Sabtu, 12 Juli 2014

Sebentar

Ini sudah lebih dari 24 jam sejak aku berkata ‘aku pulang. Kapan datang?’ kemudian dengan nada menjanjikan, kamu menjawab ‘Iya, sebentar lagi aku datang.’
Tapi.. lihatlah, hari sudah berubah semenjak kamu mengucapkan janji itu, dari ketika matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya, hingga dia mulai begitu semangat menyinari bumi, sampai dia mulai lelah, lelah, dan langitpun menjadi gelap, bahkan sampai pagi ini, kamu belum juga datang.
Seberapa lama sebentar yang kamu maksud ? Sehari ? dua hari ? satu minggu ? atau bahkan bertahun-tahun, masih bisa kau anggap sebentar ?

Heyy kamu....tak sadarkah ?? kalimatmu itu membuatku menunggu, dan berharap.
Ini sudah lebih dari 24 jam.!! Masih bisa berkata sebentar ?
Atau mungkin, detik jamku saja yang bergerak sangat cepat dibanding jam milikmu ? sebegitu lambatkah pergerakan detik di jammu ?

Sesibuk itukah kamu ? lupakah padaku, pada ‘sebentar’ yang kau katakan sehari yang lalu.? Lupakah ??
Seberapa lama lagi aku harus menunggu ? seberapa lama lagi aku harus menyakinkan diriku bahwa waktu yang telah ku buang sejak janjimu itu adalah sebentar ?
Katakan.!! Katakan apa yang sedang kamu lakukan di sana ? katakan apa yang sedang terjadi.! Apa ?? apa yang membuatmu lupa atas aku yang kau beri janji ‘sebentar’ ??

Kamu tau jika hari ini terus berganti, tanpa kedatanganmu. Tanpa ketepatan janji pada sebentarmu itu ? aku kecewa.! Aku tak tau lagi, harus apa ? ini sudah lebih dari batas aku menanti kamu, ini sudah lebih dari perjuanganku untuk menunggumu, menahan rasa kecewa atas sebentarmu yang menjelma menjadi sangat lama. Aku lelah menghubungimu dengan tanpa adanya balasan atau ketika berhasil menghubungi, kemudian hanya dijawab ‘iya’. lalu mana usahamu ? haruskah aku yang selalu berjuang ? berjuang demi menantimu, berjuang demi bertemu denganmu, berjuang demi satu sentuhan hangat darimu, haruskah selalu aku ?
Mana kamu ? mana kamu yang dulu selalu berkata ‘lebih baik aku yang menunggu, dibanding kamu yang harus berlama-lama menungguku.’ Mana ? lupakah ? mana kamu yang dulu selalu melindungiku ? bahkan sekarang kamu membiarkanku terlantar .!!
Maaf, jika nantinya aku tak lagi berharap atas kamu. maaf jika nanti, aku tak lagi menganggapmu ada. Maaf jika pada akhirnya aku.........pada akhirnya tak akan ada buncahan rasa bahagia ketika aku melihatmu datang demi memenuhi ‘sebentar’mu itu :’)

Ini bukan hanya tentang ‘sebentar’ yang kau katakan, tapi atas harapan yang kau munculkan, harapan yang kau berikan untukku, darahmu :’)