Aku sendirian,
berdiri di tengah derasnya hujan, aku ingin membasahi seluruh tubuhku. Aku
ingin membersihkan diri dan hati kotor ini. Malam ini, di tengah hujan ini, aku
tak tau apa yang harus aku lakukan, aku tak tak harus pada siapa aku percaya,
aku tak tau harus kepada siapa ku bertanya, karena sekalipun aku tanyakan, tak akan
ada jawaban yang datang.
Kenapa harus
seperti ini akhirnya ? Kenapa harus kamu ? Kenapa aku harus melihatmu sore tadi
? Kenapa kamu membuat aku tak karuan, kenapa kamu yang akhirnya membuat diri
ini hancur ? Kenapa kamu yang membuatku menyesal pernah menunggu seseorang ? Kenapa
harus kamu yang ada di hati ini, kenapa harus kamu yang menghancurkan jiwa ini,
kenapa harus kamu yang merusak kerja otakku, kenapa harus kamu yang membuatku
cemburu, kenapa harus kamu, Taras.!
Kenapa harus
kamu yang akhirnya membuatku seperti ini, kenapa harus kamu yang dengan
gigihnya menggoyahkan keyakinanku dan mampu meruntuhkan pertahananku. Kenapa
harus kamu yang membuat aku akhirnya mau memperdulikan orang lain. Kenapa harus
kamu yang akhirnya bisa membuatku tertawa dari diamku. Kenapa akhirnya kamu
yang harus mendekati aku, dan mampu membuatku diam dengan segala perlakuanmu
padaku. Kenapa harus kamu ?
Kamu..tau kah
bahwa akhirnya kamulah satu-satunya yang mampu membuatku nyaman, membuatku
membuka diri, memiliki semangat untuk melangkah, terlebih kamu...kamu menjadi
alasanku untuk aku berjuang lebih dari ini. Kamu yang membuatku ingin melampaui
batas diriku, melakukan segala yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dan kamu
yang membuatku merasa aku memiliki orang berharga sepertimu.
Aku
melangkahkan kaki perlahan demi membawa tubuh dingin ini ke tempat yang akan
menghangatkan diri dan hati ini. Sudah tiga tahun sejak kita lulus, lalu kamu
akhirnya pergi ke Jepang sana. Ke tempat yang dulu kamu selalu ceritakan
padaku, tempat yang jadi impian terbesarmu, tempat idol grup yang kamu sangat
gilai. Aku masih ingat betul kamu yang berkata ‘Aku ingin ke sana bersamamu.’.
Lalu dengan cepatnya kamu mengubah topik perbincanganmu. Dulu, aku tak pernah
menghiraukan kalimatmu itu, tapi....ntah kenapa sekarang aku justru ingin
menagihnya, aku ingin kamu membawaku ke tempat yang aku tak pernah tau kemana
jalannya. Tapi di sana apa kamu masih memikirkan aku ? setidaknya mengingatku,
namaku saja mungkin. Haahhhh, aku lupa kalau kamu sering bercerita tentang
wanita-wanita Jepang yang cantik-cantik, bagaimana kamu bisa bertahan sendiri
yaa kalau kamu akhirnya bisa berada di tempat seperti itu. Siapa pula aku ini,
memintamu mengingatku bahkan bertahan demi aku.
Dulu, tak
pernah terbayangkan sedikitpun mengerikannya menjalani hari tanpa kamu. Yang
aku tau saat itu, kamu akan menghampiri kelasku di pagi hari dengan
terengah-engah karena kau yang terlambat bangun, lalu kembali ke kelasmu ketika
pelajaran dimulai. Yang aku tau kamu akan mendatangiku yang sibuk dengan diriku
sendiri di taman sekolah ketika istirahat, lalu kamu menawarkan minuman yang
meskipun aku menolaknya kamu akan terus mengoceh hingga aku terpaksa menerima
minuman yang kamu belikan, lalu dengan melihat ke lapangan basket kamu selalu berbicara hal-hal kecil yang
dengan ajaibnya mampu membuatku tertawa lebar yang katamu ‘aku selalu tenang
kalau melihat tawamu.’ Dan yang aku tau, kamu akan selalu mengantarkanku pulang
dengan berjalan kaki bersama dan kamu menuntun sepedamu ‘biar lebih lama sampai
ke rumahmu’ katamu kalau aku tanya mengapa sepedanya tak dikendarai saja, dan
kamu yang akan tetap ada di sampingku meskipun aku mendiamkanmu, meskipun aku
bilang aku marah, aku mau sendiri, aku tak mau diganggu. Itu yang aku tau dulu,
kamu yang selalu di sampingku, kamu yang selalu menjagaku, kamu yang selalu
menghiburku, kamu yang selalu menemaniku, kamu yang selalu membelaku dari bully
teman-teman sekolah. Iya itu yang aku tau, Taras.! Karena sedikitpun aku tak
pernah memikirkan masa depanku, jika kamu tak lagi bisa ada untukku.
Sayangnya...sejak
kamu mengangguku saat Ospek SMA sampai kita merayakan kelulusan, selama itu
pula, kamu tak pernah bercerita apapun tentang diri kamu, tentang kehidupanmu,
apalagi perasaanmu. Iya seingatku, kamu tak pernah menceritakan itu padaku,
tentang keluargamu, orang-orang terdekatmu, atau bahkan kekasihmu, sampai saat
itu aku berfikir ‘aku ini apa ?’ setelah setiap hari bertemu, setiap hari
berbicara, setiap hari pulang bersama, tanpa hubungan yang jelas. Setiap
perlakuanmu, setiap perkataanmu, setiap perhatianmu, setiap itu pula pertanyaan
itu muncul. Setelah semua yang kita lakukan, ternyata aku melupakan bahwa aku
bukan apa-apa. Bahkan kepergianmu ke Jepang, kamu memberi tahuku hanya sehari
sebelum keberangkatanmu, yang ternyata semua teman-temanmu sudah mengetahuinya.
Setelah itulah aku benar-benar sadar bahwa aku memang bukan apa-apa buatmu. Aku
hanya orang yang mungkin tidak sengaja kamu perhatikan, yang tidak sengaja kamu
manjakan, lalu aku dengan begitu percaya dirinya menganggap itu semua spesial,
menganggap itu semua hanya kamu lakukan untukku, demi membuatku senang dan
tertarik padamu. Dan dengan semua kegeeranku itulah, aku menjadi sangat memanja
padamu, tanpa sadar...kamu yang awalnya hanya penghiburku mampu merasuk
menjelma menjadi orang yang paling aku butuhkan, orang yang paling aku cari,
orang yang paling aku tunggu kehadirannya.
Kenapa
yaaa..kenapa harus kamu yang akhirnya membuatku berharap, mengharapkan
kehadiranmu, mengharapkan perhatianmu, mengharapkan kamu bersikap baik hanya
padaku, mengharapkan kamu mementingkan aku lebih dari siapapun. Mengharapkan
aku menjadi nomor satu di hatimu dengan banyaknya anak perempuan lain yang juga
berharap padamu. Mengharapkan menjadi orang pertama yang kamu cari ketika kamu
ingin bercerita. Mengharapkanmu.! Walaupun pada akhirnya kamu memang hanyalah
harapan. Karena kini kamu terlihat jauh yang padahal biasanya kamu begitu
dekat, sangat dekat.!
Kenapa kamu
harus pergi begitu saja ? Kenapa kamu tak pernah membicarakan sedikitpun
tentang kamu yang selalu memperlakukanku dengan begitu baiknya, memanjakanku
dengan segala perhatianmu, tentang perasaan kamu, aku mau tau semua itu, Taras.!
Saat itu, saat aku mengantarkan kamu ke Bandara, aku sangat ingin berkata ‘Aku
masih ingin berbicara denganmu.’ Aku ingin membicarakan mengenai hal yang dulu
begitu mengganjal di pikiranku, mengenai aku dan kamu, mengenai perasaan ini
yang ntah mau diapakan jika kamu pergi begitu saja. Aku masih ingin denganmu.!
Aku masih
ingin bersamamu, aku masih ingin kamu menggenggam tanganku, memelukku dengan
tubuh hangatmu, menyentuhku dengan lembutnya. Aku masih ingin kamu
memperhatikan aku, memanjakan aku dengan segala kelakuanmu yang membuatku
selalu ingin denganmu. Aku masih ingin kamu menggangguku, membuatku tertawa
dalam diamku, tersenyum dalam bosanku, aku masih ingin semua itu. Kenapa kamu
harus pergi tanpa berpamitan lebih lama padaku. Agar aku setidaknya bisa
menikmati waktu bersama kamu. Kenapa pula kamu harus sibuk dengan yang lain,
kenapa kamu justru bersikap cuek padaku di saat terakhir kamu bersamaku ? Kenapa
harus seperti itu ? Membuat aku berpikir bahwa aku adalah permainanmu saja,
membuat aku berpikir, aku hanya orang yang kamu bodohi saja, hanya sebagai
teman jika kau tak ada teman, hanya sebagai orang yang tak pernah penting
bagimu, membuatku berpikir bahwa aku orang yang paling tidak kamu butuhkan.
Taras, tiga tahun ini..apa kamu masih ingat
semua itu. Ingat semua yang kamu lakukan padaku. Atau setidaknya....pada cincin
yang pernah kamu berikan untukku, cincin yang katamu agar aku dan kamu bisa
saling mengingat kalau kita berpisah, cincin yang kamu pilih modelnya dengan
tujuan agar kita bisa memakai cincin yang sama. Begitu saja katamu, tanpa
penjelasan yang lebih ketika kamu memasangkan cincin mainan itu di jariku. Cincin
itu....aku tak memakainya lagi, ntah....tapi salah satu dalam diriku merasa
‘untuk apa aku masih memakai cincin ini, yang bahkan kabarnya pun aku tak
pernah tau’. Lalu aku berniat tak mengingat-ingat kamu lagi, setidaknya tidak
berharap untuk kamu datang dan menemuiku lagi. Karena kalaupun kamu kembali ke
Indonesia, sudah pasti bukan aku tujuanmu kan ? ya, itu pasti.! Dengan
melihatmu melewati cafe itu di sore hari saat hujan tadi, sudah sangat
membuktikan bahwa kamu datang ke Indonesia bukan untukku.
Aku tak tau
benar bagaimana aku harus bertindak ketika mataku dengan jelas menangkap
bayanganmu dari tempatku duduk di kursi cafe itu, di dekat kaca pembatas cafe
dengan halaman luar, di tempat kita biasanya menghabiskan liburan, atau sore
membosankan, kamu berjalan di pinggiran cafe ini, menghindar dari derasnya
hujan di luar, aku tau betul itu kamu.! Karena kamu, masih dengan senangnya
mengenakan Jaket coklat yang selalu kau pakai sejak SMA. Saat itu aku ingin
keluar dari cafe ini, berlari mengejarmu, kemudian memelukmu, lalu berkata ‘aku
sangat merindukanmu’ tapi satu sisi dalam diri ini menghentikan pergerakanku
sejak aku keluar dari cafe dan melihatmu bersama perempuan yang kamu genggam erat tangannya demi
menghangatkannya dari dingin, seperti yang kamu sering lakukan kepadaku dulu
ketika sepulang sekolah kita terjebak hujan, lalu meneduh di pinggiran toko. Lalu
apa yang harus aku lakukan jika sudah seperti ini ? Jika ternyata memang semua
yang kutebak, benar adanya.
Aku, setelah
satu minggu tak mengunjungi cafe itu demi tak ingin melihat hal yang sama,
akhirnya ku kendariai mobil sepulang
kerjaku dan mengarahkannya ke cafe itu. Seperti biasanya, aku memarkirkan mobil
dengan penjaga parkir yang sudah begitu hafal dengan wajah dan terlebih mobilku,
menyapanya lalu masuk ke cafe seperti biasa, dan berjalan ke tempat dimana aku
biasanya duduk dan menghabiskan soreku.Tempat itu selalu kosong jika aku datang
ke cafe ini, namun tidak untuk kali ini, begitu aku sampai aku baru sadar jika
ada orang lain yang menempati meja yang biasa ku pakai untuk menghabiskan
waktu. Duduk dengan santainya, menghadap ke arah luar cafe dengan matanya yang
ia tutupi kacamata coklat kehitaman dan jaket coklat yang melekat di tubuhnya. Aku
memperhatikan orang yang tengah duduk di sana, dan sekarang menghadap ke
arahku, melepas kacamatanya lalu tersenyum menunjukkan lubang di pipi kanannya,
apa pula maksudnya dia tersenyum seperti itu. Aku menghelakan nafas. ‘Kenapa
Harus Kamu.?”
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar