Rabu, 17 Juni 2015

Maaf ya, Aruna. || Aku Rindu Kamu 3




Biarkan ku hanya akan mengagumimu,
Selalu memanjakanmu,
Memelukmu,
Menidurkanmu dalam pelukku..
Karena aku hanya akan mengagumimu, itu saja. Aku menyayangimu lebih dari siapapun kau tau ? aku sangat ingin menjagamu, sebisaku. Memperhatikanmu semampuku.
                Maaf ya, aku meninggalkan lubang di hatimu terlalu besar, maaf ya aku harus membuat kamu berharap, maaf ya aku harus membuatmu menangis ketika aku pergi. Seharusnya kamu tak perlu menangis dihadapanku, karena air matamu itulah yang paling aku benci, makanya aku tak pernah rela siapapun menyakitimu, apalagi sampai membuat menangis. Dan karena itu pula, aku tak bisa menggambarkan bagaimana hancurnya diri ini, melihatmu menangis atasku, dihadapanku, apa yang harus aku lakukan jika kamu menangis seperti itu. Datang padaku dengan air mata dan mengucapkan salam perpisahan, menceritakan kekosongan dirimu dimasa yang akan datang tanpa aku. Apa yang harus aku lakukan ketika kamu dengan manjanya tiba-tiba memintaku membatalkan kepergianku. Memintaku untuk tinggal lebih lama, bersamamu. Bukankah sekarang kamu akan lebih bebas tanpa ada aku yang akan mengganggumu, mengusili kamu demi menarik perhatian kamu, berlaku aneh demi sedikit saja membuat senyum di wajah lucumu itu.
                Kamu itu, bagaimana aku menggambarkannya yaa. Kamu sosok yang aku kagumi, orang yang benar-benar ingin aku dekati, benar-benar ingin aku jaga dari laki-laki mana pun, orang yang benar-benar ingin aku buat tertawa daripada hanya diam seperti yang biasa kamu lakukan, tersenyum dalam wajah murungmu. Karena aku sayang kamu.
                Membuatmu tertawa itu seperti salah satu dalam diri ini merasakan kepuasan tersendiri. Hah, jangankan kamu tertawa, ketika kamu akhirnya mengalihkan perhatian padaku pun aku sudah sangat bahagia, ketika kamu akhirnya mau menerima minuman yang selalu aku belikan, aku sangat senang kau tau. Apalagi akhirnya aku bisa mengajakmu pulang bersama. Haah itu hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, bisa mengantarkan orang seperti dirimu, seperti putri yang banyak orang perebutkan untuk mengantarkanmu pulang.
                Alasan lainku, karena aku..tak ingin laki-laki lain di sekolah ini mendekatimu, membiarkani orang yang seperti bidadari didekati laki-laki kurang ajar yang hanya menginginkan tubuhmu. Aku hanya ingin menjagamu. Melindungi kamu dari bullyan kakak kelas yang tak pernah suka dengan kecantikanmu, dari perempuan lain yang ingin menyakitimu, aku tak akan membiarkan kamu mengalami itu.
                Aku tak pernah tau, yang kurasa ini apa, harus kusebut apa segala rasa yang selalu membuncah ketika berhadapan denganmu, rindu yang menyerang ketika sehari saja tidak denganmu, rasa kesal ketika kamu tak kunjung mengalihkan perhatianmu padaku dan kamu justru lebih sibuk dengan novel atau game yang kamu mainkan, kesal ketika kamu murung tanpa aku bisa membuatmu tersenyum, tanpa aku tau yang kamu pikirkan, dan kamu hanya berkata ‘berisik.!’ Lalu aku hanya akan diam dan duduk di sampingmu. Kamu sering memarahiku jika aku mulai lancang, aku benci kau marah-marah padaku , tapi ternyata aku lebih benci ketika kamu kehilangan mood dan tak mau bicara dengan siapapun, termasuk aku. Aku benci ketika kamu terlihat tidak baik2 saja, tapi aku tak dapat melakukan apapun, aku benci hanya mampu berada di sampingmu tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya denganmu.
                Kamu itu...apa yaa, aku seperti tak ingin sedikit saja melihatmu murung, kalaupun itu terjadi..aku ingin akulah yang akan membuatmu tertawa pertama kali, aku ingin aku yang kamu datangi ketika hatimu sedang dalam keadaan tidak baik, aku yang kamu ganggu dengan segala cerita yang membuatmu kacau, aku ingin menjadi nomor satu untukmu. Iya, aku ingin menjadi orang yang paling akan kau cari ketika kamu sedih, senang, kacau, gembira, semuanya.
                Kalau saja kamu tau, aku berubah menjadi lebih bisa mengerti seseorang hanya karena aku selalu berusaha mengerti kamu. Berkat kamu, aku akhirnya mampu sedikit demi sedikit mengerti tentang orang-orang di sekitar, tentang teman-temanku, bahkan wanita-wanita yang mendekatiku. Kamu memang tak mengajarkanmu, tapi karena kamu yang begitu menyulitkan untukku mengerti, aku jadi terlatih untuk selalu berusaha mengerti seseorang. Kamu itu, sejak awal aku mengenalmu, aku tau bahwa kamu orang yang akan sangat sulit didekati, apalagi oleh laki-laki slengekan seperti aku, karena itulah aku berusaha mengerti bagaimana kamu, bagaimana agar kamu mau menerimaku sebagai temanmu dan menarik perhatianmu. Ketika aku berhasil mengenalkan diri padamu, aku mulai kembali mencoba mengerti bagaimana kamu lebih dalam agar aku bisa setidaknya membuat kamu tersenyum kecil bahkan tertawa. Semua yang ada dalam diri kamu, aku pelajari..aku coba mengerti segala sifat dan sikap kamu, mood kamu yang tak tentu itu, selalu aku coba mengerti demi kamu tak marah denganku. Kemauan kamu yang kadang menyusahkan itu selalu aku mengerti demi tak mengecewakanmu, demi kamu tetap mau aku dekati.
Kamu itu, selalu berhasil membuatku mengesampingkan egoku, membuangnya demi kamu merasa nyaman, demi memenuhi permintaanmu, demi membuatmu tersenyum, demi kamu senang karena kamu memiliki aku. Kamu selalu berhasil mengesampingkan emosiku dengan wajah lucumu itu, memanyunkan bibir dengan mata memelas, membuatku selalu luluh dengan kelucuanmu itu. Ntah apa, tapi aku hampir tak pernah bisa marah denganmu. Kalaupun aku berniat tak mengajakmu bicara karena sikapmu yang terlalu menyebalkan, pada akhirnya aku akan kalah juga karena kamu akan teguh pada dirimu sendiri bahwa kamu tak pernah salah, pada akhirnya aku juga yang akan mengajakmu bicara terlebih dahulu, aku juga yang akan menarik perhatianmu dulu, aku juga yang akhirnya tidak bisa jauh denganmu. Iya yaa, kenapa pada akhirnya aku justru tak bisa jauh denganmu. Merasa ada yang kurang jika sehari saja tidak menganggumu, tidak menjahilimu, atau membuatmu tertawa, sehari saja tanpa kamu, ternyata sulit.
Aku mulai memikirkan sulitnya hidup tanpamu sejak aku memutuskan untuk pergi ke Jepang setelah kelulusan. Saat itu juga aku terfikirkan kamu, kamu yang setiap harinya ku ganggu, ku jaga, ku manja, setiap hari ada didekatku. Bagaimana aku di sana jika tidak ada kamu, bagaimana aku di sana jika tak ada orang yang membuatku semangat hidup. Namun ternyata bagian tersulitnya adalah cara memberitahumu akan kepergianku, rasanya.....seribu maaf pun tak akan cukup bukan, untuk mengungkapkan rasa bersalahku karena meninggalkanmu setelah semua yang aku dan kamu lakukan.
                Aruna maaf ya, aku pergi begitu saja. Maaf aku memberi tahumu hanya kurang sehari sebelum keberangkatanku, aku tak tau bagaimana aku memberi taumu, aku tak berani, Iya aku tau ini salah, tapi bagaimana jika aku juga tak tau bagaimana yang benar. Terlebih aku melupakan satu hal penting. Aku...lupa membicarakan tentang perasaan ini, aku lupa menjelaskan apa saja yang terjadi dalam diri ini ketika aku bersamamu, rasa apa saja yang pernah hinggap dalam tubuh ini sejak aku mengenalmu, aku lupa menceritakan tentang aku dan kamu. Maaf membuatmu merasa dipermainkan aku, maaf karena telah memberimu rasa yang membuatmu tersiksa, rasa yang membuatmu berantakan, maaf atas semua rasa yang pernah kamu rasa atas perlakuanku terhadapmu, maaf Aruna.
                Kenapa kamu harus berlalu pergi dari cafe ini saat hujan turun dengan derasnya, kenapa kau mengacuhkan panggilanku, kenapa pula kau tak lagi datang ke cafe ini seminggu ini. Aku, masih di sini, demi menemuimu yang ku yakin kau salah paham dengan apa yang kau lihat. Aku masih di sini, demi mengutarakan segala keinginanku, aku di sini demi berbicara denganmu lagi setelah tiga tahun lalu aku meninggalkanmu. Aku akan tetap di sini, sudut cafe ini yang aku yakin kau akan menuju tempat ini ketika kamu datang. Dan maaf, ketika kamu datang, aku akan mengagetkanmu. Maaf ya, Aruna.

Senin, 15 Juni 2015

Kenapa Harus Kamu || Aku Rindu Kamu 2




Aku sendirian, berdiri di tengah derasnya hujan, aku ingin membasahi seluruh tubuhku. Aku ingin membersihkan diri dan hati kotor ini. Malam ini, di tengah hujan ini, aku tak tau apa yang harus aku lakukan, aku tak tak harus pada siapa aku percaya, aku tak tau harus kepada siapa ku bertanya, karena sekalipun aku tanyakan, tak akan ada jawaban yang datang.
Kenapa harus seperti ini akhirnya ? Kenapa harus kamu ? Kenapa aku harus melihatmu sore tadi ? Kenapa kamu membuat aku tak karuan, kenapa kamu yang akhirnya membuat diri ini hancur ? Kenapa kamu yang membuatku menyesal pernah menunggu seseorang ? Kenapa harus kamu yang ada di hati ini, kenapa harus kamu yang menghancurkan jiwa ini, kenapa harus kamu yang merusak kerja otakku, kenapa harus kamu yang membuatku cemburu, kenapa harus kamu, Taras.!
Kenapa harus kamu yang akhirnya membuatku seperti ini, kenapa harus kamu yang dengan gigihnya menggoyahkan keyakinanku dan mampu meruntuhkan pertahananku. Kenapa harus kamu yang membuat aku akhirnya mau memperdulikan orang lain. Kenapa harus kamu yang akhirnya bisa membuatku tertawa dari diamku. Kenapa akhirnya kamu yang harus mendekati aku, dan mampu membuatku diam dengan segala perlakuanmu padaku. Kenapa harus kamu ?
Kamu..tau kah bahwa akhirnya kamulah satu-satunya yang mampu membuatku nyaman, membuatku membuka diri, memiliki semangat untuk melangkah, terlebih kamu...kamu menjadi alasanku untuk aku berjuang lebih dari ini. Kamu yang membuatku ingin melampaui batas diriku, melakukan segala yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dan kamu yang membuatku merasa aku memiliki orang berharga sepertimu.
Aku melangkahkan kaki perlahan demi membawa tubuh dingin ini ke tempat yang akan menghangatkan diri dan hati ini. Sudah tiga tahun sejak kita lulus, lalu kamu akhirnya pergi ke Jepang sana. Ke tempat yang dulu kamu selalu ceritakan padaku, tempat yang jadi impian terbesarmu, tempat idol grup yang kamu sangat gilai. Aku masih ingat betul kamu yang berkata ‘Aku ingin ke sana bersamamu.’. Lalu dengan cepatnya kamu mengubah topik perbincanganmu. Dulu, aku tak pernah menghiraukan kalimatmu itu, tapi....ntah kenapa sekarang aku justru ingin menagihnya, aku ingin kamu membawaku ke tempat yang aku tak pernah tau kemana jalannya. Tapi di sana apa kamu masih memikirkan aku ? setidaknya mengingatku, namaku saja mungkin. Haahhhh, aku lupa kalau kamu sering bercerita tentang wanita-wanita Jepang yang cantik-cantik, bagaimana kamu bisa bertahan sendiri yaa kalau kamu akhirnya bisa berada di tempat seperti itu. Siapa pula aku ini, memintamu mengingatku bahkan bertahan demi aku.
Dulu, tak pernah terbayangkan sedikitpun mengerikannya menjalani hari tanpa kamu. Yang aku tau saat itu, kamu akan menghampiri kelasku di pagi hari dengan terengah-engah karena kau yang terlambat bangun, lalu kembali ke kelasmu ketika pelajaran dimulai. Yang aku tau kamu akan mendatangiku yang sibuk dengan diriku sendiri di taman sekolah ketika istirahat, lalu kamu menawarkan minuman yang meskipun aku menolaknya kamu akan terus mengoceh hingga aku terpaksa menerima minuman yang kamu belikan, lalu dengan melihat ke lapangan basket  kamu selalu berbicara hal-hal kecil yang dengan ajaibnya mampu membuatku tertawa lebar yang katamu ‘aku selalu tenang kalau melihat tawamu.’ Dan yang aku tau, kamu akan selalu mengantarkanku pulang dengan berjalan kaki bersama dan kamu menuntun sepedamu ‘biar lebih lama sampai ke rumahmu’ katamu kalau aku tanya mengapa sepedanya tak dikendarai saja, dan kamu yang akan tetap ada di sampingku meskipun aku mendiamkanmu, meskipun aku bilang aku marah, aku mau sendiri, aku tak mau diganggu. Itu yang aku tau dulu, kamu yang selalu di sampingku, kamu yang selalu menjagaku, kamu yang selalu menghiburku, kamu yang selalu menemaniku, kamu yang selalu membelaku dari bully teman-teman sekolah. Iya itu yang aku tau, Taras.! Karena sedikitpun aku tak pernah memikirkan masa depanku, jika kamu tak lagi bisa ada untukku.
Sayangnya...sejak kamu mengangguku saat Ospek SMA sampai kita merayakan kelulusan, selama itu pula, kamu tak pernah bercerita apapun tentang diri kamu, tentang kehidupanmu, apalagi perasaanmu. Iya seingatku, kamu tak pernah menceritakan itu padaku, tentang keluargamu, orang-orang terdekatmu, atau bahkan kekasihmu, sampai saat itu aku berfikir ‘aku ini apa ?’ setelah setiap hari bertemu, setiap hari berbicara, setiap hari pulang bersama, tanpa hubungan yang jelas. Setiap perlakuanmu, setiap perkataanmu, setiap perhatianmu, setiap itu pula pertanyaan itu muncul. Setelah semua yang kita lakukan, ternyata aku melupakan bahwa aku bukan apa-apa. Bahkan kepergianmu ke Jepang, kamu memberi tahuku hanya sehari sebelum keberangkatanmu, yang ternyata semua teman-temanmu sudah mengetahuinya. Setelah itulah aku benar-benar sadar bahwa aku memang bukan apa-apa buatmu. Aku hanya orang yang mungkin tidak sengaja kamu perhatikan, yang tidak sengaja kamu manjakan, lalu aku dengan begitu percaya dirinya menganggap itu semua spesial, menganggap itu semua hanya kamu lakukan untukku, demi membuatku senang dan tertarik padamu. Dan dengan semua kegeeranku itulah, aku menjadi sangat memanja padamu, tanpa sadar...kamu yang awalnya hanya penghiburku mampu merasuk menjelma menjadi orang yang paling aku butuhkan, orang yang paling aku cari, orang yang paling aku tunggu kehadirannya.
Kenapa yaaa..kenapa harus kamu yang akhirnya membuatku berharap, mengharapkan kehadiranmu, mengharapkan perhatianmu, mengharapkan kamu bersikap baik hanya padaku, mengharapkan kamu mementingkan aku lebih dari siapapun. Mengharapkan aku menjadi nomor satu di hatimu dengan banyaknya anak perempuan lain yang juga berharap padamu. Mengharapkan menjadi orang pertama yang kamu cari ketika kamu ingin bercerita. Mengharapkanmu.! Walaupun pada akhirnya kamu memang hanyalah harapan. Karena kini kamu terlihat jauh yang padahal biasanya kamu begitu dekat, sangat dekat.!
Kenapa kamu harus pergi begitu saja ? Kenapa kamu tak pernah membicarakan sedikitpun tentang kamu yang selalu memperlakukanku dengan begitu baiknya, memanjakanku dengan segala perhatianmu, tentang perasaan kamu, aku mau tau semua itu, Taras.! Saat itu, saat aku mengantarkan kamu ke Bandara, aku sangat ingin berkata ‘Aku masih ingin berbicara denganmu.’ Aku ingin membicarakan mengenai hal yang dulu begitu mengganjal di pikiranku, mengenai aku dan kamu, mengenai perasaan ini yang ntah mau diapakan jika kamu pergi begitu saja. Aku masih ingin denganmu.!
Aku masih ingin bersamamu, aku masih ingin kamu menggenggam tanganku, memelukku dengan tubuh hangatmu, menyentuhku dengan lembutnya. Aku masih ingin kamu memperhatikan aku, memanjakan aku dengan segala kelakuanmu yang membuatku selalu ingin denganmu. Aku masih ingin kamu menggangguku, membuatku tertawa dalam diamku, tersenyum dalam bosanku, aku masih ingin semua itu. Kenapa kamu harus pergi tanpa berpamitan lebih lama padaku. Agar aku setidaknya bisa menikmati waktu bersama kamu. Kenapa pula kamu harus sibuk dengan yang lain, kenapa kamu justru bersikap cuek padaku di saat terakhir kamu bersamaku ? Kenapa harus seperti itu ? Membuat aku berpikir bahwa aku adalah permainanmu saja, membuat aku berpikir, aku hanya orang yang kamu bodohi saja, hanya sebagai teman jika kau tak ada teman, hanya sebagai orang yang tak pernah penting bagimu, membuatku berpikir bahwa aku orang yang paling tidak kamu butuhkan.
 Taras, tiga tahun ini..apa kamu masih ingat semua itu. Ingat semua yang kamu lakukan padaku. Atau setidaknya....pada cincin yang pernah kamu berikan untukku, cincin yang katamu agar aku dan kamu bisa saling mengingat kalau kita berpisah, cincin yang kamu pilih modelnya dengan tujuan agar kita bisa memakai cincin yang sama. Begitu saja katamu, tanpa penjelasan yang lebih ketika kamu memasangkan cincin mainan itu di jariku. Cincin itu....aku tak memakainya lagi, ntah....tapi salah satu dalam diriku merasa ‘untuk apa aku masih memakai cincin ini, yang bahkan kabarnya pun aku tak pernah tau’. Lalu aku berniat tak mengingat-ingat kamu lagi, setidaknya tidak berharap untuk kamu datang dan menemuiku lagi. Karena kalaupun kamu kembali ke Indonesia, sudah pasti bukan aku tujuanmu kan ? ya, itu pasti.! Dengan melihatmu melewati cafe itu di sore hari saat hujan tadi, sudah sangat membuktikan bahwa kamu datang ke Indonesia bukan untukku.
Aku tak tau benar bagaimana aku harus bertindak ketika mataku dengan jelas menangkap bayanganmu dari tempatku duduk di kursi cafe itu, di dekat kaca pembatas cafe dengan halaman luar, di tempat kita biasanya menghabiskan liburan, atau sore membosankan, kamu berjalan di pinggiran cafe ini, menghindar dari derasnya hujan di luar, aku tau betul itu kamu.! Karena kamu, masih dengan senangnya mengenakan Jaket coklat yang selalu kau pakai sejak SMA. Saat itu aku ingin keluar dari cafe ini, berlari mengejarmu, kemudian memelukmu, lalu berkata ‘aku sangat merindukanmu’ tapi satu sisi dalam diri ini menghentikan pergerakanku sejak aku keluar dari cafe dan melihatmu bersama perempuan  yang kamu genggam erat tangannya demi menghangatkannya dari dingin, seperti yang kamu sering lakukan kepadaku dulu ketika sepulang sekolah kita terjebak hujan, lalu meneduh di pinggiran toko. Lalu apa yang harus aku lakukan jika sudah seperti ini ? Jika ternyata memang semua yang kutebak, benar adanya.
Aku, setelah satu minggu tak mengunjungi cafe itu demi tak ingin melihat hal yang sama, akhirnya ku kendariai  mobil sepulang kerjaku dan mengarahkannya ke cafe itu. Seperti biasanya, aku memarkirkan mobil dengan penjaga parkir yang sudah begitu hafal dengan wajah dan terlebih mobilku, menyapanya lalu masuk ke cafe seperti biasa, dan berjalan ke tempat dimana aku biasanya duduk dan menghabiskan soreku.Tempat itu selalu kosong jika aku datang ke cafe ini, namun tidak untuk kali ini, begitu aku sampai aku baru sadar jika ada orang lain yang menempati meja yang biasa ku pakai untuk menghabiskan waktu. Duduk dengan santainya, menghadap ke arah luar cafe dengan matanya yang ia tutupi kacamata coklat kehitaman dan jaket coklat yang melekat di tubuhnya. Aku memperhatikan orang yang tengah duduk di sana, dan sekarang menghadap ke arahku, melepas kacamatanya lalu tersenyum menunjukkan lubang di pipi kanannya, apa pula maksudnya dia tersenyum seperti itu. Aku menghelakan nafas. ‘Kenapa Harus Kamu.?”

---

Minggu, 07 Juni 2015

Aku Rindu Kamu






“Aku rindu kamu..” itu kalimat yang pertama kali muncul di antara kedua orang yang tengah berhadapan di sudut cafe ini. Dengan suasana sendu dalam cafe dan derasnya hujan di luar, membuat keduanya tenang dalam diam dan pikiran mereka masing-masing.
“Apa kau tak merindukan aku, Aruna ?” Begitulah kata laki-laki berjaket coklat gelap dengan kaos putih di dalamnya bersandar di kursi cafe yang lebih terlihat seperti sofa empuk yang membuat betah orang yang mendudukinya. Aruna yang merasa dirinya disebut dalam kalimat laki-laki dihadapannya, memakukan pandangannya pada mata tajam orang yang sedari tadi tak berani beradu tatap dengannya.
“Kenapa pula aku harus merindukan orang seperti kamu ?” Lancar Aruna dalam mengucapkan jawabannya. Perasaannya masih sama sejak dia datang kemudian menemukan laki-laki itu duduk dengan santainya di tempat yang biasa ia tempati tiap kali dia ke cafe ini. Campur aduk.!
“Setidaknya kamu harus merindukan aku yang tak lagi menganggu kehidupanmu.” Santai laki-laki itu menjawab dengan membayang-bayangkan masa-masa dulu.
“Tidak.” Dingin Aruna, sikapnya sudah menyerupai coklat di hadapannya yang mendingin karena pemesan membiarkan cangkir coklat panas tersebut terkena hawa dingin dari hujan di luar.
“Kamu..masih sama seperti dulu, jutek dingin sok cuek. Haah, tak berubah sama sekali.” Laki-laki itu menenggak isi cangkir ketiganya sampai habis. Lalu memesan chococino hangat lagi kepada pelayan. Aruna masih menatap datar orang dihadapannya yang menghabiskan tiga cangkir minuman sedangkan dirinya membiarkan satu gelas coklat mendingin karena tak ia sentuh.
“Ahh, apa kau ingin memesan lagi minumannya ? Aku tau, coklatmu itu pasti sudah dingin.” Dengan nada basa-basinya ia mencoba membuat Aruna lebih santai pada suasana ini.
“Kau tau kenapa coklat ini menjadi dingin ?” jarinya ia mainkan di bibir cangkir dihadapannya, sedang yang ditanya menatap heran Aruna.
“Ya itu karena kau membiarkannya sedari tadi, kau tak meminum coklat hangatmu itu selama hampir satu jam ini, terlebih suasana di luar juga dingin, wajar jika coklatmu itu menjadi dingin, Aruna.” Jawab si laki-laki dengan sabarnya menjawab pertanyaan konyol wanita dihadapannya yang memasang wajah cemberut dengan memanyunkan bibirnya dan menatap pada coklat di dalam cangkir yang masih ia mainkan. Terlihat lucu.
“Benar, sesuatu yang dibiarkan..lama-lama akan menjadi dingin.” Aruna berhenti memainkan cangkirnya, kemudian menatapkan matanya pada lelaki dihadapanya. “Iya kan Taras ?” Kali ini kalimat Aruna benar-benar menghentikan pergerakan tubuh laki-laki dihadapannya yang tengah menggunakan ponselnya. Taras menatap wanita dengan rambut coklat pirang dengan poninya yang jarang namun sempurna menutup dahinya.
“Ahh..mmm” Taras benar-benar kehilangan kata-kata, kalimat yang sedari tadi ia rangkai begitu saja lenyap dengan luncuran kalimat wanita dihadapannya. “Mmm bagaimana jika kupesankan kau coklat hangat lagi ?” Dengan tangannya yang ia garukkan ke kepalanya dan wajah salah tingkahnya ia berucap. Aruna mengalihkan pandangannya ke luar cafe.
“Sepertinya hujannya sudah reda, aku ingin pulang.” Kata Aruna meraih tasnya dan bersiap untuk beranjak dari kursi.
“Tunggu.!” Aruna menghentikan kegiatannya, namun bukan karena kata yang baru saja ia dengar, melainkan karena dia merasakan sentuhan hangat di tangan kanannya. Ia menatap tangan yang menggenggam tangannya mencegahnya untuk beranjak dari tempatnya, lalu ia mengalihkan pada pemilik tangan dingin yang membungkus tangannya.
“Tidakkah kau ingin mendengar ceritaku.?” Aruna tak begitu tertarik pada tawaran yang Taras berikan, ia berusaha menarik tangannya dari tangan Taras.
“Ini tentang aku dan kamu, apa kau tak mau mendengarnya ?” Lagi, Taras membuat Aruna menghentikan gerakannya. Taras akhirnya menatap Aruna dengan lebih serius dari sebelumnya. Tangan mereka masih bersentuhan, genggaman Taras, Aruna biarkan menghangatkan tangannya yang sedari tadi mendingin karena hawa dingin akibat hujan. Terlebih memang karena ia merindukan genggaman itu mungkin. Aruna menghelakan nafasnya mengalah pada paksaan laki-laki yang kini tersenyum lega memperlihatkan lesung di sisi kanan pipinya. Matanya tiba-tiba berubah menjadi agak lebih tegas dari biasanya, sikapnya jadi lebih manis dari sebelumnya yang sangat slengekan tak bisa diam, jadi terlihat kalem dari Taras yang sedari tadi nampak seperti anak SMA.