Jumat, 20 November 2015

Gravitasi Rindu




Mencintai seseorang begini ya rasanya. Menahan rindu disetiap detakkan jarum jam yang menggema di malam hari. Membayang-bayangkan apa yang dia lakukan di sana, membayang-bayangkan apa yang dia pikirkan di sana. Memejamkan mata pun yang terlihat justru wajahnya. Ntah kenapa setiap pesan yang ia kirimkan, selalu saja membuat sesuatu seperti berterbangan di perutku. Pipiku menjadi memanas. Fikiranku terhenti. Aku tak tau pasti perasaan apa itu. Yang kutau mencintai orang dalam keadaan seperti ini, selalu menimbulkan Gravitasi Rindu.
Anggap saja, cinta adalah bumi, lalu pertemuan dan perlakuannya adalah sebuah gaya gravitasi, maka rindu adalah efek dari berkurangnya gaya gravitasi bukan ? ketika gravitasi di bumi berkurang, maka yang terjadi adalah kita akan terbang, sulit untuk menyentuh dan merasakan bumi, sama saja bukan ? ketika aku tak kunjung bertemu dia, rindu yang terjadi, karena aku sulit menyentuhnya, merasakan cintanya. Sekedar berbicara lewat telefon, saling bertukar kata cinta, berkeluh tentang yang terjadi di sini, atau di sana, itu mengobati rindu, karena menambah tarikannya, untuk setidaknya sedikit merasakan cintanya.
Tapi, bagaimana jika, cintaku dikejauhan itu, tak pernah tau akan adanya cinta ini, tak pernah tau harapan aku bisa bertemu dengannya, tak pernah tau bahwa setiap saat aku butuh gravitasi rindu. Dia, cintaku itu, tak tau aku mencintainya.  Aku, mencintai orang dikejauhan, yang tak pernah tau aku mencintainya. Bagaimana aku bisa bertahan di bumi ini jika bumi ini tak sadar tengah aku singgahi, bagaimana dengan gaya gravitasi yang selalu aku harapkan, bagaimana rindu yang dia abaikan. Tapi percayalah, itu tak seburuk yang dibayangkan. Aku merasakannya. 
 ---
“Aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. ” Katanya di sebuah aplikasi chatting padaku. Senyumku mengembang dengan indahnya ketika dalam keadaan setengah sadarku baru membuka mata di pagi hari, lalu membaca pesannya. Aku mengetikkan jawaban untuknya. ‘Pagi sekali kau berangkat, sudah sarapan ? semalam kau pasti ketiduran lagi ya, ah itu pasti karena kau ingin tidur lebih awal karena harus ke kantor pagi-pagi kan ?’ Selesai, lalu kutekan ‘delete’.
“Hati-hati ya, semoga harimu menyenangkan, Dokter Jun..” Itulah yang akhirnya ku kirimkan padanya. Lalu kami pun bertukar chat di pagi itu. Itulah kebiasaan kami, berkomunikasi lewat aplikasi di ponsel kami, sesekali menelfon untuk mengobati efek dari kurangnya gravitasi. Jangan tanyakan apa hubunganku dengannya. Hanya sebatas dokter, dengan mantan pasien. Aku mengenalnya sekitar 2 tahun lalu, di sebuah rumah sakit tempatnya bekerja. Aku menjadi pasien di sana, lalu dia menjadi dokter yang merawatku. Ntah karena terlalu lama aku di rawat atau apa, aku jadi dekat dengannya, dan dia menjadi seperti dokter pribadiku, bahkan dia memberiku contactnya, alasannya agar aku mudah menghubunginya, karena tak ada yang menjagaku, keluargaku di Pontianak dan aku di Bandung, karenanya dia merasa bertanggung jawab atasku. Dia dokter terbaik yang aku tahu, ntahlah aku jadi seperti tak ingin sembuh, karena jika aku sembuh itu artinya aku akan keluar dari rumah sakit dan akan jarang bertemu dengannya.  Tapi tak terpungkiri, aku keluar dari rumah sakit, dan untuk benar-benar sembuh aku tetap perlu check up, aku tetap bertemu dengannya.
Satu yang aku tau setelah aku benar-benar sembuh dan tak lagi ada alasan untukku menemuinya, komunikasiku dengannya tak seintens saat aku masih menjadi pasien. Aku sadar, bahwa dia benar-benar seorang dokter profesional, dia memperlakukanku dengan baik, memperhatikan aku....selayaknya pasien-pasiennya, bukan karena dia tertarik padaku atau apapun. Tapi toh aku tetap bisa menghubunginya, dengan aku yang sedikit cerewet menghubunginya, kami akhirnya benar-benar dekat, dan bisa kembali berhubungan intens dengannya.
Aku tak tau pasti kapan ini terjadi, tapi aku jadi serasa menyukainya, bukan sebagai dokter pribadiku, tapi sebagai lelaki special yang ingin kutinggali hatinya. Sebagai lelaki yang kuharapkan gravitasinya untuk memenuhi rinduku. Aku berbunga-bunga ketika kami bertukar pesan, rasanya bahagiaku hanya bergantung pada pesannya saja. Ntah sejak kapan, tapi aku mulai gelisah ketika dia tak kunjung membalas pesanku, atau tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar. Jangan tanya seberapa sering aku bertemu dengannya, karena sejak kelulusanku satu tahun lalu, aku kembali ke Pontianak. Satu yang kusesalkan, aku tak pernah sedikitpun membicarakan tentang rasa ini, ataupun menanyakan perasaannya.
“Hey Jun.” Sapaku di sambungan telefon, setelah sudah lebih dari satu minggu dia tak membalas chat terakhirku dan tak memberi kabar apapun. Aku, mulai haus dengan gravitasinya. Aku menebak-nebak alasan mengapa dia menghilang. Dan seberapa banyakpun aku mencoba mencari alasan yang mungkin hanya satu yang terus memutar-mutar di kepalaku ‘mungkin dia sibuk dengan pacarnya.’. Dan hebatnya, dengan berbagai spekulasiku, ntah kenapa aku menjadi kesal dengannya, menjadi gerah atas sikapnya yang.........tak pernah peka. Gravitasi rindu yang tak terbayar, membuat rasa aneh tersendiri, bukan galau, bukan sedih, bukan sakit hati atau apapun, hanya saja seperti ada yang mengganjal di dada.
“Iya, ada apa Rena ?” Katanya tanpa dosa, yaa memang dia tak berdosa dalam hal rindu yang dia buat. Dia tak berdosa atas kegelisahanku yang memiliki sejuta pertanyaan dari dia yang menghilang dan atas nada bicaranya yang tiba-tiba berubah. Beginilah efeknya, menyayangi seseorang diam-diam.
“Rena ?” Lanjutnya karena aku tak kunjung memberikan jawaban, aku kembali ke alam nyataku. Caranya memanggilku benar-benar ampuh menarikku dari dunia manapun. Sungguh.!
“Iya Jun ?”
“Ada apa telefon ? Kau baik-baik saja kan ?”
“Ah, errr...iya juga yaa kenapa aku menelfon kamu. Hehe. Yasudah maaf mengganggumu.” Gugupku saat itu. ‘Aku kangen kamu Jun.’ Itu yang harusnya ku katakan untuk memenuhi permintaan atas gravitasi yang mulai berkurang, melayangkanku dari tempat yang kupijaki.
“Kau benar baik-baik saja ? Kau sakit Rena ?” Celetuknya, sesaat sebelum aku mematikan sambungan. Oh shit, bagaimana dia bisa seperhatian ini padaku. Aku sedang kesal denganmu Jun.!
“Aku sangat baik-baik saja Dokter.” Aku menanggapi kekhawatirannya.
“Sudah berapa kali aku memintamu untuk tak memanggilku dengan sebutan itu.” Katanya. Ya itulah, setelah aku mulai dekat dengannya, dia tak lagi mau kupanggil ‘dokter’ seperti aku memanggilnya saat masih menjadi pasiennya.
“Karena kau terlalu mengkhawatirkanku, kau memperlakukanku seperti pasienmu.” Jawabku memutarkan mataku sendiri, yang sudah pasti tak bisa dia lihat.
“Aku sedang banyak pasien, jadi aku terbawa seperti ini.”
“Kau pasti sangat sibuk, pantas kau tak ada waktu.”
“Hm?”
“Ah, ya itu kau pasti tak ada waktu untuk keluargamu kan ? atau pacarmu itu juga sering kau tinggal kan ? Ku rasa juga kau tak ada waktu untuk istirahat.”
“......” Dia tak bergeming, kurasa aku salah berbicara.
“Jun ?”
“Maaf ya, belakangan aku tak ada waktu untukmu.” Strike.! Aku membeku sesaat, seperti ada yang rontok di dadaku, sesuatu seolah membawa kabur otakku. Dia meminta maaf atas kesibukannya padaku. PADAKU. Ya Tuhan, nikmat mana yang Kau dustai. Percakapan malam itu terhenti sesaat. Aku tak tau harus berbicara apa dan dia masih tak melanjutkan perbincangannya. Aku terdiam, mendengarkan desahan nafasnya yang terdengar jelas di speaker ponselku. Jun, bisakah kita seperti ini untuk beberapa waktu saja, aku begitu nyaman dengan situasi yang seperti ini saja, mendengar desah nafasmu saja sudah seperti kau benar-benar ada di sampingku.
Hanya sebatas itu gravitasi yang aku dapatkan, tapi sungguh itu justru daya terkuat. Aku, aku yang hampir terbang ini, tertarik kembali padanya. Aku memutuskan untuk kembali bertahan atasnya dengan gravitasi darinya yang tak pernah ia sadari. Tapi seperti ini saja pun tak apa, sungguh tak apa. Aku menikmatinya, dengan setiap harinya aku bisa menghubunginya, kami bisa saling berhubungan pun aku sudah sangat bahagia. Dengan dia tertarik dengan hal yang kulakukan sajapun, jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Sungguh, seperti ini saja pun tak apa, kalau setiap hariku bisa dibuat senyum atasnya. Dan sungguh, seperti sajapun tak apa, meskipun aku sering merindu karena kurangnya gravitasi darinya.
Telefonku masih tersambung dengannya, desahannya masih kudengar, dan aku tetap merasa dia berbaring di sampingku, menghabiskan malam dengan merasakan hangatnya tubuh masing-masing. Setiap desahannya, semakin lama, semakin membuat aku sadar, jika aku hanya bermain dengan gravitasi rindu saja. Merindu lalu melayang atas kurangnya daya tarik bumi, lalu dengan tarikan sepele, aku tehempas lagi ke bumi, tempat ku memutuskan untuk tinggal, aku hanya dipermainkan oleh gravitasi rinduku saja.
Ntah apapun yang terjadi, aku akan baik-baik saja. Seperti ini saja, ntah berapa kali lagi aku akan merindu lalu terhempas karena gravitasi, tak mengapa, karena inilah jalanku, mencintaimu sebatas gravitasi rinduku. Rasanya aku tak perlu meminta yang lebih dari ini, aku tak perlu memintamu lebih sering bersamaku, lebih sering menyisakan waktu untukku, ataupun lebih sering menghubungiku, aku tak mau jika aku dan kamu menjadi lebih dari suatu hubungan yang kusebut dengan gravitasi rindu.
“Jun...” Aku memanggilnya, setelah hampir satu jam ini kami tak bersuara satu sama lain kecuali desahan nafas yang terdengar.

“.......” Tak ada jawaban.

“Halo Jun, Kau masih di sana ?”

“.......”

“Jun.! Ahh kau pasti tertidur lagi.” Keluhku, desahannya masih terdengar jelas.

“......”

“Jun, Kau benar-benar tidur ?”

“......” Dia tak bergeming, aku menghela nafas panjang.

“Selamat tidur Jun. Kau pasti kelelahan. Istirahatlah dari semua kesibukanmu. Kau tak perlu meminta maaf atas kesibukanmu padaku. Aku tak berhak mendapat maafmu. Kau sama sekali tak bersalah atas rindu yang merambahi diriku. Kau tak bersalah atas gravitasi rinduku yang tak terbayar, Jun.”

“...........” Dia masih tak berkata apapun, dia benar-benar sudah terlelap.

“Aku mencintaimu Jun, meski hanya sebatas gravitasi rindu.”


“Rena...”
---End---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar