Biarkan ku hanya akan
mengagumimu,
Selalu memanjakanmu,
Memelukmu,
Menidurkanmu dalam pelukku..
Karena aku hanya akan
mengagumimu, itu saja. Aku menyayangimu lebih dari siapapun kau tau ? aku
sangat ingin menjagamu, sebisaku. Memperhatikanmu semampuku.
Maaf
ya, aku meninggalkan lubang di hatimu terlalu besar, maaf ya aku harus membuat
kamu berharap, maaf ya aku harus membuatmu menangis ketika aku pergi.
Seharusnya kamu tak perlu menangis dihadapanku, karena air matamu itulah yang
paling aku benci, makanya aku tak pernah rela siapapun menyakitimu, apalagi
sampai membuat menangis. Dan karena itu pula, aku tak bisa menggambarkan
bagaimana hancurnya diri ini, melihatmu menangis atasku, dihadapanku, apa yang
harus aku lakukan jika kamu menangis seperti itu. Datang padaku dengan air mata
dan mengucapkan salam perpisahan, menceritakan kekosongan dirimu dimasa yang
akan datang tanpa aku. Apa yang harus aku lakukan ketika kamu dengan manjanya
tiba-tiba memintaku membatalkan kepergianku. Memintaku untuk tinggal lebih
lama, bersamamu. Bukankah sekarang kamu akan lebih bebas tanpa ada aku yang
akan mengganggumu, mengusili kamu demi menarik perhatian kamu, berlaku aneh
demi sedikit saja membuat senyum di wajah lucumu itu.
Kamu
itu, bagaimana aku menggambarkannya yaa. Kamu sosok yang aku kagumi, orang yang
benar-benar ingin aku dekati, benar-benar ingin aku jaga dari laki-laki mana
pun, orang yang benar-benar ingin aku buat tertawa daripada hanya diam seperti
yang biasa kamu lakukan, tersenyum dalam wajah murungmu. Karena aku sayang
kamu.
Membuatmu
tertawa itu seperti salah satu dalam diri ini merasakan kepuasan tersendiri.
Hah, jangankan kamu tertawa, ketika kamu akhirnya mengalihkan perhatian padaku
pun aku sudah sangat bahagia, ketika kamu akhirnya mau menerima minuman yang
selalu aku belikan, aku sangat senang kau tau. Apalagi akhirnya aku bisa
mengajakmu pulang bersama. Haah itu hal yang tak pernah aku bayangkan
sebelumnya, bisa mengantarkan orang seperti dirimu, seperti putri yang banyak
orang perebutkan untuk mengantarkanmu pulang.
Alasan
lainku, karena aku..tak ingin laki-laki lain di sekolah ini mendekatimu,
membiarkani orang yang seperti bidadari didekati laki-laki kurang ajar yang
hanya menginginkan tubuhmu. Aku hanya ingin menjagamu. Melindungi kamu dari bullyan
kakak kelas yang tak pernah suka dengan kecantikanmu, dari perempuan lain yang
ingin menyakitimu, aku tak akan membiarkan kamu mengalami itu.
Aku
tak pernah tau, yang kurasa ini apa, harus kusebut apa segala rasa yang selalu
membuncah ketika berhadapan denganmu, rindu yang menyerang ketika sehari saja
tidak denganmu, rasa kesal ketika kamu tak kunjung mengalihkan perhatianmu
padaku dan kamu justru lebih sibuk dengan novel atau game yang kamu mainkan,
kesal ketika kamu murung tanpa aku bisa membuatmu tersenyum, tanpa aku tau yang
kamu pikirkan, dan kamu hanya berkata ‘berisik.!’ Lalu aku hanya akan diam dan
duduk di sampingmu. Kamu sering memarahiku jika aku mulai lancang, aku benci
kau marah-marah padaku , tapi ternyata aku lebih benci ketika kamu kehilangan
mood dan tak mau bicara dengan siapapun, termasuk aku. Aku benci ketika kamu
terlihat tidak baik2 saja, tapi aku tak dapat melakukan apapun, aku benci hanya
mampu berada di sampingmu tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya denganmu.
Kamu
itu...apa yaa, aku seperti tak ingin sedikit saja melihatmu murung, kalaupun
itu terjadi..aku ingin akulah yang akan membuatmu tertawa pertama kali, aku
ingin aku yang kamu datangi ketika hatimu sedang dalam keadaan tidak baik, aku
yang kamu ganggu dengan segala cerita yang membuatmu kacau, aku ingin menjadi
nomor satu untukmu. Iya, aku ingin menjadi orang yang paling akan kau cari
ketika kamu sedih, senang, kacau, gembira, semuanya.
Kalau
saja kamu tau, aku berubah menjadi lebih bisa mengerti seseorang hanya karena
aku selalu berusaha mengerti kamu. Berkat kamu, aku akhirnya mampu sedikit demi
sedikit mengerti tentang orang-orang di sekitar, tentang teman-temanku, bahkan
wanita-wanita yang mendekatiku. Kamu memang tak mengajarkanmu, tapi karena kamu
yang begitu menyulitkan untukku mengerti, aku jadi terlatih untuk selalu
berusaha mengerti seseorang. Kamu itu, sejak awal aku mengenalmu, aku tau bahwa
kamu orang yang akan sangat sulit didekati, apalagi oleh laki-laki slengekan
seperti aku, karena itulah aku berusaha mengerti bagaimana kamu, bagaimana agar
kamu mau menerimaku sebagai temanmu dan menarik perhatianmu. Ketika aku
berhasil mengenalkan diri padamu, aku mulai kembali mencoba mengerti bagaimana
kamu lebih dalam agar aku bisa setidaknya membuat kamu tersenyum kecil bahkan
tertawa. Semua yang ada dalam diri kamu, aku pelajari..aku coba mengerti segala
sifat dan sikap kamu, mood kamu yang tak tentu itu, selalu aku coba mengerti
demi kamu tak marah denganku. Kemauan kamu yang kadang menyusahkan itu selalu
aku mengerti demi tak mengecewakanmu, demi kamu tetap mau aku dekati.
Kamu itu,
selalu berhasil membuatku mengesampingkan egoku, membuangnya demi kamu merasa
nyaman, demi memenuhi permintaanmu, demi membuatmu tersenyum, demi kamu senang
karena kamu memiliki aku. Kamu selalu berhasil mengesampingkan emosiku dengan
wajah lucumu itu, memanyunkan bibir dengan mata memelas, membuatku selalu luluh
dengan kelucuanmu itu. Ntah apa, tapi aku hampir tak pernah bisa marah
denganmu. Kalaupun aku berniat tak mengajakmu bicara karena sikapmu yang
terlalu menyebalkan, pada akhirnya aku akan kalah juga karena kamu akan teguh
pada dirimu sendiri bahwa kamu tak pernah salah, pada akhirnya aku juga yang
akan mengajakmu bicara terlebih dahulu, aku juga yang akan menarik perhatianmu
dulu, aku juga yang akhirnya tidak bisa jauh denganmu. Iya yaa, kenapa pada
akhirnya aku justru tak bisa jauh denganmu. Merasa ada yang kurang jika sehari
saja tidak menganggumu, tidak menjahilimu, atau membuatmu tertawa, sehari saja
tanpa kamu, ternyata sulit.
Aku mulai
memikirkan sulitnya hidup tanpamu sejak aku memutuskan untuk pergi ke Jepang
setelah kelulusan. Saat itu juga aku terfikirkan kamu, kamu yang setiap harinya
ku ganggu, ku jaga, ku manja, setiap hari ada didekatku. Bagaimana aku di sana
jika tidak ada kamu, bagaimana aku di sana jika tak ada orang yang membuatku
semangat hidup. Namun ternyata bagian tersulitnya adalah cara memberitahumu
akan kepergianku, rasanya.....seribu maaf pun tak akan cukup bukan, untuk
mengungkapkan rasa bersalahku karena meninggalkanmu setelah semua yang aku dan
kamu lakukan.
Aruna
maaf ya, aku pergi begitu saja. Maaf aku memberi tahumu hanya kurang sehari
sebelum keberangkatanku, aku tak tau bagaimana aku memberi taumu, aku tak
berani, Iya aku tau ini salah, tapi bagaimana jika aku juga tak tau bagaimana
yang benar. Terlebih aku melupakan satu hal penting. Aku...lupa membicarakan
tentang perasaan ini, aku lupa menjelaskan apa saja yang terjadi dalam diri ini
ketika aku bersamamu, rasa apa saja yang pernah hinggap dalam tubuh ini sejak
aku mengenalmu, aku lupa menceritakan tentang aku dan kamu. Maaf membuatmu
merasa dipermainkan aku, maaf karena telah memberimu rasa yang membuatmu
tersiksa, rasa yang membuatmu berantakan, maaf atas semua rasa yang pernah kamu
rasa atas perlakuanku terhadapmu, maaf Aruna.
Kenapa
kamu harus berlalu pergi dari cafe ini saat hujan turun dengan derasnya, kenapa
kau mengacuhkan panggilanku, kenapa pula kau tak lagi datang ke cafe ini
seminggu ini. Aku, masih di sini, demi menemuimu yang ku yakin kau salah paham
dengan apa yang kau lihat. Aku masih di sini, demi mengutarakan segala
keinginanku, aku di sini demi berbicara denganmu lagi setelah tiga tahun lalu
aku meninggalkanmu. Aku akan tetap di sini, sudut cafe ini yang aku yakin kau
akan menuju tempat ini ketika kamu datang. Dan maaf, ketika kamu datang, aku
akan mengagetkanmu. Maaf ya, Aruna.

