cin ?” Tanya Ochi membantu bos besarnya mencari jam tangan murahan itu.
“Ya disinilah chi,
pasti ada yang ngambil deh.” Ucap Cindy lagi, dia sudah tak mengacak-acak
tasnya kemudian mengitarkan matanya ke seluruh kelas.
“Pasti dia yang ngambil
deh.” Lanjut Cindy menunjuk ke arahku.
“Hah ? Aku ?” Heranku
sambil menunju wajahku sendiri.
“Iya kamu.! Siapa sih
yang paling nyolot waktu aku mamerin jam baruku, kamu kan yang paling nyolot,
kamu pasti iri, jadi nyuri jam aku deh. Ngaku aja deh kamu, ayo cepet
balikin.!” Ucap Cindy dengan nada superrr menyebalkan, iyalah aku bahkan nggak
tau apa-apa, malah nuduh aku.
“Eh kalau ngomong di
jaga yah, nggak mungkin sahabat aku nglakuin hal kaya gitu.!” Ucap Sonia
membelaku keras.
“Kamu nggak usah
ikut-ikutan, Cuma dia kan yang waktu jam olahraga masuk ke kelas ini. Siapa
lagi kalo bukan dia yang ngambil.!” Kata Cindy lagi, oke aku terpojokkan, tapi
aku masih tak mau mengalah, toh aku sama sekali tak menyentuh jam itu..
“Udah-udah, mending
kita panggil bu Melody aja, wali kelas kita.” Ucap Ochi menengahi, tumben
sekali dia benar, biasanya lola.
“Iya bener, pokoknya
siapapun nggak ada yang boleh keluar. Titik.!” Perintah Cindy, aku sih santai,
lagian tuh anak emang heboh banget, kalau masalah sewot menyewot, siapa sih
yang nggak pernah sewot ke anak ini, udah belagu, sombongnya tingkat dewa, sok
cantik, ini lah itulah, lengkap deh nyebelinnya, kaya gado-gado di warung depan
rumahku itu.
Beberapa menit kemudian bu Melody datang, dan dasar
dianya yang bawel, anak-anak kelas lain pun ikut merapat ke kelasku, emberrrrr,
Cuma ilang gitu aja, hebohnya seantero sekolah. Oh ya, Shania juga ada di salah
satu gerombolan anak-anak yang penasaran dengan Cindy.
Bu Melody pun
langsung meminta keterangan ke semua siswa, yang menjadi tersangka adalah aku,
apalagi Cuma aku yang ada di kelas sewaktu jam pelajaran olahraga, tapi aku
nggak mau disalahin gitu aja ya. Sampai akhirnya bu Melody menggeledah isi tas kita
satu persatu, dan hal yang membuatku membelalakkan mata sampai hampir copot,
jam itu ada di tasku, oh God this impossible.!
“Nabilah, ibu harap
kamu punya penjelasan tentang ini.” Ucap bu Melody menunjukkan jam itu
tepat di depan wajahku.
“Bu, Nabilah
bener-bener nggak ngambil. Tapi Nabilah juga nggak tau kenapa jam itu ada di
tas Nabilah, pasti ada yang jebak Nabilah bu, Nabilah yakin.” Ucapku membela
diri, ya memang aku sama sekali tak melakukan itu.
“Ahh siapa lagi kalau
bukan Nabilah, Cuma dia yang masuk kelas waktu jam olahraga bu. Kak Shania juga
liat ko, Nabilah ke kelas, iya kan kak.?” Ucap Cindy yang kali ini pandangannya
ia arahkan ke Shania yang berdiri di dekat pintu, Shania pun hanya tertegun
saat itu, dengan wajah marahnya padaku.
“Benar apa kata Cindy,
Shania ?” Bu Melody memastikan pada Shania, oke kuharap Shania bisa menolongku.
“Ah,.iya bu.” Jawabnya
singkat, dia menatapku sekilas kemudian menatap bu Melody, oke Shania sama
sekali tak membelaku sebagai adiknya. Tamatlah sudah riwayatku, bu Melody
akhirnya membawaku ke kantor, dan sekolahpun memutuskan untuk memanggil Ayah ke
sekolah.
“Kamu bener-bener
Nabilah.! Kamu memalukan, untuk apa kamu ambil jam kaya gitu ? kalau kamu mau,
Ayah bisa belikan kamu 10 jam yang seperti itu, nggak perlu mencuri.! Ayah
nggak pernah ajari anak-anak Ayah untuk jadi maling.!” Kata Ayah kasar, begitu
sampai di rumah.
“Tapi yah, Nabilah
nggak ngambil, Nabilah......” Ucapku yang langsung dipotong Ayah, aku hanya
menunduk pasrah.
“Ini surat dari
sekolah. Kamu di skors selama tiga hari, terserah kamu mau ngapain, mau main,
mau apa, terserah.! Ayah pusing.!” Ucap Ayah melemparkan kertas itu ke arahku,
aku hanya menangkapnya kemudian membanting tubuh di sofa ruang tamu. Hah.! Hari
yang begitu menyebalkan. Rasa marah memuncak begitu saja mendengar kata-kata
Ayah, namun penasaran masih saja bermain-main di kepalaku, ‘kenapa jam itu bisa
ada di tasku.’ Dan yang membuatku semakin tak habis pikir adalah Shania yang
ikut menyalahkanku.! Apa yang dia pikirkan, aku adiknya.! Tapi dia sama sekali
tak membelaku.! Entalah..
***
“Bil, sarapan.” Teriak
Shania sambil mengetuk pintu kamarku.
“Iyaaa.” Jawabku
langsung bergegas, hari ini aku keluar tanpa seragam, dan masih dengan mood
yang tidak baik. Aku menyusul Shania yang berjalan meninggalkanku, dan menemui
Ayah di meja makan.
“Ayah, maaf Nabilah..”
Ucapku saat baru tiba di meja makan.
“Ayah nggak mau
membicarakan hal kemarin lagi, duduk dan makanlah.” Kata Ayah lagi-lagi
memotong kalimatku, sepertinya dia sama sekali tak ingin mendengar
penjelasanku, pembelaanku atas kesalahan yang sama sekali tak ku perbuat.
Kami pun akhirnya sarapan dengan hening, tak seperti
biasanya, suasana menjadi dingin di pagi yang mentarinya mulai menghangatkan
suasana di luar.
“Hari ini, sampai dua
minggu kedepan Ayah ada tugas ke Makassar, mungkin Ayah akan meninggalkan
kalian berdua, Ayah tau kalian udah besar. Shania, Ayah yakin kamu bisa jaga
Nabilah dan rumah ini dengan baik, kamu anak paling besar, kamu harus bisa
jalanin kepercayaan Ayah.” Ucap Ayah panjang lebar, Shania hanya menganggukan
kepalanya. God, serumah dengannya dan hanya berdua.....
“Dan Nabilah, jangan
buat ulah lagi, Ayah nggak mau denger kamu buat onar.!” Lanjut Ayah, aku hanya
menunduk sambil memainkan roti yang ada di depanku. Rasanya seperti aku
benar-benar teraniaya, mulutku terbukapun tak ada yang mau mendengar,
kepercayaan untukku pun sepertinya tidak akan berlaku lagi, hah hidup ini
memang keras.
Ayah akhirnya pergi dengan koper-kopernya,, dan Shania
pergi ke sekolah, alhasil tinggalah aku terdiam sendiri disini, kuputuskan
untuk pergi ke rumah pohon, ingin meluapkan semuanya. Aku belari dari rumah,
ntahlah jika aku berlari, beban di kepalaku serasa terbawa angin, meski tenaga
yang ku keluarkan membuat nafasku sesak, tapi sesak di dadaku justru akan
menghilang ketika lariku semakin kencang.
Sampainya di sana, aku hanya duduk di pinggiran rumah
pohon, kemudian memandang langit dengan mengayunkan kedua kakiku.
“Bunda, Nabilah sedih
bun, semuanya nggak ada yang percaya Nabilah, Shania bahkan Ayah nggak percaya
sama Nabilah, Bun. Nabilah berani bersumpah deh demi Bunda di surga, Nabilah
nggak ngambil jam Cindy bun. Tapi Ayah nggak mau denger penjelasan Nabilah,
apalagi Shania, bukannya belain Nabilah, malah ikut-ikutan memperkuat bukti,
Nabilah harus gimana bun ? Coba Bunda ada disini, Nabilah pasti bisa lebih
tenang, Nabilah pasti bisa nangis di pelukan Bunda. Bun, Nabilah kangen.”
Ucapku panjang lebar, mataku mulai berkaca, kuangkat kakiku kemudian kudekap
erat, lalu menundukkan kepalaku.
Setelah hari itu, hari-hari terasa berjalan semakin
lambat, sekolah selalu memandangku sebelah mata dan penuh kebencian, rumah yang
menyebalkan diatas penguasaan Shania, dan Cindy yang semakin menatapku dengan
sinis dan liciknya, Hah.
“Nih makan.” Ucap
Shania meletakkan hasil masakannya di meja makan.
“Apaan nih ? ini sayur
apa kolam ikan, banyak banget airnya.” Ledekku sambil mengaduk-aduk sayur
buatannya.
“Tinggal dimakan kok.!
Bawel banget, untung juga udah aku masakin.” Kata Shania lagi, duduk di
hadapanku.
“Kamu kenapa sih Shan ?
Kayanya benci banget sama aku ? Kenapa aku selalu salah di mata kamu.? Aku
salah apa sama kamu ? Aku udah coba biasa aja, kamunya yang selalu cari
perkara.? Aku harus gimana Shan ?” Ucapku meluapkan emosi, tau deh kenapa
berani banget aku ngomong kaya gini sama Shania.
“Aku ? Cari perkara ?
Nggak kebalik ?” Balas Shania, dia kembali berdiri dan menatapku tajam.
“Iyalah kamu, kamu yang
selalu marah-marah nggak jelas, nyalah-nyalahin tanpa ada sebab, dan..” Ucapku
kemudian di potong Shania.
“Kamu jadi adik aku,
itu yang salah, dan itu salah kamu, ngerti.!” Bidik Shania kemudian duduk dan
mendekap tangannya sendiri dan masih menatapku sama seperti tadi, bidikkan
Shania benar-benar tepat mengenai bagian dalam dari hatiku, hingga aku tak bisa
lagi berkata-kata untuk sekedar menjawab pernyataannya. Karena tak sanggup lagi
menahan air mata, dan gengsi menangis di depan Shania, akupun akhirnya pergi
dan meninggalkan meja makan. Akhirnya terbongkar juga alasan Shania selama ini
membenciku, ternyata dia tak menginginkan aku menjadi adiknya. Emang aku yang
minta jadi adiknya ? kalau boleh memilih pun aku nggak pernah mau di lahirkan
di rahim yang sama dengan Shania.!
Aku terus berlari setelah mendengar ucapan Shania yang
membuat luka ini akhirnya terbuka juga oleh pisau dari Shania, air mataku
berjatuhan seiring laju kakiku yang semakin cepat, ntah tangis apa ini,
kecewakah, marahkah, atau sakitkah ? ntahlah, yang jelas aku ingin menangis.
Hingga penglihatanku buram, dan tak memperhatikan arah jalan, dan membuatku
menabrak seseorang.
“Nabilah.! Kamu nggak
papa kan ?” Ucap orang itu saat kuterjatuh karena tak mampu mengimbangi diriku
sendiri.
“Kak Stella. Nggak papa
ko kak.” Ucapku merapikan wajahku yang di kotori air mata, kemudian berdiri
dari jatuhku.
“Kamu nangis ?” Tanya
Kak Stella menghapus air mataku, Kak Stella pun akhirnya membawaku menuju cafe
yang tak jauh dari tempat ini. *Penulis ikutan bisa kali bil*
“Sekarang kamu minum
dulu, terus kalau mau cerita, cerita aja. Kak Stella siap dengerin kok.” Kata
Kak Stella yang duduk berhadapan denganku, kemudian menggenggam tanganku.
“Kalau Nabilah nggak
mau cerita ?” Kataku ragu.
“Kalau Nabilah nggak
mau cerita, Nabilah bayar sendiri ya minuman sama makanannya.” Kata Kak Stella
membuang pandangnya nampak bepikir. “Hehe, nggak deh. Kalau kamu nggak mau
cerita juga nggak papa, tapi pasti ada alasan kan ? kenapa tadi Nabilah
lari-lari sambil nangis.” Lanjut Kak Stella, membuatku merasa nyaman berada di
dekatnya.
“Shania benci sama
Nabilah Kak.” Ucapku sebagai pembuka dari ceritaku.
“Hah ? Nggak mungkin, nggak
ada kakak yang benci sama adeknya sendiri.” Kata Kak Stella menenangkan.
“Shania bilang sendiri
sama Nabilah ko Kak.” Jawabku memperbanyak bukti.
“Mungkin, Shania
ngomong kaya gitu, dia lagi emosi, atau mungkin dia lagi dapet, jadi
kata-katanya tajem. Shania pasti sebenernya sayang sama kamu ko.”
“Nggak Kak, Shania tuh
beda dari Kakak-kakak lainnya, dia benci sama Nabilah, bahkan dia juga nggak
belain nabilah sama sekali waktu Nabilah di tuduh nyuri.” Aku menceritakan pengalamanku.
“Kak Stella nggak takut
deket-deket Nabilah ? Nanti barangnya ilang lho, Nabilah curi.” Kesalku sambil
manyun-manyun.
“Ko Nabilah ngomong
gitu? Kakak percaya ko, Nabilah nggak akan ngelakuin itu, Kakak yakin. Tapi
Nabilah nggak boleh benci sama Shania, Nabilah sayang kan sama Shania ?” Tanya
Kak Stella, dan sukses membingungkanku.
“Entahlah, Nabilah Cuma
ngerasa Shania itu makhluk yang paling menyebalkan di muka bumi ini Kak.” Jawabku
cuek.
“Ko gitu ?” Tanya Kak
Stella lagi, kali ini kujawab dengan kedua bahuku yang ku angkat kemudian
meminum lagi minumanku. Ini pertama kalinya aku berpikir ‘sayangkah aku dengan
Shania’, aku nggak tau gimana perasaan aku sama Shania sebenarnya. Ahh tau deh,
males mikirin orang itu. Akhirnya Kak Stella menghentikan
pertanyaan-pertanyaannya, Ia sekarang lebih banyak bercerita tentangnya,
tentang Sonia, dan tentang keluarganya, cerita yang sangat bahagia, cerita yang
sangat menarik, dan sangat kontras jika dibandingkan dengan keluargaku.
“Oh iya, udah sore nih.
Gelap kayanya diluar, mau ujan deh pasti.” Kata Kak Stella memandang keluar.
“Ayo pulang bil, Biar
Kak Stella anter kamu sampe rumah.” Lanjutnya sambil bersiap untuk bergegas.
“Kayanya nggak usah deh
Kak, Nabilah ada perlu ke tempat lain.” Alibiku, karena masih malas bertemu
Shania.
“Mau kemana ? Udah
sore, mau ujan lagi.” Kak Stella mengingatkanku, dia begitu perhatian.
“Cuma bentar aja ko
kak, nanti juga langsung pulang.” Dustaku lagi, mudah-mudahan Kak Stella nggak
punya ilmu psikologi yang bisa bedain orang jujur dan orang yang bohong.
“Apa mau sekalian Kak
Stella anterin ?” Tawar Kak Stella, aduuhh perhatian Kak Stella benar-benar
membuatku tak ingin pulang saat ini, dan ikut dengan Kak Stella, tapi tak ke
rumah.
“Mmm, Nggak usah Kak,
makasih.” Kataku, kita berdua pun keluar dari cafe itu.
“Makasih juga ya kak,
buat nasehat sama traktirannya, sering-sering yaa.” Gurauku.
“Nabilah boleh ko
cerita ke Kakak, kapanpun Nabilah pengen cerita, Nabilah itu udah kaya adek
Kakak sendiri, kaya Sonia.” Lagi Kak Stella membuatku ingin menjadi adiknya.
“Makasih Kak, Kak
Stella baik banget.” Ucapku, kemudian segera pamit untuk melanjutkan
perjalananku, aku masih belum siap bertemu dengan Shania, kalau mengingat
kalimatnya tadi siang.
Setelah
lumayan jauh dari cafe, aku mulai berlari untuk lebih cepat sampai di rumah
pohon, karena benar saja, sesampainya aku di rumah pohon, hujan turun dengan
derasnya, anginnya begitu besar hingga rintikkannya masuk ke dalam rumah pohon,
aku mengambil tempat di pojokan sambil mendekap kakiku, kuharap ini bisa
sedikit menghangatkanku, karena disini sangat dingin, dengan anginnya yang
seperti badai, jujur aku takut, aku menyesal tak mengikuti kata Kak Stella,
tapi aku masih belum mau bertemu Shania. ‘Shania’ Batinku, pikiranku terhenti
sesaat ketika terdengar suara Shania memanggil namaku dari bawah, tapi mana
mungkin dia berada di sini di tengah hujan seperti ini, mana mungkin Shania
yang egoisnya nggak ketulungan mencariku untuk pulang, paling dia sedang
menikmati suasana rumah tanpa aku, jadi dapat aku pastikan suara itu hanya
halusinasiku saja.
***
Aku
mulai membuka mataku, tunggu.! Kenapa ini terasa empuk, aku melihat sekeliling,
ini kamarku.! Apa yang semalem itu Cuma mimpi ? apa yang semalem aku berada di
pohon itu Cuma mimpi, kata-kata Shania ?? apa itu nyata ? tapi rasa dingin dan
sakit di dadaku masih terasa, kepalaku pun terasa pusing. Ketika aku hendak
membangunkan diriku, ada benda hangat jatuh dari keningku, what ? kompres ?
*Nabilah Alay* ‘Siapa yang mengkrompresku ?’ fikirku. Kemudian terdengar
langkah kaki Shania menuju kamarku, aku yang kaget dan tak tau harus berbuat
apa, pun hanya bisa membaringkan lagi tubuhku, kemudian pura-pura tidur kembali.
Kemudian Shania masuk kamarku, menyentuh keningku, lalu diambilnya kompres itu
dan dimasukkan kembali ke air yang dia bawa, kemudian diletakkan kembali di
keningku, sebentar dia sama sekali tak melakukan apapun, hanya terdengar
nafasnya, aku curiga dia sedang memerhatikanku yang sedang pura-pura tidur ini.
Tak selang berapa lama, kemudian di membenarkan selimutku, lalu keluar kamarku.
Aku membuka mataku, ‘jadi aku sakit?’ batinku melepas kompres tadi, ‘Dan Shania
yang ngerawat aku ? Shania jemput aku di rumah pohon, dia kan phobia tinggi ?
terus ?’ Aku menampar pipiku sendiri *Plakk* “Auu” dan ternyata sakit, berarti
aku tidak mimpi, ‘Apa tadi beneran Shania ?’ pikirku, yaa walaupun aku tak
melihatnya, tapi wangi tubuhnya, langkah kakinyna, nafasnya, sentuhannya yang
meski jarang ia lakukan, aku hafal benar itu semua milik Shania.
Belum
sempat aku mendapatkan jawaban, langkah Shania terdengar kembali mendekati
kamarku, dan aku kembali memulai aktingku. Pintu kamarku terdengar terbuka,
Shania tak terdengar menghampiriku di kasur.
“Udah.! Nggak usah
pura-pura tidur, cape tau bolak-balik ngompres kamu terus, mana nggak
bangun-bangun lagi.” Kata Shania, aku membuka mataku, dan langsung mencari
sosok Shania.
“Kamu yang ngompres aku
Shan ?” Tanyaku, Shania baru menghampiriku dengan mangkuk dan gelas di kedua
tangannya.
“Iyalah siapa lagi. ?”
Jawabnya seraya meletakkan bawaannya di meja sebelah kasurku. “Lagian kamu
kurang kerjaan banget, tidur di atas pohon, kaya orang utan tau nggak.!
Ngerepotin aja.” Lanjut Shania, nadanya sangat menjengkelkan tapi jika kudengar
kalimatnya, itu menggambarkan sayang Shania. Dia kembali menyentuh keningku,
karena mungkin dirasa udah nggak panas, diambilnya kompres tadi. Aku hanya
terdiam, sambil memperhatikan wajahnya yang terlihat kerepotan mengurusku, jika
diperhatikan lebih dalam, wajahnya sama sekali tak menyebalkan seperti saat
kami beradu mulut, wajahnya tanpa dosa. Kalo cantik ? nggak sih, masih cantikan
aku. Lagian kenapa kita nggak mirip ya. (btw, enak ya jadi Nabilah, Nab tukeran
pliss ._.) *penulis gaje*
“Oh ya Shan, terus yang
nurunin aku dari rumah pohon siapa ? Nggak mungkin kamu kan ? Kamu kan...”
“Udah deh nggak usah
bawel, tuh makan buburnya.” Shania memotongku, sepertinya dia salah tingkah,
jadi kesimpulannya dia benar-benar menurunkanku.
“Nggak mau, aku nggak
mau makan.” Kataku masih tak melepas pandanganku pada wajah Shania yang selalu
menghindarkan matanya untuk bertatapan denganku.
“Kamu itu lagi
sakit.!.” Katanya kesal, lucu juga wajah yang ia pasang dewasa tapi kekanakkan
dan di padu wajah kesalnya. (bayangin deh tuh, lucu banget pasti >< ih
shanju emesh)
“Oke, aku mau makan,
asal disuapin.! Sekali kali kek, lagian adekanya lagi sakit juga, aku masih
lemes tau.” Pintaku.
“Ih manja banget sih,
kamu tuh punya tangan sendiri Nabilah.” Katanya kemudian berdiri, hendak
bergegas meninggalkanku.
“Yaudah nggak mau
makan. Titik.!” Ancamku tak sungguh-sungguh.
“Nyebelin banget sih.!”
Katanya kemudian berbalik dan kembali duduk di samping ranjangku, lalu
mengambil mangkuk tadi.
“Ayo makan.” Dengan
wajah masih kesalnya, dia memberikan suapan pertamanya, aku pun membuka
mulutku.
“Aw, panas Shan.”
Keluhku.
“Iya maaf.” Tanggapnya,
kemudian meniup suapan buburnya untukku. ‘Astaga, ini benar Shania ? Shania
Kakak Nabilah yang super menyebalkan ?’ Batinku memperhatikan wajah Shania yang
terlihat susah payah meniupkan suapannya untukku. Kurasa ini pagi terindah yang
pernah kulaui sepanjang hidupku dengan Shania. Ini pertama kalinya Shania
memperlihatkan sisi baiknya untukku, walaupun juteknya masih terasa, tapi setidaknya
lumayan daripada nggak sama sekali. Sejenak aku melupakan sosok Shania yang
sangat menyebalkan dan kata-kata kemarin. Walaupun akhirnya hari ini kita
berdua tidak masuk sekolah karena aku masih sakit dan Shania yang katanya
males, karena semaleman belum tidur karena ngerawat aku. ‘Shania aku tau, itu
alasan kamu aja, aku tau kamu nggak tega ninggalin aku sendiri di rumah dalam
keadaan sakit. Makasih Shania. Kamu baik.! :’) ’
***
Keesokkan paginya, suasana masih seperti biasa, Ayah
masih di Makassar, Shania masih menyiapkan sarapan untuk kita berdua. Ayah
memang nggak pernah pakai pembantu, kata Ayah pembantu itu membuat kita
mengandalkan orang lain, apalagi anak-anak Ayah perempuan. Ayah juga lebih suka
memasak sendiri untuk kita, ketimbang menyuruh orang, kata Ayah kalo yang masak
orang lain, diracuninpun kita nggak bakal tau.
Ngomong-ngomong soal Ayah, jadi inget Ayah masih marah sama Nabilah.
“Heh nglamun.! Nih
sarapan, terus kita berangkat.” Ucap Shania yang telah selesai dengan menu ala
chef ShaniaQueen (?)
“Hmm, telur dadar nih.
Enak nih, kecapnya mana Shan, lebih enak pake kecap nih.” Bawelku memperhatikan
telur buatan Shania (?) RALAT deh, masakan buatan Shania.
“Udah deh, nggak usah
bawel. Makan aja kenapa sih ?” Jawab Shania mulai jutek seperti biasanya, Hah
baiknya sehari doang, kurasa kemarin dia kerasukan setan siapa gitu sampe-sampe
dia bisa baek banget, perhatian banget, mungkin kerasukan arwah Bunda yang baik
hati dan tidak sombong.
(Teng tong) Terdengar
suara bel rumah, Shania pun langsung beranjak membukakan pintu, beberapa saat
terdengar suara riuh, kemudian akupun menyusul Shania.
“Eyang..” Kagetku
ketika melihat Eyangku.
“Dek ayu, kamu makin
cantik aja sayang.” Kata Eyang kental dengan logat jawanya, ‘Ayu’ itu paggilan
eyang untukku dari kecil. Setelah berkangen-kangen ria, akhirnya kita bergegas
berangkat ke Sekolah.
“Shan, makasih yah buat
yang kemaren, udah ngerawat aku, udah merhatiin aku, bela-belain nggak masuk
sekolah. Sampe aku sehat deh kaya sekarang. Hehe.” Basa-basiku di tengah
perjalanan ke sekolah.
“Nggak usah lebay deh,
jangan ke GRan dulu. Aku tuh ngelakuin itu karena aku dikasih tanggung jawab
dari Ayah buat jaga kamu. Bukan karena kamu.” Jawabnya cuek, aku pun berdiri di
hadapan Shania, bermaksud menghalangi langkah Shania.
“Tunggu deh Shan. Kamu
tuh sebenernya sayang nggak sih sama aku ?” Tanyaku menatap wajahnya yang
begitu tinggi dariku hingga aku harus mendongak, karena aku berdiri tepat
dihadapannya, dan sangat dekat. Shania menunduk menatapku sebentar.
“Apaann sih tanya-tanya
gituan. Nggak penting tau nggak.” Katanya lalu menyingkirkan tubuh mungilku dan
bejalan cepat meninggalkanku. Sepertinya, pernyataan Kak Stella tentang Kakak
yang selalu sayang sama adiknya itu salah, terbukti kali ini, Shania memang
bukan seperti Kakak pada umumnya, dia makhluk langka. Harusnya perlu di air
keras, terus di museumin deh.! ._. (plis deh Nab)
Sesampainya di sekolah, kaki ini serasa berat melangkah,
kaya ada batu gede-gede di kakiku. Semenjak kejadian itu, setiap aku lewat,
serasa banyak ribuan pasang bola mata yang memandangiku dengan pandangan
anehnya. Apalagi Shania, sekarang dia malah bikin petuah sendiri, kalau udah di
sekolah harus jaga jarak, minimal 2 meter. Segitukah ?
“Hmm, aku kira kamu
udah nggak akan masuk selamanya. Baru aja aku mau buat syukuran perayaannya,
nggak jadi deh.” Ucap Cindy begitu aku melangkahkan kaki di kelas. Dan karena
aku masih kesal dengannya, aku malas menanggapi ucapannya, daripada ntar
dijadiin masalahh lagi. Akupun melanjutkan jalanku hingga sampai di mejaku.
“Maling itu, selamanya
tetep maling, mau digimanain juga ya tetep maling. Bener nggak ?”Lanjut Cindy
masih belum menghentikan bully-annya. Aku masih diem, menahan tanganku yang
sudah sangat ingin melayangkan meja dan kursi ke arahnya.
“Bener banget tuh cin.
Eh jaga barang-barang berharga kalian. Amankan isi tas dan segala macam barang
yang kalian anggap penting.! Karena ada maling di sekitar kita.” Ucap Ochi
sadis. Kali ini teman-teman terlihat memeluk tas mereka dan memandangku dengan
tatapan anehnya. Jujur ini sakit banget.! Lebih dari sakit kemarin, apalagi
sebagian dari mereka terlihat berbisik-bisik sambil memandangiku.
“Arggghhtt.” Teriakku
seraya menggebrak meja kelas, dan keluar pergi meninggalkan kelas. Aku terus
berjalan dengan kesalnya, aku menuju toilet, setidaknya bisa sedikit mencuci
muka, dan merefresh pikiran yang gelisah (?), sampai ketika aku melewati ruang
kepala sekolah, langkahku terhenti karena hendak menabrak orang yang baru
keluar dari ruangan itu.
“Semuanya gara-gara
kamu tau nggak ? Dasar pembawa sial.!” Ucap Shania tiba-tiba, wajanya tertekuk,
dan memerah seperti menahan tangis.
“Kamu ngomong apa sih
Shan ? Aku nggak ngerti.” Tanyaku, bukannya menjawab, Shania justru
meninggalkanku. Tuhan, rasanya kepala ini mau pecah, masalah Cindy, Ayah,
sekarang bertambah Shania.!
Setelah mencuci muka, dan beberapa kali mengambil nafas
panjang, aku kembali ke kelas. Ntah apa yang akan terjadi dan bagaimana reaksi
teman-teman, aku hanya berharap aku tetap kuat.
“Darimana bil?” Ucap
Sonia menyapaku, ketika ku sampai di kelas.
“Dari toilet.” Jawabku
singkat, dan kemudian terdiam tanpa membuka mulut, begitupun seterusnya, hingga
jam istirahatpun tiba.
“Kantin yukk bil.” Ajak
Sonia.
“Nggak ah, males.”
Tolakku, tapi Sonia tetap menarik tanganku, dan aku pun mengikuti
permintaannya. Sesampainya di kantin Sonia langsung memesaan makanan dan
minuman untuk kita, dan tanpa waktu lama, makanan dan minuman itu sudah ada di
hadapanku.
“Bil.” Panggil Sonia
saat aku sibuk megaduk-aduk minuman yang kupesan.
“Bil....” Ulangnya, aku
masih memainkan minumanku, dengan tatapan kosong.
“Nabila pake HHHH.”
Ulangnya kini berteriak di depan wajahku.
“Ihh apa sih Son. Nggak
usah teriak-teriak, aku denger tau.!” Protesku yang terbangun dair alam, ntah
apa itu.
“Lagian kamu daritadi
aku panggil-panggil nggak ngejawab, kenapa sih ?” Tanya Sonia penasaran, aku
tidak menjawab hanya memainkan minumanku lagi.
“Okee, terus aja pada
kaya gitu. yang ini diem, yang itu juga diem, akunya yang bingung.” Ucap Sonia
yang pandangannya diarahkan ke pojokan kantin, aku mengikuti arah pandangannya,
hmm Ayana. ‘Tumben tuh anak ke kantin jam istirahat, biasanya juga tidur mulu.’
Batinku.
“Bantu aku dong Bil.
Ayana kenapa sih ? Tadi pagi aku deketin malah lari, di kelas aku panggil diem
aja. Kamu lagi, pagi-pagi udah ngilang, sekarang maen cuek-cuekan.” Kata Sonia
menjelaskan, aku memerhatikan Ayana yang sibuk dengan Ponsel pintarnya di
pojokan kantin.
“Kenapa tuh anak.”
Ucapku yang tidak terlalu memperhatikan kalimat Sonia.
“Kan dari tadi aku
nanya gitu Bil. Lagian kalo aku tau, aku nggak akan nanya kamu. Kamu juga
kenapa ? masalah Cindy ya ? atau Kak Shania, atau masalah....” Ucapan Sonia
terpotong ketika aku berdiri dari dudukku kemudian beranjak hendak menghampiri
Ayana, tapi belum sempat aku sampai di mejanya, dia malah kabur terlebih
dahulu.
“Mana Ayananya Bil. ?”
Tanya Sonia yang menyusulku.
“Tadi sih di sini Son,
tapi nggak tau kemana lagi, cepet banget ngilangnya.” Aku celingukan
mencarinya, Sonia menghelakan nafasnya, terdengar jelas olehku, kemudian duduk
di kursi bekas Ayana tadi.
“Kalian pada kenapa sih
? Aku jadi pusing.” Keluh Sonia menggembungkan mulutnya, membuat pipinya
membesar. (aaakkk lucu banget ><)
“Maafin aku ya Son,
kayanya aku yang terlalu sibuk sama masalahku sendiri, sampai aku lupa, aku
punya kalian.” Ucapku duduk dihadapan Sonia, dan menatapnya serius.
“Aku nggak papa sih
Bil, asalkan kalian baik-baik aja, tapi kalo kaya gini, aku jadi khawatir, kamu
diem, Ayana diem, aku berasa nggak ada gunanya tau nggak ?” Keluhnya lagi, dan
disinilah aku akhirnya sadar, selama ini aku jarang bahkan tak pernah bercerita
dengaan orang lain tentang masalahku, kecuali Kak Stella beberapa waktu yang
lalu.
“Aku nggak percaya kamu
yang ambil jam Cindy, walaupun emang jam itu ada di tas kamu, aku yakin, itu
bukan kamu. Aku percaya sama kamu ko Bil, pokoknya apapun yang terjadi, apapun
masalah kamu, kamu boleh ko cerita ke aku, aku akan ada buat kamu 24 jam.” Ucap
Sonia serius dan bijak, kata-katanya sama persis dengan Kak Stella, iyalah
kakak adek >< Tapi apa kabar aku sama Shania ?
“24 jam ?? Kaya Apotik.
Hehe.” Jawabku bercanda, mencairkan suasana yang menegang.
“Kamu mah bil, diajakin
serius malah bercanda, nggak kompak ih.” Protes Sonia memanyunkan bibirnya,
lagi-lagi wajahnya sangat lucuk.
“Yaudah kali son, nggak
usah dibahas. Yokk ke kelas aja, kali aja Ayana udah balik.” Ucapku kemudian
langsung beranjak dan diikuti Sonia. Kitapun berdua akhirnya ke kelas, dan
memang benar, Ayana sudah ada di depan kelas, sedang duduk ditempat duduk, di
pinggiran koridor.
“Ay..” Panggilku, dia
nampak kaget, kemudian langsung bergegas meninggalkanku.
“Ay, mau kemana ? Kamu
kenapa sih ? Kalau ada masalah itu di omongin.” Ucapku, sempat menahan langkah
kaki Ayana.
“Aku nggak papa.!”
Ketusnya membalikkan badan menghadapku.
“Kalau kamu kaya gini,
udah pasti kamu kenapa-kenapa. Kamu nggak kaya Ayana yang kita kenal tau
nggak.” Kataku, Sonia mengiyakan.
“Udah deh, kamu..kalian
nggak usah sok kenal aku, nggak usah sok tau tentang aku. Ini aku, aku kaya
gini. Nggak usah perduliin aku, urusin aja masalah kamu yang menumpuk.!” Ucap
Ayana kemudian kali ini benar-benar pergi. Aku menghelakan nafas panjang. Apa
lagi ini ? Sekarang justru sahabatku yang akan menjadi salah satu nama di
daftar masalahku.
“Udah lah bil, nggak
usah terlalu dipikirin, mungkin Ayana lagi nggak pengen di ganggu aja.” Ucap Sonia
memerhatikanku yang masih diam dengan wajah berantakan.
“Tapi kayanya
masalahnya ke aku Son.” Tebakku menatap sayu pada Sonia.
“Dia itu keliatan marah
sama aku, tapi....tapi kenapa ?” Lanjutku, Sonia hanya mengerdikkan kedua
bahunya, menjawab pertanyaanku.
“Udah deh, kamu nggak
usah mikir negative gitu. Biarin aja dia sendiri dulu, ntar kalo udah baik,
pasti dia cerita ko sama kita, yakin deh.” Ucap Sonia menenangkan. Kemudian
kami pun melanjutkan pelajaran yang tersisa. Hingga semua mata pelajaran hari
ini selesai, jam sudah menunjukkan waktunya pulang, segera kumasukkan alat
tulis dan buku yang berantakkan di meja, segera aku berlari menuju gerbang
sekolah, dia biasanya mengomel disini kalau aku terlalu lama keluar, sebenernya
bukan disini doang sih ngomelnya, karena hobi dia kan ngomel, jadi kayanya dia
ngomel hampir di semua tempat. Lima menit, 10 menit, setengah jam, tapi Shania
tak kunjung keluar. ‘mungkin lagi ada urusan sama eksulnya.’ Pikirku.
“Eh bil, ko belum
pulang.” Ucap Sonia dari dalam mobilnya ketika melewatiku.
“Mmmh, iya nih nungguin
Shania. Ko nggak keluar-keluar yaa, lama banget.” Keluhku menjawab pertanyaan
Sonia.
“Shania, dia udah
keluar kelas dari tadi ko Bil.”Ucap Kak Stella nimbrung, aku diam sebentar
mengatur emosiku yang melonjak gara-gara Shania, yakali udah nungguin sampe
lumutan, malah udah balik.
“Yaudah, kamu bareng
kita aja.” Tawar Kak Stella yang memperhatikan wajah kesalku.
“Nggak usah deh Kak.
Kali aja Shania masih di jalan.” Tolakku sopan. “ Yaudah, aku ngejar Shania dulu
ya Kak.” Pamitku kemudian berlari meninggalkan sekolah.
“Selalu aja kaya gini.!
Selalu aku yang diginiin.! Mau kamu apa sih Shan.! Nggak ada ya sama sekali
rasa sayang kamu buat aku yang jelas-jelas adik kamu.!” Ucapku di tengah
jalanku, kebetulan jalannya sepi, jadi aku bebas marah-marah disini.
“Aku coba ngelakuin
apapun, tapi tetep aja salah di mata kamu.! 14 tahun aku jadi adik kamu, 14
tahun juga aku dijajah kamu.! Aahhhh.” Teriakku kemudian menendang batu yang
kebetulan menyerahkan diri untuk ku tendang jauh.
Sampainya di rumah, saat aku meletakkan sepatuku di rak
sepatu, ternyata benar Shania sudah pulang, sepatunya sudah bertengger dengan
manisnya di tempat biasanya. Rasa kesalku yang masih berputar-putar di dadaku,
membuat aku mengambil sepatu Shania.
“Dasar egois.!
Seenaknya sendiri, aku tuh nungguin kamu sampe lumutan.! Tapi kamu malah udah
pulang duluan.! Ngomong kek, apa kek. Dasar yaaa kamu.!” Ucapku pada sepatu
Shania. “Eh ngapain juga aku ngomong sama sepatu.!” Lanjutku, kemudian melempar
sepatu Shania kasar.
Setelah puas memarahi Shania (sepatunya aja sih)
akhirnnya aku mencari Eyang dan Shania. Tapi mereka nggak ada dimana-mana,
akhirnya kuputuskan naik ke kamarku, dan ketika aku melewati kamar Shania,
ternyata eyang dan Shania ada di dalam. Bukan maksud menguping, tapi pintunya
agak kebuka dikit, terus suara Shania juga keras, jadi terpaksa dengerin deh,
inget.! Bukan nguping yak.!
“Kenapa sih Yang ?
kenapa harus Shania yang kaya gini.? Nabilah selalu bikin Shania kaya gini.
Karena dia, bunda jadi cepet pergi. Karena dia, Shania jadi kehilangan waktu
bareng bunda. Kenapa coba, Bunda lebih milih mertahanin dia daripada kesehatan
Bunda. Karena dia juga, Shania harus bagi kasih sayang Ayah. Dan hari ini,
beasiswa dan title murid teladan buat Shania, harus di cabut karena dia.! Dia
bikin ulah di sekolah Yang, kepala sekolah bilang, gimana Shania mau kasih
teladan buat anak-anak di sekolah, sedangkan adik Shania sendiri terlibat kasus
kriminal. Nabilah ngeselin Yang, Shania benci Nabilah. Shania pengen Nabilah
nggak ada di sini.” Jelas Shania panjang lebar pada Eyang, dia tengah tiduran
di pangkuan Eyang, dengan nadanya aku dapat memastikan dia menangis.! Karena
itu juga, aku tanpa sadar meneteskan air dari liang mataku, karena ternyata aku
yang membuat Bunda meninggal, dan ini alasan Shania sangat membenciku.
“Shania, kamu nggak
boleh ngomong gitu Sayang.” Ucap Eyang merapikan rambut Shania yang berantakan
di wajahnya.
“Tapi eyang, Nabilah
itu selalu bikin onar, dia tuh...ihh pokoknya nyebelin yang. Shania ngerasa
Shania sama Nabilah selalu beda. Shania malah ngerasa, Nabilah bukan adik
kandung Shania.!” Ucap Shania, dan sukses membuat petir yang entah darimana
menyambar hatiku, menyambar pertahananku, dan membuatnya runtuh.!
“Mungkin ini waktunya
Eyang bicara soal panti asuhan itu, yang sebenarnya....” Ucap Eyang yang
langsung terhenti ketika aku hendak berlari namun menabrak tempat sampah yang
ada di depan kamar Shania, kemudian Shania dan Eyang mencoba mengejarku, tapi
aku masih terus berlari, dengan air mata yang tak kupinta keluar, tapi
membanjir begitu saja.
‘Aku bukan anak kandung
Ayah dan Bunda.’ Pikirku mengencangkan lariku. ‘Aku penyebab kematian Bunda.’
Semakin cepat. ‘Shania benci aku. Shania nggak sayang aku.’ Cepat!! Hingga saat
ku tengok kebelakang, dan berbalik aku merasa menabrak sesuatu dan semuanya
menjadi gelap.!
Aku membuka mataku, kepalaku terasa sakit, dan berat
hingga membuat pandanganku sedikit berputar.
“Nabilah...” Sapa
seseorang, namun pandanganku yang masih kabur, aku memegangi kepalaku,
sungguh.! Sakit.!
“Aku dimana ??” Ucapku
saat menyadari aku berada di sebuah kamar, tapi bukan kamarku.
“Ini kamar Kak Stella,
Nabilah.” Ucap Kak Stella yang duduk di pinggir ranjang yang sedang kutiduri.
“Kenapa Nabilah disini
?” Ucapku masih belum ingat apa-apa.
“Tadi kamu dijalan
nabrak tiang iklan, sampai kamu pingsan. Jadi kakak bawa kamu ke rumah, karena
lebih deket rumah Kakak daripada rumah kamu.” Jelas Kak Stella, aku mencoba
mengingat kejadian tadi. “ Tadi kata dokter kepala kamu memar, sebaiknya kamu
istirahat aja.” Lanjut Kak Stella, kemudian muncul Mamah dan Papah Kak Stella
dan Sonia.
“Nabilah, kamu sudah
bangun nak ?” Tanya Tante Lanny (Nama mamahnya Kak Stella sama Sonia)
“Udah, maaf ngerepotin
Tante, Om.” Ucapku sungkan.
“Nggak papa Nabilah.
Stell, ambilin minum dulu buat Nabilah.” Ucap Tante Lanny yang sekarang
menggantikan posisi Kak Stella di sampingku.
“Kamu cantik yah, kaya
Bunda kamu.” Ucapnya memerhatikan wajahku.
“Makasih tante.” Ucapku
singkat, salah tingkah. Tak berapa lama, akhirnya Kak Stella datang membawa air
minum, dan Tante Lanny membantu meminumkannya padaku. Setelah beberapa lama
akhirnya Mamah Papah Kak Stella meninggalkan kami bertiga, hingga tiba-tiba
Shania muncul.
“Ayo pulang.!!” Ucap
Shania menarik kasar tanganku.
“Nggak.! Nabilah nggak
mau pulang.!” Ucapku berontak dan menarik tanganku, tapi Shania semakin
menarikku.
“Shania sakit.!” Aku
masih mencoba menarik tanganku dari cengkaraman tangan Shania yang tenaganya
jauh lebih besar dibandingku.
“Shania, aku nggak
pulang.! Aww..” Aku tetap berontak dan tiba-tiba kepalaku sakit kembali. Kak
Stella pun akhirnya menghampiri kami, walaupun awalnya mereka diam karena
mungkin tak ingin ikut campur, tapi akhirnya Kak Stella mengajak Shania bicara.
Tante Lanny yang melihat kejadian itu, akhirnya memapahku kembali ke kamar Kak
Stella. Sesampainya di kamar, perasaanku campur aduk, malu, sedih, marah, jadi
satu.
“Lho, ko Nabilah nangis
?” Tanya Tante Lanny.
“Nabilah malu tan,
maafin Nabilah, Nabilah nggak mau pulang, nggak mau tan.” Ucapku menjadi-jadi.
“Nabilah boleh disini
sampai Nabilah tenang. Nabilah nggak usah takut, ada Kak Stella, ada Sonia, ada
om sama tante juga. Kita juga nggak keberatan ko, tapi Nabilah jangan nangis
ya.” Ucap Tante Lanny menenangkanku sambil memelukku.
“Nabilah sedih tante,
Shania bilang Nabilah yang nyebabin Bunda meninggal. Shania bilang gara-gara
mertahanin Nabilah, Bunda meninggal. Bahkan Shania juga bilang kalau Nabilah
bukan adik kandung Shania. Eyang juga bilang panti asuhan, pasti Nabilah mau
ditaruh di panti asuhan deh, Nabilah nggak mau tante..”Ceritaku sesenggukan.
“Nabilah, kalau masalah
bundamu, Tante juga akan ngelakuin hal yang sama buat mertahanin anak secantik,
sepinter kamu, bidadari kecilnya bundamu. Tapi, kalau masalah panti asuhan,
tante juga nggak tau, sayang.” Ucap Tante Lanny, Sonia tertegun memperhatikanku
dan Mamahnya berbicara.
“Yaudah, Nabilah
istirahat yah, biar Tante tinggal keluar dulu.” Lanjutnya kemudian mencium
keningku, lalu meninggalkanku dan Sonia di kamar.
“Bil, sabar yah. Semua
ini pasti akan cepat berakhir, aku kan selalu nemenin kamu, janji deh.!” Kata
Sonia menghampiriku, kemudian aku masuk dalam pelukan Sonia.
“Makasih son, kamu
memang sahabat terbaik aku.! Maaf ya, aku sering ngerepotin kamu.” Ucapku masih
dalam pelukan Sonia.
“Aku seneng ko kamu
repotin. Aku juga mau kamu repotin tiap hari, asalkan kamu nggak sedih dan
nangis kaya tadi. Aku nggak suka liat sahabat aku sedih.” Jawab Sonia, akhirnya
kita mengobrol ke sana-ke mari tapi nggak ke hati kamu, hingga akhirnya kita
terlelap di satu ranjang yang sama, kalo nggak salah tadi katanya ini kamar kak
Stella, mana Kak Stella nya ?? (Lagi sama penulisnya bil, tenang aja)
Aku, akhirnya beberapa hari ini tinggal di rumah Kak
Stella, ahh keluarga Sonia sangat menyenangkan, tenang, nggak ada
berantem-beranteman, semuanya persis di buku cerita tentang indahnya sebuah
keluarga.
Hari libur tiba, pagi yang menyenangkan untuk berkumpul
dengan kuluarga, keluarga Sonia sih, tapi aku jadi kangen rumah, kangen si
Jangkung yang nyebelin. Tapi...apa Shania juga kangen aku ? hmm, sepertinya
nggak penting aku mikir sejauh itu, mana mungkin Shania kangen sama aku, dia
pasti lagi santai-santai dan tenang tanpa ada aku, hmm ntahlah, jadi gelisah.
“Hei, nglamun.!” Ucap
Sonia mengangetkanku.
“Hehe, nggak ko Son.
Lagi mikir aja, kapan yaa keluargaku sedamai keluarga kamu.” Ceritaku, Sonia
duduk di sebelahku, di taman belakang rumahnya.
“Hmm, semua pasti akan
indah pada waktunya Bil, percaya deh.”
“Ceilaahhh so bijak
nihh..” Gurauku agar suasana tak lagi sendu.
“Emang aku bijak ko.”
Timpalnya, bukan menanggapinya lagi, aku justru memikirkan seseorang yang
harusnya ada di antara aku dan Sonia.
“Heyy. Ko malah
ngelamun lagi sih.” Sonia memukul tanganku yang ku pakai sebagai tiang penahan
daguku, alhasil tanganku roboh dan aku tersadar dari pikiranku.
“Kamu jail banget sih
sonnnn.” Keluhku geram..
“Lagian kamu ngelamun
melee, akunya dicuekin.” Katanya ngambek dan menyenderkan tubuhnya di kursi.
“Ayana.” Singkatku,
Sonia bereaksi, wajahnya berubah sendu mengingat Ayana.
“Dia kenapa yah, dari
waktu itu, setiap ada aku, dia selalu menghindar, setiap aku deketin, malah
marah marah, bentak-bentak aku, pokoknya bukan Ayana banget deh..” Ungkapku
atas kegelisahan pikiranku.
“Tau deh, aneh tuh
anak.” Kata Sonia singkat.!
“Soniaaa, bantuin mamah
masak yuk.” Teriak Tante Lanny memanggil Sonia.
“Sonia mau bantuin
papah beresin taman mah.” Ucap Sonia kemudian berlari ke Ayahnya yang dari tadi
nampak sibuk merapikan tanaman.
“Biar Nabilah yang
bantuin Tante.” Ucapku menghampiri Tante Lanny di dapur.
“Oh iya sayang, boleh
banget. Tante lagi bikin kue, abis mereka beres-beres taman, makan kue pasti
enak kan ?” Kata Tante Lanny sambil sibuk dengan peralatan ntah apa itu.
“Iyaa, hmm baunya udah
enak banget nih Tan. Nabilah jarang banget nyium bau kue di rumah.” Ucapku
sambil mengambil alat pencetak nastar, kemudian mengikuti yang Tante Lanny
lakukan.
“Yaudah sekarang
puas-puasin nyium kuenya. Hehe.”
“Ah Tante bisa aja.
Oiya tante, Nabilah boleh ngomong sesuatu ?” Tanyaku dengan tangan masih asik
dengan cetakan.
“Kalau misal Nabilah
ternyata memang bukan anak kandung Ayah, dan Nabilah mau di taruh di panti
asuhan, Tante mau nggak adopsi Nabilah ?” Ucapku lirih, ragu lebih tepatnya.
Tapi jika tidak dikatakan, pikiran ini terus menerus membuatku gelisah, sampe Kak
Stella bikin single Gelisah :D
“Ko kamu ngomong gitu
sih sayang ?” Tanya Tante Lanny menghentikan kegiatannya kemudian menatapku.
“Nabilah gelisah tan,
Nabilah takut hidup di panti asuhan, Nabilah...” Ucapku yang terpotong karena
tiba-tiba Tante Lanny memelukku.
“Iya, tante mau sayang,
Om juga pasti mau, Stella, dan Sonia juga pasti seneng punya saudara kaya
Nabilah. Jadi Nabilah jangan sedih, dan jangan takut, tante udah anggepNabilah kaya
anak Tante sendiri.” Jelas Tante panjang lebar dengan hangat peluknya sambil
membelai rambutku. Ntah rasa apa ini, tapi aku menangis dalam pelukannya. Ini
pertama kalinya aku merasakan hangatnya pelukan bak pelukan Bundaku, yang ntah
Beliau sempat memelukku atau tidak. Pelukan yang juga tak pernah kudapat dari seorang
kakak perempuan, yang harusnya bisa menjadi Ibu untukku, Shania. Atau Ayah yang
mungkin selalu sibuk bekerja.
***
“Aku nggak kuat
ngumpetin ini semua Cin.! Aku bakal ngaku soal semuanya.” Ucap Ayana yang
tengah berhadapan dengan Cindy, yang tanpa sengaja kudengar saat hendak ke
toilet.
“Kalau sampe masalah
ini ada yang tau, jangan harap papah kamu bisa tetep bekerja di kantor Dedy
aku.” Bentak Cindy, ntah kemana dan darimana alur pembicaraan yang mereka buat.
Dengan Ayana ada bersama Cindy pun sudah membuat aku kaget, apalagi sampai ada
perbincangan yang sepertinya sangat penting dan rahasia, membuatku melahirkan
tanda tanya besar dari kepalaku. Tak berapa lama akhirnya Cindy keluar dari
toilet, yang sukses membuatku langsung bersembunyi di balik tembok. Setelah
dirasa aman, aku pun masuk dan mendapati Ayana yang tengah menundukkan
kepalanya di depan cermin toilet.
“Ayana, kamu nggak papa
kan ?” Sapaku, Ayana yang kaget melihatku berusaha hendak berlari kemudian
meninggalkanku, tapi kali ini aku tak hanya diam membiarkannya pergi, aku harus
tau apa yang terjadi pada Ayana, apalagi sampai berhubungan dengan Cindy, ini
pasti masalah serius.!
“Ayana, kamu kenapa sih
? Kenapa kamu selalu menghindar dari aku ? Kamu marah sama aku ? Aku salah apa
?” Tanya bertubi-tubi setelah berhasil menghentikan laju langkah Ayana.
“Kenapa kamu nggak
benci sama aku sih bil.! Aku udah coba jauhin kamu.! Bentak-bentak kamu.!
Marah-marah sama kamu.! Tapi kamu, kenapa nggak benci sama aku ??” Ucap Ayana
tegas, tapi masih cempreng.
“Hah ? Kenapa aku harus
benci sama kamu ? Kamu sahabat aku, ay.” Jawabku, aku menurunkan nada bicaraku,
dan berdiri sewajarnya (kan tadi abis ngehalangi Ayana)
“Kamu harus benci aku,
Nabilah.! Aku yang salah.! Aku yang buat kamu jadi gini. Aku yang ambil jam
itu, dan aku yang udah, tapi bil.....ah taulahh.!” Ucap Ayana kemudian langsung
pergi meninggalkanku, kali ini aku tak mampu mengejarnya, hendak mencegahnya,
tapi aku masih tertegun dengan pikiranku, kaget, bingung, heran, semuanya
saling beradu mengalahkan siapa yang akan bertahta di pikiranku.
“Jadi...Ayana ?? Tapi
kenapa ?? Buat apa ?? Kenapa harus aku ?? Bukannya selama ini dia anggep aku
sahabat ??” Heranku, akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas, entah apa
tujuanku sebenarnya ke toilet, aku lupa sejak saat aku mendengar kalimat dari
Ayana dengan Cindy.
Sampai di kelas aku menengok ke meja Ayana, dan kosong.!
Keheranan itu masih saja menari-nari tsundere di otakku.
“Bil, kenapa ? Tuh muka
kusut banget.” Tanya Sonia, aku menatap Sonia sebentar kemudian menceritakan
apa yang sudah kudengar dari Ayana.
“Hah ?? serius ???”
Kaget Sonia mengeluarkan matanya.
“Kapan aku ngak serius
sama kamu sih Son.” Keluhku. Dan tiba-tiba teman-teman kelas berlarian ke arah
jendela dan ada yang sebagian yang keluar dan melihat kearah lapangan, oke
fix.! Nabilah penasaran, dan aku segera keluar menuju lapangan.
“Ayana.!” Ucapku kaget,
dia terlihat berdiri di tengah lapangan seraya mengangkat tangannya dengan
posisi hormat ke bendera dengan berkalungkan kertas yang ditulisi ‘AKU
PENCURINYA, BUKAN NABILAH.!’ Ntahlah, kaki ini akhirnya menuntunku mendekat
pada Ayana.
“Kamu apa-apaan sih
Ay.! Turunin tangan kamu,! Ini juga apa ?” Ucapku kesal dan menarik tulisan
yang bergantung di lehernya.
“Aku udah bilang sama
kamu.! Kamu harus benci aku, aku yang udah ngambil jam itu, dan naroh di tas
kamu.! Aku salah, dan aku pantes nrima hukuman ini Nabilah.!” Ucap Ayana masih
dengan posisinya, sama sekali tak berubah meski aku telah memintanya menurunkan
tangannya. Kesal karena tak mendapat respon yang berarti, akhirnya aku
mengambil tempat di samping Ayana, tepat.
“Kamu ngapain
Nabilah.?” Ucap Ayana kaget, melihatku melakukan hal yang sama yang Ayana
lakukan di sini.
“Aku juga salah, karena
aku selalu ribet sama urusan aku sendiri, tanpa tau kalau kamu sebenernya lagi
ada masalah sama Cindy, dan harus nanggung ini sendiri. Ini semua karena Cindy
kan ? jadi aku juga salah.!” Jelasku, kemudian Ayana kembali menghadap bendera,
kulirik sebentar wajahnya yang memerah karena kepanasan bercampur keringat dan
air mata yang akhirnya keluar karenaku.
“Sonia.!” Ucapku kaget,
Sonia mengikuti posisi kami dan berdiri tepat di sampingku.
“Aku juga salah, salah
kalau aku tetap ada di kelas, sedangkan sahabat-sahabat aku ada disini. Kita
kan sahabat, apa yang kalian rasakan, itulah yang harus kurasa juga.!” Ucap
Sonia dengan wajahnya yang ia hadapkan ke bendera.
Akhirnya kami bertiga hari itu berjemur di bawah teriknya
matahari selama berjam-jam, hingga guru memanggil Ayana dan menghentikan
hukumannya. Hari yang sungguh tragis, tapi dibalik itu, akhirnya aku sadar,
arti sahabat lebih dari apapun. Sahabat memahami tanpa memikirkan keegoisan,
sahabat saling merasa, saling menguatkan, dan saling berbagi, yaaa termasuk
berbagi hukuman, berbagi panas matahari, hehe. Tapi itulah sahabat.!
Bel pulang akhirnya berbunyi juga, aku dan Sonia segera
menuju parkiran dan segera pulang. Sampai setengah perjalan, mobil kami mogok,
akhirnya Kak Stella pun menelpon taksi, tapi saat kami tengah menunggu, di
seberang kulihat Shania dan eyang sedang berjalan.
“Ayo Sonia, Nabilah.”
Ajak Kak Stella setelah taksi yang kami pesan tiba, Sonia pun lekas naik.
“Kak Stella sama Sonia
duluan deh. Nabilah tiba-tiba ada urusan, Nabilah pasti langsung pulang ko,
kalo urusannya udah selesai.” Ucapku kemudian langsung bergegas mengejar
target.
“Tapi kamu mau kemana
??” Teriak Kak Stella, tapi aku tak sempat menjawabnya karena harus cepat
menyusul mereka, sebelum hilang dari pandanganku.
Setelah dirasa dekat, akhirnya aku berjalan santai, dan
mengikuti mereka dengan sesekali bersembunyi agar tak diketahui Shania.
Pokoknya kalo di tivi tivi, aku lagi kaya detektif banget deh, tinggal pake
kacamata hitam sambil bawa kaca pembesar, jadi Shania bisa terlihat lebih besar
deh. Lhaa....
Hingga akhirnya mereka sampai di suatu tempat, kemudian
memasukinya. Tempat yang setelah kuselidiki, ternyata adalah Panti Asuhan.
“Panti Asuhan ?”
Gumamku berdiri di balik pohon, yang tadinya aku sangat bersemangat mengikuti
mereka, aku jadi lemas. Pikiranku langsung begitu saja menarik kesimpulan,
bahwa rencana itu akhirnya akan segera terjadi. Kegelisahanku selama ini benar,
dan dalam waktu dekat, mereka pasti akan melakukan itu.
Aku akhirnya kembali, meninggalkan tempat yang mungkin
sebentar lagi akan menjadi tempat tinggalku. Sampai rumah Kak Stella, aku
langsung masuk kamar, mencari Sonia tapi tetap tak ku tak menemuinya, akhirnya
ku ketuk saja kamar kamar Kak Stella, berharap semoga dia ada di sana.
*cklak* akhirnya kubuka
pintunya. Dan terlihat Kak Stella ada di ranjangnya.
“Kak, ada Sonia ?”
Tanyaku.
“Sonia tadi pergi
nemenin mamah, kayanya belanja deh.” Ucap Kak Stella yang tengah duduk memangku
laptopnya, akhirnya kututup lagi pintu kamar Kak Stella. Berdiri sebentar,
kemudian membuka pintunya kembali.
“Kak, sibuk nggak ?”
Tanyaku lagi.
“Nggak ko, nggak begitu
sibuk.” Jawab Kak Stella, aku berfikir sebentar, dan ternyata akumasih ragu,
kemudian menutup kembali pintunya. Masih berdiri di depan kamar Kak Stella, masih
berfikir, masih ragu, dan masih gelisah, sampai akhirnya aku membuka kembali
pintu kamarnya, dan kali ini Kak Stella sudah ada di balik pintu, dengan
melipat tangannya di depan perutnya dan menatapku heran.
“Kenapa ? Bingung
banget. Kalo mau masuk, masuk aja. Nggak usah kaya tadi.” Ucap Kak Stella,
hebat ya dia, peka banget.! (Iya bil, peka BANGET.!)
“Udah sini, masuk.
Terus cerita ke Kakak.” Kali ini tanganku ditarik Kak Stella, membawaku ke
balkon kamarnya. (Bil, tukeran posisi plis ><)
“Sekarang cerita
kenapa...” Ucap Kak Stella mengawali.
“Tapi....nggak enak
ceritanya.” Kataku masih saja ragu.
“Kenapa nggak enak ?
Kak Stella kan udah bilang, kalau Nabilah mah cerita, Kakak siap dengerin kok.
Inget kan ??” Kata Kak Stella, (hahhh
coba aja penulis ada di posisi Nabilah :3)
“Tadi Nabilah liat
Shania sama Eyang ke panti asuhan, kayaknya tebakan Nabilah bener deh Kak. Yang
soal Nabilah bukan adik kandung Shania.” Akhirnya aku memulai cerita.
“Terus ?”
“Nabilah ikutin tadi,
Nabilah bingung, Nabilah takut..” Ucapku terpotong oleh suara pintu yang
terbuka keras dari bawah.
“Nabilah.! Nabilah,!”
Ucap seseorang yang kukenal jelas suaranya. Aku dan Kak Stella pun bergegas
turun.
“Ayahh...” Ucapku, ya
benar.! Ayah yang datang, dengan Shania yang membuntut di belakangnya.
“Pulanglah nak, Ayah
rindu denganmu.” Ucap Ayah begitu melihatku. Aku hanya menggeleng dan bersembunyi
di balik tubuh Kak Stella.
“Nabilah, Ayah udah
nggak marah, Shania juga. Ayo pulang.” Ucap Ayah dengan suara tegasnya.
“Nabilah nggak mau pulang
yahh.” Jawabku, kemudian Ayah menghampiriku dan menggandengku dengan kuatnya
hingga ke halaman depan, aku mencoba memberontak, tapi cengkraman tangan Ayah
begitu kuat melingkar di pergelangan tanganku. Akhirnya aku terjatuh, dan Ayah
melepaskanku, aku tersungkur. Terlihat Tante Lanny datang dengan Sonia dan Om
yang baru pulang dari tempat kerjanya.
“Ayah hanya ingin kamu
pulang.! Pulang dan tetaplah di rumah.!” Ucap Ayah mulai marah.
“Apa Ayah akan mulangin
Nabilah ke panti Asuhan ??” Ucapku sambil menangis.
“Kamu ini ngomong apa ?
Shania, bawa adik kamu pulang.!” Jawab Ayah sambil berbalik ke arah mobil dan
Shania mulai mengampiriku.
“Ayahh, Nabilah mohon,
biarin Nabilah disini, Nabilah nyaman dissini, Shania juga pasti tenang tanpa
Nabilah, Nabilah tau...Ayah lelah kan ngerawat Nabilah ? Ayah lelah, karena
Nabilah dan Shania berantem terus. Biarin Nabilah disini.” Kataku berlutut
menghadap Ayah.
“Nabilah nggak tau,
kenapa Nabilah gini, Nabilah Cuma mau tau kenapa Shania benci Nabilah. Kalau
karena Bunda, Nabilah juga nggak pengen lahir di dunia kalau taruhannya nyawa
Bunda. Nabilah tau, Shania sangat benci Nabilah karena itu, iya kan Shan ?”
Ucapku panjang lebar.
“Shania nggak mungkin
benci kamu, Shania kakak kamu Nabilah.!” Ucap Ayah
“Apa Ayah tau, gimana
sedihnya Nabilah waktu liat Kak Stella begitu perhatian sama Sonia ?? disitu
Nabilah berfikir, kenapa Shania nggak pernah ngelakuin itu.” Ungkapku Shania
teridam di tempatnya, menatapku dengan....ntah tatapan apa itu.
“Bahkan ketika Kak
Stella menghapus air mata Nabilah pertama kali. Nabilah inget, selama 14 tahun
ini, Shania nggak pernah ngelakuin itu ke Nabilah. Bahkan Nabilah nggak inget
kapan terakhir kali Shania senyum kearah Nabilah.”
“Ayah.. Nabilah sayang
Ayahh, tapi ijinin Nabilah buat beberapa saat cari tau jawaban dari semua
pertanyaan itu. Ayah, Nabilah kecewa sama semua ini, apalagi waktu Nabilah
dituduh mencuri di sekolah, waktu Ayah nggak mau dengerin Nabilah, Shania yang
ikut nyalahin Nabilah. Nabilah sakit yahh, karena bahkan keluarga lain yang
justru percaya sama Nabilah, bukan keluarga Nabilah sendiri.”
“Nabilah mohon yah,
biarin Nabilah disini. Nabilah mohon.” Aku akhirnya menyudahi kalimatku,
kalimat ungkapan dari perasaanku yang tak tersampaikan.
“Shania.!!” Panggil
Ayah keras. Shania yang hendak memegang tanganku jadi menghindar.
“Ayo pulang.” Lanjut
Ayah, kemudian Shania menghampiri Ayah, kemudian mereka pun masuk mobil dan
melajulah mobil itu dari tempatnya hingga hilang dari pandanganku.
Aku menunduk, apa yang telah aku lakukan ? benarkah
keputusan yang telah kuambil? Sonia menghampiriku kemudian memelukku.
“Kamu baik-baik aja kan
bil ?” Tanya Sonia melepas pelukannya.
“Aku nggak papa Son.”
Jawabku datar, ntah benar atau tidak jawabanku itu, hanya sekadar formalitas
menjawab pertanyaan Sonia.
“Yaudah yuk masuk.”
Kata Sonia membantuku berdiri, kemudian berjalan beriringan masuk rumah.
“Son, aku mau ke dapur
dulu ya.” Ucapku kemudian melesat ke dapur, untuk sekedar minum, namun tanganku
yang ntah kenapa dia menjadi licin, membuat gelas yang ku genggam terjatuh dan
pecah. Karena tak mau merepotkan Tante Lanny, aku pun mencoba membersihkan
pecahan kaca yang berserakan, tapi bodohnya aku, pecahan kaca itu justru
melukai jariku.
“Nabilah, kamu nggak
papa kan ? Udah biarin pecahannya, ayo bersihin lukanya.” Ucap Sonia khawatir
yang melihat jariku penuh darah, kemudian dengan telatennya membersihkan
lukanya dan di obati.
“Nabilah, ayo kita ke
rumah sakit.” Kata Tante Lanny tiba-tiba dengan wajah panik.
“Nabilah nggak papa ko
Tan, Cuma kena kaca doang tadi.” Jelasku memerhatikan luka di jariku yang masih
dibalut oleh Sonia.
“Bukan. Mobil Ayahmu
kecelakaan setelah dari sini, sekarang Ayah kamu dan Shania di rumah sakit.”
Jelas Tante Lanny.
Dyaaarrr,!!! petir yang ntah darimana kembali menyambar
pertahananku. Bendungan air mataku hancur, air mata yang tak ingin ku
keluarkan, menetes sendiri, tanganku bergetar, jantungku berdebar lebih cepat
dari biasanya, keringat dingin mengucur begitu saja di seluruh tubuhku. Ini
semua pasti salahku, hanya salahku.! Iya aku.!
Sesampainya di rumah sakit, kulihat ayah, dia masih belum
sadar, dengan beberapa luka di lengan dan perban di kepalanya.
“Ayah..bangun yah, ini
Nabilah yahh. Ayah, maafin Nabilah. Nabilah udah bandel.” Ucapku sambil memeluk
Ayah. “Ayah bangun yahh, Ayah harus hukum Nabilah, Nabilah yang salah. Bangun
yaahhhhh.” Seseorang menepuk pundakku, membuatu kembali ke posisi awal,
menegakkan tubuhku.
“Bil....” Ucap orang
itu dari atas kursi rodanya.
“Shania..kamu nggak
apa-apa ? Apa yang sakit ? Ngomong sama aku Shan.” Ucapku memeriksa tubuh
Shania kemudian berlutut di depannya.
“Kamu boleh marahin aku
sekarang shan. Kamu boleh ko omelin aku, benci sama aku. Aku emang pembawa
sial, aku yang salah, semuanya salah aku.” Ucapku sambil memukuli kepalaku
sendiri, menyesal.! Namun tiba-tiba Shania memegang tanganku dan menghentikan
pukulan di kepalaku, kemudian menatapku, ini pertama kalinya Shania menatapku
sendu, tak tajam seperti biasanya.
“Aku yang salah, aku
nggak pernah jadi kakak yang baik dan kasih contoh buat kamu. Aku yang nggak
bisa jagain kamu, aku yang harusnya bisa jadi pengganti Bunda buat kamu, bukan
aku yang selalu nyalahin kamu, marah-marahin kamu. Aku juga yang nyebabin
kecelakaan ini.” Ucap Shania dengan matanya yang memerah.
“Aku selalu merasa
kehilangan Bunda, padahal aku juga harusnya tau, bahwa kamu juga pasti sama
kehilangannya seperti aku, aku emang bodoh...” Lanjutnya menundukkan kepalanya.
“Nggak Shan, bukan Cuma
kamu yang salah, aku juga salah. Harusnya aku bisa sedikit lebih sabar buat
ngadepin ini, apalagi sekarang aku tau, bahwa aku ternyata bukan adik kandung
kamu, aku bukan anak kandung ayah.” Aku menggenggam tangan Shania.
“Kamu salah bil, iya
kamu memang bukan adik kandung aku, tapi..”
“Aku udah tau ko Shan,
kamu sama Eyang ke panti asuhan kan ? Kalian pasti mau mengembalikan aku kan ?
aku juga udah ngerasa sejak lama, aku beda sama kamu, kamu yang bertalenta, aku
yang biasa-biasa aja, kamu yang tinggi, aku yang segini-segini aja dan kamu
yang....”
“Aku yang bukan anak kandung
Ayah dan Bunda, Nabilah.!” Ucap Shania cepat, sukses membuatku menghentikan
kalimatku dan tak sempat menutup mulutku.
“Dan aku yang harusnya
kemarin pergi dari rumah, bukan kamu.! Ini juga yang aku bilang sama Ayah
sebelum kecelakaan, terus Ayah kaget dan kehilangan kontrol kemudinya.” Ucap
Shania dengan pertahanan air matanya yang hancur. Aku masih tertegun mencerna
kalimat Shania.
“Shan..nggak mungkin.”
“Kata Eyang, 15 tahun
lalu, Ayah dan Bunda mengadopsiku dari panti asuhan. Mereka mengadopsi aku,
karena Bunda sakit parah di rahimnya, dan nggak mungkin punya anak. Tapi waktu
aku baru satu tahun, keajaiban itu dateng, Bunda hamil, walaupun itu sangat
membahayakan kesehatan Bunda, tapi Bunda tetep mertahanin kandungannya, sampai
kamu lahir bil, walaupun akhirnya Bunda meninggal.” Cerita Shania.
“Ayah berhasil
merahasiakan ini, sampai aku baru tau dari Eyang waktu itu, waktu kamu
memutuskan buat pergi dari rumah. Bukan nggak mau kasih tau kamu, tapi aku
masih belum bisa terima kenyataan ini. Aku nyoba ngajak kamu pulang, tapi kamu
nggak mau.” Lanjut Shania, aku yang sejak tadi menundukkan kepala mendengar
ceritanya, jadi menatap Shania ‘jadi.....’.
“Setelah itu, aku jadi
ngerasa bersalah, aku yang bukan siapa-siapa, tapi aku yang kaya anak kecil, aku
yang sok menguasai, padahal kenyataannya aku bukan anak kandung Ayah dan Bunda.
Kamu harusnya nggak perlu kemana-mana Bil, dan nggak boleh kemana-mana, temani
Ayah. Karena aku akan mencari keluarga kandungku, dan setelah itu aku yang akan
pergi. Dan kamu akan tenang.” Tutup Shania.
“Tapi Shan, kamu nggak
boleh pergi, Ayah juga pasti pengen kamu tetep tinggal.” Ucapku masih belum
begitu percaya atas kenyataan ini.
“Nggak bil, aku udah
memutuskan semuanya. Pihak panti asuhan juga akan bantu cari keluarga aku,
jadi...” Shania menundukkan kepalanya. “Ma..maaf buat semuanya.” ucapnya tak
lancar. “Maafin aku bil, maafin aku yang selalu marah-marah sama kamu, maafin
aku yang selalu nganggep kamu musuh, maafin aku yang selalu nganggep kamu
salah, dan maafin aku buat kemarin yang dikelas, aku harusnya percaya sama
kamu.” Shania menangis.! Aku ikut menangis, aku tak mampu menimpali kalimat
Shania, hanya bisa memeluk Shania, dan untuk pertama kalinya Shania membalas
pelukanku, pelukan yang selama bertahun-tahun aku harapkan. Ternyata aku salah,
aku tidak membenci Shania, aku sangat menyayangi Shania. Hanya saja karena
adanya masalah yang terjadi, membuat semuanya seakan ada sekat yang begitu
tinggi di antara kita.
Hari berlalu begitu saja, Ayah masih belum sadarkan diri,
sementara Shania masih saja asik dengan kursi rodanya, karena tulang kakinya
yang retak, walaupun sekarang Shania sudah tidak dirawat lagi, hanya tinggal mengikuti
therapy untuk bisa berjalan kembali.
Kupandangi wajah Ayah, bayang-bayang masalah itu masih
terngiang-ngiang di kepala yang keras ini. Aku sadar aku salah, aku yang gampang
terbawa suasana dan memutuskan banyak hal aneh. Sekarang aku juga menyadari
banyak hal konyol yang kulakukan. Mengharap keluarga lain menjadi keluargaku,
pikiran macam apa itu ? sedangkan aku punya Ayah yang sangat baik, Ayah yang
dengan tangannya sendiri membesarkanku, Ayah yang selalu berusaha menjadi dua
sosok yang berbeda dalam satu waktu, menjadi Bunda dan juga Ayah. Dan ternyata
akulah yang membuatnya kecewa, hingga semua ini terjadi.
“Ayah..ayah ko nggak
bangun-bangun sih ? Ayah marah ya sama Nabilah, maaf Nabilah udah bentak Ayah
waktu itu. Iyaa Nabilah mau pulang, Nabilah mau berubah demi Ayah, Nabilah
janji Nabilah akan jadi anak baik Yah, tapi Ayah bangun....” Ucapku masih
memandangi Ayah yang belum saja membuka matanya.
“Ayah dari Makassar
belum istirahat ya ? Nabilah tau Ayah capek, tapi Ayah udah tidur lama,
sekarang bangun Yah, liat Nabilah Yah...” Ucapku.
“De..bisa tinggalin
Ayahnya sebentar, dokter akan memeriksanya kembali.” Ucap seorang suster dan
menghentikan kegiatanku.
“Ayah Nabilah keluar
sebentar ya.” Ucapku kemudian mengecup kening Ayah, kemudian bergegas keluar
dari kamar.
“Nabilah.” Sapa
seseorang.
“Kak Stella.” Ucapku
kemudian memeluknya..
“Sonia, Om, Tante.”
Lanjutku.
“Gimana kabar Ayah dan
kakak kamu ?” Tanya Om Winarto.
“Ayah belum sadar dari
komanya om, terus Shania...” Ucapku
menggantung, aku baru teringat, Shania hari ini therapy berjalan, kemudian aku
langsung berlari dan meninggalkan semuanya.
“Kamu mau kemana bil ?”
Teriak Sonia.
“Aku mau nemenin
Shania, titip Ayah yaaa?” Jawabku berteriak juga.
Sampai di ruangan therapy, Shania sudah ada di dalam dan
sudah memulai therapynya.
“Permisi dok, boleh
Nabilah masuk?” Ucapku setelah membuka pintu ruangan.
“Kamu siapa ?” Tanya
dokter itu heran.
“Dia adik saya dok.”
Ucap Shania. Aku yang tadinya menatap dokter jadi berubah menatap Shania. Aku
tertegun sebentar mendengar kalimatnya ‘adik saya’, ntah kenapa, tapi aku
sangat senang. Dia sama sama sekali tak pernah mengatakan itu sebelumnya. Dan
kejadian ini sukses membuatku tersenyum sendiri.
“Oke, kamu boleh bantu
pegangin kakak kamu, dan bantu dia melangkah.” Ucap Dokter, kemudian aku mulai
memegangi tangah Shania, memapahnya, membantu dia melangkahkan kakinya. Beberapa
menit berlalu, Shania perlahan sudah bisa melangkah, tapi karena aku terlalu
lelah, dan Shania memaksa terus mencoba, akhirnya peganganku melemah dan Shania
terjatuh.
“Aduhhh, maaf Shan,
sakit nggak ?” Kataku berjongkok di depannya.
“Ini nih, gara-gara
kaki aku pendek banget. Lagian kamu punya kaki ko panjang banget sih, jadi kan
nggak bisa terkoordinasi dengan baik.” Belum Shania mejawab aku sudah
menyerocos dan menyalahkan dia.
“Makanya Shan,
kapan-kapan kamu cari kaki yang kaya stand mic yang punya itu lho idol grup
yang rame banget yang stand micnya bisa naek turun.” Kataku mencandai Shania.
“Siapa bil rame-rame
??” Tanya Shania.
“Itu lho Shan, yang
nyanyi ai woncyuu, ai nidyuu....” Jawabku sambil mempraktekan gaya idol grup
itu. Shania yang kukira akan marah justru tertawa melihat tingkahku. Fix.! Aku
tersenyum melihat Shania tertawa puas karenaku, tawanya yang seperti itu
benar-benar pertama kali aku lihat, dia sangat puas, dan muka juteknya sama
sekali tak terlihat, hanya muka anak-anak lah yang hinggap di wajahnya.
Seminggu sudah setelah kecelakaan itu, Shania sudah mulai
bisa berjalan lagi walau masih menggunakan tongkat penyangga, Ayah pun mulai
terlihat menggerakkan jari-jarinya, walaupun belum seratus persen sadar.
Aku masih menggenggam tangan Ayah, kali ini ditemani
Shania, yang memegangi pundakku, kami saling memandangi orang yang selalu
merawat kami dari kecil, tangannya mulai dingin, kesedihan itu mulai muncul
kembali di antara kita.
“Bil, kamu kamu nggak
mau nyanyi buat Ayah ?” Ucap Shania.
“Ko kamu tau aku suka
nyanyi ?”
“Ya tauhlah, siapa sih
yang suka konser di kamar mandi berjam-jam sambil tereak-tereak kalo bukan
kamu. Walaupun nggak niat dengerin, tapi kalo di dengerin enak juga.” Jelas
Shania yang sukses membuatku tersipu. Ternyata dia perhatian juga. Aku pun
akhirnya bernyanyi, diikuti Shania yang membuntuti suaraku. Dan ntah karena
terganggu suara kami atau gimana, tapi tangan Ayah mulai bergerak.
“Shan, tangan Ayah.!
Tangan Ayah gerak Shan. Ayaahhh, ayahh.” Aku memanggilnya, Ayahpun mulaai
membuka matanya perlahan.
“Ayah, ini Shania yah,
disini ada Nabilah juga.” Ucap Shania merapat ke ranjang Ayah.
“Shania, Nabilah...Ayah
sayang kalian nak.” Ucap Ayah masih terbata-bata.
“Kita juga sayang Ayah,
Ayah jangan tidur lama lagi yah, kita butuh Ayah.” Ucapku.
“Ayah nggak ijinin
Nabilah pergi, Ayah juga nggak ijinin Shania kemana-mana, tetaplah seperti ini,
kita bertiga dan berempat dengan Bunda di surga. Temanilah Ayah, kalian jangan
tinggalin Ayah.” Ucap Ayah kali ini, berhasil membuat ruangan ini banjir air
mata.
“Nabilah nggak akan
kemana mana yah, Shania juga nggak akan pergi, iya kan Shan ?” Ucapku yang
dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan pada Shania, yang ditanya berfikir
sejenak, namun akhirnya dia mengangguk.
“Iya yah, Shania juga
akan tetep sama Ayah.” Ucap Shania. Jujur, aku sangat senang mendengar ucapan
Shania, lega dia nggak jadi pergi. Secara nggak langsung, ternyata aku takut
Shania pergi, aku takut kehilangan si Jangkung yang super nyebelin.
Semuanya berlalu, semuanya sudah baik-baik saja, semuanya
sudah kembali seperti biasanya, aku dan Shania kembali bersekolah, Ayah kembali
bekerja.
“Lama banget sih.”
Kesal Shania begitu aku sampai gerbang sekolah.
“Hehe, maaf. Tadi ada
urusan bentar.” Kataku, kemudian Shania mendahului berjalan dengan muka
juteknyaa, Yaaahhh kumat.
“Yaelah Shan, maaf.
Nggak usah manyun-manyun gitulah.” Kataku yang kerepotan menyusul langkah
Shania yang panjang-panjang.
“Bodo.” Singkatnya,
kemudian kami saling diam sambil berjalan pulang.
“Eh ikut aku yukk.”
Ajakku, ketika sampai di pertigaan.
“Mau kemana ?”
Tanyanya.
“Udah nggak usah
bawel.” Tanpa basa-basi lagi, aku menarik tangan Shania, yang seharusnya di
pertigaan aku belok ke kiri, tapi malah belok ke kanan.
“Mau kemana sih, bil ??”
Tanyanya di perjalanan, dia sudah mengikutiku namun masih kesal.
“Temenin aja kenapa,
aku mau ke suatu tempat. Salah ya kalau aku minta temenin kakak aku, nanti
kalau aku di culik gimana, terus aku di sekap terus....” Ucapanku terhenti
karena Shania membekap mulutku.
“Iya, aku temenin.!”
Ucapnya sedikit gak ikhlas.
“Udah sampe.! Ayo
naek.!” Pintaku setelah sampai di tujuan.
“Ahh, kamu sehat nggak
bil ? mana berani aku naik ?” Ucap Shania memandangi rumah pohon yang ada di
atasnya.
“Udah deh Shan gak usah
lebay. Waktu itu kamu kan naik, pas aku ketiduran di sana. Aku tau ko, nggak
usah takut jatoh, paling juga jatoh ke bawah, kalo jatohnya ke atas, baru deh
aku yang repot.” Ucapku menyemangati.
“Yeiii, iya deh.
Tapi...”
“Nggak ada tapi-tapian,
udah cepetan.!” Ucapku mendorong tubuh Shania.
Shaniapun walaupun ragu, sudah mulai menaiki tangga,
walaupun aku juga takut kalau dia jatuh karena kakinya yang pernah retak, tapi
dia kan atlet, pasti juga sering jatoh, biasalahhh..
“Sampai juga kan ??
Gitu aja takut, payah kamu shan.” Ledekku begitu aku sampai di atas juga.
“Beneeran deh bil, aku
takut banget.! Apa lagi kalo liat ke bawah, pusing bil.! Turun aja deh yokk.”
Ucapnya gemetar sambil memegangi lenganku ketakutan dengan sesekali melirik ke
arah bawah.
“Yaelahh Shan, udah
sampe atas malah minta turun, naeknya aja susah payah. Udah disini aja,
pengangan aku, terus liat aku deh, jangan liat bawah terus, kan mending liat
aku, cantik kan ?” Ucapku kemudian Shania menatapku, namun dengan alis matanya
yang ia rapatkan.
“Ih apaan, PD. Jelek
gitu, cantikan juga aku.” Katanya mulai terbiasa, sambil melihat-lihat dinding
rumah pohon ini yang kutempeli tulisan-tulisanku.
“Kamu ngapain aja kalau
disini dek ?” Lanjutnya, aku kaget dengan pertanyaannya, lebih tepatnya
panggilannya mungkin.
“Apa ? bisa diulang
nggak ?” Pintaku, kali aja tadi salah denger.
“Hmm, nggak ada siara
ulang.!” Juteknya. “Emang nggak boleh yaa manggil gitu ?? yaudah nggak jadi.”
Shania ngambek.
“Yahh ngambek segala
lagi. Boleh ko, boleh Kak Shania.” Balasku, dan Shaniapun terlihat menahan
tawanya mendengar kalimatku, dan akhirnya kamipun tertawa lepas bersama-sama.
“Lucu yah kita. Manggil
yang seharusnya malah kedengeran aneh. Dek Nabilah, Kak Shania. Haha..” Ucap
Shania ketika tawa kami mulai mereda.
“Mungkin belum biasa
aja yah Shan, eh Kak. Hehe.”
“Makanya harus
dibiasain bil, eh dek. Yah ikut-ikutan lupa.” Ucap Shania, eh Kak Shania (lahh
penulis jadi bingung)
“Lucu juga aku
dipanggil kak sama kamu dek, :D” Lanjutnya.
“Eh iyaa, kamu belum
jawab pertanyaan kakak, ngapain kalo disini ?” Tanya mengulang.
“Ngapain yahh ? ya
ngapain aja kak. Yang nggak bisa Nabilah lauin di luar sana, tiduran, nulis,
nggambar, nyanyi, cerita bunda, atau paling liatin langit aja.” Ceritaku.
“Hayyooo, sering cerita
apa ke bunda. Pasti jelek-jelekin Kakak. ?” Tuduh Kak Shania.
“Iyaa, abisnya...”
“Bunda, jangan percaya
sama semua yang diomongin Nabilah ya ? dia tuh suka bohong, Shania nggak pernah
marah ko bun, Shania juga jarang ngomel.” Ucap Shania memandang langit bak
berbicara pada Bunda.
“Kak Shaniaaaa, jangan
bohong, nanti bunda sedih lhoo..” Ucapku mengingatkan.
“Eh jangan sedih bunda.
Iya Shania pernah marah, tapi itu karena si kubil bandel, suka jail, iseng,
nyebelin bawel..”
“Kak....” aku mengingatkannya
lagi.
“Iyaaa, tapi Nabilah
baik ko bun, Shania yang salah. Shania belum bisa gantiin bunda, Shania belum
bisa bikin Ayah sama Nabilah seneng, Shania ngerti sekarang kenapa Bunda kasih
Nabilah sebelum Bunda pergi, Bunda pengen Shania nggak kesepian kan ? Bunda
pasti sedih pas Shania sama Nabilah berantem, maafin Shania ya bunda, Shania
janji jaga Ayah, jaga Nabilah juga, Shania sayaaaannng banget sama Bunda.”
Ceritanya panjang lebar, sambil memandangi langit.
“Kak ?? udah curhatnya
??”
“Peluk Nabilah.” Ucapku
sambil membuka tanganku, dan langsung di turuti Shania.
“Kakak janji dek, bakal
ngelakuin apapun demi kamu. Kakak nggak akan bikin kamu sedih lagi.” Katanya
dalam pelukanku.
“Iya Nabilah juga janji
nggak akan nakal lagi. Pokoknya kita jangan berantem-berantem lagi ya Kak. ?”
Aku meminta persetujuan, kemudian di jawab anggukan oleh Shania yang telah
melepas pelukannya.
“Dek...” “Turun yukk.”
Pinta Shania yang sepertinya sudah mulai teringat akan phobianya.
“Kak Shania turun
duluan aja.” Aku menggodanya.
“Ihhh kamu tuh ya.
Kakak takut, mending kamu duluan deh, jadi kalau kakak jatuh, kamu nangkep dari
bawah.” Shania panik.
“Iya deh, aku turun
duluan.” Ucapku akhirnya turun dari rumah pohon, dan langsung berlari
meninggalkan Shania.
“Nabilaahhh mau kemana
? tunggu Kakak di bawahh.” Shania berteriak.
“Bodoo ahh.! Udah laper
tau.” Ucapku menjulurkan lidahku.
Semuanya akhirnya selesai dengan Happy Ending, Shania *eh
Kak Shania kini bisa menerimaku sebagai adiknya, begitupun aku. Semua mungkin
tak akan terlupa begitu saja kenangan berantem, marahan, sampe nangis bareng
akan selalu mengikuti, bahkan bisa jadi cerita lucu esok hari yang akan kami
ceritakan kepada turunan Nabilah dan Shania. Inilah kisahku, menjalani hidup
dengan ceria walaupun banyak masalah, tapi yakinlah semua pasti ada jalan
keluarnya, namanya awal pasti ada akhir. Mulailah tersenyum saat ini jadikan
masalah sebagai teman.!
“Nabilaaahhhhhh.
Kamu kemanain sepatu Kakak.” Teriak Kak
Shania memulai babak baru.
“Maaf kak. Nabilah lupa,
kemaren pinjem buat tutup lubang tikus di kamar.” Ucapku sambil berlari, kabur
dari Kak Shania
“Nabilaaaaahhhhhhhhhhhh.!!!
Jangan Lariiiii.!!!”
END.
