Aku
berlari, menghabiskan garis pantai di tepian laut ini.
Aku berlari
berharap aku meninggalkan kesedihan yang kamu tinggalkan untukku.
Aku,
berlari secepat mungkin demi aku terlepas dari kenyataan bahwa kamu akan pergi.
Namun
sayangnya, tak perduli sejauh apapun garis pantai yang kuhabiskan, tak perduli
secepat apapun aku berlari, keadaannya tetap sama. Sakit itu masih terasa. Dan
kamu tetap akan pergi.!
Aku
mengurangi kecepatan, tenagaku untuk berlari terpecah karena tangis yang mulai
tak bisa aku tahan, dadaku terasa sakit atas setiap tetesan air mata yang
terjatuh, menyatu dengan air laut. Hingga akhirnya aku benar-benar berhenti,
demi tak membiarkan tubuh ini menyatu dengan pasir pantai, dadaku benar-benar
terasa sesak, jantungku sudah berdetak terlalu cepat setelah aku paksakan untuk
berlari sejauh ini.
Aku tertunduk,
berdiri di garis pantai, diantara biru laut dan putihnya pasir pantai. Aku memejamkan
mataku, menikmati setiap sakit yang beradu di dadaku, menikmati perihnya lubang
luka atas keputusanmu untuk pergi. Menutup mata dari rasa takut yang
membayangi, takut dengan masa setelah kamu tidak di sini, tidak denganku. “Kita
tidak akan benar-benar berpisah, Jurina.” Katamu, selalu setiap saat aku
menyampaikan rasa takutku padamu. Kamu selalu tersenyum dihadapanku dan aku
selalu menangis setiap senyuman yang kamu perlihatkan diantara kekhawatiranku. Ntah
kenapa, sejak hari dimana kamu benar-benar mengumumkannya, senyummu terasa
selalu membuat perih di dada ini. Aku egois jika meminta kamu untuk tetap
tinggal, tapi jiwa ini terlalu butuh kamu di dekatku. Aku egois, aku berpikir
bahwa kita akan jauh ketika kamu meninggalkanku, karena kenyataannya, hanya dengan
kita disibukkan dengan aktifitas kita di tim yang berbeda saja sudah membuat
jarak di antara kita. Aku merasa kamu jauh, aku merasa kamu tak perduli lagi
dengan aku seiring aku yang bertumbuh dewasa. Aku egois, aku membayangkan
sulitnya kamu aku raih, jika kamu di luar sana. Ini yang aku takutkan, ketika
jarak di antara kita semakin jauh, lalu tanganku tak lagi bisa menggapaimu dan
kamu semakin tak perduli denganku. Aku takut, Rena.
Aku
menengadahkan kepalaku, menatap langit biru dihiasi awan-awan berbentuk bulu
domba lucu.
“Minumlah,
kau terlalu jauh berlari.” Suara itu dengan lembutnya menembus gendang
telingaku, mengirimkan pesan kepada otakku, lalu merespon dengan mata yang
kufokuskan pada kamu yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. Aku menerima minuman
yang kamu tawarkan, demi menutupi kegugupanku yang tak mampu berkata dihadapanmu.
“Kau
berlari terlalu cepat, bahkan aku tak bisa mengejarmu.” Katamu menatapku yang
masih memindahkan isi botol kedalam mulutku. Aku berhenti menelan, aku
kehilangan mood untuk meminum air.
“Untuk
apa kamu mengejarku ?” Kataku menepi ke pasir pantai yang kering untuk aku
singgahi agar aku bisa duduk. Kamu berbalik badan, menatapku sebentar lalu
duduk di sampingku.
“Untuk
berkata padamu bahwa kamu tak perlu melakukan itu.” Seperti biasa, kamu
mengatakannya dengan tenang dan seperti tau keadaanku. Aku menengok ke arah
tadi aku berlari. Jauh, orang-orang yang sedari tadi bersamaku terlihat kecil
saat ini. dan Rena mengejarku ke sini demi untuk mengatakan kalimat itu. Sekarang
aku dan Rena, berdua berada jauh dari orang-orang itu.
“Aku
hanya ingin berlari saja. Kau tak perlu khawatir.”
“Bohong.”
Katamu dengan cepat menyambar kalimatku.
“Tidak.”
“Lalu
bagaimana jika aku berkata. ‘Aku hanya ingin pergi saja, kau tak perlu khawatir’.
Apa kau akan tetap menangis seperti tadi.?” Lancarmu, kau senang sekali
berbicara seolah mematikanku. “Kau berlari hanya karena ingin melupakan sakitmu
kan ? Kau berlari dengan berharap aku tak jadi pergi kan ?” Tebakmu, aku
tertunduk. Meski tebakkanmu tak sepenuhnya benar, tapi itulah kamu, selalu bisa
mengerti rasaku. Aku merasakan hangat di kepalaku, aku tau itu berasal dari
sentuhan tanganmu. Kau selalu meletakkan tanganmu di kepalaku setiap saat aku
merasa takut, lalu menangis.
“Kau
tak perlu melakukan itu, Jurina. Karena aku akan tetap pergi dan sakitmu tak
akan begitu saja hilang hanya dengan kamu melupakan aku. Aku memang akan pergi,
tapi kita tidak akan benar-benar berpisah, aku akan tetap bisa menemuimu, dan
kamu tetap akan menemuiku kan ? Sejauh apapun jarak yang akan tercipta setelah
aku pergi, itu tak akan membuat kita terpisah, karena jiwa kita saling
membutuhkan. Aku akan tetap mencarimu dan kau pun akan menemukan aku. Kamu tak
perlu takut aku aku meninggalkanmu, karena aku akan selalu membawamu dalam
ingatanku.”

