Rabu, 17 Juni 2015

Maaf ya, Aruna. || Aku Rindu Kamu 3




Biarkan ku hanya akan mengagumimu,
Selalu memanjakanmu,
Memelukmu,
Menidurkanmu dalam pelukku..
Karena aku hanya akan mengagumimu, itu saja. Aku menyayangimu lebih dari siapapun kau tau ? aku sangat ingin menjagamu, sebisaku. Memperhatikanmu semampuku.
                Maaf ya, aku meninggalkan lubang di hatimu terlalu besar, maaf ya aku harus membuat kamu berharap, maaf ya aku harus membuatmu menangis ketika aku pergi. Seharusnya kamu tak perlu menangis dihadapanku, karena air matamu itulah yang paling aku benci, makanya aku tak pernah rela siapapun menyakitimu, apalagi sampai membuat menangis. Dan karena itu pula, aku tak bisa menggambarkan bagaimana hancurnya diri ini, melihatmu menangis atasku, dihadapanku, apa yang harus aku lakukan jika kamu menangis seperti itu. Datang padaku dengan air mata dan mengucapkan salam perpisahan, menceritakan kekosongan dirimu dimasa yang akan datang tanpa aku. Apa yang harus aku lakukan ketika kamu dengan manjanya tiba-tiba memintaku membatalkan kepergianku. Memintaku untuk tinggal lebih lama, bersamamu. Bukankah sekarang kamu akan lebih bebas tanpa ada aku yang akan mengganggumu, mengusili kamu demi menarik perhatian kamu, berlaku aneh demi sedikit saja membuat senyum di wajah lucumu itu.
                Kamu itu, bagaimana aku menggambarkannya yaa. Kamu sosok yang aku kagumi, orang yang benar-benar ingin aku dekati, benar-benar ingin aku jaga dari laki-laki mana pun, orang yang benar-benar ingin aku buat tertawa daripada hanya diam seperti yang biasa kamu lakukan, tersenyum dalam wajah murungmu. Karena aku sayang kamu.
                Membuatmu tertawa itu seperti salah satu dalam diri ini merasakan kepuasan tersendiri. Hah, jangankan kamu tertawa, ketika kamu akhirnya mengalihkan perhatian padaku pun aku sudah sangat bahagia, ketika kamu akhirnya mau menerima minuman yang selalu aku belikan, aku sangat senang kau tau. Apalagi akhirnya aku bisa mengajakmu pulang bersama. Haah itu hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, bisa mengantarkan orang seperti dirimu, seperti putri yang banyak orang perebutkan untuk mengantarkanmu pulang.
                Alasan lainku, karena aku..tak ingin laki-laki lain di sekolah ini mendekatimu, membiarkani orang yang seperti bidadari didekati laki-laki kurang ajar yang hanya menginginkan tubuhmu. Aku hanya ingin menjagamu. Melindungi kamu dari bullyan kakak kelas yang tak pernah suka dengan kecantikanmu, dari perempuan lain yang ingin menyakitimu, aku tak akan membiarkan kamu mengalami itu.
                Aku tak pernah tau, yang kurasa ini apa, harus kusebut apa segala rasa yang selalu membuncah ketika berhadapan denganmu, rindu yang menyerang ketika sehari saja tidak denganmu, rasa kesal ketika kamu tak kunjung mengalihkan perhatianmu padaku dan kamu justru lebih sibuk dengan novel atau game yang kamu mainkan, kesal ketika kamu murung tanpa aku bisa membuatmu tersenyum, tanpa aku tau yang kamu pikirkan, dan kamu hanya berkata ‘berisik.!’ Lalu aku hanya akan diam dan duduk di sampingmu. Kamu sering memarahiku jika aku mulai lancang, aku benci kau marah-marah padaku , tapi ternyata aku lebih benci ketika kamu kehilangan mood dan tak mau bicara dengan siapapun, termasuk aku. Aku benci ketika kamu terlihat tidak baik2 saja, tapi aku tak dapat melakukan apapun, aku benci hanya mampu berada di sampingmu tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya denganmu.
                Kamu itu...apa yaa, aku seperti tak ingin sedikit saja melihatmu murung, kalaupun itu terjadi..aku ingin akulah yang akan membuatmu tertawa pertama kali, aku ingin aku yang kamu datangi ketika hatimu sedang dalam keadaan tidak baik, aku yang kamu ganggu dengan segala cerita yang membuatmu kacau, aku ingin menjadi nomor satu untukmu. Iya, aku ingin menjadi orang yang paling akan kau cari ketika kamu sedih, senang, kacau, gembira, semuanya.
                Kalau saja kamu tau, aku berubah menjadi lebih bisa mengerti seseorang hanya karena aku selalu berusaha mengerti kamu. Berkat kamu, aku akhirnya mampu sedikit demi sedikit mengerti tentang orang-orang di sekitar, tentang teman-temanku, bahkan wanita-wanita yang mendekatiku. Kamu memang tak mengajarkanmu, tapi karena kamu yang begitu menyulitkan untukku mengerti, aku jadi terlatih untuk selalu berusaha mengerti seseorang. Kamu itu, sejak awal aku mengenalmu, aku tau bahwa kamu orang yang akan sangat sulit didekati, apalagi oleh laki-laki slengekan seperti aku, karena itulah aku berusaha mengerti bagaimana kamu, bagaimana agar kamu mau menerimaku sebagai temanmu dan menarik perhatianmu. Ketika aku berhasil mengenalkan diri padamu, aku mulai kembali mencoba mengerti bagaimana kamu lebih dalam agar aku bisa setidaknya membuat kamu tersenyum kecil bahkan tertawa. Semua yang ada dalam diri kamu, aku pelajari..aku coba mengerti segala sifat dan sikap kamu, mood kamu yang tak tentu itu, selalu aku coba mengerti demi kamu tak marah denganku. Kemauan kamu yang kadang menyusahkan itu selalu aku mengerti demi tak mengecewakanmu, demi kamu tetap mau aku dekati.
Kamu itu, selalu berhasil membuatku mengesampingkan egoku, membuangnya demi kamu merasa nyaman, demi memenuhi permintaanmu, demi membuatmu tersenyum, demi kamu senang karena kamu memiliki aku. Kamu selalu berhasil mengesampingkan emosiku dengan wajah lucumu itu, memanyunkan bibir dengan mata memelas, membuatku selalu luluh dengan kelucuanmu itu. Ntah apa, tapi aku hampir tak pernah bisa marah denganmu. Kalaupun aku berniat tak mengajakmu bicara karena sikapmu yang terlalu menyebalkan, pada akhirnya aku akan kalah juga karena kamu akan teguh pada dirimu sendiri bahwa kamu tak pernah salah, pada akhirnya aku juga yang akan mengajakmu bicara terlebih dahulu, aku juga yang akan menarik perhatianmu dulu, aku juga yang akhirnya tidak bisa jauh denganmu. Iya yaa, kenapa pada akhirnya aku justru tak bisa jauh denganmu. Merasa ada yang kurang jika sehari saja tidak menganggumu, tidak menjahilimu, atau membuatmu tertawa, sehari saja tanpa kamu, ternyata sulit.
Aku mulai memikirkan sulitnya hidup tanpamu sejak aku memutuskan untuk pergi ke Jepang setelah kelulusan. Saat itu juga aku terfikirkan kamu, kamu yang setiap harinya ku ganggu, ku jaga, ku manja, setiap hari ada didekatku. Bagaimana aku di sana jika tidak ada kamu, bagaimana aku di sana jika tak ada orang yang membuatku semangat hidup. Namun ternyata bagian tersulitnya adalah cara memberitahumu akan kepergianku, rasanya.....seribu maaf pun tak akan cukup bukan, untuk mengungkapkan rasa bersalahku karena meninggalkanmu setelah semua yang aku dan kamu lakukan.
                Aruna maaf ya, aku pergi begitu saja. Maaf aku memberi tahumu hanya kurang sehari sebelum keberangkatanku, aku tak tau bagaimana aku memberi taumu, aku tak berani, Iya aku tau ini salah, tapi bagaimana jika aku juga tak tau bagaimana yang benar. Terlebih aku melupakan satu hal penting. Aku...lupa membicarakan tentang perasaan ini, aku lupa menjelaskan apa saja yang terjadi dalam diri ini ketika aku bersamamu, rasa apa saja yang pernah hinggap dalam tubuh ini sejak aku mengenalmu, aku lupa menceritakan tentang aku dan kamu. Maaf membuatmu merasa dipermainkan aku, maaf karena telah memberimu rasa yang membuatmu tersiksa, rasa yang membuatmu berantakan, maaf atas semua rasa yang pernah kamu rasa atas perlakuanku terhadapmu, maaf Aruna.
                Kenapa kamu harus berlalu pergi dari cafe ini saat hujan turun dengan derasnya, kenapa kau mengacuhkan panggilanku, kenapa pula kau tak lagi datang ke cafe ini seminggu ini. Aku, masih di sini, demi menemuimu yang ku yakin kau salah paham dengan apa yang kau lihat. Aku masih di sini, demi mengutarakan segala keinginanku, aku di sini demi berbicara denganmu lagi setelah tiga tahun lalu aku meninggalkanmu. Aku akan tetap di sini, sudut cafe ini yang aku yakin kau akan menuju tempat ini ketika kamu datang. Dan maaf, ketika kamu datang, aku akan mengagetkanmu. Maaf ya, Aruna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar