Selasa, 08 April 2014

Nabilah, RUNNING.!!!



Cerita ini hanyalah FIKTIF BELAKA, kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu DISENGAJAKAN :D bukan maksud plagiarisme, ini cerita kolaborasi saya dengan seorang teman saya :D itu saja.! happy reading.! Nabilah, RUNNING.!!! 

            Perjalanan ini di mulai dari kejadian itu, ketika Ayah dan Bunda berbahagia atas kehamilan Bunda, yaitu saat mengandung aku. Walaupun awalnya mereka kaget, karena jarak umur Kakakku dan aku tidak terlalu jauh, tapi Ayah bilang, ini semua pasti akan mudah karena kakak adik yang umurnya tidak terpaut jauh, akan menjadi seperti teman.
            Anehnya, saat Bunda mengandungku, anak pertama Bunda yaitu Kakakku selalu menangis kalau di dekati Bunda, bahkan saat Bunda menggendongnya dia selalu histeris. Mungkin di matanya ketika Bunda hamil, menjadi sosok yang menyeramkan, dengan perut besar yang selalu menghantuinya, atau mungkin matanya bisa menembus pandang perut Bunda, hingga ia melihat keberadaanku yang mungkin seram untuknya. Ntahlah, mungkin dia lelah.
            Sembilan bulan sudah kulalui hidupku di kandungan Bunda, tempat yang gelap, namun begitu hangat dan terasa nyaman, hingga tubuhku semakin membesar dan membuat perut Bunda terlalu bosan untuk menyimpanku di dalamnya, sampai akhirnya aku menerobos keluar, dan menggemalah tangisku di dunia yang sangat jauh berbeda dari duniaku sebelumnya. Kata Ayah, aku menangis sangat kencang, dan katanya juga aku terlahir seperti bidadari yang baru turun dari langit, bukan jatuh dihadapanmu, kemudian menangis ‘eeeaaa’.  Tapi......sayangnya Bunda diambil Allah beberapa saat setelah aku lahir, membuatku tak sempat mengetahui bagaimana wajahnya saat itu, bagaimana cantiknya paras orang yang membiarkanku hidup di tubuhnya selama 9 bulan.


            Namaku Nabilah, Nabilah Ratna Ayu Azalia. Teman-temanku biasa memanggilku Nabilah. Aku.....aku ya seperti ini, sedikit jail, sedikit iseng, sedikit bawel, sedikit.....apalagi yaa, pokoknya Cuma sedikit ko, tenang aja. Tapi aku sangat cantik, sangat imut, sangat lucu, dan sangaaatttt mempesona, kali ini baru sangat.! Dan jangan sampai terbalik ya.! :D
“Nabilaahhhhhh, kamu apain lagi sepatu basketku ? Kenapa warnanya jadi item gini.!” Teriak seorang perempuan yang berdiri di hadapanku dengan ekspresi sangarnya sambil menunjukkan sepatu yang warnanya sudah tak jelas itu.
“Oh itu, Kemarin Nabilah dikejar anjing tetangga, terus yang Nabilah pegang Cuma sepatu itu, jadi Nabilah lempar aja, ehh bukan kena anjingnya malah masuk keselokan.” Jawabku santai. “Eitss, tapi tenang aja, Nabilah nggak papa ko, nggak luka sama sekali.” Lanjutku masih memasang senyum biasa-biasa saja.
“Tapi kan kamu tau, ini sepatu......” Ntahlah apa lanjutan dari kalimatnya tadi, aku terlalu pusing mendengar ocehan panjangnya, kukeraskan saja volume headset dari I-Pod yang sedari tadi menyumpal telingaku.
            Oh ya, dia kakakku, namanya Shania Junianatha, pendek amat ya namanya, beda dengan namaku yang puuaaanjang. Waktu itu, aku pernah bertanya pada Ayah, kenapa namaku lebih panjang dari namanya, tapi Ayah bilang, Bunda nulisin namaku sebelum Bunda meninggal, jadi kalau di tanya kenapa, tanya saja sama Bundaku di Surga ;) Oke kembali lagi ke kakakku, Shanju, itu nama kerennya, tapi dari nama pendeknya itu, dia tumbuh dengan postur yang panjang, kakinya panjang, tangannya panjang, rambutnya panjang, pokoknya panjang semua deh, tau deh apalagi yang panjang, sedangkan aku ? kaki pendek, tanganku pendek, rambutku juga pendek, mungkin aku keberatan nama, jadi gak mau tinggi kali ya ni badan.
“Shania, Nabilah.” Suara Ayah memanggilku, dan membuatku langsung berlari menemui Ayah di meja makan untuk makan malam.
“Halo Ayah.” Ucapku sambil mengecup pipi Ayahku kemudian duduk di tempat biasanya.
“Hai Yah.” Sambung Shania langsung mengambil tempat di hadapanku, padahal Ayah sudah bersiap untuk menyodorkan pipi, tapi Shania malah mencampakkannya, sabar ya Yah. :)
“Kamu kenapa Shan ? Muka kamu ko di tekuk kaya gitu.” Ucap Ayah membuka sesi tanya jawab di acara makan malam ini.
“Shania lagi dapet kali Yah, dari tadi bawaannya marah-marah sambil manyun-manyun mulu.” Ucapku meledek Shania yang sejak awal kalimatku sudah menatapku geram.
“Apa sih kamu bil, bikin tambah BT aja.!” Ucap Shania menendang kakiku yang ada tepat di depan kaki panjang Shania.
“Ye, santai dong Shan, gak usah nyolot pake nendang-nendang segala.” Balasku, karena tak mau kalah aku menendangkan kakiku, maksudnya ke kaki Shania, tapi malah yang kena kaki Ayah. Kakiku kependekan kali.
“Ehh, maaf yahh.” Sesalku, air muka Ayah seperti menahan sakit.
“Kamu sih bil, kasian Ayah kan.” Shania menyalahkan.
“Yang duluan nendang-nendang kan kamu.!” Aku masih tak mau kalah.
“Cukuuupp.!!” Bentak Ayah, sukses membuat mulut kita terjahit saat itu juga.
“Kalian tiap waktu berantem, ada  aja yang diributin, masalah kecil bisa jadi besar. Kalian itu kakak adik, tapi sikap kalian malah kaya musuh. Udahlah Ayah pusing.” Ucap Ayah kemudian meninggalkan meja makan. Kita berduapun saling menatap dengan tanduk yang muncul dari kepala kita masing-masing, tapi di sisi lain aku lega, karena kali ini tak mendapat hukuman. Tapi ini tak berlangsung lama sepertinya.
“Karena kalian berantem terus, mulai besok dan seminggu ke depan, Ayah tidak akan mengantar kalian ke sekolah, dan uang jajan Ayah potong.” Yahh benar, Ayah berteriak dari kamarnya.
“Tapi yahh...” Ucapku dan Shania yang ntah badai darimana, tumben bisa kompak.
“Keputusan Ayah tidak bisa di ganggu gugat.!” Tutup Ayah.

“Kamu sih Bil.” Ucap Shania menarik rambutku yang kuikat menjadi dua, kemudian pergi begitu saja.
“Yang duluan siapa coba.” Balasku.
“Gak mau tau.! Pokoknya salah kamu.” Ucap Shania lagi dari tangga sambil menjulurkan lidahnya.
            Yap, inilah kita, setiap waktu ada saja hal yang diperdebatkan, jujur saja, kadang aku bosan beradu mulut dengan Shania, tapi dia....dia itu egoisnya keterlaluan, tiap waktu marah-marah, dan aku yang kena omelannya, padahal masalahnya saja aku gak tau apa. Oh ya, seperti prologku di atas, usiaku dan Shania tidak terpaut jauh, hanya 14 bulan, tapi kita di sekolah beda 2 tingkat, aku kelas 2 SMP, dia kelas 1 SMA dan itu disebabkan karena ketika aku hendak masuk SD, Shania ngambek dan nggak mau kalau aku dan dia Cuma beda 1 tingkat, akhirnya dengan segala kerendahan hati aku masuk di tahun selanjutnya. Ntahah apa yang ada dalam pikiran Shania, aku gak tau dan gak mau tau.!
***
            Pagi menjelang, udara segar menyapaku dan bermain di kulitku yang tengah menatap diri di cermin sambil merapikan rambutku. Ntah kenapa, jika diam seperti ini aku selalu memikirkan bunda.
“Pasti Bunda juga cantik, secara anaknya juga cantik banget gini.” Ucapku sambil menatap bayangan diriku di cermin.
“Woi.! Buruan, ngaca mulu. Ditunggu Ayah sarapan di bawah.” Ucap Shania membuka kamarku begitu saja.
“Iya, bawel.!” Jawabku sambil mempercepat tempo gerakanku untuk bersiap.
            Setelah sarapan selesai, Ayah langsung berangkat ke kantornya dan meninggalkan kami berdua. Ayah benar-benar menerapkan hukumannya.
“Buruan.! Lelet banget sih kaya siput.” Ucap Shania yang berjalan beberapa meter di depanku.
“Tungguin Shan, berat nih bawaan hari ini.” Jawabaku kerepotan membenarkan tas dan buku yang ku jinjing karena tasku sudah penuh.
“Bodo amat.” Singkat Shania acuh dan melanjutkan jalannya. Aku pun tak mau berjalan lambat, hingga aku berlari lebih dulu mendahului Shania, sampai jarakku dan Shania sudah lumayan jauh, aku kembali berjalan santai.
“Aduuhhhh....” Shania mengaduh, akupun refleks berbalik badan, dan benar.! Bodohnya Shania pagi-pagi gini udah mau mesra-mesraan sama aspal, yaa begitulah. Beberapa detik aku hanya diam di tempatku, sebenarnya tawaku ingin aku ledakkan melihat wajah Shania yang mengiba dan kesakitan, tapi kasihan, akhirnya aku menghampiri Shania dan menolongnya. Walaupun gak ikhlas.
“Kamu kenapa Shan ? Gak papa kan ? Ayo Bangun.” Ucapku sambil membantu Shania berdiri, setelah berhasil berdiri, malah Shania mendorongku sampi berganti posisi, aku lah yang terduduk di atas aspal, dan dia malah lari dengan tertawa puas.
“Shaniaaaa, nyebelin banget sih.!” Gerutuku, aku pun akhirnya berdiri dan berjalan lagi.
“Ko aku bisa punya kakak model gitu ya. Kalo bukan kakak, udah aku  tembak pake pistol maenan aku. Hah.!”Kesalku berjalan dengan santainya memperhatikan Shania yang berjalan jauh di depanku. Di tengah kegondokanku, tiba-tiba mobil dari arah belakang menepi dan membunyikan klakson ke arahku.
“Hay Nabilah, ngapain jalan kaki ?” Ucap seseorang dengan poni depan dan pipi jatuhnya menyapaku dengan melongokkan kepalanya dari jendela.
“Ehh, Sonia. Iya nih, lagi kena hukum.” Jawabku jujur pada anak yang belakangan diketahui adalah teman sekelasku.
“Wah kasian, yaudah bareng aku aja.” Tawar Sonia. Bak gayung bersambut, akupun langsung menerima tawaran Sonia, dan menaiki mobil Sonia. Kemudian mobil pun melaju dan melewati Shania yang berjalan dengan wajahnya yang masih sama seperti sejak dia berlari meninggalkanku, dengan jailnya aku melongokkan kepalaku di jendela mobil kemudian menjulurkan lidahku meledek Shania, seakan berkata ‘Rasain .! siapa suruh ngerjain Nabilah.’
“Hai Bil.” Sapa seseorang dari sebelah Sonia tepatnya.
“Eh Kak Stella. Hai kak.” Aku balik menyapanya, dia Kak Stella, kakaknya Sonia, setauku dia sekelas dengan si jangkung yang super nyebelin, Shania.
“Tumben gak di anter ? Shania mana ?” Tanya Kak Stella menatapku kepo.
“Tuh tadi udah kelewat, kita lagi dihukum.” Jawabku disambut tengokan kompak kedua kakak beradik ini.
“Kenapa gak bareng aja tadi dek ? kan kasian, jalan sendiri.” Ucap Kak Stella iba, tapi harusnya sih yaa kalo orang mau nawarin gitu harusnya udah minta supirnya melanin mobilnya, terus berenti dan nunggu si jangkung itu. Harusnya sih, tapi syukurlah, Kak Stella tak melakukan itu.
“Gak usah Kak, lagian tadi katanya lagi pengen jalan sendiri, mau besarin betis kayanya deh, biar gak keliatan kurus.” Jawabku ngasal, dan ntah kenapa mereka tertawa begitu saja.
            Perjalanan ke sekolah yang sudah tidak terlalu jauh, aku gunakan untuk mengobrol dengan Sonia dan Kakaknya. Mereka begitu hangat, saling menyayangi, pokoknya bedalah sama hubunganku dan Shania. Dan perjalanan pun berakhir di depan sekolahku.
“Hati-hati turunnya, ntar jatoh lho.” Kata Kak Stella sebelum aku dan Sonia keluar dari mobil.
“Iya kak.” Kataku kemudian keluar mobil.
“Oh iya Kak, makasih ya tumpangannya, sering-sering boleh kali.” Basa-basiku setelah kami bertiga menapakkan kaki di halaman sekolah.
“Bisa aja kamu bil.” Kak Stella tersipu, “Yaudah, Kakak masuk kelas dulu ya. Kalian belajarnya yang rajin.” Tutup Kak Stella yang akhirnya berjalan mendahuluiku dan Sonia.
“Yok Bil, masuk kelas.” Ajak Sonia menggandeng lenganku.
“Eh Son, Kakak kamu baik yah. Pasti seneng deh punya kakak kaya Kak Stella.” Kataku iri dengan perhatian Stella pada Sonia.
“Iya sih bil, tapi terlalu diperhatiin juga jatohnya kaya anak kecil.” Keluh Sonia.
“Ih, tapi kan enak. Jadi ngerasa ada yang perduli sama kita. Gak kaya Shan....” Ucapku yang terpotong karena senggolan keras yang mengenai bahu kananku, dan kemudian orang berpostur tinggi itu meninggalkanku tanpa tengokan sedikitpun.
“Tuh.! Gak kaya dia tuh.! Boro-boro merhatiin aku, nggak ngajak berantem semenit aja udah untung banget.” Kesalku pada Shania yang ku tumpahkan pada Sonia.
“Haha, Yaudahlahya. Ayo masuk.”
            Jam pelajaran hari ini pun dimulai, tapi jam pertama di kelasku kosong, jadi bisa nyantai di pantai, asik kaya di tasik, slow kaya di moscow, dan berlibur di cibubur. Tapi hal ini sepertinya tidak akan terjadi padaku, di luar terdengar riuh dari lapangan basket.
“Bil, Ka Shanju tuh.! Three on three.!! Keren bangeeett.!” Ucap salah seorang teman kelasku, dan sukses membuat teman yang lain beranjak dari duduknya dan berhamburan menuju lapangan basket, hanya untuk melihat pertandingan yang sedang dimainkan Shania. Aku ?? sama sekali tak tertarik melihatnya, tapi karena Sonia memaksaku, dan mengancam akan menangis bila aku tak menurutinya, akhirnya aku pun membutut Sonia.
“Keren banget kakakmu bil, ih liat tuh cara dia masukin bolanya. Keren banget!!” Kata Sonia dengan hebohnya, aku melirik Sonia sekilas kemudian membuang pandangan malas ke lapangan basket.
“Ihhh, Nabilah Sonia.! Ko ke sini gak ngajakin aku sih.!” Ucap seseorang berkuncir dua dengan muka agak arab, tapi gak mirip onta, dan matanya gak bisa kebuka.
“Lha, muncul darimana kamu Ay. Bukannya tadi lagi tidur di kelas.” Kataku justru lebih memperhatikan Ayana dibanding pertandingan tak penting itu. Oh ya, dia juga sahabatku di sekolah, tapi lebih sering ketinggalan karena dia lebih bersahabat dengan tidurnya.
“Aku kan kaya virus, tanpa sempat kalian sadari aku sudah ada disini.” Kata Ayana yang matanya ia arahkan ke lapangan basket.
“Yaelah, virus berbentuk hati kalii.” Protesku.
“Eh bil.! Tuh kakak kamu tuh, keren banget maennya, tapi ko nggak nurun ke adeknya yaa.” Ucap Ayana tak menghiraukan protesanku.
“Biasa aja.! Biasa banget malah. Tau ahh, bete.!” Kesalku, kemudian meninggalkan kedua sahabatku yang akhirnya saling menyalahkan.
            Sesampainya di kelas, keadaan masih sama, masih ngomongin kehebatan Shania. Iya sih emang keren, bangga sih, tapi banyak keselnya, dia mulu yang dipuji-puji. Lagian kalo mereka muji-muji Shania pasti ujung-ujungnya ngledekin aku. Gak nurun ke aku lah, adeknya gak sehebat kakaknya lah. Ntahlah..
            Oh ya, walaupun beda tingkat dengan Shania, aku SMP dan Shania SMA, tapi kita masih satu sekolah, apa sih itu namanya kalo yang SMP sama SMA nya satu tempat gitu, yaa pokoknya gitulah.
“Halloooo Nabillllllaahhhhh..” Sapa geng lebay dikelasku, kompak.!
“Apaan.?” Tanggapku hanya melirik sekilas.
“Liat tuh Kak Shania udah pinter, bertalenta. jago basket, volley, karate, cantik, tinggi, ideal, tapi adiknya ???” Ucap ketua gengnya yang sepertinya bernama cindy, ya sepertinya. Aku masih diam menanggapi ocehan anak berkacamata gede, yang muka dan gaya sok diimut-imutin.
“Adiknya iuuuhh banget cin, ihh..” Timpal ochi, buntutnya cindy, buntut yang satu lagi yang diberi nama octi hanya mengangguk-angguk mengiyakan kata ochi.
“Apa sih.! Terus kalo aku nggak bertalenta, kalian apaan ? cewe-cewe ganjen ga jelas yang bisanya Cuma ngejekein orang. Punya kaca kan ?.” Ucapku, akhirnya emosi yang ku tahan meluap juga, untunglah pengajarpun datang dan membubarkan aksi bully oleh genk kampret.
            Inilah  moment yang paling tak kusuka, ketika Shania mulai beraksi di sekolah, segala pertandingan di ribetin, di buat heboh, dibikin keren, bikin Shania keliatan sangaaattt hebat dibandingkan aku yang keliatan sangat bodoh. Oke, thanks Shanju.! Aku rapopo.
            Bel sekolah akhirnya berbunyi, pelajaran hari ini berakhir sudah, akupun sesegera mungkin berlari keluar sekolah, rasanya sedari tadi pagi suasana sekolah sangat menggerahkan, siapa lagi penyebabnya kalau bukan si jangkung itu.
“Nabilah.!” Teriak Sonia yang kutinggal kemudian mengejarku.
“Kenapa ?” Tanyaku serius pada anak yang menghentikan laju cepat kakiku.
“Mau barang nggak ?” Sonia menawari tumpangan, dia baik yaa....
“Nggak deh son, aku mau ke suatu tempat dulu. Makasih tawarannya, kapan-kapan aja deh. Hehe.” Tolakku sopan, kemudian sahabatku yang satunya, yang lagi-lagi ketinggalan gara-gara ketiduran menyusul.
“Son, aku nebeng ya. Supirku lagi dapet kayanya, jadi gak bisa jemput.” Kata Ayana lengkap dengan mata sayu nya yang baru beberapa menit ia buka.
“Supir kamu ay ?” Aku dan Sonia kompak.
“Bukannya, supir kamu cowok ?” Lanjut Sonia, aku mengangguk mengiyakan.
“Istrinya maksudnya. Hehe.” Jelas Ayana, kemudian senyum-senyum gak jelas.
“Halah, kamu itu ay, kalo belum bangun tidur, nggak usah ngomong. Jadi ngelantur kan.” Kataku, kita bertiga masih berjalan menyusuri koridor sekolah, menuju gerbang utama.
“Yee, aku udah bangun tau. Son, boleh kan ?” Protes Ayana padaku kemudian dilanjutkan tanyanya pada Sonia.
“Iya.” Jawab Sonia santai.
“Yes. Yaudah ayo  buruan.” Kata Ayana kemudian menarik lengan Sonia untuk mempercepat langkahnya.
“Eh kenapa jadi kamu yang nafsu ay ? itu kan mobil aku ?” Kata Sonia yang masih menyamakan langkahnya dengan langkahku.
“Katanya kita sahabatan, punyamu punyaku juga kan son. ? hehe.” Lanjut ayana, aku hanya memicingkan mata dengan sedikit senyum melihat kelakuan dua sahabatku.
“Eh tuh, Kak Stella nya udah nunggu.” Kataku melihat sosok kak Stella tengah berdiri di dekat gerbang, menunggu adiknya.
“Kamu beneran nggak mau bareng bil ?” Tanya Sonia memastikan.
“Iya, nggak papa ko. Tuh kasian Kak Stellanya kepanasan nungguin kalian.” Lanjutku, kemudian setelah berdadah ria, Sonia dan Ayana pun mendahului jalanku, aku hanya menatap mereka menemui Kak Stella yang terlihat begitu hangat pada adiknya, andai Shania bisa kaya gitu. Sedang asik memandangi mereka, tiba-tiba Shania lewat di sampingku, dan melakukan hal yang sama seperti pagi tadi, menyenggol bahuku, kemudian tanpa rasa bersalah, meninggalkanku tanpa menengokku sedikitpun. Shan, salahku apa ?
Tak mau ambil pusing aku langsung mengambil langkah seribu kemudian meninggalkan sekolah, tak perduli Shania yang masih nongkrong di pinggiran gerbang dengan teman-temannya. Aku bergegas lari menuju tempat yang biasa saja, namun sangat berarti untukku. Rumah pohon, jelas dari namanya saja artinya rumah itu ada di atas pohon, eh gak di atas juga sih, di tengah-tengah gitu.
Rumah pohon ini tempat persembunyianku, dulu Ayah membuatkannya untukku dan Shania saat aku masih 4 th, tapi setelah rumah pohon itu jadi, Ayah baru menyadari kalau ternyata Shania phobia ketinggian, jadilah rumah pohon ini hak paten milikku seorang, lagian Shania badan aja di tinggiin, giliran sama ketinggian takut.


            Kunaiki tanggannya satu demi satu, terbuat dari kayu dan tambang, entah kenapa selalu ada kepuasan tersendiri ketika aku sampai di atas, terasa bagai burung yang terbang bebas, lebih dekat dengan alam, dan seperti memiliki dunia sendiri di sini. Kuambil kertas yang sengaja ku simpan disini, di kertas-kertas yang kemudian aku tempel di dinding rumah pohon ini, aku ceritakan segala kisahku, perasaanku, emosiku, ntah apa lagi, intinya setiap sedihku, atau pertengkaranku dengan Shania, dimarahi Ayah, rindu dengan bunda, aku selalu menuliskannya disini. Selesai aku menulis, sambil membuat bayangan-bayangan sendiri, aku menatap langit yang sudah mulai memerah itu, damai.! Aku suka langit, karena darinya aku bisa selalu merasa melihat Bunda, selain itu dia selalu menunjukkanku keindahannya, luasnya, kemegahannya, dan ntah apa lagi, aku terlalu tak bisa menggambarkan ciptaan-Nya. Hingga tak terasa, aku akhirnya terlelap, angin di atas sini berhasil membuaiku dalam keadaan nyaman senyaman nyamannya, dan mengantarkanku di alam yang mampu membuatku melepas rasa lelahku.
            Udara sejuk yang perlahan berganti dingin mulai membelai kulit ku yang bebas dari pakaian ini, aku membuka mata dan hari telah gelap, bahkan aku lupa kalau aku disini semenjak pulang sekolah, pasti Ayah khawatir denganku. Akupun segera turun kemudian berlari untuk pulang, ntah kenapa di cerita ini aku sering sekali berlari. Eh mbak yang bikin cerita, Nabilah capek lari-lari terus ini ._. *abaikan*
“Yah.” Sapaku pada Ayah masih dengan seragam SMPku plus tas ransel, sambil tanganku menjinjinng sepatu yang tak kupakai dari rumah pohon.
“Darimana kamu ?” Tanya Ayah yang berdiri di kursi depan pintu, ternyata dia menungguku.
“Nabilah tadi dari rumah Sonia, iya yah rumah Sonia, ngerjain tugas.” Ucapku berdalih, sedikit berbohong, sedikit ko Cuma ganti nama ‘rumah pohon’ jadi ‘rumah sonia’.
“Ya sudah, sana ganti pakaian kamu, terus makan.” Kata Ayah, akupun langsung bergegas masuk sebelum Ayah mulai menyadari kebohongaku, karena Ayah selalu tau jika aku berbohong. Mungkin dia masih sedarah sama om Deddy.
“Nabilah..” Panggil Ayah, matilah aku, pasti Ayah tau kebohonganku lagi.
“Iya Yah.” Jawabku langsung membalik tubuh dengan suara datar, menundukkan kepala, pasrah, ntahlah hukuman apalagi yang akan diberikan Ayah.
“Lain kali, kalau pulang telat bilang ke Shania, biar Ayah nggak terlalu khawatir.” Lanjut Ayah, aku pun menghelakan nafas lega, kuyakin mukaku saat ini cerah-cerah kusut gimana gitu, yang penting aku nggak ketahuan.
“Oke Yah.” Ucapku kemudian langsung berlari menuju kamarku, badan ini rasanya mulai gatal dengan keringat yang betah nempel di tubuhku, mungkin dengan mandi dengan air mendidih bisa menyegarkan badanku.
“Darimana kamu ? Jam segini baru pulang.” Ucap Shania begitu aku hendak membuka kamarku. Kebetulan kamarku dan kamarnya sebelahan.
“Emang penting buat kamu ?” Jawabku nyolot, pasang muka cuek pada Shania.
“Gak juga sih.” Jawab Shania menyenderkan tubuhnya di tembok pintu kamarnya, sambil melipatkan tangannya di depan perutnya.
“Yaudah, bhay.!” Ucapku kemudian kebanting pintu kamarku, jujur saja, aku masih malas melihat wajahnya, yang selalu menang atas aku.
            Dari kecil aku tak pernah memanggil Shania dengan sebutan ‘Kakak’, mungkin dari itu juga membuat aku merasa Shania lebih seperti musuhku ketimbang kakakku, sifatnya lebih kekanakkan dariku sering membuatku risih. Ntah kenapa, aku merasa Shania selalu membenciku, dimatanya apa yang kulakukan selalu salah. Kata Ayah, dari dulu Ayah sudah mengajariku memanggil Shania dengan sebutan ‘kakak’, tapi setiap aku mengejanya aku tak bisa, bahkan jika aku dipaksa aku akan menangis.

            Ini hari Rabu, jadwal kelasku untuk mata pelajaran Olahraga, kamipun bersiap mengganti pakaian putih biru tua kamu dengan kaos dan training olahraga.
“Heyyyy, announcement. Teman friens kanca bantir sakabehe, look at me.! My o’clock hand new, very funtustic” Ucap Cindy dengan bahasa inggrisnya yang super belepotan, memamerkan jam barunya.
“Wahhhh, keren banget cin. Pasti mahal deh.” Ucap Ochi mengagumi seraya memegangi tangan kiri Cindy yang sudah dipasangi jam yang katanya mahal itu, padahal biasa aja ko.
“Hmm, paling juga dapet lotre dari pedagang di depan sekolah.” Gumamku tak suka dengan tingkahnya, serius.! Jamnya biasa saja.
“Hellloooooooowwwwww Nabila pake H I J K K L M N, ini tuh jam dari Paris ya, ini harganya mahal.!” Ucap Cindy marah-marah di depan mejaku.
“Terus aku suruh apa ? Suruh ngambil jam itu, terus aku jual gitu ? iya ?” Aku tak mau kalah.
“Udahlah bil, udah udah udah. Lanjutin aja berantemnya.” Kata Ayana polos.
“Ay, sehat ? malah suruh lanjutin.! Harusnya udah jangan berantem, dasar kamu ay, jangan tidur mulu makannya.” Protes Sonia, membenarkan kalimat sahabatnya.
“Itu maksud aku Son, hehe.” Ucap Ayana tanpa rasa bersalah.
“Udahlah bil, ayo ke lapangan. Ngapain ngomong sama dia, kaya ngajak ngomong knalpot motor tahun 48.an, berisik.” Ucap Sonia kemudian menggandeng Nabilah keluar, dan menyeret Ayana yang hampir tertidur lagi dengan meninggalkan Cindy cs yang sudah tumbuh tanduk di kepalanya.
            Akhirnya jam olahraga pun dimulai, hari ini materinya lari estafet, olahraga yang tak ku suka, sebenernya materi apapun dalam mata pelajaran olahraga semuanya tak kusukai, karena sehebat dan usaha sekeras apapun aku, akan selalu kelihatan lebih buruk dari Shania, karena itu aku jadi tak menyukai olahraga, ya ada sih satu olahraga yang kusuka, bekel.
“Pak, Nabilah izin ke kelas ya.” Ucapku di sela-sela keriuhan teman-teman kelas.
“Mau apa Nabilah ?” Tanyanya biasa saja, guru ini tidak terlalu tua, tapi tidak muda juga, tapi dia baik banget, nggak pernah marahin siswa sini, apalagi aku.
“Mau ambil tempat minum pak, Nabilah haus.” Jawabku jujur.
“Yaudah, jangan lupa ke sini lagi ya.” Katanya, kemudian aku bergegas ke kelas, saat aku meninggalkan lapangan, si Cindy masih terus memperhatikanku ternyata sedari tadi, tatapannya masih tajam setajam golok yang baru selesai di asah, aku sih cuek, paling juga dia masih marah gara-gara perdebatan pagi tadi, atau dia baru liat orang cantik kaya aku ? whatever lah yang penting aku haus, titik.!
“Ahh leganya, air ini enak juga kalo lagi haus.” Gumamku, kemudian menenggak lagi air dalam tempat minumanku.
“Baru olahraga gituan aja,haus sampe segitunya.” Ucap Shania mengagetkanku, sampai aku menyedakkan air yang sudah terlanjur masuk mulutku tapi terpaksa keluar lagi, dan mengenai wajah Shania yang kebetulan ada di hadapanku.
“Ihhh, apaan sih.!” Ucapku padanya yang masih merapikan wajahnya yang terkena semburanku.
“Kamu yang apaan!! Nyembur-nyembur segala.! Kan aku jadi basah.!” Emosi Shania, aku hanya mengerung memperhatikan wajahnya.
“Lagian kamu yaaa...”
“Stop.! Males aku dengerin kamu.! Hah.” Tutupnya kemudian langsung pergi dari kelasku, meninggalkanku yang belum sempat menutup mulutku.
            Dengan masih ngedumel tentang Shania akupun kembali ke lapangan dan mengikuti pelajaran olahraga lagi, sampai akhirnya jam pelajaran ini berakhir, dan kami kembali ke kelas. Tapi tunggu deh, ko Shania tau ya aku Cuma olahraga ringan aja, kan dia seharusnya ngikutin pelajaran, ngapain juga diaa tiba-tiba muncul di kelas, jangan-jangan dia....
“Aahhhh....” Teriak Cindy mengagetkan seisi ruang kelas, sampai Ayana yang tertidur karena kelelahan terbangun dan rusuh.
“Hahhh, ituu itu suara apa bil ? ada apa ? kebakaran ya ?” Tanya Ayana dengan matanya yang baru ia buka separuh.
“Toa masjid rusak ay.” Celetuk Sonia yang masih sibuk mengganti pakaian olahraganya.
“Jam baruku hilaaangg, pasti ada yang ngambil, itu kan mahal banget, bisa-bisa aku dimarahin mamih nih, aduh gimana dong. Help me help me...” Ucap Cindy sambil mengacak-acak isi tasnya.
“Emang tadi kamu taruh di mana cin ?” Tanya Ochi membantu bos besarnya mencari jam tangan murahan itu.
“Ya disinilah chi, pasti ada yang ngambil deh.” Ucap Cindy lagi, dia sudah tak mengacak-acak tasnya kemudian mengitarkan matanya ke seluruh kelas.
“Pasti dia yang ngambil deh.” Lanjut Cindy menunjuk ke arahku.
“Hah ? Aku ?” Heranku sambil menunju wajahku sendiri.
“Iya kamu.! Siapa sih yang paling nyolot waktu aku mamerin jam baruku, kamu kan yang paling nyolot, kamu pasti iri, jadi nyuri jam aku deh. Ngaku aja deh kamu, ayo cepet balikin.!” Ucap Cindy dengan nada superrr menyebalkan, iyalah aku bahkan nggak tau apa-apa, malah nuduh aku.
“Eh kalau ngomong di jaga yah, nggak mungkin sahabat aku nglakuin hal kaya gitu.!” Ucap Sonia membelaku keras.
“Kamu nggak usah ikut-ikutan, Cuma dia kan yang waktu jam olahraga masuk ke kelas ini. Siapa lagi kalo bukan dia yang ngambil.!” Kata Cindy lagi, oke aku terpojokkan, tapi aku masih tak mau mengalah, toh aku sama sekali tak menyentuh jam itu..
“Udah-udah, mending kita panggil bu Melody aja, wali kelas kita.” Ucap Ochi menengahi, tumben sekali dia benar, biasanya lola.
“Iya bener, pokoknya siapapun nggak ada yang boleh keluar. Titik.!” Perintah Cindy, aku sih santai, lagian tuh anak emang heboh banget, kalau masalah sewot menyewot, siapa sih yang nggak pernah sewot ke anak ini, udah belagu, sombongnya tingkat dewa, sok cantik, ini lah itulah, lengkap deh nyebelinnya, kaya gado-gado di warung depan rumahku itu.
            Beberapa menit kemudian bu Melody datang, dan dasar dianya yang bawel, anak-anak kelas lain pun ikut merapat ke kelasku, emberrrrr, Cuma ilang gitu aja, hebohnya seantero sekolah. Oh ya, Shania juga ada di salah satu gerombolan anak-anak yang penasaran dengan Cindy.
            Bu Melody  pun langsung meminta keterangan ke semua siswa, yang menjadi tersangka adalah aku, apalagi Cuma aku yang ada di kelas sewaktu jam pelajaran olahraga, tapi aku nggak mau disalahin gitu aja ya. Sampai akhirnya bu Melody menggeledah isi tas kita satu persatu, dan hal yang membuatku membelalakkan mata sampai hampir copot, jam itu ada di tasku, oh God this impossible.!
“Nabilah, ibu harap kamu punya penjelasan tentang ini.” Ucap bu Melody menunjukkan jam itu tepat  di depan wajahku.
“Bu, Nabilah bener-bener nggak ngambil. Tapi Nabilah juga nggak tau kenapa jam itu ada di tas Nabilah, pasti ada yang jebak Nabilah bu, Nabilah yakin.” Ucapku membela diri, ya memang aku sama sekali tak melakukan itu.
“Ahh siapa lagi kalau bukan Nabilah, Cuma dia yang masuk kelas waktu jam olahraga bu. Kak Shania juga liat ko, Nabilah ke kelas, iya kan kak.?” Ucap Cindy yang kali ini pandangannya ia arahkan ke Shania yang berdiri di dekat pintu, Shania pun hanya tertegun saat itu, dengan wajah marahnya padaku.
“Benar apa kata Cindy, Shania ?” Bu Melody memastikan pada Shania, oke kuharap Shania bisa menolongku.
“Ah,.iya bu.” Jawabnya singkat, dia menatapku sekilas kemudian menatap bu Melody, oke Shania sama sekali tak membelaku sebagai adiknya. Tamatlah sudah riwayatku, bu Melody akhirnya membawaku ke kantor, dan sekolahpun memutuskan untuk memanggil Ayah ke sekolah.



“Kamu bener-bener Nabilah.! Kamu memalukan, untuk apa kamu ambil jam kaya gitu ? kalau kamu mau, Ayah bisa belikan kamu 10 jam yang seperti itu, nggak perlu mencuri.! Ayah nggak pernah ajari anak-anak Ayah untuk jadi maling.!” Kata Ayah kasar, begitu sampai di rumah.
“Tapi yah, Nabilah nggak ngambil, Nabilah......” Ucapku yang langsung dipotong Ayah, aku hanya menunduk pasrah.
“Ini surat dari sekolah. Kamu di skors selama tiga hari, terserah kamu mau ngapain, mau main, mau apa, terserah.! Ayah pusing.!” Ucap Ayah melemparkan kertas itu ke arahku, aku hanya menangkapnya kemudian membanting tubuh di sofa ruang tamu. Hah.! Hari yang begitu menyebalkan. Rasa marah memuncak begitu saja mendengar kata-kata Ayah, namun penasaran masih saja bermain-main di kepalaku, ‘kenapa jam itu bisa ada di tasku.’ Dan yang membuatku semakin tak habis pikir adalah Shania yang ikut menyalahkanku.! Apa yang dia pikirkan, aku adiknya.! Tapi dia sama sekali tak membelaku.! Entalah..
***
“Bil, sarapan.” Teriak Shania sambil mengetuk pintu kamarku.
“Iyaaa.” Jawabku langsung bergegas, hari ini aku keluar tanpa seragam, dan masih dengan mood yang tidak baik. Aku menyusul Shania yang berjalan meninggalkanku, dan menemui Ayah di meja makan.
“Ayah, maaf Nabilah..” Ucapku saat baru tiba di meja makan.
“Ayah nggak mau membicarakan hal kemarin lagi, duduk dan makanlah.” Kata Ayah lagi-lagi memotong kalimatku, sepertinya dia sama sekali tak ingin mendengar penjelasanku, pembelaanku atas kesalahan yang sama sekali tak ku perbuat.
            Kami pun akhirnya sarapan dengan hening, tak seperti biasanya, suasana menjadi dingin di pagi yang mentarinya mulai menghangatkan suasana di luar.
“Hari ini, sampai dua minggu kedepan Ayah ada tugas ke Makassar, mungkin Ayah akan meninggalkan kalian berdua, Ayah tau kalian udah besar. Shania, Ayah yakin kamu bisa jaga Nabilah dan rumah ini dengan baik, kamu anak paling besar, kamu harus bisa jalanin kepercayaan Ayah.” Ucap Ayah panjang lebar, Shania hanya menganggukan kepalanya. God, serumah dengannya dan hanya berdua.....
“Dan Nabilah, jangan buat ulah lagi, Ayah nggak mau denger kamu buat onar.!” Lanjut Ayah, aku hanya menunduk sambil memainkan roti yang ada di depanku. Rasanya seperti aku benar-benar teraniaya, mulutku terbukapun tak ada yang mau mendengar, kepercayaan untukku pun sepertinya tidak akan berlaku lagi, hah hidup ini memang keras.


            Ayah akhirnya pergi dengan koper-kopernya,, dan Shania pergi ke sekolah, alhasil tinggalah aku terdiam sendiri disini, kuputuskan untuk pergi ke rumah pohon, ingin meluapkan semuanya. Aku belari dari rumah, ntahlah jika aku berlari, beban di kepalaku serasa terbawa angin, meski tenaga yang ku keluarkan membuat nafasku sesak, tapi sesak di dadaku justru akan menghilang ketika lariku semakin kencang.
            Sampainya di sana, aku hanya duduk di pinggiran rumah pohon, kemudian memandang langit dengan mengayunkan kedua kakiku.
“Bunda, Nabilah sedih bun, semuanya nggak ada yang percaya Nabilah, Shania bahkan Ayah nggak percaya sama Nabilah, Bun. Nabilah berani bersumpah deh demi Bunda di surga, Nabilah nggak ngambil jam Cindy bun. Tapi Ayah nggak mau denger penjelasan Nabilah, apalagi Shania, bukannya belain Nabilah, malah ikut-ikutan memperkuat bukti, Nabilah harus gimana bun ? Coba Bunda ada disini, Nabilah pasti bisa lebih tenang, Nabilah pasti bisa nangis di pelukan Bunda. Bun, Nabilah kangen.” Ucapku panjang lebar, mataku mulai berkaca, kuangkat kakiku kemudian kudekap erat, lalu menundukkan kepalaku.
            Setelah hari itu, hari-hari terasa berjalan semakin lambat, sekolah selalu memandangku sebelah mata dan penuh kebencian, rumah yang menyebalkan diatas penguasaan Shania, dan Cindy yang semakin menatapku dengan sinis dan liciknya, Hah.

“Nih makan.” Ucap Shania meletakkan hasil masakannya di meja makan.
“Apaan nih ? ini sayur apa kolam ikan, banyak banget airnya.” Ledekku sambil mengaduk-aduk sayur buatannya.
“Tinggal dimakan kok.! Bawel banget, untung juga udah aku masakin.” Kata Shania lagi, duduk di hadapanku.
“Kamu kenapa sih Shan ? Kayanya benci banget sama aku ? Kenapa aku selalu salah di mata kamu.? Aku salah apa sama kamu ? Aku udah coba biasa aja, kamunya yang selalu cari perkara.? Aku harus gimana Shan ?” Ucapku meluapkan emosi, tau deh kenapa berani banget aku ngomong kaya gini sama Shania.
“Aku ? Cari perkara ? Nggak kebalik ?” Balas Shania, dia kembali berdiri dan menatapku tajam.
“Iyalah kamu, kamu yang selalu marah-marah nggak jelas, nyalah-nyalahin tanpa ada sebab, dan..” Ucapku kemudian di potong Shania.
“Kamu jadi adik aku, itu yang salah, dan itu salah kamu, ngerti.!” Bidik Shania kemudian duduk dan mendekap tangannya sendiri dan masih menatapku sama seperti tadi, bidikkan Shania benar-benar tepat mengenai bagian dalam dari hatiku, hingga aku tak bisa lagi berkata-kata untuk sekedar menjawab pernyataannya. Karena tak sanggup lagi menahan air mata, dan gengsi menangis di depan Shania, akupun akhirnya pergi dan meninggalkan meja makan. Akhirnya terbongkar juga alasan Shania selama ini membenciku, ternyata dia tak menginginkan aku menjadi adiknya. Emang aku yang minta jadi adiknya ? kalau boleh memilih pun aku nggak pernah mau di lahirkan di rahim yang sama dengan Shania.!
            Aku terus berlari setelah mendengar ucapan Shania yang membuat luka ini akhirnya terbuka juga oleh pisau dari Shania, air mataku berjatuhan seiring laju kakiku yang semakin cepat, ntah tangis apa ini, kecewakah, marahkah, atau sakitkah ? ntahlah, yang jelas aku ingin menangis. Hingga penglihatanku buram, dan tak memperhatikan arah jalan, dan membuatku menabrak seseorang.
“Nabilah.! Kamu nggak papa kan ?” Ucap orang itu saat kuterjatuh karena tak mampu mengimbangi diriku sendiri.
“Kak Stella. Nggak papa ko kak.” Ucapku merapikan wajahku yang di kotori air mata, kemudian berdiri dari jatuhku.
“Kamu nangis ?” Tanya Kak Stella menghapus air mataku, Kak Stella pun akhirnya membawaku menuju cafe yang tak jauh dari tempat ini. *Penulis ikutan bisa kali bil*
“Sekarang kamu minum dulu, terus kalau mau cerita, cerita aja. Kak Stella siap dengerin kok.” Kata Kak Stella yang duduk berhadapan denganku, kemudian menggenggam tanganku.
“Kalau Nabilah nggak mau cerita ?” Kataku ragu.
“Kalau Nabilah nggak mau cerita, Nabilah bayar sendiri ya minuman sama makanannya.” Kata Kak Stella membuang pandangnya nampak bepikir. “Hehe, nggak deh. Kalau kamu nggak mau cerita juga nggak papa, tapi pasti ada alasan kan ? kenapa tadi Nabilah lari-lari sambil nangis.” Lanjut Kak Stella, membuatku merasa nyaman berada di dekatnya.
“Shania benci sama Nabilah Kak.” Ucapku sebagai pembuka dari ceritaku.
“Hah ? Nggak mungkin, nggak ada kakak yang benci sama adeknya sendiri.” Kata Kak Stella menenangkan.
“Shania bilang sendiri sama Nabilah ko Kak.” Jawabku memperbanyak bukti.
“Mungkin, Shania ngomong kaya gitu, dia lagi emosi, atau mungkin dia lagi dapet, jadi kata-katanya tajem. Shania pasti sebenernya sayang sama kamu ko.”
“Nggak Kak, Shania tuh beda dari Kakak-kakak lainnya, dia benci sama Nabilah, bahkan dia juga nggak belain nabilah sama sekali waktu Nabilah di tuduh nyuri.” Aku menceritakan pengalamanku.
“Kak Stella nggak takut deket-deket Nabilah ? Nanti barangnya ilang lho, Nabilah curi.” Kesalku sambil manyun-manyun.
“Ko Nabilah ngomong gitu? Kakak percaya ko, Nabilah nggak akan ngelakuin itu, Kakak yakin. Tapi Nabilah nggak boleh benci sama Shania, Nabilah sayang kan sama Shania ?” Tanya Kak Stella, dan sukses membingungkanku.
“Entahlah, Nabilah Cuma ngerasa Shania itu makhluk yang paling menyebalkan di muka bumi ini Kak.” Jawabku cuek.
“Ko gitu ?” Tanya Kak Stella lagi, kali ini kujawab dengan kedua bahuku yang ku angkat kemudian meminum lagi minumanku. Ini pertama kalinya aku berpikir ‘sayangkah aku dengan Shania’, aku nggak tau gimana perasaan aku sama Shania sebenarnya. Ahh tau deh, males mikirin orang itu. Akhirnya Kak Stella menghentikan pertanyaan-pertanyaannya, Ia sekarang lebih banyak bercerita tentangnya, tentang Sonia, dan tentang keluarganya, cerita yang sangat bahagia, cerita yang sangat menarik, dan sangat kontras jika dibandingkan dengan keluargaku.
“Oh iya, udah sore nih. Gelap kayanya diluar, mau ujan deh pasti.” Kata Kak Stella memandang keluar.
“Ayo pulang bil, Biar Kak Stella anter kamu sampe rumah.” Lanjutnya sambil bersiap untuk bergegas.
“Kayanya nggak usah deh Kak, Nabilah ada perlu ke tempat lain.” Alibiku, karena masih malas bertemu Shania.
“Mau kemana ? Udah sore, mau ujan lagi.” Kak Stella mengingatkanku, dia begitu perhatian.
“Cuma bentar aja ko kak, nanti juga langsung pulang.” Dustaku lagi, mudah-mudahan Kak Stella nggak punya ilmu psikologi yang bisa bedain orang jujur dan orang yang bohong.
“Apa mau sekalian Kak Stella anterin ?” Tawar Kak Stella, aduuhh perhatian Kak Stella benar-benar membuatku tak ingin pulang saat ini, dan ikut dengan Kak Stella, tapi tak ke rumah.
“Mmm, Nggak usah Kak, makasih.” Kataku, kita berdua pun keluar dari cafe itu.
“Makasih juga ya kak, buat nasehat sama traktirannya, sering-sering yaa.” Gurauku.
“Nabilah boleh ko cerita ke Kakak, kapanpun Nabilah pengen cerita, Nabilah itu udah kaya adek Kakak sendiri, kaya Sonia.” Lagi Kak Stella membuatku ingin menjadi adiknya.
“Makasih Kak, Kak Stella baik banget.” Ucapku, kemudian segera pamit untuk melanjutkan perjalananku, aku masih belum siap bertemu dengan Shania, kalau mengingat kalimatnya tadi siang.
Setelah lumayan jauh dari cafe, aku mulai berlari untuk lebih cepat sampai di rumah pohon, karena benar saja, sesampainya aku di rumah pohon, hujan turun dengan derasnya, anginnya begitu besar hingga rintikkannya masuk ke dalam rumah pohon, aku mengambil tempat di pojokan sambil mendekap kakiku, kuharap ini bisa sedikit menghangatkanku, karena disini sangat dingin, dengan anginnya yang seperti badai, jujur aku takut, aku menyesal tak mengikuti kata Kak Stella, tapi aku masih belum mau bertemu Shania. ‘Shania’ Batinku, pikiranku terhenti sesaat ketika terdengar suara Shania memanggil namaku dari bawah, tapi mana mungkin dia berada di sini di tengah hujan seperti ini, mana mungkin Shania yang egoisnya nggak ketulungan mencariku untuk pulang, paling dia sedang menikmati suasana rumah tanpa aku, jadi dapat aku pastikan suara itu hanya halusinasiku saja.
***

Aku mulai membuka mataku, tunggu.! Kenapa ini terasa empuk, aku melihat sekeliling, ini kamarku.! Apa yang semalem itu Cuma mimpi ? apa yang semalem aku berada di pohon itu Cuma mimpi, kata-kata Shania ?? apa itu nyata ? tapi rasa dingin dan sakit di dadaku masih terasa, kepalaku pun terasa pusing. Ketika aku hendak membangunkan diriku, ada benda hangat jatuh dari keningku, what ? kompres ? *Nabilah Alay* ‘Siapa yang mengkrompresku ?’ fikirku. Kemudian terdengar langkah kaki Shania menuju kamarku, aku yang kaget dan tak tau harus berbuat apa, pun hanya bisa membaringkan lagi tubuhku, kemudian pura-pura tidur kembali. Kemudian Shania masuk kamarku, menyentuh keningku, lalu diambilnya kompres itu dan dimasukkan kembali ke air yang dia bawa, kemudian diletakkan kembali di keningku, sebentar dia sama sekali tak melakukan apapun, hanya terdengar nafasnya, aku curiga dia sedang memerhatikanku yang sedang pura-pura tidur ini. Tak selang berapa lama, kemudian di membenarkan selimutku, lalu keluar kamarku. Aku membuka mataku, ‘jadi aku sakit?’ batinku melepas kompres tadi, ‘Dan Shania yang ngerawat aku ? Shania jemput aku di rumah pohon, dia kan phobia tinggi ? terus ?’ Aku menampar pipiku sendiri *Plakk* “Auu” dan ternyata sakit, berarti aku tidak mimpi, ‘Apa tadi beneran Shania ?’ pikirku, yaa walaupun aku tak melihatnya, tapi wangi tubuhnya, langkah kakinyna, nafasnya, sentuhannya yang meski jarang ia lakukan, aku hafal benar itu semua milik Shania.
Belum sempat aku mendapatkan jawaban, langkah Shania terdengar kembali mendekati kamarku, dan aku kembali memulai aktingku. Pintu kamarku terdengar terbuka, Shania tak terdengar menghampiriku di kasur.
“Udah.! Nggak usah pura-pura tidur, cape tau bolak-balik ngompres kamu terus, mana nggak bangun-bangun lagi.” Kata Shania, aku membuka mataku, dan langsung mencari sosok Shania.
“Kamu yang ngompres aku Shan ?” Tanyaku, Shania baru menghampiriku dengan mangkuk dan gelas di kedua tangannya.
“Iyalah siapa lagi. ?” Jawabnya seraya meletakkan bawaannya di meja sebelah kasurku. “Lagian kamu kurang kerjaan banget, tidur di atas pohon, kaya orang utan tau nggak.! Ngerepotin aja.” Lanjut Shania, nadanya sangat menjengkelkan tapi jika kudengar kalimatnya, itu menggambarkan sayang Shania. Dia kembali menyentuh keningku, karena mungkin dirasa udah nggak panas, diambilnya kompres tadi. Aku hanya terdiam, sambil memperhatikan wajahnya yang terlihat kerepotan mengurusku, jika diperhatikan lebih dalam, wajahnya sama sekali tak menyebalkan seperti saat kami beradu mulut, wajahnya tanpa dosa. Kalo cantik ? nggak sih, masih cantikan aku. Lagian kenapa kita nggak mirip ya. (btw, enak ya jadi Nabilah, Nab tukeran pliss ._.) *penulis gaje*
“Oh ya Shan, terus yang nurunin aku dari rumah pohon siapa ? Nggak mungkin kamu kan ? Kamu kan...”
“Udah deh nggak usah bawel, tuh makan buburnya.” Shania memotongku, sepertinya dia salah tingkah, jadi kesimpulannya dia benar-benar menurunkanku.
“Nggak mau, aku nggak mau makan.” Kataku masih tak melepas pandanganku pada wajah Shania yang selalu menghindarkan matanya untuk bertatapan denganku.
“Kamu itu lagi sakit.!.” Katanya kesal, lucu juga wajah yang ia pasang dewasa tapi kekanakkan dan di padu wajah kesalnya. (bayangin deh tuh, lucu banget pasti >< ih shanju emesh)
“Oke, aku mau makan, asal disuapin.! Sekali kali kek, lagian adekanya lagi sakit juga, aku masih lemes tau.” Pintaku.
“Ih manja banget sih, kamu tuh punya tangan sendiri Nabilah.” Katanya kemudian berdiri, hendak bergegas meninggalkanku.
“Yaudah nggak mau makan. Titik.!” Ancamku tak sungguh-sungguh.
“Nyebelin banget sih.!” Katanya kemudian berbalik dan kembali duduk di samping ranjangku, lalu mengambil mangkuk tadi.
“Ayo makan.” Dengan wajah masih kesalnya, dia memberikan suapan pertamanya, aku pun membuka mulutku.
“Aw, panas Shan.” Keluhku.
“Iya maaf.” Tanggapnya, kemudian meniup suapan buburnya untukku. ‘Astaga, ini benar Shania ? Shania Kakak Nabilah yang super menyebalkan ?’ Batinku memperhatikan wajah Shania yang terlihat susah payah meniupkan suapannya untukku. Kurasa ini pagi terindah yang pernah kulaui sepanjang hidupku dengan Shania. Ini pertama kalinya Shania memperlihatkan sisi baiknya untukku, walaupun juteknya masih terasa, tapi setidaknya lumayan daripada nggak sama sekali. Sejenak aku melupakan sosok Shania yang sangat menyebalkan dan kata-kata kemarin. Walaupun akhirnya hari ini kita berdua tidak masuk sekolah karena aku masih sakit dan Shania yang katanya males, karena semaleman belum tidur karena ngerawat aku. ‘Shania aku tau, itu alasan kamu aja, aku tau kamu nggak tega ninggalin aku sendiri di rumah dalam keadaan sakit. Makasih Shania. Kamu baik.! :’) ’

***

            Keesokkan paginya, suasana masih seperti biasa, Ayah masih di Makassar, Shania masih menyiapkan sarapan untuk kita berdua. Ayah memang nggak pernah pakai pembantu, kata Ayah pembantu itu membuat kita mengandalkan orang lain, apalagi anak-anak Ayah perempuan. Ayah juga lebih suka memasak sendiri untuk kita, ketimbang menyuruh orang, kata Ayah kalo yang masak orang lain, diracuninpun kita nggak bakal tau.  Ngomong-ngomong soal Ayah, jadi inget Ayah masih marah sama Nabilah.
“Heh nglamun.! Nih sarapan, terus kita berangkat.” Ucap Shania yang telah selesai dengan menu ala chef ShaniaQueen (?)
“Hmm, telur dadar nih. Enak nih, kecapnya mana Shan, lebih enak pake kecap nih.” Bawelku memperhatikan telur buatan Shania (?) RALAT deh, masakan buatan Shania.
“Udah deh, nggak usah bawel. Makan aja kenapa sih ?” Jawab Shania mulai jutek seperti biasanya, Hah baiknya sehari doang, kurasa kemarin dia kerasukan setan siapa gitu sampe-sampe dia bisa baek banget, perhatian banget, mungkin kerasukan arwah Bunda yang baik hati dan tidak sombong.
(Teng tong) Terdengar suara bel rumah, Shania pun langsung beranjak membukakan pintu, beberapa saat terdengar suara riuh, kemudian akupun menyusul Shania.
“Eyang..” Kagetku ketika melihat Eyangku.
“Dek ayu, kamu makin cantik aja sayang.” Kata Eyang kental dengan logat jawanya, ‘Ayu’ itu paggilan eyang untukku dari kecil. Setelah berkangen-kangen ria, akhirnya kita bergegas berangkat ke Sekolah.
“Shan, makasih yah buat yang kemaren, udah ngerawat aku, udah merhatiin aku, bela-belain nggak masuk sekolah. Sampe aku sehat deh kaya sekarang. Hehe.” Basa-basiku di tengah perjalanan ke sekolah.
“Nggak usah lebay deh, jangan ke GRan dulu. Aku tuh ngelakuin itu karena aku dikasih tanggung jawab dari Ayah buat jaga kamu. Bukan karena kamu.” Jawabnya cuek, aku pun berdiri di hadapan Shania, bermaksud menghalangi langkah Shania.
“Tunggu deh Shan. Kamu tuh sebenernya sayang nggak sih sama aku ?” Tanyaku menatap wajahnya yang begitu tinggi dariku hingga aku harus mendongak, karena aku berdiri tepat dihadapannya, dan sangat dekat. Shania menunduk menatapku sebentar.
“Apaann sih tanya-tanya gituan. Nggak penting tau nggak.” Katanya lalu menyingkirkan tubuh mungilku dan bejalan cepat meninggalkanku. Sepertinya, pernyataan Kak Stella tentang Kakak yang selalu sayang sama adiknya itu salah, terbukti kali ini, Shania memang bukan seperti Kakak pada umumnya, dia makhluk langka. Harusnya perlu di air keras, terus di museumin deh.! ._. (plis deh Nab)
            Sesampainya di sekolah, kaki ini serasa berat melangkah, kaya ada batu gede-gede di kakiku. Semenjak kejadian itu, setiap aku lewat, serasa banyak ribuan pasang bola mata yang memandangiku dengan pandangan anehnya. Apalagi Shania, sekarang dia malah bikin petuah sendiri, kalau udah di sekolah harus jaga jarak, minimal 2 meter. Segitukah ?
“Hmm, aku kira kamu udah nggak akan masuk selamanya. Baru aja aku mau buat syukuran perayaannya, nggak jadi deh.” Ucap Cindy begitu aku melangkahkan kaki di kelas. Dan karena aku masih kesal dengannya, aku malas menanggapi ucapannya, daripada ntar dijadiin masalahh lagi. Akupun melanjutkan jalanku hingga sampai di mejaku.
“Maling itu, selamanya tetep maling, mau digimanain juga ya tetep maling. Bener nggak ?”Lanjut Cindy masih belum menghentikan bully-annya. Aku masih diem, menahan tanganku yang sudah sangat ingin melayangkan meja dan kursi ke arahnya.
“Bener banget tuh cin. Eh jaga barang-barang berharga kalian. Amankan isi tas dan segala macam barang yang kalian anggap penting.! Karena ada maling di sekitar kita.” Ucap Ochi sadis. Kali ini teman-teman terlihat memeluk tas mereka dan memandangku dengan tatapan anehnya. Jujur ini sakit banget.! Lebih dari sakit kemarin, apalagi sebagian dari mereka terlihat berbisik-bisik sambil memandangiku.
“Arggghhtt.” Teriakku seraya menggebrak meja kelas, dan keluar pergi meninggalkan kelas. Aku terus berjalan dengan kesalnya, aku menuju toilet, setidaknya bisa sedikit mencuci muka, dan merefresh pikiran yang gelisah (?), sampai ketika aku melewati ruang kepala sekolah, langkahku terhenti karena hendak menabrak orang yang baru keluar dari ruangan itu.
“Semuanya gara-gara kamu tau nggak ? Dasar pembawa sial.!” Ucap Shania tiba-tiba, wajanya tertekuk, dan memerah seperti menahan tangis.
“Kamu ngomong apa sih Shan ? Aku nggak ngerti.” Tanyaku, bukannya menjawab, Shania justru meninggalkanku. Tuhan, rasanya kepala ini mau pecah, masalah Cindy, Ayah, sekarang bertambah Shania.!
            Setelah mencuci muka, dan beberapa kali mengambil nafas panjang, aku kembali ke kelas. Ntah apa yang akan terjadi dan bagaimana reaksi teman-teman, aku hanya berharap aku tetap kuat.
“Darimana bil?” Ucap Sonia menyapaku, ketika ku sampai di kelas.
“Dari toilet.” Jawabku singkat, dan kemudian terdiam tanpa membuka mulut, begitupun seterusnya, hingga jam istirahatpun tiba.
“Kantin yukk bil.” Ajak Sonia.
“Nggak ah, males.” Tolakku, tapi Sonia tetap menarik tanganku, dan aku pun mengikuti permintaannya. Sesampainya di kantin Sonia langsung memesaan makanan dan minuman untuk kita, dan tanpa waktu lama, makanan dan minuman itu sudah ada di hadapanku.
“Bil.” Panggil Sonia saat aku sibuk megaduk-aduk minuman yang kupesan.
“Bil....” Ulangnya, aku masih memainkan minumanku, dengan tatapan kosong.
“Nabila pake HHHH.” Ulangnya kini berteriak di depan wajahku.
“Ihh apa sih Son. Nggak usah teriak-teriak, aku denger tau.!” Protesku yang terbangun dair alam, ntah apa itu.
“Lagian kamu daritadi aku panggil-panggil nggak ngejawab, kenapa sih ?” Tanya Sonia penasaran, aku tidak menjawab hanya memainkan minumanku lagi.
“Okee, terus aja pada kaya gitu. yang ini diem, yang itu juga diem, akunya yang bingung.” Ucap Sonia yang pandangannya diarahkan ke pojokan kantin, aku mengikuti arah pandangannya, hmm Ayana. ‘Tumben tuh anak ke kantin jam istirahat, biasanya juga tidur mulu.’ Batinku.
“Bantu aku dong Bil. Ayana kenapa sih ? Tadi pagi aku deketin malah lari, di kelas aku panggil diem aja. Kamu lagi, pagi-pagi udah ngilang, sekarang maen cuek-cuekan.” Kata Sonia menjelaskan, aku memerhatikan Ayana yang sibuk dengan Ponsel pintarnya di pojokan kantin.
“Kenapa tuh anak.” Ucapku yang tidak terlalu memperhatikan kalimat Sonia.
“Kan dari tadi aku nanya gitu Bil. Lagian kalo aku tau, aku nggak akan nanya kamu. Kamu juga kenapa ? masalah Cindy ya ? atau Kak Shania, atau masalah....” Ucapan Sonia terpotong ketika aku berdiri dari dudukku kemudian beranjak hendak menghampiri Ayana, tapi belum sempat aku sampai di mejanya, dia malah kabur terlebih dahulu.
“Mana Ayananya Bil. ?” Tanya Sonia yang menyusulku.
“Tadi sih di sini Son, tapi nggak tau kemana lagi, cepet banget ngilangnya.” Aku celingukan mencarinya, Sonia menghelakan nafasnya, terdengar jelas olehku, kemudian duduk di kursi bekas Ayana tadi.
“Kalian pada kenapa sih ? Aku jadi pusing.” Keluh Sonia menggembungkan mulutnya, membuat pipinya membesar. (aaakkk lucu banget ><)
“Maafin aku ya Son, kayanya aku yang terlalu sibuk sama masalahku sendiri, sampai aku lupa, aku punya kalian.” Ucapku duduk dihadapan Sonia, dan menatapnya serius.
“Aku nggak papa sih Bil, asalkan kalian baik-baik aja, tapi kalo kaya gini, aku jadi khawatir, kamu diem, Ayana diem, aku berasa nggak ada gunanya tau nggak ?” Keluhnya lagi, dan disinilah aku akhirnya sadar, selama ini aku jarang bahkan tak pernah bercerita dengaan orang lain tentang masalahku, kecuali Kak Stella beberapa waktu yang lalu.
“Aku nggak percaya kamu yang ambil jam Cindy, walaupun emang jam itu ada di tas kamu, aku yakin, itu bukan kamu. Aku percaya sama kamu ko Bil, pokoknya apapun yang terjadi, apapun masalah kamu, kamu boleh ko cerita ke aku, aku akan ada buat kamu 24 jam.” Ucap Sonia serius dan bijak, kata-katanya sama persis dengan Kak Stella, iyalah kakak adek >< Tapi apa kabar aku sama Shania ?
“24 jam ?? Kaya Apotik. Hehe.” Jawabku bercanda, mencairkan suasana yang menegang.
“Kamu mah bil, diajakin serius malah bercanda, nggak kompak ih.” Protes Sonia memanyunkan bibirnya, lagi-lagi wajahnya sangat lucuk.
“Yaudah kali son, nggak usah dibahas. Yokk ke kelas aja, kali aja Ayana udah balik.” Ucapku kemudian langsung beranjak dan diikuti Sonia. Kitapun berdua akhirnya ke kelas, dan memang benar, Ayana sudah ada di depan kelas, sedang duduk ditempat duduk, di pinggiran koridor.
“Ay..” Panggilku, dia nampak kaget, kemudian langsung bergegas meninggalkanku.
“Ay, mau kemana ? Kamu kenapa sih ? Kalau ada masalah itu di omongin.” Ucapku, sempat menahan langkah kaki Ayana.
“Aku nggak papa.!” Ketusnya membalikkan badan menghadapku.
“Kalau kamu kaya gini, udah pasti kamu kenapa-kenapa. Kamu nggak kaya Ayana yang kita kenal tau nggak.” Kataku, Sonia mengiyakan.
“Udah deh, kamu..kalian nggak usah sok kenal aku, nggak usah sok tau tentang aku. Ini aku, aku kaya gini. Nggak usah perduliin aku, urusin aja masalah kamu yang menumpuk.!” Ucap Ayana kemudian kali ini benar-benar pergi. Aku menghelakan nafas panjang. Apa lagi ini ? Sekarang justru sahabatku yang akan menjadi salah satu nama di daftar masalahku.
“Udah lah bil, nggak usah terlalu dipikirin, mungkin Ayana lagi nggak pengen di ganggu aja.” Ucap Sonia memerhatikanku yang masih diam dengan wajah berantakan.
“Tapi kayanya masalahnya ke aku Son.” Tebakku menatap sayu pada Sonia.
“Dia itu keliatan marah sama aku, tapi....tapi kenapa ?” Lanjutku, Sonia hanya mengerdikkan kedua bahunya, menjawab pertanyaanku.
“Udah deh, kamu nggak usah mikir negative gitu. Biarin aja dia sendiri dulu, ntar kalo udah baik, pasti dia cerita ko sama kita, yakin deh.” Ucap Sonia menenangkan. Kemudian kami pun melanjutkan pelajaran yang tersisa. Hingga semua mata pelajaran hari ini selesai, jam sudah menunjukkan waktunya pulang, segera kumasukkan alat tulis dan buku yang berantakkan di meja, segera aku berlari menuju gerbang sekolah, dia biasanya mengomel disini kalau aku terlalu lama keluar, sebenernya bukan disini doang sih ngomelnya, karena hobi dia kan ngomel, jadi kayanya dia ngomel hampir di semua tempat. Lima menit, 10 menit, setengah jam, tapi Shania tak kunjung keluar. ‘mungkin lagi ada urusan sama eksulnya.’ Pikirku.
“Eh bil, ko belum pulang.” Ucap Sonia dari dalam mobilnya ketika melewatiku.
“Mmmh, iya nih nungguin Shania. Ko nggak keluar-keluar yaa, lama banget.” Keluhku menjawab pertanyaan Sonia.
“Shania, dia udah keluar kelas dari tadi ko Bil.”Ucap Kak Stella nimbrung, aku diam sebentar mengatur emosiku yang melonjak gara-gara Shania, yakali udah nungguin sampe lumutan, malah udah balik.
“Yaudah, kamu bareng kita aja.” Tawar Kak Stella yang memperhatikan wajah kesalku.
“Nggak usah deh Kak. Kali aja Shania masih di jalan.” Tolakku sopan. “ Yaudah, aku ngejar Shania dulu ya Kak.” Pamitku kemudian berlari meninggalkan sekolah.
“Selalu aja kaya gini.! Selalu aku yang diginiin.! Mau kamu apa sih Shan.! Nggak ada ya sama sekali rasa sayang kamu buat aku yang jelas-jelas adik kamu.!” Ucapku di tengah jalanku, kebetulan jalannya sepi, jadi aku bebas marah-marah disini.
“Aku coba ngelakuin apapun, tapi tetep aja salah di mata kamu.! 14 tahun aku jadi adik kamu, 14 tahun juga aku dijajah kamu.! Aahhhh.” Teriakku kemudian menendang batu yang kebetulan menyerahkan diri untuk ku tendang jauh.
            Sampainya di rumah, saat aku meletakkan sepatuku di rak sepatu, ternyata benar Shania sudah pulang, sepatunya sudah bertengger dengan manisnya di tempat biasanya. Rasa kesalku yang masih berputar-putar di dadaku, membuat aku mengambil sepatu Shania.
“Dasar egois.! Seenaknya sendiri, aku tuh nungguin kamu sampe lumutan.! Tapi kamu malah udah pulang duluan.! Ngomong kek, apa kek. Dasar yaaa kamu.!” Ucapku pada sepatu Shania. “Eh ngapain juga aku ngomong sama sepatu.!” Lanjutku, kemudian melempar sepatu Shania kasar.
            Setelah puas memarahi Shania (sepatunya aja sih) akhirnnya aku mencari Eyang dan Shania. Tapi mereka nggak ada dimana-mana, akhirnya kuputuskan naik ke kamarku, dan ketika aku melewati kamar Shania, ternyata eyang dan Shania ada di dalam. Bukan maksud menguping, tapi pintunya agak kebuka dikit, terus suara Shania juga keras, jadi terpaksa dengerin deh, inget.! Bukan nguping yak.!
“Kenapa sih Yang ? kenapa harus Shania yang kaya gini.? Nabilah selalu bikin Shania kaya gini. Karena dia, bunda jadi cepet pergi. Karena dia, Shania jadi kehilangan waktu bareng bunda. Kenapa coba, Bunda lebih milih mertahanin dia daripada kesehatan Bunda. Karena dia juga, Shania harus bagi kasih sayang Ayah. Dan hari ini, beasiswa dan title murid teladan buat Shania, harus di cabut karena dia.! Dia bikin ulah di sekolah Yang, kepala sekolah bilang, gimana Shania mau kasih teladan buat anak-anak di sekolah, sedangkan adik Shania sendiri terlibat kasus kriminal. Nabilah ngeselin Yang, Shania benci Nabilah. Shania pengen Nabilah nggak ada di sini.” Jelas Shania panjang lebar pada Eyang, dia tengah tiduran di pangkuan Eyang, dengan nadanya aku dapat memastikan dia menangis.! Karena itu juga, aku tanpa sadar meneteskan air dari liang mataku, karena ternyata aku yang membuat Bunda meninggal, dan ini alasan Shania sangat membenciku.
“Shania, kamu nggak boleh ngomong gitu Sayang.” Ucap Eyang merapikan rambut Shania yang berantakan di wajahnya.
“Tapi eyang, Nabilah itu selalu bikin onar, dia tuh...ihh pokoknya nyebelin yang. Shania ngerasa Shania sama Nabilah selalu beda. Shania malah ngerasa, Nabilah bukan adik kandung Shania.!” Ucap Shania, dan sukses membuat petir yang entah darimana menyambar hatiku, menyambar pertahananku, dan membuatnya runtuh.!
“Mungkin ini waktunya Eyang bicara soal panti asuhan itu, yang sebenarnya....” Ucap Eyang yang langsung terhenti ketika aku hendak berlari namun menabrak tempat sampah yang ada di depan kamar Shania, kemudian Shania dan Eyang mencoba mengejarku, tapi aku masih terus berlari, dengan air mata yang tak kupinta keluar, tapi membanjir begitu saja.
‘Aku bukan anak kandung Ayah dan Bunda.’ Pikirku mengencangkan lariku. ‘Aku penyebab kematian Bunda.’ Semakin cepat. ‘Shania benci aku. Shania nggak sayang aku.’ Cepat!! Hingga saat ku tengok kebelakang, dan berbalik aku merasa menabrak sesuatu dan semuanya menjadi gelap.!
            Aku membuka mataku, kepalaku terasa sakit, dan berat hingga membuat pandanganku sedikit berputar.
“Nabilah...” Sapa seseorang, namun pandanganku yang masih kabur, aku memegangi kepalaku, sungguh.! Sakit.!
“Aku dimana ??” Ucapku saat menyadari aku berada di sebuah kamar, tapi bukan kamarku.
“Ini kamar Kak Stella, Nabilah.” Ucap Kak Stella yang duduk di pinggir ranjang yang sedang kutiduri.
“Kenapa Nabilah disini ?” Ucapku masih belum ingat apa-apa.
“Tadi kamu dijalan nabrak tiang iklan, sampai kamu pingsan. Jadi kakak bawa kamu ke rumah, karena lebih deket rumah Kakak daripada rumah kamu.” Jelas Kak Stella, aku mencoba mengingat kejadian tadi. “ Tadi kata dokter kepala kamu memar, sebaiknya kamu istirahat aja.” Lanjut Kak Stella, kemudian muncul Mamah dan Papah Kak Stella dan Sonia.
“Nabilah, kamu sudah bangun nak ?” Tanya Tante Lanny (Nama mamahnya Kak Stella sama Sonia)
“Udah, maaf ngerepotin Tante, Om.” Ucapku sungkan.
“Nggak papa Nabilah. Stell, ambilin minum dulu buat Nabilah.” Ucap Tante Lanny yang sekarang menggantikan posisi Kak Stella di sampingku.
“Kamu cantik yah, kaya Bunda kamu.” Ucapnya memerhatikan wajahku.
“Makasih tante.” Ucapku singkat, salah tingkah. Tak berapa lama, akhirnya Kak Stella datang membawa air minum, dan Tante Lanny membantu meminumkannya padaku. Setelah beberapa lama akhirnya Mamah Papah Kak Stella meninggalkan kami bertiga, hingga tiba-tiba Shania muncul.
“Ayo pulang.!!” Ucap Shania menarik kasar tanganku.
“Nggak.! Nabilah nggak mau pulang.!” Ucapku berontak dan menarik tanganku, tapi Shania semakin menarikku.
“Shania sakit.!” Aku masih mencoba menarik tanganku dari cengkaraman tangan Shania yang tenaganya jauh lebih besar dibandingku.
“Shania, aku nggak pulang.! Aww..” Aku tetap berontak dan tiba-tiba kepalaku sakit kembali. Kak Stella pun akhirnya menghampiri kami, walaupun awalnya mereka diam karena mungkin tak ingin ikut campur, tapi akhirnya Kak Stella mengajak Shania bicara. Tante Lanny yang melihat kejadian itu, akhirnya memapahku kembali ke kamar Kak Stella. Sesampainya di kamar, perasaanku campur aduk, malu, sedih, marah, jadi satu.
“Lho, ko Nabilah nangis ?” Tanya Tante Lanny.
“Nabilah malu tan, maafin Nabilah, Nabilah nggak mau pulang, nggak mau tan.” Ucapku menjadi-jadi.
“Nabilah boleh disini sampai Nabilah tenang. Nabilah nggak usah takut, ada Kak Stella, ada Sonia, ada om sama tante juga. Kita juga nggak keberatan ko, tapi Nabilah jangan nangis ya.” Ucap Tante Lanny menenangkanku sambil memelukku.
“Nabilah sedih tante, Shania bilang Nabilah yang nyebabin Bunda meninggal. Shania bilang gara-gara mertahanin Nabilah, Bunda meninggal. Bahkan Shania juga bilang kalau Nabilah bukan adik kandung Shania. Eyang juga bilang panti asuhan, pasti Nabilah mau ditaruh di panti asuhan deh, Nabilah nggak mau tante..”Ceritaku sesenggukan.
“Nabilah, kalau masalah bundamu, Tante juga akan ngelakuin hal yang sama buat mertahanin anak secantik, sepinter kamu, bidadari kecilnya bundamu. Tapi, kalau masalah panti asuhan, tante juga nggak tau, sayang.” Ucap Tante Lanny, Sonia tertegun memperhatikanku dan Mamahnya berbicara.
“Yaudah, Nabilah istirahat yah, biar Tante tinggal keluar dulu.” Lanjutnya kemudian mencium keningku, lalu meninggalkanku dan Sonia di kamar.
“Bil, sabar yah. Semua ini pasti akan cepat berakhir, aku kan selalu nemenin kamu, janji deh.!” Kata Sonia menghampiriku, kemudian aku masuk dalam pelukan Sonia.
“Makasih son, kamu memang sahabat terbaik aku.! Maaf ya, aku sering ngerepotin kamu.” Ucapku masih dalam pelukan Sonia.
“Aku seneng ko kamu repotin. Aku juga mau kamu repotin tiap hari, asalkan kamu nggak sedih dan nangis kaya tadi. Aku nggak suka liat sahabat aku sedih.” Jawab Sonia, akhirnya kita mengobrol ke sana-ke mari tapi nggak ke hati kamu, hingga akhirnya kita terlelap di satu ranjang yang sama, kalo nggak salah tadi katanya ini kamar kak Stella, mana Kak Stella nya ?? (Lagi sama penulisnya bil, tenang aja)

            Aku, akhirnya beberapa hari ini tinggal di rumah Kak Stella, ahh keluarga Sonia sangat menyenangkan, tenang, nggak ada berantem-beranteman, semuanya persis di buku cerita tentang indahnya sebuah keluarga.
            Hari libur tiba, pagi yang menyenangkan untuk berkumpul dengan kuluarga, keluarga Sonia sih, tapi aku jadi kangen rumah, kangen si Jangkung yang nyebelin. Tapi...apa Shania juga kangen aku ? hmm, sepertinya nggak penting aku mikir sejauh itu, mana mungkin Shania kangen sama aku, dia pasti lagi santai-santai dan tenang tanpa ada aku, hmm ntahlah, jadi gelisah.
“Hei, nglamun.!” Ucap Sonia mengangetkanku.
“Hehe, nggak ko Son. Lagi mikir aja, kapan yaa keluargaku sedamai keluarga kamu.” Ceritaku, Sonia duduk di sebelahku, di taman belakang rumahnya.
“Hmm, semua pasti akan indah pada waktunya Bil, percaya deh.”
“Ceilaahhh so bijak nihh..” Gurauku agar suasana tak lagi sendu.
“Emang aku bijak ko.” Timpalnya, bukan menanggapinya lagi, aku justru memikirkan seseorang yang harusnya ada di antara aku dan Sonia.
“Heyy. Ko malah ngelamun lagi sih.” Sonia memukul tanganku yang ku pakai sebagai tiang penahan daguku, alhasil tanganku roboh dan aku tersadar dari pikiranku.
“Kamu jail banget sih sonnnn.” Keluhku geram..
“Lagian kamu ngelamun melee, akunya dicuekin.” Katanya ngambek dan menyenderkan tubuhnya di kursi.
“Ayana.” Singkatku, Sonia bereaksi, wajahnya berubah sendu mengingat Ayana.
“Dia kenapa yah, dari waktu itu, setiap ada aku, dia selalu menghindar, setiap aku deketin, malah marah marah, bentak-bentak aku, pokoknya bukan Ayana banget deh..” Ungkapku atas kegelisahan pikiranku.
“Tau deh, aneh tuh anak.” Kata  Sonia singkat.!
“Soniaaa, bantuin mamah masak yuk.” Teriak Tante Lanny memanggil Sonia.
“Sonia mau bantuin papah beresin taman mah.” Ucap Sonia kemudian berlari ke Ayahnya yang dari tadi nampak sibuk merapikan tanaman.
“Biar Nabilah yang bantuin Tante.” Ucapku menghampiri Tante Lanny di dapur.
“Oh iya sayang, boleh banget. Tante lagi bikin kue, abis mereka beres-beres taman, makan kue pasti enak kan ?” Kata Tante Lanny sambil sibuk dengan peralatan ntah apa itu.
“Iyaa, hmm baunya udah enak banget nih Tan. Nabilah jarang banget nyium bau kue di rumah.” Ucapku sambil mengambil alat pencetak nastar, kemudian mengikuti yang Tante Lanny lakukan.
“Yaudah sekarang puas-puasin nyium kuenya. Hehe.”
“Ah Tante bisa aja. Oiya tante, Nabilah boleh ngomong sesuatu ?” Tanyaku dengan tangan masih asik dengan cetakan.
“Kalau misal Nabilah ternyata memang bukan anak kandung Ayah, dan Nabilah mau di taruh di panti asuhan, Tante mau nggak adopsi Nabilah ?” Ucapku lirih, ragu lebih tepatnya. Tapi jika tidak dikatakan, pikiran ini terus menerus membuatku gelisah, sampe Kak Stella bikin single Gelisah :D
“Ko kamu ngomong gitu sih sayang ?” Tanya Tante Lanny menghentikan kegiatannya kemudian menatapku.
“Nabilah gelisah tan, Nabilah takut hidup di panti asuhan, Nabilah...” Ucapku yang terpotong karena tiba-tiba Tante Lanny memelukku.
“Iya, tante mau sayang, Om juga pasti mau, Stella, dan Sonia juga pasti seneng punya saudara kaya Nabilah. Jadi Nabilah jangan sedih, dan jangan takut, tante udah anggepNabilah kaya anak Tante sendiri.” Jelas Tante panjang lebar dengan hangat peluknya sambil membelai rambutku. Ntah rasa apa ini, tapi aku menangis dalam pelukannya. Ini pertama kalinya aku merasakan hangatnya pelukan bak pelukan Bundaku, yang ntah Beliau sempat memelukku atau tidak. Pelukan yang juga tak pernah kudapat dari seorang kakak perempuan, yang harusnya bisa menjadi Ibu untukku, Shania. Atau Ayah yang mungkin selalu sibuk bekerja.
***
“Aku nggak kuat ngumpetin ini semua Cin.! Aku bakal ngaku soal semuanya.” Ucap Ayana yang tengah berhadapan dengan Cindy, yang tanpa sengaja kudengar saat hendak ke toilet.
“Kalau sampe masalah ini ada yang tau, jangan harap papah kamu bisa tetep bekerja di kantor Dedy aku.” Bentak Cindy, ntah kemana dan darimana alur pembicaraan yang mereka buat. Dengan Ayana ada bersama Cindy pun sudah membuat aku kaget, apalagi sampai ada perbincangan yang sepertinya sangat penting dan rahasia, membuatku melahirkan tanda tanya besar dari kepalaku. Tak berapa lama akhirnya Cindy keluar dari toilet, yang sukses membuatku langsung bersembunyi di balik tembok. Setelah dirasa aman, aku pun masuk dan mendapati Ayana yang tengah menundukkan kepalanya di depan cermin toilet.
“Ayana, kamu nggak papa kan ?” Sapaku, Ayana yang kaget melihatku berusaha hendak berlari kemudian meninggalkanku, tapi kali ini aku tak hanya diam membiarkannya pergi, aku harus tau apa yang terjadi pada Ayana, apalagi sampai berhubungan dengan Cindy, ini pasti masalah serius.!
“Ayana, kamu kenapa sih ? Kenapa kamu selalu menghindar dari aku ? Kamu marah sama aku ? Aku salah apa ?” Tanya bertubi-tubi setelah berhasil menghentikan laju langkah Ayana.
“Kenapa kamu nggak benci sama aku sih bil.! Aku udah coba jauhin kamu.! Bentak-bentak kamu.! Marah-marah sama kamu.! Tapi kamu, kenapa nggak benci sama aku ??” Ucap Ayana tegas, tapi masih cempreng.
“Hah ? Kenapa aku harus benci sama kamu ? Kamu sahabat aku, ay.” Jawabku, aku menurunkan nada bicaraku, dan berdiri sewajarnya (kan tadi abis ngehalangi Ayana)
“Kamu harus benci aku, Nabilah.! Aku yang salah.! Aku yang buat kamu jadi gini. Aku yang ambil jam itu, dan aku yang udah, tapi bil.....ah taulahh.!” Ucap Ayana kemudian langsung pergi meninggalkanku, kali ini aku tak mampu mengejarnya, hendak mencegahnya, tapi aku masih tertegun dengan pikiranku, kaget, bingung, heran, semuanya saling beradu mengalahkan siapa yang akan bertahta di pikiranku.
“Jadi...Ayana ?? Tapi kenapa ?? Buat apa ?? Kenapa harus aku ?? Bukannya selama ini dia anggep aku sahabat ??” Heranku, akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas, entah apa tujuanku sebenarnya ke toilet, aku lupa sejak saat aku mendengar kalimat dari Ayana dengan Cindy.
            Sampai di kelas aku menengok ke meja Ayana, dan kosong.! Keheranan itu masih saja menari-nari tsundere di otakku.
“Bil, kenapa ? Tuh muka kusut banget.” Tanya Sonia, aku menatap Sonia sebentar kemudian menceritakan apa yang sudah kudengar dari Ayana.
“Hah ?? serius ???” Kaget Sonia mengeluarkan matanya.
“Kapan aku ngak serius sama kamu sih Son.” Keluhku. Dan tiba-tiba teman-teman kelas berlarian ke arah jendela dan ada yang sebagian yang keluar dan melihat kearah lapangan, oke fix.! Nabilah penasaran, dan aku segera keluar menuju lapangan.
“Ayana.!” Ucapku kaget, dia terlihat berdiri di tengah lapangan seraya mengangkat tangannya dengan posisi hormat ke bendera dengan berkalungkan kertas yang ditulisi ‘AKU PENCURINYA, BUKAN NABILAH.!’ Ntahlah, kaki ini akhirnya menuntunku mendekat pada Ayana.
“Kamu apa-apaan sih Ay.! Turunin tangan kamu,! Ini juga apa ?” Ucapku kesal dan menarik tulisan yang bergantung di lehernya.
“Aku udah bilang sama kamu.! Kamu harus benci aku, aku yang udah ngambil jam itu, dan naroh di tas kamu.! Aku salah, dan aku pantes nrima hukuman ini Nabilah.!” Ucap Ayana masih dengan posisinya, sama sekali tak berubah meski aku telah memintanya menurunkan tangannya. Kesal karena tak mendapat respon yang berarti, akhirnya aku mengambil tempat di samping Ayana, tepat.
“Kamu ngapain Nabilah.?” Ucap Ayana kaget, melihatku melakukan hal yang sama yang Ayana lakukan di sini.
“Aku juga salah, karena aku selalu ribet sama urusan aku sendiri, tanpa tau kalau kamu sebenernya lagi ada masalah sama Cindy, dan harus nanggung ini sendiri. Ini semua karena Cindy kan ? jadi aku juga salah.!” Jelasku, kemudian Ayana kembali menghadap bendera, kulirik sebentar wajahnya yang memerah karena kepanasan bercampur keringat dan air mata yang akhirnya keluar karenaku.
“Sonia.!” Ucapku kaget, Sonia mengikuti posisi kami dan berdiri tepat di sampingku.
“Aku juga salah, salah kalau aku tetap ada di kelas, sedangkan sahabat-sahabat aku ada disini. Kita kan sahabat, apa yang kalian rasakan, itulah yang harus kurasa juga.!” Ucap Sonia dengan wajahnya yang ia hadapkan ke bendera.

            Akhirnya kami bertiga hari itu berjemur di bawah teriknya matahari selama berjam-jam, hingga guru memanggil Ayana dan menghentikan hukumannya. Hari yang sungguh tragis, tapi dibalik itu, akhirnya aku sadar, arti sahabat lebih dari apapun. Sahabat memahami tanpa memikirkan keegoisan, sahabat saling merasa, saling menguatkan, dan saling berbagi, yaaa termasuk berbagi hukuman, berbagi panas matahari, hehe. Tapi itulah sahabat.!
            Bel pulang akhirnya berbunyi juga, aku dan Sonia segera menuju parkiran dan segera pulang. Sampai setengah perjalan, mobil kami mogok, akhirnya Kak Stella pun menelpon taksi, tapi saat kami tengah menunggu, di seberang kulihat Shania dan eyang sedang berjalan.
“Ayo Sonia, Nabilah.” Ajak Kak Stella setelah taksi yang kami pesan tiba, Sonia pun lekas naik.
“Kak Stella sama Sonia duluan deh. Nabilah tiba-tiba ada urusan, Nabilah pasti langsung pulang ko, kalo urusannya udah selesai.” Ucapku kemudian langsung bergegas mengejar target.
“Tapi kamu mau kemana ??” Teriak Kak Stella, tapi aku tak sempat menjawabnya karena harus cepat menyusul mereka, sebelum hilang dari pandanganku.
            Setelah dirasa dekat, akhirnya aku berjalan santai, dan mengikuti mereka dengan sesekali bersembunyi agar tak diketahui Shania. Pokoknya kalo di tivi tivi, aku lagi kaya detektif banget deh, tinggal pake kacamata hitam sambil bawa kaca pembesar, jadi Shania bisa terlihat lebih besar deh. Lhaa....
            Hingga akhirnya mereka sampai di suatu tempat, kemudian memasukinya. Tempat yang setelah kuselidiki, ternyata adalah Panti Asuhan.
“Panti Asuhan ?” Gumamku berdiri di balik pohon, yang tadinya aku sangat bersemangat mengikuti mereka, aku jadi lemas. Pikiranku langsung begitu saja menarik kesimpulan, bahwa rencana itu akhirnya akan segera terjadi. Kegelisahanku selama ini benar, dan dalam waktu dekat, mereka pasti akan melakukan itu.
            Aku akhirnya kembali, meninggalkan tempat yang mungkin sebentar lagi akan menjadi tempat tinggalku. Sampai rumah Kak Stella, aku langsung masuk kamar, mencari Sonia tapi tetap tak ku tak menemuinya, akhirnya ku ketuk saja kamar kamar Kak Stella, berharap semoga dia ada di sana.
*cklak* akhirnya kubuka pintunya. Dan terlihat Kak Stella ada di ranjangnya.
“Kak, ada Sonia ?” Tanyaku.
“Sonia tadi pergi nemenin mamah, kayanya belanja deh.” Ucap Kak Stella yang tengah duduk memangku laptopnya, akhirnya kututup lagi pintu kamar Kak Stella. Berdiri sebentar, kemudian membuka pintunya kembali.
“Kak, sibuk nggak ?” Tanyaku lagi.
“Nggak ko, nggak begitu sibuk.” Jawab Kak Stella, aku berfikir sebentar, dan ternyata akumasih ragu, kemudian menutup kembali pintunya. Masih berdiri di depan kamar Kak Stella, masih berfikir, masih ragu, dan masih gelisah, sampai akhirnya aku membuka kembali pintu kamarnya, dan kali ini Kak Stella sudah ada di balik pintu, dengan melipat tangannya di depan perutnya dan menatapku heran.
“Kenapa ? Bingung banget. Kalo mau masuk, masuk aja. Nggak usah kaya tadi.” Ucap Kak Stella, hebat ya dia, peka banget.! (Iya bil, peka BANGET.!)
“Udah sini, masuk. Terus cerita ke Kakak.” Kali ini tanganku ditarik Kak Stella, membawaku ke balkon kamarnya. (Bil, tukeran posisi plis ><)
“Sekarang cerita kenapa...” Ucap Kak Stella mengawali.
“Tapi....nggak enak ceritanya.” Kataku masih saja ragu.
“Kenapa nggak enak ? Kak Stella kan udah bilang, kalau Nabilah mah cerita, Kakak siap dengerin kok. Inget kan ??”  Kata Kak Stella, (hahhh coba aja penulis ada di posisi Nabilah :3)
“Tadi Nabilah liat Shania sama Eyang ke panti asuhan, kayaknya tebakan Nabilah bener deh Kak. Yang soal Nabilah bukan adik kandung Shania.” Akhirnya aku memulai cerita.
“Terus ?”
“Nabilah ikutin tadi, Nabilah bingung, Nabilah takut..” Ucapku terpotong oleh suara pintu yang terbuka keras dari bawah.
“Nabilah.! Nabilah,!” Ucap seseorang yang kukenal jelas suaranya. Aku dan Kak Stella pun bergegas turun.
“Ayahh...” Ucapku, ya benar.! Ayah yang datang, dengan Shania yang membuntut di belakangnya.
“Pulanglah nak, Ayah rindu denganmu.” Ucap Ayah begitu melihatku. Aku hanya menggeleng dan bersembunyi di balik tubuh Kak Stella.
“Nabilah, Ayah udah nggak marah, Shania juga. Ayo pulang.” Ucap Ayah dengan suara tegasnya.
“Nabilah nggak mau pulang yahh.” Jawabku, kemudian Ayah menghampiriku dan menggandengku dengan kuatnya hingga ke halaman depan, aku mencoba memberontak, tapi cengkraman tangan Ayah begitu kuat melingkar di pergelangan tanganku. Akhirnya aku terjatuh, dan Ayah melepaskanku, aku tersungkur. Terlihat Tante Lanny datang dengan Sonia dan Om yang baru pulang dari tempat kerjanya.
“Ayah hanya ingin kamu pulang.! Pulang dan tetaplah di rumah.!” Ucap Ayah mulai marah.
“Apa Ayah akan mulangin Nabilah ke panti Asuhan ??” Ucapku sambil menangis.
“Kamu ini ngomong apa ? Shania, bawa adik kamu pulang.!” Jawab Ayah sambil berbalik ke arah mobil dan Shania mulai mengampiriku.
“Ayahh, Nabilah mohon, biarin Nabilah disini, Nabilah nyaman dissini, Shania juga pasti tenang tanpa Nabilah, Nabilah tau...Ayah lelah kan ngerawat Nabilah ? Ayah lelah, karena Nabilah dan Shania berantem terus. Biarin Nabilah disini.” Kataku berlutut menghadap Ayah.
“Nabilah nggak tau, kenapa Nabilah gini, Nabilah Cuma mau tau kenapa Shania benci Nabilah. Kalau karena Bunda, Nabilah juga nggak pengen lahir di dunia kalau taruhannya nyawa Bunda. Nabilah tau, Shania sangat benci Nabilah karena itu, iya kan Shan ?” Ucapku panjang lebar.
“Shania nggak mungkin benci kamu, Shania kakak kamu Nabilah.!” Ucap Ayah
“Apa Ayah tau, gimana sedihnya Nabilah waktu liat Kak Stella begitu perhatian sama Sonia ?? disitu Nabilah berfikir, kenapa Shania nggak pernah ngelakuin itu.” Ungkapku Shania teridam di tempatnya, menatapku dengan....ntah tatapan apa itu.
“Bahkan ketika Kak Stella menghapus air mata Nabilah pertama kali. Nabilah inget, selama 14 tahun ini, Shania nggak pernah ngelakuin itu ke Nabilah. Bahkan Nabilah nggak inget kapan terakhir kali Shania senyum kearah Nabilah.”
“Ayah.. Nabilah sayang Ayahh, tapi ijinin Nabilah buat beberapa saat cari tau jawaban dari semua pertanyaan itu. Ayah, Nabilah kecewa sama semua ini, apalagi waktu Nabilah dituduh mencuri di sekolah, waktu Ayah nggak mau dengerin Nabilah, Shania yang ikut nyalahin Nabilah. Nabilah sakit yahh, karena bahkan keluarga lain yang justru percaya sama Nabilah, bukan keluarga Nabilah sendiri.”
“Nabilah mohon yah, biarin Nabilah disini. Nabilah mohon.” Aku akhirnya menyudahi kalimatku, kalimat ungkapan dari perasaanku yang tak tersampaikan.
“Shania.!!” Panggil Ayah keras. Shania yang hendak memegang tanganku jadi menghindar.
“Ayo pulang.” Lanjut Ayah, kemudian Shania menghampiri Ayah, kemudian mereka pun masuk mobil dan melajulah mobil itu dari tempatnya hingga hilang dari pandanganku.
            Aku menunduk, apa yang telah aku lakukan ? benarkah keputusan yang telah kuambil? Sonia menghampiriku kemudian memelukku.
“Kamu baik-baik aja kan bil ?” Tanya Sonia melepas pelukannya.
“Aku nggak papa Son.” Jawabku datar, ntah benar atau tidak jawabanku itu, hanya sekadar formalitas menjawab pertanyaan Sonia.
“Yaudah yuk masuk.” Kata Sonia membantuku berdiri, kemudian berjalan beriringan masuk rumah.
“Son, aku mau ke dapur dulu ya.” Ucapku kemudian melesat ke dapur, untuk sekedar minum, namun tanganku yang ntah kenapa dia menjadi licin, membuat gelas yang ku genggam terjatuh dan pecah. Karena tak mau merepotkan Tante Lanny, aku pun mencoba membersihkan pecahan kaca yang berserakan, tapi bodohnya aku, pecahan kaca itu justru melukai jariku.
“Nabilah, kamu nggak papa kan ? Udah biarin pecahannya, ayo bersihin lukanya.” Ucap Sonia khawatir yang melihat jariku penuh darah, kemudian dengan telatennya membersihkan lukanya dan di obati.
“Nabilah, ayo kita ke rumah sakit.” Kata Tante Lanny tiba-tiba dengan wajah panik.
“Nabilah nggak papa ko Tan, Cuma kena kaca doang tadi.” Jelasku memerhatikan luka di jariku yang masih dibalut oleh Sonia.
“Bukan. Mobil Ayahmu kecelakaan setelah dari sini, sekarang Ayah kamu dan Shania di rumah sakit.” Jelas Tante Lanny.
            Dyaaarrr,!!! petir yang ntah darimana kembali menyambar pertahananku. Bendungan air mataku hancur, air mata yang tak ingin ku keluarkan, menetes sendiri, tanganku bergetar, jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya, keringat dingin mengucur begitu saja di seluruh tubuhku. Ini semua pasti salahku, hanya salahku.! Iya aku.!
            Sesampainya di rumah sakit, kulihat ayah, dia masih belum sadar, dengan beberapa luka di lengan dan perban di kepalanya.
“Ayah..bangun yah, ini Nabilah yahh. Ayah, maafin Nabilah. Nabilah udah bandel.” Ucapku sambil memeluk Ayah. “Ayah bangun yahh, Ayah harus hukum Nabilah, Nabilah yang salah. Bangun yaahhhhh.” Seseorang menepuk pundakku, membuatu kembali ke posisi awal, menegakkan tubuhku.
“Bil....” Ucap orang itu dari atas kursi rodanya.
“Shania..kamu nggak apa-apa ? Apa yang sakit ? Ngomong sama aku Shan.” Ucapku memeriksa tubuh Shania kemudian berlutut di depannya.
“Kamu boleh marahin aku sekarang shan. Kamu boleh ko omelin aku, benci sama aku. Aku emang pembawa sial, aku yang salah, semuanya salah aku.” Ucapku sambil memukuli kepalaku sendiri, menyesal.! Namun tiba-tiba Shania memegang tanganku dan menghentikan pukulan di kepalaku, kemudian menatapku, ini pertama kalinya Shania menatapku sendu, tak tajam seperti biasanya.
“Aku yang salah, aku nggak pernah jadi kakak yang baik dan kasih contoh buat kamu. Aku yang nggak bisa jagain kamu, aku yang harusnya bisa jadi pengganti Bunda buat kamu, bukan aku yang selalu nyalahin kamu, marah-marahin kamu. Aku juga yang nyebabin kecelakaan ini.” Ucap Shania dengan matanya yang memerah.
“Aku selalu merasa kehilangan Bunda, padahal aku juga harusnya tau, bahwa kamu juga pasti sama kehilangannya seperti aku, aku emang bodoh...” Lanjutnya menundukkan kepalanya.
“Nggak Shan, bukan Cuma kamu yang salah, aku juga salah. Harusnya aku bisa sedikit lebih sabar buat ngadepin ini, apalagi sekarang aku tau, bahwa aku ternyata bukan adik kandung kamu, aku bukan anak kandung ayah.” Aku menggenggam tangan Shania.
“Kamu salah bil, iya kamu memang bukan adik kandung aku, tapi..”
“Aku udah tau ko Shan, kamu sama Eyang ke panti asuhan kan ? Kalian pasti mau mengembalikan aku kan ? aku juga udah ngerasa sejak lama, aku beda sama kamu, kamu yang bertalenta, aku yang biasa-biasa aja, kamu yang tinggi, aku yang segini-segini aja dan kamu yang....”
“Aku yang bukan anak kandung Ayah dan Bunda, Nabilah.!” Ucap Shania cepat, sukses membuatku menghentikan kalimatku dan tak sempat menutup mulutku.
“Dan aku yang harusnya kemarin pergi dari rumah, bukan kamu.! Ini juga yang aku bilang sama Ayah sebelum kecelakaan, terus Ayah kaget dan kehilangan kontrol kemudinya.” Ucap Shania dengan pertahanan air matanya yang hancur. Aku masih tertegun mencerna kalimat Shania.
“Shan..nggak mungkin.”
“Kata Eyang, 15 tahun lalu, Ayah dan Bunda mengadopsiku dari panti asuhan. Mereka mengadopsi aku, karena Bunda sakit parah di rahimnya, dan nggak mungkin punya anak. Tapi waktu aku baru satu tahun, keajaiban itu dateng, Bunda hamil, walaupun itu sangat membahayakan kesehatan Bunda, tapi Bunda tetep mertahanin kandungannya, sampai kamu lahir bil, walaupun akhirnya Bunda meninggal.” Cerita Shania.
“Ayah berhasil merahasiakan ini, sampai aku baru tau dari Eyang waktu itu, waktu kamu memutuskan buat pergi dari rumah. Bukan nggak mau kasih tau kamu, tapi aku masih belum bisa terima kenyataan ini. Aku nyoba ngajak kamu pulang, tapi kamu nggak mau.” Lanjut Shania, aku yang sejak tadi menundukkan kepala mendengar ceritanya, jadi menatap Shania ‘jadi.....’.
“Setelah itu, aku jadi ngerasa bersalah, aku yang bukan siapa-siapa, tapi aku yang kaya anak kecil, aku yang sok menguasai, padahal kenyataannya aku bukan anak kandung Ayah dan Bunda. Kamu harusnya nggak perlu kemana-mana Bil, dan nggak boleh kemana-mana, temani Ayah. Karena aku akan mencari keluarga kandungku, dan setelah itu aku yang akan pergi. Dan kamu akan tenang.” Tutup Shania.
“Tapi Shan, kamu nggak boleh pergi, Ayah juga pasti pengen kamu tetep tinggal.” Ucapku masih belum begitu percaya atas kenyataan ini.
“Nggak bil, aku udah memutuskan semuanya. Pihak panti asuhan juga akan bantu cari keluarga aku, jadi...” Shania menundukkan kepalanya. “Ma..maaf buat semuanya.” ucapnya tak lancar. “Maafin aku bil, maafin aku yang selalu marah-marah sama kamu, maafin aku yang selalu nganggep kamu musuh, maafin aku yang selalu nganggep kamu salah, dan maafin aku buat kemarin yang dikelas, aku harusnya percaya sama kamu.” Shania menangis.! Aku ikut menangis, aku tak mampu menimpali kalimat Shania, hanya bisa memeluk Shania, dan untuk pertama kalinya Shania membalas pelukanku, pelukan yang selama bertahun-tahun aku harapkan. Ternyata aku salah, aku tidak membenci Shania, aku sangat menyayangi Shania. Hanya saja karena adanya masalah yang terjadi, membuat semuanya seakan ada sekat yang begitu tinggi di antara kita.
           

            Hari berlalu begitu saja, Ayah masih belum sadarkan diri, sementara Shania masih saja asik dengan kursi rodanya, karena tulang kakinya yang retak, walaupun sekarang Shania sudah tidak dirawat lagi, hanya tinggal mengikuti therapy untuk bisa berjalan kembali.
            Kupandangi wajah Ayah, bayang-bayang masalah itu masih terngiang-ngiang di kepala yang keras ini. Aku sadar aku salah, aku yang gampang terbawa suasana dan memutuskan banyak hal aneh. Sekarang aku juga menyadari banyak hal konyol yang kulakukan. Mengharap keluarga lain menjadi keluargaku, pikiran macam apa itu ? sedangkan aku punya Ayah yang sangat baik, Ayah yang dengan tangannya sendiri membesarkanku, Ayah yang selalu berusaha menjadi dua sosok yang berbeda dalam satu waktu, menjadi Bunda dan juga Ayah. Dan ternyata akulah yang membuatnya kecewa, hingga semua ini terjadi.

“Ayah..ayah ko nggak bangun-bangun sih ? Ayah marah ya sama Nabilah, maaf Nabilah udah bentak Ayah waktu itu. Iyaa Nabilah mau pulang, Nabilah mau berubah demi Ayah, Nabilah janji Nabilah akan jadi anak baik Yah, tapi Ayah bangun....” Ucapku masih memandangi Ayah yang belum saja membuka matanya.
“Ayah dari Makassar belum istirahat ya ? Nabilah tau Ayah capek, tapi Ayah udah tidur lama, sekarang bangun Yah, liat Nabilah Yah...” Ucapku.
“De..bisa tinggalin Ayahnya sebentar, dokter akan memeriksanya kembali.” Ucap seorang suster dan menghentikan kegiatanku.
“Ayah Nabilah keluar sebentar ya.” Ucapku kemudian mengecup kening Ayah, kemudian bergegas keluar dari kamar.


“Nabilah.” Sapa seseorang.
“Kak Stella.” Ucapku kemudian memeluknya..
“Sonia, Om, Tante.” Lanjutku.
“Gimana kabar Ayah dan kakak kamu ?” Tanya Om Winarto.
“Ayah belum sadar dari komanya om, terus Shania...”  Ucapku menggantung, aku baru teringat, Shania hari ini therapy berjalan, kemudian aku langsung berlari dan meninggalkan semuanya.
“Kamu mau kemana bil ?” Teriak Sonia.
“Aku mau nemenin Shania, titip Ayah yaaa?” Jawabku berteriak juga.

            Sampai di ruangan therapy, Shania sudah ada di dalam dan sudah memulai therapynya.
“Permisi dok, boleh Nabilah masuk?” Ucapku setelah membuka pintu ruangan.
“Kamu siapa ?” Tanya dokter itu heran.
“Dia adik saya dok.” Ucap Shania. Aku yang tadinya menatap dokter jadi berubah menatap Shania. Aku tertegun sebentar mendengar kalimatnya ‘adik saya’, ntah kenapa, tapi aku sangat senang. Dia sama sama sekali tak pernah mengatakan itu sebelumnya. Dan kejadian ini sukses membuatku tersenyum sendiri.
“Oke, kamu boleh bantu pegangin kakak kamu, dan bantu dia melangkah.” Ucap Dokter, kemudian aku mulai memegangi tangah Shania, memapahnya, membantu dia melangkahkan kakinya. Beberapa menit berlalu, Shania perlahan sudah bisa melangkah, tapi karena aku terlalu lelah, dan Shania memaksa terus mencoba, akhirnya peganganku melemah dan Shania terjatuh.
“Aduhhh, maaf Shan, sakit nggak ?” Kataku berjongkok di depannya.
“Ini nih, gara-gara kaki aku pendek banget. Lagian kamu punya kaki ko panjang banget sih, jadi kan nggak bisa terkoordinasi dengan baik.” Belum Shania mejawab aku sudah menyerocos dan menyalahkan dia.
“Makanya Shan, kapan-kapan kamu cari kaki yang kaya stand mic yang punya itu lho idol grup yang rame banget yang stand micnya bisa naek turun.” Kataku mencandai Shania.
“Siapa bil rame-rame ??” Tanya Shania.
“Itu lho Shan, yang nyanyi ai woncyuu, ai nidyuu....” Jawabku sambil mempraktekan gaya idol grup itu. Shania yang kukira akan marah justru tertawa melihat tingkahku. Fix.! Aku tersenyum melihat Shania tertawa puas karenaku, tawanya yang seperti itu benar-benar pertama kali aku lihat, dia sangat puas, dan muka juteknya sama sekali tak terlihat, hanya muka anak-anak lah yang hinggap di wajahnya.


            Seminggu sudah setelah kecelakaan itu, Shania sudah mulai bisa berjalan lagi walau masih menggunakan tongkat penyangga, Ayah pun mulai terlihat menggerakkan jari-jarinya, walaupun belum seratus persen sadar.
            Aku masih menggenggam tangan Ayah, kali ini ditemani Shania, yang memegangi pundakku, kami saling memandangi orang yang selalu merawat kami dari kecil, tangannya mulai dingin, kesedihan itu mulai muncul kembali di antara kita.
“Bil, kamu kamu nggak mau nyanyi buat Ayah ?” Ucap Shania.
“Ko kamu tau aku suka nyanyi ?”
“Ya tauhlah, siapa sih yang suka konser di kamar mandi berjam-jam sambil tereak-tereak kalo bukan kamu. Walaupun nggak niat dengerin, tapi kalo di dengerin enak juga.” Jelas Shania yang sukses membuatku tersipu. Ternyata dia perhatian juga. Aku pun akhirnya bernyanyi, diikuti Shania yang membuntuti suaraku. Dan ntah karena terganggu suara kami atau gimana, tapi tangan Ayah mulai bergerak.
“Shan, tangan Ayah.! Tangan Ayah gerak Shan. Ayaahhh, ayahh.” Aku memanggilnya, Ayahpun mulaai membuka matanya perlahan.
“Ayah, ini Shania yah, disini ada Nabilah juga.” Ucap Shania merapat ke ranjang Ayah.
“Shania, Nabilah...Ayah sayang kalian nak.” Ucap Ayah masih terbata-bata.
“Kita juga sayang Ayah, Ayah jangan tidur lama lagi yah, kita butuh Ayah.” Ucapku.
“Ayah nggak ijinin Nabilah pergi, Ayah juga nggak ijinin Shania kemana-mana, tetaplah seperti ini, kita bertiga dan berempat dengan Bunda di surga. Temanilah Ayah, kalian jangan tinggalin Ayah.” Ucap Ayah kali ini, berhasil membuat ruangan ini banjir air mata.
“Nabilah nggak akan kemana mana yah, Shania juga nggak akan pergi, iya kan Shan ?” Ucapku yang dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan pada Shania, yang ditanya berfikir sejenak, namun akhirnya dia mengangguk.
“Iya yah, Shania juga akan tetep sama Ayah.” Ucap Shania. Jujur, aku sangat senang mendengar ucapan Shania, lega dia nggak jadi pergi. Secara nggak langsung, ternyata aku takut Shania pergi, aku takut kehilangan si Jangkung yang super nyebelin.
           

            Semuanya berlalu, semuanya sudah baik-baik saja, semuanya sudah kembali seperti biasanya, aku dan Shania kembali bersekolah, Ayah kembali bekerja.
“Lama banget sih.” Kesal Shania begitu aku sampai gerbang sekolah.
“Hehe, maaf. Tadi ada urusan bentar.” Kataku, kemudian Shania mendahului berjalan dengan muka juteknyaa, Yaaahhh kumat.
“Yaelah Shan, maaf. Nggak usah manyun-manyun gitulah.” Kataku yang kerepotan menyusul langkah Shania yang panjang-panjang.
“Bodo.” Singkatnya, kemudian kami saling diam sambil berjalan pulang.

“Eh ikut aku yukk.” Ajakku, ketika sampai di pertigaan.
“Mau kemana ?” Tanyanya.
“Udah nggak usah bawel.” Tanpa basa-basi lagi, aku menarik tangan Shania, yang seharusnya di pertigaan aku belok ke kiri, tapi malah belok ke kanan.
“Mau kemana sih, bil ??” Tanyanya di perjalanan, dia sudah mengikutiku namun masih kesal.
“Temenin aja kenapa, aku mau ke suatu tempat. Salah ya kalau aku minta temenin kakak aku, nanti kalau aku di culik gimana, terus aku di sekap terus....” Ucapanku terhenti karena Shania membekap mulutku.
“Iya, aku temenin.!” Ucapnya sedikit gak ikhlas.


“Udah sampe.! Ayo naek.!” Pintaku setelah sampai di tujuan.
“Ahh, kamu sehat nggak bil ? mana berani aku naik ?” Ucap Shania memandangi rumah pohon yang ada di atasnya.
“Udah deh Shan gak usah lebay. Waktu itu kamu kan naik, pas aku ketiduran di sana. Aku tau ko, nggak usah takut jatoh, paling juga jatoh ke bawah, kalo jatohnya ke atas, baru deh aku yang repot.” Ucapku menyemangati.
“Yeiii, iya deh. Tapi...”
“Nggak ada tapi-tapian, udah cepetan.!” Ucapku mendorong tubuh Shania.
            Shaniapun walaupun ragu, sudah mulai menaiki tangga, walaupun aku juga takut kalau dia jatuh karena kakinya yang pernah retak, tapi dia kan atlet, pasti juga sering jatoh, biasalahhh..
“Sampai juga kan ?? Gitu aja takut, payah kamu shan.” Ledekku begitu aku sampai di atas juga.
“Beneeran deh bil, aku takut banget.! Apa lagi kalo liat ke bawah, pusing bil.! Turun aja deh yokk.” Ucapnya gemetar sambil memegangi lenganku ketakutan dengan sesekali melirik ke arah bawah.
“Yaelahh Shan, udah sampe atas malah minta turun, naeknya aja susah payah. Udah disini aja, pengangan aku, terus liat aku deh, jangan liat bawah terus, kan mending liat aku, cantik kan ?” Ucapku kemudian Shania menatapku, namun dengan alis matanya yang ia rapatkan.
“Ih apaan, PD. Jelek gitu, cantikan juga aku.” Katanya mulai terbiasa, sambil melihat-lihat dinding rumah pohon ini yang kutempeli tulisan-tulisanku.
“Kamu ngapain aja kalau disini dek ?” Lanjutnya, aku kaget dengan pertanyaannya, lebih tepatnya panggilannya mungkin.
“Apa ? bisa diulang nggak ?” Pintaku, kali aja tadi salah denger.
“Hmm, nggak ada siara ulang.!” Juteknya. “Emang nggak boleh yaa manggil gitu ?? yaudah nggak jadi.” Shania ngambek.
“Yahh ngambek segala lagi. Boleh ko, boleh Kak Shania.” Balasku, dan Shaniapun terlihat menahan tawanya mendengar kalimatku, dan akhirnya kamipun tertawa lepas bersama-sama.
“Lucu yah kita. Manggil yang seharusnya malah kedengeran aneh. Dek Nabilah, Kak Shania. Haha..” Ucap Shania ketika tawa kami mulai mereda.
“Mungkin belum biasa aja yah Shan, eh Kak. Hehe.”
“Makanya harus dibiasain bil, eh dek. Yah ikut-ikutan lupa.” Ucap Shania, eh Kak Shania (lahh penulis jadi bingung)
“Lucu juga aku dipanggil kak sama kamu dek, :D” Lanjutnya.
“Eh iyaa, kamu belum jawab pertanyaan kakak, ngapain kalo disini ?” Tanya mengulang.
“Ngapain yahh ? ya ngapain aja kak. Yang nggak bisa Nabilah lauin di luar sana, tiduran, nulis, nggambar, nyanyi, cerita bunda, atau paling liatin langit aja.” Ceritaku.
“Hayyooo, sering cerita apa ke bunda. Pasti jelek-jelekin Kakak. ?” Tuduh Kak Shania.
“Iyaa, abisnya...”
“Bunda, jangan percaya sama semua yang diomongin Nabilah ya ? dia tuh suka bohong, Shania nggak pernah marah ko bun, Shania juga jarang ngomel.” Ucap Shania memandang langit bak berbicara pada Bunda.
“Kak Shaniaaaa, jangan bohong, nanti bunda sedih lhoo..” Ucapku mengingatkan.
“Eh jangan sedih bunda. Iya Shania pernah marah, tapi itu karena si kubil bandel, suka jail, iseng, nyebelin bawel..”
“Kak....” aku mengingatkannya lagi.
“Iyaaa, tapi Nabilah baik ko bun, Shania yang salah. Shania belum bisa gantiin bunda, Shania belum bisa bikin Ayah sama Nabilah seneng, Shania ngerti sekarang kenapa Bunda kasih Nabilah sebelum Bunda pergi, Bunda pengen Shania nggak kesepian kan ? Bunda pasti sedih pas Shania sama Nabilah berantem, maafin Shania ya bunda, Shania janji jaga Ayah, jaga Nabilah juga, Shania sayaaaannng banget sama Bunda.” Ceritanya panjang lebar, sambil memandangi langit.
“Kak ?? udah curhatnya ??”
“Peluk Nabilah.” Ucapku sambil membuka tanganku, dan langsung di turuti Shania.
“Kakak janji dek, bakal ngelakuin apapun demi kamu. Kakak nggak akan bikin kamu sedih lagi.” Katanya dalam pelukanku.
“Iya Nabilah juga janji nggak akan nakal lagi. Pokoknya kita jangan berantem-berantem lagi ya Kak. ?” Aku meminta persetujuan, kemudian di jawab anggukan oleh Shania yang telah melepas pelukannya.
“Dek...” “Turun yukk.” Pinta Shania yang sepertinya sudah mulai teringat akan phobianya.
“Kak Shania turun duluan aja.” Aku menggodanya.
“Ihhh kamu tuh ya. Kakak takut, mending kamu duluan deh, jadi kalau kakak jatuh, kamu nangkep dari bawah.” Shania panik.
“Iya deh, aku turun duluan.” Ucapku akhirnya turun dari rumah pohon, dan langsung berlari meninggalkan Shania.
“Nabilaahhh mau kemana ? tunggu Kakak di bawahh.” Shania berteriak.
“Bodoo ahh.! Udah laper tau.” Ucapku menjulurkan lidahku.

            Semuanya akhirnya selesai dengan Happy Ending, Shania *eh Kak Shania kini bisa menerimaku sebagai adiknya, begitupun aku. Semua mungkin tak akan terlupa begitu saja kenangan berantem, marahan, sampe nangis bareng akan selalu mengikuti, bahkan bisa jadi cerita lucu esok hari yang akan kami ceritakan kepada turunan Nabilah dan Shania. Inilah kisahku, menjalani hidup dengan ceria walaupun banyak masalah, tapi yakinlah semua pasti ada jalan keluarnya, namanya awal pasti ada akhir. Mulailah tersenyum saat ini jadikan masalah sebagai teman.!
“Nabilaaahhhhhh. Kamu  kemanain sepatu Kakak.” Teriak Kak Shania memulai babak baru.
“Maaf kak. Nabilah lupa, kemaren pinjem buat tutup lubang tikus di kamar.” Ucapku sambil berlari, kabur dari Kak Shania
“Nabilaaaaahhhhhhhhhhhh.!!! Jangan Lariiiii.!!!”

END.