Selasa, 25 Februari 2014

Genggamanmu :)



sebelumnya, cerita ini hanya fiktif belaka ya ;)
kesamaan nama tokoh itu sekedar inspirasi penulis dalam menulis saja :)
happy reading :)



“Sorry, sorry, nggak sengaja...Nggak papa kan ?” Seorang laki-laki dengan kemeja yang lengannya ia tekuk separuh dengan rambut berantakan cool-nya menabrak perempuan berkacamata besar tanpa kaca.
“Hah ?? emm, ii....iya nggak papa.” Sang perempuan yang dipegang kedua pundaknya oleh laki-laki itu tergagap menjawab pertanyaannya.
“Yaudah gue buru-buru. Sorry yahh.!” Ucapnya kemudian meninggalkan perempuan yang sempat ia tatap dalam matanya. Perempuan itu menatap kepergian laki-laki yang baru saja menabraknya, membuyarkan fokusnya, dan membuat hatinya bergemuruh.!
“Ciyeeee. Ngeliatinnya biasa aja Stell.” Goda teman perempuan tadi, berperawakan lebih tinggi 10 cm darinya.
“Apa sih Ve, biasa aja kali.!” Tutup Stella, mengalihkan pandang dari punggung lelaki itu.
“Yakin ?? coba ulangin sambil tatap mata aku ?” Kata perempuan yang Stella panggil ‘Ve’ itu.
“Apa sih, aneh-aneh aja.” Alih Stella kemudian mendahului jalan Ve.  Dia tau betul, ini adalah trik Ve untuk mengetahui jujur atau tidaknya sahabatnya yang baru ia kenal selama  1 tahun.
“Yes.!! Akhirnya sahabatku move on juga.!! Yess :D” Girang Ve menyusul Stella.
“Veranda apa sih.! Biasa aja, nggak berasa tau nggak.!” Stella masih berjalan di depan Veranda, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Ray cakep ko stell. Lagian siapa gitu yang nggak mau jadian sama Ray.” Cerewet Veranda melirik-lirik Stella dari samping.
“Ray ?” Stella berhenti sejenak, mengarahkan tubuhnya menghadap Veranda.
“Iya Ray.” Ulang Veranda.
“Cowo tadi namanya Ray ?” Stella memastikan, mengangguk-angguk seperti berfikir.
“Ciyeeee :D mukanya biasa aja stell, tau deh yang lagi berbunga-bunga.” Goda Veranda menelisik wajah Stella.
“Apa sih.” Ucap Stella membuang muka dan menjauh dari Veranda, salah tingkah.
                Dalam hati Stella masih riuh teriakan teriakan kecil yang dia sendiri belum tau darimana datangnya. Ini pertama kalinya setelah 2 tahun lalu ia memutuskan hubungan dengan kekasihnya, hatinya berdebar ketika di tatap lelaki yang bahkan belum ia kenal. Wajahnya sering ia lihat tapi sama sekali ia tak berminat untuk mengenalnya. Seorang yang selalu memakai kemeja lengan panjang dengan lengannya yang ia tekuk sampai siku, dipadu rambut rapi yang kadang terlihat berantakan tapi membuat dirinya terlihat keren.

“Heh, Stel.!”
“Stella.! Stellaaaaaaaa....” Veranda berteriak di depan wajah Stella.
“Verandaaaa, nggak usah teriak-teriak. Gue denger tau.” Jawab Stella dengan wajah kesalnya. Otaknya telah kembali pada tubuhnya, sedari tadi ntah kemana.
“Kamu denger, tapi nggak nyaut, yaudah aku teriak.” Veranda memanyunkan bibirnya. Hening sesaat, Stella diam-diam memerhatikan perubahan ekspresi Veranda.
“Yaudah, nggak usah ngambek gitu. Kenapa manggil-manggil ?” ucapnya seraya membereskan buku yang hanya ia letakkan di meja tanpa ia sentuh ketika dosen menerangkan di depan.
“Mau pulang nggak ?” Tanya Veranda yang sudah berdiri sedari tadi di depan Stella.
“Iya, emang loe nggak ada kuliah lagi ?” Stella berdiri mengikuti Veranda, kemudian mereka berjalan keluar kelas.
“Nggak ada.” Singkat Veranda, mereka menyusuri koridor-koridor unniversitas mereka, melewati lapangan basket.
“Oh ya Stell, ntar malem kamu ada acara ?” Tanya Veranda, karena tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Veranda menengok ke arah Stella yang tengah fokus memerhatikan lapangan basket.
“Ste...” Ucapan Veranda terhenti ketika mendapat visualisasi arah pandangan Stella.
“Hmm, kaya gini ini anak kalo lagi jatuh cinta.” Gumam Veranda mengomentari tingkah sahabatnya, yang sudah berhenti berjalan dan memandangi lapangan basket. Tepatnya orang-orang yang tengah beradu disana.
“Stell, Ray cakep ya ??” Tanya Veranda tepat di telinga Stella. Dari alam bawah sadarnya, Stella mengangguk kecil.
“Jadi kamu suka nih sama Ray ?” Tanya Veranda lagi, Stella tersadar kemudian menatap Veranda heran, malu, salah tingkah.
“Haha, Stella ya ampuunn..” Tawa Veranda meledak, seraya berjalan mendahului Stella.
“Vee..” Baru sadar sebab dirinya ditertawakan sahabatnya, Stella akhirnya mengejar Veranda yang telah menjauh darinya.
“Puas banget ya loe ketawanya.” Sindir Stella setelah bisa menyamakan langkah Veranda.
“Lagian kamu fokus banget ngeliatinnya, sampe aku di cuekin.” Kata Veranda  masih dalam pengaruh tawanya.
“Tadi tuh permainannya lagi seru banget. Iya seru banget.” Alih Stella mencari alasan.
“Permainannya, atau pemainnya ?” Ulang Veranda.
“Ini anak ngeselin yah lama-lama.!” Protes Stella yang semakin salah tingkah menghadapi celotehan Veranda.
“Iya iya.. Maaf.” Kata Veranda menahan tawa yang masih ingin ia keluarkan.
“Jadi, ntar malem kamu ada acara nggak ?” Veranda mengulang pertanyaannya yang tak sempat Stella dengar waktu di dekat lapangan basket.
“Emang mau ngapain ?” Stella nampak berpikir.
“Nggak sih, pengen jalan aja. Besok kan weekend. Sekalian ajak Sonia gitu..” Jelas Veranda sambil terus berjalan menuju parkiran.
“Ntar malem aku harus kerja Ve, kalau kamu mau ngajak Sonia pergi, yaudah ajak aja. Kasian di rumah sendiri.” Jawab Stella serius.
“Libur sehari doang gitu stell, nggak bisa ??” Usul Veranda sedikit memaksa.
“Nggak bisa soalnya udah ada yang book..king” Stella menggantungkan kata terakhirnya.
“Booking ?” kepo Veranda
“Hah..mmm, ii..iya booking. Kan gue kerja di cafe, terus...terus ada yang booking cafe tempat kerja gue buat acara gitu, terus karyawannya hari ini nggak boleh ada yang cuti.” Jelas Stella, Veranda mengangguk paham.
“Yaudah, ntar aku ajak Sonia aja kali yah ?” Putus Veranda.
“Yaudah, ajak dia aja.”
                Mereka sudah sampai di parkiran, seperti biasa Stella juga ikut ke mobil Veranda, nebeng lah bahasa kerennya. Veranda tak pernah keberatan dengan hal itu, toh jalannya searah dengan Stella, lagi pula dia sudah terlalu dekat dengan Stella, baginya Stella adalah sosok kakak yang selalu mengingatkannya tentang impian-impiannya, yang selalu menyemangatinya, yang menjadi sandarannya, sosok yang mengajari dia agar tak manja, dan untuk mengerti kehidupan sebenarnya. Stella sendiri, dia menganggap Veranda lebih dari kata sahabat, menjadi sandaran ketika lelah, pelampiasan cerita-cerita kesehariannya, dan Veranda lah yang selalu datang dengan pelukan hangatnya dalam kesendiriannya.

***


“Loe ntar malem ada acara nggak ?” Sahut Stella pada orang di sampingnya, bergaya rambut sama dan dengan wajah yang mungkin sengaja disamakan, Sonia. Mereka berdua tengah bersantai di depan Televisi di ruang tengah.
“Mmm..” Yang di ajak bicara berpikir sebentar, “Nggak ada, emang kenapa ci ?” Dia mengalihkan pandangannya pada Stella.
“Nggak papa sih...” Stella kembali fokus pada televisinya.
“Kirain mau ngajak jalan-jalan adeknya..” Gerutu Sonia yang dapat di dengar jelas oleh Stella.
“Bukan gue yang mau ngajak, tapi Veranda.” Jawab Stella tanpa mengalihkan pandanganya.
“Kak Ve ? ngapain ?” Heran Sonia, menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Nggak tau..”  Singkat Stella mengganti-ganti channel TV.
“Emang ci stella nggak ikut ?” Sonia masih heran dengan kalimat Stella, menghadapkan tubuhnya pada Stella.
“Gue kan harus kerja.” Tegas Stella mengingatkan, tapi nadanya tak bersahabat.
“Kerja mulu, adeknya nggak pernah diajakin jalan.” Sindir Sonia, membuat Stella menghentikan kegiatannya lalu memakukan pandangannya pada adik satu-satu nya itu.
“Yaa kalo loe mau jalan tapi nggak bisa makan seminggu ya nggak papa sih.” Jelas Stella tak langsung pada jawaban.
“Halahh, iya iya tauu.” Sonia menyudahi perbincangannya, dengan melingkarkan tangannya di lengan Stella, kemudian menyandarkan tubuhnya di tubuh Stella dan menyimpan kepalanya di bahu Stella. Memanja pada kakaknya, yang jarang sekali ia lakukan. Dia memang manja, tapi sejak kecelakaan itu, Sonia mulai membiasakan diri untuk tak manja lagi seperti sebelum-sebelumnya, meski kekanakannya kadang muncul, tapi dia berhasil merubahnya sedikit demi sedikit.
Stella diam diam memikirkan kalimat adiknya, benar memang, sejak orang tuanya pergi Stella tak lagi bisa bersenang-senang seperti dulu lagi, bahkan untuk pergi berdua dengan Sonia pun dia tak sempat. Dia mulai bekerja sejak dia sadar tabungannya dan tabungan orang tuanya mulai habis. Hati kecil Stella menginginkan dia melihat kembali senyum bahagia Sonia yang dia sering lihat ketika masih sering berpergian dengan orang tuanya, tapi profesinya menuntut dia untuk menyita waktunya sendiri. ‘Kalau mamah papah masih ada pasti loe bisa seneng-seneng kaya temen-temen loe yang lain yah Son.’ Batin Stella menerawang ke arah jendela. ‘Maafin gue, nggak bisa buat loe seneng, nggak pernah bisa ngajak loe jalan-jalan kaya kakak lainnya.’ Lanjut Stella, menyandarkan kepalanya di kepala Sonia. Sonia yang merasakannya perubahan posisi Stella, tersenyum kecil ‘Cistell emang nggak pernah ajak aku seneng-seneng di luar, tapi dengan ci stell ada di samping aku kaya gini aja aku udah seneng banget.’
Scene seperti ini sudah jarang sekali terjadi sejak 1 tahun lalu, Stella yang mulai sibuk dengan dirinya dan Sonia yang berusaha mencari kebahagiaan di luar, membuat keduanya jarang sekali berada dalam posisi seperti ini. Bukan menarik diri, hanya saja keadaan yang seakan membuat mereka jarang bertemu. Tapi Stella yang masih memiliki tanggung jawab sebagai kakak, masih dengan sabarnya mengurus Sonia, masih mau menyempatkan memasak untuk dirinya dan Sonia, masih sempat mengkhawatirkan Sonia, meski dalam sikap yang berbeda seperti yang dilakukan kakak beradik lain.
***

“Hay Kak.” Sapa Sonia membuka pintu rumahnya, yang di depannya sudah ada Veranda yang berdiri di ambang pintu.
“Hayy.” Veranda memerhatikan penampilan Sonia. “Tumben rapi banget Son. Eh ya Stella nya mana ?” Lanjut Veranda.
“Cistell, udah berangkat kerja. Iya kan aku mau pergi.” Jawab Sonia.
“Hayooo, pergi sama siapa ?” Goda Veranda menatap jail Sonia yang menatap Veranda bingung.
“Kata cistell, Kak ve ngajakin aku jalan.” Polos Sonia, wajahnya benar-benar polos, membuatnya terlihat lucu.
“Nggak tuh.” Jawab Veranda membuang pandang, bergaya seperti sedang berfikir.
“Lho kata ci stella......” Sonia terunduk malu.
“Haha, iya iya. Iya Kak Ve mau ngajak kamu jalan. Lucu banget mukamu dek.” Veranda terkikih memandangi wajah Sonia, yang kini berubah menjadi kesal.
“Ih, kak ve ngerjain aku yaaa, jahat.!” Kesal Sonia ngambek.
“Ko jahat ? jadi mau jalan nggak nih ?” Tanya Veranda mengacak rambut Sonia.
“Jadiii” Jawab Sonia cepat. Tak ingin kehilangan kesempatan lagi.
“Yaudah ayoo..” Veranda menggandeng tangan Sonia yang terasa kecil di tangan Veranda. *tangan Veranda kepanjangan kali ya ?*
                Veranda tak begitu akrab dengan Sonia, tapi belakangan dia ingin mengakrabkan diri pada Sonia, karena belakangan dia sering bertemu Sonia dan bercanda dengannya. Biasanya sepulang kuliah, ketika dia mengantarkan Stella, dia beristirahat sejenak di rumah Stella, kadang jika Sonia sudah pulang sekolah, dia ikut nimbrung perbincangan Veranda dengan Stella. Awalnya Stella melarang, Veranda pun merasa risih dengan Sonia, tapi pada akhirnya Sonia berhasil mendekati Veranda, dan akhirnya mereka jadi dekat. Unik memang kedekatan mereka, bahkan cara mereka berkenalan pun lain daripada yang lain.
Saat itu Stella masih saja menangis di makam kedua orang tuanya, Veranda yang kebetulan sedang mengunjungi makam ibunya, tak tega melihat orang yang pernah ia lihat, tapi tak pernah mengenalnya menangisi makam kedua orang tuanya.
“Orang datang dan pergi, inilah kehidupan.” Kata Veranda ikut berjongkok di samping Stella. Stella yang merasa kalimat itu ditujukan untuk dirinya, menengok ke arah suara lembut itu.
“Dulu waktu mama aku meninggal, aku nangis berhari-hari. Tapi hasilnya sama aja, mama nggak balik lagi.” Cerita Veranda menatap Nisan makam yang ada dihadapan mereka, seperti tak memerdulikan Stella yang menatapnya heran.
“Tapi, gue ditinggal kedua orang tua gue.” Stella menjawab dan mengalihkan pandang ke nisan mamahnya kembali.
“Yaa berat memang, tapi kamu gak sendiri kan ??” Tanya Veranda menatap wajah samping Stella.
“Gue ditinggal berdua sama adik gue.” Singkat Stella.
“Adik, maka adik kamu yang akan menguatkan kamu.” Veranda sok tau. “Adik kamu pasti lebih kehilangan mereka, dia butuh sandaran juga, kenapa kamu disini tanpa adik kamu ?” Veranda tak henti bertanya dengan Stella yang masih cuek menghadapi Veranda.
“Aku tau, ini nggak semudah melupakan mantan kita, tapi percayalah kamu tak sendirian, akan ada orang-orang baru yang akan datang, dan adik kamu pasti membutuhkan kamu sebagai sandarannya.”  Jelas Veranda, Stella mencerna kalimat Veranda, dia sama sekali tak ingin menimpalinya hingga, suasana menjadi sangat hening.
“Namaku Veranda.”  Dengan Senyum lembutnya Veranda memperkenalkan diri. Stella menengok, menatap Veranda sebentar, binar ketulusan dari mata Veranda mampu mengukir senyum di bibir Stella.
“Stella.”  Sejak hari itu, Veranda dan Stella jadi sering bertemu, dan mereka akhirnya sadar kalau mereka benar-benar satu kampus, terlebih satu jurusan. Setelah itu mereka memutuskan untuk mengambil jadwal yang sama untuk semester berikutnya, hingga pada akhirnya mereka semakin dekat, dan percaya satu sama lain, saling mengetahui cerita kehidupan mereka masing-masing. Sama-sama menjadi sandaran, sama-sama saling menguatkan, dan sama-sama mengingatkan tentang mimpi-mimpi mereka. Dan yang terpenting, mereka saling menggenggam untuk menjalani hidup mereka yang tidak mudah.

                Veranda, dia anak dari keluarga sangat berkecukupan, tapi tidak lantas membuat hidupnya sempurna, Ibunya meninggal sejak dia masih di bangku SMP, sejak saat itu pula ayahnya jadi jarang ada di rumah, Ayahnya seorang direktur utama sebuah perusahaan besar di Jakarta, dengan saham yang dia sebar dimana-mana, mungkin karena itulah dia jadi terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Pernah Veranda memprotes akan hal itu, tapi hanya dijawab ‘Ayah seperti ini untuk kamu dan sekolah kamu.’ Kemudian Veranda hanya diam, meski dalam hati berteriak ‘Ayah, ini semua sudah lebih dari cukup.’
                Stella sendiri, hidupnya jauh berbeda dengan Veranda. Dia seorang yatim piatu yang ditinggal dengan adiknya. Orang tuanya mengalami kecelakaan besar yang langsung menewaskan mereka seketika, dia hidup sendiri dengan adiknya menuntut Stella mencari-cari pekerjaan untuk tetap bisa hidup, melanjutkan kuliah dan membiayai adiknya sekolah.  


“Ve, loe dimana ??” Stella menghubungi Veranda melalui ponselnya.
“Aku lagi di jalan, ini macet banget.” Jawab Veranda dari seberang.
“Buruan, gue sendirian.” Kata Stella dengan nada manjanya berjalan menyusuri koridor di kampusnya.
“Iya iya..”
“Gue tunggu di perpus fakultas ya ?” kata Stella lagi seraya berjalan menuju tempat yang di sebutkan.
“Iya.” jawab Veranda kemudian memutuskan sambungan.

                Stella telah sampai di Perpustakaan Fakultas, mencari-cari buku yang menjadi bahan untuk tugasnya. Kemudian menuju meja untuk sekedar membacanya terlebih dahulu, 5 menit berjalan, 10 menit Veranda tak kunjung datang, hingga seseorang mengambil tempat di samping Stella.
“Hay.” Sapa orang tadi pada Stella, basa basi sambil melempar senyum. Stella hanya membalas senyum lalu mempersilahkan orang tadi duduk.
“Loe yang kemaren gue tabrak ya ?” Orang tadi menelisik wajah Stella.
“Hahh, emm. i..Iya, kemaren. Hehe.” Jawab Stella salah tingkah tertunduk malu.
“Gue Ray.” Orang tadi mengenalkan dirinya dan menyodorkan tangannya, mengajak Stella berjabat tangan.
“Stella.” Stella menyambut uluran tangan Ray, kemudian keduanya sama-sama tersenyum, salah tingkah. Stella melanjutkan lagi kegiatan membacanya tadi, tapi lebih tepatnya hanya mengarahkan matanya ke buku itu, tanpa ada satu kata pun yang Stella baca, dia hanya menggingiti bibir bawahnya, yang membentuk senyum penuh arti, hatinya riuh teriakan bahagia.
“Oh ya, loe ambil jurusan apa ?” Ray kembali bertanya  pada Stella yang masih saja kegirangan.
“Desain Komunikasi Visual.” Singkatnya memberanikan diri menatap Ray.
“Oh ya ya. Ko sendirian ? temen loe yang kemaren mana ?” Ray sepertinya masih ingin berbincang dengan orang yang kemarin ia tabrak.
“Oh Veranda, iya dia masih di jalan ke sini.” Jawab Stella seadanya.
“Oh namanya Veranda.” Ray mengangguk paham, ada helai penasaran menyelimuti otak Stella, kenapa di saat seperti ini, Ray justru menanyai tentang Veranda.
“Mmm, loe nggak ada kuliah emang ?” Stella mencoba mencairkan suasana yang sempat mendingin gara-gara ‘Veranda’.
“Nggak. Sebenernya sih ada, tapi dosennya nggak masuk, Cuma ngasih tugas doang.” Dan obrolan mereka pun berlanjut hingga tanpa Stella sadari dia telah lama berada di perpustakaan itu, dan malah asik berbincang dengan Ray membuat bunga di sekitar ruangan hatinya kembali hidup, dan mulai merekah. Dia seperti membiarkan Ray menyirami bunga-bunga itu untuk tetap hidup dan menjadi hiasan di hatinya, 2 tahun bunga itu tak di siram tak di pupuk dan dibiarkan layu begitu saja, hingga sampai saat ini, Stella menemukan kembali orang yang mungkin akan membuat bunga-bunga itu mekar.
“Hey Stell, sorry lama soal..nya.” Veranda yang baru datang berucap dengan semangatnya namun menurun di akhir kalimatnya karena menyadari keberadaan Ray. “Eh ada Ray, sorry sorry ganggu.” Ucap Veranda merasa tak enak karena melihat mereka tengah asik berbincang.
“Nggak ko Ve, lagian ini gue juga udah mau pulang.” Kata Ray seraya membereskan buku yang ia ambil di rak-rak tapi tak sempat ia baca. “Gue tadi Cuma nemenin Stella nungguin loe ko. Yaudah gue duluan ya ?” Lanjut Ray kemudian berlalu dari hadapan keduanya, Stella tertegun mendengar kalimat Ray ‘nemenin Stella nungguin lo’.
“Sorry stell, aku ganggu acara PDKT kamu ya ?? duhh sorry yaa ? jangan marah dong.” Veranda yang ntah sejak kapan jadi cerewet di depan Stella menempati kursi yang di duduki Ray.
“Hmm, lagian loe lama banget. Jadi gue keasikan ngobrol sama Ray.” Kata Stella menyalahkan Veranda. Yang disalahkan justru mencerna kalimat sahabatnya ‘Keasikan ngobrol.’ Dan sama sama sekali dia tak menampik kalimat Veranda tentang ‘acara PDKT.’
“Kamu beneran lagi PDKT sama Ray stell ? Kamu serius suka sama....” Belum selesai Veranda berucap, Stella lebih dulu membekap mulut Veranda.
“Bawel.! Udah nih bukunya, tinggal loe cari yang kita perluin buat tugas kita.” Stella menyerahkan buku yang tadi sempat ia baca namun terhenti gara-gara ‘tukang bunga’.
“Kirain kamu udah nyari.” Kesal Veranda menerima buku yang Stella serahkan dengan kasar. Beberapa menit suasana jadi hening, Veranda sedang mencari bahan untuk tugasnya, Stella sibuk dengan Handphonennya.
“Anyway, kamu beneran naksir ya sama Ray ?” Tanya Veranda lirih yang matanya ia pakukan pada tulisan-tulisan yang membuatnya jenuh. Stella mengalihkan matanya dari handphonenya ke Veranda yang begitu santai mengucapkan kalimat itu.
“Kenapa ngeliatinnya gitu ?” Kembali Veranda bertanya karena ia tak kunjung mendapat jawaban dari Stella yang tengah menatap dirinya lekat.
“Apa Ray itu cowo baik ?” Tanya Stella tanpa menjawab salah satu pertanyaan Veranda.
“Setau aku baik, dia populer di kampus ko. Terus juga cewe-cewe sini pada naksir dia, tapi nggak ada satu pun yang nyangkol sama Ray.” Jelas Veranda, Stella mengangguk angguk paham.
“Tapi, aku baru liat Ray ngobrol sama cewe kaya tadi sama kamu.” Ucapan Veranda kali ini mampu mengukir senyum di bibir Stella, dan matanya membayang-bayangkan yang akan terjadi.
“Kalo kamu mau dapetin dia, harus kerja keras Stell.” Kali ini Veranda berbisik di telinga Stella, dia sudah dapat menyimpulkan jawaban dari pertanyaan yang ia lemparkan pada Stella.
“Tau deh Ve, gue ngatur hidup gue yang berantakan aja susah. Apalagi harus jaga perasaan dan hati orang lain.” Kata Stella mengungkapkan keraguannya.
“Justru itu, orang lain itu yang akan buat hidup kamu rapi lagi.”
                Stella tak menjawabi kalimat terakhir Veranda, Cerita dari sahabatnya mampu membuat ilusi-ilusi tentang Ray di otak Stella, membayang-bayangkan dirinya dan Ray di waktu yang akan datang. Sesaat dia menanyakan hatinya yang masih belum berhenti bergemuruh, ‘Iyakah aku jatuh cinta pada Ray ? atau hanya emosi sesaat ? benarkah debaran ini debaran cinta ?’ ‘Apa Ray bener-bener bisa bantu gue rapiin hidup gue ?’ batin Stella yang tangannya sedari tadi ia pakai untuk menopang dagunya, kini ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya.  ‘Terus apa Ray juga...’
“Stell, kamu malah nglamun. Ke kantin yu.” Kata Veranda yang membuat Stella gagal meneruskan ilusinya.
“Hmm, Udah ketemu bahannya ?” Tanya Stella terusik, dan masih ingin melanjutkan lamunannya.
“Udah, baru sebagian tapi. Nanti aku cari di buku-buku aku di rumah, kayanya ada.” Jawab Veranda membereskan buku-buku yang diambil Stella tapi menjadi tugas Veranda untuk membacanya.
“Yaudah. Tadi ngajak kemana ?” Tanya Stella merapikan penampilannya.
“Makanya jangan nglamunin Ray mulu.!” Sindir Veranda sebelum akhirnya berjalan keluar perpustakaan.
“Heh.!”

Hari berikutnya, Stella kembali bertemu dengan Ray, semakin dekat, sengaja atau tidak tapi sekarang mereka jadi lebih sering bertemu, kemudian berbincang sebentar bahkan lama, dengan atau tanpa Veranda, yang jelas Veranda mendukung penuh kedekatan Stella dengan Ray. Bagaimana tidak, selama Veranda mengenal Stella, dia berhasil mendobrak pintu sebuah tempat Stella menyimpan rahasia-rahasianya, hingga Veranda mengetahui cerita-cerita masa lalunya, termasuk tentang kisah cintanya. Kedekatan yang Stella dan Ray perlihatkan membuat gadis-gadis kampus tak mampu lagi berharap bisa dekat dengan Ray, si cowo populer dengan gaya cool-nya.
“Stella.!” Seorang berpostur tinggi lebih dari Stella menghalangi langkah Stella ketika ia hendak menemui Veranda yang sudah menunggunya sedari tadi di parkir mobil kampusnya.
“Iya.” Jawabnya santai, mengetahui orang yang memanggilnya, kini posisi mereka saling berhadapan.
“Gue minta loe jauhin Ray.” Ucap orang tadi lebih dari kata tanpa dosa.
“Maksud loe Shan ?” Stella masih belum mengerti ucapan Shania, orang yang telah menghalangi jalannya.
“Gue minta loe nggak usah deket-deket lagi sama Ray. Paham ?” Jelas Shania kali ini penuh penekanan.
“Apa urusan loe ?” Kadar emosi Stella meningkat, menatap lekat orang yang matanya berada 10 centi di atasnya.
“Nggak ada sih..tapi...” Jawab Shania santai membuang pandang dari mata tajam Stella.
“Yaudah gue nggak akan jauhin Ray.” Stella memotong kalimat Shania, dan mengambil langkah untuk melewati Shania.
“ Yaa, loe tinggal pilih aja. Loe jauhin Ray, atau sahabat loe akan tau siapa itu LIA.” Kalimat itu cepat  Shania luncurkan ketika mereka dalam posisi sejajar namun saling berbeda arah. Stella menghentikan langkahnya ketika mendengar kata ‘LIA’, menelan ludahnya, terdiam belum bisa menjawab.
“Kenapa ?? loe tau dia kan ??” Shania berbalik menghadap Stella yang menatapnya dengan seribu pertanyaan di benaknya.
“Gimana ???” Shania meminta jawaban Stella dengan senyum kemenangannya. Tanpa Jawaban, dengan kesal Stella melangkah menjauh dari Shania.
                Stella melangkahkan kakinya cepat, bukan marah, ntah apa yang bergemuruh di hatinya, pertanyaan-pertanyaan muncul di benaknya, semakin bertambah seiring dengan langkahnya untuk menemui Veranda ‘Darimana Shania tau Lia ?’ ‘Kenapa ?’ ‘Kenapa orang selicik Shania bisa tau tentang Lia ?’ ‘Kenapa orang paling menyebalkan di kelasnya tau tentang orang itu.’ Stella tak menjawab persetujuan yang Shania buat, bukan menolaknya apalagi mengiyakan. Dia tau benar siapa yang mengancamnya, bagaimana kelakuannya di kampus, bagaimana kelicikannya ketika berhadapan dengan orang yang tak ia sukai. Shania.!!
“Stell, ko gitu mukanya ?” Veranda menyambut Stella yang telah lama ia tunggu untuk pulang bersama.
“Nggak ko. Yu pulang.” Kata Stella mendahului masuk ke mobil Veranda. Veranda ikut masuk ke dalam mobil dengan segala pertanyaannya tentang perubahan air muka Stella yang berbeda drastis sejak 20 menit terakhir ia melihat Stella.
                Mobil melaju, menjauh dari universitas swasta terpandang itu. Suasana menjadi dingin, Stella masih diam dengan ekspresi yang tak karuan, sementara Veranda masih menyimpan pertanyaannya, dia tau betul sahabatnya yang tak akan menjawab pertanyaannya ketika dalam keadaan perasaan yang tak benar.
                Stella melirik Veranda sekilas. ‘Bagimana jika Veranda tau tentang Lia ?’ itu yang menjadi bahan pikirannya, menahan mulutnya untuk bercerewet ria ketika dalam mobil menuju rumahnya. Pikirannya bermain-main pada kejadian-kejadian yang mungkin jika Shania membongkar semuanya pada Veranda. Menjauhi Ray pun, pasti akan sulit untuknya, terlebih kejadianya bukan Stella yang berusaha mendekati Ray, tapi Ray yang lebih sering mencuri-curi waktu untuk dekat dengan Stella.
                Setibanya di rumah Stella, dia hanya berterimakasih kemudian turun dari mobil Veranda masih dengan ekspresi yang sama saat dia masuk mobil. Veranda yang biasanya mampir di rumah Stella barang 10 menit, pun tak ada niatan untuk mampir, dia memberi kesempatan Stella untuk menenangkan dirinya. Hanya sesaat sebelum Stella keluar dari mobilnya dia sempatkan untuk memberi pesan ‘Kalau kamu mau cerita, telefon aku aja ya.’ Kemudian Stella jawab dengan senyumannya, senyuman ampuh yang katanya ingin ia gunakan untuk menaklukan dunia.
*Brakkk* Suara jatuhan tubuh Stella di kursi ruang tamu, adiknya belum pulang dari sekolahnya, katanya ada tambahan pelajaran untuknya. Menghela nafasnya, Stella menghela risau dari dalam hatinya. Hingga tanpa sadar dia tertidur dalam duduknya.


17.15 .! Suara gaduh berhasil membuat Stella menarik diri dari buaian alam relaksasinya.
“Hssshhh” *Bruuk* Stella menyipitkan matanya mengadaptasi cahaya dari luar, dari dunia yang baru saja ia tinggalkan.
“Sonia.” Ucap Stella berhasil menangkap visualisasi adiknya yang terduduk di kursi di hadapannya.
“Son, loe kenapa ?” Nada Stella berubah, melihat adiknya yang pucat dengan keadaan wajah dan rambut yang sama-sama berantakan.
“Hsshhh, Kepala aku pusing ci.” Jawab Sonia, menutup matanya, menahan sakit yang berputar-putar di kepalanya. Stella menghampiri Sonia, menyentuh tubuh Sonia.
“Badan loe panas banget.” Tanya Stella menyentuh leher adiknya dengan tangannya. Tanpa jawaban, Sonia masih menahan sakitnya
“Kita ke dokter ya.” Putus Stella setelah mengecek dan melihat keadaan adiknya yang tidak wajar.
“Nggak usah ci....” Jawab Sonia berusaha menjawab kakaknya yang terlanjur mengangkat tubuhnya dan memapahnya keluar rumah. Selama di tinggal kedua orang tuanya ini pertama kali Sonia sakit separah ini, biasanya hanya sekedar flu atau demam biasa yang dengan obat di apotik saja dia akan sembuh, tapi untuk kali ini sepertinya tidak. Khawatir luar biasa, cemas, ntahlah Stella benar-benar takut kalau-kalau ada yang salah dengan adiknya.

“Adik saya sakit apa dok ?” Tanya Stella pada dokter yang telah memeriksa Sonia dan memintanya masuk ke dalam ruangannya.
“Saya belum dapat memfonis penyakit yang ada di tubuh adik kamu. Tapi berdasarkan gejalanya, ada kemungkinan adik kamu terkena Meningitis.” Jelas dokter dengan wibawanya.
“Meni....” Stella berusaha mengulang penyakit yang dokter sebutkan.
“Radang selaput otak.” Dokter tersebut memperjelas bahasa kedokteran yang tak mampu Stella cerna dengan baik.
“Untuk lebih jelasnya kamu bisa bawa adik kamu ke rumah sakit dan di rawat inap.......” Kalimat dokter tidak lagi sampai di kepala Stella.  Sonia...radang selaput otak ? kenapa penyakit berbahaya itu ada di tubuh Sonia sekarang. ? Sejak kapan ? Bagaimana ? Apa penyebabnya ? darimana virus itu masuk ke tubuh Sonia ? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Stella. Dia merasa gagal menjaga adiknya, dia tak rela adik kesayangannya terserang virus mematikan itu. Kenapa harus Sonia, kenapa harus dia yang menanggung.

“Ci, aku nggak papa kan ? aku udah boleh pulang kan ?” Sonia yang menunggu di depan ruangan dokter bertanya dengan lemahnya, pusing dan demamnya sudah membaik sejak dokter menyuntikan obat yang tak tau apa.
“Ci....” Lagi Sonia menegur kakaknya yang setelah keluar dari ruangan dokter hanya duduk di samping Sonia tanpa sepatah kata pun.
“Kita pulang yahh.” Kata Stella tanpa menjawab pertanyaan Sonia. Ya.! Stella membawa adiknya ke rumah, padahal di dalam tadi dia mengiyakan apa yang dokter perintahkan, yang ada dalam otaknya adalah bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu untuk membawa Sonia ke rumah sakit dengan sakit yang pasti akan membutuhkan dana banyak untuk pengobatannya, sedangkan hari ini saja dia meninggalkan kerjanya untuk membawa Sonia ke sini.

*Tok tok tok* “Mbak Ve.”  Suara nyaring itu menggema di ruangan privasi Veranda.
“Iya Bi, masuk aja.” Jawab Ve sedikit berteriak dari tempatnya.
“Makan malem dulu mbak.” Suara itu muncul berbarengan dengan munculnya sosok ibu-ibu yang umurnya sangat jauh dari Veranda.
“Iya nanti bi, ini lagi nanggung.” Jawab Ve tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ada di hadapannya.
“Tapi mbak, Tuan sudah menunggu di meja makan.” Kata Ibu-ibu itu yang belakangan di ketahui dia adalah pembantu rumah tangga di Istana Veranda dan Ayahnya.
“Tuan ?? Ayah pulang bi ?” Tanya Veranda kali ini membuang bukunya lalu berdiri dari kasurnya.
“Iya mbak, itu lagi nunggu di meja makan.” Veranda langsung berlari menuju tempat yang di katakan.
“Ayyahhhhh.” Girang Veranda memeluk ayahnya dari belakang.
“Kamu...sudah selesai belajarnya ?” Tanya Ayah melepaskan tangan Veranda kemudian membimbingnya untuk  duduk di kursi samping Ayahnya.
“Hehe. Udah yah, masa Ayah udah sempet-sempetin makan malam di rumah, Veranda nggak sempetin sih.” Kata Veranda diiringi tawanya seraya duduk di samping ayahnya.
“Gimana kuliah kamu ?” Tanya Ayah membuka perbincangan.
“Baik yah. Baik banget malah, hehe. Ayah mau makan apa, biar Veranda ambilin.” Veranda dengan luwesnya, mengambil piring kemudian menambahkan nasi di piring ayah.
“Apapun kalo yang ngambilin anak Ayah, pasti ayah makan.” Senyum Ayah, senyum yang begitu Veranda rindukan.
“Ayah ini bisa aja.” Kata Veranda meletakkan piring yang telah diisi nasi lengkap dengan lauknya di hadapan Ayahnya. Kemudian mengulang hal yang sama di piring miliknya.
“Kerjaan Ayah gimana ?” Tanya Veranda setelah makanannya tersaji di depannya.
“Kerjaan Ayah baik-baik aja. Kamu nggak perlu mikirin kerjaan Ayah, yang penting kamu kuliah dulu yang bener.” Kata Ayah sebelum menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“Veranda kan Cuma pengen perhatian ke Ayah paling hebat sedunia. Hehe.” Canda Veranda yang terlihat sangat riang dengan Ayahnya. Senyum di bibirnya tidak luntur sedari tadi, sejak pembantu di rumahnya mengatakan ‘Tuan sudah menunggu di meja makan.’ . Baginya melihat Ayah pulang di saat dia belum terlelap adalah hal yang langka, pernah ia menunggu sampai Ayahnya pulang tapi malam itu justru Ayah Veranda memutuskan untuk menginap di kantornya. Sejak itu Veranda tidak menunggui Ayahnya, dia hanya berharap saat dia membuka mata ayahnya belum berangkat dan sebelum menutup mata ayahnya sudah pulang, ntah kapan harapan itu akan terkabul, tapi Veranda sangat yakin akan ada saatnya dimana dia akan merasakan kebahagiaan itu lagi. Pasti.!
***

“Stell, aku seneng deh. Semalem Ayah aku pulang, terus makan malem gitu.” cerita Veranda begitu sumringah ketika berjalan menuju kelas untuk kuliah selanjutnya.
“.....”
“ Udah lama banget rasanya nggak makan malem sama ayah, walaupun Cuma di rumah sih.” Lanjutnya, yang diajak bicara hanya diam mengikuti langkah Veranda dengan tatapan kosong.
“Stell..” Veranda memanggil nama sahabatnya, yang sedari tadi tak menanggapi bawelannya. “Aduh aku lupa. Maaf yaa, aku nggak maksud. Kamu nggak marah kan ?” Veranda baru menyadari perubahan sikap sahabatnya, yang sebenarnya sudah aneh dari kuliah pertama, sebelum Veranda menceritakan tentang Ayahnya.
“......” Stella masih tak bergeming
“Stell....” Veranda menghentikan langkahnya kemudian menyimpan kedua tangannya di pundak Stella, lalu menghadapkan tubuh Stella padanya dengan kepala yang Stella tundukan.
“Sonia sakit.” Jawab Stella akhirnya menegakkan kepalanya menatap sendu Veranda.
“Sakit, udah dibawa ke dokter ?” Tanya Veranda lega karena penyebab Stella diam bukan dirinya, tapi sisi lain dari Veranda khawatir dengan keadaan Sonia.
“Udah.” Stella menghela nafas kemudian menyingkirkan tangan Veranda dari pundaknya lalu berjalan kembali menuju kelas yang dimaksud.
“Terus ?” Veranda mengikuti Stella yang melangkah tanpa semangat.
“Dia kena radang selaput otak.” Jawab Stella ringan. Veranda kembali menghentikan langkahnya, meraih pergelangan tangan Stella, membuat tubuhnya berbalik.
“Kamu nggak lagi bercanda kan Stell ?” kecemasan Veranda naik 180 derajat.
“Gue nggak mungkin bercandain masalah seserius ini Ve.” Jawab Stella melepaskan tangannya dari Veranda, kemudian melanjutkan jalannya.
“Tapi..... Terus sekarang Sonia gimana ?” lagi Veranda berusaha menyamakan langkah dengan Stella.
“Kata dokter dia harus di rawat inap, tapi gue bawa dia pulang.”
“Kenapa gitu ?” Protes Veranda.
“Ve, biaya rumah sakit dan operasi itu nggak murah.” Kata Stella menjelaskan alasan dirinya membawa pulang Sonia.
“Kamu bisa pa...”
“Gue bisa cari uang sendiri Ve.”
                Perbincangan berhenti atas titik yang dibuat Stella. Kalimat terakhirnya membuat Veranda tak bergerak dari tempatnya, sedangkan Stella telah berjalan cepat meninggalkan Veranda. Itulah Stella yang tak pernah mau menerima bantuan dari sahabatnya, dia hanya mengandalkan uang dari hasil kerjanya yang tak seberapa.


                Kuliah berlangsung, dengan pikiran Stella yang masih tak fokus dan Veranda pun jadi ikut tak fokus. Ikut memikirkan Sonia yang belakangan sedang dekat dengannya, yang belakangan ia anggap adik sendiri. Stella, masih sibuk dengan ‘darimana gue dapet duit buat ngobatin Sonia’ sejak dia pulang dari dokter sampai saat ini, masih sama. Dia belum memberi tau pada Sonia tentang ini, dia belum siap, atau tak akan siap, atau apalah.
“Stell, ntar aku mampir di rumah kamu ya.” Kata Veranda di dalam perjalanannya mengantar Stella ke rumahnya.
“Biasanya juga gitu kan.” Cuek Stella memainkan handphonenya.
“Hehe, aku mau jengukin Sonia.” Kata Veranda membuat Stella berpaling, menatap Stella dan menurunkan tangannya yang sedari tadi di hadapkan ke wajahnya.
“Gue belum ngasih tau Sonia tentang penyakitnya.” Ucap Stella kemudian membuang pandang keluar mobil.
“Maksudnya, Sonia nggak tau dia sakit apa ? gitu ?” Cerocos Veranda, Stella mengangguk kecil.
“Kenapa ?” Veranda melambatkan laju mobilnya, membagi fokusnya antara jalanan dan Stella.
“Ya..semalem gue Cuma mikirin keadaan Sonia. Dia tanya pun gue nggak jawab, sekarang gue bingung harus ngomongnya gimana.”
“Lagi pula, kata dokter dia belum bisa memfonis kalo Sonia beneran kena penyakit itu. Kalo emang mau lebih jelas ya gue harus bawa dia ke rumah sakit dulu.” Jelasnya kali ini mau berbicara panjang lebar. Veranda diam sebentar ketika mendengar kata ‘rumah sakit’.
“ Terus sekarang dia berangkat sekolah nggak ?” Tanya Veranda setelah beberapa saat suasana jadi hening.
“Nggak, gue nggak bolehin dia masuk sekolah. Kayanya udah biasa aja sih, tapi setau gue sakitnya itu bisa dateng kapan aja.”
“Yaudahlah terserah kamu, kamu tau yang terbaik buat adik kamu.” Singkat Veranda, sebenarnya ia ingin kembali menawarkan bantuan untuk biaya rumah sakit Sonia, tapi dia tahan. Menghindari perdebatan  seperti tadi siang yang menumbuhkan atmosfer dingin di keduanya.



“Hey. Udah sehat ?” Sapa Veranda pada Sonia yang tengah berbaring di sofa panjang di depan televisi.
“Eh Kak Ve.” Sambutnya mengubah posisinya jadi duduk, Veranda duduk di tempat yang bebas dari tubuh Sonia. Stella langsung menuju kamarnya, tanpa menengok Sonia.
“Kamu udah sehat ?” Ulang Veranda memperhatikan wajah Sonia.
“Udah, aku udah baik. Baik banget malah, ci stellanya aja yang lebay, nggak bolehin aku masuk sekolah segala.” Omelnya sengaja dikeraskan nadanya.
“Heh gue denger ya.!” Teriak Stella dari kamarnya.
“Kamu udah baikan, tapi kalo tiba-tiba kamu drop lagi gimana ? mending istirahat dulu kan ?” Jelas Veranda dengan lembutnya.
“Yah Kak, tapi kan aku bosen di rumah sendirian. Lagian kalo aku sekolah juga nggak akan cape-cape banget.”
“Tuh kan Ve, dia mah kalo dibilangin susah.” Stella muncul ke ruang tengah, dengan pakaiannya yang sudah ia ganti dan rambutnya yang sudah ia ikat sembarangan.
“Orang aku Cuma sakit kepala biasa ko, kenapa harus banyak-banyak istirahat.” Kata Sonia kini membuat Veranda dan Stella bungkam, keduanya saling bertukar pandang.
“Tau lah, gue mau masak.! Tuh Ve, bilangin dia biar mau dengerin gue.” Stella kemudian beranjak menuju dapurnya. Veranda yang dititipi pesan oleh Stella jadi tak tau harus bagaimana.
“Kak. Ko Kak Veranda tau kalo aku lagi sakit ?” Tanya Sonia menyelidik dan duduk mendekat pada Veranda.
“Kan di kampus ci stella cerita kalo kamu sakit.” Jawab Veranda enteng sambil memainkan ponsel pintarnya.
“Berarti Kak Ve tau aku sakit apa dong.” Cecar Sonia, menatap Veranda ingin tau.
“Iya.” Jawab Veranda tak begitu fokus dengan pertanyaan Sonia karena ada chat dari teman kampusnya yang cukup penting untuk ia jawab.
“Emang aku sakit apa kak ?” Tanya Sonia kini menyingkirkan smartphone Veranda dari pandangannya. Veranda yang tersadar menatap Sonia ragu, meneguk ludahnya kemudian menghela nafasnya.
“Kamu nggak papa ko.” Kata Veranda diikuti senyum yang ntah asli atau tidak, kemudian kembali mengetikkan jawaban atas chat temannya.
“Kak, ini tentang aku, dan aku berhak tau tentang sakit yang ada di tubuh aku.!” Tegas Sonia tapi masih dalam suara yang ia kecilkan. Veranda menatap Sonia lagi, meyakinkan diri untuk menyampaikan apa yang tadi Stella sampaikan di mobil.
“Kata Cistella, dokter belum bisa memfonis penyakit apa yang ada di tubuh kamu.” Jawab Veranda membuat tanda tanya di atas kepala Sonia muncul begitu saja.
“Tapi, berdasarkan gejalanya, kamu.....” Veranda menggantungkan kalimatnya, dia takut, takut pada respon Sonia dan juga pada Stella, karena dia telah melangkahi Stella untuk menyampaikan ini pada Sonia.
“Aku kenapa ka ?” Sonia menggenggam tangan kanan Veranda, dia semakin penasaran dengan kalimat yang Veranda buat.
“Loe kena radang selaput otak.” Celetuk Stella yang mendengar percakapan keduanya, lalu memunculkan diri setelah mendengar Veranda akan mengatakan hal ini. Sonia melepaskan tangannya, menatap Stella tak percaya.
“Radang selaput otak ?” Ulang Sonia, dia membuang pandangannya. Menyandarkan tubuhnya di sofa, tatapannya kosong. Dia tak tau betul tentang penyakit yang ada di tubuhnya itu, yang dia tau penyakit itu berbahaya. Otaknya mulai bermain dengan bayangan-bayangan yang ia ciptakan sendiri, tentang penyakit itu, tentang dirinya, dan bagaimana dia menjalani hidupnya dengan penyakit yang membahayakan nyawanya. Dia sibuk dengan pertanyaannya sendiri, apa dia akan sembuh ? atau justru dia akan mati ? apa yang bisa ia lakukan agar ia akan tetap hidup, dan membuang penyakitnya itu, bagaimana cara mengobatinya, dan darimana uang untuk dia menjalani pengobatannya. Dia bahkan tak perduli dengan Veranda yang meluncurkan kalimat kalimat penenangnya untuk menengkan dirinya, dia tak perduli dengan janji-janji Stella yang akan berusaha mengobati dirinya dengan segala usahanya. Yang ia fikirkan hanya hidup dan matinya. ‘Mah, Pah, Sonia takut.! Kenapa penyakit ini harus ada di tubuh Sonia.’ Batinnya mengadu pada orang tuanya.


                Waktu terus berjalan, tanpa perduli siapapun yang menginginkannya untuk berhenti barang sebentar saja, dia terus menyeret orang yang mau tak mau harus mengikuti jalannya, membiarkan orang menjadi repot karena dirinya yang selalu egois. Pun dia tak memerdulikan orang-orang yang akan berteriak untuk dia mempercepat geraknya, menjadikan 24 jam seperti 60 menit. Tidak.! dia tidak akan pernah perduli.! Dia hanya akan berjalan semaunya, tanpa pengaruh apapun.!
                8 hari berlalu semenjak Sonia mengetahui tentang kebenaran yang ada di tubuhnya. Dia telah menerima apa yang Tuhan titipkan untuknya, dia juga masih semangat menjalani hidupnya. Stella telah membawanya ke rumah sakit sesuai perintah dokter, dan penyakit itu memang benar adanya, tapi Stella bersikukuh membawa Sonia pulang ke rumah, dengan janji dia akan tetap melakukan pengobatan pada Sonia, agar virusnya tidak terus berkembang. Untuk beberapa hari ini, Stella seperti tak mengurus tentang dirinya, hanya sibuk bekerja dan merawat adiknya, kuliahnya tetap berjalan, dan Veranda tetap ada di samping Stella dan menggenggam tangannya untuk menghadapi masalahnya yang mulai dirasa sulit.

 “Hay.” Seseorang menepuk pundak Stella dari belakang.
“Oh, Hayy Ray.” Jawab Stella menyadari orang yang menepuk pundaknya adalah Ray.
“Kenapa sekarang jarang keliatan ?” Tanya Ray mengikuti langkah Stella.
“Jarang ? Emm, kamu aja kali yang terlalu mikirin aku.” Goda Stella, yapp tepat.! Membuat Ray bungkam dengan tangannya ia simpan di tengkuknya. Yah, Stella sekarang jadi lebih sering pulang cepat, dan jarang memunculkan diri di depan Ray. Bukan, bukan karena Shania, justru  ancaman itu seperti tertumpuk di urutan paling bawah, membuatnya lupa tentang Shania dan ancamannya :)
“Oh ya, kamu ko tumben jam segini masih di kampus.” Alih Ray berusaha menguasai perbincangan.
“Emm, iya tadi ada urusan dulu sama dosen.” Jawab Stella santai. Ntah sejak kapan perbincangan keduanya menjadi ‘aku-kamu’, membuat mereka terdengar sudah sangat dekat.
“Oh, terus ?” Tanya Ray, memancing Stella untuk berbicara lebih banyak.
“Ya nggak terus-terus ntar nabrak dong.” Canda Stella membuat senyum di bibir Ray terkembang, senyum menjadikan orang yang jatuh cinta setiap kali melihat senyumnya.
“Maksudnya, terus kamu sekarang mau kemana ?”
“Mau pulang.” Jawab Stella singkat-singkat saja.
“Emm, sama dong.”
“Oh yaa ?”
“Aku anterin kamu pulang ya ?” Tawar Ray ragu.
“Nggak usah, tuh di depan masih ada angkutan umum ko.” Jawab Stella santai, meski hatinya berteriak kegirangan. Sejak dia dekat dengan Ray ini kali pertamanya Ray mengajaknya pulang bersama.
“Kamu naek angkutan umum ??” Heran Ray, tak percaya orang seperti Stella mau menggunakan kendaraan panas itu.
“Yaiyalah, tapi lebih sering nebeng Veranda sih.” Cerita Stella, mereka masih berjalan beriringan menyusuri koridor-koridor kampus.
“Yaudah karena sekarang Veranda udah pulang, mending aku yang kamu tebengin.” Kata Ray mengulang tawarannya dengan kalimat yang berbeda.
“Hah ?”
“Udah ayoo ikut aja...” Stella yang ditarik tangannya oleh Ray hanya senyum-senyum dari tempatnya, mengikuti langkah Ray. Inilah moment yang Stella tunggu dengan Ray. Dia melupakan begitu saja Shania, yang mengancamnya tentang seseorang yang bernama Lia yang sempat membuatnya uring-uringan tak jelas. Baginya saat ini, dia bisa pulang dengan orang yang ia cintai saja sudah cukup menenangkan hatinya yang beberapa hari ini berantakan.
“Kamu mau langsung aku bawa pulang ?” Tanya Ray di tengah perjalanan mereka menggunakan motor gede milik Ray.
“Mmm. Iya langsung pulang aja.” Kata Stella dari belakang Ray. Satu sisi Stella meminta untuk masih bisa bersama Ray dan menikmati waktu yang mungkin tak bisa terulang lagi, tapi sisi lainnya memunculkan nama Sonia di benaknya, membuatnya memutuskan untuk lebih memilih mengurus Sonia dan mengesampingkan emosinya untuk bersama Ray.
“Makasih yah.” Ucap Stella sedetik setelah turun dari motor Ray.
“Iya, sama-sama. Kapan-kapan, aku boleh anter kamu lagi ?” Tanya Ray, Stella menaikan alisnya heran.
“Oh..emm. Yaudah, aku pulang dulu. Kamu masuk gih.” Lanjut Ray salah tingkah menyadari ekspresi Stella.
“Iya, ati-ati yahh.” Sambut Stella kemudian memasuki halaman rumahnya. ‘Lucu banget sih.’ Batinnya dengan senyum yang terkembang di bibirnya dengan otaknya yang melayang-layang ntah kemana.
“Seneng banget, punya pacar baru.” Celetuk Sonia yang duduk di ruang tamu, tepat di samping pintu rumah.
“Astaga Sonia.! Loe ngagetin gue aja.” Kata Stella yang sukses dibuat kaget, karena otaknya yang belum kembali dari acara pikniknya bersama Ray (?)
“Halah, makanya jalan jangan sambil ngelamun.” Kata Sonia, Stella mengambil tempat di kursi lain yang berhadapan dengan kursi yang di tempati Sonia.
“Siapa juga yang nglamun son.” Timpal Stella menyandarkan tubuh lelahnya.
“Pacar baru ya ci ?” Tanya Sonia serius, menelisik wajah Stella.
“Bukan.”
“Terus kenapa tadi senyum-senyum sendiri pas masuk rumah ?” Tanya Sonia, Stella menatap Sonia lekat, ternyata Sonia memperhatikan gerak-geriknya.
“Loe ngintipin gue ya ?” Stella menyimpulkan.
“Nggak ngintipin, Cuma tadi nggak sengaja liat aja.” Kata Sonia enteng namun memang begitu kenyataannya, tadinya ia hanya berniat keluar rumah untuk melihat siapa yang datang dengan suara motor yang tak pernah ia dengar, tapi setelah tau orangnya, justru ia memutuskan diam di ambang pintu dan memerhatikan mereka.
“Sama aja, kampret.! Udahlah gue mandi.!”
                Pacar ? iyakah, Stella akan menjadikan sosok Ray sebagai pacarnya.Iyakah Stella akan membiarkan Ray mendobrak pintu hatinya yang lama ia kunci, Iyakah dia akan menjalin hubungan dengan cowo populer di kampusnya, terlebih dia adalah mantan Shania. ‘Shania.!’ Pikir Stella dalam kegiatannya mengeringkan rambutnnya di depan cermin di kamarnya. ‘Kenapa gue bisa lupa sama dia, ah bukan. Sama ancamannya.’ Lanjutnya, tangannya yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut terhenti sesaat,
“Apa dia liat gue sama Ray pulang bareng ?” Ucapnya, memikirkan scene tadi siang.
“Tau ah. Ngapain juga mikir gituan.” Tutupnya kemudian melanjutkan acaranya mengeringkan rambutnya.

***


“Heh Kampret.” Sapa Shania yang lagi-lagi menghalangi jalan Stella. “Gue udah bilang loe jauhin Ray, itu aja. Susah buat loe ?” Kali ini tanpa basa basi Shania berkata di depan Stella yang baru saja keluar dari Toilet.
“Apa nih ?” Belum sempat Stella menjawab, Veranda muncul dari balik tubuhnya dan langsung menyambar Shania yang sedang melaukan aksinya.
“Nha kebetulan.!” Girang Shania melihat sosok Veranda yang ternyata sedang bersama umpannya(Stella).
“Mau kamu apa ? Bilang aja, nggak usah maen kaya gini.” Ungkap Veranda, ntah sejak kapan bibir tipisnya berani mengeluarkan nada-nada tinggi. Stella yang menjadi korban di sini hanya berdiri diam menatap dua orang yang tingginya sejajar sedang beradu, membela dan menjatuhkan dirinya.
“Bilangin sama sahabat loe ini, jauhin Ray. Gampang kan ?” Kata Shania menunjuk ke arah Stella.
“Ray ?? kenapa sama Ray ? Kamu nggak berhak larang-larang Stella buat deket sama Ray.” Veranda masih tak mau mengalah dari Shania yang ia kenal liciknya. Meski selama ini ia tak pernah berurusan dengan gadis jangkung itu.
“Verandaaa....kenapa sih loe belain terus sahabat loe yang busuk ini.” Kata Shania menekankan kata ‘Sahabat’ dan ‘busuk’ dalam kalimatnya.
“Jaga mulut kamu Shania.”
“Ve udah, nggak usah dengerin dia.” Stella berusaha menarik tubuh Veranda menjauh dari Shania. Tapi Veranda menahannya, dia masih ingin meneruskan acara adu mulutnya dengan Shania yang sangat langka.
“Ve.! Loe yakin temen loe yang selalu loe bela ini, bener-bener orang baik yang kaya loe pikir ?” Veranda tak langsung menjawab, dia mencerna sebentar kata-kata Shania.
“Ve, udahlah masa loe ngeladenin orang kaya gini sih.” Stella tau betul arah pembicaraan Shania, dia masih berusaha menarik tubuh Veranda agar mau ikut dengannya dan menyudahi adu mulutnya dengan Shania, mencegah adanya kalimat yang akan Shania kembali luncurkan.
“Apa urusan kamu, mau Stella baik atau tidak itu urusanku.” Veranda masih membela sahabatnya, yang ia pikir benar, dan memang benar.!
“Bahkan jika sahabat loe itu seorang ......!”
“Shania.!!” Seru Stella menghentikan kalimat Shania. “Oke gue turutin permintaan loe.! Gue bakal jauhin Ray.!” Tegas Stella kemudian menarik Veranda yang kali ini tak lagi menahan tubuhnya.
“Loe liat aja, siapa yang akan menang Stel.” Kata Shania memasang tatapan kosong namun tajam penuh emosi pada orang yang ia pikir telah merebut Ray darinya. Sekedar info saja, Shania adalah mantan Ray. Dia sempat memiliki Ray untuk beberapa bulan, yang kemudian Ray tau tentang Shania yang menjadikannya bahan taruhan dengan teman-teman komplotannya, membuat Ray sangat membenci dirinya, dan memutuskan hubungan secara sepihak. Sejak saat itu, Shania selalu mengagalkan usaha siapa saja yang ingin dekat dengan Ray, dia mendekati Ray memang karena taruhan, tapi cintanya tulus, tumbuh dari hati kecilnya, yang sebenarnya menolak Ray untuk di jadikan bahan taruhan. Otaknya memang licik, tapi urusan cinta dia tak pernah main-main, dia tipe sosok pecinta yang setia, tulus, walau cara mendapatkannya salah. Shania, sudah terkenal licik di kampusnya, kelakuannya terkadang masih membuatnya terlihat seperti anak SMA yang nakal dan tak tau aturan, dia pikir apa yang dia mau harus dia dapatkan, apapun caranya.!
***


‘Tuuutt....tuuuuttt....tuuutt..’ Suara sambungan ke nomor Stella masih saja terdengar sama, Veranda masih menyimpan Handphonenya di telinga kanannya, menunggu orang yang ia maksud menyahut atas panggilannya.
“Hmm, Stella kemana sih.” Keluh Veranda memutuskan sambungannya, kemudian melempar Handphonennya ke tempat tidurnya.
“Sesibuk itu ya kerja Stella ? Sampai Stella nggak pernah bisa aku hubungin kalo malem.” Lanjutnya.
“Eh tapi Stella kerja di cafe mana ya ? kenapa nggak pernah ngomong sama aku.” Pikirnya lagi, kalau diingat-ingat memang Stella tak pernah menjawab di cafe mana dia mencari nafkah untuk dirinya dan adiknya. Dia memang tak secara langsung tidak menjawab, hanya mengalihkan setiap di singgung tentang pekerjaannya.
“Shania..kenapa Stella.....ah kertas itu.!” Veranda teringat sesuatu yang Shania berikan siang tadi di kampus sebelum ia pulang. Ia mencari tasnya kemudian mencari kertas yang tadi hanya ia masukkan ke dalam tas tanpa ia baca sehuruf pun.
“Zodiak, Jl. Pemuda no 67...” Veranda mengeja huruf yang di tulis Shania di kertas itu.
“Alamat apa ?” Gumam Veranda.
                Veranda diam di atas kasurnya, menatap kertas tadi. apa ? untuk apa ? Veranda sendiri tak tahu. Dia mengingat-ingat kalimat Shania ketika menyerahkan kertas itu.
“Mau apa lagi kamu ?” Veranda yang di cegah Shania di parkiran akhirnya berucap setelah ia tak kunjung mendapatkan suara dari tubuh yang tingginya nyaris sama dengannya
“Tenang, gue nggak akan nyakitin loe. Gue Cuma mau ngasih ini ke loe.!” Kata Shania menarik tangan kanan Veranda, kemudian meletakan sesuatu di atasnya.
“Apa ini ?” Heran Veranda.
“Dateng kesana diatas jam 10  malem, nggak perlu masuk, tunggu diluar. Gue bakal kasih tau siapa orang selama ini loe bela.!” Jelas Shania tanpa menatap orang yang tengah menatapnya penasaran.
“Gue nggak maksa ko, gue Cuma mau bikin loe sadar siapa temen loe sebenernya.” Lanjut Shania, Veranda semakin tak tau arah pembicaraan Shania. Hanya terus mencoba mencerna apa saja kalimat yang di keluarkan orang yang tak begitu ia kenal.
“Terserah mau dateng kapan, karena semuanya terjadi setiap hari.!” Tutup Shania kemudian meninggalkan Veranda yang masih belum menangkap maksud Shania sebenarnya.

“Jam 10 ?” Veranda mengingat, kemudian melirik jam di meja belajarnya.
“10.15, artinya aku udah bisa ke sana. Apa Shania ada di sana ? Apa dia nunggu aku ?” Pikir Veranda.
“Ke sana nggak yaa ??” Ragu Veranda. “Ke sana deh.!” Putusnya, “Tapi kan udah malem, masa iya gitu aku keluar sendiri jam segini.” Dia kembali menarik keputusannya.
“Minta temenin Stella deh, kali aja udah pulang kerja. Lagian udah malem juga.” Ide Veranda, kemudian mencari Handphone yang tadi ia buang begitu saja, kemudian melakukan sambungan pada orang yang ia maksud. 5 detik, 10 detik, tidak ada jawaban. Hingga akhirnya Veranda memutuskan sambungannya. Niat awalnya yang tidak menggubris Shania, akhirnya Veranda menarik tubuhnya dari tempat tidur, meraih cardigan hitamnya dan kunci mobil, kemudian meluncur ke garasi rumah dan melajukan mobilnya ke alamat yang Shania beri.
“Stell, tolong jangan biarin aku percaya sama omongan Shania.” Gumam Veranda dalam pikirannya yang bermain dengan kalimat-kalimat Shania.
“Aku harap semua dugaan aku salah.” Kata Veranda lagi sambil terus melajukan mobil miliknya.

“Zodiak.” Veranda mengeja papan nama gedung itu, ia telah sampai di tempat yang ia atau lebih tepatnya Shania maksud.
“Ini kaya.....Club malam ?” Veranda mengamati gedung itu dari tempatnya menghentikan mobil. Beberapa meter dari pintu masuk gedung itu. Dia masih penasaran dengan tempat itu, mengamati setiap orang yang keluar masuk dengan  pasangannya, atau yang keluar dengan keadaan mabuk, tapi mana Shania. Veranda mengecek.
“Hmm, Shania ngapain ngajak ketemuan di tempat kaya gini sih.” Veranda menghempaskan tubuhnya pada jok mobil. Dia telah puas mengamati gedung  yang dapat ia simpulkan bahwa tempat itu benar-benar club malam. Tapi matanya masih ia pakukan pada pintu gedung itu, barang kali saja ia menemukan Shania.

“Ssss.....” Veranda tak dapat melanjutkan kalimatnya, hanya menganga menatap orang yang keluar gedung itu, orang yang sangat ia kenal. Ntah apa yang menguasai dirinya, hingga akhirnya dia mengeluarkan diri dari mobil.
                Di samping mobilnya, Veranda hanya mematung menatap Stella yang dalam keadaan ntah sadar atau tidak, melangkah sempoyongan dan menggelayut manja di lengan laki-laki yang sudah berumur. Hingga mereka masuk ke dalam mobil yang terpakir di depan pintu masuk, mata Veranda menatap kosong mobil yang baru saja dimasuki sahabatnya, otaknya bermain sendiri dengan scene-scene yang akan atau telah dilakukan Stella. Kecewa.! Itu saja, tapi cukup membuat dada Veranda  bergemuruh. Mobil itu perlahan memutar balik dan melaju mengarah ke Veranda yang matanya masih mengikuti pergerakannya, hingga mobil itu dan mobilnya dalam posisi sejajar, dan penumpang di dalamnya dapat menangkap bayangan Veranda dari kaca jendela mobilnya, dan mata mereka sempat bertabrakan satu sama lain.
“Ve....” Lirihnya, air mukanya yang sedari tadi menggoda berubah seketika, kaget, heran, takut, melihat Veranda sekilas sedang menatapnya kecewa, ‘Ve, kenapa dia bisa disana, kenapa...darimana dia tau ? apa maksudnya ? Dia tau profesiku ? Dia...dia pasti marah..’ batinnya.
“Sayang, kenapa ?” laki-laki itu melingkarkan tangannya di pinggang Stella. Tapi dia masih bungkam ‘Apa yang sedang dia lakukan ada di sana ? apa dia tau pekerjaanku ? kenapa ??’
“Heyy, aku telah membayar mahal untukmu malam ini..” Laki-laki itu mencoba menyadarkan Stella, dan usahanya berhasil ketika kecupan mengenai pundak Stella yang bebas dari pakaiannya.
“Hah, mmm kenapa om ?” Stella masih belum fokus dengan pekerjaan yang sedang ia lakoni, di otaknya masih berputar-putar wajah Veranda yang abstrak ketika memergokinya.


‘Stell, apa itu bener kamu ? walaupun gelap, tapi aku hafal betul tubuhmu, gesturemu, walaupun dandananmu berbeda. Kenapa Stell, kamu ngapain disana .......’ Veranda masih asik dengan fikirannya dengan tangannya yang memegang kendali mobil dan mengarahkannya ntah kemana. ‘Ini yang selama ini kamu tutupi, ini yang katamu bekerja untuk....sonia...’ kata terakhirnya membawanya menuju rumah yang tak asing lagi baginya, rumah yang selalu jadi tujuannya sepulang kuliah sebelum ia kembali ke rumah.
Dia telah berada di depan pintu rumah itu, hanya berdiri menatap kosong papan yang menjadi penutup rumah ini  dengan bayangan-bayangan yang sedari tadi masih hinggap di otaknya. ‘stell kalau karena ini, tapi caramu salah.....apa stell ? kenapa ? kenapa harus menyembunyikannya ?’ suara dari balik pintu menyadarkan Veranda, sedetik kemudian pintu terbuka.
“Cistell udah pu...eh Kak Veranda.” Sambut Sonia polos dengan wajah kantuknya dan piyama yang melekat pada tubuhnya.
“Kak Ve, ngapain malam-malam kesini ?” Veranda masih bungkam dengan pertanyaan Sonia, menatap iba pada Sonia yang menatapnya dengan polos.
“Kak Ve nyari ci stella ya ? ci stella nya belum pulang, dia masih kerja. Terus dia kalo pu...” Kalimat Sonia terhenti ketika tubuhnya berada dalam dekapan Veranda, tanpa satu kata pun Veranda berucap, dia memeluk erat tubuh mungil Sonia dengan matanya yang berkaca.
“Ka Ve, kenapa ?” polos Sonia tangannya dilingkarkan di pinggang Veranda.
“Ka Ve berantem ya sama ci Stella.?” Tebak Sonia dalam pelukan Veranda.
“Hah ?” Ve melepaskan pelukannya dan sedikit mengusap matanya yang sempat basah. “ Nggak ko, Kakak nggak berantem sama Ci stella.” Jawabnya diikuti senyum.
“Terus ?” Sonia mendahului duduk di kursi di depan rumahnya, disamping pintu.
“Nggak papa. Oh ya ci Stella kerja dimana ?” Tanya Veranda mengalihkan, mengikuti Sonia duduk.
“Nggak tau sih, pokoknya kalo pulang malem banget, kadang sampe aku nggak sadar ci stella udah pulang, akunya udah tidur.” Jawabnya jujur, Veranda memakukan pandangannya pada Sonia dengan otaknya yang tak bekerja tanpa mendengarkan kalimat orang yang menurutnya menjadi alasan sahabatnya seperti ini. “Kalo ditanya, ci stella bilang yang penting kita bisa makan dan pengobatan aku lancar.” Lanjut Sonia.
“Kamu kalo butuh apa-apa bilang Kakak aja yang dek.” Seperti tak menghiraukan kalimat Sonia, Veranda justru berucap diluar topik yang sedang mereka bahas.
“Maksud Kak Ve ?” Sonia mengerutkan dahinya, masih belum menemukan titik topik yang dimaksud Veranda.
“Yaa, kalau kamu butuh apa-apa bilang Kak Ve aja, kamu punya nomer Kak Ve kan ?” Sonia mengangguk. “Nha kalau kamu kenapa-kenapa kamu bisa telefon kakak aja, ci stella kan sahabat kakak jadi kamu boleh ko anggep kakak sebagai kakak kamu juga.” Ve berucap ntah kemana alurnya, Sonia hanya mengangguk, mencoba mengerti apa yang dikatakan Veranda.
“Eh itu, pasti ci stella.” Sonia mengalihkan pandangan ke jalan raya, pada mobil yang berhenti di depan rumahnya.
“Mobil itu, pasti....” Lirih Ve menyadari mobil yang berhenti adalah mobil yang tadi dia lihat.
“Karena ci Stella nya udah pulang, kakak pulang dulu ya.” Veranda bersiap meninggalkan Sonia.
“Tapi Kak..”
“Oh ya, pokoknya kalau kamu butuh apa-apa telefon Kak Ve aja, oke ??” Kata Veranda menutup perbincangannya dengan Sonia.

“Verandaa, ngapain ?” Stella yang sedari tadi memerhatikan mobil Veranda dari kejauhan akhirnya kini dapat menemukan pemiliknya.
“Ini rumah kamu ?” Kata Laki-laki tadi yang ternyata mengantarkan Stella pulang, katanya dia tak akan memaksa Stella ‘melakukannya’ kalau Stella memang sedang tidak mengingikannya.
“Iya om. Yaudah makasih yah om udah nganterin aku sampai rumah.” Tutup Stella segera keluar, untuk mencegah Veranda yang nampak terburu-buru keluar rumahnya.

“Ve.!” Stella menghalangi langkah Veranda, tanpa berucap Veranda hanya mengambil jalan lain untuk melangkah, tapi berhasil di halang Stella lagi.
“Ve dengerin gue dulu.!” Pinta Stella memegang kedua lengan Veranda.
“Nggak usah sentuh gue.!” Bentak Ve yang ia tahan suaranya agar Sonia yang masih di tempatnya tak mendengar. Stella yang dibentak tertegun sebentar, sejak awal dia mengenal Veranda tak pernah sama sekali dia berbicara dengan nada tinggi, apalagi membentak dirinya, ketika emosi pun Veranda tak pernah marah-marah seperti yang dilakukan orang biasanya. Terlebih air muka yang ditunjukkan Veranda, sangat jarang Stella lihat, kecewa, marah, dingin bahkan terlihat abstrak.! Ketika Stella tersadar, mobil yang dikendarai Veranda sudah menjauh dari rumahnya.

“Ka Ve kenapa ci ?” Sonia menyambut kakaknya yang memasang wajah baik-baik saja di depan Sonia.
“Nggak papa ko. Yaudah ayo masuk.” Stella merangkul tubuh Sonia. Membimbingnya masuk.

                01.09 Stella telah berbaring di tempat tidurnya, berbalutkan selimut, tapi masih belum bisa memejamkan matanya. Otaknya terpusat pada satu nama ‘Veranda’, bagaimana besok ketika dia bertemu di kampus, akankah semua terlihat biasa saja. Apa yang akan dilakukan Veranda setelah dia tau kebiasaan Stella di malam hari yang selama ini dia tak tau, apa yang ada dalam pikiran Veranda sekarang, apa yang harus dilakukan Stella, apa yang harus Stella katakan, bagaimana harus menjelaskan, apa veranda akan menjaga privasinya itu, bagaimana jika semua tau. Shania benar-benar melakukan apa yang ia katakan, dan Veranda telah mengetahui siapa dirinya. Otak Stella terus bermain dengan pikirannya.
Tak beda jauh dengan Stella, Veranda pun masih dalam keadaan yang sama, dia duduk di atas kasurnya dengan novel di tangannya dan tatapan mengarah ke tulisan, tapi otaknya sama sekali tak bekerja untuk membaca satu kata pun di novel itu.  Stella.! Selama ini...begitu rapat Stella menyembunyikan darinya. Dia, ntah perasaan apa yang ada di hatinya, kecewa, ingin marah, tapi tak tau apa yang membuat dia marah, karena stella mengambil pekerjaan itukah, atau karena dia tak pernah tau tentang stella yang sebenarnya. Veranda tau betul dia tak bisa sepenuhnya menyalahkan Stella. Dia yakin stella memiliki alasan yang kuat kenapa dia melakukan hal bodoh ini, untuk mempertahankan hidupnya mungkin, atau pegobatan Sonia yang pasti tidak murah. Tapi...tapi kenapa harus itu.!
***


Keesokan harinya, Veranda datang lebih siang, Stella menunggu. Veranda biasanya selalu mengambil tempat disebelah Stella, di barisan pertama, tapi kali ini dia hanya melewati Stella dan mengambil tempat di barisan paling belakang, dengan wajah tanpa dosanya, dan seakan tak menyadari  keberadaan Stella. Stella sendiri, langsung berdiri, niatnya ingin menghampiri Veranda tapi belum sempat ia melakukan, dosen sudah terlanjur masuk. Perkualiahan hari ini di mulai, Stella yang berada di barisan depan justru tak fokus dengan dosen yang sedari tadi berbincang ke sana kemari, Veranda sendiri sedang berusah memaksa otaknya untuk berpikir jernih dan mendengarkan apa yang dosen sedang bicarakan.
“Oke, sampai di sini kuliah hari. Kalian boleh keluar.” Tutup dosen seraya membereskan peralatannya, Veranda langsung meninggalkan kelas, Stella yang menyadari segera mengambil langkah seribu untuk mengejar Veranda.
“Veranda tunggu.” Seru Stella mengejar Veranda yang tak kunjung menghentikan langkahnya.
“Ve.!” Pergelangan tangan Veranda berhasil Stella kunci. Tapi tidak ada 3 detik, Veranda reflek menariknya.
“Maaf.” Kata Stella, Tanpa jawaban, Veranda melanjutkan jalannya.
“Ve, biar gue jelasin.!” Veranda menghentikan langkahnya, karena di hadang oleh Stella.
“Aku nggak butuh penjelasan kamu.” Kata Veranda kemudian hendak berjalan lagi, tapi lagi-lagi Stella menghalanginya.
“Ve, gue nggak mau kaya gini yah. Gue mau semuanya jelas.” Stella masih mencoba peruntungan untuk berbicara dengan Veranda, sebenarnya dia tak tau bagaimana mengatasi Veranda kalau dia sedang marah padanya, karena ini pertama kalinya dia marah sebesar ini.
“Oke, sekarang aku tanya sama kamu. Apa yang kamu lakuin di dalem gedung itu ? ah nggak, apa yang kamu lakuin sama om-om yang semalem, atau malem-malem lainnya” Veranda bertanya dengan nada dinginnya, nada yang yang tak pernah ia lontarkan sebelumnya kepada siapapun.
“Gue...” Stella, ntah kenapa rasanya sulit sekali ia mengatakan jawabannya.
“Stell, aku tau kamu ada di tempat itu udah dari orang lain, jangan sampe aku tau pekerjaan kamu, dari orang lain juga.!” Tegas Veranda, meminta jawaban yang sebenarnya sudah ia tebak sejak semalam. Stella diam, ntahlah darimana dia akan menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya.
“Jawab Stell, jangan bikin aku percaya sama omongan shania, kalau kamu ternyata busuk.” Pelan sekali suara Veranda, tapi masih mampu Stella dengar jelas.
“Omongan Shania bener Ve.” Tidak ada 3 detik untuk Stella mengatakan kalimat itu, dan cukup untuk Veranda membuat kesimpulan. Sepersekian detik Veranda menatap sahabatnya kecewa.
“Berarti selama ini kamu bilang kamu kerja di cafe yang ntah cafe mana, itu kamu bohongin aku ?” Veranda menyimpulkan. Stella mengangguk pelan, membuat emosi Veranda meninggi.
“Tapi Ve...” Hendak Stella meraih tangan Veranda, dia telah menariknya terlebih dahulu.
“Kasih aku waktu, sekedar buat nyari sisi baik dari kamu yang mungkin masih ada, dan bisa buat aku ngakuin kalo kamu pernah jadi bagian dari hidup aku.” Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut manis Veranda, untuk sedetik kemudian dia berbalik badan berniat meninggalkan TKP.
 “Ve, tolong jangan lepasin genggaman loe, gue....gue buta tanpa genggaman loe Ve.” Ucapan Stella membuat Veranda yang hendak melangkahkan kaki justru berdiam di tempatnya, mencerna sebentar kalimat Stella kemudian mencari jawaban yang tepat.
“Bukannya, tanpa aku lepas genggaman tangan aku pun kamu udah berjalan di luar jalur yang  seharusnya, lalu apa gunanya aku stell ?” Skak.! Veranda memberi titik di pembicaraan mereka, kemudian melangkah mantap meninggalkan Stella.
“Ve.!” Seru Stella lagi pada Veranda yang telah berlalu dari hadapannya. Berdiri terpaku menatap sahabatnya yang berjalan cepat menghindar dari dirinya.
“Ehemm.” Shania yang sedari tadi memerhatikan kejadian itu, kini menghampiri Stella dan berdiri di sampingnya. Stella sendiri tak merespon kehadirannya.
“Gimana ? Sahabat loe udah tau yaa siapa itu stella corneLIA.!” Ucap Shania menekan kata ‘Lia’. Sejurus Stella memindahkan tatapan tajamnya ke arah Shania.
“Wooopss, serem.....” Shania memasang wajah takutnya yang dibuat-buat. Stella tak bergeming menanggapi orang di hadapannya, hanya memakukan tatapannya pada orang yang membuat Veranda mejauh darinya.
“Stella stella.” Shania memainkan rambut Stella, merapikannya tapi melecehkan. “Makanya, jangan main-main sama Shania.” Lanjutnya, tangannya berpindah ke kerah kemeja Stella. “Sekarang loe tau kan akibatnya.!” Tegas Shania tepat di telinga Stella, kemudian mendorong Stella hingga tubuh Stella mengenai tembok. Shania sudah puas melaukan aksi bully nya, kemudian meninggalkan Stella yang terdiam di tempatnya. Stella bukan tak mampu melawan, dia tau betul Shania, semakin dia melawan semakin Shania akan mencari celah untuk menjatuhkan, darimana pun celah itu.
                Di jalan pulang menaiki angkutan umum, dia melamun, pikirannya berlarian kemana-mana, ntah sudah berapa lama Stella tak menaiki angkutan umum, sejak dia mengenal Veranda dia selalu diantar pulang oleh Veranda, selama itu pula tak pernah terfikir sedikit pun di benak Stella, Veranda akan semarah ini padanya, setaunya Veranda adalah sosok berhati malaikat. Stella memang menutupi hal ini pada Veranda, awalnya dia hanya mencobanya dan akan bercerita pada Veranda nanti, sampai akhirnya hanya dengan cara itu dia mendapatkan penghasilan, dan semakin asik dengan profesinya, hingga akhirnya dia benar-benar menyembunyikannya pada Veranda, dia takut Veranda akan kecewa, marah bahkan membencinya. Melepaskan genggamannya dan pergi meninggalkan Stella. Veranda sendiri percaya-percaya saja dengan kalimat Stella bahwa dia bekerja di cafe setiap malam. Tapi, bangkai di tutup serapat apapun pasti akan tercium juga, terlebih oleh orang terdekatnya.
“Darimana loe, jam segini baru pulang.” Tanya Stella tak bersahabat pada adiknya yang baru melangkahkan kaki di pintu, Stella tengah menunggunya di ruang tamu. Sonia melirik jam dinding di ruang tamu. 18.15.!
“Abis ngerjain tugas di rumah temen.” Jawab Sonia santai, hendak menuju ke kamarnya.
“Lain kali ijin dulu kek.” Ucap Stella menghentikan langkah Sonia.
“Aku kan tadi udah sms cistell.” Kata Sonia berbalik badan menghadap Stella, yang sedang tidak dalam keadaan baik.
“Handphone gue lagi gue matiin.” Ucap Stella mudah, tanpa salah.
“Yaudah, bukan salah aku dong.” Gampang Sonia, menyandarkan tubuhnnya di tembok penghubung kamarnya ruang tamu dengan ruang tengah.
“Makan gih.” Stella mengalihkan.
“Udah makan tadi.” jawab Sonia seraya melangkahkan lagi menuju kamarnya.
“Loe tuh gue udah masakin, malah makan diluar.” Emosi Stella terpantik oleh ucapan adiknya, yang tidak terlalu menghiraukan dirinya.
“Iya.! nanti aku makan masakannya.!” Jawab Sonia sempat menghentikan kembali langkahnya.
“Bukan masalah loe makan atau nggak makanan itu, loe harusnya bisa .....”Stella meluncurkan kalimat-kalimatnya dengan nada tingginya, membuat Sonia kembali ke ruang tamu.
“Yaudah, nggak usah marahin aku. Aku cape.!” Kata Sonia kemudian melangkah kembali menuju kamarnya.
“Loe nya nggak mau nurut, loe tau nggak sih gue cape.” Tanpa jawaban lagi Sonia masuk kamarnya, membanting pintu kamarnya hingga suaranya membuat kalimat Stella terhenti. Emosi Stella meluap begitu saja, dia bukan hanya lelah, tapi juga sedang ingin di mengerti, emosinya tak tau harus ia bawa kemana tapi dengan polosnya Sonia menyerahkan diri -_- jadilah Sonia menjadi pelampiasan Stella, yang sebenarnya tidak salah dalam pertengkaran yang dibuat Stella. Dia tak tau harus bagaimana menghadapi Veranda, dia ingin marah, tapi tak bisa, ingin menjelaskan, tapi Veranda tak mau, ingin bercerita tapi pada siapa, ingin menyalahkan dirinya, tapi tak mungkin. Dia akhirnya hanya diam di tempatnya, menyesal telah membentak adiknya, tak tau harus dia arahkan kemana amarahnya, hanya bisa menangis dalam duduknya. Menit-menit berlalu, Stella masih dalam posisinya, hingga seseorang datang mengetuk pintu rumahnya. Dihapusnya air mata yang meleleh begitu saja di pipi, kemudian membukakan pintu dan
“Vera..”
“Kak Ve.” Stella terpotong oleh Sonia yang keluar kamarnya dan menyerobot keluar. Stella sempat bertatapan dengan Veranda, yang sedetik kemudian Veranda mengalihkan tatapannya.
“Diluar aja yuk ka.” Kata Sonia menyeret Veranda, Stella masih belum mengerti kejadian yang ada di hadapannya.
“Kamu kenapa telefon Kak Ve ?” Ucapan Veranda terdengar jelas oleh Stella yang masih berdiri di balik pintu.
“Nggak papa bete aja sama ci Stella.” Cerita Sonia. ‘Tuh anak ngaduan banget sih.!’ Kesal Stella mendengarkan perbincangan keduanya.
“Oh,,yaudah kita jalan-jalan aja yuk, ceritanya di mobil ya ?”  Ajak Veranda.
“Yaudah aku ganti baju dulu ya kak.” Beberapa detik kemudian Sonia lewat di depan Stella yang masih mematung di balik pintu.
“Ve, kenapa loe nurutin Sonia sih ?” Stella keluar dan menemui Veranda yang terlihat biasa saja.
“Ve...” Stella memanggil nama Veranda untuk mendapatkan jawaban.
“Ve gue ngomong sama loe.!”  Dia berseru di depan Veranda, dan berhasil membuat mata dingin Veranda menatapnya.
“Ada yang salah ?” Ucap Veranda santai menghadapi Stella yang dipenuhi emosi.
“Kalo loe nurutin semua yang dia pengen, ntar dia jadi manja.!” Stella menaikan nadanya.
“Kalo loe nggak sanggup ngurus Sonia, gue bisa ko.” Giliran Ve menjawab pertanyaan Stella, berdiri dari tempatnya, hendak Stella berbicara lagi, tapi Sonia sudah terlanjur selesai berganti pakaian, dan langsung menggandeng Veranda menjauh dari Stella. Veranda menuruti saja yang dilakukan Sonia, hingga akhirnya mereka telah berada dalam mobil dan Veranda mulai melajukan mobilnya. Dia terdiam, mengingat air muka Stella yang terlihat berantakan, dia tau betul bagaimana wajah sahabatnya ketika hatinya dalam kondisi tidak baik, terlebih dirinya lah yang menjadi penyebab Stella berantakan. Apa lagi dia sempat menatap mata Stella yang merah, dan bengkak. Ada gurat sesal, tapi......salahkah jika dia melakukan ini, dia kecewa atas kelakuan sahabatnya, dia kecewa karena dia tak bisa menjadi penolongnya, diaa....
“Kak, ko bete gitu sih ?” Ucapan Sonia berhasil membuat Veranda menarik kembali otaknya untuk berada di posisi yang sama dengan tubuhnya.
“Hah ? emm, nggak ko dek.” Kata Veranda, Sonia masih menatap heran Veranda, dia merasa tidak enak pada orang yang telah ia mintai tolong untuk datang ke rumahnya dan melarikannya dari jeratan kakaknya yang mulai tak bersahabat.
“Ohh ya, kamu kenapa ?” Veranda mengalihkan, masih tetap fokus pada jalanan.
“Nggak papa sih, bete aja tadi dimarahin sama cistell.” Cerita Sonia, mulai santai dengan Veranda.
“Berantem lagi ?” Tanya Veranda.
“Iya, tau tuh. Dia tiba-tiba marah-marah nggak jelas.” Kata Sonia, Veranda kembali asik dengan pikirannya. Itulah Stella, ketika perasaannya sedang berantakan maka yang terjadi adalah marah-marah  tak jelas, emosi yang meletup-letup pada siapa saja yang ada di hadapannya.
“Hehe, yaudah sekarang kita seneng-seneng aja.” Bujuk Veranda, Sonia mengangguk kecil.
“Kata orang, ice cream itu bisa bikin hati kita tenang lho.” Kata Veranda. “Gimana kalo sekarang kita beli ice cream ?” Usul Veranda, yang disambut kegirangan Sonia. Veranda tersenyum kecil, membuat pipinya terangkat lucu dengan tetap fokus ke jalanan, hingga mereka sampai di salah satu mall kemudian mencari ice cream yang Veranda maksud.



“Ka, makasih yah udah mau ajak aku jalan.” Kata Sonia di tengah kesibukannya menikmati ice cream yang dibelikan Veranda.
“Biasa aja dek, Ka Ve udah anggep kamu kaya adek Kak Ve sendiri.” Jelas Veranda yang juga sedang menikmati ice creamnya dengan kalemnya.
“Ya nggak Kak, masalahnya ci stell aja nggak pernah ngajak aku jalan-jalan kaya gini.” Veranda terdiam sesaat mendengar jawaban Sonia, menghentikan laju tangannya.
“Tapi, aku sayang banget sama cistell, aku bangga punya kakak kaya dia. Dia rela bagi waktunya buat kuliah, ngurus aku, sama kerja malem hari.” Kalimat terakhir Sonia membuat Veranda meneguk ludahnya. “Aku salut sama cistell, biasanya cewek seumuran ci stell kan lagi pengen seneng-seneng sama temen-temennya.” Veranda membuat bayangan-bayangan Stella yang selalu menolak jika Veranda mengajaknya jalan-jalan kemudian berujung nasehat untuk tidak menghamburkan uang yang dia miliki.
“Aku sering ngerasa aku jadi beban buat cistell, aku kasian liat cistell pulang malem terus, wajahnya kecapean banget. Kadang aku juga pengen bantu cistell, tapi....aku nggak bisa apa-apa, malah aku tambah ngerepotin cistell.” Cerita Sonia, nadanya terdengar sudah sangat ingin menceritakan semuanya, tapi ntah pada siapa. Veranda menyimak Sonia dengan seksama, bak mendengar penjelasan dosen untuk mata kuliah yang sangat penting.
“Kadang juga cistell, marah-marah nggak jelas sama aku, padahal aku nggak tau apa-apa. Aku sering ngambek, tapi nggak bisa lama-lama ngambek sama cistell, aku kasian sama dia yang udah banting tulang buat aku.” Sonia panjang lebar menceritakan tentang kakaknya, Veranda bermain sendiri dengan bayangannya. Benar kata Sonia, Stella begitu hebat melakukan dan menutupi semuanya, dia begitu kuat menjalani kehidupan keras ini, bahkan Veranda tak pernah mendengar keluhan Stella tentang kehidupannya, apalagi tentang profesinya itu. Stella benar-benar hebat.
“Maaf ya ka, aku jadi cerita-cerita gini sama kak Ve.” Kalimat Sonia yang ini membuat Veranda tersadar. Dan mengulaskan senyum untuk orang yang ada di hadapannya.
“Kenapa harus ngerasa nggak enak ? cerita aja semau kamu, kalau itu bisa bikin kamu lega :) Kak Ve sama sekali nggak keberatan ko :)” kata Veranda merangkul Sonia, dia tak menjawab, hanya menunduk dan meletakkan ice creamnya di bangku sebelahnya.
“Dek..” Veranda yang menyadari perubahan pada Sonia, dia menatap Sonia yang menyembunyikan wajahnya di balik uraian rambut panjangnya.
“Kamu kenapa ?” Cemas Veranda, Sonia perlahan mengangkat kepalanya, memegangi tengkuknya yang terasa kaku untuknya.
“Nggak papa ko kak. Cuma kepala aku sakit banget.” Jawab Sonia masih menahan sakitnya, pucat.
“Sakit kamu kambuh ya dek ? Kak Ve bawa ke rumah sakit ya ?” Veranda benar-benar khawatir dengan keadaan Sonia.
“Nggak usah Kak, aku udah sering gini ko. Kita pulang aja yahh, lagian udah malem juga.” Jawab Sonia yang mulai bisa menguasai dirinya.
“Yaudah, tapi kamu bener nggak papa kan ?” Veranda memastikan, Sonia hanya tersenyum detik selanjutnya Veranda membantu Sonia berdiri kemudian membantunya berjalan menuju mobilnya.



                Hari berjalan begitu saja. Sonia, tanpa Stella ketahui, penyakit itu kembali sering menghantuinya, membuatnya sering asik di kamar dengan sakit di kepala dan sekitaran lehernya. Ray, Stella melakukan apa yang Shania minta, dia benar-benar menghindar dari Ray dan memutuskan hubungan dengannya. Veranda, hubungannya dengan Stella semakin merenggang. Beberapa kali Stella meminta sedikit saja waktu Veranda untuk mendengarkan penjelasannya, tapi sama sekali tak Veranda gubris permintaannya, hingga bosan menggandrungi Stella, dan jengah untuk terus-menerus berkata ‘Ve tolong beri waktu aku buat jelasin semuanya.’ . Di kelas, tak lagi ada Veranda dan Stella yang duduk berjajar di barisan depan, mereka saling memisahkan diri. Kini mereka berjalan masing-masing, tanpa ada lagi genggaman itu, genggaman yang saling menguatkan.
               
***


“Hay Ve.!”
“Ray..hay.” Sambut Veranda pada orang yang menyapanya kemudian menyamakan langkah kakinya.
“Sendirian ? Stella mana ?” Tanya Ray basa basi.
“Stella, mmm tadi sih dia keluar duluan, mungkin di kantin.” Kata Veranda berlaga seperti tidak ada apa-apa dengan Stella dan dirinya.
“Oh ya, kenapa Stella belakangan berubah ya Ve.” Ray membuka perbincangan, Veranda terdiam sebentar.
“Berubah gimana Ray ?”
“Ya..dia ngejauh dari gue, padahal awalnya fine-fine aja, nggak ada yang salah.” Cerita Ray, mereka berdua akhirnya berhenti di salah satu koridor yang telah di sediakan kursi untuk mahasiswanya.
“Loe kan deket sama dia, kali aja loe tau dia kenapa.” Lanjut Ray, Veranda berpikir sebentar, mencari alasan yang pasti, ‘Stella bukannya suka sama Ray, kenapa jauhin ? apa dia bener-bener nurutin Shania.’
“Ve, loe tau sesuatu ?” Tanya Ray yang memperhatikan ekspresi Veranda yang berubah.
“Ahh, nggak ko. Setau aku sih Ray, dia nggak kenapa-kenapa, nggak cerita apa-apa juga sama aku.” Kata Veranda, Ray nampak berfikir, masih sibuk mencari alasan yang mungkin.
“Oh ya, ko kamu takut banget Stella ngejauh dari kamu.” Alih Veranda, memasang wajah jailnya.
“Emang, kamu beneran suka sama Stella ya Ray ?”  Goda Veranda, yang digoda hanya senyum-senyum seraya memberantakan rambut bagian belakangnya.
“Haha, kamu kalo salting mukanya lucu juga ya.” Tawa Veranda tak dapat tertahan melihat wajah orang dihadapannya yang memerah. Sedang asik Veranda tertawa, orang yang sedang mereka bicarakan melintas di hadapan mereka. Stella yang telah melihat keduanya dari jauh, hanya menatap Ray dan Veranda bergantian. Mata Veranda dan Stella sempat saling mengunci, untuk kemudian mereka buang. Veranda menghentikan tawanya, Ray yang menyadari keberadaan Stella hendak mengejar namun ditahan Veranda.
“Nggak usah dikejar.” Saran Veranda.
“Tapi....”
“Percuma Ray, lagian dia juga lagi jauhin kamu kan ?” Ucapan Veranda mampu membuat Ray diam dalam gelisahnya.
“Ray, Aku tau Stella. Dia anak yang baik. Dan aku tau kamu suka sama dia, kalau kamu mau dapetin dia, kamu harus sabar. Dan kamu nggak perlu takut dia jatuh ke tangan orang lain, karena dia juga suka kamu. Yang penting kamu usaha, nanti aku bantuin cari tau kenapa Stella ngejauh dari kamu.” Jelas Veranda panjang lebar, tapi benar-benar cukup membuat Ray tenang dan setidaknya bisa tersenyum ringan.
“Jadi loe mau bantuin gue nih ?” Ray memastikan.
“Sebenernya sih bukan bantuin kamu, aku bantuin Stella biar bisa dapet pacar lagi. Hehe.” Canda Veranda mengangkat kedua sudut bibirnya.

Langkahnya tak berarah, Stella masih terus menyusuri jalanan tanpa memerhatikan kemana dia melangkah. Setelah kejadian tadi, pikirannya tak ada lagi di tubuhnya, masih terus berlarian di antara bayangan Ray dan Veranda. Ntahlah, tapi keduanya terlihat dekat di mata  Stella. Candaannya, ntah sedang menertawai apa, tapi cukup membuat hati Stella memanas dan membawa dirinya berjalan hingga sejauh ini. Stella tak habis pikir dengan apa yang tadi ia lihat, dia tak tau betul bahkan sama sekali tak tau apa maksud Veranda dan Ray terlihat dekat,  apa tujuan Veranda mendekati Ray, atau Ray mendekati Veranda, mana Veranda yang ia bilang mendukung Stella dengan Ray, mengapa jadinya dia malah berduaan dan terlihat sangat asik dengan Ray, memberi tahu keburukan Stella kah ??
Langit sore mulai memerah, mentari mulai senja, membuat suasana menjadi teduh, tapi masih tidak untuk Stella. Dia akhirnya memutuskan menyetop ojek, kemudian minta di antarkan ke tempatnya mencari nafkah.  Sampai di sana, langit sudah menjadi gelap, namun masih belum waktunya gedung itu beraktifitas dengan dentuman dan lampu-lampunya. Stella memasuki gedung itu, masih sepi. Hanya ada beberapa teman sepekerjaannya, dan bartender yang nampak masih santai dengan gelas-gelas yang tengah ia lap. Musik belum menggema di ruangan ini, Stella duduk di kursi di depan meja bar, tanpa bersuara, dengan hanya menggerakan jari tangannya sebagai kode kepada bartender untuk menyiapkan 1 botol minuman beserta gelasnya tak selang berapa lama pesanan sudah ada di depan matanya.
“Lia, ini belum jam kamu tugas lho. Tumben udah sampe.” Kata seseorang berperawakan tak lebih tinggi dari Stella, namun lebar badannya lebih darinya dan dandanan yang menor menyapa Stella kemudian duduk di sebelahnya. ‘Lia’, Ya panggilan akrab Stella di lingkungan ini, katanya untuk menutupi identitas aslinya, ntahlah.
Stella masih belum menjawab, dia asik menuangkan minuman yang telah ia pesan ke dalam gelas lalu menenggaknya.
“Ada berapa tamu yang harus gue layani malem ini mih.” Tanya Stella tak mengubris pertanyaan orang yang ia sebut ‘mamih’
“Malem ini banyak yang minta sama loe.” Jawab Mamih menghirup benda panjang yang terbakar di bagian ujungnya. “terserah loe mau ambil berapa.” Lanjutnya kemudian membuang asapnya ke udara. Stella, untuk kesekian kalinya menenggak isi botol yang sudah ia tuangkan berkali-kali ke gelasnya, matanya berarah ntah kemana, tatapannya kosong, namun tampak tengah mengjangkau sesuatu di otaknya.
“Kalo loe lagi ada masalah, loe bisa libur buat hari ini.” Kata mamih setelah beberapa saat memerhatikan anak buah kesayangannya. Stella masih tak bergeming untuk menimpali bosnya, malah menuangkan lagi minuman itu, dan hendak menenggaknya lagi.
“Anak muda gabagus minum banyak-banyak.” Cegah mamih yang tangannya ia gunakan untuk menyetop gerak tangan Stella yang tengah mengantarkan gelas ke bibirnya. Stella menatap pemilik tangan yang kini mengunci pergelangan tangannya. Bukan marah, hanya heran atas perlakuan orang tersebut.
“Gue tau loe jarang minum. Gausah banyak-banyak.” Lanjutnya dalam tatapan Stella, ucapannya berhasil menurunkan tangan Stella dan meletakan gelas tadi di meja.
“Badan loe emang udah terjamah sama laki-laki manapun, tapi jangan biarin organ tubuh loe ikutan rusak gara-gara minuman itu.” Kata mamih sebelum akhirnya dia meninggalkan Stella dalam diamnya. Kalimatnya, membuat Stella memandangi botol yang ¾ isinya sudah berpindah di tubuhnya.
“Badan gue emang udah kotor.” Katanya, memainkan jarinya di tepian gelas bekas dirinya. “Dan hidup gue udah berantakan.” “Ve...ternyata loe salah, Ray bukan bantu gue rapiin hidup gue, tapi justru bikin gue tambah ancur.” Lanjut Stella, sudah berada dalam pengaruh minuman itu mungkin.

                Sonia, dia tengah memaksa dirinya untuk melanjutkan tugas sekolah. Sakit kepalanya sudah meminta untuk mengistirahatkan tubuhnya, tapi tugas itu membuat Sonia mengesampingkan sakitnya. Namun ntahlah, sepertinya sakit itu tak mau mengalah, hingga dengan pejaman matanya Sonia mencoba membereskan buku-bukunya, lalu berusaha mencari obat, meminumnya dengan satu gelas air putih yang sudah dia siapkan, kemudian berjalan menuju ranjangnya, berbaring kemudian menarik selimut, memejamkan mata, menahan sakit yang menekan kepalanya, hingga berapa lama akhirnya ia tertidur.
                Stella setelah beberapa saat termenung dengan minuman yang tak ia habiskan, dan mencoba meraih kesadarannya kembali, akhirnya ia pulang. Pukul sembilan lebih sedikit Stella sampai di rumahnya, masuk dan ntah kenapa ia ingin sekali bertemu Sonia, ia cari dan ia temukan sudah dalam keadaan tertidur pulas. Stella duduk di tepi ranjang Sonia, menatap wajah adiknya yang begitu polos di matanya, kemudian mencium keningnya.
“Gue nggak tau gimana reaksi loe, kalau loe tau gue sebenernya.” Lirih Stella dalam tatapannya pada sang adik. “Maafin gue, gue nggak pernah jujur sama loe.” Sesal Stella.
“Gue terlalu sayang sama loe, gue takut loe marah, dan gue bakal kehilangan loe, kaya gue kehilangan Veranda. Gue takut Son.” Pandangan Stella mulai buram, linangan air membuat matanya tak dapat menatap dengan jelas wajah Sonia.
“Kehilangan satu genggaman pun gue pincang Son, gue buta, dan gue nggak tau harus gimana.” Air itu telah mengalir di aliran yang ia buat sendiri di sekitaran wajah halus gadis yang merasakan sesak di dadanya. Stella membekap mulutnya, menahan isakan dari tangisnya yang ia takut akan menganggu tidur Sonia. Malam ini,ntah mengapa, Stella begitu merasa bersalah pada adiknya, aliran air dari matanya semakin deras, rongga dadanya semakin sesak, membuatnya menarik diri dari kamar Sonia. Stella menyandarkan tubuh di depan pintu kamar Sonia, tangisnya sudah tak bisa ia tahan, dan kini dengan bebas isakannya mengudara begitu saja.
‘Mah, Pah. Stella tau ini salah, Stella tau ini kotor, ini nggak pantas, ini hina.! Kalian pasti kecewa, tapi tubuh Stella terlanjur sudah di jamah pria-pria itu. Maafin Stella mah, pah.’ Batin Stella dalam tangisnya. ‘Mah, Sonia sakit. Stella nggak tau harus gimana, Stella takut Sonia pergi, Stella takut sendirian, Stella takut semua orang bakal ninggalin Stella.’
                Rapuh.! Mungkin gambaran yang tepat untuk Stella saat ini, tak ada lagi pegangan untuk berjalan, tak ada lagi penerang di gelap kehidupannya. Semuanya membludak, air mata derasnya sama sekali tak sepadan dengan sesak di dadanya, tak sepadan dengan beban di otaknya, dan tak sepadan dengan sakit di hatinya. Hancur, down, lemah, putus asa, ntah kata apalagi yang pantas untuk Stella yang masih menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.



“Hahhh.” Keluh Veranda menyibakkan selimut yang sedari tadi menutupi dirinya, usahanya untuk mengistirahatnya tubuhnya gagal. Memejamkan mata ia bisa, tapi untuk meraih nyaman dan rileksnya sangat sulit, dia masih saja gelisah dengan scene siang tadi. Veranda akhirnya menarik diri menuju meja belajarnya, duduk di kursinya, kemudian melirik sebuah bingkai foto bergambarkan dirinya dan Stella.
“Stell, apa kamu marah sama aku ?” gumam Ve dengan mata yang ia arahkan pada bingkai tadi yang sudah ada di tangannya.
“Aku emang kecewa sama kamu, tapi aku sama sekali nggak mau kamu marah gara-gara kejadian tadi siang.” Lanjutnya menggambarkan scene tadi siang di otaknya. Veranda, sangat merasa bersalah dengan Stella, yang pasti berfikiran ada apa-apa antara Ve dengan Ray.
“Kamu apa kabar ? Hmm, aku salah ya ternyata... aku bilang nggak mau ketemu kamu, tapi aku sendiri malah kangen kamu. Tapi...ntah kenapa setiap aku liat kamu, gambaran-gambaran kamu di tempat itu muncul begitu aja, sampe buat aku nggak mau deket-deket kamu.”
“Aku tau, aku egois, aku salah, dan pasti aku bikin kamu kepikiran.” Sesal Veranda, bergejolak antara rindu, menyesal, dan kecewa.
“Stella, aku tau kamu kuat, kamu itu tegar, kamu harus bisa ngelewatin ini, bahkan tanpa genggaman aku sekalipun. Kamu pasti bisa.”
“Aku tau kamu kaya gini karena terpaksa, tapi....tapi tetep aja aku nggak suka cara kamu.”

                Ntah, cemistri macam apa yang ada di antara mereka, tapi Veranda merasa betul hatinya gelisah, meski ia tak tau apa sebenernya yang menjadikan ia gelisah, namun otaknya terpusat pada satu nama ‘Stella’. sedangkan Stella, dia tak bermaksud mengirimkan sinyal ke-putus-asa-annya, tapi getaran itu sampai pada Veranda ketika dalam tangisnya ia berkata ‘Veranda, gue butuh loe.’


***
                Malam lainnya, ntah ada badai darimana, Ayah Veranda terlihat tengah menghamburkan waktu luangnya di ruang tengah dengan koran dan segelas kopi yang ia minta untuk dibuatkan Veranda. Dan Veranda pun sama sekali tak keberatan dengan itu, dia justru sangat senang bisa melakukan hal kecil itu untuk Ayahnya.
“Yah...” Veranda akhirnya bersuara.
“Hmm, kenapa sayang ?” Jawab Ayah lembut pada putri tunggalnya.
“Mmm, di kantor Ayah ada lowongan pekerjaan ?” Tanya Veranda, akhirnya bisa juga meluncurkan kalimat yang sedari tadi mengganjal di lidahnya. Kalimat Veranda kali ini membuat Ayah mengalihkan pandangannya dari koran tadi.
“Kamu mau kerja ?” Tanyanya menatap putrinya heran.
“Bukan Veranda yah, tapi temen.” Kata Veranda ragu-ragu.
“Stella ?”
“Iya Yah, dia.....dia di keluarin dari tempat kerjanya yang lama gara-gara...gara-gara dia mentingin kuliah daripada kerja.” Dusta Veranda, mungkin ini pertama kalinya dia bohong pada Ayahnya.
“.....”
“Nggak ada ya Yah ?” Tebak Veranda melihat ekspresi Ayahnya yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Ya kalo nggak ada ya udah sih.” Tutup Veranda, sebenarnya ia masih ragu untuk menanyaka hal ini pada Ayahnya, hatinya saja masih bergejolak untuk bisa kembali dekat dengan Stella, tapi ntahlah satu sisi dari dirinya berkata dialah yang bisa menolong Stella dari gelap hidupnya. Setelah itu, tanpa jawaban lagi dari Ayahnya Veranda akhirnya masuk kamar dan kembali sibuk dengan pikirannya. ‘Kenapa juga aku mikirin Stella, dia juga udah bohongin aku.’ Batin Veranda membaringkan bebas tubuhnya di kasur. ‘Tapi kan gimana pun dia sahabat aku. Harusnya aku nolong dia....Tapi kalo dia anggep aku sahabat dia ng...’ Suara Ponsel Veranda membuyarkan ilusinya, dan segera meraih benda bersuara nyaring itu.
“Halo...” Sapa Veranda menyimpan Handphonennya di telinga kanannya.
“Kak aku.....” Suara Sonia dari seberang tak begitu Veranda dengar jelas di telinganya.
“Dek kamu kenapa.” Ucap Veranda khawatir, dia membuang novel yang sedari tadi asik dia baca.
“Aaa....”
“Haloo, dek...kamu nggak papa kan ??”
“....” Hanya suara berisik saja yang sampai di telinga Veranda melalui phone pintarnya.
“Dek..Kamu dimana ? biar Kak Ve ke sana sekarang.”
“Aku di rumah Kak. Hssss ” Jawab Sonia mengaduh sakit, penyakit itu datang lagi.! Kali ini benar-benar dahsyat menyerang Sonia, hingga dia yang biasanya mampu mengatasi sakitnya sendiri, kali ini menyerah dan menghubungi Veranda, dia yang awalnya menelpon Stella akhirnya memutuskan sambungan kemudian mengganti sambungan ke Veranda.
“Yaudah Kak Ve kesana sekarang. Kamu tungguin Kak Ve ya.!” Veranda memutuskan sambungan, kemudian meraih tas dan kunci mobil yang dia letakkan di meja belajarnya, langsung berjalan cepat, seperti tak mau waktu berlalu lebih cepat dari gerakannya. Dia begitu mengkhawatirkan Sonia yang suaranya begitu lemah sampai di telinganya.
“Kamu kuat dek, tunggu Kak Ve.” Batin Veranda sambil memacu mobilnya untuk cepat sampai di rumah Sonia, fokus namun fikiran kemana-kemana, menebak-nebak apa yang sedang terjadi.


*Brakk* Veranda membuka kasar pintu rumah Sonia yang tak di kunci, dia langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Mencari keberadaan Sonia dengan sangat amat tidak tenang.
“Dek..”  Veranda sampai di kamar Sonia. Melihat keadaan Sonia yang melemah, pucat.
“Kamu....” Veranda mendekat pada Sonia, dia begitu ketakutan melihat kondisi Sonia,
“Kepala aku sakit banget kak.” Jawab Sonia, dilanjutkan dengan acara kejang-kejangnya, yang membuat Veranda semakin panik.
“Ki..kita ke rumah sakit sekarang yaa..” Dia membangunkan Sonia dari ranjangnya, kemudian memapahnya menuju mobil. Dengan susah payah dia membawa Sonia, memasukkannya ke mobil, kemudian langsung menancap gas menuju rumah sakit terdekat.
“Dek, bertahan..! Jangan bikin Kak Ve takut.” Kata Veranda fokus ke jalanan, sesekali menengok ke arah Sonia yang tubuhnya tak mau diam, dia masih saja sibuk dengan kejang-kejangnya. Sempat terfikir di benak Veranda untuk menghubungi Stella, tapi kepanikkannya pada Sonia membuat dia tak menghiraukan pikiran itu, yang terpenting adalah Sonia cepat sampai di Rumah sakit dan segera di tangani dokter.
“Dek.!” Seru Veranda ketika ntah keberapakalinya dia menengok namun tubuh Sonia tak bergerak lagi, dia tak lagi kejang-kejang, namun dia tak merespon seruan Veranda. Pingsan.!  Veranda semakin cepat memacu mobilnya, berharap akan cepat sampai di Rumah sakit. Kepanikan yang dari tadi membuat kabut di otak Veranda meningkat 86%.


“Dokter lakukan yang terbaik buat adik saya.!” Kata Veranda sesaat sebelum Dokter masuk ke dalam ruang UGD untuk menangani Sonia.
“Saya akan berusaha semampu saya.! Silahkan tunggu di kursi tunggu, tenanglah. Serahkan pada Nya.” Kata dokter dengan tenangnya kemudian dokter itu masuk ke ruangan itu. Ucapan dokter itu sama sekali tak Veranda hiraukan, dia tetap saja panik, duduk sebentar kemudian berdiri kembali, berjalan ke kiri, kemudian berbalik berjalan lagi, dan kembali duduk. Hingga akhirnya ia mengambil handphonenya, untuk menghubungi Stella. Satu panggilan tak di jawab, 2, 3, hingga telah 20 kali Veranda menghubungi Stella, tapi tak kunjung ada jawaban. Menjadikan Veranda membuat gambaran yang sedang Stella lakukan di sana.
15 menit berselang, pintu ruangan terbuka, dokter yang tadi sempat berbicara dengan Veranda muncul dari balik pintunya.
“Dokter bagaimana keadaannya ?” serbu Veranda bangun dari duduknya.
“Sakit adik kamu sudah terlalu parah, bakteri-bakteri itu membuat adik anda sekarang dalam kondisi kritis.” Jelas dokter itu.
“Lakukan yang terbaik dok.”
“Adik anda harus segera di operasi.!”
“O...operasi ??” Veranda terhenyak, dokter itu terus melanjutkan kalimatnya tapi tak Veranda tangkap, dia sibuk dengan pikirannya. Dia memang menganggap Sonia sebagai adiknya, tapi Stella...
“Mbak, cepatlah. Penanganan yang terlambat akan membuat adik anda semakin kritis.”
“Ahh, ii..iya dok. Saya setuju dengan operasi itu.” Veranda akhirnya meluncurkan kalimat itu, dan mengenyampingkan pikirannya tentang Stella. Untuk selanjut mengurus keperluan Sonia, menandatangani data-data, ntah data apa, Veranda tak sempat membacanya. Setelah semuanya beres dan Sonia telah di pindah ke ruang operasi Veranda memutuskan kembali menguhubungi nomor yang sudah berkali-kali ia hubungi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dan meninggalkan Sonia yang tengah berjuang.
                Veranda menghentikan mobilnya di seberang gedung tak begitu tinggi dengan warna-warni lampu sekitar papan nama gedung itu. Memperhatikan setiap pasangan yang keluar masuk pintunya berharap seseorang yang ia tunggu segera memunculkan diri. Untuk kesekian kalinya Veranda melirik jam tangannya, sudah sekitar satu jam setelah Sonia masuk ruang operasi, dan Veranda yang tadinya ingin menunggui Sonia justru meninggalkan Rumah Sakit hingga sampai ke tempat ini. ‘apa operasinya lancar ? kamu baik-baik aja kan dek ?’ batin Veranda mencemaskan adik sahabatnya itu.
                Sebuah mobil berhenti tepat di depan gedung itu, membuat pandangan Veranda terhalang. Sepasang perempuan laki-laki keluar dari mobil, sekilas mereka tampak sedang berbincang, kemudian diakhiri kecupan sang laki-laki yang mendarat di kedua pipi perempuan itu. Veranda masih memakukan pandangannya pada pasangan itu, terutama pada perempuan yang nampaknya ia kenal. Laki-laki itu masuk mobilnya beberapa detik kemudian mobil itu melaju, dan menyisakan perempuan itu yang langsung masuk ke dalam gedung. Tak begitu jelas, tapi Veranda dapat memastikan dia adalah Stella.!
                Diam sebentar, Veranda gelisah di dalam mobil.! Dia tidak tau bagaimana harus memberi tau sahabatnya itu tentang keadaan adiknya, masuk ke tempat itu Veranda enggan, menunggunya sampai ia keluar pun tak mungkin. Beberapa menit kemudian, setelah satu tarikan nafas panjang akhirnya Veranda memutuskan keluar dari mobil dan menarik dirinya untuk masuk ke dalam tempat itu. Tak sampai 1 menit untuk dia sampai ke dalam tempat terlarang itu. Ve menghentikan langkahnya persis satu langkah setelah ia melewati pintu masuk, dia memicingkan matanya, mengadaptasi telinga dan matanya untuk menerima dentuman musik yang keras dan lampu warna warni yang menyorot, memutari ruangan. Sepersekian detik akhirnya mampu mengendalikan dirinya, dan mulai mengitarkan pandangannya mencari sosok Stella di tengah kerumunan orang yang ntah sadar atau tidak. Matanya terhenti pada satu titik, disatu meja dengan pria yang tengah menenggak botol minumannya untuk kemudian menjatuhkan kepalanya di tubuh wanita di sampingnya, sang wanita tak mau kalah, dia ikut menenggak gelas yang sudah penuh dengan alkohol, sama sekali ia tak marah dengan perlakuan sang lelaki yang memanja di tubuhnya dan seolah melecehkannya. Tak tahan dengan pemandangan itu, akhirnya Veranda melangkahkan kakinya menuju meja itu. Sampai, dan berdiri di depan meja, di samping wanita itu, menatap kelakuan sahabatnya, tapi tak wanita itu sadari. Sang lelaki yang sudah duduk normal akhirnya menyadari keberadaan Veranda, dan dengan sukses membuat pasangannya ikut menengok ke arah Veranda.
“Veerrr......” Belum sempat Stella meneruskan kalimatnya, Veranda terlebih dahulu menarik tangan dan menyeret tubuh Stella dari tempat asing bagi Veranda yang telah menjadi rumah kedua untuk Stella.
                Bak supir memperlakukan majikannya, Veranda membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Stella masuk, untuk kemudian menutupkan pintu lalu berlari menuju pintu lain. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka, padahal sudah hampir 15 menit mereka di dalam mobil menyusuri jalan kota malam hari.
“Ve, kita mau kemana ?” Stella akhirnya meluncurkan kalimatnya yang sedari tadi berputar-putar dalam kalimatnya.
“Nggak bisa gue jelasin sekarang.” Kata veranda dingin tanpa menatap Stella sedikitpun. Stella diam, bukan puas dengan jawaban Veranda, tapi justru semakin menebak-nebak apa yang sebenarnya ada dalam fikiran Veranda. Kenapa dia bisa ada di dalam tadi, apa yang membuat dia nekat masuk ke tempat laknat itu. Diam-diam Stella memerhatikan Veranda, menatap wajahnya yang lama tak ia tatap, tangannya yang lama tak ia genggam, tubuhnya yang lama tak ia peluk, sejak hari itu sejak veranda selalu menolak sentuhan Stella di tubuhnya.
“Kita udah sampai.!” Kata Veranda membuyarkan ilusi-ilusi Stella yang masih saja menatap rindu Veranda. Di lepaskannya seat belt dan kemudian turun dari mobil.
“Ve tunggu.!” Stella meneriaki Ve yang telah berjalan mendahuluinya.
“Ve, kenapa kita kesini.?” Stella terengah mengikuti langkah panjang Veranda. Namun Veranda masih bungkam dengan langkah cepatnya yang membuat Stella kualahan mengikutinya.

“Di dalem ada Sonia, dia lagi di operasi.!” Singkat Veranda berhenti tepat di depan ruang operasi.
“Son..ia ? Operasi ???” Stella akhirnya menemukan jawaban atas tebakan-tebakannya.
“Keadaannya melemah, radang selaput otaknya sudah parah, jadi dia harus segera operasi.” Lanjut Veranda.
“Dapet darimana duit gue buat bayar operasi Sonia.!” Stella terduduk di kursi tunggu. Veranda mengikuti Stella, duduk tepat di sebelahnya. Dia hendak berkata namun seperti tertahan, menatap Stella yang shock dengan kalimat yang baru saja ia luncurkan, hatinya bergemuruh melihat sahabatnya dengan wajah yang berantakan, ingin rasanya dia memeluk atau sekedar menggenggam tangannya untuk menenangkannya dan berkata ‘Semuanya akan baik-baik saja.’
“Mamih.!” Stella menyebutkan nama yang sama sekali tak pernah Veranda dengar, memberantakkan tasnya mencari barang yang bisa ia gunakan untuk menelfon orang yang dimaksud. Menekan tombolnya cepat, lalu meletakannya di telinga kanannya, menjauh dari Veranda.
“Halo, gue lagi di rumah sakit mih” Stella mulai perbincangan dengan orang yang dia sapa dengan panggilan ‘Mamih’ “Bukan, adek gue. Mih, tolong cariin orang yang bisa bayar mahal buat gue dong, gue lagi butuh uang banyak buaat....” Stella yang tengah asik meminta bantuan pemasok (?) perempuan-perempuan jalang itu terhenti oleh Veranda yang tiba-tiba mengambil handphonenya kemudian memutuskan sambungannya dengan  ‘Mamih’.
“Ve.!!” Hendak marah, tapi tertahan.
“Kamu mau ngeracunin adek kamu pake uang yang kamu dapet dari tempat kotor itu ?” Ucap Veranda begitu saja, menatap sinis Stella yang juga menatapnya penuh emosi.
“Seenggaknya gue harus berusaha cari uang buat kesembuhan adek gue.” Jawab Stella ringan, masih dalam posisinya menatap Veranda emosi.
“Kamu b*odoh stell. Apa kamu nggak mikir kenapa adek kamu nggak sembuh-sembuh ? kenapa adek kamu semakin hari semakin parah ? itu karena kamu bayar pengobatan dia pake uang kotor.!” Tutup Veranda kemudian meninggalkan Stella dalam emosinya. Ucapan Veranda tepat mengenai lubuk hati Stella, menusuknya hingga dia tak dapat melakukan lagi perlawanan. Dia terduduk kembali di kursi tunggu ruang operasi, kalimat veranda berputar-putar di otaknya, sesak, takut, gelisah, marah, kecewa, semuanya berkumpul di hati dan pikiran Stella, belum lagi memikirkan darimana dia akan mendapat uang untuk membayar pengobatan Sonia kali ini yang pasti akan lebih mahal lagi. Jiwa raganya telah ia gunakan sepenuhnya untuk mencari uang untuk Sonia, lelah, bosan, kesal, putus asa.! Dia tak tau lagi harus bagaimana, harus berjalan ke arah mana.
Ingatannya kembali pada saat dia masih bisa tertawa riang dengan adik, mamah dan papahnya,  selagi dia hanya tau tertawa dan makan, selagi badannya masih belum tersentuh oleh siapapun, hingga kecelakaan itu yang membunuh kedua orang tuanya, membuatnya menjadi yatim piatu, kemudian dia mulai kehabisan uang untuk makan, dan mulai mencari pekerjaan yang layak sampai akhirnya dia terjerumus ke dunia malam hingga dia menemukan pekerjaan yang dia kira bisa dia pakai untuk menghidupi  Sonia, menyekolahkan Sonia dan membayar uang kuliah untuk dirinya sendiri, sampai-sampai kehidupannya berantakan seperti saat ini.
***

“Kamu udah siuman dek ?” Veranda menyambut Sonia yang mulai membuka matanya, Sonia masih mengadaptasi matanya untuk menerima cahaya yang masuk melalui jendela kamar tempat dia dirawat. Sonia sudah dipindahkan ke kamar biasa setelah operasi semalam dinyatakan berhasil dan dia dalam keadaan baik, tinggal menunggu hingga dia siuman. Stella yang menunggunya, ternyata tertidur di kursi tunggu, hingga Veranda yang memang sedari tadi juga menunggu operasi Sonia di tempat lain akhirnya membawa Stella pulang tanpa mengganggu tidur Stella sedikitpun.
“Ada yang sakit ?” Tanya Veranda lagi memperlakukan Sonia dengan sangat lembut.
“Ci Stella mana kak ?” Sonia mengabaikan pertanyaan Veranda.
“Stella..mmm ci stella ada ko di rumah, semaleman dia jagain kamu, terus tadi pagi kakak suruh pulang buat istirahat.” Dusta Veranda dengan senyum khasnya yang membuat Sonia percaya dengan ucapan Veranda.
“Kak, apa aku sudah sembuh ?” Sonia bertanya setelah beberapa menit dia terdiam dalam lamunannya.
“Kenapa tanya gitu dek ?” Veranda yang tadinya sibuk dengan handphonenya jadi menghentikan kegiatan jarinya.
“Nggak ko nggak papa, kakak jawab aja, apa aku udah sembuh ?”


“Lho ko gue di rumah sih ?” Kaget Stella begitu membuka matanya, setelah beberapa detik dia berfikir.
“Sonia.! Sonia kan lagi di rumah sakit.! Bego, kenapa gue bisa ada di rumah...” Stella menengok pakaian yang ia kenakan, dan jelas itu bukan pakaian yang semalam ia gunakan untuk bekerja.“siapa yang gantiin baju gue...” sayangnya otaknya bekerja dengan sangat lambat hingga tak bisa menebak siapa yang mengantarkannya sampai ke rumah dan mengganti pakaian yang bau minuman dan asap rokok khas tempat pekerjaannya.
“Heh, ngapain gue mikir itu. Sonia.!” Dia tersadar kemudian langsung mengambil handphone dan tasnya lalu meluncur menuju rumah sakit. Dia kalang kabut memikirkan adiknya, tak habis pikir bagaimana dia bisa sampai tertidur bahkan sampai di kamarnya, tanpa merasa dipindah sedikitpun. Bisa-bisanya dia meninggalkan Sonia yang pasti butuh dirinya.


“Sus, pasien bernama Sonia Natalia di rawat di ruang berapa ?” tanya Stella di receptionist rumah sakit.
“Sonia...Natalia di kamar nomer 388.” Jawab Suster itu cepat. Kemudian setelah berterimakasih, Stella melanjutkan jalannya, ‘bego, bahkan kamar rawat adik sendiri pun gue nggak tau.!’ Batin Stella memaki dirinya sendiri.
“388” Stella mengeja angka yang tertera di depan kamar yang hendak ia masuki. Kemudian memegang gagang pintunya, sedetik kemudian terdengar decitan pintu yang menggema di ruangan membuat orang yang ada di dalam ruangan itu menengok ke sumber suara.
“Ci...” Sapa Sonia tersenyum girang menyambut kehadiran kakaknya.
“Loe nggak apa-apa kan Son ?” ucap Stella setelah berdiri di samping ranjang Sonia.
“Nggak papa ci.” jawab Sonia yang ntah benar atau tidak.
“Sorry gue nggak bisa ja....”
“Oh ya ci, ko kesini lagi, kata Kak Veranda ci stella di suruh pulang buat istirahat. Bukannya istirahat abis jagain aku semaleman malah kesini lagi.” Cerewet Sonia membuat Stella mencerna kalimat adiknya ‘Ve ? jadi Ve yang nganter gue pulang, tapi semalem kan gue nggak jagain Sonia, dia selesai operasi aja gue nggak tau’ batin Stella.
“Ci ? ko nglamun sih ? pasti masih ngantuk kan ?” Sonia menyadarkan Stella.
“Hah mmmm, nggak ko. Oh ya Kak Veranda nya sekarang mana ?” Tanya Stella mengalihkan, dan mengembalikan ekspresinya menjadi biasa.
“Ka ve lagi ke ruang dokter.”
“Ngapain ?”
“Tadi dokter manggil ka ve, sebenernya cari keluarga pasien tapi adanya ka ve, jadi ka ve ngaku jadi kakak aku.” Jelas Sonia. Stella meneguk ludahnya, ‘Veranda, dia yang selalu ada buat Sonia, dia yang membawa Sonia ke rumah sakit saat dia benar-benar kritis, dia yang ada di depan mata Sonia saat sonia siuman, bahkan dia sampai mengaku kakaknya untuk...’ pintu berdecit lagi, veranda hendak masuk ke kamar Sonia tapi dia urungkan setelah melihat keberadaan Stella.
“Ve.! Son, bentar ya, gue mau ngomong sama Ve dulu. Nggak papa kan loe sendiri ?” Ucap Stella yang sudah bersiap mengejar Veranda. Hanya dengan anggukan kecil Sonia menjawab kemudian Stella langsung melejit menemui Veranda yang sudah jauh meninggalkan kamar Sonia.
“Ve tunggu.!” Veranda menghentikan langkahnya.
“Loe mau keman.. .” stella membalikkan tubuh veranda hingga “Ve, muka loe pucet banget.!” Bagaimana tidak, sejak awal dia menjemput sonia, kemudian mengantarkannya ke rumah sakit, lalu mencari Stella, kembali ke rumah sakit, di lanjut mengantarkan Stella yang tertidur ke rumahnya dan kembali lagi ke rumah sakit, tanpa istirahat.
“Aku mau pulang.!” Veranda melepaskan genggaman Stella di pundaknya, nada bicara dan tatapannya masih saja dingin.
“Tapi lo...”
“Aku nggak papa. Operasi Sonia berjalan lancar, tadi dokter bilang keadaan Sonia udah mulai membaik, dia Cuma tinggal dirawat beberapa hari aja disini, sampai keadaannya bener-bener pulih.” Kata Ve menyimpulkan apa yang dokter jelaskan panjang lebar padanya.
“Dan karena kamu udah disini, kayanya tugas aku udah selesai, aku harus pulang.!” Veranda membalikkkan tubuhnya dan kemudian hendak berjalan.
“Ve tapii kan...”
“Oh ya satu lagi...” ucap Veranda kembali menghadap Stella seraya mencari sesuatu dalam tas-nya.
“Ve, gue nggak tau harus ngomong apa tapi...” ucapan Stella terhenti dengan tangan Veranda yang mengambil tangannya dan meletakkan sesuatu pada tangan kanannya.
“Ini atm, sama kartu kredit aku .! Gunain buat bayar semua pengobatan adek kamu.!  Jangan sekali-kali lagi kamu bayar pengobatan adek kamu pake duit kotor itu, dan aku harap kamu nggak akan nglakuin itu lagi.” Jelas Veranda, nada dinginnya sama sekali tak sinkron dengan kalimat yang ia ucapkan,  Stella tak mengeluarkan sepatah kata pun. “Oke kayanya aku harus balik sekarrr..” Veranda menghentikan kegiatan berbicaranya karena tubuhnya yang telah ada didekapan Stella.
“Ve makasih.! Makasih banget buat semuanya.!” Kata Stella mendekap Veranda begitu erat.
“Gue nggak tau harus gimana bales semuanya.” Lanjut Stella. Veranda hanya diam dalam pelukan Stella, tak bereaksi sedikitpun, bahkan untuk sekedar membalas pelukannya.
“Gue sayang loe Ve, plis jangan marah lagi sama gue. Gue buta tanpa loe Ve, gue nggak tau harus melangkah kemana tanpa genggaman tangan loe.” Bendungan air mata Stella hancur, pundak Veranda basah karena air mata Stella yang dia biarkan begitu saja.
“Ve, gue Cuma butuh loe di samping gue buat ngadepin semua ini Ve. Cuma loe sama Sonia yang bikin gue kuat, plis jangan tinggalin gue.” Mata Veranda berair, Stella berhasil membob ol pertahanan Veranda dengan kalimatnya, hingga akhirnya tangan Veranda bergerak dan membalas pelukan sahabatnya.
“Gue kangen loe Ve, gue sayang loe.” Kata Stella yang merasakan dekapan di tubuhnya.
“A...aku juga kangen kamu Stell.” Ucap Veranda lirih, tapi terdengar jelas oleh Stella.
“Loe nggak marah lagi kan sama gue ?” Stella melepaskan pelukannya, lalu menatap Veranda yang tertunduk menghapus air matanya.
“Aku nggak akan marah lagi sama kamu Stell.” Ucap Veranda mengangkat kepalanya, menatap Stella yang telah lebih dulu menatapnya. Tatapan itu telah kembali, tatapan hangat itu, pelukannya, nada bicaranya yang lembut, dia kembali, Veranda kembali menjadi Veranda.!
“Gue nggak akan sia-sia loe lagi Ve. Sahabat terbaik gue.!” Ucap Stella, kemudian saling berpelukan lagi.
 Hanya setitik masalah kecil penguji persahabatan,  kadang emosi dan ego mebuat seseorang merasa paling benar, saling menjauhkan diri dan bahkan kecewa yang kadang melingkupi hati, bisa menjadi sebuah kebencian yang membuat seseorang enggan mendekat. Tapi percayakah, seseorang yang telah kita namakan ia sebagai ‘sahabat’ tanpa kita sadari, ia dan bahkan kita sendiri akan menarik kembali diri kita dari emosi dan ego yang membuat kita sempat menjauh dari sahabat. Kadang sebesar apapun masalah yang datang, asal dalam hati seseorang masih tersimpan kata ‘sahabat’. Masalah, itu bukan apa-apa bagi sebuah hubungan persahabatan. Karena seorang sahabat yang sebenarnya, namanya telah mengalir di darah kita. Tanpa perintah, hati kita akan merasa terpanggil ketika sahabat mengalami sesuatu, meski dalam keadaan emosi sekalipun.



“Ci, ko ci stella nggak pernah aku liat kerja ?” Tanya Sonia di sela-sela acara makan malamnya bersama Stella.
“Mmm, gue....gue berhenti kerja.” Jawab Stella menghentikan laju sendoknya yang hendak mendarat di mulutnya.
“Kenapa ? Terus....”
“Udah, loe nggak usah mikirin itu, kita masih bisa makan ko. Buat check up loe juga masih ada.” Kata Stella mengurungkan niatnya memasukkan sendok ke dalam mulutnya.
“Uang dari mana Ci ?” Tanya Sonia polos.
“Ada orang yang baik banget mau nolong kita.” Jawab Stella menyembunyikan nama Veranda di balik kalimatnya. Bukan menutupinya, tapi Veranda sendiri yang meminta untuk Stella tak mengatakan apa-apa tentang bantuannya yang tak seberapa baginya.
“Tapi...”
“Iya, besok gue pulang kuliah mau cari-cari kerjaan baru.” Stella tau arah pembicaraan Sonia, lagi-lagi memotong ucapan adiknya.
“Cii.....” Sonia menatap Stella sendu, mata polosnya menatap Stella kasian, bukan! tapi sayang, bukan! Seperti tak tega. Ntahlah, tatapan Sonia terlalu abstrak untuk dijelaskan.
“Loe tenang aja, kan gue udah bilang ini udah tanggung jawab gue. Selagi gue mampu, gue akan tetep cari uang buat kehidupan kita. Udah tugas gue juga buat ngelindungin loe. Yang penting loe jaga kesehatan loe, jangan sampe yang kemaren kejadian lagi.” Jelas Stella panjang lebar, mengungkapkan isi hatinya.
“Makasih ya ci...” Kata Sonia kemudian dibalas senyum Stella.
                Scene ini, mungkin Mama Papa Stella di sana tersenyum bahagia melihat kedua putrinya seakur ini. Scene yang tak pernah terjadi setelah mereka pergi meninggalkan keduanya. Apalagi mereka, Sonia saja sangat bahagia dapat merasakan kembali saat makan berdua dengan kakaknya...ah ‘kakaknya yang sangat menyanyanginya’ . Stella ?? dia gengsi, dia menolak untuk batinnya mengatakan dia sangat bahagia, tapi pengaruh dari dalam hati terlalu besar, hingga gesture Stella tak dapat menyembunyikan lagi rasa bahagianya.
                Keesokan harinya, seperti rencana Stella semalam, ia akan mencari pekerjaan yang layak sepulang kuliah. Setelah dosen mata kuliah terakhir, Stella langsung beranjak dari tempatnya.
“Hey mau kemana, aku maen di tinggal-tinggal aja.” Seru Veranda pada Stella yang nampak terburu-buru.
“Gue pulang duluan ya.” Kata Stella membalikkan badannya menghadap Veranda.
“Mau kemana ? Padahal aku mau minta tolong sama kamu.” Veranda memasang wajah kesalnya, berdiri menyamai Stella.
“Ve, sorry...tapi kali ini nggak bisa.” Jawab Stella ,Veranda menatap Stella penuh curiga.
“Nggak, gue nggak akan ke tempat itu lagi.” Lanjut Stella, paham dengan kecurigaan Veranda.
“Terus ?” Tanya Veranda masih kesal.
“Gue mau cari kerja, nggak akan selamanya juga gue pake duit loe.” Jelas Stella, akhirnya jujur juga dengan sahabatnya.
“Yaudah sini balikin atm sama kartu kredit aku.” Ketus Veranda menatap kecewa pada Stella.
“Ve....” Yang diajak bicara heran dengan sikap Veranda yang mendadak dingin padanya.
“Ya katanya kamu udah nggak butuh.” Sinis Veranda masih menodong Stella, meminta atm nya.
“Bukan...”
“Aku minta anter, aja kamu nggak mau, sini balikin atmnya.” Stella semakin terpojok dengan kalimat-kalimat sindirian Veranda. Benar memang kalimatnya, dan membuat dirinya merasa menjadi orang paling jahat untuk Veranda.
“Ahh, aku kasih kamu pilihan. Kamu balikin atm aku, atau kamu ikut aku sekarang.” Usul Veranda menurunkan tangannya, menatap Stella licik.
“Loe kenapa sih ? Nggak usah kaya anak kecil deh Ve.” Kata Stella akhirnya, masih heran dengan sikap sahabatnya yang tak pernah seperti ini. Mudah memang mengembalikkan apa yang telah Veranda pinjami, tapi bagaimana dia akan hidup dan mengobati Sonia tanpa kartu itu, sedangkan selama ini hanya dengan kartu itulah Stella bisa menafkahi hidupnya.
“Yaudahlah, buruan ikut aku.” Putus Veranda menarik tangan Stella, menyeret tubuhnya untuk ikut dengannya, memutuskan pilihan secara sepihak, Stella hanya mengikuti Veranda, dengan hatinya yang masih menyimpan kesal pada tingkah sahabatnya yang kekanakkan. Niatnya mencari pekerjaan dia urungkan, demi untuk sahabatnya tidak marah padanya.
Veranda menarik Stella hingga sampai di parkiran kemudian masuk mobil. Di perjalanan pun tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka, Stella mengalihkan kegiatan pada handphonenya, pura-pura sibuk dengan aplikasi yang dia pasang di sana. Veranda tak bergeming dan sibuk dengan fokusnya ke jalanan. Dia bukan kesal dengan Stella karena Stella tak mau menemaninya, tapi karena jika Stella lebih memilih mengembalikan atm-nya, maka rencananya akan gagal.

“Ngapain kita kesini.?” Tanya Stella penasaran, ketika Veranda menghentikan mobilnya di sebuah gedung tinggi, yang sama sekali tak pernah Stella sambangi.
“Aku ada urusan penting, makanya aku minta temenin kamu.” Jawab Veranda bersiap keluar dari mobil.
“Ve, gue aja nggak tau urusan loe...” kata Stella masih kesal dengan tingkah Veranda.
“Udah, ayoo keluar.” Dia sama sekali tak menggubris Stella yang memprotes. Hanya keluar mobil kemudian berjalan memasuki gedung itu, Stella membuntut di belakangnya. Dalam langkahnya Stella masih belum mengerti tempat apa sebenarnya, semua karyawan disini nampak tunduk pada Veranda.
“Masuk gih.” Kata Veranda berhenti di salah satu ruangan, setelah jalan dan naik lift tanpa prebincangan sedikitpun.
“Direktur utama.” Stella mengeja tulisan yang tertera di pintu ruangan itu.
“Loe gila ? apa urusan gue masuk-masuk ruangan direktur kaya gini. ?” Lanjutnya, memprotes keras. Konyol memang sahabat Stella yang satu ini, meminta Stella mengurus urusan pentingnya tapi dia sendiri tak memberi tau apa urusannya.
“Udah masuk, bilang aja kamu temen aku.” Santai Veranda.
“Ve..” Tanpa jawaban lagi, Veranda mengetuk pintu ruangan itu, kemudian jawaban terdengar, mempersilahkan pengetuk pintu masuk.
“Udah sana.!” Veranda mendorong tubuh Stella untuk masuk ruangan, yang di dorong setengah kesal, tapi penasaran akhirnya mau juga masuk ruangan direktur utama perusahaan besar yang sama sekali ia tak ketahui apa maksudnya dia masuk ke dalam ruangan itu.
                Veranda hanya menunggu Stella menemui Ayahnya di depan ruangan direktur utama itu. Siang tadi, akhirnya dia mendapat kabar kalau ada bagian di kantor yang kosong dan bisa diisi oleh Stella yang akan bekerja part time, dengan syarat Ayahnya ingin bertemu dengan Stella secara langsung, sekedar untuk tau kepribadian Stella, dan semangat kerja Stella. Karena perusahaan yang Ayah Veranda jalankan bukan perusahaan sembarangan yang menerima karyawannya dengan begitu mudah. Untuk karyawan biasa, mereka harus melewati beberapa tes dan wawancara untuk bisa menjadi bagian dari perusahaan itu, sedangkan Stella hanya perlu menemui Ayah Veranda.
                Sudah hampir 30 menit Veranda menunggu di depan pintu, dia berharap-harap cemas, ‘kenapa lama banget.! Ayah tanya apa aja sama Stella.’ ‘Jangan-jangan Ayah nggak suka sama Stella.’ ‘Atau, jangan-jangan Ayah tau kalau Stella pernah...’ *cklak* suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Veranda. Stella menatap Veranda dingin, seperti ada kekecewaan. ‘Stella kenapa’ batinnya.
“Verandaaaaa....” Seru Stella kemudian mendaratkan pelukan di tubuh Veranda.
“Kenapa ?” heran Veranda yang masih penasaran dengan jawaban Stella.
“Ya ampun, gue nggak tau harus ngomong apa lagi sama loe Ve.! Loe emang sahabat gue yang paaaalllllliiiing baik.!” Stella melepas pelukannya sesaat, kemudian mendaratkan kecupan di pipi Veranda.
“Kamu diterima ?” Tanya Veranda tak bereaksi dengan kecupan yang membuat pipinya berbekas lipstick merah berbentuk bibir Stella.
“Iyalah, loe kan yang nyuruh bokap loe nerima gue.!” Kata Stella santai masih menyimpan tangan kanannya di pundak Veranda.
“Syukurlah kalo ayah suka sama kamu.” Senang Veranda menghelakan nafas gelisahnya.
“Ve....ihh loe baik banget sihh. Ya ampun, gue sayang banget sama loe.” Kembali Stella mendekap tubuh Veranda, erat.! Sangat erat.
“Jadi, masih nggak mau nemenin aku ke tempat ini ?” sindir Veranda melingkarkan tangannya di pinggang Stella.
“Haha, mau lah kalo kaya gini akhirnya.!” Kata Stella menjauhkan tubuhnya. Untuk kemudian memeluk lagi Veranda. “Ih Ve, sumpah gue seneng banget.!”
“Gimana kalo, loe gue traktir makan.!” Kata Stella kini benar-benar melepas pelukannya.
“Makan ?? uang darimana ??” sindir Veranda.
“Uang daariiiii...yah anggep aja itu uang gue dehh Ve..yah yaa.!”
“Iya deh iyaa..ini yang di pipi gimana ?” Kata Veranda menunjukkan pipinya pada Stella.
“Udah biarin aja, lucu tau.!” Stella tertawa ringkih pada Veranda yang memasang wajah kesalnya seraya mengusap-usap pipi bekas bibir Stella.


                Hari-hari berganti dengan semuanya yang sudah kembali normal, Sonia keadaannya mulai pulih dan sudah diperbolehkan berkegiatan, dan Stella yang sudah aktif bekerja di perusahaan Ayah Veranda. Veranda sendiri menjalani kehidupan dengan biasa saja, hanya saja Ayahnya kini sudah sering pulang dan mengurangi kegiatannya di luar, membuat Veranda tak lagi kesepian di istana megahnya, apa yang terjadi pada Ayah Veranda ? ntahlah, hanya dia dan Tuhan saja yang tau.
“Nih gue kembaliin atm sama kartu kredit loe.” Kata Stella menyerahkan kedua kartu yang selama ini menghidupinya. Veranda yang tengah memandang bebas pemandangan dari atas gedung tinggi perusahaan Ayahnya melirik Stella sekilas kemudian membuangnya kembali.
“Mmm, belum gue balikin semuanya sih, tapi gue janji bakal balikin kalo gue udah ada uang.” Kata Stella yang berpikiran kalau Veranda tak mau menerima jika uangnya tak kembali utuh.
“Pegang aja, buat kamu.” Kata Veranda  dengan senyum khas seraya membalikkan badannya, menyandarkan punggungnya di tembok pembatas yang tingginya tak lebih dari 1,5 meter.
“Tapi ini bukan hak gue, lagian kalo bokap loe tau kan, ntar jadi masalah.” Stella mengikuti gerakan Veranda.
“Aku nggak butuh itu Stell, lagian Ayah udah tau ko.”
“Tapi....”
“Kalo kamu masih anggep aku sahabat pegang aja. Anggep aja itu kartu biasa.” Kata Veranda. “Aku nggak butuh itu, aku ada di dekat kamu, Sonia sembuh, dan Ayah kembali kaya dulu, itu semua yang aku ingin, dan semua udah tercapai. Aku nggak butuh uang, yang aku butuh Cuma kalian.” Lanjutnya, merapikan rambut yang tertiup angin dan nyasar ke wajah mulusnya. Beberapa saat suasana jadi hening.
 “Hmm..makasih yah buat semuanya.” Senyum Stella, di balas Veranda.
“Makasih juga udah mau jadi sahabat aku.” Lanjut Stella meraih tangan Veranda, kemudian memasukkan jari-jarinya di sela-sela jari Veranda.
“Dan..makasih buat genggaman tangan kamu yang tak pernah kamu lepas.” Veranda masih tak merespon genggaman Stella, dia sibuk menatap heran Stella yang ntah sejak kapan menggunakan kata ‘aku kamu’ dalam kalimat-kalimatnya, selama dia mengenal Stella, Stella selalu menggunakan ‘gue loe’ sebagai pengantar, meski Veranda selalu menimpali dengan ‘aku kamu’. Senyum bahagia mengembang di bibir Veranda, kemudian membalas genggaman Stella.
                Ntah bagian buruk Veranda ada di mana, Stella tak pernah mengetahuinya, baginya Veranda adalah malaikat yang di turunkan dalam hidupnya untuk selalu mendampinginya, membuatnya kuat, menunjukan jalan dan memberinya terang di gelapnya dunianya. Kini semuanya usai, Sonia telah sembuh berkat bantuan Veranda, dan hubungan mereka pun membaik, Stella juga telah mendapat pekerjaan layak untuk kehidupannya, dan Veranda sudah bahagia dengan ayahnya yang kini semakin memperhatikannya, dan bahkan dia telah bahagia dengan........
“Vee..”  Stella menatap ragu Veranda.
“Yaa ?” Santai Veranda masih menikmati pemandangan dari atas gedung Ayahnya.
“Aku boleh nanya ?” Nada Stella berubah menjadi serius.
“Apa sih, orang tinggal nanya.”.
“Ray.” Singkatnya.
“Kamu kan belakangan lagi deket sama dia.” Lanjut Stella karena Veranda masih tak bergeming untuk menjawabnya.
“Stella, aku nggak pernah suka sama Ray. Selama ini dia deket sama aku Cuma tanya kenapa kamu menjauh dari dia.” Kata Veranda mengingat scene kedekatannya dengan Ray. “Dia buat kamu aja.....Lagian aku kan masih ada aturan anti cinta, kalau kamu kan udah grad, jadi boleh pacaran. Hehe”
“Ya ampun Ve itu dunia nyata, ini mah cerita buatannya cule doang. Haha.”
“Oh ya, berarti Ayah kamu sekarang udah balik kaya dulu nih.” Tanya Stella menatap senang Veranda, yang di tatap hanya mengangguk kecil dengan senyum yang melengkung tipis di bibirnya.
“Syukurlah, ternyata aku masih bakat ngerayu bapak-bapak.” Senyum Stella terkembang puas, membuat Veranda mengubah ekpresinya 180o dan menatap kaget pada sahabatnya yang masih senyum-senyum puas.
“Stellaaaaaaaaaa.!”

-End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar