Ini sudah
lebih dari 24 jam sejak aku berkata ‘aku pulang. Kapan datang?’ kemudian dengan
nada menjanjikan, kamu menjawab ‘Iya, sebentar lagi aku datang.’
Tapi..
lihatlah, hari sudah berubah semenjak kamu mengucapkan janji itu, dari ketika
matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya, hingga dia mulai begitu
semangat menyinari bumi, sampai dia mulai lelah, lelah, dan langitpun menjadi
gelap, bahkan sampai pagi ini, kamu belum juga datang.
Seberapa
lama sebentar yang kamu maksud ? Sehari ? dua hari ? satu minggu ? atau bahkan
bertahun-tahun, masih bisa kau anggap sebentar ?
Heyy
kamu....tak sadarkah ?? kalimatmu itu membuatku menunggu, dan berharap.
Ini sudah
lebih dari 24 jam.!! Masih bisa berkata sebentar ?
Atau
mungkin, detik jamku saja yang bergerak sangat cepat dibanding jam milikmu ?
sebegitu lambatkah pergerakan detik di jammu ?
Sesibuk
itukah kamu ? lupakah padaku, pada ‘sebentar’ yang kau katakan sehari yang
lalu.? Lupakah ??
Seberapa
lama lagi aku harus menunggu ? seberapa lama lagi aku harus menyakinkan diriku
bahwa waktu yang telah ku buang sejak janjimu itu adalah sebentar ?
Katakan.!!
Katakan apa yang sedang kamu lakukan di sana ? katakan apa yang sedang
terjadi.! Apa ?? apa yang membuatmu lupa atas aku yang kau beri janji
‘sebentar’ ??
Kamu tau
jika hari ini terus berganti, tanpa kedatanganmu. Tanpa ketepatan janji pada
sebentarmu itu ? aku kecewa.! Aku tak tau lagi, harus apa ? ini sudah lebih
dari batas aku menanti kamu, ini sudah lebih dari perjuanganku untuk
menunggumu, menahan rasa kecewa atas sebentarmu yang menjelma menjadi sangat
lama. Aku lelah menghubungimu dengan tanpa adanya balasan atau ketika berhasil
menghubungi, kemudian hanya dijawab ‘iya’. lalu mana usahamu ? haruskah aku
yang selalu berjuang ? berjuang demi menantimu, berjuang demi bertemu denganmu,
berjuang demi satu sentuhan hangat darimu, haruskah selalu aku ?
Mana kamu ?
mana kamu yang dulu selalu berkata ‘lebih baik aku yang menunggu, dibanding
kamu yang harus berlama-lama menungguku.’ Mana ? lupakah ? mana kamu yang dulu
selalu melindungiku ? bahkan sekarang kamu membiarkanku terlantar .!!
Maaf, jika
nantinya aku tak lagi berharap atas kamu. maaf jika nanti, aku tak lagi
menganggapmu ada. Maaf jika pada akhirnya aku.........pada akhirnya tak akan
ada buncahan rasa bahagia ketika aku melihatmu datang demi memenuhi
‘sebentar’mu itu :’)
Ini bukan
hanya tentang ‘sebentar’ yang kau katakan, tapi atas harapan yang kau
munculkan, harapan yang kau berikan untukku, darahmu :’)