“Maaf.”
Kata Taras merubah suasananya menjadi lebih serius, ketika akhirnya Aruna
mengalah dan menyadarkan tubuhnya lagi di sofa cafe, lalu menyamankan punggungnya
pada sandaran sofa. Aruna menatap luar cafe demi tak mau beradu tatap dengan
laki-laki dihadapannya.
“Kau
mengucapkan kata itu sudah berulang kali, tiga tahun lalu.” Kata Aruna,
pandangannya kosong menerawang bayangan dirinya di masa lalu melepas orang yang
sangat ia sayangi, pergi.
“Karena
aku tau, berkali aku mengucapkan maafpun, kau akan tetap pada dirimu seperti
ini, dingin.” Taras dengan seriusnya menjawabi pertanyaan Aruna yang masih
menatapi keadaan luar yang.....biasa saja.
“Lalu
kenapa kau masih terus meminta maaf.?” Masih tetap dengan posisinya ia
melemparkan kata yang membuat skak mat diperbincangan mereka.
“Karena
aku ingin menghangatkan lagi coklat yang telah mendingin.” Tegas Taras, Aruna
akhirnya mengalihkan tatapannya pada lelaki dihadapannya yang menatapnya dengan
sangat serius. Apa yang harus dia lakukan ketika lelaki yang biasa ia lihat
slengekan dengan berbagai tingkahnya, kini menatapnya serius namun begitu
meneduhkan, Taras yang sekarang memanglah berubah.
“Kenapa
kau harus repot-repot melakukan itu ?
Bukankah akan lebih mudah untuk memesan coklat hangat lagi yang baru. ?” Aruna
menatapi cangkir coklat baru yang baru saja diantar oleh pelayan, setelah
akhirnya Taras memesankan lagi untuknya.
“Untuk
apa aku memesannya lagi, kalau yang sudah mendingin bisa aku hangatkan lagi ?
Bahkan bisa tetap aku tenggak dalam keadaan
dingin.” Katanya mengambil cangkir coklat dingin lalu benar-benar
menenggaknya. Aruna hanya memperhatikan orang yang mulai bertingkah.
“Kau
mau ? Meskipun dingin, coklat ini masih terasa manis, dan tetap bisa dinikmati
lho.” Taras menatap Aruna dengan mata dan senyum penuh arti.
“Kenapa
keras kepalamu tak kunjung berubah, Taras.” Aruna mulai menyentuh cangkir
coklatnya untuk meminumnya, menikmati coklat hangat demi tak lagi ia biarkan
mendingin.
“Kalau aku tak keras kepala sedari dulu, aku tak
mungkin bisa duduk denganmu disini, bukan ? Mengenang tempat ini sebagai tempat
yang dulu sering kita datangi, tempat yang dulu sering kita gunakan untuk
menghabiskan waktu, tempat yang aku pertama ku kunjungi setelah tiga tahun tak
di Indonesia.” Aruna menghentikan kegiatannya dalam rangka memindahkan isi
cangkir ke dalam mulutnya. ‘Ternyata dia mengingatnya.’ Kalimat yang akhirnya
melintas dipikirannya.
“Kau ke Indonesia hanya untuk mendatangi cafe ini ?” Aruna
meletakkan cangkirnya, Taras menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Ya.” Katanya masih tersenyum menatapi Aruna.
“Selebihnya ?” Taras berhasil membalik keadaan, Aruna
menjadi begitu penasaran akan kedatangannya ke Indonesia. Ya memang begitulah
yang ia rencanakan.
“Aitakatta.” Singkat Taras mengedepankan tubuhnya,
meletakkan lengannya di meja cafe.
“Aku mengerti kau lama di Jepang, tapi bisakah kau mengerti,
aku tak mengerti bahasamu itu.” Aruna dengan malasnya menopangkan kepala di
tangannya dengan meja sebagai penyangganya.
“Aku ingin menemuimu. Aku rindu kamu, sungguh.!” Taras
menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Aruna menatapkan matanya pada mata
lelaki dihadapannya, dengan posisi yang hanya berbataskan meja dengan ukuran
kurang dari satu meter.
“Kau pasti bertemu banyak perempuan cantik di Jepang
sana.” Kata Aruna menatap Taras lebih dekat, yang ditanyai hanya menaikkan satu
alisnya, heran.
“Kau lebih pintar menggombal. Pasti karena kau sering
menggombali wanita-wanita Jepang kan ?.” Aruna mengakhiri kuncian tatapan mereka,
lalu menyamankan kembali punggungnya pada sofa empuk yang membuat pelanggan
betah berlama-lama di sini.
“Aku memang belajar dari perempuan-perempuan Jepang.
Tapi karena justru mereka yang menggombaliku.” Kata Taras ikut menyadarkan
tubuhnya.
“Apa kau masih sadar mengucapkan kalimat itu ?”
“Sangat sadar. Mereka benar-benar menggombaliku,
bahkan mengajakku berkencan.” Santai Taras bercerita tentang
perempuan-perempuan Jepang yang dulu ia impi-impikan.
“Jadi, sebegitu menyenangkannya ya tinggal di Jepang.?
Syukurlah.” Aruna membuang kembali pandangannya ke luar cafe.
“Tidak.” Jawab Taras cepat, Aruna melirik sebentar
pada lelaki yang juga sedang menatap ke luar cafe, langit sore sudah menggelap sedari
tadi. Pemandangan hujan di luar sudah berganti menjadi lampu-lampu dari
gedung-gedung dan mobil yang simpang siur di jalanan.
“Hidup di negara yang aku impikan ternyata tak
semenyenangkan yang aku bayangkan. Ternyata bahagiaku tak cukup hanya dengan
setiap waktu menemui idol grup yang kusukai itu, tak cukup hanya dengan
menghabis-habiskan uang untuk mendukung member kesayanganku demi keinginannya
menjadi nomor satu.” Cerita Taras, dia masih memandangi langit luar sama dengan
Aruna yang bertugas mendengarkan cerita Taras, yang pada akhirnya berbeda
alurnya.
“Idol grup dari akihabara itu memang sudah begitu
mudah aku temui, tapi akhirnya aku tersadar bahwa bahagiaku sesungguhnya bukan
di mereka.” Aruna mendengarkan cerita Taras baik-baik, bahkan kini ia menatap
wajah samping Taras demi menghayati setiap kalimat yang disampaikan.
“Aku akhirnya sadar, salah satu diri ini masih kosong
walaupun banyak rasa yang kudapat di sana.” Taras mengalihkan pandangannya pada
Aruna, yang ditatap menjadi salah tingkah.
“Dan bodohnya aku baru menyadari bahwa diri ini masih
memikirkan satu orang, walaupun sangat banyak orang yang aku temui.”
“Kau menyesal tinggal di sana ?” Tanya Aruna
pelan-pelan.
“Sedikit.” Taras memberi jeda pada jawabannya dengan
menghelakan nafas beratnya. “Karena ternyata, hidup tanpa orang yang kita
kasihi itu sulit. Ternyata bahagiaku memang hanyalah dengan berada di sini,
dengan orang yang aku sayangi. Jika boleh aku bandingkan, aku jauh lebih
bahagia, senang, nyaman, terharu, karena sekarang berada di sini beberapa jam
denganmu dibandingkan aku di Jepang selama tiga tahun. Aku baru tahu ternyata
jauh lebih membahagiakan bersama orang yang kita impikan dibandingkan berada di
tempat impian.” Taras benar-benar membuat alur perbincangannya menjadi sendu.
“Beberapa jam disini denganku ?” Ulang Aruna,
mendengar kalimat yang ganjil pada cerita yang Taras sampaikan.
“Ya.” Singkat Taras.
“Aku menunggumu di sini sejak seminggu lalu aku datang
ke Indonesia, tapi kau tak datang..aku justru takut kalau kau tak akan pernah
datang lagi ke tempat ini.” Kata Taras tanpa filterisasi. Aruna menatapi Taras
dengan datarnya.
“Aku menunggumu di sini sejak tiga tahun lalu kau
pergi ke jepang, tapi kau tak pernah datang, sampai aku mengira kau tak akan
pernah datang ke tempat ini lagi.” Lancar Aruna menirukan apa yang Taras
katakan, tanpa melepas tatapannya dari Taras dalam sekatapun.
“Tapi kau tak datang, selama seminggu ini, bukan ?”
Santai Taras, menatap santai Aruna yang menatapnya absurd.
“Ya.! Karena seminggu lalu aku menemukan pemandangan
tak enak di sekitar sini, saat hujan turun lalu ada orang yang kedinginan, dan
ada orang yang menghangatkan.” Aruna lancar memfilterisasi kalimatnya, Taras
tak langsung menjawab, dia meminum cangkir chococino nya yang keempat.
“Karena itu kau tak mau tak lagi ke sini ?” Kata Taras
yang sebelumnya menghelakan nafas beratnya. Dia paham dengan waktu yang
digambarkan Aruna. “Harusnya kau tak perlu cemburu. Kau tak perlu lari saat
hujan deras seperti itu. Kau tak perlu menyiksa diri dengan hal yang kau
simpulkan sendiri.” Taras menatap sendu Aruna, Aruna menunduk. Merasakan hal
yang dulu ia rasakan, namun tak pernah ia dapat lagi, tatapan hangat dari
Taras, dan kalimat-kalimat yang menggambarkan kasih sayangnya.
“Hmm, apa kau akan kembali ke Jepang lagi ?” Tanya
Aruna. Ia terbuai, ia ingin berlama-lama dengan Taras, ia ingin merasakan
kehangatan Taras lebih lama.
“Ya. Aku punya kewajiban di sana. Dan aku harus
berangkat secepatnya setelah urusanku di sini selesai.” Tegas Taras menyebalkan
bagi Aruna.
“Urusan ?” Aruna menatap agak sinis pada Taras, dia
sangat tak paham dengan orang dihadapannya saat ini. Aneh, tapi saat dia
mendengar bahwa Taras akan kembali ke Jepang, dadanya jadi sakit sekali.
“Mengurus surat resign dari tempat kerjamu, mengurus
pasport, meminta izin pada orang tuamu, lalu membawamu ke Jepang. Aku ingin
tinggal di tempat impianku bersama wanita yang ku impikan.”
“Aruna, aku tau tak mudah untukmu mempercayaiku lagi,
tapi bersediakah kamu mengijinkanku berjuang untukmu, sekali lagi ?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar