Senin, 15 Juni 2015

Kenapa Harus Kamu || Aku Rindu Kamu 2




Aku sendirian, berdiri di tengah derasnya hujan, aku ingin membasahi seluruh tubuhku. Aku ingin membersihkan diri dan hati kotor ini. Malam ini, di tengah hujan ini, aku tak tau apa yang harus aku lakukan, aku tak tak harus pada siapa aku percaya, aku tak tau harus kepada siapa ku bertanya, karena sekalipun aku tanyakan, tak akan ada jawaban yang datang.
Kenapa harus seperti ini akhirnya ? Kenapa harus kamu ? Kenapa aku harus melihatmu sore tadi ? Kenapa kamu membuat aku tak karuan, kenapa kamu yang akhirnya membuat diri ini hancur ? Kenapa kamu yang membuatku menyesal pernah menunggu seseorang ? Kenapa harus kamu yang ada di hati ini, kenapa harus kamu yang menghancurkan jiwa ini, kenapa harus kamu yang merusak kerja otakku, kenapa harus kamu yang membuatku cemburu, kenapa harus kamu, Taras.!
Kenapa harus kamu yang akhirnya membuatku seperti ini, kenapa harus kamu yang dengan gigihnya menggoyahkan keyakinanku dan mampu meruntuhkan pertahananku. Kenapa harus kamu yang membuat aku akhirnya mau memperdulikan orang lain. Kenapa harus kamu yang akhirnya bisa membuatku tertawa dari diamku. Kenapa akhirnya kamu yang harus mendekati aku, dan mampu membuatku diam dengan segala perlakuanmu padaku. Kenapa harus kamu ?
Kamu..tau kah bahwa akhirnya kamulah satu-satunya yang mampu membuatku nyaman, membuatku membuka diri, memiliki semangat untuk melangkah, terlebih kamu...kamu menjadi alasanku untuk aku berjuang lebih dari ini. Kamu yang membuatku ingin melampaui batas diriku, melakukan segala yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dan kamu yang membuatku merasa aku memiliki orang berharga sepertimu.
Aku melangkahkan kaki perlahan demi membawa tubuh dingin ini ke tempat yang akan menghangatkan diri dan hati ini. Sudah tiga tahun sejak kita lulus, lalu kamu akhirnya pergi ke Jepang sana. Ke tempat yang dulu kamu selalu ceritakan padaku, tempat yang jadi impian terbesarmu, tempat idol grup yang kamu sangat gilai. Aku masih ingat betul kamu yang berkata ‘Aku ingin ke sana bersamamu.’. Lalu dengan cepatnya kamu mengubah topik perbincanganmu. Dulu, aku tak pernah menghiraukan kalimatmu itu, tapi....ntah kenapa sekarang aku justru ingin menagihnya, aku ingin kamu membawaku ke tempat yang aku tak pernah tau kemana jalannya. Tapi di sana apa kamu masih memikirkan aku ? setidaknya mengingatku, namaku saja mungkin. Haahhhh, aku lupa kalau kamu sering bercerita tentang wanita-wanita Jepang yang cantik-cantik, bagaimana kamu bisa bertahan sendiri yaa kalau kamu akhirnya bisa berada di tempat seperti itu. Siapa pula aku ini, memintamu mengingatku bahkan bertahan demi aku.
Dulu, tak pernah terbayangkan sedikitpun mengerikannya menjalani hari tanpa kamu. Yang aku tau saat itu, kamu akan menghampiri kelasku di pagi hari dengan terengah-engah karena kau yang terlambat bangun, lalu kembali ke kelasmu ketika pelajaran dimulai. Yang aku tau kamu akan mendatangiku yang sibuk dengan diriku sendiri di taman sekolah ketika istirahat, lalu kamu menawarkan minuman yang meskipun aku menolaknya kamu akan terus mengoceh hingga aku terpaksa menerima minuman yang kamu belikan, lalu dengan melihat ke lapangan basket  kamu selalu berbicara hal-hal kecil yang dengan ajaibnya mampu membuatku tertawa lebar yang katamu ‘aku selalu tenang kalau melihat tawamu.’ Dan yang aku tau, kamu akan selalu mengantarkanku pulang dengan berjalan kaki bersama dan kamu menuntun sepedamu ‘biar lebih lama sampai ke rumahmu’ katamu kalau aku tanya mengapa sepedanya tak dikendarai saja, dan kamu yang akan tetap ada di sampingku meskipun aku mendiamkanmu, meskipun aku bilang aku marah, aku mau sendiri, aku tak mau diganggu. Itu yang aku tau dulu, kamu yang selalu di sampingku, kamu yang selalu menjagaku, kamu yang selalu menghiburku, kamu yang selalu menemaniku, kamu yang selalu membelaku dari bully teman-teman sekolah. Iya itu yang aku tau, Taras.! Karena sedikitpun aku tak pernah memikirkan masa depanku, jika kamu tak lagi bisa ada untukku.
Sayangnya...sejak kamu mengangguku saat Ospek SMA sampai kita merayakan kelulusan, selama itu pula, kamu tak pernah bercerita apapun tentang diri kamu, tentang kehidupanmu, apalagi perasaanmu. Iya seingatku, kamu tak pernah menceritakan itu padaku, tentang keluargamu, orang-orang terdekatmu, atau bahkan kekasihmu, sampai saat itu aku berfikir ‘aku ini apa ?’ setelah setiap hari bertemu, setiap hari berbicara, setiap hari pulang bersama, tanpa hubungan yang jelas. Setiap perlakuanmu, setiap perkataanmu, setiap perhatianmu, setiap itu pula pertanyaan itu muncul. Setelah semua yang kita lakukan, ternyata aku melupakan bahwa aku bukan apa-apa. Bahkan kepergianmu ke Jepang, kamu memberi tahuku hanya sehari sebelum keberangkatanmu, yang ternyata semua teman-temanmu sudah mengetahuinya. Setelah itulah aku benar-benar sadar bahwa aku memang bukan apa-apa buatmu. Aku hanya orang yang mungkin tidak sengaja kamu perhatikan, yang tidak sengaja kamu manjakan, lalu aku dengan begitu percaya dirinya menganggap itu semua spesial, menganggap itu semua hanya kamu lakukan untukku, demi membuatku senang dan tertarik padamu. Dan dengan semua kegeeranku itulah, aku menjadi sangat memanja padamu, tanpa sadar...kamu yang awalnya hanya penghiburku mampu merasuk menjelma menjadi orang yang paling aku butuhkan, orang yang paling aku cari, orang yang paling aku tunggu kehadirannya.
Kenapa yaaa..kenapa harus kamu yang akhirnya membuatku berharap, mengharapkan kehadiranmu, mengharapkan perhatianmu, mengharapkan kamu bersikap baik hanya padaku, mengharapkan kamu mementingkan aku lebih dari siapapun. Mengharapkan aku menjadi nomor satu di hatimu dengan banyaknya anak perempuan lain yang juga berharap padamu. Mengharapkan menjadi orang pertama yang kamu cari ketika kamu ingin bercerita. Mengharapkanmu.! Walaupun pada akhirnya kamu memang hanyalah harapan. Karena kini kamu terlihat jauh yang padahal biasanya kamu begitu dekat, sangat dekat.!
Kenapa kamu harus pergi begitu saja ? Kenapa kamu tak pernah membicarakan sedikitpun tentang kamu yang selalu memperlakukanku dengan begitu baiknya, memanjakanku dengan segala perhatianmu, tentang perasaan kamu, aku mau tau semua itu, Taras.! Saat itu, saat aku mengantarkan kamu ke Bandara, aku sangat ingin berkata ‘Aku masih ingin berbicara denganmu.’ Aku ingin membicarakan mengenai hal yang dulu begitu mengganjal di pikiranku, mengenai aku dan kamu, mengenai perasaan ini yang ntah mau diapakan jika kamu pergi begitu saja. Aku masih ingin denganmu.!
Aku masih ingin bersamamu, aku masih ingin kamu menggenggam tanganku, memelukku dengan tubuh hangatmu, menyentuhku dengan lembutnya. Aku masih ingin kamu memperhatikan aku, memanjakan aku dengan segala kelakuanmu yang membuatku selalu ingin denganmu. Aku masih ingin kamu menggangguku, membuatku tertawa dalam diamku, tersenyum dalam bosanku, aku masih ingin semua itu. Kenapa kamu harus pergi tanpa berpamitan lebih lama padaku. Agar aku setidaknya bisa menikmati waktu bersama kamu. Kenapa pula kamu harus sibuk dengan yang lain, kenapa kamu justru bersikap cuek padaku di saat terakhir kamu bersamaku ? Kenapa harus seperti itu ? Membuat aku berpikir bahwa aku adalah permainanmu saja, membuat aku berpikir, aku hanya orang yang kamu bodohi saja, hanya sebagai teman jika kau tak ada teman, hanya sebagai orang yang tak pernah penting bagimu, membuatku berpikir bahwa aku orang yang paling tidak kamu butuhkan.
 Taras, tiga tahun ini..apa kamu masih ingat semua itu. Ingat semua yang kamu lakukan padaku. Atau setidaknya....pada cincin yang pernah kamu berikan untukku, cincin yang katamu agar aku dan kamu bisa saling mengingat kalau kita berpisah, cincin yang kamu pilih modelnya dengan tujuan agar kita bisa memakai cincin yang sama. Begitu saja katamu, tanpa penjelasan yang lebih ketika kamu memasangkan cincin mainan itu di jariku. Cincin itu....aku tak memakainya lagi, ntah....tapi salah satu dalam diriku merasa ‘untuk apa aku masih memakai cincin ini, yang bahkan kabarnya pun aku tak pernah tau’. Lalu aku berniat tak mengingat-ingat kamu lagi, setidaknya tidak berharap untuk kamu datang dan menemuiku lagi. Karena kalaupun kamu kembali ke Indonesia, sudah pasti bukan aku tujuanmu kan ? ya, itu pasti.! Dengan melihatmu melewati cafe itu di sore hari saat hujan tadi, sudah sangat membuktikan bahwa kamu datang ke Indonesia bukan untukku.
Aku tak tau benar bagaimana aku harus bertindak ketika mataku dengan jelas menangkap bayanganmu dari tempatku duduk di kursi cafe itu, di dekat kaca pembatas cafe dengan halaman luar, di tempat kita biasanya menghabiskan liburan, atau sore membosankan, kamu berjalan di pinggiran cafe ini, menghindar dari derasnya hujan di luar, aku tau betul itu kamu.! Karena kamu, masih dengan senangnya mengenakan Jaket coklat yang selalu kau pakai sejak SMA. Saat itu aku ingin keluar dari cafe ini, berlari mengejarmu, kemudian memelukmu, lalu berkata ‘aku sangat merindukanmu’ tapi satu sisi dalam diri ini menghentikan pergerakanku sejak aku keluar dari cafe dan melihatmu bersama perempuan  yang kamu genggam erat tangannya demi menghangatkannya dari dingin, seperti yang kamu sering lakukan kepadaku dulu ketika sepulang sekolah kita terjebak hujan, lalu meneduh di pinggiran toko. Lalu apa yang harus aku lakukan jika sudah seperti ini ? Jika ternyata memang semua yang kutebak, benar adanya.
Aku, setelah satu minggu tak mengunjungi cafe itu demi tak ingin melihat hal yang sama, akhirnya ku kendariai  mobil sepulang kerjaku dan mengarahkannya ke cafe itu. Seperti biasanya, aku memarkirkan mobil dengan penjaga parkir yang sudah begitu hafal dengan wajah dan terlebih mobilku, menyapanya lalu masuk ke cafe seperti biasa, dan berjalan ke tempat dimana aku biasanya duduk dan menghabiskan soreku.Tempat itu selalu kosong jika aku datang ke cafe ini, namun tidak untuk kali ini, begitu aku sampai aku baru sadar jika ada orang lain yang menempati meja yang biasa ku pakai untuk menghabiskan waktu. Duduk dengan santainya, menghadap ke arah luar cafe dengan matanya yang ia tutupi kacamata coklat kehitaman dan jaket coklat yang melekat di tubuhnya. Aku memperhatikan orang yang tengah duduk di sana, dan sekarang menghadap ke arahku, melepas kacamatanya lalu tersenyum menunjukkan lubang di pipi kanannya, apa pula maksudnya dia tersenyum seperti itu. Aku menghelakan nafas. ‘Kenapa Harus Kamu.?”

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar