“Aku
rindu kamu..” itu kalimat yang pertama kali muncul di antara kedua orang yang
tengah berhadapan di sudut cafe ini. Dengan suasana sendu dalam cafe dan
derasnya hujan di luar, membuat keduanya tenang dalam diam dan pikiran mereka
masing-masing.
“Apa
kau tak merindukan aku, Aruna ?” Begitulah kata laki-laki berjaket coklat gelap
dengan kaos putih di dalamnya bersandar di kursi cafe yang lebih terlihat
seperti sofa empuk yang membuat betah orang yang mendudukinya. Aruna yang
merasa dirinya disebut dalam kalimat laki-laki dihadapannya, memakukan
pandangannya pada mata tajam orang yang sedari tadi tak berani beradu tatap
dengannya.
“Kenapa
pula aku harus merindukan orang seperti kamu ?” Lancar Aruna dalam mengucapkan
jawabannya. Perasaannya masih sama sejak dia datang kemudian menemukan
laki-laki itu duduk dengan santainya di tempat yang biasa ia tempati tiap kali
dia ke cafe ini. Campur aduk.!
“Setidaknya
kamu harus merindukan aku yang tak lagi menganggu kehidupanmu.” Santai
laki-laki itu menjawab dengan membayang-bayangkan masa-masa dulu.
“Tidak.”
Dingin Aruna, sikapnya sudah menyerupai coklat di hadapannya yang mendingin
karena pemesan membiarkan cangkir coklat panas tersebut terkena hawa dingin
dari hujan di luar.
“Kamu..masih
sama seperti dulu, jutek dingin sok cuek. Haah, tak berubah sama sekali.”
Laki-laki itu menenggak isi cangkir ketiganya sampai habis. Lalu memesan
chococino hangat lagi kepada pelayan. Aruna masih menatap datar orang
dihadapannya yang menghabiskan tiga cangkir minuman sedangkan dirinya
membiarkan satu gelas coklat mendingin karena tak ia sentuh.
“Ahh,
apa kau ingin memesan lagi minumannya ? Aku tau, coklatmu itu pasti sudah
dingin.” Dengan nada basa-basinya ia mencoba membuat Aruna lebih santai pada
suasana ini.
“Kau
tau kenapa coklat ini menjadi dingin ?” jarinya ia mainkan di bibir cangkir
dihadapannya, sedang yang ditanya menatap heran Aruna.
“Ya
itu karena kau membiarkannya sedari tadi, kau tak meminum coklat hangatmu itu
selama hampir satu jam ini, terlebih suasana di luar juga dingin, wajar jika
coklatmu itu menjadi dingin, Aruna.” Jawab si laki-laki dengan sabarnya
menjawab pertanyaan konyol wanita dihadapannya yang memasang wajah cemberut
dengan memanyunkan bibirnya dan menatap pada coklat di dalam cangkir yang masih
ia mainkan. Terlihat lucu.
“Benar,
sesuatu yang dibiarkan..lama-lama akan menjadi dingin.” Aruna berhenti
memainkan cangkirnya, kemudian menatapkan matanya pada lelaki dihadapanya. “Iya
kan Taras ?” Kali ini kalimat Aruna benar-benar menghentikan pergerakan tubuh laki-laki
dihadapannya yang tengah menggunakan ponselnya. Taras menatap wanita dengan
rambut coklat pirang dengan poninya yang jarang namun sempurna menutup dahinya.
“Ahh..mmm”
Taras benar-benar kehilangan kata-kata, kalimat yang sedari tadi ia rangkai
begitu saja lenyap dengan luncuran kalimat wanita dihadapannya. “Mmm bagaimana
jika kupesankan kau coklat hangat lagi ?” Dengan tangannya yang ia garukkan ke
kepalanya dan wajah salah tingkahnya ia berucap. Aruna mengalihkan pandangannya
ke luar cafe.
“Sepertinya
hujannya sudah reda, aku ingin pulang.” Kata Aruna meraih tasnya dan bersiap
untuk beranjak dari kursi.
“Tunggu.!”
Aruna menghentikan kegiatannya, namun bukan karena kata yang baru saja ia
dengar, melainkan karena dia merasakan sentuhan hangat di tangan kanannya. Ia
menatap tangan yang menggenggam tangannya mencegahnya untuk beranjak dari
tempatnya, lalu ia mengalihkan pada pemilik tangan dingin yang membungkus
tangannya.
“Tidakkah
kau ingin mendengar ceritaku.?” Aruna tak begitu tertarik pada tawaran yang
Taras berikan, ia berusaha menarik tangannya dari tangan Taras.
“Ini
tentang aku dan kamu, apa kau tak mau mendengarnya ?” Lagi, Taras membuat Aruna
menghentikan gerakannya. Taras akhirnya menatap Aruna dengan lebih serius dari
sebelumnya. Tangan mereka masih bersentuhan, genggaman Taras, Aruna biarkan
menghangatkan tangannya yang sedari tadi mendingin karena hawa dingin akibat
hujan. Terlebih memang karena ia merindukan genggaman itu mungkin. Aruna
menghelakan nafasnya mengalah pada paksaan laki-laki yang kini tersenyum lega
memperlihatkan lesung di sisi kanan pipinya. Matanya tiba-tiba berubah menjadi
agak lebih tegas dari biasanya, sikapnya jadi lebih manis dari sebelumnya yang
sangat slengekan tak bisa diam, jadi terlihat kalem dari Taras yang sedari tadi
nampak seperti anak SMA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar