Minggu, 07 Juni 2015

Aku Rindu Kamu






“Aku rindu kamu..” itu kalimat yang pertama kali muncul di antara kedua orang yang tengah berhadapan di sudut cafe ini. Dengan suasana sendu dalam cafe dan derasnya hujan di luar, membuat keduanya tenang dalam diam dan pikiran mereka masing-masing.
“Apa kau tak merindukan aku, Aruna ?” Begitulah kata laki-laki berjaket coklat gelap dengan kaos putih di dalamnya bersandar di kursi cafe yang lebih terlihat seperti sofa empuk yang membuat betah orang yang mendudukinya. Aruna yang merasa dirinya disebut dalam kalimat laki-laki dihadapannya, memakukan pandangannya pada mata tajam orang yang sedari tadi tak berani beradu tatap dengannya.
“Kenapa pula aku harus merindukan orang seperti kamu ?” Lancar Aruna dalam mengucapkan jawabannya. Perasaannya masih sama sejak dia datang kemudian menemukan laki-laki itu duduk dengan santainya di tempat yang biasa ia tempati tiap kali dia ke cafe ini. Campur aduk.!
“Setidaknya kamu harus merindukan aku yang tak lagi menganggu kehidupanmu.” Santai laki-laki itu menjawab dengan membayang-bayangkan masa-masa dulu.
“Tidak.” Dingin Aruna, sikapnya sudah menyerupai coklat di hadapannya yang mendingin karena pemesan membiarkan cangkir coklat panas tersebut terkena hawa dingin dari hujan di luar.
“Kamu..masih sama seperti dulu, jutek dingin sok cuek. Haah, tak berubah sama sekali.” Laki-laki itu menenggak isi cangkir ketiganya sampai habis. Lalu memesan chococino hangat lagi kepada pelayan. Aruna masih menatap datar orang dihadapannya yang menghabiskan tiga cangkir minuman sedangkan dirinya membiarkan satu gelas coklat mendingin karena tak ia sentuh.
“Ahh, apa kau ingin memesan lagi minumannya ? Aku tau, coklatmu itu pasti sudah dingin.” Dengan nada basa-basinya ia mencoba membuat Aruna lebih santai pada suasana ini.
“Kau tau kenapa coklat ini menjadi dingin ?” jarinya ia mainkan di bibir cangkir dihadapannya, sedang yang ditanya menatap heran Aruna.
“Ya itu karena kau membiarkannya sedari tadi, kau tak meminum coklat hangatmu itu selama hampir satu jam ini, terlebih suasana di luar juga dingin, wajar jika coklatmu itu menjadi dingin, Aruna.” Jawab si laki-laki dengan sabarnya menjawab pertanyaan konyol wanita dihadapannya yang memasang wajah cemberut dengan memanyunkan bibirnya dan menatap pada coklat di dalam cangkir yang masih ia mainkan. Terlihat lucu.
“Benar, sesuatu yang dibiarkan..lama-lama akan menjadi dingin.” Aruna berhenti memainkan cangkirnya, kemudian menatapkan matanya pada lelaki dihadapanya. “Iya kan Taras ?” Kali ini kalimat Aruna benar-benar menghentikan pergerakan tubuh laki-laki dihadapannya yang tengah menggunakan ponselnya. Taras menatap wanita dengan rambut coklat pirang dengan poninya yang jarang namun sempurna menutup dahinya.
“Ahh..mmm” Taras benar-benar kehilangan kata-kata, kalimat yang sedari tadi ia rangkai begitu saja lenyap dengan luncuran kalimat wanita dihadapannya. “Mmm bagaimana jika kupesankan kau coklat hangat lagi ?” Dengan tangannya yang ia garukkan ke kepalanya dan wajah salah tingkahnya ia berucap. Aruna mengalihkan pandangannya ke luar cafe.
“Sepertinya hujannya sudah reda, aku ingin pulang.” Kata Aruna meraih tasnya dan bersiap untuk beranjak dari kursi.
“Tunggu.!” Aruna menghentikan kegiatannya, namun bukan karena kata yang baru saja ia dengar, melainkan karena dia merasakan sentuhan hangat di tangan kanannya. Ia menatap tangan yang menggenggam tangannya mencegahnya untuk beranjak dari tempatnya, lalu ia mengalihkan pada pemilik tangan dingin yang membungkus tangannya.
“Tidakkah kau ingin mendengar ceritaku.?” Aruna tak begitu tertarik pada tawaran yang Taras berikan, ia berusaha menarik tangannya dari tangan Taras.
“Ini tentang aku dan kamu, apa kau tak mau mendengarnya ?” Lagi, Taras membuat Aruna menghentikan gerakannya. Taras akhirnya menatap Aruna dengan lebih serius dari sebelumnya. Tangan mereka masih bersentuhan, genggaman Taras, Aruna biarkan menghangatkan tangannya yang sedari tadi mendingin karena hawa dingin akibat hujan. Terlebih memang karena ia merindukan genggaman itu mungkin. Aruna menghelakan nafasnya mengalah pada paksaan laki-laki yang kini tersenyum lega memperlihatkan lesung di sisi kanan pipinya. Matanya tiba-tiba berubah menjadi agak lebih tegas dari biasanya, sikapnya jadi lebih manis dari sebelumnya yang sangat slengekan tak bisa diam, jadi terlihat kalem dari Taras yang sedari tadi nampak seperti anak SMA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar