Kamis, 04 Juni 2015

Jangan Hari Ini



Terinspirasi dari lagunya Fileski, Jangan Hari Ini. Bisa di download dulu barang kali ingin membaca sambil mendengarkan lagunya :) Silahkan~~

“Hari ini aku ada lomba futsal, gimana kalo kamu dateng nonton aku futsal.?” || “Hari ini ? Jangan hari ini ya...”

“Sayang, hari ini ada film baru..kita nonton yukk ?” || “Aduh, hari ini aku ngga bisa sayang..jangan hari ini yaa..”

“Penulis favorit kamu ngeluarin buku terbarunya hari ini kan ? gimana kalo kita ke toko buku.” || “Kemaren aku habis dari toko buku, jangan hari ini ya ?”

“Gimana yaa..jangan hari ini ya sayang.”
“Hari ini aku ada urusan, jangan hari ini ya.”
“Kalo bikin janji jangan mendadak gini dong sayang, aku ngga bisa. Jangan hari ini ya?”
“Iya, tapi jangan hari ini ya..”
“Beneran deh aku hari ini ga bisa, jangan hari ini ya ?”

            Aku duduk di kursi di balkon kamarku, menikmati pemandangan sore ini. Benar, ini hari ke 55 sejak dia mulai sulit ditemui dan mulai sering mengucapkan ‘Jangan hari ini’. Lima puluh lima hari, bukankah itu tidak sebentar untuk aku tidak bertemu dengannya, untuk aku menahan siksaan rindu, untuk aku tak mengubah pikiranku, rasaku, dan untuk aku meyakinkan diri bahwa aku masih memilikinya. Salah jika aku mulai ragu pada dirinya yang sudah kumiliki hampir 3 tahun ini ? Meragukan alasan dibalik setiap kalimatnya.
Rasaku masih sama sejak kemarin, sejak dia tiba-tiba menghubungiku disaat  aku mulai bosan menunggunya, disaat rindu dan kesal telah saling beradu kekuatan, disaat aku mulai bosan menghitung ‘Jangan hari ini’ yang ia ucapkan.  Iya, aku mulai bosan menghubunginya dan hanya mendapat jawaban yang selalu sama kemudian berakhir pada sambungan yang ia putuskan terlebih dahulu. Dan ntah kenapa, dengan ajaibnya, disaat bosanku mencapai level teratas dia menghubungiku. Aku tak tau, tapi rasanya aku biasa saja melihat namanya tertera di layar ponselku, bahkan aku mendiamkannya selama beberapa saat, satu panggilan aku biarkan, panggilan kedua aku masih hanya mendengarkan deringan ponsel, ketiga aku mulai terganggu dengan deringannya, hingga sambungan keempatnya, akhirnya aku angkat.
“Halo...”
“Iya halo.”
“Ko angkat telfonnya lama sayang ?”
“Gapapa..”
“Kamu marah karena aku ga pernah bisa kalau kamu ajak ketemu ?”
“.....”
“Maaf ya sayang..gimana kalau besok kita ketemu. Aku janji besok aku bisa.”
“Hm ?”
“Ko hm sih sayang..besok aku tunggu di taman biasa jam 4 sore. Ada yang aku mau omongin...”
“........”
“Aku mohon, kali ini aja.”
“Iya.”
            Kemudian sambungan telefon terputus, harusnya aku senang bukan ? Ketika kemarin akhirnya dia mengajakku bertemu, menyudahi rindu yang menyiksa, tapi kenapa aku justru ragu untuk menemuinya ditaman itu. ‘Ada yang aku mau omongin.’ katanya....bukankah kalimat itu semakin menyiksaku, kalimat yang justru membuatku semakin ragu untuk menemuinya, enggan untuk mendengar apa yang ingin dia bicarakan, tak berani untuk menerima kenyataan dari yang apa yang ingin ia sampaikan. Aku menyayanginya, sungguh.! Aku belum siap jika saja kemungkinan terpahit itu keluar dari mulutnya, keluar dari balik ‘ada yang aku mau omongin’nya, demi apapun aku tak siap.
            Sudah setengah jam sejak aku duduk di balkon kamarku, masih menatap langit yang menenangkan, dan aku masih saja ragu untuk melangkah pergi untuk menemuinya. Apa iya dia akan datang sesuai perkataannya, apa dia ingin menemuiku karena dia juga merindukanku, bagaimana jika karena alasan lain, hanya karena ingin menyampaikan alasannya selama ini susah dihubungi, yang berujung pada jawaban keraguanku. Aku sungguh ingin tau itu..aku ingin mendengarnya, tapi aku tetap saja tak akan siap, meskipun aku telah menduganya sejak kemarin. Namun salah satu dari diri ini memberontak, bukankah jika aku diam saja di sini tak akan memberikanku jawaban atas pertanyaanku sendiri. Iya artinya, aku harus ke taman itu demi menemuinya, demi permintaannya, demi menuntaskan rinduku, iyaaa aku harus datang setidaknya demi mendengar kalimat dibalik ‘ada yang aku mau omongin’nya, ntah bagaimanapun nanti akhirnya. Aku harus tau apa yang ingin ia bicarakan, juga harus tau ada apa dibalik ‘Jangan hari ini..’ yang selalu ia ucapkan, ya aku harus tau itu.!
            Hanya beberapa menit untuk aku meraih jaket, mengenakan sepatu kets, lalu mengendarai motorku dan sampai di taman. Aku menghirup dalam-dalam udara taman sore ini, akhirnya aku menginjakkan kaki di tempat ini lagi, aku duduk di kursi yang terbuat dari batang pohon sederhana itu. Aku sudah bisa menebak, aku pasti akan datang lebih dulu sekalipun aku terlambat dari jam yang dijanjikan. Benar bukan, ini sudah lebih 15 menit dari jam yang ia minta ku untuk datang, tapi belum ada siapapun di sini. Ku sandarkan tubuhku di sandaran kursi, menengadahkan kepalaku menatap langit yang sama dengan saat aku menatapnya di balkon kamarku, teduh, tenang, damai. Aku memejamkan mataku demi menikmati suasana taman lebih tenang, namun hanya dengan satu pejaman pun, otakku serasa ditarik pada kenangan-kenangan bersamanya, bersama dia yang dulu begitu mudah aku temui, yang dulu begitu menenangkan aku dari kekacauan diriku, yang dulu membuatku serasa ingin bertemu dengannya setiap waktu demi menatap wajahnya yang benar-benar membuatku tenang. Menarikku pada ingatan-ingatan indah dengannya, tawa renyahnya, wajah kesalnya, wajah bahagianya, malu-malu, cemburu, kalau sudah seperti ini, rasanya aku tak akan siap dengan keputusan yang akan dia sampaikan hari ini, apalagi keputusan terpahit yang sudah kubayangkan sebelumnya.
“Sayang..” Terdengar jelas suaranya yang dengan lembut  menembus gendang telingaku, nafasku terhenti sesaat, ‘dia benar-benar datang’ batinku, aku masih dengan posisi yang sama seperti sebelum ia datang, masih memejamkan mata, terlihat tak bereaksi apapun atas panggilannya. Aku bisa merasakan dirinya yang tengah berada di belakang kursi yang kududuki. Aku menghela nafasku dan membuka perlahan. Aku belum melihat sosoknya, namun dia berpindah tempat ke depanku. Aku masih tak bereaksi atas kehadirannya, masih menyandarkan tubuhku dan menengadahkan kepalaku, tapi jujur mendengar suaranya yang langsung dari mulutnya aku merasa sedikit tenang.
“Maaf aku terlambat.” Lanjutnya, aku mengangkat kepalaku demi menghargai kedatangannya, tak begitu lama bukan, untuk aku mengubah posisiku agar duduk dalam posisi sewajarnya, sehingga tak butuh waktu lama juga untuk aku akhirnya menangkap visual dirinya yang tengah duduk di kursi roda, menatapku lemah, menyesal, ntah apalah itu arti tatapan matanya.
“Sayang kamu marah ? Maaf aku....” Kalimatnya sungguh tak dapat lagi aku cerna, aku seperti benar-benar tak bisa bernafas, dadaku sesak, duniaku serasa terhenti menatapnya duduk dengan lemahnya di kursi yang ia jalankan dengan rodanya dengan pakaian khas pasien rumah sakit rambutnya tergerai rapi, namun tidak dengan wajahnya, ia pucat.! Sungguh, aku seperti kehilangan kendali diriku.
“Sayang..” Panggilnya lagi, aku menelan ludah, memberanikan diri menatap mata sayunya,
“Aku ngga papa ko. Kamu ngga perlu pasang muka khawatir gitu.” Katanya lagi, sungguh jiwaku serasa runtuh melihatnya dalam keadaan seperti ini masih mampu tersenyum dan berkata ‘aku gapapa’.
“Kamu kenapa-kenapa. Aku tau pasti itu.” Ucapku tegas, dia lagi-lagi hanya tersenyum.
“Maaf yaa, aku bikin kamu kesel selama ini..” Katanya, hey siapa pula yang akan bisa marah jika tau orang yang paling kita kasihi sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Meskipun selama ini membuat kita kesal, selama ini membuat kita marah-marah, bahkan membuat kita tersiksa rindu.
“Ini alasan kamu selalu bilang jangan hari ini.? Aku ga akan maksa ketemu kamu kalau tau kamu kaya gini.” Aku berlutut di hadapannya, menggenggam tangan dinginnya.
“Aku mau kamu belajar tanpa aku..” Katanya menatapku lemah, apa pula maksud dia mengucapkan itu. Mau meninggalkan aku dengan keadaan seperti ini ?
“Kamu nggak boleh kemana-mana....” Itu yang bisa aku keluarkan dari mulutku, yang setidaknya dapat mewakili semua kata-kata yang sangat aku ingin ucapkan. Dia meletakkan tangannya dipipiku. Tatapannya berubah sendu. Sungguh ini pertama kalinya aku ditatap olehnya dengan tatapan seperti ini. Meskipun aku tau dia tak bisa, tapi aku ingin melihatnya dalam keadaan biasa saja, menatapku ceria, hangat, dan penuh rasa sayang.
“Ginjal aku rusak, sayang.” Katanya ‘Deg.!’ Jantungku serasa terhenti sesaat, aku menatapnya lebih dalam, aku benar-benar tak siap dengan kalimatnya yang satu ini.
“Hari ini aku mau ketemu kamu, Cuma mau pamit sama kamu.” Tutupnya, kemudian tertunduk lemah. Aku memeluknya tanpa jawaban lagi, aku tak tau harus bagaimana, aku sungguh tak ingin dia pergi meskipun dia sudah berpamitan padaku. Aku benci seseorang berpamitan, mengucapkan selamat tinggal, lalu aku ditinggalkan. Sungguh Stella, aku tak mau terpisah denganmu apalagi saat ini, hari ini, aku tak mau sayang. Aku sungguh masih ingin denganmu, memelukmu, melihat senyummu, mendengar suaramu , menatap wajahmu aku masih inginkan itu semua sayang. Aku mohon jangan hari ini, jangan hari ini kamu pergi, jangan hari ini kamu meninggalkan aku, mungkin kita akan berpisah selamanya tapi aku minta itu saja, aku minta ‘Jangan hari ini’ sekali ini saja darimu untukku. Bisakah kamu mengabulkan ‘Jangan hari ini’ku, bukankah aku selalu mengabulkan itu untukmu, kali ini saja..bisakah kamu mengabulkannya, sayang ?? Aku mohon, jangan hari ini kita berpisah, jangan hari ini kamu membiarkan aku terakhir kali melihat kamu, melihat senyummu, memelukmu, berada disampingmu..Jangan hari ini, aku mohon jangan hari ini sayang.
--End--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar