Selasa, 01 Desember 2015

Balon Udara



Dulu, dulu sekali aku pernah memiliki balon udara. Besar. Aku menaikinya setiap saat. Ah, bukan setiap saat, aku memang tinggal di sana. Aku bisa terbang, aku dapat menyentuh langit. Aku dibawa terbang tinggi dengan balon itu, aku aman, aku nyaman, aku merasa terlindungi di sana. Seberapapun tinggi balon ini terbang, aku tak pernah merasa takut, karena balon itu akan selalu menjagaku, tak mungkin membiarkanku jatuh, dan aku tak pernah sedikitpun berpikir untuk pergi dari sana.
Hingga suatu hari, balon ini yang selalu bergerak ke atas, terhenti. Aku menyadari perhentian itu, tapi aku sama sekali tak memperdulikannya. Selagi aku masih di langit, itu tak masalah. Pikirku saat itu. Aku bertahan dalam kenyamanan balon udaraku, yang ntah kenapa sejak hari itu justru semakin menurun ketinggiannya. Aku sangat menyadari itu dan aku masih tak mau ambil pusing dengannya. Meski ku akui, aku mulai cemas. Atau lebih tepatnya, aku hanya berlagak tak perduli atas nasib balon udara ini. Semakin hari, balonku semakin terbang rendah, aku mulai mencari penyebabnya, mencoba memperbaikinya. Tapi sayangnya, tak perduli seberapapun aku mencoba memperbaikinya, balonnya akan semakin turun, semakin mendekati tanah. Balonku mendarat, di tempat yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, tak pernah kupijaki selama ini. Balonku, benar-benar menurunkanku, dan dia tak mau terbang lagi. Aku berkeliaran, menjauh dari balon rusakku, aku mencari kesenangan yang tak pernah aku temukan, sambil berharap suatu hari nanti balonku akan baik dengan sendirinya, lalu menjemputku dan mengajakku terbang tinggi lagi.
Hariku berlalu begitu saja, ternyata aku bisa hidup tanpa balon udara itu, ku akui, aku rindu balon itu, tapi aku sendiri tak tau dimana balon itu sekarang, bagaimana keadaannya, aku tak pernah tau lagi. Tak mau tau sepertinya. Aku terlalu tak mau ambil pusing dengan masalah itu, sepertinya.
Sampai suatu hari, dimana aku hanya terduduk sendiri menatapi langit, aku sadar aku sangat merindukan langit itu, aku merindukan suasana berada ditengah-tengah langit, menyentuh awan, menikmati angin di atas sana, bernafas dengan leganya. Aku, ternyata aku lelah dengan hidup yang seperti ini saja, mencoba mencari kesenangan dengan hanya mendustai diri sendiri, menyebar tawa dengan menyimpan dalam-dalam kesedihan karena balonku tak kumiliki lagi. Berlagak tak perduli tapi selalu berharap kembalinya balonku itu, menangisi kerusakannya, kehilangan atas kepergiannya.
Semakin bergantinya hari aku semakin tumbuh dewasa dan aku masih menunggu balonku itu kembali. Namun selama aku menunggu, selama itulah balon itu tak pernah kembali. Semakin aku menunggunya, rasanya sama saja seperti aku semakin menyakiti diriku sendiri. Aku bernafas, tapi aku tak pernah lagi merasakan keringanan dalam setiaap hembusan nafasku, aku berjalan dan setiap kali aku berjalan itulah aku semakin menyakiti kakiku. Sampai aku akhirnya memutuskan untuk tak mengharapkannya lagi, aku akan terbang dengan balon-balon kecil yang akan kubuat sendiri, aku tak menunggunya lagi, aku tak akan memperdulikannya lagi.
Aku mulai membuat balon-balonku, mengumpulkan satu demi satu balon yang diisi angin untuk membawaku terbang lagi. Saat itu, aku bahkan tak perduli ketika aku sedang berusaha membuat balon yang satu namun balon yang lain pecah, aku tak perduli balon-balon yang lepas dari kumpulan balonku, yang kutau aku akan meniup balon-balon ini, demi aku bisa terbang lagi. Aku tetap mencoba meskipun lebih banyak balon yang pecah dibanding balon yang kutiup. Akan selalu ada pengganti dari balon yang pecah. Itu yang selalu kupikir. Aku terus meniupkan balon-balonku, setiap balon yang terkumpul, mengembangkan senyumku, melegakan nafasku, dan meyakinkan diri bahwa aku masih berhak terbang, aku masih berhak menyentuh langit.
Tapi sayangnya, sejak aku memutuskan untuk membuat balon sendiri, sampai saat ini. balon-balonku selalu tak cukup untuk membuatku terbang. Balon-balon yang kukumpulkan pecah satu persatu, atau terbang sendiri melepaskan ikatannya. Tak perduli berapa kalipun aku mencoba, balon-balonku selalu pecah. Aku kehabisan daya, aku kehabisan akal, dan aku mulai ragu...apakah aku masih berhak menyentuh langit, atau tidak. aku menjadi seperti tak percaya atas adanya kebaikan. Aku mulai merasa tidak diadili. Aku merasa dunia begitu egois. Aku merasa hanya aku saja yang tak bisa terbang. Apa aku tak bisa dibiarkan bernafas lega, menghembuskan setiap nafasku dengan ringan ? kalau aku tidak bisa terbang lagi bersama balon udaraku, bisakah setidaknya aku tinggal di dalamnya, karena di sanalah aku bisa merasa terjaga.
Kenapa keegoisan dunia sangat sulit untuk ditaklukan ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar