“Haha, eh ci
any way makasih yaa udah temenin aku jalan-jalan.” Dua gadis itu tampak senang
ketika berjalan menuju parkiran salah satu mall di Jakarta.
“Iya iya.
Ini juga mamah yang nyuruh. Coba kalo mamah nggak bilang ‘stella, temenin sonia
jalan-jalan ya. Biar dia nggak sendirian, jaga adik kamu.’ Gue nggak bakal
nemenin loe jalan.” Ucap Gadis yang secara fisik terlihat lebih matang daripada
gadis yang disebelahnya.
“Terpaksa
banget gitu ci, sama adik sendiri.” Protes gadis satunya lagi yang mengaku
sebagai adiknya, mereka masih asik berjalan mencari mobil yang mereka gunakan
untuk menuju ke mall ini.
“Iyalah
males banget jalan sama anak kecil.” Sang Kakak sepertinya sangat cuek terhadap
adiknya yang terlihat memanja.
“Males juga
seneng kan ? kalo nggak, ngapain kita jalan dari siang sampe malem kaya gini.”
“Iya deh,
gue sennneeeennnngg banget abis jalan sama adik gue SATU-SATUnya, SONIAAAA.”
Gadis yang berperawakan lebih tinggi itu menyebutkan nama adiknya dengan sangat
jelas.
“Oke aku
juga seneng banget jalan sama Cici aku, stella PENGHARUM RUANGAN.! Haha.” Sonia
membalas Kakaknya dengan candaannya.
“Eh awas ya
loe.” Stella yang tak terima, sigap mengejar adiknya yang telah mendahului
jalannya.
“Kejar aja
ka.....”
‘Brakk..’
barang-barang yang Sonia bawa, terjatuh begitu saja.
“Eh ya ampun
maaf.” Ucap seorang perempuan yang bertabrakan dengan Sonia.
“Son.”
Stella yang sempat menghentikan jalannya, akhirnya mendekat ke TKP.
“Eh, maafin
adik saya mbak, maaf dia emang nggak bisa diem.” Stella mewakili Sonia meminta
maaf.
“Makanya
adiknya di jaga dong mbak.” Laki-laki yang ada di samping perempuan itu justru
menyalahkan Stella.
“I..iya
maaf.” Stella yang tak menduga akan mendapat respon seperti tadi mendadak gagap.
Sang perempuan nampak protes pada laki-laki itu untuk bicara lebih sopan pada
Stella.
“Nggak papa
ko. Lagian gue juga nggak ngeliat ada orang.” Kata perempuan tadi. “Loe nggak
papa kan.” Lanjutnya memandang ke arah Sonia.
“Engg..nggak
papa ko.” Sonia yang sedari tadi masih dalam posisi duduknya kini ia telah
berdiri, ntah apa, tapi dia seperti memandang heran ke perempuan yang baru saja
membantunya berdiri.
“Maaf ya,
tadi gw nggak liat ada loe.” Kata perempuan itu lembut.
“Eee..emm
i..iya. Nggak papa. Aku yang minta maaf.” Sonia tergagap, masih dengan tatapan
herannya ke perempuan tadi, Stella yang menyadarinya hanya menyenggol bahu
Sonia, berusaha membuat Sonia menyadari tingkah konyolnya.
“Yaudah kita
duluan yah.” Kata perempuan itu, dan dua orang tadi yang sepertinya sepasang
kekasih pun meninggalkan TKP, Sonia masih saja memandangi perempuan itu meski
Stella telah menyeretnya untuk segera
mengikutinya berjalan. Bahkan ketika telah berada di depan pintu mobil
Sonia masih berdiri mematung melihat dua orang tadi, sampai akhirnya sepasang
kekasih itu masuk mobil hingga mobil itu melaju dan hilang dari penglihatannya.
“Ci, orang
tadi ko aneh ya.?” Sonia berucap seraya membuka pintu mobilnya.
“Aneh kenapa
?” Stella yang tak begitu menanggapi langsung saja masuk ke dalam mobil.
“Aneh aja,
kaya ada aura-aura yang......” Sonia telah duduk di samping Stella, otaknya
menerawang scene yang baru saja dia dapat.
“Loe ngomong
apa sih, gak jelas banget.” Stella sibuk dengan barang belanjaanya yang hendak
ia taruh di seat belakang mobilnya.
“Ya ampun ci
aku inget.!” Seru Sonia menepuk dahinya sendiri. “Cepet kejar mobil yang orang
tadi pake.!” Lanjut Sonia dengan nada paniknya.
“Apa sih,
nggak usah teriak-teriak gitu ah.” Stella masih saja tak menanggapi omongan
anak kecil yang menurutnya hanya kalimat biasa.
“Ci, cepetan.!”
Lagi Sonia berseru di dalam mobil.
“Kenapa sih
? Lagian ngapain juga ngejar-ngejar orang yang nggak kita kenal.” Stella yang
saat itu memang sedang unmood karena kejadian tadi, hanya menganggap remeh
permintaan Sonia, seraya menyalakan mesin mobilnya dengan sangat santai.
“Ci, sebelum
kita terlambat.!” Sonia mengabaikan Stella yang mengacuhkannya.
“Iya ah,
udah diem..! Jangan ganggu konsentrasi gue.” Hanya sebagai formalitas agar
adiknya tak merengek seperti tadi lagi. Sonia bungkam dengan jawaban Stella
dengan wajah paniknya dan berharap agar mobil tadi masih sempat ia kejar.
Stella melajukan mobilnya, santai karena memang dia rasa tak ada beban,
jalanan juga masih terlihat basah bekas hujan tadi sore yang mengguyur jalanan.
“Ci
kencengan dikit.” Sonia yang masih belum melihat mobil yang ia maksud mulai
protes pada Stella yang sengaja memelankan laju mobilnya.
“Bawel
bang....”
“Ci, orang
tadi di penuhi aura gelap.!” Sonia mulai buka mulut, memotong kalimat kakaknya “Dan ada sosok hitam dibelakangnya, aku takut
kalo dia kenapa-kenapa di jalan.! Kita harus kejar dia.!” Sonia yang tak
kunjung mendapat respon baik dari Stella akhirnya menyampaikan maksud
sebenarnya.
“Loe nggak
usah bercanda deh Son, nggak usah ngarang-ngarang cerita sok horror buat
nakutin gue ya.!” Stella mulai mengerti maksud Sonia, tapi dia masih berusaha
menguasai logikanya untuk omongan anak kecil yang ada di sampinnya kini.
“Ci aku
serius.! Kalo dia ngikutin emosi dia, dia nggak bakal selamat ci.!” Lagi Sonia
menjelaskan maksudnya. Stella menatap heran pada Sonia untuk beberapa saat
kemudian fokus ke jalanan dan mulai menginjak gas lebih kencang dari sebelum
ini. ‘Kenapa Sonia bisa liat kaya gitu.’
Batin Stella tetap fokus. Sedang Sonia tak bisa diam dalam duduknya, berkali
kali dia mengganti posisi duduknya dan menengok setiap mobil yang ia liat.
“Kita nggak
boleh kehilangan jejak mereka ci.” Sonia masih celingukan ke arah jalanan.
Stella memelankan laju mobilnya, dari jarak lebih dari 30 meter tampak kemacetan yang biasanya tak
dijumpai di jalan ini.
“Ci, kenapa
?” Sonia yang menyadari laju mobilnya menjadi pelan memprotes.
“Macet Son,
tau nih biasanya juga nggak macet disini.” Stella menjelaskan, diam-diam dia juga
ikut panik.
“Jangan-jangan....”
Sonia merasakan feeling tak karuan, nafasnya terhenti sesaat.
“Ahhhh.!
Stop ci, berentiin mobilnya.!” Seru Sonia seperti bersiap keluar dari mobil,
Stella menuruti adiknya.
“Son mau
kemana ?” Seruan Stella tak didengar Sonia yang langsung turun dari ketika
mobil berhenti.
“Ini anak,
ribet banget sih.” Stella menggerutu di tengah kesibukannya melepas seatbelt,
berniat menyusul adiknya yang sudah menghilang dari pandangannya.
Sonia telah sampai di batas
kemacetan, atau dalam keadaan ini penyebab kemacetan mungkin lebih tepatnya,
ramai orang-orang mengelilingi mobil yang terbalik di pinggir jalan dengan asap
yang masih mengepul, tak ada api besar disana. Sonia yang masih penasaran
segera menerobos keramaian itu mencoba mencari tahu orang yang ada didalamnya. Tapi
dia lebih cepat menemukan plat mobil tadi yang sempat ia hafalkan nomornya.
Seketika Sonia melemas, nafasnya terasa berat, dadanya sesak, dia hanya
membungkam mulut dengan telapak tangannya, menahan tangis.
“Son...”
Stella telah menemukan sosok adiknya yang sedari tadi ia cari di tengah
keramaian.
“Ahhh.! Kita
telat ci.!” Sonia berteriak di depan mobil itu, menyesal pastinya. Stella yang
tahu maksud Sonia sigap merangkulnya, dia tau benar perasaan Sonia. Sebelum dia
menemukan adiknya dia telah menanyakan korban dari kecelakaan ini pada salah
satu orang yang tengah berkerumun disana. Dan benar saja, ada 2 korban disana,
sepasang lelaki dan perempuan, sang perempuan meninggal di tempat dan pacarnya dalam keadaan luka berat, mereka sedang dibawa
ke rumah sakit terdekat.
“Udahlah
son, ini takdir Tuhan juga ko.” Stella mencoba membesarkan hati adiknya.
“Kalo aja
tadi aku langsung tahu kenapa orang tadi dikelilingi sosok gelap pasti gak akan
kaya gini ci.!” Sonia masih saja menyesali tindakannya yang ia rasa telat, air
matanya jatuh juga ketika Stella merangkulnya.
“Bukan salah
loe ko Son.” Sonia tak menimpali kata-kata Stella lagi, dia masih memandangi
mobil tadi. Sekilas bayangan kecelakaan itu muncul di otak Sonia dan...
“Astaga.”
Sonia seperti terkaget melihat sesuatu, untuk kemudian menyembunyikan wajahnya
di bahu kanan Stella.
“Kenapa
Son.?” Tanya sang kakak yang merasa tak melihat apa-apa.
“Dia, disana
ci. Dia lagi natap kearah kita” Kata Sonia menunjuk ke arah yang bagi Stella
tak ada yang aneh, wajah Sonia masih ia tenggelamkan di bahu Stella.
“Mana Son,
nggak ada ko.” Stella clingukan mencari sosok yang Sonia maksud. Antara takut
dan penasaran, tapi dia merasakan hawa tak enak menyelimutinya.
“Muka dia
parah banget ci.” Lanjut Sonia tak berani melihat ke arah tadi lagi.
“Udahlah
kita pulang aja, mungkin loe kecapean, sampe loe halusinasi gitu.” Stella
membimbing adiknya yang terlihat lemas dalam rangkulannya.
Dalam perjalanan pulang mereka
saling terdiam, otaknya bermain dengan ilusinya masing-masing. Stella sibuk
dengan tak habis pikirnya tentang Sonia, kenapa Sonia bisa tau kalo perempuan
itu akan mengalami kecelakaan, darimana dia bisa melihat aura hitam yang tadi
Sonia katakan, bagaimana bisa. Sedangkan Sonia sendiri masih dengan tatapan
kosongnya ke arah jendela, dengan bayangan perempuan itu kemudian mobil yang
terbalik tadi, semua terbayang berganti gantian, dan membuat Sonia terus
menyalahkan dirinya, ditambah ketakutannya pada sosok perempuan tadi yang
muncul di TKP dan menatap kearahnya dengan sangat tidak bersahabat. Otaknya berputar-putar,
memikirkan bagaimanakah kedepannya, apakah dia akan marah dengan Sonia yang tak
memberi tahu akan kematiannya. Atau bagaimana jika ternyata perempuan itu akan
meneror dirinya, dan bayangan bayangan lain yang memenuhi lingkup otaknya hingga
membuatnya ketakutan, dan tanpa sadar menginggiti kuku jari-jarinya. Bahkan dia
tak memperdulikan Stella yang sedari tadi mengajaknya bicara.
“Hey,
Sonia.! Loe kenapa ?” Tepukan Stella di bahu Sonia berhasil menghentikan
kegiatannya.
“Hah ?? Ke..kenapa ci ?” Sonia tergagap ketika
sadar dari ilusinya.
“Loe kenapa
sih, jangan bikin gue parno ah.” Protes Stella begitu parno akan hal yang
berbau mistis.
“Ci aku
takut kalo......”
“Nggak usah
ngomongin yang tadi deh.” Stella memotong begitu saja ucapan adiknya. Dia bukan
tak mau mendengarnya, hanya terlalu takut mendengar kenyataan yang tak
seharusnya dia dengar.
“Tapi ci..”
Sonia hendak menyanggah Stella.
“Stop.! Gue
nggak mau denger omongan konyol loe.” Lagi Stella memotong kalimat Sonia,
hingga akhirnya Sonia bungkam menikmati perjalanan malamnya dengan kejadian
yang tak pernah ia duga sebelumnya.
***
“Kau harus mati.!”
“Siapa kamu ?”
“Apa kau tak mengenaliku ?”
“Ti..tidak..wajahmu rusak.! Aku tak
mengenalimu.!”
“Aku yang telah kau dan adikmu buat mati.!!”
“Tapi, itu bukan salahku. Itu takdirmu untuk
mati.”
“Tapi kau membunuhku.!”
“Aku sama sekali tak tahu.!”
“Kau harus ikut denganku Stella.!”
“Tidak.!”
“Aaaa
Jangaaannnn.!” Teriakan Stella akhirnya meledak dan berhasil melarikan diri
dari bunga tidurnya.
“Hah, Cuma
mimpi.” Stella terduduk di kasurnya serasa lepas dari jerat jerami, nafasnya
terengah, berburu tak karuan. Hawa dingin Stella rasakan, padahal Matahari
diluar sana telah masuk menembus jendela kamar Stella. Ntah sejak kapan, tapi
jendela kamarnya telah terbuka, dan angin dari luar menerbangkan korden di
kamar Stella. Stella menyipitkan matanya, menajamkan pandangannya ke jam yang
terpampang di dinding kamarnya.
“Udah jam
segini, tapi kenapa masih dingin yah.” Keluhnya mengibaskan selimut yang menutupi
tubuhnya. Sedikit mencuci muka di kamar mandi, dan menggosok gigi, lalu Stella
keluar kamar, dia merasa ada yang tak beres di kamarnya.
“Baru bangun
Stell ?” Sambut Mama, terdengar ketika Stella selesai menuruni anak tangga.
“Iya Mah.”
Suaranya masih serak khas orang-orang di pagi hari. Dia menghampiri Mamanya yang
tengah bersantai di depan TV ruang keluarga.
“Nggak
kuliah ?” Mama yang tengah sibuk dengan televisinya seperti mewawancari anak
sulungnya yang masih memunculkan diri di rumah di pagi yang sudah siang ini.
“Kuliah
siang Ma.” Jawab Stella singkat. Diam-diam memikirkan kejadian semalam,
kecelakaan itu dan yang terpenting kelainan yang ada pada Sonia. ‘Kira-kira
Mama tau kalo Sonia bisa liat masa depan nggak ya?’ Stella sibuk dengan
pikirannya, ‘Tanya sama Mamah nggak ya ?’ Batinnya memandang Mamanya yang
tengah sibuk mengganti-ganti chanel Tvnya.
“Oh ya Sonia
mana Mah ?” Stella akhirnya buka mulut, dan mencoba memulai perbincangan yang
hendak ia sampaikan.
“Ya sekolah
Stell, kamu itu sama adik sendiri ko nggak inget.” Mama menengok ke arah jam
yang di pasang di atas TV. Stella hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf
‘O’ mendengar jawaban Mamanya.
“Mmmm,
Mah..”
“Oh ya
Stell, Mama beberapa hari ini mau keluar kota sama Papa. Mungkin lebih dari
seminggu, kamu nggak papa, Mama tinggal sendiri sama Sonia ?” Mama memotong
Kalimat Stella yang ingin mengadu.
“Oh, yaaa
yaudah.” Kata Stella menggantung.
“Yaudah,
kamu hati-hati yah. Jagain adik kamu.” Pesan Mama ringan, Stella yang tak fokus
hanya mengiyakan kalimat Mamanya.
“Jangan
iya-iya doang. Kamu itu kalo dititipin Sonia, malah dijailin, nanti mamah
tinggal beberapa hari kalian malah berantem.” Lanjut Mamanya.
“Iya Mahh.”
Stella memberikan senyum andalannya untuk meyakinkan mamanya.
“Yaudah,
kamu sana mandi. Anak gadis jam segini ko belum mandi.” Sindir Mama.
“Yaudah, aku
mandi dulu ya ma.” Stella beranjak dari duduknya,mulutnya jadi seperti
terbungkam. Padahal dia sedang merasa ‘takut’, tapi malah untuk beberapa hari
dia akan ditinggal sendiri bersama adiknya.
Stella yang awalnya tak terlalu
memikirkan benar perempuan itu kini menjadi terbayang-bayang wajahnya, scene
kecelakan berulang-ulang kali berputar di otaknya. Rasa takutnya timbul setelah
mengalami mimpi semalam. ‘Dia bener, kalo aja gue nanggepin omongan Sonia,
mungkin semuanya nggak akan terlambat, mobil itu tak akan mengalami kecelakaan,
dan perempuan itu tak perlu mati.’ Penyesalan itu menggandrungi hati Stella.
‘Kenapa gue jadi takut gini sih. Mana Mama sama Papa mau ke keluar kota lagi.’
Stella masih saja gelisah dengan ilusi yang dia buat sendiri.
“Stell,
Stella hey.!” Seseorang menepuk bahu Stella, stella yang merasakan tepukan di
bahunya, berusaha keluar dari lorong waktu dan kembali ke ruangan yang sedang
dia tempati.
“Ehh, Veranda.”
Stella menyebut si empunya tangan yang kini berada di bahu kanan Stella.
“Loe kenapa
? dari tadi gue perhatiin nglamun mulu.” Orang yang tadi di panggil Veranda
menatap lembut Stella.
“Nggak
ko...” Jawab Stella semangat “Nggak ada apa-apa.” Volume suara mengecil di
akhir kalimat melihat sosok yang ada di sudut ruangan itu. Stella menajamkan
penglihatannya, sekali mengedipkan matanya, memastikan benar sosok yang dia
lihat adalah benar manusia.
“Hey Stell,
ngliat apa ??” Lagi Veranda menyadarkan Stella dari kegiatan yang menurut
Veranda konyol. Stella yang tersadar menatap Veranda sekilas lalu kembali ke
sudut ruangan tadi.
“Ahh, emm..”
Stella mengalihkan pandangan ke Veranda dan kemudian kembali ke sudut tadi “Lha
ko nggak ada.” Gumamnya.
“Apa Stell
?” Ucapan Stella yang terlalu lirih tak jelas didengar oleh Veranda.
“Emm, Nggak
ko. Hehe.” Stella meringis, rasa takutnya semakin menjadi. ‘Masa iya, gue di
terror sama perempuan itu.’ Batin Stella.
“Aneh banget
sih loe hari ini.” Veranda menelisik mata Stella yang nampak tidak tenang,
bergerak kesana kemari.
“Masa ? Loe
kali yang aneh, ngeliatin guenya gitu amat.” Sanggah Stella diiringi senyumnya,
Veranda menggembungkan pipinya, menghelakan nafas atas sikap sahabatnya yang
masih tak mau jujur padanya.
“Udah yukk
ah, ini dosen nggak masuk ya ?” Stella mengajak Veranda keluar kelas, dia baru
menyadari di ruangannya hanya ada Veranda dan dirinya.
“Loe pikir ?
Kuliahnya udah selesai kali mbak.!” Veranda berucap dengan nada kesalnya,
keanehan Stella menurut Veranda ternyata hari ini belum juga berakhir.
“Oh, Haha.”
Stella tertawa renyah membuat kedua alis mata Veranda bertemu dan saling
berkait. Keduanya pun keluar kelas dan menyusuri koridor-koridor kampus untuk
keluar dari bangunan besar ini.
“Eh Stell,
loe bawa mobil ?” Stella tak menjawab hanya menatap Veranda meminta ia kembali
berucap.
“Temenin gue
cari novel yaaa ?” Wajah Veranda sengaja ia manis-maniskan untuk menarik
perhatian Stella, sedang yang ia ajak bicara hanya menatap heran dirinya bibir
tipisnya seakan tengah menahan tawa yang sebentar lagi akan ia ledakkan.
“Ko
ngeliatinnya gitu stell ?” Veranda merubah ekspresinya.
“Haha, aneh
tau nggak.!” Singkat Stella diiringi tawa sinisnya kemudian mendahului
berjalan.
“Jadi mau
nemenin nggak ?” Kejar Veranda yang sempat terdiam mendengar respon Stella.
“Yaudahlah ayoo, tapi gue nggak bawa mobil.” Nada cuek Stella ini sudah sangat
biasa Veranda dengar, tapi dia tau benar itu hanya sebuah tone bicara
sahabatnya yang tak sama dengan hatinya.
“Ya naek
mobil gue.” Kata Veranda yang telah menyamakan tempo jalan Stella. “Tapi jemput
adek gue dulu ya ?” Lanjut Veranda, seketika Stella menghentikan langkahnya.
“Sama Shania
??” Stella memandang malas Veranda yang berhenti lebih jauh darinya, yang
dipandang menggangguk mengiyakan.
“Males ah.”
Kata Stella tak sungguh-sungguh.
“Ko gitu ?”
“Itu anak
nggak bisa diem banget. Mana kalo sama dia, gue di troll mulu.” Stella tahu
benar seperti apa adik sahabatnya itu, bukan sekali dua kali mereka jalan
bersama, tapi lebih dari kata ‘sering’, bukan sekedar mengenal, tapi sudah
seperti teman bahkan adik sendiri.
“Hahah, loe
ada-ada aja, Stell. Kasian dia, nggak ada yang jemput, ntar gue plester deh tuh
mulut biar mau diem.” Veranda malah menanggapi cemoohan Stella yang tak
sungguh-sungguh itu.
***
“Lha ko sama
orang ini sih Kak ?” ucap gadis yang masuk begitu saja di seat belakang mobil
Veranda.
“Iya, tadi
kakak minta temenin dia dek.” Jawab Veranda lembut pada adiknya.
“Bikin berat
mobil aja Kak, bawa-bawa dia.” Shania meluncurkan aksinya, Stella yang sedari tadi diam terpancing juga.
“Tuh kan Ve,
baru aja beberapa detik ketemu udah ngebully gue. Turun ajalah gue.” Ancam
Stella berlaga melepas seatbeltnya.
“Eh iya-iya,
bercanda keles. Ah sensi amat.” Shania mencegah Stella dari belakang.
“Kamu itu
dek, udah jangan bully Stella terus.” Veranda menasehati adik satu-satunya.
“Tuh dengerin.” Stella menjulurkan lidahnya, seperti berkata’Gue menang kan?’
“ Tadi kakak
yang minta tolong dia.” Lanjut Veranda.
“Iya Kak,
bercanda kali.” Shania menghempaskan tubuhnya ke sandaran mobil. Veranda mulai
menginjak gas, dan mobil mulai melaju.
“Emang mau
kemana sih ?” Tanya Shania di tengah acaranya memainkan handphonenya.
“Mau cari
novel.” Singkat Veranda.
“Oh, terus kenapa
nggak ngajak Sonia ci ?” Shania sudah begitu akrab dengan Stella, begitu pun
adiknya. Panggilan ‘ci’ pun ia dapat dari Sonia.
“Ngajak satu
anak kecil aja gue pusing, mau ngajak satu anak kecil lagi.” Jawab Stella,
Shania berfikir sejenak mencerna maksud orang yang ia ajak bicara.
“Lho,
kampret. Berarti gue anak kecil dong.” Shania tak terima, Stella yang berada di
depan diam-diam tersenyum puas, berhasil ngetroll adik sahabatnya.
“Badan gue
aja lebih tinggi dari loe kali ci, siapa ya yang anak kecil ?” Shania tak mau
mengalah begitu saja dengan orang yang seharusnya dia anggap Kakak itu. Dan
obrolan mereka berlanjut dan terus berlanjut sampai akhirnya mereka sampai di
tempat tujuan.
Veranda dan Stella telah
berjalan lebih dulu, seraya mengobrolkan sesuatu yang sepertinya begitu
menarik, hingga tanpa sadar, mereka hanya jalan berdua.
“....Itu
lho, apa sih namanya gue lupa. Dek yang waktu itu kita bicarain di teras itu
a........Lho Shan.” Veranda celingukan mencari adiknya.
“Shania mana
Ve ?” Stella ikut celingukan mencari Shania.
“Kalo gini
mah, mending tadi gue pulang naek taksi.” Gerutu Shania sesaat setelah
memasukkan ice cream ke dalam mulutnya.
“Mentang-mentang
gue anak kecil, maen tinggal-tinggal aja.” Lanjutnya kemudian menyendokkan ice cream
lagi ke dalam mulutnya dengan kasar, dia tengah berjalan sendiri di tengah mall
sebesar ini dengan seragam SMA yang masih melekat di tubuhnya.
“Nggak tau
cape gitu, gue abis sekolah diajak jalan, malah di tinggalin. Isshh, Kak Ve
mah.!” Shania masih saja menggerutu di tengah mall, tanpa memperdulikan
orang-orang di sekelilingnya yang memperhatikannya. Dia sengaja tak menghubungi
atau mencari Kakaknya, menurutnya percuma, lebih baik ia menunggu kakaknya
menyadari keberadaannya.
Dia masih
terus berjalan mengelilingi mall, hingga handphone di sakunya bergetar. Tulisan
‘Kak Ve’ terpampang di layar handphonenya.
“Oh, udah
sadar ? adiknya yang segede ini ketinggalan ?” Sindir Shania begitu mengangkat
panggilan dari kakaknya.
“Eh,
maaf-maaf dek. Lagian kamu itu ketinggalan bukannya manggil-manggil atau apa,
malah diem aja.” Suara Veranda terdengar khawatir dari seberang.
“Terus aja
salahin Shania.” Ambek Shania yang menghentikan langkahnya.
“Iya maaf.
Sekarang kamu dimana ?” kali ini suaranya seperti menahan tawa.
“Tau ah.!
Shania mau pulang.”
“Lho, kakak
belum nemu novel yang kakak cari.”
“Yaudah
Shania bisa pulang sendiri ko.!”
“Iya-iya, sekarang
kamu dimana biar......”
“Ve, itu
Shanianya.” Suara Stella terdengar di handphone Shania, membuat Shania
celingukan mengira dia sudah dekat dengan kakaknya.
“Ah, kakak
liat kamu. Udah kamu diem aja di situ.” Veranda kemudian menutup telefonnya.
Shania menyimpan kembali Handphonennya ke dalam saku dan menyendokkan lagi ice
cream ke dalam mulutnya.
“Shan....”
“Nggak usah
banyak omong. Shania mau pulang.” Tegasnya mendahului 2 orang yang tengah
menahan tawanya.
“Lho dek,
kakak belum nemuin novel yang kakak cari.” Veranda berhasil megunci tangan
Shania dalam genggamannya.
“Yaudah,
kalo mau mentingin novel mah. Shania bisa pulang sendiri.” Kata Shania
melepaskan tangannya, wajah dewasanya hilang begitu saja kalau sudah
memanyunkan bibirnya, menandakan sifat ambekannya.
“Iya, iya
kita pulang.!” Veranda tegas, setengah kesal.
***
“Ve, gue
bilang juga apa, ribet kan kalo kita bawa anak kecil.” Stella membuka
perbincangan dalam mobil. Yang disindir hanya menatap keluar jendela, masih
memanyunkan bibirnya.
“Kalo gini,
sayang waktu gue, mending tadi gue pulang terus tidur.” Stella masih saja dalam
gerutuannya, berharap Shania menimpalinya.
“Ya elah
Stell, nggak ikhlas amat nemenin gue nya.” Veranda masih dalam posisinya
memegang kendali mobil.
“Lagian loe
pake ninggalin tuh anak kecil satu sih Ve, jadi ngambek kan dia.” Stella masih
memancing Shania agar bersuara. Bermaksud menghilangkan rasa betenya.
“Gue rasa
orang yang diajak ke mall terus tiba-tiba ditinggal ya pasti marah ya. Bukan
Cuma ANAK KECIL kaya gue aja, ORANG GEDE.!” Shania akhirnya mengudara dengan
menekankan kata ‘anak kecil’ dan ‘orang gede’, amarahnya yang sedari tadi ia
pendam terusik juga oleh kata-kata Stella.
“Haha, ya
paling nggak sih, mereka nggak manyun-manyun kaya loe gitu Shan. Jelek banget.
Haha..” Tawa Stella meledak begitu saja, sedang Veranda hanya senyum-senyum
melihat kedua orang terdekatnya sedang berkicau.
“Bodo amat.”
Lirih Shania nyaris tak didengar oleh Stella dan Veranda. Hatinya masih penuh
gemuruh kekesalan anak seumurannya, walau mulutnya sebenarnya masih saja ingin
meinmpali kata-kata Stella.
“Haha, Yes
gue menang.! Akhirnya, ini anak bisa juga gue buat diem. Haha.” Sekilas Shania
melirik Stella dengan tatapan dingin malas, ntah apa, tapi dia jelas tak trima
dengan kekalahannya begitu saja.
“Haha,
udahlah Stell. Ini anak ntar ngambeknya ke gue, gue yang repot.” Kata Veranda
membela adiknya.
“Haha, anak
kaya gini mah buang aja udah.! Haha.”
“Jangan dong,
gitu-gitu kan tetep adek gue yang paling unyu. Ya nggak dek ?? ” Veranda
melirik ke arah Shania yang masih bungkam dengan tatapannya ia buang ke
jendela.
“Veranda
awas.!” Teriak Stella, seketika Veranda menginjak rem, Shania yang awalnya acuh
jadi penasaran. Tubuh mereka tergoncang berkat rem dadakan yang Veranda buat.
“Kenapa
Stell ?” Veranda tak mengerti apa yang baru saja membuat dirinya menginjak rem.
Stella melepas seatbelt dengan paniknya, Shania antusias untuk melihat apa yang
terjadi.
“Kayanya
kita nabrak orang deh.” Kata Stella membuka pintu mobil Veranda kemudian keluar
dari mobil. Shania mengikuti Stella lebih cepat dari Veranda.
“Mana Stell
?” Veranda sibuk mencari korban yang menurut Stella baru saja mereka tabrak.
“Tadi gue
liat ko ada orang nyebrang terus ketabrak mobil kita.” Kata Stella masih memutar-mutarkan
matanya, melihat sekeliling untuk mencari korban.
“Bercandanya
nggak lucu banget, bikin orang jantungan, tau nggak.!” Gerutu Shania yang
menyandarkan tubuhnya di pintu mobil yang baru saja dia pakai untuk keluar.
“Gue serius
Shan, tadi tuh ada cewe rambutnya panjang, dia nyebrang tapi dia nggak nengok
kanan kiri. Dan gue rasa emang kita nabrak dia.” Stella menjelaskan dengan
tegasnya, “Tapi setelah di liat ko nggak ada ya.” Nada bicara Stella menjadi
rendah.
“Makanya
kalo halusinasi itu jangan aneh-aneh deh. Udahlah Kak, ayo pulang.” Shania
berbicara pada Kakaknya dengan berbatas jarak mobil.
“Tapi tadi
tuh gue......” Stella sengaja menggantung kalimatnya, dia sendiri tidak terlalu
yakin.
“Yaudah lah
Stell, ayo pulang lah.” Stella mengikuti perintah Veranda dengan kembali masuk
ke mobilnya. Masih dengan bayangannya, tatapannya kosong menatap jendela. ‘Masa
iya gue salah liat, tadi gue beneran liat cewe nyebrang ko.’ Batin Stella
memainkan bola matanya. ‘Tapi kenapa nggak ada, masa iya langsung ilang gitu
aja, aneh banget.’ ‘Tapi cewe itu mirip.......’ Ekspresi Stella berubah
drastis, dari wajah herannya kini menjadi terkejut, takut, shock.
“Kenapa
Stell ?” Veranda menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.
“Hahh, emm.
Nggak ko nggak papa.” Sejurus Stella melempar senyum ‘baik-baik saja’nya di
tengah gemuruh hatinya.
Sonia tengah melamun di balkon kamarnya, memandang kosong pemandangan
malam dari tempatnya berdiri saat ini. Diam-diam dia memikirkan kejadian
kemarin malam. ‘Apa perempuan itu udah tenang di alamnya ?’ Batinnya.
‘Seandainya waktu itu aku lebih cepet nangkep maksud dari aura hitam itu, pasti
perempuan itu masih ada sama pacarnya.’
“Mahh.”
Teriakan itu didengar Sonia, tapi sama sekali tak mengusik lamunannya. ‘Apa ini
salah aku ? tapi kan kata ci stella ini takdir.’
“Maaah, Paaaah.”
Stella masih berseru mencari orang tuanya, celingukan dari tempatnya berdiri.
“Mamah sama
Papah pergi.” Sonia muncul dari ruang atas, menengok ke bawah, tepat di tempat Stella
berdiri.
“Lho, gue
kira mereka bakal berangkat besok.” Sambil setengah berteriak menimpali kalimat
Sonia, dia menuangkan air ke dalam gelas kemudian mengambil tempat di salah
satu kursi meja makan.
“Bukannya
Mamah udah bilang sama cici.” Sonia menuruni anak tangga rumahnya, dia sadar
dari bayangan-bayangannya setelah mendengar teriakan dari kakaknya yang
menurutnya seperti merusak gendang telinganya
“Iya sih.
Tapi gue kira nggak secepat ini.” Stella kembali menenggak air dalam gelasnya.
“Emang mereka berangkat jam berapa ?” Volume suaranya, ia kecilkan karena orang
yang ia ajak bicara telah duduk di seberang mejanya.
“Tadi sore.
Ci stella abis kemana aja, baru pulang jam segini.?” Ntah benar atau tidak tapi
memang Sonia lebih perhatian di banding Stella.
“Tadi abis
jalan sama Veranda sama Shania. Jadi dari tadi loe sendirian ?” Stella menjawab
untuk kemudian balik bertanya pada adiknya yang memasang ekspresi antara kesal,
malas, takut, lemas, dan ekspresi aneh yang di wajahnya saat ini.
“Iya.” Jawab
Sonia singkat, memainkan tangannya di meja makan. Stella mengangguk-angguk
pertanda paham. Beberapa saat hening hingga Stella menyadari ekspresi tak wajar
dari adiknya.
“Loe kenapa
Son ?” Stella memerhatikan wajah adiknya hingga ia memiringkan wajahnya untuk
bisa menatap wajah Sonia yang ia tundukkan.
“Gak papa.” Singkat
Sonia.
“Sakit ??”
Kini Stella meraih tangan Sonia yang sedari tadi ia masih mainkan di meja.
“Nggak papa
ko ci, Cuma perasaan aku nggak enak aja, nggak tau kenapa ?” Sonia menatap
lemah ke arah Kakaknya. Perasaan campur aduknya masih ia bawa sampai saat ini.
“Nggak enak
gimana sih ? Kalo sakit bilang aja, ntar gue anter ke dokter.” Kata Stella
terdengar khawatir.
“Nggak enak
aja, aku kepikiran kecelakaan kemarin.” Stella meneguk ludahnya, melepas
genggamannya dari tangan Sonia dan membuang pandang.
“Aku takut
aja ci, kalo ternyata dia....”
“Son...”
Belum sempat Stella memotong ucapan adiknya, Sonia terlebih dahulu memotong
kalimat kakaknya.
“Perasaan
aku bilang kalo dia masih ada di sekeliling kita ci.” Stella merasakan hawa
dingin menyelimutinya, tiada angin tapi seperti ada yang bertiup menjalar ke
tengkuk Stella, hingga ia merasa harus menyentuhnya memastikan tak ada apa-apa.
“Son, nggak
usah bikin gue parno ah.” Stella membenarkan posisi duduknya, melihat ke
sekitar ruangan.
“Ci, aku
serius.” Sonia memasang wajah seriusnya, menatap Stella yang sudah penuh dengan
kabut ketakutannya. Otak Stella seperti di ditarik ke tragedi semalam, kemudian
mimpi itu, dilanjut dengan kejadian di kelas, dan terakhir ketika dia merasa
seperti menabrak seseorang.
“Oke,
mungkin itu karena loe aja yang terlalu mikirin kejadian yang loe pikir itu
salah loe kali Son.” Stella berusaha tenang di hadapan adiknya, menutupi
resahnya yang telah mengalami hal aneh hari ini.
“Tapi
ci....”
“Udah mending
loe, masuk kamar, belajar kek, atau tidur aja mending.” Perintah Stella berjalan
ke arah Sonia duduk.
“Iya kali
yah, aku yang terlalu mikirin.” Lirih Sonia.
“Yaudah yukk
ah.” Stella membimbing Sonia berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Sonia telah berada di dalam
kamar, diam di atas ranjangnya, dengan posisi masih sama sejak Stella
mengantarkannya sampai ranjang dan berkata ‘semuanya akan baik-baik saja,
jangan takut.’ Duduk di atas ranjang dengan selimut menutupi kaki hingga
pinggangnya. Dia masih mencoba meyakinkan diri sesuai dengan apa yang dikatakan
kakaknya, melepas kabut mistis yang menggandrungi tubuhnya, tapi hatinya
terlalu sesak akan rasa takut, otaknya seperti tak bisa berjalan dari kejadian
semalam.
Kesunyian
malam ini senyap seperti otak Sonia yang tak lagi dapat mencerna kalimat yang
tadi sempat Stella berikan, nafas Sonia yang tak beraturan terdengar jelas
hembusannya, hingga benar atau tidak suara deru nafasnya diiringi dengan isakan
tangis seseorang yang seperti seorang perempuan, Sonia sempat menghentikan nafasnya,
memastikan dia mendengar isakan, bukan hanya halusinasi yang selalu Stella
katakan.
“Hah, apa
iya Sonia bener-bener bisa ngeliat mereka” Kata Stella di tengah kegiatannya
mengeringkan rambut.
“Pake
ngerasa dia masih ada di sekeliling kita segala.” Lanjutnya berusaha menguasai
rasa takutnya.
“Eh,
seharusnya dia kan bisa ngeliat, kenapa Cuma bisa ngerasain aja.?” Stella
menghentikan kegiatannya sebentar, kemudian melanjutkan lagi “Itu berarti Cuma
perasaan Sonia aja.” Tutupnya.
Hari berlalu begitu saja sejak
kejadian itu, Stella sudah mulai bisa mengatasi rasa takutnya, dia mulai lupa
dengan apa yang Sonia sering keluhkan padanya, sedangkan Sonia sendiri masih
saja digandrungi rasa takut, perasaan bersalah pada sosok yang sama sekali tak
ia apa-apakan. Semalam Sonia meminta untuk tidur dikamar Stella, perasaan
cemasnya semakin menjadi semenjak dia melihat sosok hitam melintas di jendela
kamarnya, namun ketika Sonia mencoba menengoknya tak ada sama sekali orang di
luar. Atau ketika ia hendak mengambil minum di dapur pada malam hari, dia
mendengar rintihan orang menangis, atau bayangan yang melintas dari kejauhan.
“Sonia apa
kabar Stell.”Veranda membuka pembicaraan ketika mereka berada di kantin,
menunggu jam kuliah selanjutnya.
“Baik,
tumben nanyain Sonia.?” Stella yang sibuk dengan Handphonenya menghentikan
kegiatannya.
“Nggak,
kayanya udah lama gue nggak ketemu.” Jawab Veranda, pesanan mereka datang.
Veranda menerima pesanan mereka. “Makasih mbak.” Veranda menyempatkan melempar
senyum kepada orang yang mengantarkan pesanannya.
“Udah
sekitar satu minggu ya ?” Lanjut Veranda membesar-besarkan.
“Veee, baru
seminggu keles.” Stella mengambil jatah minumannya.
“Kangen
gitu, sama adek kedua gue. Haha.” Veranda tertawa renyah untuk kemudian
memainkan sedotan di bibirnya.
“Yaelah, loe
mau adik kaya dia ? ambil ajaa.” Timpal Stella mengikuti tawa renyah Veranda.
Hening sesaat mereka saling bertatapan.
“Mau tukeran
??” Veranda meneguk minumannya telebih dahulu.
“Hah ?
Shania jadi adek gue ?? nggak.!” Stella begitu tak terima dengan pernyataan
sekaligus pertanyaan Veranda.
“Haha, loe
mah. Adek gue tuh.” Veranda menutup. Stella memainkan sedotannya, kemudian
meminum-minumannya dengan tatapan kosong.
“Stell ?”
Veranda bersuara setelah beberapa saat mereka terdiam.
“Heeeeyyy..”
Veranda mengacak rambut Stella, karena ia tak kunjung mendapat respon, kepala
Stella masih dalam jangkauan tangan Veranda yang duduk berhadapan namun
berbatas meja kantin.
“Aaahhh, Verandaaa....”
Jurus manja Stella meluncur begitu saja, hal yang paling tidak ia sukai, ketika
rambut rapinya di berantakkan oleh siapa saja, sahabatnya sekalipun.
“Hahah,
lagian loe gue panggil nggak nyaut.” Usaha Veranda memang tidak salah, dia
berhasil membangunkan Stella dari ilusinya, Stella hanya memanyunkan bibirnya,
seraya merapikan rambutnya. Veranda masih terkikik melihat tingkah sahabatnya
hingga beberapa saat.
“Ada apa ?
Kayanya mikirnya serius banget.” Kata Veranda meghentikan tawanya dan memasang
tampang serius.
“Sonia....”
Ucap Stella ragu, Veranda tak lantas menimpali, hanya menatap Stella, menunggu
kalimat selanjutnya yang akan Stella luncurkan.
“Belakangan
dia aneh banget.”
“Aneh ??”
Veranda belum mengerti maksud Stella.
“Ya aneh aja
gitu, dikit-dikit ngerasa takut, kalo nggak ngelamun sendiri, ngeluh dia takut
lah, ini lah itu lah. Aneh tau nggak.” Stella menjelaskan, Veranda mencerna
maksud Stella dia sedikit memasukkan air kedalam kerongkongannya, memberi
pelumas untuknya berbicara.
“Bokap
nyokap loe ngerasa gitu juga nggak ?” Veranda meletakkan kedua tangannya di
meja kantin.
“Mereka lagi
di luar kota.” Stella menyamakan posisinya dengan Veranda. “3 hari yang lalu
nyokap bilang mau keluar kota, sekitar seminggu, mungkin lebih.” Stella
berkeluh pada sahabatnya.
“Emang dia
nggak bilang takutnya kenapa gitu ?”
“Ya ngomong,
tapi alesannya itu nggak logis banget. Kuping gue nyampe panas dengerinnya.”
Kata Stella malas.
“Mungkin dia
Cuma minta perhatian loe aja kali stell.” Stella diam sebentar, mencoba
mencerna kalimat Veranda dan mengaplikasikan ke kejadian beberapa hari lalu.
“Lagian loe
itu cuek banget sih sama adek sendiri.” Stella yang semula menatap kosong
Veranda jadi mengembalikan tatapannya, mempertemukan kedua alis matanya.
“Yaa, gue
tau sebenernya loe itu perhatian, tapi menurut gue, loe itu terlalu gengsi buat
ngungkapin perhatian loe.” Veranda mengemukakan apa yang ada di otaknya. Stella
menyimak kalimat Veranda baik-baik.
“Gue sih
bukan sok tau, tapi itu keliatan ko dari sikap dan gesture tubuh loe. Meski
nada bicara loe cuek. Tapi keliatan ko loe perhatian.” Stella benar-benar
mencerna kalimat Veranda, ‘tapi ini bukan jalan keluar Ve, masalahnya bukan
Cuma perhatian gue ke Sonia.’ Batin Stella.
“Ya ntah apa
alesan Sonia ngelakuin semua itu yang bikin loe bete, apa salahnya kalo loe
coba dengerin dia, coba dengerin keluhnya, sama siapa lagi dia ngeluh kalo
nggak sama loe, sama kakaknya Stell.”
“Sonia.”
Seru seorang gadis dari dalam taksi. Sonia yang sedang duduk di halte dengan
lamunannya berusaha kembali ke alam nyata, kemudian menajamkan penglihatan ke
penumpang taksi yang meneriaki namanya.
“Shania...”
Sonia menyebutkan si empunya suara.
“Pulang
bareng yuu.” Kata Shania melongokan kepalanya di jendela.
“Gue masih
mau di sini.” Jawab Sonia agak berteriak agar suaranya sampai ke telinga Shania,
tanpa harus terbawa oleh kendaraan yang lalu lalang.
“Ngapain ?”
Shania melempar kembali pertanyaannya. Namun tanpa balasan dari Sonia. Sedetik
kemudian Shania nampak sibuk dengan tasnya, hingga ankhirnya jendela taksi itu
tertutup.Sonia kembali ke lamunannya. Sekilas dia melihat taksi yang ditumpangi
Shania menjauh.
“Heh,
ngapain sih loe disini.” Gadis yang memiliki tinggi badan jauh di atas Sonia
kini tengah berdiri di hadapan Sonia yang tertunduk. Seragam SMA yang ia
kenakan, membuat Sonia sudah dapat mengetahui siapa yang didepannya.
“Nha loe?
ngapain turun dari taksi ? Bukannya loe mau pulang ?” Sonia menggeser duduknya,
mempersilahkan Shania duduk di sebelahnya.
“Mau nemenin
loe aja, kaya orang ilang loe duduk disini sendirian, mana gue ajak pulang nggak
mau.” Shania mengambil tempat yang telah Sonia berikan.
“Oh.” Sonia
membulatkan mulutnya, halte tempat mereka duduk saat ini letaknya tak begitu
jauh dari sekolah Sonia, biasanya Sonia menunggu Mamahnya menjemputnya di
tempat ini.
“Loe
nungguin Nyokap loe ?” Kata Shania mencairkan suasana.
“Nggak.
Nyokap lagi keluar kota.”
“Ci Stella
?” Sonia menatap Shania sebentar kemudian membuang kembali pandangnya ke
jalanan.
“Orang itu
mana mau jemput gue.” Sonia berkeluh pada Shania.
“Beda ya
sama Kak Ve, dia mah selalu mau jemput gue, asal dia nggak sibuk.” Shania
bercerita. “Tapi suka nyebelin juga sih.”
“Kadang
jemput gue, tapi ntar gue diajak jalan. Iya sih kadang ditraktir makan, tapi
kalo udah ada di toko buku, ya ampuuuunn lammmaaaa banget.” Shania masih
melanjutkan ceritanya, Sonia tak lagi dapat mendengar ucapan Shania, dia
menatap tajam ke jalanan, tajam.! Hingga alis matanya bertemu dan menyatu,
kepalanya seperti mengikuti arah jalanan.
“Tapi
gitu-gitu juga tetep Kakak gue, nggak kaya ci stella. Eh tapi ci Stella
perhatian ko, buk...”
“Astaga.!”
Sonia membekap mulutnya, menatap ke arah belakang Shania.
“Kenapa Son
?” Shania mengikuti arah pandangan Sonia.
“Itu..itu
ada mobil kecelakaan Shan.” Sonia menunjuk ke arah pandangannya. Shania berkali
mengedipkan matanya, menajamkan penglihatannya ke arah yang di tunjukan Sonia,
dia beralih menatap Sonia yang telah berdiri, kemudian kembali ke arah tadi.
“Nggak ada
apa-apa kali Son.?” Shania mengikuti Sonia berdiri, menatap heran pada Sonia yang masih mematung
di tempatnya.
“Son ? are
you okay ?” Shania menyentuh dahi Sonia, memastikan Sonia dalam keadaan sehat, sedang
yang disentuh dahinya masih diam.
“Son.!”
Tepukan keras itu berhasil menarik paksa Sonia dari alam yang ntah alam apa
itu.
“Loe kenapa
sih ?” Shania kesal tapi khawatir menatap Sonia. Sonia menatap Shania sebentar
kemudian mengalihkan pandangan ke arah tadi, nihil.! Suasana tampak lengang,
tak seperti apa yang baru saja ia lihat.
“Soniaa..!!!”
Shania berteriak tepat di hadapan Sonia.
***
“Apa iya,
Sonia Cuma narik perhatian gue aja yaa.” Stella memikirkan kata-kata Veranda
yang diam diam tersangkut di salah satu ruang di benaknya.
“Iya sih gue
kurang perhatian ke Sonia, tapi masa Sonia gitu.” Dia tengah berada di ruang
keluarganya, baru beberapa menit sampai di rumahnya dan langsung melempar
tubuhnya di sofa ruang keluarga.
“Terus, gue
harus perhatian gitu sama Sonia.? Gimana caranya ?” Stella terdiam sesaat.
Pintu rumah terbuka, terdengar langkah kaki yang telah Stella hafal betul
nadanya.
“Baru pulang
Son ? gue kira loe di kamar dari tadi.” Ucap Stella ketika Sonia hendak menaiki
anak tangga.
“Iya.”
Singkat Sonia datar, cenderung lemah sambil berjalan hendak menaiki anak
tangga.
“Habis
darimana ?” Stella meluncurkan kalimatnya begitu saja, tanpa rekayasa.
“Nggak
darimana-mana. Tadi ketemu Shania, terus ngobrol-ngobrol di halte, udah gitu
aja.” Jawab Sonia menyandarkan tubuhya di pembatas tangga.
“Oh, yaudah
sana mandi, udah sore.” Perintah Stella, Sonia mengangkat kedua bahunya.
“Itu orang
lagi kenapa.” Gumam Sonia lirih, tapi tertangkap telinga Stella walau tak
jelas.
“Kenapa Son
?”
“Nggak, ini
mau mandi.” Kata Sonia lalu berlari menaiki anak tangga.
***
‘Salah satu dari kalian akan ada yang akan
bisa melihat masa depan, bahkan mungkin kalian berdua akan menerimanya.’
‘Itu keturunan dari kakek buyutmu.’
‘Bukan Cuma bisa melihat masa depan, tapi
sesuatu yang tak kasat mata pun bisa dilihat orang kalian.’
“Ci..ci
Stellaaa..”
‘Kamu atau adik kamu yang akan mengalaminya,
tak perlu takut, itu bukan kelainan, itu sebuah kelebihan yang kakek kamu
wariskan.’
“Ciiiii..”
‘Jaga diri kamu, dan adik kamu,’
“Ci stella
banguuunnn.” Sonia menggoyang tubuh Kakaknya, Stella merasakan pergerakan di
tubuhnya mulai membuka matanya.
“Ci. Jangan
tidur disini.” Stella telah membuka mata sepenuhnya, dia sipitkan kembali
matanya, mengadaptasi matanya untuk menerima visualisasi di alam nyatanya.
“Akhirnya
berhasil juga bangunin kebo.” Sonia bernafas lega, kemudian duduk di kursi lain
pasangan kursi yang sedang Stella pakai untuk merebahkan diri, yang niat
awalnya hanya untuk mengistirahatkan tubuhnya, namun terlalu lelah sepertinya,
hingga ia terlelap di sofa..
“Hmhhh.
Sekarang jam berapa Son ?” Stella membangkitkan tubuhnya, bersandar di sandaran
sofa.
“Jam 7
malem.” Jawab Sonia seraya menyalakan Televisi, kemudian mengganti-ganti
chanelnya.
“Mimpi
tadi...” Stella melamun berusaha mengingat mimpinya.
“Ci, aku mau
cerita...” Sonia berhenti mengganti chanel TV. Stella masih dalam lamunannya
‘Maksudnya apa ?’
“Ci Stella.!
Denger nggak sih ?” Sonia berpindah ke sofa yang di duduki Stella, duduk
menghadap kakaknya, menaikan kedua kakinya dan menyilangkannya.
“Hah ?
kenapa ?” Stella baru sadar dari lamunannya.
“Aku mau
cerita.” Nada Sonia memanja, mendekatkan lagi duduknya ke tubuh Stella.
“Cerita apa
? Kenapa ?” Stella menyamankan posisi duduknya, menghadap ke Sonia.
“Aku tadi
liat kecelakaan di.....”
‘Sebuah
kecelakaan maut terjadi sekitar satu jam lalu................’ Suara dari
televisi menyedot perhatian Sonia dan Stella hingga Sonia menghentikan
ceritanya.
“I...itukan...”
“Kenapa Son
?” Stella merasakan ekspresi tak wajar dari Sonia.
“Itu yang
mau aku ceritain ke ci Stella, tapi aku liat itu tadi siang, waktu aku ketemu
Shania di halte deket Sekolah.” Sonia menjelaskan tapi tak jelas di cerna
Stella.
“Maksudnya
gimana sih Son ?” Stella meminta Sonia kembali menjelaskan.
“Jadi tadi
siang aku ketemu Shania di halte deket sekolah aku, terus aku liat kecelakaan
itu, mobilnya juga mobil itu, plat nomernya sama ci.....”
“Tapi itu
baru kejadian sekitar sejam yang lalu Son. Orang loe pulang aja udah dari jam 4
kan ?” Stella masih menguasai berusaha logikanya.
“Iya, tapi
aku beneran liat ci, tapi pas aku di tepuk Shania, terus aku liat lagi,
kecelakaan itu nggak ada.” Sonia menjelaskan apa yang dia alami, Stella terdiam
menatap adiknya, mengingat kembali apa yang dia alami di mimpi itu.
“Son, gue
mau mandi. Cerita loe, loe simpen dulu ya ?” Stella bersiap meninggalkan Sonia.
“Ci.....”
“Abis mandi
ntar gue balik lagi. Oke ?” Stella agak berteriak karena jaraknya sudah cukup
jauh dari tempat Sonia tadi.
***
“Apa maksud
semua ini ??” ucap Stella, dia telah selesai mandi, kemudian menatap bayangan
dirinya di cermin. Dia tak habis pikir
dengan kejadian beberapa hari ini. Terlebih mimpi tadi.
“Hah, ayo
dong Stell.!” Stella geram menatap dirinya sendiri.
“Apa mimpi
itu ada hubungannya sama......” ‘tok..tok..tok.’ suara itu nyaring di
dengarnya, bersumber dari pintunya yang ia tutup.
“Ya Son
bentar.” Teriak Stella, “Tau banget gue udah selesai mandi, dia langsung ke
sini.” Lanjutnya dengan tone yang lebih rendah. Kemudian bergerak ke arah
pintu. ‘Klek’ Stella telah membuka pintunya.
“Nggak sabar
ba........” Ucapan Stella terpotong begitu menyadari tak ada seorang pun di
balik pintu.
“Lho, mana
Sonianya ?” Herannya. Kemudian dia keluar kamar, menyambangi kamar Sonia yang
di sebelahnya, tapi nihil. Sonia tidak ada di kamarnya.
“Kemana
Sonia.” Gumamnya menutup pintu kamar Sonia. Dia lalu menuruni anak tangga
menuju ruang keluarga.
“Son.” Lirihnya
tapi dapat didengar Sonia yang masih di tempat sejak Stella meninggalkannya.
“Udah
selesai mandinya ?” Sonia menengok ke arah Stella.
“Loe sejak
kapan disini ?” Tanya Stella tak menghiraukan pertanyaan Sonia.
“Lha, dari
tadi aku disini.” Sonia mengembalikan posisinya, Stella telah ada di
hadapannya.
“Terus tadi
yang ngetuk pintu kamar gue siapa ?” Tiba-tiba saja, bulu di sekitar tengkuk
Stella seperti terkena angin.
“Setan
kali.” Jawab Sonia enteng, fokus pada televisinya.
“Sonia.!
Nggak usah nakut-nakutin.” Stella agak membentak, dia berpindah tempat duduk di
samping Sonia.
“Ya terus
siapa ? lagian dari tadi aku disini juga nggak liat siapa-siapa ko.”
“Ya tapi
tadi ada yang ngetuk pintu kamar gue.!” Tegas Stella.
“Oh.” Sonia
hanya meng’oh’kan ketakutan Stella.
“Beberapa
hari yang lalu aku juga gitu sih, ada yang ngetuk pintu taunya nggak ada orang.”
Cerita Sonia, Stella merapatkan duduknya ke Sonia.
“Terus aku
juga denger cewe nangis gitu, terus pas aku cek nggak ada.” Sonia kembali
menceritakan apa yang telah dialaminya.
“Rumah kita
sekarang ada penghuni lainnya gitu Son ?” Stella menyimpulkan, dia memeluk
lengan kiri Sonia.
“Ya nggak
tau, tapi yang jelas setelah kita terlambat nolongin orang yang mau kecelakaan
itu, semua jadi kaya gini.” Sonia bercerita, Stella tak bisa mencerna betul
kalimat adiknya, dia terlalu ditutupi kabut ketakutan.
“Loe ngomong
apa sih Son.” Stella tak mau percaya begitu saja pada omongan adiknya, dia
melepas tangannya dari Sonia.
“Iya tapi
gitu kenyataannya ci, aku bukan Cuma dihantuin rasa takut, tapi aku juga
dihantuin sama perempuan itu, aku sering ngeliat dia ada di sekitar kita ci.
Aku rasa dia dendam sama kita, makanya dia neror kita kaya gini.”
“Sonia
cukup.! Hentikan omongan nggak jelas loe itu. Nggak ada yang ngehantuin kita,
nggak ada yang balas dendam itu, dan nggak akan ada yang neror kita.!” Stella
terlalu kalut dengan rasa takutnya, hingga bentakkan itu melayang begitu saja
dari mulutnya, dia bukan tak percaya, tapi dia terlalu takut untuk mempercayai
kejadian itu.
“Ci.! Aku
serius.! Aku nggak akan ngomong kaya gini kalo aku nggak ngalamin ini....”
Sonia meledak, dia terlalu kesal dengan kakaknya yang tak pernah mendengarkan
keluhan tentang apa yang dia rasakan belakangan ini. “Kenapa sih ci Stella
nggak percaya omongan aku ? Oke aku anak kecil.! Tapi justru omongan anak kecil
itu yang memang apa adanya.! Karena anak kecil nggak pernah tau apa itu
bohong.!” Tutup Sonia, kemudian dia berlari ke kamarnya dengan diikuti gumpalan
air mata yang akhirnya pecah juga.
“Hah.!
Kenapa jadi gini sih.!” Stella menyandarkan tubuhnya ke sofa, menutup wajahnya
dengan telapak tangannya. “Tuhann apa maksud semua ini.....” Keluh Stella,
otaknya bermain pada kejadian-kejadian aneh belakangan yang dia alami.
“Kau harus mati.! Aku yang telah kau dan
adikmu buat mati.!! Kau membunuhku.! Kau harus ikut denganku Stella.!”
“Aku takut aja ci, Perasaan aku bilang kalo
dia masih ada di sekeliling kita ci.”
“Beberapa hari yang lalu aku juga gitu sih,
ada yang ngetuk pintu taunya nggak ada, Terus
aku juga denger cewe nangis gitu, terus pas aku cek nggak ada. Tapi yang jelas
setelah kita terlambat nolongin orang yang mau kecelakaan itu, semua jadi kaya
gini”
“Ci, orang tadi di penuhi aura gelap.! Dan
ada sosok hitam dibelakangnya, aku takut kalo dia kenapa-kenapa di jalan.! Kita
harus kejar dia.!”
‘Salah satu dari kalian akan ada yang akan
bisa melihat masa depan, bahkan mungkin kalian berdua akan menerimanya.’
“Jadi
tadi siang aku ketemu Shania di halte deket sekolah aku, terus aku liat kecelakaan
itu, mobilnya juga mobil itu, plat nomernya sama ci.....”
“Tapi itu baru kejadian sekitar sejam yang
lalu Son. Orang loe pulang aja udah sekitar 3 jam kan ?”
“Iya, tapi aku beneran
liat ci, tapi pas aku di tepuk Shania, terus aku liat lagi, kecelakaan itu
nggak ada.”
“Sonia......”
Stella menyimpulkan.! Dia mencari handphonenya, kemudian dengan cepat mencari
kontak bertuliskan ‘Mamah’ dan segera menekan tombol ‘dial up.’
‘tuutttt....tutttt...’
‘klek’
“Halo Mah.”
Sapa Stella cepat.
“Kenapa
Stell ?” Suara mamah terdengar begitu
lembut berbicara dengan putrinya.
“Emm, mah
aku mau tanya. Apa Sonia itu punya kelebihan yang di wariskan kakek ?” Ucap
Stella begitu cepat, dia ingin cepat mengetahui jawaban dari mamahnya.
“Maksudnya
gimana Stell ? Suara kamu nggak jelas.”
“Jadi
Kemarin Sonia itu...”
“Halo
Stell..”
“Halo Mah,
Sonia kemarin.”
“Tuuut tutt
tutt.” Sambungan terputus, “Kenapa harus mati sih.!” Kesal Stella, berusaha
menghubungi Mamahnya lagi. Tapi bukan mamahnya yang ada disana, operator
provider yang menjawabnya.
“Hahhh,
kenapa nggak tepat banget sih waktunya.” Stella menyadarkan keras punggungnya
ke sandaran sofa ruang keluarga. Tiba-tiba lampu ruangan menjadi redup, kembali
terang, mati, terang dan akhirnya benar-benar padam. Gelap.!
“Arrgghtt.
Kenapa harus mati lampu.!” Stella berkeluh, ketakutannya semakin menjadi ketika
ruangan menjadi gelap.
“Sonia...”
Serunya memanggil sosok adiknya berharap dia mau menemaninya.
“Ahh.! Dia
kan lagi ngambek sama gue.!” Kesalnya, kemudian bergerak menuju meja di samping
Televisi, mencari sebuah lilin dan pemantik api yang bisa ia gunakan untuk
penerangan.
“Mati
lampu.! ci Stella kan masih dibawah.” Gumam Sonia mengibaskan selimutnya,
sedari tadi dia bersembunyi di balik selimut, kebiasaan yang sering ia lakukan
ketika kesal dan ngambek.
“Pasti
ketakutan kan tuh ci Stella.” Sonia membayangkan Stella yang phobia gelap.
“Kalo ‘dia’
gangguin ci Stella gimana ?” Sempat-sempatnya dia mengkhawatirkan kakaknya yang
baru saja membuatnya kesal hingga menangis.
“Bodo ahh,
toh ci Stella nggak percaya sama omongan gue.” Sonia kembali menutup tubuhnya
dengan Selimutnya.
“Duhh, Son.
Udahan kek ngambeknya.” Kata Stella duduk di bawah sofa, tepat di hadapan lilin
yang ia letakkan di meja. Dia mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, berharap
Sonia turun dari tangga dan menemaninya. Sekilas dia melihat bayangan.
“Son.”
Panggilnya, bayangan yang ia kira Sonia berjalan ke arah dapur.
“Son,
temenin gue.....” Nada bicara Stella merendah, dia mulai heran memandang
bayangan tadi, rambut Sonia tak
sepanjang itu, dan tingginya pun tak setinggi bayangan yang sedang
Stella harapkan untuk mendekat padanya. Hawa dingin menyelimuti tubuh Stella,
Stella masih memandang bayangan tadi, “Hah. Ke...kee..napa i..iituuu tembus
tem..bok.” Stella terbata melihat pemandangan di depannya.
“Haduuhh,
siapapun tolongin gue......” tubuh Stella bergetar seiring detak jantungnya
yang semakin cepat, nafasnya beradu cepat, hingga tanpa sadar dia menangis.
“Soniaa....”
Ucap Stella ditengah rintihannya.
“Veranda.!!”
Stella teringat pada sahabatnya dengan sangat cepat dia menggunakan handphonenya.
Kemudian menghubungi nomor Veranda. Tinggal menunggu jawaban dari seberang.
‘Tuutttt,
klek’
“Halo Ve..ve
tolongin gue.” Stella berucap dengan nafas yang tak beraturan.
“Ini gue
Shania, kenapa lu ci ??” Suara Shania dari seberang terdengar begitu santai.
“Shan,
shan..tolongin gue.! Cepetan loe kesini sama veranda shan, pliss.!!”
“Apaan,
males ah. Udah malem.”
“Shania.!
Gue serius.!” Stella kesal dengan Shania yang begitu santai.
“Siapa dek
?” Suara Veranda tertangkap oleh telinga Stella.
“Ve..
Veranda.!”
“Iya ini
gue, kenapa Stell ?”
“Ve,cepetan
loe kesini.! Guesendiriandirumahmatilampu,terustadigueliatbayanganserembanget.”
Stella berbicara tanpa spasi.
“Aduh Stella
loe ngomong apa sih.? Yaudah loe tenang dulu, gue jalan ke rumah loe sekarang.! Yang penting loe tenang.”
“Yaudah.!
Cepetan gue takut.” Stella memutus sambungan dengan Veranda, dia masih dalam
posisi tadi. Nafasnya masih tak beraturan, jantungnya masih berdetak sama cepat
dengan saat dia melihat bayangan yang kira dia Sonia.
“Verandaa,
cepatlahh...” Stella masih berharap-harap cemas, diirIngi air mata yang terus
keluar tanpa disadarinya.
“Hah,
perasaan gue nggak enak nih.” Sonia berucap dalam selimutnya.
“Gue ngerasa
kalo dia ada di rumah ini. Tapi kenapa dia nggak ke sini.” Kata Sonia, dia sudah
sering melihat perempuan itu datang ke rumahnya, berada disekitanya, tapi
selalu menghindar ketika Sonia menyadari keberadaannya.
“Jangan-jangan
dia gangguin ci Stella lagi.” Kali ini Sonia menyibakkan kembali selimutnya,
ingin keluar menengok kakaknya. Belum sempat membuka pintu kamarnya, Sonia
terlebih dahulu mendengar tangisan dari luar jendelanya, niatnya membuka pintu
kamarnya dia urungkan karena rasa penasarannya akan tangisan itu..
‘Tok tok
tokk..’
“Syukurlah
Ve, loe cepet dateng.” Seru Stella kegirangan, kemudian dia beranjak ke pintu
utama rumah ini, membawa lilin yang ia gunakan untuk menerangi ruang keluarga.
‘Klek’ “Ve,
akhirnya loe dat..........” Kembali Stella tak menemukan siapapun di balik
pintu yang baru saja ia dengar ada yang mengetuk. Sejurus Stella menutup
kembali pintu itu, kemudian terduduk di balik pintu itu.
“Haduhh,
pliisss, siapapun jangan ganggu gue. Gue minta maaf kalo gue ganggu kalian.” Stella
kembali menangis dalam posisinya, tubuhnya masih bergetar hebat, dia ketakutan.
Suara ketukan pintu itu kembali terdengar, Stella tak menghiraukan ketukan itu,
dia masih saja takut kalau-kalau dia membuka pintu dan tak ada seorang pun
disana.
Ketukan itu
semakin kencang, Stella masih tak mau membuka pintunya.
“Tuhann,
lindungi aku.....”
“Tok tok
tokk..” Ketukan kali ini terdengar cepat, temponya berbeda dari ketuka
sebelumnya.
“Stellll..”
Terdengar suara dari luar.
“Si..Siapa
???” Stella memberanikan bersuara.
“Stell, ini
gue Ve sama Shania.” Suara itu Stella dengar jelas, sebuah angin segar bertiup
di dadanya. Segera dia membukakan pintu untuk Veranda dan Shania.
“Stell, loe
nggak papa kan ?” Suara Veranda terdengar sangat mengkhawatirkan Stella, dia tau
betul sahabatnya takut akan gelap, apalagi ketika ia mendengar suaranya lewat
telefon, sudah dapat dipastikan Stella dalam keadaan ketakutan.
“Veranda.!”
Tubuh Stella melayang begitu saja ke dalam dekapan Veranda.
“Gue takut
Ve....” Suara Stella yang bergetar dan hembusan nafas yang tak beraturan dapat
Veranda rasakan di tengkuknya. Detakan cepat jantung Stella terasa jelas di
dadanya.
“Iya udah,
ini kan udah ada gue.” Veranda membelai rambut Stella, mencoba menenangkannya.
“Kak,
mending kita masuk dulu deh.” Shania bersuara, dia hanya berdiri menatap
keduanya, dia sudah berbalutkan piyamanya, sudah seharusnya jam segini dia
telah berada dia kamarnya dan tidur dibalik selimut hangatnya.
“Sekarang
loe tenang dulu, terus loe ceritain apa yang terjadi.” Mereka telah berada di
ruang keluarga, Veranda duduk di samping kanan Stella, Shania ada di sebelah
kiri di sofa lain.
“Sonia mana
ci ?” Shania bersuara.
“Sonia,
ternyata dia bisa ngeliat masa depan, dan dia bisa ngeliat hal gaib Ve.” Stella
mulai bebicara.
“Jelasin
lebih simple Stell, gue nggak paham maksud loe.”
“Beberapa
hari yang lalu.......”
Sonia dengan langkah ragunya mendekat ke arah jendela, tangisan itu
semakin terdengar jelas. Sampai di depan jendela, akhirnya Sonia menangkap
visualisasi yang selama ini ingin ia dapatkan dari tangisan yang ia dengar. Dia
memperhatikan orang yang membelakanginya, sosok itu tengah berdiri di balkon
kamarnya, rambutnya panjang, dengan tubuhnya yang dibalut kain putih.
“Hey.” Sonia
bersuara, detakan jantungnya lebih cepat dari biasanya. Sosok itu
menghentikan tangisnya.
“Kamu siapa
?” Sonia memberi jeda untuk kalimat yang akan kembali dia luncurkan. “Dan
kenapa kamu ada disini ?” Sosok itu membalik tubuhnya perlahan, nafas Sonia
terhenti sesaat setelah melihat wajah buruk sosok yang ada di hadapannya.
“Apa kau tak
mengingat aku.” Sosok itu mendekat ke arah Sonia.
“Emm, kau
yangg.....”
“Ya aku yang
kau harusnya bisa kau cegah untuk mati.” Sonia mundur beberapa langkah dari
tempatnya.
“Akkku,emmmm
mau apa kau kesini....” Sosok itu telah berada tepat di hadapan Sonia, Sonia
tak lagi dapat menggerakan tubuhnya, seluruh badannya terasa berat untuk
digerakkan.
“Aaaarrgghhtt...”
teriakan Sonia terdengar jelas oleh Stella, Veranda dan Shania yang masih ada
di ruang keluarga.
“Sonia.”
Ucap mereka serempak. Sepersekian detik mereka saling bertatapan, untuk
kemudian langsung berlari menaiki tangga dan menuju kamar sonia.
“Son.” Stella berhasil membuka pintu kamar Sonia.
Terlihat biasa saja, lengang dengan lilin yang menyala di atas meja belajar
Sonia. Sonia tampak sedang berdiri di depan jendela memandang keluar, nyaris
tak ada yang aneh.
“Son, loe
nggak papa kan ??” Stella mendekati Sonia dengan langkah kecilnya, ragu dengan
selimut parno masih menggandrunginya, tapi dengan bekal ‘dia adikku’ Stella
mendekati Sonia, Veranda dan Shania hanya memantau tepat di ambang pintu.
“Gue kira
loe kenapa. Tadi kenapa teriak ?” Stella sudah mulai menyamankan langkahnya.
Sonia perlahan membalikkan badannya, dan
“Hah,
Son...loe...loe kenapa ??” Stella sempat menghentikan langkahnya.
“Sonia.!” Veranda dan Shania tak percaya
melihat pemandangan di depannya.
“Son...”
Stella hendak melangkahkan kembali kakinya, namun dia urungkan ketika Sonia
yang lebih dulu melangkahkan kaki mendekat padanya, matanya sadis menatap tajam
Stella. Wajah lucu yang biasa Sonia tampakkan kini berubah pucat, rambutnya
yang rapi berponi, seperti terkena badai, berantakan tak karuan.*mungkin
gara-gara ada veranda kali*
“Ci, itu
bukan Sonia.!” Teriak Shania tanggap dengan kejadian di depan matanya yang
disetujui dengan anggukan Veranda.
“Son, loe
nggak papa kan ?” Sonia terus melangkahkan kaki mendekat pada Stella, nafas
Stella kini benar-benar tak karuan, jantungnya seakan memompa darahnya sangat
cepat, hasratnya memerintahkan untuk melarikan diri dan terlepas dari Sonia
yang kini terlihat seram, bahkan sangat seram bagi penakut seperti Stella, tapi
otak dan hati nya berkata lain, dia hanya mampu diam, untuk berlari rasanya dia
tak sanggup. Sonia semakin dekat, tangannya perlahan dia angkatkan dan
mengarahkan ke leher Stella.
“Stell,
ayolah.! Itu bukan Sonia.” Stella menyerap ucapan Veranda dengan sangat lambat.
“Son.....”
Baru saja Stella hendak melangkah mundur, Sonia lebih cepat menggapai leher
Stella.
“Sonn .!!
aaaaahh, Lepasin Son.! Sonia. Aaah.”
“Stell.!”
Veranda dan Shania menajamkan penglihatannya seperti melotot ke arah Stella,
Veranda yang tanggap segera menyelamatkan Stella, berusaha melepaskan tangan
Sonia dari leher Stella.
“Son.
Sakit.! Ahh..” Stella masih saja
menganggap orang di depannya adalah adiknya yang normal.
“Dek,
sadarlah.! Dia Kakakmu, lepasin.!” Veranda berteriak tepat di depan wajah Sonia, berusaha
menyadarkan Sonia.
“Hahahha.”
Sonia malah meledakkan tawanya, suara yang bahkan tak pernah Stella dengar
selama dia tinggal bersama adiknya.
“Son..nia.”
Leher Stella masih berada dalam cengkraman tangan Sonia. Veranda masih berusaha
melepaskan cengkraman itu di tengah tawa Sonia yang semakin kencang.
“Son.”
Stella mulai melemah karna nafasnya yang terhambat oleh cekikan Sonia.
“Sonia.!” Veranda
kembali meneriaki Sonia dengan hasil nihil.
“Son, ayolah
di.....” Ucapan Veranda terhenti ketika terdengar pukulan mengenai tubuh Sonia,
benda yang tak terlalu jelas di lihatnya tapi jelas mengenai tengkuk orang di
hadapannya, Sonia melepaskan tangannya dari leher Stella dan kemudian terjatuh
di hadapan mereka.
“Sonia.!” Stella
bukannya lega karena terselamatkan, justru mengkhawatirkan orang yang telah
mencekiknya hingga hampir kehabisan nafas.
“Shania.! Udah
nggak waras loe.!” Stella membentak keras kepada orang yang berhasil
menyelamatkannya dari cekikan Sonia untuk kemudian dia berlutut bermaksud
melihat keadaan raga Sonia yang terkulai lemah dihadapannya
“Ci, dia bukan Sonia, dia bukan adik loe.!”
Shania berseru dan menarik tangan Stella dari belakang.
“Stell, kita
harus keluar dari sini.” Veranda menambahi dan menarik tubuh Stella agar mau
berdiri dan meninggalkan kamar Sonia.
“Son, bangun
son. Bangun.!” Stella sama sekali tak mencerna kalimat dari Veranda dan Shania.
“Ci,
cepat.!” Shania menarik keras tangan kiri Stella, begitupun Veranda menarik paksa
tangan kanan Stella.
“Shan
lepasin, gue mau nolongin Sonia.!” Stella memberontak.
“Stell, itu
bukan adek loe.!” Veranda kembali menyerukan kalimat yang sama.
“Ve, tapi itu
raga Sonia, itu adek gue.! Lepasin..!!” Stella masih memberontak dan berusaha
melepaskan diri namun Shania dan Veranda yang secara fisik lebih tinggi dari
pada Stella berhasil menyeret Stella
keluar kamar Sonia.
“Hahh.” Seru
Stella melepaskan cengkraman di kedua tangannya. Veranda dan Shania yang
berfikir sudah cukup aman pun melepaskannya.
“Kalian
nggak mikir ? itu sonia.! Sonia adek gue.!” Kesal Stella pada keduanya.
“Ci, itu
memang tubuh Sonia tapi jiwanya bukan.!” Shania mengulang kalimat yang sedari
tadi seperti tak di gubris oleh Stella.
“Stell,
Sonia kerasukan.” Veranda meyakinkan dan dengan lembutnya menyentuh lengan
kanan Stella.
“Gue nggak
perduli siapa yang ada dalam tubuh Sonia sekarang.! Yang terpenting, yang ada
didepan gue tadi itu raga Sonia.! Dan loe shan.!” Stella menatap tajam ke arah
Shania. “Loe udah bikin adek gue pingsan.!” Tutup Stella, mengancam Shania
dengan jari telunjuknya yang dia arahkan tepat di depan wajah Shania, yang
kemudian dia kembali melangkah ke tangga.
“Stell, mau
kemana ?” Ucapan Veranda sama sekali tak menghentikan langkah Stella.
“Gue mau
nolongin adek gue.!” Stella menapaki satu persatu anak tangga di rumahnya itu,
ketakutan dalam hatinya ntah sejak dari kapan menghilang, tapi dia lebih
mengkhawatirkan adiknya saat ini.
“Ci....”
Shania hendak kembali mencegah tindakan Stella. “Dek.” Lirih Veranda
menggelengkan kepalanya, mengkodekan ‘sudah biarkan saja’. Shania tertunduk,
dia mengkhawatirkan Stella yang baru saja hampir mati oleh raga adiknya
sendiri.
“Kita susul
Stella.” Veranda melangkah menuju kamar Sonia lagi.
“Son.?” Seru
Stella begitu sampai di ambang pintu kamar Sonia, kemudian memasukinya dan
berlutut di hadapan raga adiknya yang terbujur lemah.
“Son
bangun...” Stella memangku kepala Sonia yang masih dalam posisi tadi, air
matanya meleleh memandangi wajah polos adiknya yang telah kembali.
“Son
bangun.! Bilang sama gue, kalo loe nggak papa.!” Stella mengguncang tubuh
adiknya. Berkali dia lakukan hal yang sama, namun tak ada hasil.
“Son..” Ucap
Stella bergetar, memeluk tubuh Sonia dalam posisi duduk dan masih dengan air
matanya. Shania dan Veranda hanya mengawasi di belakang Stella. Veranda
memandang iba pada Stella, sedang Shania tengah dirundung rasa gelisah,
menyesali perbuatannya yang tanpa dia sadari telah melukai orang terdekatnya.
Sonia
merasakan kehangatan dalam pelukan kakaknya perlahan mulai membuka matanya,
Stella yang merasa adanya pergerakan dari tubuh Sonia pun melepaskan
pelukannya.
“Aww.” Sonia
merintih memegangi kepalanya, matanya ia tutup kembali menahan sakit yang ia
rasa mungkin.
“Son, loe
sadar ? loe nggak papa kan ? mana yang sakit ?” Stella langsung memberondongi
Sonia dengan pertanyaannya.
“Ke..pala
ak..ku pusing ci.” Keluhnya terbata. Shania yang menyadari itu semakin merasa bersalah,
Veranda dengan sigapnya mendekati Sonia dan Stella.
“Stell,
pindahin Sonia ke kasurnya.” Ucap Veranda yang siap memapah tubuh mungil Sonia.
“Dek, ambil
air buat Sonia.” Veranda memerintah
Shania yang sedari tadi hanya terdiam di tempatnya. Sonia yang lemah hanya
mengikuti langkah Stella dan Veranda yang memapahnya di kanan kirinya.
“Ci, aku
kenapa ?” Tanya Sonia ketika tubuhnya telah seluruhnya berada di ranjangnya
dengan kepalanya yang ia sandarkan di bantal kesayangannya.
“Kenapa
badan aku lemes banget ci ? Kepala aku pusing.” Sonia kembali menanyakan
tentang dirinya, Stella dan Veranda sama-sama bungkam, bukan tak ingin memberi
tahunya, tapi terlalu bingung untuk menjelaskan bagaimana dan memulainya
darimana.
“Nih Kak
airnya.” Shania datang dengan segelas air putih di tangannya.
“Nha, nih
minum dulu airnya.” Veranda membantu Sonia meminumkan airnya. Stella hanya
duduk di sebelah Sonia dengan terus membelai rambut Sonia, tak ada luka di
kepalanya memang, rasa lemah dan pusing di kepala mungkin karena raganya yang
baru saja di pinjam ntah oleh siapa. Karena yang dipukul Shania sepertinya
memang bukan Sonia.
‘’Hah ? Mau
apa kamu ke sini lagi ?” Mata Sonia terbelalak seperti melihat sesuatu, untuk
kemudian melemparkan kalimat itu dan menyembunyikan wajahnya di dekapan Stella,
yang memeluknya dari samping. Sontak membuat semua terdiam dan saling bertukar
pandang satu sama lain karena mereka sama sekali tak melihat siapapun di
belakang Veranda.
“Son..”
lidah Stella seakan kelu hendak menanyakan apa yang ada di otaknya, seperti
penasaran tapi takut ketika harus mendengar jawaban Sonia. Suasana mendadak
menjadi dingin, angin dari luar seperti mudah saja menerobos masuk ke kamar
Sonia.
“Son, kamu
ngomong sama siapa ?” Veranda yang lebih berani akhirnya menanyakan apa yang
Stella ingin tanyakan.
“Kak, aku
inget. Tadi dia dateng ke sini, terus dia maksa masuk tubuh aku kak.” Sonia
yang ketakutan dan menunjuk ke arah tadi yang dia ajak bicara.
“Dia ? Dia
siapa Son ?” Veranda masih beranikan diri untuk mendapat jawaban real dari
Sonia, sedangkan Shania yang merasakan hawa dingin disekelilingnya hanya
mendekat ke arah Stella yang juga ketakutan.
“Dia itu
yang...Hey, jangan sakiti dia.!” Arah pandangan Sonia berganti yang tadinya
menatap ke arah Veranda berubah ke belakangnya. Veranda yang merasa tidak beres
pun ikut menoleh, tapi nihil tak ada seorangpun disana. Suasana menjadi tak
karuan, hawa dingin menyelimuti, angin diluar bergemuruh , seperti suasana hati
mereka yang bergemuruh digandruingi rasa takut, suasana gelap membuat malam ini
semakin mencekam.
“Apa mau
kamu ??” Tanya Sonia masih ke arah tadi dengan ekspresi takutnya yang berusaha
ia sembunyikan. Veranda berusaha tenang dengan hatinya yang berkabut ketakutan
dengan sosok yang sedang Sonia ajak bicara dan dia berada tepat dibelakangnya.
“Katakan
saja, tapi jangan sakiti kami.” Lagi Sonia berbicara dengan ntah siapa.
Veranda, Shania, juga Stella hanya terdiam dalam ketakutannya. Sejenak suasana
menjadi hening , Sonia tampak tengah mendengarkan sesuatu, mencerna apa yang ia
dengar, mungkin. Shania semakin mendekatkan tubuhnya pada Stella dan mengenggam
bahu Stella, berharap mendapat perlindungan.
“Apa ? mana
mungkin.!” Seru Sonia menanggapi permintaan makhluk itu mungkin. Angin bertiup
lebih kencang ketika Sonia menyelesaikan kalimat terakhirnya. Tangan kiri
Stella masih memeluk Sonia, takut-takut bila saja sosok itu menyakiti Sonia,
sedang tangan kanannya menggenggam tangan Shania yang masih berlindung di
tubuhnya.
“Oke, kita
akan berusaha. Tapi dengan satu syarat.! Jangan sakiti kami.” Sonia seperti
sedang tawar menawar dengan makhluk itu. Seketika angin besar seperti
bergemuruh di kamar kecil Sonia, hingga menerbangkan korden-korden jendela.
“Ci, kita
harus nolongin dia.” Ucap Sonia yang sepertinya sudah mulai kembali pulih
fisiknya. Keadaan sudah mulai lengang. Hawa dingin itu perlahan mulai berubah
menjadi hangat.
“Siapa Son
?” Stella menanggapi ucapan Sonia dengan penuh keheranan.
“Dia ci,
perempuan itu kita ketemu di mall, terus kecelakaan.” Jelas Sonia, Stella
mencerna kalimat Sonia sambil mengobrak-abrik otaknya mencari scene dimana dia
bertemu seseorang yang kemudian mengalami kecelakaan.
“Ta..tapi
dia kan udah meninggal Son.” Stella telah berhasil menemukan ingatannya.
Veranda dan Shania yang tidak begitu tahu hanya mengikuti perbincangan mereka.
“Justru itu
Ci. Dia minta tolong sama kita buat nyari barangnya yang ilang, terus dia minta
kita kembaliin ke keluarganya.” Jelas Sonia lagi, mungkin itu hasil dari
perbincangan dia dengan makhluk itu.
“Barang ?
apa itu son.?” Shania kini bersuara.
“Cincin, dia
bilang itu cincin dari tunangannya.” Jelas Sonia, sedang yang lain hanya
mengangguk paham.
“Kenapa
harus kita, lagian kenapa harus dicari juga, toh di alamnya sekarang dia nggak
bakal bisa pake cincin kan ?” Shania sepertinya keberatan dengan permintaan
sosok tadi. Dia kini tengah duduk di samping Veranda.
“Shan, Cuma
kita yang bisa bantu.!” Tegas Sonia.
“Tapi, Son.
Loe lagi nggak bercanda kan ?” Stella memastikan, pelukkanya pada Sonia telah
terlepas sedari tadi.
“Ci, aku
nggak mungkin main-main sama hal mistis kaya gini.!” Sonia berkata dengan
kesalnya, dia membayangkan kembali sosok yang tadi baru diajaknya bicara, wajahnya lebam penuh darah, matanya dikelilingi
warna hitam, tapi bola matanya yang menatap tajam ke arah Sonia masih bisa ia
lihat.
“Kak Ve,
Shania, ci. aku mohon, bantuin aku, bantuin aku nyari cincin yang perempuan itu
minta.” Sonia memasang ekspresi memelasnya. Semua terdiam dengan pikiran
masing-masing.
“Aku mau
semua ini berakhir ci, aku cape dihantui rasa takut terus. Muka dia serem ci,
aku takut.” Sonia kembali memelas, kali ini dengan buliran bening di matanya,
Stella hanya memeluk adiknya menenangkannya dari rasa takutnya, Stella bisa
membayangkan bagaimana rasa takut Sonia ketika berhadapan dengan orang yang
telah berbeda alam, di tambah dengan wajah yang menurut Sonia seram.
“Ve, Shan.
Bantuin ya ?” Kali ini Stella yang memohon, Veranda menangguk mengiyakan,
Shania idem dengan kakaknya. Stella mengembangkan senyumnya.
“Yaudah Son,
Ve sama Shania mau bantuin kita ko.” Stella membelai rambut panjang Sonia. “
Besok kita mulai nyari cincinnya yah ?” Sonia melepas pelukan kakaknya.
“Beneran Ci
?” Sambil mengusap air matanya sendiri Sonia tersenyum kegirangan.
“Iya, biar
cepat selesai masalahnya dek. Biar kamu nggak di datengin sosok itu lagi.” Kata
Veranda, lebih lembut. Ntah kenapa Veranda terlihat lebih perhatian kepada
Sonia dibanding Stella yang nampak cuek pada adiknya sendiri.
Terkadang percaya akan sebuah
hal mistis sepertinya terlalu sulit dilakukan, tapi jika nyatanya itu terjadi
di depan mata kita, walau tak bisa melihatnya tapi kita merasakannya, mereka
ada, tak terlihat tapi bisa dirasakan kehadirannya. Apa maksud dan keinginan
mereka hadir di sekitar kita, tak akan kita bisa ketahui tanpa kita
berinteraksi dengan mereka.
***
“Kita mau
kemana dulu ?” Tanya Stella dibagian kendali mobil.
“Ke...ke TKP
aja dulu ci.” Sonia yang duduk di seat belakang bersama Shania bersuara. Mereka
kini tengah menjalankan misi mereka, hari sudah sore, Stella dan Veranda baru
menyelesaikan kuliahnya sekitar jam 2 tadi, sedang mereka harus menjemput kedua
adiknya yang berbeda sekolah, dan dengan jarak yang lumayan.
“Son, emang
loe inget tepatnya TKPnya.?” Shania bertanya dengan tatapannya ke layar handphonenya.
“Inget ko.”
Jawab Sonia mantap, “Sepertinya sih.” Lanjutnya.
“Seriusan
dek.” Veranda yang ada di seat depan memprotes kalimat Sonia.
“Hehe, iya
iya. Aku inget ko Kak Veranda :)” Kata Sonia, Stella tetap fokus pada jalanan,
dia masih mengingat-ingat jalanan mana yang dulu ia lewati ketika membuntuti
mobil yang Sonia maksud. Dalam hatinya masih terselip rasa takut, tapi dia tau
kalau tak cepat diselesaikan, dia akan terus di gandrungi rasa takut.
“Loe yakin
ini Son jalannya ?” Shania celingukan begitu turun dari mobil.
“Iya deh
kayanya, iyakan ci ?” Sonia melempar pertaanyaan ke Stella, mereka berempat
sudah turun dari mobil yang Stella berhentikan di pinggir jalan.
“Iya dehh.”
Stella berdiri di tepi trotoar masih mengitarkan pandangannya, memastikan benar
ini TKPnya. “Nha iya bener, itu kan pohon yang waktu itu Son.! Waktu itu
mobilnya kebalik di samping pohon itu.” Kata Stella menunjuk pohon besar di
pinggir jalan, sontak semua mengikuti arah yang Stella maksud.
“Kamu ?”
Sonia mempertemukan kedua alis matanya ketika menatap pohon tadi.
“Arghhtt.” Sonia merintih memegangi kepalanya. Otaknya
seperti bekerja extra keras, scene sebuah kecelakaan melintas di otaknya. Sebuah SUV silver melaju kencang, dengan dua
orang yang tengah beradu mulut di dalamnya.
“Sonia, loe
kenapa ?” Shania merangkul tubuh Sonia yang hendak terjatuh. SUV itu cepat, sangat cepat, pengendara
mobil tak menyadari keramaian jalan malam itu.
“Sonia, loe
nggak papa kan ?” Stella bersuara, mengambil alih posisi Shania, menopang tubuh
Sonia dari samping. Sonia tak merespon, dia masih memegangi kepalanya, sesekali
memejamkan matanya.
SUV itu terus melaju, menerobos lampu lalu
lintas yang saat itu dalam keadaan berwarna merah, hingga mobil dari arah yang
bebas dari lampu merah menabrak SUV itu. ‘Braaakkk, craannngg.’
“Arrghht
mobil itu.!” Suara Sonia pecah juga, seiring kembalinya otak Sonia ke keadaan
nyata saat ini.
“Kenapa dek
? Kamu liat apa ?” Veranda menatap Sonia lekat, berharap Sonia cepat-cepat
mengeluarkan jawaban.
“Kecelakaan
itu.....” Sonia menggantung kalimatnya.
“Kenapa Son
?” Stella melepas tangannya dari tubuh Sonia, dia sudah bisa menopang tubuhnya
sendiri.
“Kecelakaan
itu cepet banget.! Aku nggak bisa nggambarinnya, yang jelas mobil itu ketabrak
dari arah sana, terus berbalik sampai disini, iya disini.!” Sonia menjelaskan
sambil melangkah menuju arah pohon itu.
“Yaudah kita
coba aja cari cincinnya, di sekitar sini.” Veranda sigap celingukan mencari
cincin yang di cari sosok itu. Stella mengikuti Veranda, pun dengan Sonia. 15
menit berlalu, Shania yang sedari tak berniat mencari telah duduk di pinggir
jalan sejak 10 menit lalu.
“Ini konyol
banget tau nggak.” Keluh Shania dalam posisi duduknya.
“Dek, nggak
ada yang konyol. Kita harus bantuin ‘dia’ nyari barangnya yang ilang.” Veranda
agak membentak adiknya, dia berada tak jauh dari Shania, masih berusaha
menemukan barang yang dimaksud.
“Tapi kak,
ngapain juga kita nyari barang orang yang udah.....”
“Shania.!
Jaga omongan loe, dia ada disini, jangan seenaknya kalo ngomong.! Kalo loe
nggak mau ikut nyari yaudah, diem aja bisa kan.!” Ntah sejak kapan Sonia bisa
membentak Shania, sedang yang dibentak hanya diam, mencerna kalimat Sonia ‘dia
ada disini.’ Hari sudah mulai gelap, matahari sudah menunjukkan senjanya.
“Son....”
Shania lirih, suaranya tak mampu keluar, pita suaranya seperti sedang tak
berfungsi. Dia tak mampu menggerakkan tubuhnya, nafasnya tersengal melihat
sosok yang menurutnya seram hendak mendekat ke arahnya. Sonia yang menyadari
hawa aneh, menengok ke arah sosok tadi berdiri dan mengawasi mereka. Nihil.!
“Hey
jangan.!” Sonia menemukan sosoknya sedang ada di hadapan Shania.
“Sonia..”
Shania akhirnya bisa melepas jerat ketakutannya, kemudian berlari ke arah
Stella yang lebih dekat dengannya, kemudian memeluknya.
“Sudah kubilang
jangan sakiti kami.!” Tegas Sonia.
“....”
“Tapi kau
membuat dia(Shania) ketakutan.!” Lanjut Sonia yang nampak berinteraksi dengan
sosok itu, Shania tak lagi melihat sosok seram yang tadi sempat ia lihat.
Veranda hanya melihat scene yang terjadi dihadapannya.
“Son, kita
pulang aja yukk.” Stella yang masih dipeluk Shania bersuara. Kemudian melepas
pelukannya dan membimbing Shania masuk ke mobil.
“Oke, aku
minta maaf atas kata-kata dia, tapi ingat jangan sakiti atau buat kami
ketakutan.!” Tutup Sonia kemudian menggandeng Veranda dan mengajaknya masuk
mobil.
“Kamu tadi
liat apa dek ?” Veranda menatap Shania khawatir.
“Dia, serem
banget Kak. Mukanya kaya kebakar gitu, serem.” Shania bergidik menceritakan apa
yang dilihatnya. Mereka kini telah ada di dalam mobil, meninggalkan tempat itu.
“Emang bener
dia kaya gitu Son ?” Veranda melempar pertanyaan ke Sonia, Sonia yang tengah
memikirkan bagaimana mendapatkan cincin itu terusik lamunannya.
“Iya, tapi
dia bisa semaunya mengganti bentuk wajahnya buat nakutin manusia.” Jawab Sonia
begitu enteng. Stella merinding mendengarkan Sonia.
“Dia marah
atas kata-kata Shania, makanya dia menampakkan diri di hadapan Shania.” Lanjut
Sonia.
“Terus
kenapa loe bisa liat dia ? Bukannya dia marahnya sama gue ?” Heran Shania.
“Nggak tau,
tapi gue selalu bisa ngeliat dia kalau dia ada di dekat gue.”
“Emang loe
nggak takut Son ? Mukanya serem gitu.” Sonia menggeleng pelan.
“Terus
gimana kita nemuin cincin itu ?” Stella bersuara, mengalihkan pembicaraan yang
membuatnya semakin merinding.
“Tunggu deh
Stell, dia meninggal di tempat atau di rumah sakit ?” Veranda meneliti,
mengganti posisi duduknya menghadap ke Stella.
“Waktu itu
gue nanya sama saksi mata sih, dia meninggal di tempat, tapi setelah itu dia
langsung dibawa ke Rumah Sakit.” Kata Stella tetap fokus ke jalanan.
“Ya kenapa
kita nggak ke Rumah sakit aja ? Seharusnya, dia meninggal masih pake cincin kan
?” Veranda menyimpulkan.
“Yaelah Kak,
kenapa nggak bilang dari awal, jadi kan kita tadi nggak perlu kaya orang gila
di pinggir jalan.” Keluh Shania.
“Iya sih,
Ve. Apa kita mau ke rumah sakit sekarang ?” Stella meminta persetujuan Veranda,
mengingat hari sudah gelap.
“Emang rumah
sakit mana coba ?” Shania yang sudah malas berusaha agar menyelesaikan kegiatan
hari ini.
“Harusnya
tadi tanya sama orang sekitar situ, kali aja mereka tau.” Stella baru teringat.
“Ya
logikanya pasti di bawa ke rumah sakit deket-deket sini.” Veranda sedang di
penuhi aura positif sepertinya.
Mobil Stella telah di parkirkan
di parkiran rumah sakit yang paling dekat dengan tempat tadi. kini mereka ada
di meja receptionist untuk menyampaikan maksud mereka.
“Korban atas
nama siapa mbak ?”
“Emm..”
Veranda menengok ke arah Sonia, Sonia yang sadar di tatap Veranda, mencari
sosok yang biasa mengikutinya.
“Aku nggak
tau.” Jawab Sonia akhirnya, setelah tak menemukan sosok yang ia cari.
“Kita nggak
tau jelas siapa namanya sih mbak, tapi kecelakaan itu kejadian sekitar 4 hari
lalu.”
“Oh
kecelakaan yang di jalan Dokter Su...” Suster itu menemukan data yang mereka
maksud.
“Iya.” Jawab
Stella cepat memotong kalimat suster itu.
“Mbak bisa
tanyakan pada penjaga kamar mayat saja mbak.” Suster itu malah melempar jawaban
pada penjaga kamar mayat.
“Oh yaudah
makasih mbak.” Veranda mewakili, kemudian mengikuti Stella yang telah berjalan
lebih dulu.
“Ini
seriusan, kita mau ke kamar mayat ci ?” Shania menggandeng lengan Stella,
sebenarnya maksudnya ingin menggandeng tangan Stella tapi karena, ah sudahlah.
Mereka kini tengah berjalan melewati lorong-lorong Rumah Sakit mencari ruangan
yang dimaksud. Posisinya Shania bersama Stella dan Veranda bersama Sonia (?)
“Korban,
sudah di jemput keluarganya mbak.” Seorang laki-laki tidak tua, tapi tidak juga
terlalu muda menjawab pertanyaan 4 gadis yang ada di depannya.
“Apa mas
ngeliat ada cincin gitu yang jatuh disini.” Sonia bersuara menghadapi orang
yang ia panggil ‘mas’
“Ya nggak
tau mbak, soalnya disini saya tidak bekerja sendiri, karena disini sistemnya
sift.” Mas-nya menjawab begitu enteng, Sonia menghelakan nafas panjang dari
mulutnya, pun dengan Shania yang menopangkan kepalanya di bahu Stella.
“Emang ada
apa mbak kenapa nyari mayatnya ??” Mas yang tadi bertanya kembali.
“Kita nggak
nyari mayatnya sih mas. Tapi kita nyari cincin yang dipake mayat itu.” Veranda
menjelaskan dengan lembutnya.
“oh kalo itu
saya nggak tau mbak.” Jawab Masnya lagi-lagi masih santai.
“Ya bilang
kek dari tadi.!” Shania menegakkan tubuhnya, kesal ? ya pasti.!
“Shania.!”
Veranda sempat membentak adiknya sebelum dia berterimakasih pada orang tadi.
kemudian mereka sama-sama membalik badan dan berjalan meninggalkan kamar mayat
dan penjaganya.
“Eh mbak,
tapi.” Suara Mas yang tadi menghentikan langkah mereka, “Biasanya kalo
barang-barang berharga milik korban selalu diamankan oleh pihak yang berwajib.”
“Jadi cincin
itu ada di polisi ?” Shania menyimpulkan dengan malasnya.
“Ya nggak
tau juga mbak, tapi mbak bisa menanyakan pada mereka.” Jelas masnya dengan
senyum yang ternyata manis.
“Makasih mas
buat infonya.” Jawab Veranda membalas senyum masnya *duhh* . kemudian mereka
benar-benar meninggalkan kamar mayat itu.
“Kak, pulang
yuk ahh. Aku cape.” Shania berucap dengan wajah lusuhnya, dia memanja di tubuh
Veranda.
“Shan,
bentar lagi dong.” Veranda dengan sabarnya menghadapi adiknya yang sudah
kelelahan.
“Ci, makan
dulu ya ? tadi siang aku nggak sempat makan.” Sonia memegangi perutnya, mereka
tengah berjalan menuju parkir rumah sakit.
“Ya nanti
kita mampir dulu di tempat biasa.” Kata Stella seraya mencari kunci mobil di
tasnya.
“Yaudah
kalian makan aja kita biar pu....”
“Kita ikut
makan. Apalagi kalo di traktir.” Belum sempat Veranda menghabiskan kalimatnya,
Shania menyambar dengan semangatnya.
“Yaelah
Shan, makanan aja loe semangat.” Sindir Sonia tak sungguh-sungguh.
“Yaelah Son,
emang loe. Semangat nya nyari cincin yang nggak pasti itu.” Shania membalas
sindiran Sonia.
“Shan.!”
Veranda menghentak adiknya, mengingat kalimat Sonia tadi. *Pas di TKP
kecelakaan.
“Ups.!
Sorry.” Shania menutup mulutnya.
Hari ini selesai, usaha mereka belum membuahkan hasil yang berarti.
Mereka merencanakan akan melanjutkan pencarian besok, mereka akan mendatangi
kantor polisi yang mungkin mengurusi kecelakaan itu. Sebenarnya memang benar
kata Shania, sangat konyol melakukan hal seperti ini, mencari barang orang yang
sudah mati, yang bahkan keluarganya pun tak berusaha mencarinya, sedangkan
mereka mengenalinya pun bahkan tidak.
“Kami sama
sekali tak menemukan cincin yang kalian maksud.” Jawab tegas pak Polisi yang
mendapatkan laporan dari Veranda dan Sonia. Stella dan Shania menunggu di
depan, karena memang tak boleh terlalu banyak orang yang masuk.
“Tapi
bukankah bapak yang mengurusi korban.” Veranda kembali bertanya.
“Ya, kami
hanya mengamankan tas, dan benda berharga lain milik korban. Kami tak menemukan
cincin.” Kembali Polisi itu menjawab dengan sabarnya.
“Terus ?”
Sonia mulai tak sabar dengan jawaban-jawaban yang di berikan Polisi yang sedang
mereka wawancarai.
“Mungkin
cincin itu telah ada di keluarganya.” Polisi itu hanya me’mungkin’kan jawaban
atas pertanyaan serius Sonia, mungkin karena baginya pertanyaan Sonia hanya
pertanyaan penasaran anak kecil yang mengenakan rok SMA dengan atasan yang
bukan lagi kemeja putih (tadi ganti dulu pas di mobil)
“Nggak
mungkin pak, kalo cincin itu..” Sonia hendak memprotes kalimat Polisi itu, tapi
Veranda memotong kalimat Sonia begitu saja.
“Ehm, yaudah
pak. Apa kita bisa tau alamat korban ?”
“Kak..”
Sonia memprotes, Veranda menggenggam tangan Sonia, menandakan ‘tenang, ini
urusan kakak.’ Sonia hanya menghembuskan nafas yang terasa berat.
“Bisa,
sebentar, saya cari data korban dulu.” Polisi itu kemudian beranjak dari
kursinya.
“Kak, kalo
cincin itu udah di keluarganya, nggak mungkin dia maksa kita nyari cincin itu
kak.”
“Son,
seenggaknya kita bisa tanya sama mereka, atau kita bisa nyerahkan tugas ini
sama mereka.” Veranda memberikan solusi baik menurutnya, tapi tidak menurut
Sonia.
“Yaudah
terserah Kak Veranda aja.” Sonia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi
tempatnya duduknya. Dia merasa omongannya tak lagi di dengar.
Hingga
ahirnya mereka pun menuju ke alamat yang diberikan Polisi tadi, Sonia masih
diam, dia tau dengan mereka ke rumah perempuan itu tak akan menghasilkan
apa-apa. Tapi omongannya tak lagi didengar oleh Veranda, apalagi Stella yang hanya
menganggap benar omongan sahabatnya.
“Bener ini
alamatnya.?” Kata Shania memastikan, mereka berempat sama-sama celingukan
memperhatikan rumah yang ada di hadapannya.
“Iya, yaaa
kita coba tanya aja.” Stella mendahului berjalan, Veranda masih memperhatikan
rumahnya, pun dengan Sonia, Shania ada di belakang.
“Arrgghhttt.”
“Shan.!”
Sonia lebih tanggap dengan kejadian di belakangnya.
“Shania.”
Stella yang hendak membuka gerbang rumah yang telah ada dalam genggamannya ia
urungkan.
“Arrghhtt.”
Lagi Shania berteriak, wajahnya berubah di mata Sonia.
“Dek, kamu
kenapa ?” Veranda menopang tubuh Shania yang hendak terjatuh.
“Son, Shania
kenapa ?” Stella mendekati Sonia yang tengah menatap heran Shania.
“Kamu, sudah
kubilang jangan sakiti..Hhhssshh. argghhtt.” Sonia mengehentikan ucapannya
dengan memejamkan matanya, memegangi kepalanya.
‘Kamu kenapa belain dia ?’
‘Aku nggak belain dia, tapi kamu nggak sopan
sama perempuan, apalagi kaya tadi. dia udah minta maaf baik-baik, kamu malah
bentak dia. Aku nggak suka.!’
“Sonia.!”
Stella menyadari tubuh Sonia yang melemah dihadapannya sigap menopangnya. ‘Apa mau kamu ? Aku ramah sama perempuan lain,
kamu cemburu. aku kasar, kamu nggak suka.’
“Cepat pergi
dari tempat ini..” Suara itu keluar dari mulut Shania, tapi sama sekali tak
Veranda dan Stella kenali suara itu. Sementara Sonia masih dengan posisinya,
memejamkan matanya, kemudian membuka matanya lagi ‘nggak usah bentak aku. Kamu
ramah dengan mantanmu, dan kamu perlakukan mantan lebih dari kamu perlakukan
aku. Di depan mata aku, Gimana aku nggak cemburu.’
‘Kamu itu, kita udah tunangan. Masih aja
bahas mantan aku.’
“Sonia,
sadar.! Loe kenapa sih ?” Stella yang menopang tubuh Sonia menggoyangkan bahu
Sonia yang ada dalam genggamannya.
‘Dari awal kita tunangan aja aku udah ragu
sama kamu. Dan nyatanya kamu gini.’
“Cepattttt.!”
Suara itu kembali terdengar, Veranda segera membimbing Shania ke dalam mobil.
Stella masih berusaha menyadarkan Sonia dari alam, yang ntah alam apa. ‘Kamu mau minta kita batalin tunangan kita
?’
‘Oh kalo itu yang kamu aku bisa ko lepas
cincin ini.!’
‘Ini aku kemba.....aaaaaaaaaaa’
“Sonia.!!” Stella
memanggil Sonia keras, agar ia kembali ke alamnya saat ini.
“Cincin
itu...cincin itu jatuh di mobil Ci.” Kalimat pertama Sonia, begitu kesadarannya
kembali.
“Mo..bil
yang bekas kecelakaan itu ??”
“Iya.!”
Tegas Sonia masih merasakan berat di kepalanya.
“Stella,
Shaniaaa.!” Suara Veranda bergetar, begitu mengkhawatirkan adiknya.
“Shania.!”
Sonia teringat keadaan temannya yang tadi ia sempat kemasukan sosok itu. Dia
kemudian langsung masuk ke mobil, Shania masih duduk di tempatnya, pandangannya
kosong, namun tetap duduk tegap menghadap ke depan.
“Shan,.
ahh....Emm siapapun kamu, tolong keluar dari tubuh Shania.” Perintah Sonia
menatap Shania yang sama sekali tak menggubrisnya.
“Dek, Shania
kenapa ?” Veranda telah berada di seat depan, di samping Stella yang juga telah
duduk di kursi kendalinya.
“Apa mau
kamu, kami sedang berusaha ngelakuin permintaan kamu.” Sonia menghiraukan
pertanyaan Veranda dengan masih fokus pada tubuh Shania.
“Son, ini
kita mau gimana ?” Stella mulai menyalakan mesin mobil.
“Kita
lanjutin cari besok aja ci, sekarang kita urusin Shania dulu aja.” Kata Sonia,
Stella mulai menginjak gas. Veranda masih mencemaskan adiknya.
“Bukankah
kau ingat, aku memberimu waktu untuk mencari cincin itu !” Mulut Shania
mengeluarkan suara, bukan suaranya.
“Waktu ?”
Sonia berusaha mengingat-ingat percakapan dengan sosok itu.
‘Apa mau kamu ?’ ‘Aku hanya ingin meminta
bantuanmu.’ ‘Katakan saja, tapi jangan sakiti kami.’ ‘Aku kehilangan cincinku
karena kecelakaan itu, aku harus mengembalikannya, sebelum aku benar-benar
pergi dari dunia ini, waktuku tinggal 3 hari lagi, kau harus menemukannya
cincin itu.’
“Tapi, kau
tak memberi tahuku kapan pastinya kau akan pergi.” Sonia teringat.
“Shaniaa...”
Veranda bergumam menatap tubuh adiknya.
“Kau harus
cepat menemukannya.” Tubuh Shania bergerak, matanya menatap tajam ke arah
Sonia.
“I..iyaa,
tapi kau juga harus menepati janjimu. Keluar dari tubuhnya atau kami tak akan
menemukan cincin itu.!” Sonia mengancam, seketika tubuh Shania melemah, dan
jatuh dalam dekapan Sonia.
“Shania.”
Sonia yang terkaget ketika tubuh Shania melemas ke arahnya.
“Dek.!”
Veranda memanggil adiknya. “Sonia, Shania nggak papa kan ?” cemas Veranda,
Stella sesekali menengok di tengah kegiatannya mengendalikan mobil.
“Nggak papa
ko Kak, dia Cuma kelelahan karena tubuhnya habis di pinjam.” Sonia menjelaskan
seraya mengelus kening Shania yang ada di bahunya, menyibakkan rambut yang menutupi
kening dan wajah lemah Shania, wajahnya penuh keringat meski AC dalam mobil
Stella terasa sangat dingin. Dia pingsan di bahu kanan Sonia.
“Ci, kita
cari mobil itu sekarang.” Kata Sonia.
“Son,
tapi....”
“Ci, dia
akan semakin menyakiti kita kalau kita terlambat menemukan cincin itu.” Jelas
Sonia masih mengelus kepala Shania.
“Stell,
tolong. Gue takut kalau dia masuk ke tubuh Shania lagi.” Kata Veranda memohon
menggenggam tangan Stella yang bebas.
“Oke. Tapi
dimana kita bisa nemuin mobil itu.” Kata Stella terus menjalankan mobilnya
dengan tanpa tujuan yang jelas.
“Shaniaaa.”
Panggil lirih Sonia menatap sebagian wajah Shania. Dia tak menghiraukan obrolan
kedua kakaknya.
“Kita coba
cari tahu aja di kantor polisi yang tadi siang.” Veranda lagi-lagi mengeluarkan
pendapatnya yang langsung diiyakan Sonia. Shania mulai terusik dengan suara
bising yang mengganggu telinganya, matanya perlahan terbuka, tertutup kembali,
mengadaptasi matanya untuk bisa menerima visualisasi yang ada.
“Kita harus
nemuin cincin itu malam ini juga ci.” Sonia berkata, dia merasakan pergerakan
di bahu kanannya.
“Shan..”
Shania mulai menegakkan kepalanya. Berat tapi ia paksa untuk bisa menegakkan
kepalanya.
“Gue kenapa
Son ?” Tanya Shania masih lemah.
“Nggak papa
ko. Mungkin loe kecapean aja.” Bohong Sonia, dia tak tau harus bagaimana
menjawab jawaban sebenarnya.
“Dek, kamu
nggak papa ?” Veranda menatap khawatir pada Shania, yang ditatap hanya
menggelengkan pelan kepalanya.
“Syukurlah.”
Veranda mengehelakan nafasnya yang sempat terasa berat.
“Kita mau
kemana Son.” Ucap Shania memperhatikan jalanan.
“Kita masih
mau cari cincin itu Shan.” Jawab Sonia terang-terangan. Shania terdiam sebentar
‘cincin?’ batinnya.
“Son,
bukannya tadi kita lagi di rumah dia.?” Shania teringat.
“I..iya,
tadi kita di rumah dia, terus karena nggak ada orang, jadi kita mau balik lagi
ke kantor polisi tadi.” Jawab Sonia menutupi.
“Sonia, tadi
gue liat cewe itu lagi, di..dia keliatan marah sama gue, terus....” Shania
menghentikan kalimatnya, membuat seisi mobil mengerungkan dahinya, menunggu
kalimat Shania.
“Terus apa
?”
“Gue nggak
inget apa-apa lagi, gue ngerasa sadar tapi gue nggak bisa ngapa-ngapain Son.”
Kata Shania mengungkapkan kejadian tadi.
Ntah apa sebenarnya mau nya
sosok itu, dia ingin dibantu tapi menyakiti salah satu dari mereka, dia memaksa
namun tak menepati janjinya. Bukankah jika Sonia tidak dapat melihatnya, dia
tak dapat tertolong. Ntah sejak kapan, Sonia akhirnya semakin bisa
berkomunikasi dengan makhluk yang berbeda alam dengannya, rasa takut pada sosok
dengan wajah menyeramkan itu telah luntur, makhluk-makhluk lain yang lebih
menyeramkan kini bisa Sonia lihat begitu saja, dengan mata telanjang.
“Malam dek,
ada yang bisa kami bantu.” Polisi berbeda kini menyambut 2 gadis yang sudah terlihat
lelah.
“Mmm, kita
mau tanya tentang........” Stella kini yang angkat bicara, menjelaskan maksud
mereka dengan alibi mereka adalah saudara korban dan ingin mencari cincin
peninggalan dari orang tuanya. Sinetron :’)
“Mobil bekas
kecelakaan itu kami kumpulkan sebagai barang bukti, kalian bisa kesini lagi
besok.” Jelas polisi yang usianya masih dibawah 30 itu.
“Tapi pak,
kita butuh cincin itu sekarang. Dimana tempat itu ?” Tegas Sonia seperti lupa
siapa yang ia ajak bicara. Stella yang di samping Sonia berusaha meraih tangan
Sonia bermaksud mengisyaratkan untuk lebih tenang.
“Memang
kenapa kalau kita kesana malam hari pak ? Bukankah sama saja ?” Stella yang
lebih tenang berusaha merayu Polisi yang memiliki tampang cool itu.
“Bisa, tapi
tidak semua orang bisa masuk tempat pengumpulan barang bukti begitu saja, harus
ada izin yang jelas, dan tempat itu hanya buka ketika jam kerja saja.” Polisi
itu menjelaskan dengan senyum ramahnya.
“Pak, apa
kita tetap nggak bisa kesana sekarang ? kami benar-benar butuh cincin itu.” Stella
“Pak,
kita.....” Ucapan Sonia terhenti karena merasakan getaran di tangan kanannya
yang menggenggam handphone. “Kak Ve.” Lirihnya, dan kemudian mengangkat telefon
dari Veranda.
“Ha..” Belum
sempat Sonia menyelesaikan ucapannya, suara Veranda sudah terdengar di telinga
kanannya yang ia tempeli handphone.
“Sonn
aarrgghhtt, Son, Sha..Shaniaa Son.”
“Halo
Kak..Kak Ve..”
“Arrghht,
Dek, sakiiit.! Arrggh..” Sonia tanggap, dia memutuskan sambungan dengan Veranda
kemudian bediri. “Son, Ve kenapa ?” Stella menghentikan gerak tubuh Sonia.
“Nggak bisa
aku jelasin disini.” Dia kemudian berlari keluar ruangan. Stella mengikuti
Sonia, Polisi tadi yang penasaran pun ikut berlari mengikuti Sonia.
“Shan...”
Suara Veranda begitu lemah dalam cengkraman tangan Shania yang mencekik
lehernya.
“Cepat cari
cincin itu bo**doh.!” Suara asing itu kembali keluar dari mulut Shania. Veranda
dan Shania sedang ada di mobil, mereka sengaja tak ikut masuk, Shania yang
memang masih lemah, dan Veranda ingin menemani adiknya.
“Hey.!!”
Sonia masuk ke dalam mobil dan menarik tubuh Shania. Posisinya, Shania mencekik
Veranda dari belakang seat yang Veranda duduki.
“Keluar.!!” Sonia
menarik tubuh Shania dari samping. Shania
di tatap tajam mata yang ada dibalik kelopak mata Shania. “Shan, sadarlah.!!”
Teriak Sonia, tepat di depan wajah
Shania. Stella dan Polisi itu telah sampai di depan mobil, Stella menemui Veranda
yang lemas di tempatnya, dibuka pintu mobil dan diceknya keadaan Veranda, memasukkan
sebagian tubuhnya ke dalam mobil. Sedangkan Polisi itu hanya menyaksikan Shania
dan Sonia yang tengah bicara lantang.
“Cepat cari
cincin itu.!” Sosok itu mengeluarkan suaranya dari tubuh Shania.
“Sabarlah.!
Bukan ini caramu buat maksa kita cepat menemukan cincin itu.!” Sonia kembali
berteriak.
“...”
“Shan, lawan
dia.!” Kata Sonia menggoyangkan tubuh Shania.
“Ve, loe
nggak papa ?” Stella mengangkat kepala Veranda yang menunduk lemah. Dia
menggeleng pelan mengelus leher bekas cekikan tangan Shania.
“Kita harus
cepat menemukan cincin itu Stell.” Suara Veranda masih lemah.
“Iya iya.”
Stella mengeluarkan tubuhnya, “Pak, saya mohon, tunjukan kami tempat mobil itu
diamankan.” Kata Stella cepat, panik, takut jadi satu.
“Aku tak
akan keluar sebelum cincin itu di temukan.!” Jawab Shania dengan nada masih
tinggi.
“Hah ??”
Sonia tak tau lagi harus menjawab apa.
“Pak,
ayolah.” Stella kembali memohon karena Polisi itu atak kunjung memberikan
jawaban, hanya diam memperhatikan Shania, kemudian menatap Stella, kembali ke
Shania dan kembali ke Stella.
“Oke,ta...”
“Nha, ayo
pak, naik mobil saya saja.” Stella memotong ucapan Polisi itu, kemudian dia
mengambil tempat di belakang, sebelah Shania yang masih belum jadi Shania (?)
“Cepattt.!”
Shania berteriak, Stella yang baru saja menempatkan tubuhnya di sebelah Shania
terkaget.
“I..Iya,
tapi tenanglah.!” Sonia menjawabi.
“Pak.!
Tunggu apa lagi ?” Stella melongokan kepalanya lewat jendela, karena ternyata
polisi itu masih dalam posisinya tadi. Seketika polisi itu tersadar oleh suara
cempreng Stella, untuk kemudian berlari kecil menuju tempat kendali mobil.
Sosok itu masih ada dalam tubuh Shania, sedangkan tubuh Shania terlihat duduk
tenang diantara Stella dan Sonia, menatap tajam ke depan, keluar kaca jendela,
atau sepertinya tatapannya kosong.
“Son,
gue....” Stella hendak mengutarakan rasa takutnya
“Nggak papa
ci.” kata Sonia yang sudah tahu maksud kakaknya, Veranda yang ada di seat depan
hanya memandangi tubuh Shania yang tengah di pinjam sosok yang sedang ia bantu.
“Kalian
tunggu di sini.” Polisi itu kemudian masuk ke salah satu ruangan dan terlihat
berbincang serius dengan petugas yang disana. Mereka tengah ada di ntah ruangan
apa, Veranda menggandeng lengan Stella, Sonia berada di samping Shania yang
masih dalam keadaan seperti tadi. sebenarnya Veranda ingin menggandeng Shania,
melindunginya, tapi berkat bujukan Sonia, dan janjinya akan menjaga Shania
akhirnya Veranda mempercayakan tubuh Shania pada Sonia.
“Shania.!”
Sonia menyadari Shania berjalan menjauhi mereka bertiga.
“Shania,
tunggu sebentar.” Ucap Stella mengikuti Sonia. Veranda melongok ke ruangan yang
di masuki Polisi tadi. Sedangkan Sonia mengejar Shania.
“Pak, cepetan.”
Veranda bergumam. “ Stell, Shania mau kemana?” Veranda bergetar mengucapkan
kalimatnya.
“Dia masih
dalam pengaruh sosok itu Ve, dia...”
“Gue harus
kejar dia.” Veranda melepas gandengan tangannya kemudian berlari ke arah Sonia
dan Shania berjalan.
“Ve..!” Seru
Stella, dia masih berdiri di tempatnya. “Duh, ini gue nungguin Polisinya atau
ngejar mereka ya ?” Tanya Stella, melihat ke arah Veranda menghilang, kemudian
ruangan tadi, kembali ke arah Ve lagi, “Arghtt, kenapa jadi gini sih.” Kesal Stella,
mengginggit bibir bawahnya cemas.
“Kemana
teman-teman mu.?” Kata Polisi tadi sukses membuat Stella yang dalam keadaaan ketakutan
terperanjat.
“Hah ? Emm,
mereka ke arah sana Pak.” Jawab Stella menunjuk ke arah yang tadi Veranda
berlari.
“Kenapa
mereka tau tempat itu ?” Polisi tadi nampak heran, Stella mengangkat kedua
bahunya, seolah berkata ‘mana gue tau.’
“Shania.
Berhenti.!” Seru Sonia berhasil mengejar Shania dan berdiri tepat di hadapan
Shania. Tatapan tajam dari mata yang bukan milik Shania menusuk mata Sonia.
“Shania,
lawan dia. Gue tau loe kuat.! Lawan dia.!!” Teriak Sonia, ‘Sonia, gue kenapa ?
Son tolongin gue.’ Batin Shania, terdengar dalam batin Sonia.
“Lawan
dia.!! Lawannn.!!” Kata Sonia berusaha menyadarkan.
“Arrgghhht,..!”
Shania mendorong tubuh Sonia, menyingkirkannya kemudian berjalan menuju tempat
yang ia maksud.
“Aw...”
‘Son, gu..gueee beron..takk...taa..tapiii susaahhhh Sonn.’ Suara batin Shania
masih saja Sonia dengar dalam posisi duduknya (kan tadi jatuh di dorong Shania)
“Dek, mana
Shanianya ?” Veranda sudah sampai di tempat Sonia terjatuh.
“Dia, kesana
kak.” Sonia menunjuk ke arah Shania yang berjalan, tidak terlalu terlihat
karena keadaan gelap.
“Kak Ve
kejar dia, sadarkan dia kak.” Kata Sonia, Veranda langsung mengejar Shania.
“Shania, loe
bisa Shan.” Kata Sonia, berusaha menyemangati Shania dari tempat seraya
berusaha bangun.
“Dek .”
Veranda berdiri tak jauh dari Shania yang berdiri tepat di depan pintu
tertutup.
“Gue bukan
Shania. Buka pintu ini cepat.!!” Shania menabrakkan dirinya ke pintu itu. ‘Kak
Ve! Tolong aku Kak. Sakit, argghht..’
“Dek, jangan
lakuin itu, itu Cuma nyakitin tubuh kamu, dek.” Veranda masih berdiri di
tempatnya, Sonia datang dan berhenti di tempat Veranda. ‘Kak Ve, ini bukan aku
yang ngelakuin. Kak ini sakit, sa.sakit kak..argghtt.’
“Stop.!!”
Sonia berusaha menghentikan sosok itu yang terus menabrakkan tubuh Shania ke
pintu itu.
“Buka pintu
ini cepaat.!!” Sonia bereaksi mendekat ke pintu itu dan berusaha membukanya,
terkunci.!
“Gimana dek
?” Veranda ada di belakang Sonia.
“Kekunci kak.”
Jawab Sonia. ‘Arrghhhtt Sakittt....So..nia,..tolong gu..gue.’ Suara batin
Shania masih didengar jelas di otak Sonia, kini diikut rintihan tangisannya.
“Hentikan
menyakiti tubuh dia.!!” Sonia masih berusaha menghentikan sosok itu, dia tak
tega mendengarkan suara batin Shania yang terdengar sangat tersiksa.
“Ve.!”
Stella datang dengan polisi itu.
“Stella,
cepat buka pintu ini.” Suara Veranda panik.
“Pak, buka
pintu ini cepat.” Stella meminta dan langsung dituruti.
“Shan, lawan
dia shan.! Loe pasti bisa.!” Sonia masih meneriaki Shania, yang masih meminta
tolong padanya.
“Itu
mobilnya.” Kata polisi itu ketika berhasil membuka pintu itu. Sonia menengok ke
arah mobil itu.
“Arrgghtt.”
Kembali Sonia merasakan sesuatu berputar dikepalanya.
“Son.!”
Stella segera menopang tubuh Sonia yang hendak terjatuh. Tubuh Shania terhenti,
dia membelalakkan matanya melihat mobil yang ada didepannya.
“Kak...cee...gah
Shania ma..suuk.” Kata-kata itu meluncur dari mulut Sonia yang masih memejamkan
matanya.
“Sonia loe
kenapa ?” Stella masih menopang Sonia, dia mengangkat kepala Sonia. Veranda
menuruti perintah Sonia, ditariknya tubuh Shania menjauh dari pintu itu.
Berontak.! Tubuh Shania memberontak.
“Shania.!
Sadarlah,.!!” Ucap Veranda berusaha menahan tubuh adiknya. “Dek, lawan dia dek.
Ini Kak Ve, ini kakak.” Veranda menggenggam kedua tangan Shania yang terus
mencoba melepaskannya dari tangan Veranda.
“Ci, cepat
cari cincin itu.” Bayangan itu muncul lagi di otak Sonia, dari awal ia bertemu
dengan wanita itu, kecelakaan, hingga sekarang, berputar terus beputar, hingga
kepala Sonia terasa berat.
“Ta...tapi
dimana ??” Stella dipenuhi rasa takut, panik, cemas, heran, bingung, campur
aduk.
“Di..da...laam
mob..mobill ituu..cepaatt arrgghtt.” Kata Sonia masih berusaha melepaskan
dirinya dari bayangan-bayangan itu. Stella mendudukan Sonia, untuk kemudian
masuk ke ruangan itu dan masuk ke dalam mobil, polisi itu ikut membantu Stella
mencari cincin di mobil yang telah tak berbentuk itu, dengan bekal senter yang
polisi itu kebetulan bawa.
“Shania.!
Ini Kak Ve, lawan dia, kuatkan diri kamu. Kak Ve yakin kamu bisa, dek. Kakak
akan bantu kamu, ayo lawan dia.” Veranda masih menguatkan adiknya, dia masih
menggenggam tangan adiknya.
“Ci,
cepattt.” Sonia masih berusaha menahan beratnya kepalanya, berputar-putar terus
bayangan itu dikepalanya yang semakin lama semakin menyakitkan.
“Dimana Son,
disini gelap.!”
“Cin..cinn
i..tu jaaa...tuuhh waa..ktu mereka ber..tengkar..di daa..lam mobil..arrghht.”
Sonia begitu terbata mengeluarkan kalimat itu yang tanpa sadar matanya telah ditembusi
air dari balik retina matanya.
“Arrrgghhtt.”
Sosok yang ada dalam tubuh Shania berteriak. ‘Kak, tolong Shania Kak, sakit.’
“Dek, kamu
bisa.!” Veranda meletakkan kedua tangan Shania dia dadanya. ‘Keluar dari
tubuhkuuu.!’ Batin Shania.
“Kaakkk.”
Suara Shania terdengar oleh telinga Ve. “Aaaarrrgghhtt.” Namun suara itu kembali
berubah, hingga ntah kenapa ujung mata Shania mengeluarkan cairan bening.
“Shaniaa.”
Veranda yang menyadarinya segera mendekap tubuh Shania, tak perduli kalau-kalau
dia akan kembali di sakiti sosok itu seperti kejadian sebelumnya, tak perduli
juga siapa yang menangis sebenarnya, sosok itukah, atau bahkan Shania ?
“Pak, sorot
senternya ke araah sini.” Pinta Stella, yang langsung dilakukan Polisi itu yang
terlihat ikut cemas.”Itu dia.!” Stella berseru dari dalam mobil yang sudah
ringsek itu.
“Arrggghhtt.”
Shania dan Sonia berteriak secara bersamaan, kali ini benar-benar suara Shania,
dia berhasil mengalahkan sosok itu, dan Sonia terlepas dari bayangan-bayangan
kecelakaan.
Tubuh Shania
yang lemah kini menggelayut di tubuh Ve, Sonia melemah dan bersandar di tembok
ruangan samping pintu yang tadi ia akan buka.
“Dek, bilang
sama Kak Ve, kamu nggak papa.” Veranda berucap dalam posisinya mendekap tubuh
Shania yang lemah di pelukannya.
“Dekk..”
Veranda berusaha memanggil adiknya,
“Iya Kak.”
Suara lemah Shania akhirnya terdengar juga di telinganya.
“Syukurlah.”
Veranda semakin mempererat pelukannya.
“Sonia. Loe
nggak papa kan ?” Stella yang telah menemukan cincin itu segera menghampiri
Sonia dan berjongkok di depan adiknya
“Son, loe
sadar kan ?” Stella meletakan kedua tangannya di dagu Sonia, kemudian
mengangkat kepala Sonia, pucat dan air mata yang ia dapat.
“Soniaa,
sadarlah. Cincin itu udah ada di tangan gue.” Nada bicara Stella bergetar, menunjukkan
cincin yang ada dalam genggamannya. Tanpa sadar dia begitu mengkhawatirkan
adiknya yang selama ini jarang ia perhatikan.
“Aku nggak
papa ko ci.” Sonia berucap dalam nada lemahnya, dia berusaha membuka matanya.
“Wajah loe
pucat.” Kata Stella memperhatikan wajah adiknya.
“Kita harus
kembalikan cincin itu ke keluarga dia Ci.” Kata Sonia berhasil membuka matanya
meski tak begitu lebar.
“Tapi
loe.....” Stella menggenggam tangan Sonia.
“Cincin itu
harus cepat dikembalikan sebelum dia kembali ke alamnya ci.” Masih dengan nada
lemahnya Sonia berbicara pada Kakaknya.
“Stell,
Sonia nggak papa kan?” Veranda memapah Shania yang sadar tapi belum mampu
menahan berat tubuhnya sendiri.
“Aku nggak
papa kak, bawa Shania ke mobil sekarang.” Sonia menjawabi Veranda, Stella
memperhatikan Shania yang menyandarkan kepalanya di bahu Veranda, dengan
tangannya melingkar di pinggang Veranda.
“Ayo Stell,
bawa Sonia juga ke mobil.” Kata Veranda memerintah, Stella segera membantu
Sonia yang hendak berdiri dalam kelemahan keadaannya.
“Biar saya
bantu mbak.” Polisi itu sigap menggantikan posisi Stella merangkul tubuh mungil
Sonia.
“Makasih
pak.” Stella menatap iba pada adiknya yang seolah tak berdaya.
“Oh ya, ini
kunci gudangnya, bisa tolong tutup kembali.?” Stella menerima kunci itu dan
segera mengunci pintu gudang yang baru saja ia masuki dalam keadaan gelap.
Veranda telah berjalan lebih dulu, disusul Sonia yang dipapah Polisi itu dan
diikuti Stella di belakang.
Misi mereka mencari sebuah
cincin yang dimaksud sosok itu akhirnya selesai. Mereka berhasil menemukannya
dan kini telah berada dalam genggaman tangan Stella. Dengan pertaruhan nyawa,
pengorbanan rasa sakit, dan penyewaan tubuh (?) kini permintaan 1 sosok itu
telah berhasil terselesaikan, sekarang tinggal bagaimana mereka akan
mengembalikan cincin itu ke.....ke keluarganya mungkin.
“Udah jam 10
malem.” Kata Stella menyalakan mesin mobilnya, Sonia ada di seat depan,
sedangkan Veranda menemani Shania di belakang yang masih menyandarkan tubuhnya
di tubuh Veranda. Polisi itu di tinggal disana, dia sendiri yang meminta.
“Kita tetep
harus balikin cincin itu malem ini juga ci.” Sonia mulai kembali bertenaga.
“Tapi apa
nggak kemaleman Son ? Kita mau ke rumahnya ?” Kata Stella mengenggenggam setir
kendali.
“Iyalah ci,
udah ayo buruan kita ke rumah yang tadi siang.” Sonia mulai tak sabar. Stella
segera menginjak gas dan meluncur, ke rumah perempuan itu. Sonia menatap
Shania.
“Shan, loe
sadar kan ?” Sonia mencemaskan keadaan Shania yang sedari tadi masih lemas.
Yang ditanya hanya menganggukan kepalanya pelan.
“Dek, Shania
nggak papa kan ?” Veranda melempar pertanyaan itu ke Sonia.
“Aku rasa
dia nggak papa, Cuma kecapean aja. Tubuh yang abis dipinjem sosok gaib itu akan
terasa sakit, cape, ya gitulah kak.” Sonia menjelaskan tentang sedikit yang ia
tau, tanpa ia sadari, ia sudah mulai banyak tau tentang dunia yang jelas
berbeda dengannya, tapi sampai saat ini dia sendiri belum tau kenapa dia bisa
melakukan itu semua.
“Loe sendiri
tadi kenapa ??” Stella berbicara dengan matanya yang fokus ke jalanan dengan
kecepatan mobil yang tinggi.
“Tadi aku
liat semuanya, liat semua yang dialami perempuan itu, dari mulai ketemu di
parkiran, terus berantem di mobil sama tunangannya, sampe akhirnya tunangannya
lepas kendali terus ditabrak mobil lain, cincin itu jatuh di mobil pas
kecelakaan, sampe dia datengin aku, bolak-balik ke rumah, waktu dia masuk ke
tubuh Shania, bagaimana marahnya dia sama omongan-omongan Shania dan...”
“Dek, ko
kamu bisa ngeliat itu semua ?” Veranda heran dengan pernyataan yang dibuat
Sonia.
“Ak....”
“Sonia itu
punya kelebihan yang diturunin dari kakek kita, dia bisa ngeliat apa yang akan
terjadi pada seseorang, dia bisa ngeliat hal gaib, dan semua yang berbau
mistis.” Jelas Stella akhirnya, Sonia terdiam mendengar penjelasan Stella yang
selama ini tak pernah ia dengar.
“Jadi, Ci
Stella tau kenapa aku bisa ngelakuin itu semua, sampe tadi aku ngeliat
bayangan-bayangan itu, ci stella tau kenapa ?” Sonia merasa dibohongi kakaknya
sendiri, sedang Stella hanya mengangguk mengiyakan.
“Aku mau
semua ini ilang dari tubuh aku ci.” Kata Sonia tegas namun begitu terasa enteng
untuk hal seperti ini.
“Son, itu
nggak segampang yang loe pikir. Itu keturunan dari Kakek, yang gue pun nggak
tau kenapa loe yang dapet.” Stella memelankan laju mobilnya, dia merasa kadar
emosinya naik beberapa derajat dari sebelumnya.
“Tapi ci,
aku kesiksa punya kaya gini. Bahkan tadi aku harus mati-matian ngelawan
bayangan-bayangan itu, itu nggak segampang yang kalian pikir, itu sakit.!
Kepala aku sakit.! ” Ungkap Sonia.
“Son, gue
tau itu berat.! Gue tau itu menyeramkan, tapi...”
“Tapi ci
stella, nggak tau gimana rasanya jadi aku.!” Sonia menyerobot ucapan Stella.
“Dek, itu
kelebihan yang kamu punya. Kamu mau nggak mau harus bisa terima apa yang kakek
kamu turunkan ke kamu.” Veranda berusaha membesarkan hati Sonia.
“Tapi
Kak....”
“Nggak semua
orang bisa ngelakuin apa yang kamu lakuin, contohnya tadi kamu tau apa yang
harus kita lakukan agar kita semua selamat, kamu tau gimana caranya nyadarin Shania.
Kamu harus bangga, dek. Kakek kamu nitipin kelebihan itu di kamu karena dia
tau, kamu orang yang pantas, dan kamu pasti mampu mengemban tanggung jawab itu”
Sonia terdiam mencerna kalimat panjang Veranda, Stella tetap fokus dengan
kendali mobilnya. ‘Son, loe harusnya seneng. Bahkan loe bisa denger suara batin
gue tadi.’ Suara itu terdengar di telinga Sonia, diliriknya Shania yang
tersenyum ke arahnya. ‘Tuh kan loe denger gue.’ Shania yang merasa di tatap
Sonia melanjutkan kalimatnya dan melebarkan lagi senyumnya.
“Nggak lucu
Shan.” Ceplos Sonia membuat Veranda dan Stella yang tak tau apa-apa melirik
keduanya.
“Tuh kan
kak, Sonia bisa denger kata batin Shania.” Kata Shania yang mulai bisa
menegakkan tubuhnya.
“Maksudnya
?” Stella yang menimpali. ‘Jawab dong Son.’ Shania hanya tersenyum menghadap
pada Sonia yang menatap keluar jendela.
“Shan ?
maksudnya gimana ??” Shania tidak menjawab Stella yang begitu ingin tahu.
Veranda diam mencerna kalimat adiknya. ‘Apa Sonia bisa baca pikiran Shania ?’
Suara lain Sonia dengar.
“Aku bukan
bisa baca pikiran yah Kak, aku Cuma bisa denger apa yang kalian bicarain di
dalam batin kalian.” Sonia bersuara menjawab batin Veranda. Veranda yang
terkaget hanya diam dan menutup mulutnya.
“Serius Son
loe bisa denger kata hati kita ?” Kata Stella mengulang.
“Iya,
makanya jangan main-main sama aku.” Sonia malah mengancam.
“Eh udah
sampe.” Veranda menyadari yang jelas setelah Stella.
“Ko rame sih
?” Shania memperhatikan dari dalam mobil.
“Iya. hari
ini 7 hari kematian perempuan itu, di rumahnya baru selesai ada tahlilan gitu.”
Kata Sonia bersiap turun dari mobil. Mereka mengangguk paham.
“Ayo ahh
turun.” Sonia mendahului mereka keluar mobil.
“Permisi
Pak, apa benar ini alamat rumah Shavella Tanumihardja ?” Tanya Stella sopan kepada
laki-laki yang berdiri di depan pintu. Mereka mendapatkan nama itu dari kantor
polisi ketika tadi siang mereka menanyakan tentang kecelakaan itu. Bapak-bapak
itu terlihat heran menatap 4 gadis yang ada di hadapannya dengan tampang lusuh.
“Emm,
Tahlilannya udah selesai ya Pak ?” Tanya Sonia basa basi.
“Iya, kalian
siapanya Vella ?” Tanya bapak tadi.
“Oh Vella,
iya kami temannya pak. Apa bapak, orang tuanya Kak Vella ?” Sonia yang mengajak
bicara Bapak itu.
“Iya saya
Ayahnya.” Jawabnya, pandangan Sonia beralih ke dalam ruangan, dilihatnya
laki-laki yang tengah berjalan ke arah mereka.
“Kalian ?”
Heran laki-laki itu begitu sampai di ambang pintu, tepatnya di belakang Ayah
perempuan itu berdiri.
“Iya ini
kita, kamu tunangannya Vella ?” Stella berusaha ramah.
“Iya, saya
tunangannya Vella.” Jawab lelaki itu, wajahnya terlihat berbeda dengan perban
yang melingkar di kepalanya.
“Ehm, Pak.
Bisa kami berbicara dengan Mas nya ?” Tanya Sonia, maksudnya agar Bapak itu
meninggalkan mereka.
“Oh iya,
silahkan.” Kemudian Bapak itu masuk ke dalam rumahnya, mengerti kode yang di
luncurkan Sonia.
“Ada apa ?”
Lelaki itu berkata dengan nada dingin yang berusaha ia tutupi.
“Ehm, kami
kesini sebenarnya mau bicara tentang Vella.” Kata Stella, Sonia menyerahkan
masalah ini pada kakaknya.
“Mau apa ? Asal
loe tau, loe yang buat Vella meninggal !” Kata lelaki itu melangkah menjauh
dari mereka berempat, Stella mati kata dibuatnya. ‘Aku ? kenapa aku ? Bahkan
setelah aku melakukan semua ini, dia menuduhku bahwa aku penyebab kematian
Vella.’
“Ak...”
“Kita kesini
mau nyampein amanat Kak Vella sama
kamu.” Kata Sonia mengambil alih posisi Stella yang kini dicegah Veranda untuk
melangkah menghampiri orang yang telah menuduhnya.
“Tau apa loe
tentang Vella yang udah kalian bikin mati ?” Dia membalikkan badan menghadap ke
mereka berempat.
“Kita emang
nggak tau apa-apa tentang tunangan kamu itu, kita kesini Cuma mau nyampein
amanat Kak Vella yang ingin ngembaliin cincin ini.” Jelas Sonia yang diakhiri
dengan cincin yang ia tunjukkan ke depan
mata laki-laki yang ia ajak bicara.
“Cincin ini
? Kenapa kali....” Diambilnya cincin itu diperhatikannya, memastikannya itu
benar-benar cincin tunangannya.
“Loe nggak
perlu tau gimana kita dapetin cincin itu.” Stella ambil suara. “Yang loe perlu
tau, sikap loe sekarang itu sama sekali nggak ngerhagain kita yang berusaha
nyari cincin itu sampe harus mertaruhin nyawa kita.” Lanjut Stella tegas,
kemudian beranjak meninggalkan laki-laki itu dan teman temannya.
“Ci,
Stell.!” Suara Sonia dan Veranda berbarengan mencegah Stella pergi, namun tak
menghentikan langkah Stella. Hingga akhirnya mereka bertiga(Veranda, Shania,
Sonia) memutuskan untuk mengejar Stella.
“Stella
tunggu.!” Suara itu berhasil menghentikan langkah Stella, sosok itu berhasil
meraih tangan Stella yang masih ada dalam halaman rumahnya.
“Hey, mau
apa lagi ?” Kata Sonia yang menyadari kejadian yang dilihatnya. Stella
membalikkan badan, namun tak ada yang dapat ia lihat kecuali teman-temannya
yang masih berjarak lumayan jauh itu.
‘Aku tak
akan lagi menyakiti mereka, tapi ijinkan mereka melihatku.’ Suara itu terdengar
oleh Stella dan Sonia, namun tidak untuk Veranda dan Shania yang mematung di
sebelah Sonia.
“Bagaimana
caranya ?” Sonia menatap ke arah sebelah Stella. ‘Cukup genggam tangan mereka.’
“Ci, Kak,
Shan, bisa genggam tangan aku ?” Kata Sonia menatap ketiganya bergantian.
“Mau apa Son
?” Shania belum begitu pulih keadaannya masih menggelayut di lengan Veranda.
“Dia mau
bicara sama kita.” Jawab Sonia singkat.
“Nggak,
nggak mau.! Gue takut Son.” Shania menyembunyikan wajahnya di balik tubuh
Veranda. ‘Sonia, tolonglah.’
“Dia, nggak
seserem yang pernah loe liat Shan.” Sonia mencoba meyakinkan Shania.
‘Aku nggak
akan tenang kalo aku belum bicara sama kalian.’
“Ayolah
Shan, gue jamin dia nggak akan nyakiti loe lagi.” Sonia menyodorkan tangan
kanannya, sedang yang kiri sudah ada dalam genggaman Stella. Veranda mengikuti
Stella, dia meletakkan tangannya di tangan Sonia.
“Shan,
ayolah...” Tangan kanan Sonia masih dalam posisi tadi. Shania terlihat berfikir,
melirik Veranda sekilas, untuk meminta pendapat, yang dilirik hanya
menganggukan kepalanya mantap. Kemudian Shania mulai menggerakkan tangannya dan
kini tangan mereka telah bersatu.
‘Suruh
mereka pejamkan mata. Kemudian yakinkan kamu agar kamu bisa mentransfer
kekuatan kamu untuk mereka bisa melihatku.’
“Tutup mata
kalian.” Kata Sonia menuruti perintah perempuan itu, pun dengannya. Beberapa
detik mereka memejamkan mata mereka, kemudian Sonia mendahului membuka matanya,
dilihatnya perempuan itu dengan gaun putihnya wajah cantik dengan cahaya
dibelakangnya, sosok itu tersenyum ke arahnya, menandakan mereka boleh membuka
mata mereka.
“Sekarang
buka mata kalian.” Kata Sonia, serempak Veranda dan Stella membuka mata, untuk
kemudian menyipitkan mata mereka kembali karena melihat sinar yang begitu
menyilaukan mata.
“Wahh.” Mata
Stella mulai bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di hadapannya, diikuti
Veranda yang memasang wajah kagumnya menatap sosok yang selama ini dia rasa ada
tapi tak pernah dilihatnya.
“Kak, apa
dia serem ?” Tanya Shania yang masih memejamkan matanya, dan menyembunyikan
wajahnya di bahu Veranda.
“Dia, cantik
banget dek.” Kata Veranda mengagumi sosok yang didepannya. Shania yang
mendengar jawaban kakaknya perlahan membuka matanya dan melirik ke arah yang
mungkin bisa ia lihat ada seseorang.
“Haii..”
Sosok itu menyapa mereka dengan senyumnya.
“Apa kamu
Shavella yang selama ini....” Veranda tak melanjutkan kalimatnya, takjub dengan
apa yang ada di depan matanya.
“Iya, aku
Vella, Shavella yang selama ini mengganggu kalian.” Jawab Vella masih dengan
senyumnya, senyum yang tak pernah Sonia lihat sejak ia bisa melihat Vella.
“Maksud aku
menampakan diri depan kalian sekarang, karena aku ingin minta maaf, dan
berterimakasih sama kalian.” Jelasnya, sedang yang diajak bicara hanya mendengarkan
dengan pikirannya masing-masing, mereka masih saling menggenggam.
“Terutama
Sonia yang selalu kupaksa untuk cepat-cepat menemukan cincin itu, terlebih
dengan wajahku yang kutahu pasti sangat menyeramkan bagi anak semuranmu.” Vella
menatap Sonia dengan tatapan menyesalnya, Veranda Stella dan Shania ikut
menatap Sonia, kemudian kembali menatap Vella.
“Terus,
Shania.” Vella mengalihkan pandangannya pada Shania, yang disebut namanya
sedikit menundukkan wajahnya, risih mungkin. “Maaf aku selalu membuatmu ketakutan.”
Shania mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap Vella. “Maaf juga karena
aku menyakiti tubuh kamu. Aku pinjam tubuh kamu, karena waktu itu aku terlampau
marah, aku marah gara-gara kata-kata kamu, gara-gara kamu mukul aku waktu aku
pinjam tubuh Sonia, tapi itu emosi sesaatku, emosi karena aku terlampau marah
ketika cincinku tak kunjung kalian temukan, aku terlampau marah karena
kata-katamu yang seolah menyepelekanku, tapi pada akhirnya aku sadar, aku tau
kamu Cuma terlalu malas menuhi permintaan seseorang yang udah mati kaya aku dan
aku rasa ini memang hal konyol. Dan wajar saja kalau anak seumuranmu menolak
permintaan konyolku ini.” Shania merasa bersalah pada Vella.
“Aku juga
minta maaf, karena udah ngatain Kak Vella, maaf soal pukul...” Kata Shania
berusaha melawan takutnya.
“Kamu nggak
perlu minta maaf, bahkan aku yang harusnya minta maaf karena udah masuk ke
tubuh kamu tanpa ijin, terlebih sampai keadaanmu seperti ini.” Senyum Tria
begitu meneduhkan.
“Dan buat
Stella, Maaf aku sempat ingin membunuhmu, aku kira aku mati karena
pertengkaranku dengan Adyth (Tunangannya Vella) yang waktu itu lagi ngomongin
kamu, tapi ternyata itu takdir aku buat mati, aku saja yang terlalu emosi dan
menganggap kematianku ini adalah kesalahanmu, padahal kau begitu baik, begitu
tulus membantu Sonia mencarikan cincinku.” Stella tersenyum mendengarkan
kalimat demi kalimat yang disampaikan Vella untuknya.
“Dan
veranda, maaf sempat mencekikmu hingga kau hampir kehabisan nafas, itu karena
aku hanya ingin mencari perhatian kalian agar cepat menemukan cincin itu.”
Sosok itu begitu jelas menyampaikan isi hatinya.
“....”
“Son,
maafkan aku. Karena aku telah menjatuhkan permintaanku sama kamu. Itu bukan
karena kamu yang terlambat memberi tahu kematianku, tapi karena Cuma kamu yang
bisa liat aku. Berhenti menyalahkkan diri kamu sendiri, kamu hanya salah satu
anak yang di beri kelebihan melihat masa depan, bukan untuk mencegah kematian,
dan kamu jangan pernah menyesal punya kelebihan itu, karena itu akan menolong
orang-orang di sekitarmu. Kaya kamu yang udah nolongin aku, dan kamu yang
nolong Shania dari jeratanku.” Vella menatap Sonia begitu lembut, bak menatap
adiknya sendiri, tak seperti sebelum-sebelumnya.
“Oh ya,
maafkan Adyth juga atas kalimatnya tadi.” Tatapannya beralih pada Stella. “Kau
tak perlu sakit hati. Karena memang begitulah sikapnya. Kecelakaan itu emang
kejadian sesaat setelah aku ngomongin kamu, tapi itu bukan karena kamu, itu
semua karena aku yang terlalu cemburu sama mantan Adyth.” Sepersekian detik
suasana hening, Vella terlihat meneteskan air matanya.
“Terimakasih,
terimakasih buat semuanya, terimakasih buat semua usaha kalian yang telah
kalian curahkan untuk mencari cincin aku, cincin orang yang udah mati
sepertiku.”
“Terimakasih
buat waktu yang kalian buang buat nyari cincin aku, terimakasih kalian yang
udah meladeni permintaan konyolku.”
“Terimakasih
karena kalian, aku akan tenang di alamku kelak, aku tak akan pernah melupakan
jasa kalian, dan aku akan mengawasi kalian dari tempatku. Aku janji akan
menjaga kalian.” Vella memberi jeda untuk kalimat berikutnya. “Kalian yang tak
pernah ku kenal sebelumnya di dunia nyataku.” Lanjutnya di tutup senyuman yang
begitu lembut.
“Kami juga
tak akan pernah melupakanmu.” Ucap Sonia, tanpa sadar matanya mengeluarkan
cairan bening, terharu :’)
“Jika aku
boleh meminta, maka aku akan meminta untuk mengulang hidupku untuk mengenal
kalian, lebih dekat lagi dengan orang-orang sebaik kalian. Jujur saja aku iri
dengan persahabatan kalian, berbeda-beda tapi tetap akur.” Vella menatap mereka
dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Aku akan
meminta pada Tuhan untuk terus menjaga persahabatan kalian.” Tutupnya masih
dengan senyum lembut.
“Terimakasih
:)” Jawab Veranda mewakili.
“ Waktuku
telah benar-benar habis.....Aku harus cepat kembali ke alamku. Aku pamit, jaga
selalu hubungan kalian, jangan sampai salah satu dari kalian ada yang terluka. Terimakasih
atas semuanya.” Kemudian sinar itu perlahan meredup, semakin meredup dan
akhirnya hilang bersama hilangnya Vella dari pandangan mereka :’)
“Kak Vella. Makasih
ya udah bikin ci stella perhatian sama aku.!” Teriak Sonia. Veranda dan Shania
tertawa ringkih, sementara Stella salah tingkah, tersenyum tak karuan.
-End-