Terinspirasi dari lagunya Fileski, Jangan Hari Ini. Bisa di download dulu barang kali ingin membaca sambil mendengarkan lagunya :) Silahkan~~
“Hari ini aku ada lomba futsal,
gimana kalo kamu dateng nonton aku futsal.?” || “Hari ini ? Jangan hari ini
ya...”
“Sayang, hari ini ada film baru..kita
nonton yukk ?” || “Aduh, hari ini aku ngga bisa sayang..jangan hari ini yaa..”
“Penulis favorit kamu ngeluarin
buku terbarunya hari ini kan ? gimana kalo kita ke toko buku.” || “Kemaren aku
habis dari toko buku, jangan hari ini ya ?”
“Gimana yaa..jangan hari ini ya
sayang.”
“Hari ini aku ada urusan, jangan
hari ini ya.”
“Kalo bikin janji jangan mendadak
gini dong sayang, aku ngga bisa. Jangan hari ini ya?”
“Iya, tapi jangan hari ini ya..”
“Beneran deh aku hari ini ga bisa,
jangan hari ini ya ?”
Aku duduk di kursi di balkon
kamarku, menikmati pemandangan sore ini. Benar, ini hari ke 55 sejak dia mulai
sulit ditemui dan mulai sering mengucapkan ‘Jangan
hari ini’. Lima puluh lima hari, bukankah itu tidak sebentar untuk aku
tidak bertemu dengannya, untuk aku menahan siksaan rindu, untuk aku tak
mengubah pikiranku, rasaku, dan untuk aku meyakinkan diri bahwa aku masih
memilikinya. Salah jika aku mulai ragu pada dirinya yang sudah kumiliki hampir
3 tahun ini ? Meragukan alasan dibalik setiap kalimatnya.
Rasaku
masih sama sejak kemarin, sejak dia tiba-tiba menghubungiku disaat aku mulai bosan menunggunya, disaat rindu dan
kesal telah saling beradu kekuatan, disaat aku mulai bosan menghitung ‘Jangan
hari ini’ yang ia ucapkan. Iya, aku
mulai bosan menghubunginya dan hanya mendapat jawaban yang selalu sama kemudian
berakhir pada sambungan yang ia putuskan terlebih dahulu. Dan ntah kenapa, dengan
ajaibnya, disaat bosanku mencapai level teratas dia menghubungiku. Aku tak tau,
tapi rasanya aku biasa saja melihat namanya tertera di layar ponselku, bahkan
aku mendiamkannya selama beberapa saat, satu panggilan aku biarkan, panggilan
kedua aku masih hanya mendengarkan deringan ponsel, ketiga aku mulai terganggu
dengan deringannya, hingga sambungan keempatnya, akhirnya aku angkat.
“Halo...”
“Iya halo.”
“Ko angkat telfonnya lama sayang ?”
“Gapapa..”
“Kamu marah karena aku ga pernah
bisa kalau kamu ajak ketemu ?”
“.....”
“Maaf ya sayang..gimana kalau besok
kita ketemu. Aku janji besok aku bisa.”
“Hm ?”
“Ko hm sih sayang..besok aku tunggu
di taman biasa jam 4 sore. Ada yang aku mau omongin...”
“........”
“Aku mohon, kali ini aja.”
“Iya.”
Kemudian sambungan telefon terputus,
harusnya aku senang bukan ? Ketika kemarin akhirnya dia mengajakku bertemu,
menyudahi rindu yang menyiksa, tapi kenapa aku justru ragu untuk menemuinya
ditaman itu. ‘Ada yang aku mau omongin.’ katanya....bukankah
kalimat itu semakin menyiksaku, kalimat yang justru membuatku semakin ragu
untuk menemuinya, enggan untuk mendengar apa yang ingin dia bicarakan, tak
berani untuk menerima kenyataan dari yang apa yang ingin ia sampaikan. Aku
menyayanginya, sungguh.! Aku belum siap jika saja kemungkinan terpahit itu
keluar dari mulutnya, keluar dari balik ‘ada
yang aku mau omongin’nya, demi apapun aku tak siap.
Sudah setengah jam sejak aku duduk
di balkon kamarku, masih menatap langit yang menenangkan, dan aku masih saja
ragu untuk melangkah pergi untuk menemuinya. Apa iya dia akan datang sesuai
perkataannya, apa dia ingin menemuiku karena dia juga merindukanku, bagaimana
jika karena alasan lain, hanya karena ingin menyampaikan alasannya selama ini
susah dihubungi, yang berujung pada jawaban keraguanku. Aku sungguh ingin tau
itu..aku ingin mendengarnya, tapi aku tetap saja tak akan siap, meskipun aku
telah menduganya sejak kemarin. Namun salah satu dari diri ini memberontak, bukankah
jika aku diam saja di sini tak akan memberikanku jawaban atas pertanyaanku
sendiri. Iya artinya, aku harus ke taman itu demi menemuinya, demi
permintaannya, demi menuntaskan rinduku, iyaaa aku harus datang setidaknya demi
mendengar kalimat dibalik ‘ada yang aku
mau omongin’nya, ntah bagaimanapun nanti akhirnya. Aku harus tau apa yang
ingin ia bicarakan, juga harus tau ada apa dibalik ‘Jangan hari ini..’ yang selalu ia ucapkan, ya aku harus tau itu.!
Hanya beberapa menit untuk aku
meraih jaket, mengenakan sepatu kets, lalu mengendarai motorku dan sampai di
taman. Aku menghirup dalam-dalam udara taman sore ini, akhirnya aku
menginjakkan kaki di tempat ini lagi, aku duduk di kursi yang terbuat dari
batang pohon sederhana itu. Aku sudah bisa menebak, aku pasti akan datang lebih
dulu sekalipun aku terlambat dari jam yang dijanjikan. Benar bukan, ini sudah
lebih 15 menit dari jam yang ia minta ku untuk datang, tapi belum ada siapapun
di sini. Ku sandarkan tubuhku di sandaran kursi, menengadahkan kepalaku menatap
langit yang sama dengan saat aku menatapnya di balkon kamarku, teduh, tenang,
damai. Aku memejamkan mataku demi menikmati suasana taman lebih tenang, namun
hanya dengan satu pejaman pun, otakku serasa ditarik pada kenangan-kenangan
bersamanya, bersama dia yang dulu begitu mudah aku temui, yang dulu begitu
menenangkan aku dari kekacauan diriku, yang dulu membuatku serasa ingin bertemu
dengannya setiap waktu demi menatap wajahnya yang benar-benar membuatku tenang.
Menarikku pada ingatan-ingatan indah dengannya, tawa renyahnya, wajah kesalnya,
wajah bahagianya, malu-malu, cemburu, kalau sudah seperti ini, rasanya aku tak
akan siap dengan keputusan yang akan dia sampaikan hari ini, apalagi keputusan
terpahit yang sudah kubayangkan sebelumnya.
“Sayang..”
Terdengar jelas suaranya yang dengan lembut
menembus gendang telingaku, nafasku terhenti sesaat, ‘dia benar-benar
datang’ batinku, aku masih dengan posisi yang sama seperti sebelum ia datang,
masih memejamkan mata, terlihat tak bereaksi apapun atas panggilannya. Aku bisa
merasakan dirinya yang tengah berada di belakang kursi yang kududuki. Aku
menghela nafasku dan membuka perlahan. Aku belum melihat sosoknya, namun dia
berpindah tempat ke depanku. Aku masih tak bereaksi atas kehadirannya, masih
menyandarkan tubuhku dan menengadahkan kepalaku, tapi jujur mendengar suaranya
yang langsung dari mulutnya aku merasa sedikit tenang.
“Maaf
aku terlambat.” Lanjutnya, aku mengangkat kepalaku demi menghargai
kedatangannya, tak begitu lama bukan, untuk aku mengubah posisiku agar duduk
dalam posisi sewajarnya, sehingga tak butuh waktu lama juga untuk aku akhirnya
menangkap visual dirinya yang tengah duduk di kursi roda, menatapku lemah, menyesal,
ntah apalah itu arti tatapan matanya.
“Sayang
kamu marah ? Maaf aku....” Kalimatnya sungguh tak dapat lagi aku cerna, aku
seperti benar-benar tak bisa bernafas, dadaku sesak, duniaku serasa terhenti
menatapnya duduk dengan lemahnya di kursi yang ia jalankan dengan rodanya
dengan pakaian khas pasien rumah sakit rambutnya tergerai rapi, namun tidak
dengan wajahnya, ia pucat.! Sungguh, aku seperti kehilangan kendali diriku.
“Sayang..”
Panggilnya lagi, aku menelan ludah, memberanikan diri menatap mata sayunya,
“Aku
ngga papa ko. Kamu ngga perlu pasang muka khawatir gitu.” Katanya lagi, sungguh
jiwaku serasa runtuh melihatnya dalam keadaan seperti ini masih mampu tersenyum
dan berkata ‘aku gapapa’.
“Kamu
kenapa-kenapa. Aku tau pasti itu.” Ucapku tegas, dia lagi-lagi hanya tersenyum.
“Maaf
yaa, aku bikin kamu kesel selama ini..” Katanya, hey siapa pula yang akan bisa
marah jika tau orang yang paling kita kasihi sedang dalam keadaan tidak
baik-baik saja. Meskipun selama ini membuat kita kesal, selama ini membuat kita
marah-marah, bahkan membuat kita tersiksa rindu.
“Ini
alasan kamu selalu bilang jangan hari ini.? Aku ga akan maksa ketemu kamu kalau
tau kamu kaya gini.” Aku berlutut di hadapannya, menggenggam tangan dinginnya.
“Aku
mau kamu belajar tanpa aku..” Katanya menatapku lemah, apa pula maksud dia
mengucapkan itu. Mau meninggalkan aku dengan keadaan seperti ini ?
“Kamu
nggak boleh kemana-mana....” Itu yang bisa aku keluarkan dari mulutku, yang
setidaknya dapat mewakili semua kata-kata yang sangat aku ingin ucapkan. Dia
meletakkan tangannya dipipiku. Tatapannya berubah sendu. Sungguh ini pertama
kalinya aku ditatap olehnya dengan tatapan seperti ini. Meskipun aku tau dia
tak bisa, tapi aku ingin melihatnya dalam keadaan biasa saja, menatapku ceria,
hangat, dan penuh rasa sayang.
“Ginjal
aku rusak, sayang.” Katanya ‘Deg.!’ Jantungku serasa terhenti sesaat, aku
menatapnya lebih dalam, aku benar-benar tak siap dengan kalimatnya yang satu
ini.
“Hari
ini aku mau ketemu kamu, Cuma mau pamit sama kamu.” Tutupnya, kemudian
tertunduk lemah. Aku memeluknya tanpa jawaban lagi, aku tak tau harus
bagaimana, aku sungguh tak ingin dia pergi meskipun dia sudah berpamitan
padaku. Aku benci seseorang berpamitan, mengucapkan selamat tinggal, lalu aku
ditinggalkan. Sungguh Stella, aku tak mau terpisah denganmu apalagi saat ini,
hari ini, aku tak mau sayang. Aku sungguh masih ingin denganmu, memelukmu,
melihat senyummu, mendengar suaramu , menatap wajahmu aku masih inginkan itu
semua sayang. Aku mohon jangan hari ini, jangan hari ini kamu pergi, jangan
hari ini kamu meninggalkan aku, mungkin kita akan berpisah selamanya tapi aku
minta itu saja, aku minta ‘Jangan hari
ini’ sekali ini saja darimu untukku. Bisakah kamu mengabulkan ‘Jangan hari ini’ku, bukankah aku selalu
mengabulkan itu untukmu, kali ini saja..bisakah kamu mengabulkannya, sayang ??
Aku mohon, jangan hari ini kita berpisah, jangan hari ini kamu membiarkan aku
terakhir kali melihat kamu, melihat senyummu, memelukmu, berada
disampingmu..Jangan hari ini, aku mohon jangan hari ini sayang.
--End--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar