Sabtu, 23 November 2013

Tuhan, ini suratku......



Tuhan, ini suratku.
Ntah hendak kunamai apa dan kuberi pada siapa. Tuhan, aku tak tau betul apa yang hendak kukatakan di surat ini. Tapi Tuhan, aku begitu sakit. Aku terlalu sakit menerima kenyataan ini, aku lelah untuk sakit, aku bosan untuk sakit Tuhan. Tuhan, apa harus aku ? apa harus sesakit dan semenyesakan ini ?
Tuhan, aku sayang dia, tapi aku kecewa atasnya. Aku tau seberapa besar pun kecewaku tak akan bisa rasa itu kan menjadi benci, sebab darahnya mengalir di tubuhku Tuhan, dia orang yang kau titipi untuk menjagaku selama hidupku. Tapi Tuhan, bagaimana dengan keadaannya sekarang ?
Tuhan, semua memang terasa indah di awal. Tapi apa itu artinya aku tak dapat lagi merasakan keindahan dalam lingkup kecil ini, lingkup keluargaku Tuhan. Lingkup keluarga yang dulu mampu membuatku selalu bisa tersenyum bahagia, selalu bisa membuatku merasa aman, membuatku merasa nyaman, lingkup yang membuatku merasa tak pernah kekurangan perhatian, Tuhan.
Tuhan dimana semua itu ?? apa aku tak bisa menemukannya lagi ?? hilangkah ?? Tuhan, jika kini aku tengah berlayar, dimana tepian itu ? dimana tepian yang menjanjikan kebahagiaan, Tuhan ??? harus kuarahkan ke arah mana perahuku agar sampai di tempat itu, tempat bahagia itu ??
Tuhan aku ingin lagi merasakan hangatnya kebersamaan keluarga, hangatnya suasana saat aku, dan keluarga berkumpul dalam ruangan nan mungil itu. Ruang tamu yang sering kami gunakan untuk ruang keluarga, ruang yang selalu hangat di tengah hujan deras sekalipun. Ruangan yang juga sering kami gunakan untuk bercerita akan keseharian masing-masing, bermimpi dengan bayangan indah yang kami buat, tertawa dengan candaan ringan. Tuhan, tak bolehkah aku merasakannya kembali ?? atau mungkin saat kami keluar bersama, saat kami menghabiskan waktu di salah satu pusat perbelanjaan di kota kami, atau saat kami makan malam di luar. Tak bisakah Tuhan ??
Terlalu sakit, ketika mengingat kebahagiaanku dulu yang tak dapat lagi kurasakan, terlalu deras air mata yang mengalir jika ingat kekecewaanku, terlalu sesak jika mengingat kesakitanku, terlalu bosan aku berlaga biasa saja dengan luka di dalam tubuh ini.
Tuhaaannn, aku lelah, aku lelah menangis, aku lelah sakit hati, aku lelah kecewa, aku lelah menahan emosi, aku lelah tersenyum di atas kesakitanku, aku lelah dengan semua ini Tuhan.
Tuhan, tak bolehkah aku meminta untuk Engkau mengembalikan ‘dia’ agar menjadi dirinya yang dulu, mengembalikan dia yang kukenal sama seperti saat dia mengumandangkan adzan di telingaku ketika aku sampai di dunia ini. Dia yang kukenal sangat menyayangi keluarganya, dia yang kukenal rela meninggalkan apapun untuk keluarganya, dia yang memiliki saaaannnnggggaaaatttt banyak waktu untukku, dan keluarganya. Dia yang kukenal sangat menjaga kami, dia yang kukenal sangat memperhatikan kami.
Tuhan, aku rindu, aku rindu belaiannya, aku rindu perhatiannya, aku rindu caranya memanjakanku, aku rindu kata-kata lembutnya ketika berbicara denganku, aku rindu dia yang selalu melindungiku, aku rindu dia yang selalu kubanggakan, aku rindu dia yang selalu bisa membuatku merasa aman, merasa nyaman, dan merasa diperhatikan, aku rindu dia yang selalu berusaha membahagiakanku, aku rindu dia.....dia yang mempunyai baaaaaannnyyyaaakkkk waktu untukku.
Tuhan, belum cukupkah cobaan yang sampai saat ini tak berakhir ?? Tuhan, 4 tahun.! Belum cukupkah ??
Tidakkah kau melihat penderitaan kami ?? kami yang semakin hari semakin di tinggalnya, kami yang semakin hari semakin dilupakannya, kami yang semakin hari semakin kehilangan waktunya, kehilangan sosoknya yang dulu.
Tuhan, tolong kembalikan dia, kembalikan dia untuk kami yang selalu mengharapkan waktunya, kembalikan dia untuk kami, kami yang seharusnya lebih berhak atas dia dibanding wanita itu.!
Tuhan, apa.....apa yang harus aku lakukan agar dia kembali, Tuhan.! Kesakitan seperti apa lagi yang harus ku rasa agar aku bisa merasakan kebahagiaan seperti dulu, agar dia kembali, Tuhann.
Tuhan, tidakkah kau lihat keluargaku sekarang ??? Kami semua terpisah dengan jarak, aku kakak mamah, dan papah yang ntah dimana...Tuhan, jika aku tak boleh lagi bahagia, setidaknya kembalikan lagi dia untuk istri sah-nya. Aku hanya tak ingin lagi melihat penderitaan istrinya itu, istrinya yang mengandungku selama 9 bulan, Tuhan. Aku hanya ingin melihat kedua orang tuaku kembali seperti dulu lagi, aku ingin ibuku tak sendiri lagi, menunggu kepulanganku atau kakaku. Tuhan, hanya itu.....setidaknya aku bisa melihat mereka bahagia lagi, cukup Tuhan :’)
Tuhan, jika boleh aku kembali minta tolong. Tolong sampaikan perasaanku pada Ayah Tuhan, sampaikan bahwa aku saaaaannnnggggaaattt merindukan sosoknya yang dulu, bahwa aku ingin dia kembali menemani ibuku, ingin dia kembali memiliki banyak waktu untuk kami, kembali menyayangi kami sepenuh hatinya, kembali memperhatikan kami sebanyak dia punya waktu untuk kami, kembali.........kembali untuk kami Tuhann..... sampaikan juga kesakitan kami karena tingkahnya Tuhan, dan kami selalu menunggunya Tuhan :’)
Tuhan, aku mohon sekali lagi, bantu dia merubah dirinya, bantu dia melawan setan yang menggandrunginya, bantu dia mengingat kenangan-kenangan indahnya bersama kami, bantu dia melepas semua yang membuatnya berubah, bantu dia mengingat bagaimana panjangnya jalan yang ia tempuh bersama istrinya dan anak-anaknya, bantu dia mengingat betapa berharganya kami di matanya sewaktu dulu. Tuhan...secepatnya, aku ingin secepatnya dia berubah Tuhan, aku mohon, jangan sampai terlambat, aku mohon Tuhan :’)
Tuhan, kau pasti tau. Suatu malam aku bermimpi, aku pulang ke rumahku, dengan keadaan rumah yang seperti dulu, ada ayah ada ibu ada kakak :’) kami semua kembali berkumpul, ayah meminta maaf atas segala kesalahannya, dan berjanji untuk kembali ke keluarga kami, kami saling menangis, menangis bahagia, kami terharu, tangis kerinduan, rindu akan kehangatan yang lama tak kami rasakan. Tapi begitu aku terbangun, aku tersadar bahwa itu semua itu hanya mimpi semata, sebuah kebahagiaan yang ternyata hanya ada dalam mimpi. Tuhan taukah, bahkan aku ingin larut dalam mimpiku jika hanya dalam mimpi lah aku kembali merasakan bahagia itu, bahagia saat kami bersama, bahagia berkumpul dengan keluarga utuhku, aku rela untuk tak bangun Tuhan. Bisakah Kau sampaikan mimpiku ini pada dia Tuhan ?? dan pintaku yang terakhir, tolong Tuhan jangan buat aku terus bermimpi dengan keindahan, buatlah mimpi ini menjadi kenyataan Tuhann.....

Kamis, 14 November 2013

Sosok itu....

“Haha, eh ci any way makasih yaa udah temenin aku jalan-jalan.” Dua gadis itu tampak senang ketika berjalan menuju parkiran salah satu mall di Jakarta.
“Iya iya. Ini juga mamah yang nyuruh. Coba kalo mamah nggak bilang ‘stella, temenin sonia jalan-jalan ya. Biar dia nggak sendirian, jaga adik kamu.’ Gue nggak bakal nemenin loe jalan.” Ucap Gadis yang secara fisik terlihat lebih matang daripada gadis yang disebelahnya.
“Terpaksa banget gitu ci, sama adik sendiri.” Protes gadis satunya lagi yang mengaku sebagai adiknya, mereka masih asik berjalan mencari mobil yang mereka gunakan untuk menuju ke mall ini.
“Iyalah males banget jalan sama anak kecil.” Sang Kakak sepertinya sangat cuek terhadap adiknya yang terlihat memanja.
“Males juga seneng kan ? kalo nggak, ngapain kita jalan dari siang sampe malem kaya gini.”
“Iya deh, gue sennneeeennnngg banget abis jalan sama adik gue SATU-SATUnya, SONIAAAA.” Gadis yang berperawakan lebih tinggi itu menyebutkan nama adiknya dengan sangat jelas.
“Oke aku juga seneng banget jalan sama Cici aku, stella PENGHARUM RUANGAN.! Haha.” Sonia membalas Kakaknya dengan candaannya.
“Eh awas ya loe.” Stella yang tak terima, sigap mengejar adiknya yang telah mendahului jalannya.
“Kejar aja ka.....”
‘Brakk..’ barang-barang yang Sonia bawa, terjatuh begitu saja.
“Eh ya ampun maaf.” Ucap seorang perempuan yang bertabrakan dengan Sonia.
“Son.” Stella yang sempat menghentikan jalannya, akhirnya mendekat ke TKP.
“Eh, maafin adik saya mbak, maaf dia emang nggak bisa diem.” Stella mewakili Sonia meminta maaf.
“Makanya adiknya di jaga dong mbak.” Laki-laki yang ada di samping perempuan itu justru menyalahkan Stella.
“I..iya maaf.” Stella yang tak menduga akan mendapat respon seperti tadi mendadak gagap. Sang perempuan nampak protes pada laki-laki itu untuk bicara lebih sopan pada Stella.
“Nggak papa ko. Lagian gue juga nggak ngeliat ada orang.” Kata perempuan tadi. “Loe nggak papa kan.” Lanjutnya memandang ke arah Sonia.
“Engg..nggak papa ko.” Sonia yang sedari tadi masih dalam posisi duduknya kini ia telah berdiri, ntah apa, tapi dia seperti memandang heran ke perempuan yang baru saja membantunya berdiri.
“Maaf ya, tadi gw nggak liat ada loe.” Kata perempuan itu lembut.
“Eee..emm i..iya. Nggak papa. Aku yang minta maaf.” Sonia tergagap, masih dengan tatapan herannya ke perempuan tadi, Stella yang menyadarinya hanya menyenggol bahu Sonia, berusaha membuat Sonia menyadari tingkah konyolnya.
“Yaudah kita duluan yah.” Kata perempuan itu, dan dua orang tadi yang sepertinya sepasang kekasih pun meninggalkan TKP, Sonia masih saja memandangi perempuan itu meski Stella telah menyeretnya untuk segera  mengikutinya berjalan. Bahkan ketika telah berada di depan pintu mobil Sonia masih berdiri mematung melihat dua orang tadi, sampai akhirnya sepasang kekasih itu masuk mobil hingga mobil itu melaju dan hilang dari penglihatannya.
“Ci, orang tadi ko aneh ya.?” Sonia berucap seraya membuka pintu mobilnya.
“Aneh kenapa ?” Stella yang tak begitu menanggapi langsung saja masuk ke dalam mobil.
“Aneh aja, kaya ada aura-aura yang......” Sonia telah duduk di samping Stella, otaknya menerawang scene yang baru saja dia dapat.
“Loe ngomong apa sih, gak jelas banget.” Stella sibuk dengan barang belanjaanya yang hendak ia taruh di seat belakang mobilnya.
“Ya ampun ci aku inget.!” Seru Sonia menepuk dahinya sendiri. “Cepet kejar mobil yang orang tadi pake.!” Lanjut Sonia dengan nada paniknya.
“Apa sih, nggak usah teriak-teriak gitu ah.” Stella masih saja tak menanggapi omongan anak kecil yang menurutnya hanya kalimat biasa.
“Ci, cepetan.!” Lagi Sonia berseru di dalam mobil.
“Kenapa sih ? Lagian ngapain juga ngejar-ngejar orang yang nggak kita kenal.” Stella yang saat itu memang sedang unmood karena kejadian tadi, hanya menganggap remeh permintaan Sonia, seraya menyalakan mesin mobilnya dengan sangat santai.
“Ci, sebelum kita terlambat.!” Sonia mengabaikan Stella yang mengacuhkannya.
“Iya ah, udah diem..! Jangan ganggu konsentrasi gue.” Hanya sebagai formalitas agar adiknya tak merengek seperti tadi lagi. Sonia bungkam dengan jawaban Stella dengan wajah paniknya dan berharap agar mobil tadi masih sempat ia kejar.
Stella melajukan mobilnya, santai karena memang dia rasa tak ada beban, jalanan juga masih terlihat basah bekas hujan tadi sore yang mengguyur jalanan.
“Ci kencengan dikit.” Sonia yang masih belum melihat mobil yang ia maksud mulai protes pada Stella yang sengaja memelankan laju mobilnya.
“Bawel bang....”
“Ci, orang tadi di penuhi aura gelap.!” Sonia mulai buka mulut, memotong kalimat kakaknya  “Dan ada sosok hitam dibelakangnya, aku takut kalo dia kenapa-kenapa di jalan.! Kita harus kejar dia.!” Sonia yang tak kunjung mendapat respon baik dari Stella akhirnya menyampaikan maksud sebenarnya.
“Loe nggak usah bercanda deh Son, nggak usah ngarang-ngarang cerita sok horror buat nakutin gue ya.!” Stella mulai mengerti maksud Sonia, tapi dia masih berusaha menguasai logikanya untuk omongan anak kecil yang ada di sampinnya kini.
“Ci aku serius.! Kalo dia ngikutin emosi dia, dia nggak bakal selamat ci.!” Lagi Sonia menjelaskan maksudnya. Stella menatap heran pada Sonia untuk beberapa saat kemudian fokus ke jalanan dan mulai menginjak gas lebih kencang dari sebelum ini. ‘Kenapa Sonia bisa liat kaya gitu.’ Batin Stella tetap fokus. Sedang Sonia tak bisa diam dalam duduknya, berkali kali dia mengganti posisi duduknya dan menengok setiap mobil yang ia liat.
“Kita nggak boleh kehilangan jejak mereka ci.” Sonia masih celingukan ke arah jalanan. Stella memelankan laju mobilnya, dari jarak lebih dari 30  meter tampak kemacetan yang biasanya tak dijumpai di jalan ini.
“Ci, kenapa ?” Sonia yang menyadari laju mobilnya menjadi pelan memprotes.
“Macet Son, tau nih biasanya juga nggak macet disini.” Stella menjelaskan, diam-diam dia juga ikut panik.
“Jangan-jangan....” Sonia merasakan feeling tak karuan, nafasnya terhenti sesaat.
“Ahhhh.! Stop ci, berentiin mobilnya.!” Seru Sonia seperti bersiap keluar dari mobil, Stella menuruti adiknya.
“Son mau kemana ?” Seruan Stella tak didengar Sonia yang langsung turun dari ketika mobil berhenti.
“Ini anak, ribet banget sih.” Stella menggerutu di tengah kesibukannya melepas seatbelt, berniat menyusul adiknya yang sudah menghilang dari pandangannya.

                Sonia telah sampai di batas kemacetan, atau dalam keadaan ini penyebab kemacetan mungkin lebih tepatnya, ramai orang-orang mengelilingi mobil yang terbalik di pinggir jalan dengan asap yang masih mengepul, tak ada api besar disana. Sonia yang masih penasaran segera menerobos keramaian itu mencoba mencari tahu orang yang ada didalamnya. Tapi dia lebih cepat menemukan plat mobil tadi yang sempat ia hafalkan nomornya. Seketika Sonia melemas, nafasnya terasa berat, dadanya sesak, dia hanya membungkam mulut dengan telapak tangannya, menahan tangis.
“Son...” Stella telah menemukan sosok adiknya yang sedari tadi ia cari di tengah keramaian.
“Ahhh.! Kita telat ci.!” Sonia berteriak di depan mobil itu, menyesal pastinya. Stella yang tahu maksud Sonia sigap merangkulnya, dia tau benar perasaan Sonia. Sebelum dia menemukan adiknya dia telah menanyakan korban dari kecelakaan ini pada salah satu orang yang tengah berkerumun disana. Dan benar saja, ada 2 korban disana, sepasang lelaki dan perempuan, sang perempuan meninggal di tempat dan pacarnya  dalam keadaan luka berat, mereka sedang dibawa ke rumah sakit terdekat.
“Udahlah son, ini takdir Tuhan juga ko.” Stella mencoba membesarkan hati adiknya.
“Kalo aja tadi aku langsung tahu kenapa orang tadi dikelilingi sosok gelap pasti gak akan kaya gini ci.!” Sonia masih saja menyesali tindakannya yang ia rasa telat, air matanya jatuh juga ketika Stella merangkulnya.
“Bukan salah loe ko Son.” Sonia tak menimpali kata-kata Stella lagi, dia masih memandangi mobil tadi. Sekilas bayangan kecelakaan itu muncul di otak Sonia dan...
“Astaga.” Sonia seperti terkaget melihat sesuatu, untuk kemudian menyembunyikan wajahnya di bahu kanan Stella.
“Kenapa Son.?” Tanya sang kakak yang merasa tak melihat apa-apa.
“Dia, disana ci. Dia lagi natap kearah kita” Kata Sonia menunjuk ke arah yang bagi Stella tak ada yang aneh, wajah Sonia masih ia tenggelamkan di bahu Stella.
“Mana Son, nggak ada ko.” Stella clingukan mencari sosok yang Sonia maksud. Antara takut dan penasaran, tapi dia merasakan hawa tak enak menyelimutinya.
“Muka dia parah banget ci.” Lanjut Sonia tak berani melihat ke arah tadi lagi.
“Udahlah kita pulang aja, mungkin loe kecapean, sampe loe halusinasi gitu.” Stella membimbing adiknya yang terlihat lemas dalam rangkulannya.

                Dalam perjalanan pulang mereka saling terdiam, otaknya bermain dengan ilusinya masing-masing. Stella sibuk dengan tak habis pikirnya tentang Sonia, kenapa Sonia bisa tau kalo perempuan itu akan mengalami kecelakaan, darimana dia bisa melihat aura hitam yang tadi Sonia katakan, bagaimana bisa. Sedangkan Sonia sendiri masih dengan tatapan kosongnya ke arah jendela, dengan bayangan perempuan itu kemudian mobil yang terbalik tadi, semua terbayang berganti gantian, dan membuat Sonia terus menyalahkan dirinya, ditambah ketakutannya pada sosok perempuan tadi yang muncul di TKP dan menatap kearahnya dengan sangat tidak bersahabat. Otaknya berputar-putar, memikirkan bagaimanakah kedepannya, apakah dia akan marah dengan Sonia yang tak memberi tahu akan kematiannya. Atau bagaimana jika ternyata perempuan itu akan meneror dirinya, dan bayangan bayangan lain yang memenuhi lingkup otaknya hingga membuatnya ketakutan, dan tanpa sadar menginggiti kuku jari-jarinya. Bahkan dia tak memperdulikan Stella yang sedari tadi mengajaknya bicara.
“Hey, Sonia.! Loe kenapa ?” Tepukan Stella di bahu Sonia berhasil menghentikan kegiatannya.
“Hah  ?? Ke..kenapa ci ?” Sonia tergagap ketika sadar dari ilusinya.
“Loe kenapa sih, jangan bikin gue parno ah.” Protes Stella begitu parno akan hal yang berbau mistis.
“Ci aku takut kalo......”
“Nggak usah ngomongin yang tadi deh.” Stella memotong begitu saja ucapan adiknya. Dia bukan tak mau mendengarnya, hanya terlalu takut mendengar kenyataan yang tak seharusnya dia dengar.
“Tapi ci..” Sonia hendak menyanggah Stella.
“Stop.! Gue nggak mau denger omongan konyol loe.” Lagi Stella memotong kalimat Sonia, hingga akhirnya Sonia bungkam menikmati perjalanan malamnya dengan kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya.
***


“Kau harus mati.!”
“Siapa kamu ?”
“Apa kau tak mengenaliku ?”
“Ti..tidak..wajahmu rusak.! Aku tak mengenalimu.!”
“Aku yang telah kau dan adikmu buat mati.!!”
“Tapi, itu bukan salahku. Itu takdirmu untuk mati.”
“Tapi kau membunuhku.!”
“Aku sama sekali tak tahu.!”
“Kau harus ikut denganku Stella.!”
“Tidak.!”

“Aaaa Jangaaannnn.!” Teriakan Stella akhirnya meledak dan berhasil melarikan diri dari bunga tidurnya.
“Hah, Cuma mimpi.” Stella terduduk di kasurnya serasa lepas dari jerat jerami, nafasnya terengah, berburu tak karuan. Hawa dingin Stella rasakan, padahal Matahari diluar sana telah masuk menembus jendela kamar Stella. Ntah sejak kapan, tapi jendela kamarnya telah terbuka, dan angin dari luar menerbangkan korden di kamar Stella. Stella menyipitkan matanya, menajamkan pandangannya ke jam yang terpampang di dinding kamarnya.
“Udah jam segini, tapi kenapa masih dingin yah.” Keluhnya mengibaskan selimut yang menutupi tubuhnya. Sedikit mencuci muka di kamar mandi, dan menggosok gigi, lalu Stella keluar kamar, dia merasa ada yang tak beres di kamarnya.



“Baru bangun Stell ?” Sambut Mama, terdengar ketika Stella selesai menuruni anak tangga.
“Iya Mah.” Suaranya masih serak khas orang-orang di pagi hari. Dia menghampiri Mamanya yang tengah bersantai di depan TV ruang keluarga.
“Nggak kuliah ?” Mama yang tengah sibuk dengan televisinya seperti mewawancari anak sulungnya yang masih memunculkan diri di rumah di pagi yang sudah siang ini.
“Kuliah siang Ma.” Jawab Stella singkat. Diam-diam memikirkan kejadian semalam, kecelakaan itu dan yang terpenting kelainan yang ada pada Sonia. ‘Kira-kira Mama tau kalo Sonia bisa liat masa depan nggak ya?’ Stella sibuk dengan pikirannya, ‘Tanya sama Mamah nggak ya ?’ Batinnya memandang Mamanya yang tengah sibuk mengganti-ganti chanel Tvnya.
“Oh ya Sonia mana Mah ?” Stella akhirnya buka mulut, dan mencoba memulai perbincangan yang hendak ia sampaikan.
“Ya sekolah Stell, kamu itu sama adik sendiri ko nggak inget.” Mama menengok ke arah jam yang di pasang di atas TV. Stella hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’ mendengar jawaban Mamanya.
“Mmmm, Mah..”
“Oh ya Stell, Mama beberapa hari ini mau keluar kota sama Papa. Mungkin lebih dari seminggu, kamu nggak papa, Mama tinggal sendiri sama Sonia ?” Mama memotong Kalimat Stella yang ingin mengadu.
“Oh, yaaa yaudah.” Kata Stella menggantung.
“Yaudah, kamu hati-hati yah. Jagain adik kamu.” Pesan Mama ringan, Stella yang tak fokus hanya mengiyakan kalimat Mamanya.
“Jangan iya-iya doang. Kamu itu kalo dititipin Sonia, malah dijailin, nanti mamah tinggal beberapa hari kalian malah berantem.” Lanjut Mamanya.
“Iya Mahh.” Stella memberikan senyum andalannya untuk meyakinkan mamanya.
“Yaudah, kamu sana mandi. Anak gadis jam segini ko belum mandi.” Sindir Mama.
“Yaudah, aku mandi dulu ya ma.” Stella beranjak dari duduknya,mulutnya jadi seperti terbungkam. Padahal dia sedang merasa ‘takut’, tapi malah untuk beberapa hari dia akan ditinggal sendiri bersama adiknya.


                Stella yang awalnya tak terlalu memikirkan benar perempuan itu kini menjadi terbayang-bayang wajahnya, scene kecelakan berulang-ulang kali berputar di otaknya. Rasa takutnya timbul setelah mengalami mimpi semalam. ‘Dia bener, kalo aja gue nanggepin omongan Sonia, mungkin semuanya nggak akan terlambat, mobil itu tak akan mengalami kecelakaan, dan perempuan itu tak perlu mati.’ Penyesalan itu menggandrungi hati Stella. ‘Kenapa gue jadi takut gini sih. Mana Mama sama Papa mau ke keluar kota lagi.’ Stella masih saja gelisah dengan ilusi yang dia buat sendiri.
“Stell, Stella hey.!” Seseorang menepuk bahu Stella, stella yang merasakan tepukan di bahunya, berusaha keluar dari lorong waktu dan kembali ke ruangan yang sedang dia tempati.
“Ehh, Veranda.” Stella menyebut si empunya tangan yang kini berada di bahu kanan Stella.
“Loe kenapa ? dari tadi gue perhatiin nglamun mulu.” Orang yang tadi di panggil Veranda menatap lembut Stella.
“Nggak ko...” Jawab Stella semangat “Nggak ada apa-apa.” Volume suara mengecil di akhir kalimat melihat sosok yang ada di sudut ruangan itu. Stella menajamkan penglihatannya, sekali mengedipkan matanya, memastikan benar sosok yang dia lihat adalah benar manusia.
“Hey Stell, ngliat apa ??” Lagi Veranda menyadarkan Stella dari kegiatan yang menurut Veranda konyol. Stella yang tersadar menatap Veranda sekilas lalu kembali ke sudut ruangan tadi.
“Ahh, emm..” Stella mengalihkan pandangan ke Veranda dan kemudian kembali ke sudut tadi “Lha ko nggak ada.” Gumamnya.
“Apa Stell ?” Ucapan Stella yang terlalu lirih tak jelas didengar oleh Veranda.
“Emm, Nggak ko. Hehe.” Stella meringis, rasa takutnya semakin menjadi. ‘Masa iya, gue di terror sama perempuan itu.’ Batin Stella.
“Aneh banget sih loe hari ini.” Veranda menelisik mata Stella yang nampak tidak tenang, bergerak kesana kemari.
“Masa ? Loe kali yang aneh, ngeliatin guenya gitu amat.” Sanggah Stella diiringi senyumnya, Veranda menggembungkan pipinya, menghelakan nafas atas sikap sahabatnya yang masih tak mau jujur padanya.
“Udah yukk ah, ini dosen nggak masuk ya ?” Stella mengajak Veranda keluar kelas, dia baru menyadari di ruangannya hanya ada Veranda dan dirinya.
“Loe pikir ? Kuliahnya udah selesai kali mbak.!” Veranda berucap dengan nada kesalnya, keanehan Stella menurut Veranda ternyata hari ini belum juga berakhir.
“Oh, Haha.” Stella tertawa renyah membuat kedua alis mata Veranda bertemu dan saling berkait. Keduanya pun keluar kelas dan menyusuri koridor-koridor kampus untuk keluar dari bangunan besar ini.
“Eh Stell, loe bawa mobil ?” Stella tak menjawab hanya menatap Veranda meminta ia kembali berucap.
“Temenin gue cari novel yaaa ?” Wajah Veranda sengaja ia manis-maniskan untuk menarik perhatian Stella, sedang yang ia ajak bicara hanya menatap heran dirinya bibir tipisnya seakan tengah menahan tawa yang sebentar lagi akan ia ledakkan.
“Ko ngeliatinnya gitu stell ?” Veranda merubah ekspresinya.
“Haha, aneh tau nggak.!” Singkat Stella diiringi tawa sinisnya kemudian mendahului berjalan.
“Jadi mau nemenin nggak ?” Kejar Veranda yang sempat terdiam mendengar respon Stella. “Yaudahlah ayoo, tapi gue nggak bawa mobil.” Nada cuek Stella ini sudah sangat biasa Veranda dengar, tapi dia tau benar itu hanya sebuah tone bicara sahabatnya yang tak sama dengan hatinya.
“Ya naek mobil gue.” Kata Veranda yang telah menyamakan tempo jalan Stella. “Tapi jemput adek gue dulu ya ?” Lanjut Veranda, seketika Stella menghentikan langkahnya.
“Sama Shania ??” Stella memandang malas Veranda yang berhenti lebih jauh darinya, yang dipandang menggangguk mengiyakan.
“Males ah.” Kata Stella tak sungguh-sungguh.
“Ko gitu ?”
“Itu anak nggak bisa diem banget. Mana kalo sama dia, gue di troll mulu.” Stella tahu benar seperti apa adik sahabatnya itu, bukan sekali dua kali mereka jalan bersama, tapi lebih dari kata ‘sering’, bukan sekedar mengenal, tapi sudah seperti teman bahkan adik sendiri.
“Hahah, loe ada-ada aja, Stell. Kasian dia, nggak ada yang jemput, ntar gue plester deh tuh mulut biar mau diem.” Veranda malah menanggapi cemoohan Stella yang tak sungguh-sungguh itu.
***


“Lha ko sama orang ini sih Kak ?” ucap gadis yang masuk begitu saja di seat belakang mobil Veranda.
“Iya, tadi kakak minta temenin dia dek.” Jawab Veranda lembut pada adiknya.
“Bikin berat mobil aja Kak, bawa-bawa dia.” Shania meluncurkan aksinya, Stella  yang sedari tadi diam terpancing juga.
“Tuh kan Ve, baru aja beberapa detik ketemu udah ngebully gue. Turun ajalah gue.” Ancam Stella berlaga melepas seatbeltnya.
“Eh iya-iya, bercanda keles. Ah sensi amat.” Shania mencegah Stella dari belakang.
“Kamu itu dek, udah jangan bully Stella terus.” Veranda menasehati adik satu-satunya. “Tuh dengerin.” Stella menjulurkan lidahnya, seperti berkata’Gue menang kan?’
“ Tadi kakak yang minta tolong dia.” Lanjut Veranda.
“Iya Kak, bercanda kali.” Shania menghempaskan tubuhnya ke sandaran mobil. Veranda mulai menginjak gas, dan mobil mulai melaju.
“Emang mau kemana sih ?” Tanya Shania di tengah acaranya memainkan handphonenya.
“Mau cari novel.” Singkat Veranda.
“Oh, terus kenapa nggak ngajak Sonia ci ?” Shania sudah begitu akrab dengan Stella, begitu pun adiknya. Panggilan ‘ci’ pun ia dapat dari Sonia.
“Ngajak satu anak kecil aja gue pusing, mau ngajak satu anak kecil lagi.” Jawab Stella, Shania berfikir sejenak mencerna maksud orang yang ia ajak bicara.
“Lho, kampret. Berarti gue anak kecil dong.” Shania tak terima, Stella yang berada di depan diam-diam tersenyum puas, berhasil ngetroll adik sahabatnya.
“Badan gue aja lebih tinggi dari loe kali ci, siapa ya yang anak kecil ?” Shania tak mau mengalah begitu saja dengan orang yang seharusnya dia anggap Kakak itu. Dan obrolan mereka berlanjut dan terus berlanjut sampai akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
                Veranda dan Stella telah berjalan lebih dulu, seraya mengobrolkan sesuatu yang sepertinya begitu menarik, hingga tanpa sadar, mereka hanya jalan berdua.
“....Itu lho, apa sih namanya gue lupa. Dek yang waktu itu kita bicarain di teras itu a........Lho Shan.” Veranda celingukan mencari adiknya.
“Shania mana Ve ?” Stella ikut celingukan mencari Shania.



“Kalo gini mah, mending tadi gue pulang naek taksi.” Gerutu Shania sesaat setelah memasukkan ice cream ke dalam mulutnya.
“Mentang-mentang gue anak kecil, maen tinggal-tinggal aja.” Lanjutnya kemudian menyendokkan ice cream lagi ke dalam mulutnya dengan kasar, dia tengah berjalan sendiri di tengah mall sebesar ini dengan seragam SMA yang masih melekat di tubuhnya.
“Nggak tau cape gitu, gue abis sekolah diajak jalan, malah di tinggalin. Isshh, Kak Ve mah.!” Shania masih saja menggerutu di tengah mall, tanpa memperdulikan orang-orang di sekelilingnya yang memperhatikannya. Dia sengaja tak menghubungi atau mencari Kakaknya, menurutnya percuma, lebih baik ia menunggu kakaknya menyadari keberadaannya.
Dia masih terus berjalan mengelilingi mall, hingga handphone di sakunya bergetar. Tulisan ‘Kak Ve’ terpampang di layar handphonenya.
“Oh, udah sadar ? adiknya yang segede ini ketinggalan ?” Sindir Shania begitu mengangkat panggilan dari kakaknya.
“Eh, maaf-maaf dek. Lagian kamu itu ketinggalan bukannya manggil-manggil atau apa, malah diem aja.” Suara Veranda terdengar khawatir dari seberang.
“Terus aja salahin Shania.” Ambek Shania yang menghentikan langkahnya.
“Iya maaf. Sekarang kamu dimana ?” kali ini suaranya seperti menahan tawa.
“Tau ah.! Shania mau pulang.”
“Lho, kakak belum nemu novel yang kakak cari.”
“Yaudah Shania bisa pulang sendiri ko.!”
“Iya-iya, sekarang kamu dimana biar......”
“Ve, itu Shanianya.” Suara Stella terdengar di handphone Shania, membuat Shania celingukan mengira dia sudah dekat dengan kakaknya.
“Ah, kakak liat kamu. Udah kamu diem aja di situ.” Veranda kemudian menutup telefonnya. Shania menyimpan kembali Handphonennya ke dalam saku dan menyendokkan lagi ice cream ke dalam mulutnya.

“Shan....”
“Nggak usah banyak omong. Shania mau pulang.” Tegasnya mendahului 2 orang yang tengah menahan tawanya.
“Lho dek, kakak belum nemuin novel yang kakak cari.” Veranda berhasil megunci tangan Shania dalam genggamannya.
“Yaudah, kalo mau mentingin novel mah. Shania bisa pulang sendiri.” Kata Shania melepaskan tangannya, wajah dewasanya hilang begitu saja kalau sudah memanyunkan bibirnya, menandakan sifat ambekannya.
“Iya, iya kita pulang.!” Veranda tegas, setengah kesal.
***

“Ve, gue bilang juga apa, ribet kan kalo kita bawa anak kecil.” Stella membuka perbincangan dalam mobil. Yang disindir hanya menatap keluar jendela, masih memanyunkan bibirnya.
“Kalo gini, sayang waktu gue, mending tadi gue pulang terus tidur.” Stella masih saja dalam gerutuannya, berharap Shania menimpalinya.
“Ya elah Stell, nggak ikhlas amat nemenin gue nya.” Veranda masih dalam posisinya memegang kendali mobil.
“Lagian loe pake ninggalin tuh anak kecil satu sih Ve, jadi ngambek kan dia.” Stella masih memancing Shania agar bersuara. Bermaksud menghilangkan rasa betenya.
“Gue rasa orang yang diajak ke mall terus tiba-tiba ditinggal ya pasti marah ya. Bukan Cuma ANAK KECIL kaya gue aja, ORANG GEDE.!” Shania akhirnya mengudara dengan menekankan kata ‘anak kecil’ dan ‘orang gede’, amarahnya yang sedari tadi ia pendam terusik juga oleh kata-kata Stella.
“Haha, ya paling nggak sih, mereka nggak manyun-manyun kaya loe gitu Shan. Jelek banget. Haha..” Tawa Stella meledak begitu saja, sedang Veranda hanya senyum-senyum melihat kedua orang terdekatnya sedang berkicau.
“Bodo amat.” Lirih Shania nyaris tak didengar oleh Stella dan Veranda. Hatinya masih penuh gemuruh kekesalan anak seumurannya, walau mulutnya sebenarnya masih saja ingin meinmpali kata-kata Stella.
“Haha, Yes gue menang.! Akhirnya, ini anak bisa juga gue buat diem. Haha.” Sekilas Shania melirik Stella dengan tatapan dingin malas, ntah apa, tapi dia jelas tak trima dengan kekalahannya begitu saja.
“Haha, udahlah Stell. Ini anak ntar ngambeknya ke gue, gue yang repot.” Kata Veranda membela adiknya.
“Haha, anak kaya gini mah buang aja udah.! Haha.”
“Jangan dong, gitu-gitu kan tetep adek gue yang paling unyu. Ya nggak dek ?? ” Veranda melirik ke arah Shania yang masih bungkam dengan tatapannya ia buang ke jendela.
“Veranda awas.!” Teriak Stella, seketika Veranda menginjak rem, Shania yang awalnya acuh jadi penasaran. Tubuh mereka tergoncang berkat rem dadakan yang Veranda buat.
“Kenapa Stell ?” Veranda tak mengerti apa yang baru saja membuat dirinya menginjak rem. Stella melepas seatbelt dengan paniknya, Shania antusias untuk melihat apa yang terjadi.
“Kayanya kita nabrak orang deh.” Kata Stella membuka pintu mobil Veranda kemudian keluar dari mobil. Shania mengikuti Stella lebih cepat dari Veranda.
“Mana Stell ?” Veranda sibuk mencari korban yang menurut Stella baru saja mereka tabrak.
“Tadi gue liat ko ada orang nyebrang terus ketabrak mobil kita.” Kata Stella masih memutar-mutarkan matanya, melihat sekeliling untuk mencari korban.
“Bercandanya nggak lucu banget, bikin orang jantungan, tau nggak.!” Gerutu Shania yang menyandarkan tubuhnya di pintu mobil yang baru saja dia pakai untuk keluar.
“Gue serius Shan, tadi tuh ada cewe rambutnya panjang, dia nyebrang tapi dia nggak nengok kanan kiri. Dan gue rasa emang kita nabrak dia.” Stella menjelaskan dengan tegasnya, “Tapi setelah di liat ko nggak ada ya.” Nada bicara Stella menjadi rendah.
“Makanya kalo halusinasi itu jangan aneh-aneh deh. Udahlah Kak, ayo pulang.” Shania berbicara pada Kakaknya dengan berbatas jarak mobil.
“Tapi tadi tuh gue......” Stella sengaja menggantung kalimatnya, dia sendiri tidak terlalu yakin.
“Yaudah lah Stell, ayo pulang lah.” Stella mengikuti perintah Veranda dengan kembali masuk ke mobilnya. Masih dengan bayangannya, tatapannya kosong menatap jendela. ‘Masa iya gue salah liat, tadi gue beneran liat cewe nyebrang ko.’ Batin Stella memainkan bola matanya. ‘Tapi kenapa nggak ada, masa iya langsung ilang gitu aja, aneh banget.’ ‘Tapi cewe itu mirip.......’ Ekspresi Stella berubah drastis, dari wajah herannya kini menjadi terkejut, takut, shock.
“Kenapa Stell ?” Veranda menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.
“Hahh, emm. Nggak ko nggak papa.” Sejurus Stella melempar senyum ‘baik-baik saja’nya di tengah gemuruh hatinya.


Sonia tengah melamun di balkon kamarnya, memandang kosong pemandangan malam dari tempatnya berdiri saat ini. Diam-diam dia memikirkan kejadian kemarin malam. ‘Apa perempuan itu udah tenang di alamnya ?’ Batinnya. ‘Seandainya waktu itu aku lebih cepet nangkep maksud dari aura hitam itu, pasti perempuan itu masih ada sama pacarnya.’
“Mahh.” Teriakan itu didengar Sonia, tapi sama sekali tak mengusik lamunannya. ‘Apa ini salah aku ? tapi kan kata ci stella ini takdir.’

“Maaah, Paaaah.” Stella masih berseru mencari orang tuanya, celingukan dari tempatnya berdiri.
“Mamah sama Papah pergi.” Sonia muncul dari ruang atas, menengok ke bawah, tepat di tempat Stella berdiri.
“Lho, gue kira mereka bakal berangkat besok.” Sambil setengah berteriak menimpali kalimat Sonia, dia menuangkan air ke dalam gelas kemudian mengambil tempat di salah satu kursi meja makan.
“Bukannya Mamah udah bilang sama cici.” Sonia menuruni anak tangga rumahnya, dia sadar dari bayangan-bayangannya setelah mendengar teriakan dari kakaknya yang menurutnya seperti merusak gendang telinganya
“Iya sih. Tapi gue kira nggak secepat ini.” Stella kembali menenggak air dalam gelasnya. “Emang mereka berangkat jam berapa ?” Volume suaranya, ia kecilkan karena orang yang ia ajak bicara telah duduk di seberang mejanya.
“Tadi sore. Ci stella abis kemana aja, baru pulang jam segini.?” Ntah benar atau tidak tapi memang Sonia lebih perhatian di banding Stella.
“Tadi abis jalan sama Veranda sama Shania. Jadi dari tadi loe sendirian ?” Stella menjawab untuk kemudian balik bertanya pada adiknya yang memasang ekspresi antara kesal, malas, takut, lemas, dan ekspresi aneh yang di wajahnya saat ini.
“Iya.” Jawab Sonia singkat, memainkan tangannya di meja makan. Stella mengangguk-angguk pertanda paham. Beberapa saat hening hingga Stella menyadari ekspresi tak wajar dari adiknya.
“Loe kenapa Son ?” Stella memerhatikan wajah adiknya hingga ia memiringkan wajahnya untuk bisa menatap wajah Sonia yang ia tundukkan.
“Gak papa.” Singkat Sonia.
“Sakit ??” Kini Stella meraih tangan Sonia yang sedari tadi ia masih mainkan di meja.
“Nggak papa ko ci, Cuma perasaan aku nggak enak aja, nggak tau kenapa ?” Sonia menatap lemah ke arah Kakaknya. Perasaan campur aduknya masih ia bawa sampai saat ini.
“Nggak enak gimana sih ? Kalo sakit bilang aja, ntar gue anter ke dokter.” Kata Stella terdengar khawatir.
“Nggak enak aja, aku kepikiran kecelakaan kemarin.” Stella meneguk ludahnya, melepas genggamannya dari tangan Sonia dan membuang pandang.
“Aku takut aja ci, kalo ternyata dia....”
“Son...” Belum sempat Stella memotong ucapan adiknya, Sonia terlebih dahulu memotong kalimat kakaknya.
“Perasaan aku bilang kalo dia masih ada di sekeliling kita ci.” Stella merasakan hawa dingin menyelimutinya, tiada angin tapi seperti ada yang bertiup menjalar ke tengkuk Stella, hingga ia merasa harus menyentuhnya memastikan tak ada apa-apa.
“Son, nggak usah bikin gue parno ah.” Stella membenarkan posisi duduknya, melihat ke sekitar ruangan.
“Ci, aku serius.” Sonia memasang wajah seriusnya, menatap Stella yang sudah penuh dengan kabut ketakutannya. Otak Stella seperti di ditarik ke tragedi semalam, kemudian mimpi itu, dilanjut dengan kejadian di kelas, dan terakhir ketika dia merasa seperti menabrak seseorang.
“Oke, mungkin itu karena loe aja yang terlalu mikirin kejadian yang loe pikir itu salah loe kali Son.” Stella berusaha tenang di hadapan adiknya, menutupi resahnya yang telah mengalami hal aneh hari ini.
“Tapi ci....”
“Udah mending loe, masuk kamar, belajar kek, atau tidur aja mending.” Perintah Stella berjalan ke arah Sonia duduk.
“Iya kali yah, aku yang terlalu mikirin.” Lirih Sonia.
“Yaudah yukk ah.” Stella membimbing Sonia berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


                Sonia telah berada di dalam kamar, diam di atas ranjangnya, dengan posisi masih sama sejak Stella mengantarkannya sampai ranjang dan berkata ‘semuanya akan baik-baik saja, jangan takut.’ Duduk di atas ranjang dengan selimut menutupi kaki hingga pinggangnya. Dia masih mencoba meyakinkan diri sesuai dengan apa yang dikatakan kakaknya, melepas kabut mistis yang menggandrungi tubuhnya, tapi hatinya terlalu sesak akan rasa takut, otaknya seperti tak bisa berjalan dari kejadian semalam.
Kesunyian malam ini senyap seperti otak Sonia yang tak lagi dapat mencerna kalimat yang tadi sempat Stella berikan, nafas Sonia yang tak beraturan terdengar jelas hembusannya, hingga benar atau tidak suara deru nafasnya diiringi dengan isakan tangis seseorang yang seperti seorang perempuan, Sonia sempat menghentikan nafasnya, memastikan dia mendengar isakan, bukan hanya halusinasi yang selalu Stella katakan.



“Hah, apa iya Sonia bener-bener bisa ngeliat mereka” Kata Stella di tengah kegiatannya mengeringkan rambut.
“Pake ngerasa dia masih ada di sekeliling kita segala.” Lanjutnya berusaha menguasai rasa takutnya.
“Eh, seharusnya dia kan bisa ngeliat, kenapa Cuma bisa ngerasain aja.?” Stella menghentikan kegiatannya sebentar, kemudian melanjutkan lagi “Itu berarti Cuma perasaan Sonia aja.” Tutupnya.



                Hari berlalu begitu saja sejak kejadian itu, Stella sudah mulai bisa mengatasi rasa takutnya, dia mulai lupa dengan apa yang Sonia sering keluhkan padanya, sedangkan Sonia sendiri masih saja digandrungi rasa takut, perasaan bersalah pada sosok yang sama sekali tak ia apa-apakan. Semalam Sonia meminta untuk tidur dikamar Stella, perasaan cemasnya semakin menjadi semenjak dia melihat sosok hitam melintas di jendela kamarnya, namun ketika Sonia mencoba menengoknya tak ada sama sekali orang di luar. Atau ketika ia hendak mengambil minum di dapur pada malam hari, dia mendengar rintihan orang menangis, atau bayangan yang melintas dari kejauhan.


“Sonia apa kabar Stell.”Veranda membuka pembicaraan ketika mereka berada di kantin, menunggu jam kuliah selanjutnya.
“Baik, tumben nanyain Sonia.?” Stella yang sibuk dengan Handphonenya menghentikan kegiatannya.
“Nggak, kayanya udah lama gue nggak ketemu.” Jawab Veranda, pesanan mereka datang. Veranda menerima pesanan mereka. “Makasih mbak.” Veranda menyempatkan melempar senyum kepada orang yang mengantarkan pesanannya.
“Udah sekitar satu minggu ya ?” Lanjut Veranda membesar-besarkan.
“Veee, baru seminggu keles.” Stella mengambil jatah minumannya.
“Kangen gitu, sama adek kedua gue. Haha.” Veranda tertawa renyah untuk kemudian memainkan sedotan di bibirnya.
“Yaelah, loe mau adik kaya dia ? ambil ajaa.” Timpal Stella mengikuti tawa renyah Veranda. Hening sesaat mereka saling bertatapan.
“Mau tukeran ??” Veranda meneguk minumannya telebih dahulu.
“Hah ? Shania jadi adek gue ?? nggak.!” Stella begitu tak terima dengan pernyataan sekaligus pertanyaan Veranda.
“Haha, loe mah. Adek gue tuh.” Veranda menutup. Stella memainkan sedotannya, kemudian meminum-minumannya dengan tatapan kosong.
“Stell ?” Veranda bersuara setelah beberapa saat mereka terdiam.
“Heeeeyyy..” Veranda mengacak rambut Stella, karena ia tak kunjung mendapat respon, kepala Stella masih dalam jangkauan tangan Veranda yang duduk berhadapan namun berbatas meja kantin.
“Aaahhh, Verandaaa....” Jurus manja Stella meluncur begitu saja, hal yang paling tidak ia sukai, ketika rambut rapinya di berantakkan oleh siapa saja, sahabatnya sekalipun.
“Hahah, lagian loe gue panggil nggak nyaut.” Usaha Veranda memang tidak salah, dia berhasil membangunkan Stella dari ilusinya, Stella hanya memanyunkan bibirnya, seraya merapikan rambutnya. Veranda masih terkikik melihat tingkah sahabatnya hingga beberapa saat.
“Ada apa ? Kayanya mikirnya serius banget.” Kata Veranda meghentikan tawanya dan memasang tampang serius.
“Sonia....” Ucap Stella ragu, Veranda tak lantas menimpali, hanya menatap Stella, menunggu kalimat selanjutnya yang akan Stella luncurkan.
“Belakangan dia aneh banget.”
“Aneh ??” Veranda belum mengerti maksud Stella.
“Ya aneh aja gitu, dikit-dikit ngerasa takut, kalo nggak ngelamun sendiri, ngeluh dia takut lah, ini lah itu lah. Aneh tau nggak.” Stella menjelaskan, Veranda mencerna maksud Stella dia sedikit memasukkan air kedalam kerongkongannya, memberi pelumas untuknya berbicara.
“Bokap nyokap loe ngerasa gitu juga nggak ?” Veranda meletakkan kedua tangannya di meja kantin.
“Mereka lagi di luar kota.” Stella menyamakan posisinya dengan Veranda. “3 hari yang lalu nyokap bilang mau keluar kota, sekitar seminggu, mungkin lebih.” Stella berkeluh pada sahabatnya.
“Emang dia nggak bilang takutnya kenapa gitu ?”
“Ya ngomong, tapi alesannya itu nggak logis banget. Kuping gue nyampe panas dengerinnya.” Kata Stella malas.
“Mungkin dia Cuma minta perhatian loe aja kali stell.” Stella diam sebentar, mencoba mencerna kalimat Veranda dan mengaplikasikan ke kejadian beberapa hari lalu.
“Lagian loe itu cuek banget sih sama adek sendiri.” Stella yang semula menatap kosong Veranda jadi mengembalikan tatapannya, mempertemukan kedua alis matanya.
“Yaa, gue tau sebenernya loe itu perhatian, tapi menurut gue, loe itu terlalu gengsi buat ngungkapin perhatian loe.” Veranda mengemukakan apa yang ada di otaknya. Stella menyimak kalimat Veranda baik-baik.
“Gue sih bukan sok tau, tapi itu keliatan ko dari sikap dan gesture tubuh loe. Meski nada bicara loe cuek. Tapi keliatan ko loe perhatian.” Stella benar-benar mencerna kalimat Veranda, ‘tapi ini bukan jalan keluar Ve, masalahnya bukan Cuma perhatian gue ke Sonia.’ Batin Stella.
“Ya ntah apa alesan Sonia ngelakuin semua itu yang bikin loe bete, apa salahnya kalo loe coba dengerin dia, coba dengerin keluhnya, sama siapa lagi dia ngeluh kalo nggak sama loe, sama kakaknya Stell.”



“Sonia.” Seru seorang gadis dari dalam taksi. Sonia yang sedang duduk di halte dengan lamunannya berusaha kembali ke alam nyata, kemudian menajamkan penglihatan ke penumpang taksi yang meneriaki namanya.
“Shania...” Sonia menyebutkan si empunya suara.
“Pulang bareng yuu.” Kata Shania melongokan kepalanya di jendela.
“Gue masih mau di sini.” Jawab Sonia agak berteriak agar suaranya sampai ke telinga Shania, tanpa harus terbawa oleh kendaraan yang lalu lalang.
“Ngapain ?” Shania melempar kembali pertanyaannya. Namun tanpa balasan dari Sonia. Sedetik kemudian Shania nampak sibuk dengan tasnya, hingga ankhirnya jendela taksi itu tertutup.Sonia kembali ke lamunannya. Sekilas dia melihat taksi yang ditumpangi Shania menjauh.
“Heh, ngapain sih loe disini.” Gadis yang memiliki tinggi badan jauh di atas Sonia kini tengah berdiri di hadapan Sonia yang tertunduk. Seragam SMA yang ia kenakan, membuat Sonia sudah dapat mengetahui siapa yang didepannya.
“Nha loe? ngapain turun dari taksi ? Bukannya loe mau pulang ?” Sonia menggeser duduknya, mempersilahkan Shania duduk di sebelahnya.
“Mau nemenin loe aja, kaya orang ilang loe duduk disini sendirian, mana gue ajak pulang nggak mau.” Shania mengambil tempat yang telah Sonia berikan.
“Oh.” Sonia membulatkan mulutnya, halte tempat mereka duduk saat ini letaknya tak begitu jauh dari sekolah Sonia, biasanya Sonia menunggu Mamahnya menjemputnya di tempat ini.
“Loe nungguin Nyokap loe ?” Kata Shania mencairkan suasana.
“Nggak. Nyokap lagi keluar kota.”
“Ci Stella ?” Sonia menatap Shania sebentar kemudian membuang kembali pandangnya ke jalanan.
“Orang itu mana mau jemput gue.” Sonia berkeluh pada Shania.
“Beda ya sama Kak Ve, dia mah selalu mau jemput gue, asal dia nggak sibuk.” Shania bercerita. “Tapi suka nyebelin juga sih.”
“Kadang jemput gue, tapi ntar gue diajak jalan. Iya sih kadang ditraktir makan, tapi kalo udah ada di toko buku, ya ampuuuunn lammmaaaa banget.” Shania masih melanjutkan ceritanya, Sonia tak lagi dapat mendengar ucapan Shania, dia menatap tajam ke jalanan, tajam.! Hingga alis matanya bertemu dan menyatu, kepalanya seperti mengikuti arah jalanan.
“Tapi gitu-gitu juga tetep Kakak gue, nggak kaya ci stella. Eh tapi ci Stella perhatian ko, buk...”
“Astaga.!” Sonia membekap mulutnya, menatap ke arah belakang Shania.
“Kenapa Son ?” Shania mengikuti arah pandangan Sonia.
“Itu..itu ada mobil kecelakaan Shan.” Sonia menunjuk ke arah pandangannya. Shania berkali mengedipkan matanya, menajamkan penglihatannya ke arah yang di tunjukan Sonia, dia beralih menatap Sonia yang telah berdiri, kemudian kembali ke arah tadi.
“Nggak ada apa-apa kali Son.?” Shania mengikuti Sonia berdiri,  menatap heran pada Sonia yang masih mematung di tempatnya.
“Son ? are you okay ?” Shania menyentuh dahi Sonia, memastikan Sonia dalam keadaan sehat, sedang yang disentuh dahinya masih diam.
“Son.!” Tepukan keras itu berhasil menarik paksa Sonia dari alam yang ntah alam apa itu.
“Loe kenapa sih ?” Shania kesal tapi khawatir menatap Sonia. Sonia menatap Shania sebentar kemudian mengalihkan pandangan ke arah tadi, nihil.! Suasana tampak lengang, tak seperti apa yang baru saja ia lihat.
“Soniaa..!!!” Shania berteriak tepat di hadapan Sonia.

***

“Apa iya, Sonia Cuma narik perhatian gue aja yaa.” Stella memikirkan kata-kata Veranda yang diam diam tersangkut di salah satu ruang di benaknya.
“Iya sih gue kurang perhatian ke Sonia, tapi masa Sonia gitu.” Dia tengah berada di ruang keluarganya, baru beberapa menit sampai di rumahnya dan langsung melempar tubuhnya di sofa ruang keluarga.
“Terus, gue harus perhatian gitu sama Sonia.? Gimana caranya ?” Stella terdiam sesaat. Pintu rumah terbuka, terdengar langkah kaki yang telah Stella hafal betul nadanya.
“Baru pulang Son ? gue kira loe di kamar dari tadi.” Ucap Stella ketika Sonia hendak menaiki anak tangga.
“Iya.” Singkat Sonia datar, cenderung lemah sambil berjalan hendak menaiki anak tangga.
“Habis darimana ?” Stella meluncurkan kalimatnya begitu saja, tanpa rekayasa.
“Nggak darimana-mana. Tadi ketemu Shania, terus ngobrol-ngobrol di halte, udah gitu aja.” Jawab Sonia menyandarkan tubuhya di pembatas tangga.
“Oh, yaudah sana mandi, udah sore.” Perintah Stella, Sonia mengangkat kedua bahunya.
“Itu orang lagi kenapa.” Gumam Sonia lirih, tapi tertangkap telinga Stella walau tak jelas.
“Kenapa Son ?”
“Nggak, ini mau mandi.” Kata Sonia lalu berlari menaiki anak tangga.

***


‘Salah satu dari kalian akan ada yang akan bisa melihat masa depan, bahkan mungkin kalian berdua akan menerimanya.’
‘Itu keturunan dari kakek buyutmu.’
‘Bukan Cuma bisa melihat masa depan, tapi sesuatu yang tak kasat mata pun bisa dilihat orang kalian.’

“Ci..ci Stellaaa..”
‘Kamu atau adik kamu yang akan mengalaminya, tak perlu takut, itu bukan kelainan, itu sebuah kelebihan yang kakek kamu wariskan.’
“Ciiiii..”
‘Jaga diri kamu, dan adik kamu,’
“Ci stella banguuunnn.” Sonia menggoyang tubuh Kakaknya, Stella merasakan pergerakan di tubuhnya mulai membuka matanya.
“Ci. Jangan tidur disini.” Stella telah membuka mata sepenuhnya, dia sipitkan kembali matanya, mengadaptasi matanya untuk menerima visualisasi di alam nyatanya.
“Akhirnya berhasil juga bangunin kebo.” Sonia bernafas lega, kemudian duduk di kursi lain pasangan kursi yang sedang Stella pakai untuk merebahkan diri, yang niat awalnya hanya untuk mengistirahatkan tubuhnya, namun terlalu lelah sepertinya, hingga ia terlelap di sofa..
“Hmhhh. Sekarang jam berapa Son ?” Stella membangkitkan tubuhnya, bersandar di sandaran sofa.
“Jam 7 malem.” Jawab Sonia seraya menyalakan Televisi, kemudian mengganti-ganti chanelnya.
“Mimpi tadi...” Stella melamun berusaha mengingat mimpinya.
“Ci, aku mau cerita...” Sonia berhenti mengganti chanel TV. Stella masih dalam lamunannya ‘Maksudnya apa ?’
“Ci Stella.! Denger nggak sih ?” Sonia berpindah ke sofa yang di duduki Stella, duduk menghadap kakaknya, menaikan kedua kakinya dan menyilangkannya.
“Hah ? kenapa ?” Stella baru sadar dari lamunannya.
“Aku mau cerita.” Nada Sonia memanja, mendekatkan lagi duduknya ke tubuh Stella.
“Cerita apa ? Kenapa ?” Stella menyamankan posisi duduknya, menghadap ke Sonia.
“Aku tadi liat kecelakaan di.....”
‘Sebuah kecelakaan maut terjadi sekitar satu jam lalu................’ Suara dari televisi menyedot perhatian Sonia dan Stella hingga Sonia menghentikan ceritanya.
“I...itukan...”
“Kenapa Son ?” Stella merasakan ekspresi tak wajar dari Sonia.
“Itu yang mau aku ceritain ke ci Stella, tapi aku liat itu tadi siang, waktu aku ketemu Shania di halte deket Sekolah.” Sonia menjelaskan tapi tak jelas di cerna Stella.
“Maksudnya gimana sih Son ?” Stella meminta Sonia kembali menjelaskan.
“Jadi tadi siang aku ketemu Shania di halte deket sekolah aku, terus aku liat kecelakaan itu, mobilnya juga mobil itu, plat nomernya sama ci.....”
“Tapi itu baru kejadian sekitar sejam yang lalu Son. Orang loe pulang aja udah dari jam 4  kan ?” Stella masih menguasai berusaha logikanya.
“Iya, tapi aku beneran liat ci, tapi pas aku di tepuk Shania, terus aku liat lagi, kecelakaan itu nggak ada.” Sonia menjelaskan apa yang dia alami, Stella terdiam menatap adiknya, mengingat kembali apa yang dia alami di mimpi itu.
“Son, gue mau mandi. Cerita loe, loe simpen dulu ya ?” Stella bersiap meninggalkan Sonia.
“Ci.....”
“Abis mandi ntar gue balik lagi. Oke ?” Stella agak berteriak karena jaraknya sudah cukup jauh dari tempat Sonia tadi.
***

“Apa maksud semua ini ??” ucap Stella, dia telah selesai mandi, kemudian menatap bayangan dirinya di cermin.  Dia tak habis pikir dengan kejadian beberapa hari ini. Terlebih mimpi tadi.
“Hah, ayo dong Stell.!” Stella geram menatap dirinya sendiri.
“Apa mimpi itu ada hubungannya sama......” ‘tok..tok..tok.’ suara itu nyaring di dengarnya, bersumber dari pintunya yang ia tutup.
“Ya Son bentar.” Teriak Stella, “Tau banget gue udah selesai mandi, dia langsung ke sini.” Lanjutnya dengan tone yang lebih rendah. Kemudian bergerak ke arah pintu. ‘Klek’ Stella telah membuka pintunya.
“Nggak sabar ba........” Ucapan Stella terpotong begitu menyadari tak ada seorang pun di balik pintu.
“Lho, mana Sonianya ?” Herannya. Kemudian dia keluar kamar, menyambangi kamar Sonia yang di sebelahnya, tapi nihil. Sonia tidak ada di kamarnya.
“Kemana Sonia.” Gumamnya menutup pintu kamar Sonia. Dia lalu menuruni anak tangga menuju ruang keluarga.

“Son.” Lirihnya tapi dapat didengar Sonia yang masih di tempat sejak Stella meninggalkannya.
“Udah selesai mandinya ?” Sonia menengok ke arah Stella.
“Loe sejak kapan disini ?” Tanya Stella tak menghiraukan pertanyaan Sonia.
“Lha, dari tadi aku disini.” Sonia mengembalikan posisinya, Stella telah ada di hadapannya.
“Terus tadi yang ngetuk pintu kamar gue siapa ?” Tiba-tiba saja, bulu di sekitar tengkuk Stella seperti terkena angin.
“Setan kali.” Jawab Sonia enteng, fokus pada televisinya.
“Sonia.! Nggak usah nakut-nakutin.” Stella agak membentak, dia berpindah tempat duduk di samping Sonia.
“Ya terus siapa ? lagian dari tadi aku disini juga nggak liat siapa-siapa ko.”
“Ya tapi tadi ada yang ngetuk pintu kamar gue.!” Tegas Stella.
“Oh.” Sonia hanya meng’oh’kan ketakutan Stella.
“Beberapa hari yang lalu aku juga gitu sih, ada yang ngetuk pintu taunya nggak ada orang.” Cerita Sonia, Stella merapatkan duduknya ke Sonia.
“Terus aku juga denger cewe nangis gitu, terus pas aku cek nggak ada.” Sonia kembali menceritakan apa yang telah dialaminya.
“Rumah kita sekarang ada penghuni lainnya gitu Son ?” Stella menyimpulkan, dia memeluk lengan kiri Sonia.
“Ya nggak tau, tapi yang jelas setelah kita terlambat nolongin orang yang mau kecelakaan itu, semua jadi kaya gini.” Sonia bercerita, Stella tak bisa mencerna betul kalimat adiknya, dia terlalu ditutupi kabut ketakutan.
“Loe ngomong apa sih Son.” Stella tak mau percaya begitu saja pada omongan adiknya, dia melepas tangannya dari Sonia.
“Iya tapi gitu kenyataannya ci, aku bukan Cuma dihantuin rasa takut, tapi aku juga dihantuin sama perempuan itu, aku sering ngeliat dia ada di sekitar kita ci. Aku rasa dia dendam sama kita, makanya dia neror kita kaya gini.”
“Sonia cukup.! Hentikan omongan nggak jelas loe itu. Nggak ada yang ngehantuin kita, nggak ada yang balas dendam itu, dan nggak akan ada yang neror kita.!” Stella terlalu kalut dengan rasa takutnya, hingga bentakkan itu melayang begitu saja dari mulutnya, dia bukan tak percaya, tapi dia terlalu takut untuk mempercayai kejadian itu.
“Ci.! Aku serius.! Aku nggak akan ngomong kaya gini kalo aku nggak ngalamin ini....” Sonia meledak, dia terlalu kesal dengan kakaknya yang tak pernah mendengarkan keluhan tentang apa yang dia rasakan belakangan ini. “Kenapa sih ci Stella nggak percaya omongan aku ? Oke aku anak kecil.! Tapi justru omongan anak kecil itu yang memang apa adanya.! Karena anak kecil nggak pernah tau apa itu bohong.!” Tutup Sonia, kemudian dia berlari ke kamarnya dengan diikuti gumpalan air mata yang akhirnya pecah juga.


“Hah.! Kenapa jadi gini sih.!” Stella menyandarkan tubuhnya ke sofa, menutup wajahnya dengan telapak tangannya. “Tuhann apa maksud semua ini.....” Keluh Stella, otaknya bermain pada kejadian-kejadian aneh belakangan yang dia alami.

“Kau harus mati.! Aku yang telah kau dan adikmu buat mati.!! Kau membunuhku.! Kau harus ikut denganku Stella.!”

“Aku takut aja ci, Perasaan aku bilang kalo dia masih ada di sekeliling kita ci.”

“Beberapa hari yang lalu aku juga gitu sih, ada yang ngetuk pintu taunya nggak ada, Terus aku juga denger cewe nangis gitu, terus pas aku cek nggak ada. Tapi yang jelas setelah kita terlambat nolongin orang yang mau kecelakaan itu, semua jadi kaya gini”

“Ci, orang tadi di penuhi aura gelap.! Dan ada sosok hitam dibelakangnya, aku takut kalo dia kenapa-kenapa di jalan.! Kita harus kejar dia.!”

‘Salah satu dari kalian akan ada yang akan bisa melihat masa depan, bahkan mungkin kalian berdua akan menerimanya.’

 “Jadi tadi siang aku ketemu Shania di halte deket sekolah aku, terus aku liat kecelakaan itu, mobilnya juga mobil itu, plat nomernya sama ci.....”
“Tapi itu baru kejadian sekitar sejam yang lalu Son. Orang loe pulang aja udah sekitar 3 jam kan ?”
“Iya, tapi aku beneran liat ci, tapi pas aku di tepuk Shania, terus aku liat lagi, kecelakaan itu nggak ada.”

“Sonia......” Stella menyimpulkan.! Dia mencari handphonenya, kemudian dengan cepat mencari kontak bertuliskan ‘Mamah’ dan segera menekan tombol ‘dial up.’
‘tuutttt....tutttt...’ ‘klek’
“Halo Mah.” Sapa Stella cepat.
“Kenapa Stell ?” Suara mamah  terdengar begitu lembut berbicara dengan putrinya.
“Emm, mah aku mau tanya. Apa Sonia itu punya kelebihan yang di wariskan kakek ?” Ucap Stella begitu cepat, dia ingin cepat mengetahui jawaban dari mamahnya.
“Maksudnya gimana Stell ? Suara kamu nggak jelas.”
“Jadi Kemarin Sonia itu...”
“Halo Stell..”
“Halo Mah, Sonia kemarin.”
“Tuuut tutt tutt.” Sambungan terputus, “Kenapa harus mati sih.!” Kesal Stella, berusaha menghubungi Mamahnya lagi. Tapi bukan mamahnya yang ada disana, operator provider yang menjawabnya.
“Hahhh, kenapa nggak tepat banget sih waktunya.” Stella menyadarkan keras punggungnya ke sandaran sofa ruang keluarga. Tiba-tiba lampu ruangan menjadi redup, kembali terang, mati, terang dan akhirnya benar-benar padam. Gelap.!
“Arrgghtt. Kenapa harus mati lampu.!” Stella berkeluh, ketakutannya semakin menjadi ketika ruangan menjadi gelap.
“Sonia...” Serunya memanggil sosok adiknya berharap dia mau menemaninya.
“Ahh.! Dia kan lagi ngambek sama gue.!” Kesalnya, kemudian bergerak menuju meja di samping Televisi, mencari sebuah lilin dan pemantik api yang bisa ia gunakan untuk penerangan.



“Mati lampu.! ci Stella kan masih dibawah.” Gumam Sonia mengibaskan selimutnya, sedari tadi dia bersembunyi di balik selimut, kebiasaan yang sering ia lakukan ketika kesal dan ngambek.
“Pasti ketakutan kan tuh ci Stella.” Sonia membayangkan Stella yang phobia gelap.
“Kalo ‘dia’ gangguin ci Stella gimana ?” Sempat-sempatnya dia mengkhawatirkan kakaknya yang baru saja membuatnya kesal hingga menangis.
“Bodo ahh, toh ci Stella nggak percaya sama omongan gue.” Sonia kembali menutup tubuhnya dengan Selimutnya.



“Duhh, Son. Udahan kek ngambeknya.” Kata Stella duduk di bawah sofa, tepat di hadapan lilin yang ia letakkan di meja. Dia mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, berharap Sonia turun dari tangga dan menemaninya. Sekilas dia melihat bayangan.
“Son.” Panggilnya, bayangan yang ia kira Sonia berjalan ke arah dapur.
“Son, temenin gue.....” Nada bicara Stella merendah, dia mulai heran memandang bayangan tadi, rambut Sonia tak  sepanjang itu, dan tingginya pun tak setinggi bayangan yang sedang Stella harapkan untuk mendekat padanya. Hawa dingin menyelimuti tubuh Stella, Stella masih memandang bayangan tadi, “Hah. Ke...kee..napa i..iituuu tembus tem..bok.” Stella terbata melihat pemandangan di depannya.
“Haduuhh, siapapun tolongin gue......” tubuh Stella bergetar seiring detak jantungnya yang semakin cepat, nafasnya beradu cepat, hingga tanpa sadar dia menangis.
“Soniaa....” Ucap Stella ditengah rintihannya.
“Veranda.!!” Stella teringat pada sahabatnya dengan sangat cepat dia menggunakan handphonenya. Kemudian menghubungi nomor Veranda. Tinggal menunggu jawaban dari seberang.
‘Tuutttt, klek’
“Halo Ve..ve tolongin gue.” Stella berucap dengan nafas yang tak beraturan.
“Ini gue Shania, kenapa lu ci ??” Suara Shania dari seberang terdengar begitu santai.
“Shan, shan..tolongin gue.! Cepetan loe kesini sama veranda shan, pliss.!!”
“Apaan, males ah. Udah malem.”
“Shania.! Gue serius.!” Stella kesal dengan Shania yang begitu santai.
“Siapa dek ?” Suara Veranda tertangkap oleh telinga Stella.
“Ve.. Veranda.!”
“Iya ini gue, kenapa Stell ?”
“Ve,cepetan loe kesini.! Guesendiriandirumahmatilampu,terustadigueliatbayanganserembanget.” Stella berbicara tanpa spasi.
“Aduh Stella loe ngomong apa sih.? Yaudah loe tenang dulu, gue jalan ke rumah  loe sekarang.! Yang penting loe tenang.”
“Yaudah.! Cepetan gue takut.” Stella memutus sambungan dengan Veranda, dia masih dalam posisi tadi. Nafasnya masih tak beraturan, jantungnya masih berdetak sama cepat dengan saat dia melihat bayangan yang kira dia Sonia.
“Verandaa, cepatlahh...” Stella masih berharap-harap cemas, diirIngi air mata yang terus keluar tanpa disadarinya.


“Hah, perasaan gue nggak enak nih.” Sonia berucap dalam selimutnya.
“Gue ngerasa kalo dia ada di rumah ini. Tapi kenapa dia nggak ke sini.” Kata Sonia, dia sudah sering melihat perempuan itu datang ke rumahnya, berada disekitanya, tapi selalu menghindar ketika Sonia menyadari keberadaannya.
“Jangan-jangan dia gangguin ci Stella lagi.” Kali ini Sonia menyibakkan kembali selimutnya, ingin keluar menengok kakaknya. Belum sempat membuka pintu kamarnya, Sonia terlebih dahulu mendengar tangisan dari luar jendelanya, niatnya membuka pintu kamarnya dia urungkan karena rasa penasarannya akan tangisan itu..



‘Tok tok tokk..’
“Syukurlah Ve, loe cepet dateng.” Seru Stella kegirangan, kemudian dia beranjak ke pintu utama rumah ini, membawa lilin yang ia gunakan untuk menerangi ruang keluarga.
‘Klek’ “Ve, akhirnya loe dat..........” Kembali Stella tak menemukan siapapun di balik pintu yang baru saja ia dengar ada yang mengetuk. Sejurus Stella menutup kembali pintu itu, kemudian terduduk di balik pintu itu.
“Haduhh, pliisss, siapapun jangan ganggu gue. Gue minta maaf kalo gue ganggu kalian.” Stella kembali menangis dalam posisinya, tubuhnya masih bergetar hebat, dia ketakutan. Suara ketukan pintu itu kembali terdengar, Stella tak menghiraukan ketukan itu, dia masih saja takut kalau-kalau dia membuka pintu dan tak ada seorang pun disana.
Ketukan itu semakin kencang, Stella masih tak mau membuka pintunya.
“Tuhann, lindungi aku.....”
“Tok tok tokk..” Ketukan kali ini terdengar cepat, temponya berbeda dari ketuka sebelumnya.
“Stellll..” Terdengar suara dari luar.
“Si..Siapa ???” Stella memberanikan bersuara.
“Stell, ini gue Ve sama Shania.” Suara itu Stella dengar jelas, sebuah angin segar bertiup di dadanya. Segera dia membukakan pintu untuk Veranda dan Shania.
“Stell, loe nggak papa kan ?” Suara Veranda terdengar sangat mengkhawatirkan Stella, dia tau betul sahabatnya takut akan gelap, apalagi ketika ia mendengar suaranya lewat telefon, sudah dapat dipastikan Stella dalam keadaan ketakutan.
“Veranda.!” Tubuh Stella melayang begitu saja ke dalam dekapan Veranda.
“Gue takut Ve....” Suara Stella yang bergetar dan hembusan nafas yang tak beraturan dapat Veranda rasakan di tengkuknya. Detakan cepat jantung Stella terasa jelas di dadanya.
“Iya udah, ini kan udah ada gue.” Veranda membelai rambut Stella, mencoba menenangkannya.
“Kak, mending kita masuk dulu deh.” Shania bersuara, dia hanya berdiri menatap keduanya, dia sudah berbalutkan piyamanya, sudah seharusnya jam segini dia telah berada dia kamarnya dan tidur dibalik selimut hangatnya.


“Sekarang loe tenang dulu, terus loe ceritain apa yang terjadi.” Mereka telah berada di ruang keluarga, Veranda duduk di samping kanan Stella, Shania ada di sebelah kiri di sofa lain.
“Sonia mana ci ?” Shania bersuara.
“Sonia, ternyata dia bisa ngeliat masa depan, dan dia bisa ngeliat hal gaib Ve.” Stella mulai bebicara.
“Jelasin lebih simple Stell, gue nggak paham maksud loe.”
“Beberapa hari yang lalu.......”



Sonia dengan langkah ragunya mendekat ke arah jendela, tangisan itu semakin terdengar jelas. Sampai di depan jendela, akhirnya Sonia menangkap visualisasi yang selama ini ingin ia dapatkan dari tangisan yang ia dengar. Dia memperhatikan orang yang membelakanginya, sosok itu tengah berdiri di balkon kamarnya, rambutnya panjang, dengan tubuhnya yang dibalut kain putih.
“Hey.” Sonia bersuara, detakan jantungnya lebih cepat dari biasanya. Sosok itu menghentikan  tangisnya.
“Kamu siapa ?” Sonia memberi jeda untuk kalimat yang akan kembali dia luncurkan. “Dan kenapa kamu ada disini ?” Sosok itu membalik tubuhnya perlahan, nafas Sonia terhenti sesaat setelah melihat wajah buruk sosok yang ada di hadapannya.
“Apa kau tak mengingat aku.” Sosok itu mendekat ke arah Sonia.
“Emm, kau yangg.....”
“Ya aku yang kau harusnya bisa kau cegah untuk mati.” Sonia mundur beberapa langkah dari tempatnya.
“Akkku,emmmm mau apa kau kesini....” Sosok itu telah berada tepat di hadapan Sonia, Sonia tak lagi dapat menggerakan tubuhnya, seluruh badannya terasa berat untuk digerakkan.


“Aaaarrgghhtt...” teriakan Sonia terdengar jelas oleh Stella, Veranda dan Shania yang masih ada di ruang keluarga.
“Sonia.” Ucap mereka serempak. Sepersekian detik mereka saling bertatapan, untuk kemudian langsung berlari menaiki tangga dan menuju kamar sonia.


“Son.”  Stella berhasil membuka pintu kamar Sonia. Terlihat biasa saja, lengang dengan lilin yang menyala di atas meja belajar Sonia. Sonia tampak sedang berdiri di depan jendela memandang keluar, nyaris tak ada yang aneh.
“Son, loe nggak papa kan ??” Stella mendekati Sonia dengan langkah kecilnya, ragu dengan selimut parno masih menggandrunginya, tapi dengan bekal ‘dia adikku’ Stella mendekati Sonia, Veranda dan Shania hanya memantau tepat di ambang pintu.
“Gue kira loe kenapa. Tadi kenapa teriak ?” Stella sudah mulai menyamankan langkahnya. Sonia perlahan membalikkan badannya, dan
“Hah, Son...loe...loe kenapa ??” Stella sempat menghentikan langkahnya.
 “Sonia.!” Veranda dan Shania tak percaya melihat pemandangan di depannya.
“Son...” Stella hendak melangkahkan kembali kakinya, namun dia urungkan ketika Sonia yang lebih dulu melangkahkan kaki mendekat padanya, matanya sadis menatap tajam Stella. Wajah lucu yang biasa Sonia tampakkan kini berubah pucat, rambutnya yang rapi berponi, seperti terkena badai, berantakan tak karuan.*mungkin gara-gara ada veranda kali*
“Ci, itu bukan Sonia.!” Teriak Shania tanggap dengan kejadian di depan matanya yang disetujui dengan anggukan Veranda.
“Son, loe nggak papa kan ?” Sonia terus melangkahkan kaki mendekat pada Stella, nafas Stella kini benar-benar tak karuan, jantungnya seakan memompa darahnya sangat cepat, hasratnya memerintahkan untuk melarikan diri dan terlepas dari Sonia yang kini terlihat seram, bahkan sangat seram bagi penakut seperti Stella, tapi otak dan hati nya berkata lain, dia hanya mampu diam, untuk berlari rasanya dia tak sanggup. Sonia semakin dekat, tangannya perlahan dia angkatkan dan mengarahkan ke leher Stella.
“Stell, ayolah.! Itu bukan Sonia.” Stella menyerap ucapan Veranda dengan sangat lambat.
“Son.....” Baru saja Stella hendak melangkah mundur, Sonia lebih cepat menggapai leher Stella.
“Sonn .!! aaaaahh, Lepasin Son.! Sonia. Aaah.”
“Stell.!” Veranda dan Shania menajamkan penglihatannya seperti melotot ke arah Stella, Veranda yang tanggap segera menyelamatkan Stella, berusaha melepaskan tangan Sonia dari leher Stella.
“Son. Sakit.! Ahh..”  Stella masih saja menganggap orang di depannya adalah adiknya yang normal.
“Dek, sadarlah.! Dia Kakakmu, lepasin.!” Veranda berteriak  tepat di depan wajah Sonia, berusaha menyadarkan Sonia.
“Hahahha.” Sonia malah meledakkan tawanya, suara yang bahkan tak pernah Stella dengar selama dia tinggal bersama adiknya.
“Son..nia.” Leher Stella masih berada dalam cengkraman tangan Sonia. Veranda masih berusaha melepaskan cengkraman itu di tengah tawa Sonia yang semakin kencang.
“Son.” Stella mulai melemah karna nafasnya yang terhambat oleh cekikan Sonia.
“Sonia.!” Veranda kembali meneriaki Sonia dengan hasil nihil.
“Son, ayolah di.....” Ucapan Veranda terhenti ketika terdengar pukulan mengenai tubuh Sonia, benda yang tak terlalu jelas di lihatnya tapi jelas mengenai tengkuk orang di hadapannya, Sonia melepaskan tangannya dari leher Stella dan kemudian terjatuh di hadapan mereka.
“Sonia.!” Stella bukannya lega karena terselamatkan, justru mengkhawatirkan orang yang telah mencekiknya hingga hampir kehabisan nafas.
“Shania.! Udah nggak waras loe.!” Stella membentak keras kepada orang yang berhasil menyelamatkannya dari cekikan Sonia untuk kemudian dia berlutut bermaksud melihat keadaan raga Sonia yang terkulai lemah dihadapannya
 “Ci, dia bukan Sonia, dia bukan adik loe.!” Shania berseru dan menarik tangan Stella dari belakang.
“Stell, kita harus keluar dari sini.” Veranda menambahi dan menarik tubuh Stella agar mau berdiri dan meninggalkan kamar Sonia.
“Son, bangun son. Bangun.!” Stella sama sekali tak mencerna kalimat dari Veranda dan Shania.
“Ci, cepat.!” Shania menarik keras tangan kiri Stella, begitupun Veranda menarik paksa tangan kanan Stella.
“Shan lepasin, gue mau nolongin Sonia.!” Stella memberontak.
“Stell, itu bukan adek loe.!” Veranda kembali menyerukan kalimat yang sama.
“Ve, tapi itu raga Sonia, itu adek gue.! Lepasin..!!” Stella masih memberontak dan berusaha melepaskan diri namun Shania dan Veranda yang secara fisik lebih tinggi dari pada Stella berhasil menyeret  Stella keluar kamar Sonia.


“Hahh.” Seru Stella melepaskan cengkraman di kedua tangannya. Veranda dan Shania yang berfikir sudah cukup aman pun melepaskannya.
“Kalian nggak mikir ? itu sonia.! Sonia adek gue.!” Kesal Stella pada keduanya.
“Ci, itu memang tubuh Sonia tapi jiwanya bukan.!” Shania mengulang kalimat yang sedari tadi seperti tak di gubris oleh Stella.
“Stell, Sonia kerasukan.” Veranda meyakinkan dan dengan lembutnya menyentuh lengan kanan Stella.
“Gue nggak perduli siapa yang ada dalam tubuh Sonia sekarang.! Yang terpenting, yang ada didepan gue tadi itu raga Sonia.! Dan loe shan.!” Stella menatap tajam ke arah Shania. “Loe udah bikin adek gue pingsan.!” Tutup Stella, mengancam Shania dengan jari telunjuknya yang dia arahkan tepat di depan wajah Shania, yang kemudian dia kembali melangkah ke tangga.
“Stell, mau kemana ?” Ucapan Veranda sama sekali tak menghentikan langkah Stella.
“Gue mau nolongin adek gue.!” Stella menapaki satu persatu anak tangga di rumahnya itu, ketakutan dalam hatinya ntah sejak dari kapan menghilang, tapi dia lebih mengkhawatirkan adiknya saat ini.
“Ci....” Shania hendak kembali mencegah tindakan Stella. “Dek.” Lirih Veranda menggelengkan kepalanya, mengkodekan ‘sudah biarkan saja’. Shania tertunduk, dia mengkhawatirkan Stella yang baru saja hampir mati oleh raga adiknya sendiri.
“Kita susul Stella.” Veranda melangkah menuju kamar Sonia lagi.


“Son.?” Seru Stella begitu sampai di ambang pintu kamar Sonia, kemudian memasukinya dan berlutut di hadapan raga adiknya yang terbujur lemah.
“Son bangun...” Stella memangku kepala Sonia yang masih dalam posisi tadi, air matanya meleleh memandangi wajah polos adiknya yang telah kembali.
“Son bangun.! Bilang sama gue, kalo loe nggak papa.!” Stella mengguncang tubuh adiknya. Berkali dia lakukan hal yang sama, namun tak ada hasil.
“Son..” Ucap Stella bergetar, memeluk tubuh Sonia dalam posisi duduk dan masih dengan air matanya. Shania dan Veranda hanya mengawasi di belakang Stella. Veranda memandang iba pada Stella, sedang Shania tengah dirundung rasa gelisah, menyesali perbuatannya yang tanpa dia sadari telah melukai orang terdekatnya.
Sonia merasakan kehangatan dalam pelukan kakaknya perlahan mulai membuka matanya, Stella yang merasa adanya pergerakan dari tubuh Sonia pun melepaskan pelukannya.
“Aww.” Sonia merintih memegangi kepalanya, matanya ia tutup kembali menahan sakit yang ia rasa mungkin.
“Son, loe sadar ? loe nggak papa kan ? mana yang sakit ?” Stella langsung memberondongi Sonia dengan pertanyaannya.
“Ke..pala ak..ku pusing ci.” Keluhnya terbata. Shania yang menyadari itu semakin merasa bersalah, Veranda dengan sigapnya mendekati Sonia dan Stella.
“Stell, pindahin Sonia ke kasurnya.” Ucap Veranda yang siap memapah tubuh mungil Sonia.
“Dek, ambil air buat Sonia.”  Veranda memerintah Shania yang sedari tadi hanya terdiam di tempatnya. Sonia yang lemah hanya mengikuti langkah Stella dan Veranda yang memapahnya di kanan kirinya.
“Ci, aku kenapa ?” Tanya Sonia ketika tubuhnya telah seluruhnya berada di ranjangnya dengan kepalanya yang ia sandarkan di bantal kesayangannya.
“Kenapa badan aku lemes banget ci ? Kepala aku pusing.” Sonia kembali menanyakan tentang dirinya, Stella dan Veranda sama-sama bungkam, bukan tak ingin memberi tahunya, tapi terlalu bingung untuk menjelaskan bagaimana dan memulainya darimana.
“Nih Kak airnya.” Shania datang dengan segelas air putih di tangannya.
“Nha, nih minum dulu airnya.” Veranda membantu Sonia meminumkan airnya. Stella hanya duduk di sebelah Sonia dengan terus membelai rambut Sonia, tak ada luka di kepalanya memang, rasa lemah dan pusing di kepala mungkin karena raganya yang baru saja di pinjam ntah oleh siapa. Karena yang dipukul Shania sepertinya memang bukan Sonia.
‘’Hah ? Mau apa kamu ke sini lagi ?” Mata Sonia terbelalak seperti melihat sesuatu, untuk kemudian melemparkan kalimat itu dan menyembunyikan wajahnya di dekapan Stella, yang memeluknya dari samping. Sontak membuat semua terdiam dan saling bertukar pandang satu sama lain karena mereka sama sekali tak melihat siapapun di belakang Veranda.
“Son..” lidah Stella seakan kelu hendak menanyakan apa yang ada di otaknya, seperti penasaran tapi takut ketika harus mendengar jawaban Sonia. Suasana mendadak menjadi dingin, angin dari luar seperti mudah saja menerobos masuk ke kamar Sonia.
“Son, kamu ngomong sama siapa ?” Veranda yang lebih berani akhirnya menanyakan apa yang Stella ingin tanyakan.
“Kak, aku inget. Tadi dia dateng ke sini, terus dia maksa masuk tubuh aku kak.” Sonia yang ketakutan dan menunjuk ke arah tadi yang dia ajak bicara.
“Dia ? Dia siapa Son ?” Veranda masih beranikan diri untuk mendapat jawaban real dari Sonia, sedangkan Shania yang merasakan hawa dingin disekelilingnya hanya mendekat ke arah Stella yang juga ketakutan.
“Dia itu yang...Hey, jangan sakiti dia.!” Arah pandangan Sonia berganti yang tadinya menatap ke arah Veranda berubah ke belakangnya. Veranda yang merasa tidak beres pun ikut menoleh, tapi nihil tak ada seorangpun disana. Suasana menjadi tak karuan, hawa dingin menyelimuti, angin diluar bergemuruh , seperti suasana hati mereka yang bergemuruh digandruingi rasa takut, suasana gelap membuat malam ini semakin mencekam.
“Apa mau kamu ??” Tanya Sonia masih ke arah tadi dengan ekspresi takutnya yang berusaha ia sembunyikan. Veranda berusaha tenang dengan hatinya yang berkabut ketakutan dengan sosok yang sedang Sonia ajak bicara dan dia berada tepat dibelakangnya.
“Katakan saja, tapi jangan sakiti kami.” Lagi Sonia berbicara dengan ntah siapa. Veranda, Shania, juga Stella hanya terdiam dalam ketakutannya. Sejenak suasana menjadi hening , Sonia tampak tengah mendengarkan sesuatu, mencerna apa yang ia dengar, mungkin. Shania semakin mendekatkan tubuhnya pada Stella dan mengenggam bahu Stella, berharap mendapat perlindungan.
“Apa ? mana mungkin.!” Seru Sonia menanggapi permintaan makhluk itu mungkin. Angin bertiup lebih kencang ketika Sonia menyelesaikan kalimat terakhirnya. Tangan kiri Stella masih memeluk Sonia, takut-takut bila saja sosok itu menyakiti Sonia, sedang tangan kanannya menggenggam tangan Shania yang masih berlindung di tubuhnya.
“Oke, kita akan berusaha. Tapi dengan satu syarat.! Jangan sakiti kami.” Sonia seperti sedang tawar menawar dengan makhluk itu. Seketika angin besar seperti bergemuruh di kamar kecil Sonia, hingga menerbangkan korden-korden jendela.
“Ci, kita harus nolongin dia.” Ucap Sonia yang sepertinya sudah mulai kembali pulih fisiknya. Keadaan sudah mulai lengang. Hawa dingin itu perlahan mulai berubah menjadi hangat.
“Siapa Son ?” Stella menanggapi ucapan Sonia dengan penuh keheranan.
“Dia ci, perempuan itu kita ketemu di mall, terus kecelakaan.” Jelas Sonia, Stella mencerna kalimat Sonia sambil mengobrak-abrik otaknya mencari scene dimana dia bertemu seseorang yang kemudian mengalami kecelakaan.
“Ta..tapi dia kan udah meninggal Son.” Stella telah berhasil menemukan ingatannya. Veranda dan Shania yang tidak begitu tahu hanya mengikuti perbincangan mereka.
“Justru itu Ci. Dia minta tolong sama kita buat nyari barangnya yang ilang, terus dia minta kita kembaliin ke keluarganya.” Jelas Sonia lagi, mungkin itu hasil dari perbincangan dia dengan makhluk itu.
“Barang ? apa itu son.?” Shania kini bersuara.
“Cincin, dia bilang itu cincin dari tunangannya.” Jelas Sonia, sedang yang lain hanya mengangguk paham.
“Kenapa harus kita, lagian kenapa harus dicari juga, toh di alamnya sekarang dia nggak bakal bisa pake cincin kan ?” Shania sepertinya keberatan dengan permintaan sosok tadi. Dia kini tengah duduk di samping Veranda.
“Shan, Cuma kita yang bisa bantu.!” Tegas Sonia.
“Tapi, Son. Loe lagi nggak bercanda kan ?” Stella memastikan, pelukkanya pada Sonia telah terlepas sedari tadi.
“Ci, aku nggak mungkin main-main sama hal mistis kaya gini.!” Sonia berkata dengan kesalnya, dia membayangkan kembali sosok yang tadi baru diajaknya bicara,  wajahnya lebam penuh darah, matanya dikelilingi warna hitam, tapi bola matanya yang menatap tajam ke arah Sonia masih bisa ia lihat.
“Kak Ve, Shania, ci. aku mohon, bantuin aku, bantuin aku nyari cincin yang perempuan itu minta.” Sonia memasang ekspresi memelasnya. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing.
“Aku mau semua ini berakhir ci, aku cape dihantui rasa takut terus. Muka dia serem ci, aku takut.” Sonia kembali memelas, kali ini dengan buliran bening di matanya, Stella hanya memeluk adiknya menenangkannya dari rasa takutnya, Stella bisa membayangkan bagaimana rasa takut Sonia ketika berhadapan dengan orang yang telah berbeda alam, di tambah dengan wajah yang menurut Sonia seram.
“Ve, Shan. Bantuin ya ?” Kali ini Stella yang memohon, Veranda menangguk mengiyakan, Shania idem dengan kakaknya. Stella mengembangkan senyumnya.
“Yaudah Son, Ve sama Shania mau bantuin kita ko.” Stella membelai rambut panjang Sonia. “ Besok kita mulai nyari cincinnya yah ?” Sonia melepas pelukan kakaknya.
“Beneran Ci ?” Sambil mengusap air matanya sendiri Sonia tersenyum kegirangan.
“Iya, biar cepat selesai masalahnya dek. Biar kamu nggak di datengin sosok itu lagi.” Kata Veranda, lebih lembut. Ntah kenapa Veranda terlihat lebih perhatian kepada Sonia dibanding Stella yang nampak cuek pada adiknya sendiri.

                Terkadang percaya akan sebuah hal mistis sepertinya terlalu sulit dilakukan, tapi jika nyatanya itu terjadi di depan mata kita, walau tak bisa melihatnya tapi kita merasakannya, mereka ada, tak terlihat tapi bisa dirasakan kehadirannya. Apa maksud dan keinginan mereka hadir di sekitar kita, tak akan kita bisa ketahui tanpa kita berinteraksi dengan mereka.
***

“Kita mau kemana dulu ?” Tanya Stella dibagian kendali mobil.
“Ke...ke TKP aja dulu ci.” Sonia yang duduk di seat belakang bersama Shania bersuara. Mereka kini tengah menjalankan misi mereka, hari sudah sore, Stella dan Veranda baru menyelesaikan kuliahnya sekitar jam 2 tadi, sedang mereka harus menjemput kedua adiknya yang berbeda sekolah, dan dengan jarak yang lumayan.
“Son, emang loe inget tepatnya TKPnya.?” Shania bertanya dengan tatapannya ke layar handphonenya.
“Inget ko.” Jawab Sonia mantap, “Sepertinya sih.” Lanjutnya.
“Seriusan dek.” Veranda yang ada di seat depan memprotes kalimat Sonia.
“Hehe, iya iya. Aku inget ko Kak Veranda :)” Kata Sonia, Stella tetap fokus pada jalanan, dia masih mengingat-ingat jalanan mana yang dulu ia lewati ketika membuntuti mobil yang Sonia maksud. Dalam hatinya masih terselip rasa takut, tapi dia tau kalau tak cepat diselesaikan, dia akan terus di gandrungi rasa takut.



“Loe yakin ini Son jalannya ?” Shania celingukan begitu turun dari mobil.
“Iya deh kayanya, iyakan ci ?” Sonia melempar pertaanyaan ke Stella, mereka berempat sudah turun dari mobil yang Stella berhentikan di pinggir jalan.
“Iya dehh.” Stella berdiri di tepi trotoar masih mengitarkan pandangannya, memastikan benar ini TKPnya. “Nha iya bener, itu kan pohon yang waktu itu Son.! Waktu itu mobilnya kebalik di samping pohon itu.” Kata Stella menunjuk pohon besar di pinggir jalan, sontak semua mengikuti arah yang Stella maksud.
“Kamu ?” Sonia mempertemukan kedua alis matanya ketika menatap pohon tadi.
“Arghhtt.”  Sonia merintih memegangi kepalanya. Otaknya seperti bekerja extra keras, scene sebuah kecelakaan melintas di otaknya. Sebuah SUV silver melaju kencang, dengan dua orang yang tengah beradu mulut di dalamnya.
“Sonia, loe kenapa ?” Shania merangkul tubuh Sonia yang hendak terjatuh. SUV itu cepat, sangat cepat, pengendara mobil tak menyadari keramaian jalan malam itu.
“Sonia, loe nggak papa kan ?” Stella bersuara, mengambil alih posisi Shania, menopang tubuh Sonia dari samping. Sonia tak merespon, dia masih memegangi kepalanya, sesekali memejamkan matanya.
SUV itu terus melaju, menerobos lampu lalu lintas yang saat itu dalam keadaan berwarna merah, hingga mobil dari arah yang bebas dari lampu merah menabrak SUV itu. ‘Braaakkk, craannngg.’
“Arrghht mobil itu.!” Suara Sonia pecah juga, seiring kembalinya otak Sonia ke keadaan nyata saat ini.
“Kenapa dek ? Kamu liat apa ?” Veranda menatap Sonia lekat, berharap Sonia cepat-cepat mengeluarkan jawaban.
“Kecelakaan itu.....” Sonia menggantung kalimatnya.
“Kenapa Son ?” Stella melepas tangannya dari tubuh Sonia, dia sudah bisa menopang tubuhnya sendiri.
“Kecelakaan itu cepet banget.! Aku nggak bisa nggambarinnya, yang jelas mobil itu ketabrak dari arah sana, terus berbalik sampai disini, iya disini.!” Sonia menjelaskan sambil melangkah menuju arah pohon itu.
“Yaudah kita coba aja cari cincinnya, di sekitar sini.” Veranda sigap celingukan mencari cincin yang di cari sosok itu. Stella mengikuti Veranda, pun dengan Sonia. 15 menit berlalu, Shania yang sedari tak berniat mencari telah duduk di pinggir jalan sejak 10 menit lalu.
“Ini konyol banget tau nggak.” Keluh Shania dalam posisi duduknya.
“Dek, nggak ada yang konyol. Kita harus bantuin ‘dia’ nyari barangnya yang ilang.” Veranda agak membentak adiknya, dia berada tak jauh dari Shania, masih berusaha menemukan barang yang dimaksud.
“Tapi kak, ngapain juga kita nyari barang orang yang udah.....”
“Shania.! Jaga omongan loe, dia ada disini, jangan seenaknya kalo ngomong.! Kalo loe nggak mau ikut nyari yaudah, diem aja bisa kan.!” Ntah sejak kapan Sonia bisa membentak Shania, sedang yang dibentak hanya diam, mencerna kalimat Sonia ‘dia ada disini.’ Hari sudah mulai gelap, matahari sudah menunjukkan senjanya.
“Son....” Shania lirih, suaranya tak mampu keluar, pita suaranya seperti sedang tak berfungsi. Dia tak mampu menggerakkan tubuhnya, nafasnya tersengal melihat sosok yang menurutnya seram hendak mendekat ke arahnya. Sonia yang menyadari hawa aneh, menengok ke arah sosok tadi berdiri dan mengawasi mereka. Nihil.!
“Hey jangan.!” Sonia menemukan sosoknya sedang ada di hadapan Shania.
“Sonia..” Shania akhirnya bisa melepas jerat ketakutannya, kemudian berlari ke arah Stella yang lebih dekat dengannya, kemudian memeluknya.
“Sudah kubilang jangan sakiti kami.!” Tegas Sonia.
“....”
“Tapi kau membuat dia(Shania) ketakutan.!” Lanjut Sonia yang nampak berinteraksi dengan sosok itu, Shania tak lagi melihat sosok seram yang tadi sempat ia lihat. Veranda hanya melihat scene yang terjadi dihadapannya.
“Son, kita pulang aja yukk.” Stella yang masih dipeluk Shania bersuara. Kemudian melepas pelukannya dan membimbing Shania masuk ke mobil.
“Oke, aku minta maaf atas kata-kata dia, tapi ingat jangan sakiti atau buat kami ketakutan.!” Tutup Sonia kemudian menggandeng Veranda dan mengajaknya masuk mobil.



“Kamu tadi liat apa dek ?” Veranda menatap Shania khawatir.
“Dia, serem banget Kak. Mukanya kaya kebakar gitu, serem.” Shania bergidik menceritakan apa yang dilihatnya. Mereka kini telah ada di dalam mobil, meninggalkan tempat itu.
“Emang bener dia kaya gitu Son ?” Veranda melempar pertanyaan ke Sonia, Sonia yang tengah memikirkan bagaimana mendapatkan cincin itu terusik lamunannya.
“Iya, tapi dia bisa semaunya mengganti bentuk wajahnya buat nakutin manusia.” Jawab Sonia begitu enteng. Stella merinding mendengarkan Sonia.
“Dia marah atas kata-kata Shania, makanya dia menampakkan diri di hadapan Shania.” Lanjut Sonia.
“Terus kenapa loe bisa liat dia ? Bukannya dia marahnya sama gue ?” Heran Shania.
“Nggak tau, tapi gue selalu bisa ngeliat dia kalau dia ada di dekat gue.”
“Emang loe nggak takut Son ? Mukanya serem gitu.” Sonia menggeleng pelan.
“Terus gimana kita nemuin cincin itu ?” Stella bersuara, mengalihkan pembicaraan yang membuatnya semakin merinding.
“Tunggu deh Stell, dia meninggal di tempat atau di rumah sakit ?” Veranda meneliti, mengganti posisi duduknya menghadap ke Stella.
“Waktu itu gue nanya sama saksi mata sih, dia meninggal di tempat, tapi setelah itu dia langsung dibawa ke Rumah Sakit.” Kata Stella tetap fokus ke jalanan.
“Ya kenapa kita nggak ke Rumah sakit aja ? Seharusnya, dia meninggal masih pake cincin kan ?” Veranda menyimpulkan.
“Yaelah Kak, kenapa nggak bilang dari awal, jadi kan kita tadi nggak perlu kaya orang gila di pinggir jalan.” Keluh Shania.
“Iya sih, Ve. Apa kita mau ke rumah sakit sekarang ?” Stella meminta persetujuan Veranda, mengingat hari sudah gelap.
“Emang rumah sakit mana coba ?” Shania yang sudah malas berusaha agar menyelesaikan kegiatan hari ini.
“Harusnya tadi tanya sama orang sekitar situ, kali aja mereka tau.” Stella baru teringat.
“Ya logikanya pasti di bawa ke rumah sakit deket-deket sini.” Veranda sedang di penuhi aura positif sepertinya.



                Mobil Stella telah di parkirkan di parkiran rumah sakit yang paling dekat dengan tempat tadi. kini mereka ada di meja receptionist untuk menyampaikan maksud mereka.
“Korban atas nama siapa mbak ?”
“Emm..” Veranda menengok ke arah Sonia, Sonia yang sadar di tatap Veranda, mencari sosok yang biasa mengikutinya.
“Aku nggak tau.” Jawab Sonia akhirnya, setelah tak menemukan sosok yang ia cari.
“Kita nggak tau jelas siapa namanya sih mbak, tapi kecelakaan itu kejadian sekitar 4 hari lalu.”
“Oh kecelakaan yang di jalan Dokter Su...” Suster itu menemukan data yang mereka maksud.
“Iya.” Jawab Stella cepat memotong kalimat suster itu.
“Mbak bisa tanyakan pada penjaga kamar mayat saja mbak.” Suster itu malah melempar jawaban pada penjaga kamar mayat.
“Oh yaudah makasih mbak.” Veranda mewakili, kemudian mengikuti Stella yang telah berjalan lebih dulu.
“Ini seriusan, kita mau ke kamar mayat ci ?” Shania menggandeng lengan Stella, sebenarnya maksudnya ingin menggandeng tangan Stella tapi karena, ah sudahlah. Mereka kini tengah berjalan melewati lorong-lorong Rumah Sakit mencari ruangan yang dimaksud. Posisinya Shania bersama Stella dan Veranda bersama Sonia (?)


“Korban, sudah di jemput keluarganya mbak.” Seorang laki-laki tidak tua, tapi tidak juga terlalu muda menjawab pertanyaan 4 gadis yang ada di depannya.
“Apa mas ngeliat ada cincin gitu yang jatuh disini.” Sonia bersuara menghadapi orang yang ia panggil ‘mas’
“Ya nggak tau mbak, soalnya disini saya tidak bekerja sendiri, karena disini sistemnya sift.” Mas-nya menjawab begitu enteng, Sonia menghelakan nafas panjang dari mulutnya, pun dengan Shania yang menopangkan kepalanya di bahu Stella.
“Emang ada apa mbak kenapa nyari mayatnya ??” Mas yang tadi bertanya kembali.
“Kita nggak nyari mayatnya sih mas. Tapi kita nyari cincin yang dipake mayat itu.” Veranda menjelaskan dengan lembutnya.
“oh kalo itu saya nggak tau mbak.” Jawab Masnya lagi-lagi masih santai.
“Ya bilang kek dari tadi.!” Shania menegakkan tubuhnya, kesal ? ya pasti.!
“Shania.!” Veranda sempat membentak adiknya sebelum dia berterimakasih pada orang tadi. kemudian mereka sama-sama membalik badan dan berjalan meninggalkan kamar mayat dan penjaganya.


“Eh mbak, tapi.” Suara Mas yang tadi menghentikan langkah mereka, “Biasanya kalo barang-barang berharga milik korban selalu diamankan oleh pihak yang berwajib.”
“Jadi cincin itu ada di polisi ?” Shania menyimpulkan dengan malasnya.
“Ya nggak tau juga mbak, tapi mbak bisa menanyakan pada mereka.” Jelas masnya dengan senyum yang ternyata manis.
“Makasih mas buat infonya.” Jawab Veranda membalas senyum masnya *duhh* . kemudian mereka benar-benar meninggalkan kamar mayat itu.


“Kak, pulang yuk ahh. Aku cape.” Shania berucap dengan wajah lusuhnya, dia memanja di tubuh Veranda.
“Shan, bentar lagi dong.” Veranda dengan sabarnya menghadapi adiknya yang sudah kelelahan.
“Ci, makan dulu ya ? tadi siang aku nggak sempat makan.” Sonia memegangi perutnya, mereka tengah berjalan menuju parkir rumah sakit.
“Ya nanti kita mampir dulu di tempat biasa.” Kata Stella seraya mencari kunci mobil di tasnya.
“Yaudah kalian makan aja kita biar pu....”
“Kita ikut makan. Apalagi kalo di traktir.” Belum sempat Veranda menghabiskan kalimatnya, Shania menyambar dengan semangatnya.
“Yaelah Shan, makanan aja loe semangat.” Sindir Sonia tak sungguh-sungguh.
“Yaelah Son, emang loe. Semangat nya nyari cincin yang nggak pasti itu.” Shania membalas sindiran Sonia.
“Shan.!” Veranda menghentak adiknya, mengingat kalimat Sonia tadi. *Pas di TKP kecelakaan.
“Ups.! Sorry.” Shania menutup mulutnya.

Hari ini selesai, usaha mereka belum membuahkan hasil yang berarti. Mereka merencanakan akan melanjutkan pencarian besok, mereka akan mendatangi kantor polisi yang mungkin mengurusi kecelakaan itu. Sebenarnya memang benar kata Shania, sangat konyol melakukan hal seperti ini, mencari barang orang yang sudah mati, yang bahkan keluarganya pun tak berusaha mencarinya, sedangkan mereka mengenalinya pun bahkan tidak.

“Kami sama sekali tak menemukan cincin yang kalian maksud.” Jawab tegas pak Polisi yang mendapatkan laporan dari Veranda dan Sonia. Stella dan Shania menunggu di depan, karena memang tak boleh terlalu banyak orang yang masuk.
“Tapi bukankah bapak yang mengurusi korban.” Veranda kembali bertanya.
“Ya, kami hanya mengamankan tas, dan benda berharga lain milik korban. Kami tak menemukan cincin.” Kembali Polisi itu menjawab dengan sabarnya.
“Terus ?” Sonia mulai tak sabar dengan jawaban-jawaban yang di berikan Polisi yang sedang mereka wawancarai.
“Mungkin cincin itu telah ada di keluarganya.” Polisi itu hanya me’mungkin’kan jawaban atas pertanyaan serius Sonia, mungkin karena baginya pertanyaan Sonia hanya pertanyaan penasaran anak kecil yang mengenakan rok SMA dengan atasan yang bukan lagi kemeja putih (tadi ganti dulu pas di mobil)
“Nggak mungkin pak, kalo cincin itu..” Sonia hendak memprotes kalimat Polisi itu, tapi Veranda memotong kalimat Sonia begitu saja.
“Ehm, yaudah pak. Apa kita bisa tau alamat korban ?”
“Kak..” Sonia memprotes, Veranda menggenggam tangan Sonia, menandakan ‘tenang, ini urusan kakak.’ Sonia hanya menghembuskan nafas yang terasa berat.
“Bisa, sebentar, saya cari data korban dulu.” Polisi itu kemudian beranjak dari kursinya.
“Kak, kalo cincin itu udah di keluarganya, nggak mungkin dia maksa kita nyari cincin itu kak.”
“Son, seenggaknya kita bisa tanya sama mereka, atau kita bisa nyerahkan tugas ini sama mereka.” Veranda memberikan solusi baik menurutnya, tapi tidak menurut Sonia.
“Yaudah terserah Kak Veranda aja.” Sonia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi tempatnya duduknya. Dia merasa omongannya tak lagi di dengar.


Hingga ahirnya mereka pun menuju ke alamat yang diberikan Polisi tadi, Sonia masih diam, dia tau dengan mereka ke rumah perempuan itu tak akan menghasilkan apa-apa. Tapi omongannya tak lagi didengar oleh Veranda, apalagi Stella yang hanya menganggap benar omongan sahabatnya.


“Bener ini alamatnya.?” Kata Shania memastikan, mereka berempat sama-sama celingukan memperhatikan rumah yang ada di hadapannya.
“Iya, yaaa kita coba tanya aja.” Stella mendahului berjalan, Veranda masih memperhatikan rumahnya, pun dengan Sonia, Shania ada di belakang.
“Arrgghhttt.”
“Shan.!” Sonia lebih tanggap dengan kejadian di belakangnya.
“Shania.” Stella yang hendak membuka gerbang rumah yang telah ada dalam genggamannya ia urungkan.
“Arrghhtt.” Lagi Shania berteriak, wajahnya berubah di mata Sonia.
“Dek, kamu kenapa ?” Veranda menopang tubuh Shania yang hendak terjatuh.
“Son, Shania kenapa ?” Stella mendekati Sonia yang tengah menatap heran Shania.
“Kamu, sudah kubilang jangan sakiti..Hhhssshh. argghhtt.” Sonia mengehentikan ucapannya dengan memejamkan matanya, memegangi kepalanya.
‘Kamu kenapa belain dia ?’
‘Aku nggak belain dia, tapi kamu nggak sopan sama perempuan, apalagi kaya tadi. dia udah minta maaf baik-baik, kamu malah bentak dia. Aku nggak suka.!’
“Sonia.!” Stella menyadari tubuh Sonia yang melemah dihadapannya sigap menopangnya. ‘Apa mau kamu ? Aku ramah sama perempuan lain, kamu cemburu. aku kasar, kamu nggak suka.’
“Cepat pergi dari tempat ini..” Suara itu keluar dari mulut Shania, tapi sama sekali tak Veranda dan Stella kenali suara itu. Sementara Sonia masih dengan posisinya, memejamkan matanya, kemudian membuka matanya lagi ‘nggak usah bentak aku.  Kamu ramah dengan mantanmu, dan kamu perlakukan mantan lebih dari kamu perlakukan aku. Di depan mata aku, Gimana aku nggak cemburu.’
‘Kamu itu, kita udah tunangan. Masih aja bahas mantan aku.’
“Sonia, sadar.! Loe kenapa sih ?” Stella yang menopang tubuh Sonia menggoyangkan bahu Sonia yang ada dalam genggamannya.
‘Dari awal kita tunangan aja aku udah ragu sama kamu. Dan nyatanya kamu gini.’
“Cepattttt.!” Suara itu kembali terdengar, Veranda segera membimbing Shania ke dalam mobil. Stella masih berusaha menyadarkan Sonia dari alam, yang ntah alam apa. ‘Kamu mau minta kita batalin tunangan kita ?’
‘Oh kalo itu yang kamu aku bisa ko lepas cincin ini.!’
‘Ini aku kemba.....aaaaaaaaaaa’
“Sonia.!!” Stella memanggil Sonia keras, agar ia kembali ke alamnya saat ini.
“Cincin itu...cincin itu jatuh di mobil Ci.” Kalimat pertama Sonia, begitu kesadarannya kembali.
“Mo..bil yang bekas kecelakaan itu ??”
“Iya.!” Tegas Sonia masih merasakan berat di kepalanya.
“Stella, Shaniaaa.!” Suara Veranda bergetar, begitu mengkhawatirkan adiknya.
“Shania.!” Sonia teringat keadaan temannya yang tadi ia sempat kemasukan sosok itu. Dia kemudian langsung masuk ke mobil, Shania masih duduk di tempatnya, pandangannya kosong, namun tetap duduk tegap menghadap ke depan.
“Shan,. ahh....Emm siapapun kamu, tolong keluar dari tubuh Shania.” Perintah Sonia menatap Shania yang sama sekali tak menggubrisnya.
“Dek, Shania kenapa ?” Veranda telah berada di seat depan, di samping Stella yang juga telah duduk di kursi kendalinya.
“Apa mau kamu, kami sedang berusaha ngelakuin permintaan kamu.” Sonia menghiraukan pertanyaan Veranda dengan masih fokus pada tubuh Shania.
“Son, ini kita mau gimana ?” Stella mulai menyalakan mesin mobil.
“Kita lanjutin cari besok aja ci, sekarang kita urusin Shania dulu aja.” Kata Sonia, Stella mulai menginjak gas. Veranda masih mencemaskan adiknya.
“Bukankah kau ingat, aku memberimu waktu untuk mencari cincin itu !” Mulut Shania mengeluarkan suara, bukan suaranya.
“Waktu ?” Sonia berusaha mengingat-ingat percakapan dengan sosok itu.
‘Apa mau kamu ?’ ‘Aku hanya ingin meminta bantuanmu.’ ‘Katakan saja, tapi jangan sakiti kami.’ ‘Aku kehilangan cincinku karena kecelakaan itu, aku harus mengembalikannya, sebelum aku benar-benar pergi dari dunia ini, waktuku tinggal 3 hari lagi, kau harus menemukannya cincin itu.’
“Tapi, kau tak memberi tahuku kapan pastinya kau akan pergi.” Sonia teringat.
“Shaniaa...” Veranda bergumam menatap tubuh adiknya.
“Kau harus cepat menemukannya.” Tubuh Shania bergerak, matanya menatap tajam ke arah Sonia.
“I..iyaa, tapi kau juga harus menepati janjimu. Keluar dari tubuhnya atau kami tak akan menemukan cincin itu.!” Sonia mengancam, seketika tubuh Shania melemah, dan jatuh dalam dekapan Sonia.
“Shania.” Sonia yang terkaget ketika tubuh Shania melemas ke arahnya.
“Dek.!” Veranda memanggil adiknya. “Sonia, Shania nggak papa kan ?” cemas Veranda, Stella sesekali menengok di tengah kegiatannya mengendalikan mobil.
“Nggak papa ko Kak, dia Cuma kelelahan karena tubuhnya habis di pinjam.” Sonia menjelaskan seraya mengelus kening Shania yang ada di bahunya, menyibakkan rambut yang menutupi kening dan wajah lemah Shania, wajahnya penuh keringat meski AC dalam mobil Stella terasa sangat dingin. Dia pingsan di bahu kanan Sonia.
“Ci, kita cari mobil itu sekarang.” Kata Sonia.
“Son, tapi....”
“Ci, dia akan semakin menyakiti kita kalau kita terlambat menemukan cincin itu.” Jelas Sonia masih mengelus kepala Shania.
“Stell, tolong. Gue takut kalau dia masuk ke tubuh Shania lagi.” Kata Veranda memohon menggenggam tangan Stella yang bebas.
“Oke. Tapi dimana kita bisa nemuin mobil itu.” Kata Stella terus menjalankan mobilnya dengan tanpa tujuan yang jelas.
“Shaniaaa.” Panggil lirih Sonia menatap sebagian wajah Shania. Dia tak menghiraukan obrolan kedua kakaknya.
“Kita coba cari tahu aja di kantor polisi yang tadi siang.” Veranda lagi-lagi mengeluarkan pendapatnya yang langsung diiyakan Sonia. Shania mulai terusik dengan suara bising yang mengganggu telinganya, matanya perlahan terbuka, tertutup kembali, mengadaptasi matanya untuk bisa menerima visualisasi yang ada.
“Kita harus nemuin cincin itu malam ini juga ci.” Sonia berkata, dia merasakan pergerakan di bahu kanannya.
“Shan..” Shania mulai menegakkan kepalanya. Berat tapi ia paksa untuk bisa menegakkan kepalanya.
“Gue kenapa Son ?” Tanya Shania masih lemah.
“Nggak papa ko. Mungkin loe kecapean aja.” Bohong Sonia, dia tak tau harus bagaimana menjawab jawaban sebenarnya.
“Dek, kamu nggak papa ?” Veranda menatap khawatir pada Shania, yang ditatap hanya menggelengkan pelan kepalanya.
“Syukurlah.” Veranda mengehelakan nafasnya yang sempat terasa berat.
“Kita mau kemana Son.” Ucap Shania memperhatikan jalanan.
“Kita masih mau cari cincin itu Shan.” Jawab Sonia terang-terangan. Shania terdiam sebentar ‘cincin?’ batinnya.
“Son, bukannya tadi kita lagi di rumah dia.?” Shania teringat.
“I..iya, tadi kita di rumah dia, terus karena nggak ada orang, jadi kita mau balik lagi ke kantor polisi tadi.” Jawab Sonia menutupi.
“Sonia, tadi gue liat cewe itu lagi, di..dia keliatan marah sama gue, terus....” Shania menghentikan kalimatnya, membuat seisi mobil mengerungkan dahinya, menunggu kalimat Shania.
“Terus apa ?”
“Gue nggak inget apa-apa lagi, gue ngerasa sadar tapi gue nggak bisa ngapa-ngapain Son.” Kata Shania mengungkapkan kejadian tadi.

                Ntah apa sebenarnya mau nya sosok itu, dia ingin dibantu tapi menyakiti salah satu dari mereka, dia memaksa namun tak menepati janjinya. Bukankah jika Sonia tidak dapat melihatnya, dia tak dapat tertolong. Ntah sejak kapan, Sonia akhirnya semakin bisa berkomunikasi dengan makhluk yang berbeda alam dengannya, rasa takut pada sosok dengan wajah menyeramkan itu telah luntur, makhluk-makhluk lain yang lebih menyeramkan kini bisa Sonia lihat begitu saja, dengan mata telanjang.
“Malam dek, ada yang bisa kami bantu.” Polisi berbeda kini menyambut 2 gadis yang sudah terlihat lelah.
“Mmm, kita mau tanya tentang........” Stella kini yang angkat bicara, menjelaskan maksud mereka dengan alibi mereka adalah saudara korban dan ingin mencari cincin peninggalan dari orang tuanya. Sinetron :’)
“Mobil bekas kecelakaan itu kami kumpulkan sebagai barang bukti, kalian bisa kesini lagi besok.” Jelas polisi yang usianya masih dibawah 30 itu.
“Tapi pak, kita butuh cincin itu sekarang. Dimana tempat itu ?” Tegas Sonia seperti lupa siapa yang ia ajak bicara. Stella yang di samping Sonia berusaha meraih tangan Sonia bermaksud mengisyaratkan untuk lebih tenang.
“Memang kenapa kalau kita kesana malam hari pak ? Bukankah sama saja ?” Stella yang lebih tenang berusaha merayu Polisi yang memiliki tampang cool itu.
“Bisa, tapi tidak semua orang bisa masuk tempat pengumpulan barang bukti begitu saja, harus ada izin yang jelas, dan tempat itu hanya buka ketika jam kerja saja.” Polisi itu menjelaskan dengan senyum ramahnya.
“Pak, apa kita tetap nggak bisa kesana sekarang ? kami benar-benar butuh cincin itu.” Stella
“Pak, kita.....” Ucapan Sonia terhenti karena merasakan getaran di tangan kanannya yang menggenggam handphone. “Kak Ve.” Lirihnya, dan kemudian mengangkat telefon dari Veranda.
“Ha..” Belum sempat Sonia menyelesaikan ucapannya, suara Veranda sudah terdengar di telinga kanannya yang ia tempeli handphone.
“Sonn aarrgghhtt, Son, Sha..Shaniaa Son.”
“Halo Kak..Kak Ve..”
“Arrghht, Dek, sakiiit.! Arrggh..” Sonia tanggap, dia memutuskan sambungan dengan Veranda kemudian bediri. “Son, Ve kenapa ?” Stella menghentikan gerak tubuh Sonia.
“Nggak bisa aku jelasin disini.” Dia kemudian berlari keluar ruangan. Stella mengikuti Sonia, Polisi tadi yang penasaran pun ikut berlari mengikuti Sonia.


“Shan...” Suara Veranda begitu lemah dalam cengkraman tangan Shania yang mencekik lehernya.
“Cepat cari cincin itu bo**doh.!” Suara asing itu kembali keluar dari mulut Shania. Veranda dan Shania sedang ada di mobil, mereka sengaja tak ikut masuk, Shania yang memang masih lemah, dan Veranda ingin menemani adiknya.
“Hey.!!” Sonia masuk ke dalam mobil dan menarik tubuh Shania. Posisinya, Shania mencekik Veranda dari belakang seat yang Veranda duduki.
“Keluar.!!” Sonia menarik tubuh Shania dari samping.  Shania di tatap tajam mata yang ada dibalik kelopak mata Shania. “Shan, sadarlah.!!” Teriak Sonia, tepat di  depan wajah Shania. Stella dan Polisi itu telah sampai di depan mobil, Stella menemui Veranda yang lemas di tempatnya, dibuka pintu mobil dan diceknya keadaan Veranda, memasukkan sebagian tubuhnya ke dalam mobil. Sedangkan Polisi itu hanya menyaksikan Shania dan Sonia yang tengah bicara lantang.
“Cepat cari cincin itu.!” Sosok itu mengeluarkan suaranya dari tubuh Shania.
“Sabarlah.! Bukan ini caramu buat maksa kita cepat menemukan cincin itu.!” Sonia kembali berteriak.
“...”
“Shan, lawan dia.!” Kata Sonia menggoyangkan tubuh Shania.
“Ve, loe nggak papa ?” Stella mengangkat kepala Veranda yang menunduk lemah. Dia menggeleng pelan mengelus leher bekas cekikan tangan Shania.
“Kita harus cepat menemukan cincin itu Stell.” Suara Veranda masih lemah.
“Iya iya.” Stella mengeluarkan tubuhnya, “Pak, saya mohon, tunjukan kami tempat mobil itu diamankan.” Kata Stella cepat, panik, takut jadi satu.
“Aku tak akan keluar sebelum cincin itu di temukan.!” Jawab Shania dengan nada masih tinggi.
“Hah ??” Sonia tak tau lagi harus menjawab apa.
“Pak, ayolah.” Stella kembali memohon karena Polisi itu atak kunjung memberikan jawaban, hanya diam memperhatikan Shania, kemudian menatap Stella, kembali ke Shania dan kembali ke Stella.
“Oke,ta...”
“Nha, ayo pak, naik mobil saya saja.” Stella memotong ucapan Polisi itu, kemudian dia mengambil tempat di belakang, sebelah Shania yang masih belum jadi Shania (?)
“Cepattt.!” Shania berteriak, Stella yang baru saja menempatkan tubuhnya di sebelah Shania terkaget.
“I..Iya, tapi tenanglah.!” Sonia menjawabi.
“Pak.! Tunggu apa lagi ?” Stella melongokan kepalanya lewat jendela, karena ternyata polisi itu masih dalam posisinya tadi. Seketika polisi itu tersadar oleh suara cempreng Stella, untuk kemudian berlari kecil menuju tempat kendali mobil. Sosok itu masih ada dalam tubuh Shania, sedangkan tubuh Shania terlihat duduk tenang diantara Stella dan Sonia, menatap tajam ke depan, keluar kaca jendela, atau sepertinya tatapannya kosong.
“Son, gue....” Stella hendak mengutarakan rasa takutnya
“Nggak papa ci.” kata Sonia yang sudah tahu maksud kakaknya, Veranda yang ada di seat depan hanya memandangi tubuh Shania yang tengah di pinjam sosok yang sedang ia bantu.



“Kalian tunggu di sini.” Polisi itu kemudian masuk ke salah satu ruangan dan terlihat berbincang serius dengan petugas yang disana. Mereka tengah ada di ntah ruangan apa, Veranda menggandeng lengan Stella, Sonia berada di samping Shania yang masih dalam keadaan seperti tadi. sebenarnya Veranda ingin menggandeng Shania, melindunginya, tapi berkat bujukan Sonia, dan janjinya akan menjaga Shania akhirnya Veranda mempercayakan tubuh Shania pada Sonia.
“Shania.!” Sonia menyadari Shania berjalan menjauhi mereka bertiga.
“Shania, tunggu sebentar.” Ucap Stella mengikuti Sonia. Veranda melongok ke ruangan yang di masuki Polisi tadi. Sedangkan Sonia mengejar Shania.
“Pak, cepetan.” Veranda bergumam. “ Stell, Shania mau kemana?” Veranda bergetar mengucapkan kalimatnya.
“Dia masih dalam pengaruh sosok itu Ve, dia...”
“Gue harus kejar dia.” Veranda melepas gandengan tangannya kemudian berlari ke arah Sonia dan Shania berjalan.
“Ve..!” Seru Stella, dia masih berdiri di tempatnya. “Duh, ini gue nungguin Polisinya atau ngejar mereka ya ?” Tanya Stella, melihat ke arah Veranda menghilang, kemudian ruangan tadi, kembali ke arah Ve lagi, “Arghtt,  kenapa jadi gini sih.” Kesal Stella, mengginggit bibir bawahnya cemas.
“Kemana teman-teman mu.?” Kata Polisi tadi sukses membuat Stella yang dalam keadaaan ketakutan terperanjat.
“Hah ? Emm, mereka ke arah sana Pak.” Jawab Stella menunjuk ke arah yang tadi Veranda berlari.
“Kenapa mereka tau tempat itu ?” Polisi tadi nampak heran, Stella mengangkat kedua bahunya, seolah berkata ‘mana gue tau.’



“Shania. Berhenti.!” Seru Sonia berhasil mengejar Shania dan berdiri tepat di hadapan Shania. Tatapan tajam dari mata yang bukan milik Shania menusuk mata Sonia.
“Shania, lawan dia. Gue tau loe kuat.! Lawan dia.!!” Teriak Sonia, ‘Sonia, gue kenapa ? Son tolongin gue.’ Batin Shania, terdengar dalam batin Sonia.
“Lawan dia.!! Lawannn.!!” Kata Sonia berusaha menyadarkan.
“Arrgghhht,..!” Shania mendorong tubuh Sonia, menyingkirkannya kemudian berjalan menuju tempat yang ia maksud.
“Aw...” ‘Son, gu..gueee beron..takk...taa..tapiii susaahhhh Sonn.’ Suara batin Shania masih saja Sonia dengar dalam posisi duduknya (kan tadi jatuh di dorong Shania)
“Dek, mana Shanianya ?” Veranda sudah sampai di tempat Sonia terjatuh.
“Dia, kesana kak.” Sonia menunjuk ke arah Shania yang berjalan, tidak terlalu terlihat karena keadaan gelap.
“Kak Ve kejar dia, sadarkan dia kak.” Kata Sonia, Veranda langsung mengejar Shania.
“Shania, loe bisa Shan.” Kata Sonia, berusaha menyemangati Shania dari tempat seraya berusaha bangun.


“Dek .” Veranda berdiri tak jauh dari Shania yang berdiri tepat di depan pintu tertutup.
“Gue bukan Shania. Buka pintu ini cepat.!!” Shania menabrakkan dirinya ke pintu itu. ‘Kak Ve! Tolong aku Kak. Sakit, argghht..’
“Dek, jangan lakuin itu, itu Cuma nyakitin tubuh kamu, dek.” Veranda masih berdiri di tempatnya, Sonia datang dan berhenti di tempat Veranda. ‘Kak Ve, ini bukan aku yang ngelakuin. Kak ini sakit, sa.sakit kak..argghtt.’
“Stop.!!” Sonia berusaha menghentikan sosok itu yang terus menabrakkan tubuh Shania ke pintu itu.
“Buka pintu ini cepaat.!!” Sonia bereaksi mendekat ke pintu itu dan berusaha membukanya, terkunci.!
“Gimana dek ?” Veranda ada di belakang Sonia.
“Kekunci kak.” Jawab Sonia. ‘Arrghhhtt Sakittt....So..nia,..tolong gu..gue.’ Suara batin Shania masih didengar jelas di otak Sonia, kini diikut rintihan tangisannya.
“Hentikan menyakiti tubuh dia.!!” Sonia masih berusaha menghentikan sosok itu, dia tak tega mendengarkan suara batin Shania yang terdengar sangat tersiksa.
“Ve.!” Stella datang dengan polisi itu.
“Stella, cepat buka pintu ini.” Suara Veranda panik.
“Pak, buka pintu ini cepat.” Stella meminta dan langsung dituruti.
“Shan, lawan dia shan.! Loe pasti bisa.!” Sonia masih meneriaki Shania, yang masih meminta tolong padanya.
“Itu mobilnya.” Kata polisi itu ketika berhasil membuka pintu itu. Sonia menengok ke arah mobil itu.
“Arrgghtt.” Kembali Sonia merasakan sesuatu berputar dikepalanya.
“Son.!” Stella segera menopang tubuh Sonia yang hendak terjatuh. Tubuh Shania terhenti, dia membelalakkan matanya melihat mobil yang ada didepannya.
“Kak...cee...gah Shania ma..suuk.” Kata-kata itu meluncur dari mulut Sonia yang masih memejamkan matanya.
“Sonia loe kenapa ?” Stella masih menopang Sonia, dia mengangkat kepala Sonia. Veranda menuruti perintah Sonia, ditariknya tubuh Shania menjauh dari pintu itu. Berontak.! Tubuh Shania memberontak.
“Shania.! Sadarlah,.!!” Ucap Veranda berusaha menahan tubuh adiknya. “Dek, lawan dia dek. Ini Kak Ve, ini kakak.” Veranda menggenggam kedua tangan Shania yang terus mencoba melepaskannya dari tangan Veranda.
“Ci, cepat cari cincin itu.” Bayangan itu muncul lagi di otak Sonia, dari awal ia bertemu dengan wanita itu, kecelakaan, hingga sekarang, berputar terus beputar, hingga kepala Sonia terasa berat.
“Ta...tapi dimana ??” Stella dipenuhi rasa takut, panik, cemas, heran, bingung, campur aduk.
“Di..da...laam mob..mobill ituu..cepaatt arrgghtt.” Kata Sonia masih berusaha melepaskan dirinya dari bayangan-bayangan itu. Stella mendudukan Sonia, untuk kemudian masuk ke ruangan itu dan masuk ke dalam mobil, polisi itu ikut membantu Stella mencari cincin di mobil yang telah tak berbentuk itu, dengan bekal senter yang polisi itu kebetulan bawa.
“Shania.! Ini Kak Ve, lawan dia, kuatkan diri kamu. Kak Ve yakin kamu bisa, dek. Kakak akan bantu kamu, ayo lawan dia.” Veranda masih menguatkan adiknya, dia masih menggenggam tangan adiknya.

“Ci, cepattt.” Sonia masih berusaha menahan beratnya kepalanya, berputar-putar terus bayangan itu dikepalanya yang semakin lama semakin menyakitkan.
“Dimana Son, disini gelap.!”
“Cin..cinn i..tu jaaa...tuuhh waa..ktu mereka ber..tengkar..di daa..lam mobil..arrghht.” Sonia begitu terbata mengeluarkan kalimat itu yang tanpa sadar matanya telah ditembusi air dari balik retina matanya.

“Arrrgghhtt.” Sosok yang ada dalam tubuh Shania berteriak. ‘Kak, tolong Shania Kak, sakit.’
“Dek, kamu bisa.!” Veranda meletakkan kedua tangan Shania dia dadanya. ‘Keluar dari tubuhkuuu.!’ Batin Shania.
“Kaakkk.” Suara Shania terdengar oleh telinga Ve. “Aaaarrrgghhtt.” Namun suara itu kembali berubah, hingga ntah kenapa ujung mata Shania mengeluarkan cairan bening.
“Shaniaa.” Veranda yang menyadarinya segera mendekap tubuh Shania, tak perduli kalau-kalau dia akan kembali di sakiti sosok itu seperti kejadian sebelumnya, tak perduli juga siapa yang menangis sebenarnya, sosok itukah, atau bahkan Shania ?

“Pak, sorot senternya ke araah sini.” Pinta Stella, yang langsung dilakukan Polisi itu yang terlihat ikut cemas.”Itu dia.!” Stella berseru dari dalam mobil yang sudah ringsek itu.
“Arrggghhtt.” Shania dan Sonia berteriak secara bersamaan, kali ini benar-benar suara Shania, dia berhasil mengalahkan sosok itu, dan Sonia terlepas dari bayangan-bayangan kecelakaan.
Tubuh Shania yang lemah kini menggelayut di tubuh Ve, Sonia melemah dan bersandar di tembok ruangan samping pintu yang tadi ia akan buka.
“Dek, bilang sama Kak Ve, kamu nggak papa.” Veranda berucap dalam posisinya mendekap tubuh Shania yang lemah di pelukannya.
“Dekk..” Veranda berusaha memanggil adiknya,
“Iya Kak.” Suara lemah Shania akhirnya terdengar juga di telinganya.
“Syukurlah.” Veranda semakin mempererat pelukannya.


“Sonia. Loe nggak papa kan ?” Stella yang telah menemukan cincin itu segera menghampiri Sonia dan berjongkok di depan adiknya
“Son, loe sadar kan ?” Stella meletakan kedua tangannya di dagu Sonia, kemudian mengangkat kepala Sonia, pucat dan air mata yang ia dapat.
“Soniaa, sadarlah. Cincin itu udah ada di tangan gue.” Nada bicara Stella bergetar, menunjukkan cincin yang ada dalam genggamannya. Tanpa sadar dia begitu mengkhawatirkan adiknya yang selama ini jarang ia perhatikan.
“Aku nggak papa ko ci.” Sonia berucap dalam nada lemahnya, dia berusaha membuka matanya.
“Wajah loe pucat.” Kata Stella memperhatikan wajah adiknya.
“Kita harus kembalikan cincin itu ke keluarga dia Ci.” Kata Sonia berhasil membuka matanya meski tak begitu lebar.
“Tapi loe.....” Stella menggenggam tangan Sonia.
“Cincin itu harus cepat dikembalikan sebelum dia kembali ke alamnya ci.” Masih dengan nada lemahnya Sonia berbicara pada Kakaknya.
“Stell, Sonia nggak papa kan?” Veranda memapah Shania yang sadar tapi belum mampu menahan berat tubuhnya sendiri.
“Aku nggak papa kak, bawa Shania ke mobil sekarang.” Sonia menjawabi Veranda, Stella memperhatikan Shania yang menyandarkan kepalanya di bahu Veranda, dengan tangannya melingkar di pinggang Veranda.
“Ayo Stell, bawa Sonia juga ke mobil.” Kata Veranda memerintah, Stella segera membantu Sonia yang hendak berdiri dalam kelemahan keadaannya.
“Biar saya bantu mbak.” Polisi itu sigap menggantikan posisi Stella merangkul tubuh mungil Sonia.
“Makasih pak.” Stella menatap iba pada adiknya yang seolah tak berdaya.
“Oh ya, ini kunci gudangnya, bisa tolong tutup kembali.?” Stella menerima kunci itu dan segera mengunci pintu gudang yang baru saja ia masuki dalam keadaan gelap. Veranda telah berjalan lebih dulu, disusul Sonia yang dipapah Polisi itu dan diikuti Stella di belakang.

                Misi mereka mencari sebuah cincin yang dimaksud sosok itu akhirnya selesai. Mereka berhasil menemukannya dan kini telah berada dalam genggaman tangan Stella. Dengan pertaruhan nyawa, pengorbanan rasa sakit, dan penyewaan tubuh (?) kini permintaan 1 sosok itu telah berhasil terselesaikan, sekarang tinggal bagaimana mereka akan mengembalikan cincin itu ke.....ke keluarganya mungkin.


“Udah jam 10 malem.” Kata Stella menyalakan mesin mobilnya, Sonia ada di seat depan, sedangkan Veranda menemani Shania di belakang yang masih menyandarkan tubuhnya di tubuh Veranda. Polisi itu di tinggal disana, dia sendiri yang meminta.
“Kita tetep harus balikin cincin itu malem ini juga ci.” Sonia mulai kembali bertenaga.
“Tapi apa nggak kemaleman Son ? Kita mau ke rumahnya ?” Kata Stella mengenggenggam setir kendali.
“Iyalah ci, udah ayo buruan kita ke rumah yang tadi siang.” Sonia mulai tak sabar. Stella segera menginjak gas dan meluncur, ke rumah perempuan itu. Sonia menatap Shania.
“Shan, loe sadar kan ?” Sonia mencemaskan keadaan Shania yang sedari tadi masih lemas. Yang ditanya hanya menganggukan kepalanya pelan.
“Dek, Shania nggak papa kan ?” Veranda melempar pertanyaan itu ke Sonia.
“Aku rasa dia nggak papa, Cuma kecapean aja. Tubuh yang abis dipinjem sosok gaib itu akan terasa sakit, cape, ya gitulah kak.” Sonia menjelaskan tentang sedikit yang ia tau, tanpa ia sadari, ia sudah mulai banyak tau tentang dunia yang jelas berbeda dengannya, tapi sampai saat ini dia sendiri belum tau kenapa dia bisa melakukan itu semua.
“Loe sendiri tadi kenapa ??” Stella berbicara dengan matanya yang fokus ke jalanan dengan kecepatan mobil yang tinggi.
“Tadi aku liat semuanya, liat semua yang dialami perempuan itu, dari mulai ketemu di parkiran, terus berantem di mobil sama tunangannya, sampe akhirnya tunangannya lepas kendali terus ditabrak mobil lain, cincin itu jatuh di mobil pas kecelakaan, sampe dia datengin aku, bolak-balik ke rumah, waktu dia masuk ke tubuh Shania, bagaimana marahnya dia sama omongan-omongan Shania dan...”
“Dek, ko kamu bisa ngeliat itu semua ?” Veranda heran dengan pernyataan yang dibuat Sonia.
“Ak....”
“Sonia itu punya kelebihan yang diturunin dari kakek kita, dia bisa ngeliat apa yang akan terjadi pada seseorang, dia bisa ngeliat hal gaib, dan semua yang berbau mistis.” Jelas Stella akhirnya, Sonia terdiam mendengar penjelasan Stella yang selama ini tak pernah ia dengar.
“Jadi, Ci Stella tau kenapa aku bisa ngelakuin itu semua, sampe tadi aku ngeliat bayangan-bayangan itu, ci stella tau kenapa ?” Sonia merasa dibohongi kakaknya sendiri, sedang Stella hanya mengangguk mengiyakan.
“Aku mau semua ini ilang dari tubuh aku ci.” Kata Sonia tegas namun begitu terasa enteng untuk hal seperti ini.
“Son, itu nggak segampang yang loe pikir. Itu keturunan dari Kakek, yang gue pun nggak tau kenapa loe yang dapet.” Stella memelankan laju mobilnya, dia merasa kadar emosinya naik beberapa derajat dari sebelumnya.
“Tapi ci, aku kesiksa punya kaya gini. Bahkan tadi aku harus mati-matian ngelawan bayangan-bayangan itu, itu nggak segampang yang kalian pikir, itu sakit.! Kepala aku sakit.! ” Ungkap Sonia.
“Son, gue tau itu berat.! Gue tau itu menyeramkan, tapi...”
“Tapi ci stella, nggak tau gimana rasanya jadi aku.!” Sonia menyerobot ucapan Stella.
“Dek, itu kelebihan yang kamu punya. Kamu mau nggak mau harus bisa terima apa yang kakek kamu turunkan ke kamu.” Veranda berusaha membesarkan hati Sonia.
“Tapi Kak....”
“Nggak semua orang bisa ngelakuin apa yang kamu lakuin, contohnya tadi kamu tau apa yang harus kita lakukan agar kita semua selamat, kamu tau gimana caranya nyadarin Shania. Kamu harus bangga, dek. Kakek kamu nitipin kelebihan itu di kamu karena dia tau, kamu orang yang pantas, dan kamu pasti mampu mengemban tanggung jawab itu” Sonia terdiam mencerna kalimat panjang Veranda, Stella tetap fokus dengan kendali mobilnya. ‘Son, loe harusnya seneng. Bahkan loe bisa denger suara batin gue tadi.’ Suara itu terdengar di telinga Sonia, diliriknya Shania yang tersenyum ke arahnya. ‘Tuh kan loe denger gue.’ Shania yang merasa di tatap Sonia melanjutkan kalimatnya dan melebarkan lagi senyumnya.
“Nggak lucu Shan.” Ceplos Sonia membuat Veranda dan Stella yang tak tau apa-apa melirik keduanya.
“Tuh kan kak, Sonia bisa denger kata batin Shania.” Kata Shania yang mulai bisa menegakkan tubuhnya.
“Maksudnya ?” Stella yang menimpali. ‘Jawab dong Son.’ Shania hanya tersenyum menghadap pada Sonia yang menatap keluar jendela.
“Shan ? maksudnya gimana ??” Shania tidak menjawab Stella yang begitu ingin tahu. Veranda diam mencerna kalimat adiknya. ‘Apa Sonia bisa baca pikiran Shania ?’ Suara lain Sonia dengar.
“Aku bukan bisa baca pikiran yah Kak, aku Cuma bisa denger apa yang kalian bicarain di dalam batin kalian.” Sonia bersuara menjawab batin Veranda. Veranda yang terkaget hanya diam dan menutup mulutnya.
“Serius Son loe bisa denger kata hati kita ?” Kata Stella mengulang.
“Iya, makanya jangan main-main sama aku.” Sonia malah mengancam.
“Eh udah sampe.” Veranda menyadari yang jelas setelah Stella.
“Ko rame sih ?” Shania memperhatikan dari dalam mobil.
“Iya. hari ini 7 hari kematian perempuan itu, di rumahnya baru selesai ada tahlilan gitu.” Kata Sonia bersiap turun dari mobil. Mereka mengangguk paham.
“Ayo ahh turun.” Sonia mendahului mereka keluar mobil.



“Permisi Pak, apa benar ini alamat rumah Shavella Tanumihardja ?” Tanya Stella sopan kepada laki-laki yang berdiri di depan pintu. Mereka mendapatkan nama itu dari kantor polisi ketika tadi siang mereka menanyakan tentang kecelakaan itu. Bapak-bapak itu terlihat heran menatap 4 gadis yang ada di hadapannya dengan tampang lusuh.
“Emm, Tahlilannya udah selesai ya Pak ?” Tanya Sonia basa basi.
“Iya, kalian siapanya Vella ?” Tanya bapak tadi.
“Oh Vella, iya kami temannya pak. Apa bapak, orang tuanya Kak Vella ?” Sonia yang mengajak bicara Bapak itu.
“Iya saya Ayahnya.” Jawabnya, pandangan Sonia beralih ke dalam ruangan, dilihatnya laki-laki yang tengah berjalan ke arah mereka.
“Kalian ?” Heran laki-laki itu begitu sampai di ambang pintu, tepatnya di belakang Ayah perempuan itu berdiri.
“Iya ini kita, kamu tunangannya Vella ?” Stella berusaha ramah.
“Iya, saya tunangannya Vella.” Jawab lelaki itu, wajahnya terlihat berbeda dengan perban yang melingkar di kepalanya.
“Ehm, Pak. Bisa kami berbicara dengan Mas nya ?” Tanya Sonia, maksudnya agar Bapak itu meninggalkan mereka.
“Oh iya, silahkan.” Kemudian Bapak itu masuk ke dalam rumahnya, mengerti kode yang di luncurkan Sonia.
“Ada apa ?” Lelaki itu berkata dengan nada dingin yang berusaha ia tutupi.
“Ehm, kami kesini sebenarnya mau bicara tentang Vella.” Kata Stella, Sonia menyerahkan masalah ini pada kakaknya.
“Mau apa ? Asal loe tau, loe yang buat Vella meninggal !” Kata lelaki itu melangkah menjauh dari mereka berempat, Stella mati kata dibuatnya. ‘Aku ? kenapa aku ? Bahkan setelah aku melakukan semua ini, dia menuduhku bahwa aku penyebab kematian Vella.’
“Ak...”
“Kita kesini mau nyampein amanat Kak Vella  sama kamu.” Kata Sonia mengambil alih posisi Stella yang kini dicegah Veranda untuk melangkah menghampiri orang yang telah menuduhnya.
“Tau apa loe tentang Vella yang udah kalian bikin mati ?” Dia membalikkan badan menghadap ke mereka berempat.
“Kita emang nggak tau apa-apa tentang tunangan kamu itu, kita kesini Cuma mau nyampein amanat Kak Vella yang ingin ngembaliin cincin ini.” Jelas Sonia yang diakhiri dengan  cincin yang ia tunjukkan ke depan mata laki-laki yang ia ajak bicara.
“Cincin ini ? Kenapa kali....” Diambilnya cincin itu diperhatikannya, memastikannya itu benar-benar cincin tunangannya.
“Loe nggak perlu tau gimana kita dapetin cincin itu.” Stella ambil suara. “Yang loe perlu tau, sikap loe sekarang itu sama sekali nggak ngerhagain kita yang berusaha nyari cincin itu sampe harus mertaruhin nyawa kita.” Lanjut Stella tegas, kemudian beranjak meninggalkan laki-laki itu dan teman temannya.
“Ci, Stell.!” Suara Sonia dan Veranda berbarengan mencegah Stella pergi, namun tak menghentikan langkah Stella. Hingga akhirnya mereka bertiga(Veranda, Shania, Sonia) memutuskan untuk mengejar Stella.
“Stella tunggu.!” Suara itu berhasil menghentikan langkah Stella, sosok itu berhasil meraih tangan Stella yang masih ada dalam halaman rumahnya.
“Hey, mau apa lagi ?” Kata Sonia yang menyadari kejadian yang dilihatnya. Stella membalikkan badan, namun tak ada yang dapat ia lihat kecuali teman-temannya yang masih berjarak lumayan jauh itu.
‘Aku tak akan lagi menyakiti mereka, tapi ijinkan mereka melihatku.’ Suara itu terdengar oleh Stella dan Sonia, namun tidak untuk Veranda dan Shania yang mematung di sebelah Sonia.
“Bagaimana caranya ?” Sonia menatap ke arah sebelah Stella. ‘Cukup genggam tangan mereka.’
“Ci, Kak, Shan, bisa genggam tangan aku ?” Kata Sonia menatap ketiganya bergantian.
“Mau apa Son ?” Shania belum begitu pulih keadaannya masih menggelayut di lengan Veranda.
“Dia mau bicara sama kita.” Jawab Sonia singkat.
“Nggak, nggak mau.! Gue takut Son.” Shania menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Veranda. ‘Sonia, tolonglah.’
“Dia, nggak seserem yang pernah loe liat Shan.” Sonia mencoba meyakinkan Shania.
‘Aku nggak akan tenang kalo aku belum bicara sama kalian.’
“Ayolah Shan, gue jamin dia nggak akan nyakiti loe lagi.” Sonia menyodorkan tangan kanannya, sedang yang kiri sudah ada dalam genggaman Stella. Veranda mengikuti Stella, dia meletakkan tangannya di tangan Sonia.
“Shan, ayolah...” Tangan kanan Sonia masih dalam posisi tadi. Shania terlihat berfikir, melirik Veranda sekilas, untuk meminta pendapat, yang dilirik hanya menganggukan kepalanya mantap. Kemudian Shania mulai menggerakkan tangannya dan kini tangan mereka telah bersatu.
‘Suruh mereka pejamkan mata. Kemudian yakinkan kamu agar kamu bisa mentransfer kekuatan kamu untuk mereka bisa melihatku.’
“Tutup mata kalian.” Kata Sonia menuruti perintah perempuan itu, pun dengannya. Beberapa detik mereka memejamkan mata mereka, kemudian Sonia mendahului membuka matanya, dilihatnya perempuan itu dengan gaun putihnya wajah cantik dengan cahaya dibelakangnya, sosok itu tersenyum ke arahnya, menandakan mereka boleh membuka mata mereka.
“Sekarang buka mata kalian.” Kata Sonia, serempak Veranda dan Stella membuka mata, untuk kemudian menyipitkan mata mereka kembali karena melihat sinar yang begitu menyilaukan mata.
“Wahh.” Mata Stella mulai bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di hadapannya, diikuti Veranda yang memasang wajah kagumnya menatap sosok yang selama ini dia rasa ada tapi tak pernah dilihatnya.
“Kak, apa dia serem ?” Tanya Shania yang masih memejamkan matanya, dan menyembunyikan wajahnya di bahu Veranda.
“Dia, cantik banget dek.” Kata Veranda mengagumi sosok yang didepannya. Shania yang mendengar jawaban kakaknya perlahan membuka matanya dan melirik ke arah yang mungkin bisa ia lihat ada seseorang.
“Haii..” Sosok itu menyapa mereka dengan senyumnya.
“Apa kamu Shavella yang selama ini....” Veranda tak melanjutkan kalimatnya, takjub dengan apa yang ada di depan matanya.
“Iya, aku Vella, Shavella yang selama ini mengganggu kalian.” Jawab Vella masih dengan senyumnya, senyum yang tak pernah Sonia lihat sejak ia bisa melihat Vella.
“Maksud aku menampakan diri depan kalian sekarang, karena aku ingin minta maaf, dan berterimakasih sama kalian.” Jelasnya, sedang yang diajak bicara hanya mendengarkan dengan pikirannya masing-masing, mereka masih saling menggenggam.
“Terutama Sonia yang selalu kupaksa untuk cepat-cepat menemukan cincin itu, terlebih dengan wajahku yang kutahu pasti sangat menyeramkan bagi anak semuranmu.” Vella menatap Sonia dengan tatapan menyesalnya, Veranda Stella dan Shania ikut menatap Sonia, kemudian kembali menatap Vella.
“Terus, Shania.” Vella mengalihkan pandangannya pada Shania, yang disebut namanya sedikit menundukkan wajahnya, risih mungkin. “Maaf aku selalu membuatmu ketakutan.” Shania mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap Vella. “Maaf juga karena aku menyakiti tubuh kamu. Aku pinjam tubuh kamu, karena waktu itu aku terlampau marah, aku marah gara-gara kata-kata kamu, gara-gara kamu mukul aku waktu aku pinjam tubuh Sonia, tapi itu emosi sesaatku, emosi karena aku terlampau marah ketika cincinku tak kunjung kalian temukan, aku terlampau marah karena kata-katamu yang seolah menyepelekanku, tapi pada akhirnya aku sadar, aku tau kamu Cuma terlalu malas menuhi permintaan seseorang yang udah mati kaya aku dan aku rasa ini memang hal konyol. Dan wajar saja kalau anak seumuranmu menolak permintaan konyolku ini.” Shania merasa bersalah pada Vella.
“Aku juga minta maaf, karena udah ngatain Kak Vella, maaf soal pukul...” Kata Shania berusaha melawan takutnya.
“Kamu nggak perlu minta maaf, bahkan aku yang harusnya minta maaf karena udah masuk ke tubuh kamu tanpa ijin, terlebih sampai keadaanmu seperti ini.” Senyum Tria begitu meneduhkan.
“Dan buat Stella, Maaf aku sempat ingin membunuhmu, aku kira aku mati karena pertengkaranku dengan Adyth (Tunangannya Vella) yang waktu itu lagi ngomongin kamu, tapi ternyata itu takdir aku buat mati, aku saja yang terlalu emosi dan menganggap kematianku ini adalah kesalahanmu, padahal kau begitu baik, begitu tulus membantu Sonia mencarikan cincinku.” Stella tersenyum mendengarkan kalimat demi kalimat yang disampaikan Vella untuknya.
“Dan veranda, maaf sempat mencekikmu hingga kau hampir kehabisan nafas, itu karena aku hanya ingin mencari perhatian kalian agar cepat menemukan cincin itu.” Sosok itu begitu jelas menyampaikan isi hatinya.
“....”
“Son, maafkan aku. Karena aku telah menjatuhkan permintaanku sama kamu. Itu bukan karena kamu yang terlambat memberi tahu kematianku, tapi karena Cuma kamu yang bisa liat aku. Berhenti menyalahkkan diri kamu sendiri, kamu hanya salah satu anak yang di beri kelebihan melihat masa depan, bukan untuk mencegah kematian, dan kamu jangan pernah menyesal punya kelebihan itu, karena itu akan menolong orang-orang di sekitarmu. Kaya kamu yang udah nolongin aku, dan kamu yang nolong Shania dari jeratanku.” Vella menatap Sonia begitu lembut, bak menatap adiknya sendiri, tak seperti sebelum-sebelumnya.
“Oh ya, maafkan Adyth juga atas kalimatnya tadi.” Tatapannya beralih pada Stella. “Kau tak perlu sakit hati. Karena memang begitulah sikapnya. Kecelakaan itu emang kejadian sesaat setelah aku ngomongin kamu, tapi itu bukan karena kamu, itu semua karena aku yang terlalu cemburu sama mantan Adyth.” Sepersekian detik suasana hening, Vella terlihat meneteskan air matanya.
“Terimakasih, terimakasih buat semuanya, terimakasih buat semua usaha kalian yang telah kalian curahkan untuk mencari cincin aku, cincin orang yang udah mati sepertiku.”
“Terimakasih buat waktu yang kalian buang buat nyari cincin aku, terimakasih kalian yang udah meladeni permintaan konyolku.”
“Terimakasih karena kalian, aku akan tenang di alamku kelak, aku tak akan pernah melupakan jasa kalian, dan aku akan mengawasi kalian dari tempatku. Aku janji akan menjaga kalian.” Vella memberi jeda untuk kalimat berikutnya. “Kalian yang tak pernah ku kenal sebelumnya di dunia nyataku.” Lanjutnya di tutup senyuman yang begitu lembut.
“Kami juga tak akan pernah melupakanmu.” Ucap Sonia, tanpa sadar matanya mengeluarkan cairan bening, terharu :’)
“Jika aku boleh meminta, maka aku akan meminta untuk mengulang hidupku untuk mengenal kalian, lebih dekat lagi dengan orang-orang sebaik kalian. Jujur saja aku iri dengan persahabatan kalian, berbeda-beda tapi tetap akur.” Vella menatap mereka dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Aku akan meminta pada Tuhan untuk terus menjaga persahabatan kalian.” Tutupnya masih dengan senyum lembut.
“Terimakasih :)” Jawab Veranda mewakili.
“ Waktuku telah benar-benar habis.....Aku harus cepat kembali ke alamku. Aku pamit, jaga selalu hubungan kalian, jangan sampai salah satu dari kalian ada yang terluka. Terimakasih atas semuanya.” Kemudian sinar itu perlahan meredup, semakin meredup dan akhirnya hilang bersama hilangnya Vella dari pandangan mereka :’)
“Kak Vella. Makasih ya udah bikin ci stella perhatian sama aku.!” Teriak Sonia. Veranda dan Shania tertawa ringkih, sementara Stella salah tingkah, tersenyum tak karuan.

-End-