sebelumnya, cerita ini hanya fiktif belaka ya ;)
kesamaan nama tokoh itu sekedar inspirasi penulis dalam menulis saja :)
happy reading :)
“Sorry, sorry, nggak sengaja...Nggak papa kan ?” Seorang laki-laki dengan kemeja yang lengannya ia tekuk separuh dengan rambut berantakan cool-nya menabrak perempuan berkacamata besar tanpa kaca.
kesamaan nama tokoh itu sekedar inspirasi penulis dalam menulis saja :)
happy reading :)
“Sorry, sorry, nggak sengaja...Nggak papa kan ?” Seorang laki-laki dengan kemeja yang lengannya ia tekuk separuh dengan rambut berantakan cool-nya menabrak perempuan berkacamata besar tanpa kaca.
“Hah ?? emm, ii....iya nggak papa.” Sang perempuan yang dipegang
kedua pundaknya oleh laki-laki itu tergagap menjawab pertanyaannya.
“Yaudah gue buru-buru. Sorry yahh.!” Ucapnya kemudian
meninggalkan perempuan yang sempat ia tatap dalam matanya. Perempuan itu
menatap kepergian laki-laki yang baru saja menabraknya, membuyarkan fokusnya,
dan membuat hatinya bergemuruh.!
“Ciyeeee. Ngeliatinnya biasa aja Stell.” Goda teman
perempuan tadi, berperawakan lebih tinggi 10 cm darinya.
“Apa sih Ve, biasa aja kali.!” Tutup Stella, mengalihkan
pandang dari punggung lelaki itu.
“Yakin ?? coba ulangin sambil tatap mata aku ?” Kata
perempuan yang Stella panggil ‘Ve’ itu.
“Apa sih, aneh-aneh aja.” Alih Stella kemudian mendahului
jalan Ve. Dia tau betul, ini adalah trik
Ve untuk mengetahui jujur atau tidaknya sahabatnya yang baru ia kenal
selama 1 tahun.
“Yes.!! Akhirnya sahabatku move on juga.!! Yess :D” Girang
Ve menyusul Stella.
“Veranda apa sih.! Biasa aja, nggak berasa tau nggak.!”
Stella masih berjalan di depan Veranda, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Ray cakep ko stell. Lagian siapa gitu yang nggak mau jadian
sama Ray.” Cerewet Veranda melirik-lirik Stella dari samping.
“Ray ?” Stella berhenti sejenak, mengarahkan tubuhnya
menghadap Veranda.
“Iya Ray.” Ulang Veranda.
“Cowo tadi namanya Ray ?” Stella memastikan, mengangguk-angguk
seperti berfikir.
“Ciyeeee :D mukanya biasa aja stell, tau deh yang lagi
berbunga-bunga.” Goda Veranda menelisik wajah Stella.
“Apa sih.” Ucap Stella membuang muka dan menjauh dari
Veranda, salah tingkah.
Dalam
hati Stella masih riuh teriakan teriakan kecil yang dia sendiri belum tau
darimana datangnya. Ini pertama kalinya setelah 2 tahun lalu ia memutuskan
hubungan dengan kekasihnya, hatinya berdebar ketika di tatap lelaki yang bahkan
belum ia kenal. Wajahnya sering ia lihat tapi sama sekali ia tak berminat untuk
mengenalnya. Seorang yang selalu memakai kemeja lengan panjang dengan lengannya
yang ia tekuk sampai siku, dipadu rambut rapi yang kadang terlihat berantakan
tapi membuat dirinya terlihat keren.
“Heh, Stel.!”
“Stella.! Stellaaaaaaaa....” Veranda berteriak di depan
wajah Stella.
“Verandaaaa, nggak usah teriak-teriak. Gue denger tau.”
Jawab Stella dengan wajah kesalnya. Otaknya telah kembali pada tubuhnya, sedari
tadi ntah kemana.
“Kamu denger, tapi nggak nyaut, yaudah aku teriak.” Veranda
memanyunkan bibirnya. Hening sesaat, Stella diam-diam memerhatikan perubahan
ekspresi Veranda.
“Yaudah, nggak usah ngambek gitu. Kenapa manggil-manggil ?”
ucapnya seraya membereskan buku yang hanya ia letakkan di meja tanpa ia sentuh
ketika dosen menerangkan di depan.
“Mau pulang nggak ?” Tanya Veranda yang sudah berdiri sedari
tadi di depan Stella.
“Iya, emang loe nggak ada kuliah lagi ?” Stella berdiri
mengikuti Veranda, kemudian mereka berjalan keluar kelas.
“Nggak ada.” Singkat Veranda, mereka menyusuri
koridor-koridor unniversitas mereka, melewati lapangan basket.
“Oh ya Stell, ntar malem kamu ada acara ?” Tanya Veranda,
karena tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Veranda menengok ke arah Stella
yang tengah fokus memerhatikan lapangan basket.
“Ste...” Ucapan Veranda terhenti ketika mendapat visualisasi
arah pandangan Stella.
“Hmm, kaya gini ini anak kalo lagi jatuh cinta.” Gumam
Veranda mengomentari tingkah sahabatnya, yang sudah berhenti berjalan dan
memandangi lapangan basket. Tepatnya orang-orang yang tengah beradu disana.
“Stell, Ray cakep ya ??” Tanya Veranda tepat di telinga
Stella. Dari alam bawah sadarnya, Stella mengangguk kecil.
“Jadi kamu suka nih sama Ray ?” Tanya Veranda lagi, Stella
tersadar kemudian menatap Veranda heran, malu, salah tingkah.
“Haha, Stella ya ampuunn..” Tawa Veranda meledak, seraya
berjalan mendahului Stella.
“Vee..” Baru sadar sebab dirinya ditertawakan sahabatnya,
Stella akhirnya mengejar Veranda yang telah menjauh darinya.
“Puas banget ya loe ketawanya.” Sindir Stella setelah bisa
menyamakan langkah Veranda.
“Lagian kamu fokus banget ngeliatinnya, sampe aku di
cuekin.” Kata Veranda masih dalam
pengaruh tawanya.
“Tadi tuh permainannya lagi seru banget. Iya seru banget.”
Alih Stella mencari alasan.
“Permainannya, atau pemainnya ?” Ulang Veranda.
“Ini anak ngeselin yah lama-lama.!” Protes Stella yang semakin
salah tingkah menghadapi celotehan Veranda.
“Iya iya.. Maaf.” Kata Veranda menahan tawa yang masih ingin
ia keluarkan.
“Jadi, ntar malem kamu ada acara nggak ?” Veranda mengulang
pertanyaannya yang tak sempat Stella dengar waktu di dekat lapangan basket.
“Emang mau ngapain ?” Stella nampak berpikir.
“Nggak sih, pengen jalan aja. Besok kan weekend. Sekalian
ajak Sonia gitu..” Jelas Veranda sambil terus berjalan menuju parkiran.
“Ntar malem aku harus kerja Ve, kalau kamu mau ngajak Sonia
pergi, yaudah ajak aja. Kasian di rumah sendiri.” Jawab Stella serius.
“Libur sehari doang gitu stell, nggak bisa ??” Usul Veranda
sedikit memaksa.
“Nggak bisa soalnya udah ada yang book..king” Stella
menggantungkan kata terakhirnya.
“Booking ?” kepo Veranda
“Hah..mmm, ii..iya booking. Kan gue kerja di cafe,
terus...terus ada yang booking cafe tempat kerja gue buat acara gitu, terus
karyawannya hari ini nggak boleh ada yang cuti.” Jelas Stella, Veranda
mengangguk paham.
“Yaudah, ntar aku ajak Sonia aja kali yah ?” Putus Veranda.
“Yaudah, ajak dia aja.”
Mereka
sudah sampai di parkiran, seperti biasa Stella juga ikut ke mobil Veranda,
nebeng lah bahasa kerennya. Veranda tak pernah keberatan dengan hal itu, toh
jalannya searah dengan Stella, lagi pula dia sudah terlalu dekat dengan Stella,
baginya Stella adalah sosok kakak yang selalu mengingatkannya tentang
impian-impiannya, yang selalu menyemangatinya, yang menjadi sandarannya, sosok
yang mengajari dia agar tak manja, dan untuk mengerti kehidupan sebenarnya.
Stella sendiri, dia menganggap Veranda lebih dari kata sahabat, menjadi
sandaran ketika lelah, pelampiasan cerita-cerita kesehariannya, dan Veranda lah
yang selalu datang dengan pelukan hangatnya dalam kesendiriannya.
***
“Loe ntar malem ada acara nggak ?” Sahut Stella pada orang
di sampingnya, bergaya rambut sama dan dengan wajah yang mungkin sengaja
disamakan, Sonia. Mereka berdua tengah bersantai di depan Televisi di ruang
tengah.
“Mmm..” Yang di ajak bicara berpikir sebentar, “Nggak ada,
emang kenapa ci ?” Dia mengalihkan pandangannya pada Stella.
“Nggak papa sih...” Stella kembali fokus pada televisinya.
“Kirain mau ngajak jalan-jalan adeknya..” Gerutu Sonia yang
dapat di dengar jelas oleh Stella.
“Bukan gue yang mau ngajak, tapi Veranda.” Jawab Stella
tanpa mengalihkan pandanganya.
“Kak Ve ? ngapain ?” Heran Sonia, menyandarkan tubuhnya di
sofa.
“Nggak tau..” Singkat
Stella mengganti-ganti channel TV.
“Emang ci stella nggak ikut ?” Sonia masih heran dengan
kalimat Stella, menghadapkan tubuhnya pada Stella.
“Gue kan harus kerja.” Tegas Stella mengingatkan, tapi
nadanya tak bersahabat.
“Kerja mulu, adeknya nggak pernah diajakin jalan.” Sindir
Sonia, membuat Stella menghentikan kegiatannya lalu memakukan pandangannya pada
adik satu-satu nya itu.
“Yaa kalo loe mau jalan tapi nggak bisa makan seminggu ya
nggak papa sih.” Jelas Stella tak langsung pada jawaban.
“Halahh, iya iya tauu.” Sonia menyudahi perbincangannya,
dengan melingkarkan tangannya di lengan Stella, kemudian menyandarkan tubuhnya
di tubuh Stella dan menyimpan kepalanya di bahu Stella. Memanja pada kakaknya,
yang jarang sekali ia lakukan. Dia memang manja, tapi sejak kecelakaan itu,
Sonia mulai membiasakan diri untuk tak manja lagi seperti sebelum-sebelumnya,
meski kekanakannya kadang muncul, tapi dia berhasil merubahnya sedikit demi
sedikit.
Stella diam diam memikirkan
kalimat adiknya, benar memang, sejak orang tuanya pergi Stella tak lagi bisa
bersenang-senang seperti dulu lagi, bahkan untuk pergi berdua dengan Sonia pun
dia tak sempat. Dia mulai bekerja sejak dia sadar tabungannya dan tabungan
orang tuanya mulai habis. Hati kecil Stella menginginkan dia melihat kembali
senyum bahagia Sonia yang dia sering lihat ketika masih sering berpergian
dengan orang tuanya, tapi profesinya menuntut dia untuk menyita waktunya
sendiri. ‘Kalau mamah papah masih ada pasti loe bisa seneng-seneng kaya
temen-temen loe yang lain yah Son.’ Batin Stella menerawang ke arah jendela.
‘Maafin gue, nggak bisa buat loe seneng, nggak pernah bisa ngajak loe
jalan-jalan kaya kakak lainnya.’ Lanjut Stella, menyandarkan kepalanya di
kepala Sonia. Sonia yang merasakannya perubahan posisi Stella, tersenyum kecil
‘Cistell emang nggak pernah ajak aku seneng-seneng di luar, tapi dengan ci
stell ada di samping aku kaya gini aja aku udah seneng banget.’
Scene seperti ini sudah jarang sekali terjadi sejak 1 tahun
lalu, Stella yang mulai sibuk dengan dirinya dan Sonia yang berusaha mencari
kebahagiaan di luar, membuat keduanya jarang sekali berada dalam posisi seperti
ini. Bukan menarik diri, hanya saja keadaan yang seakan membuat mereka jarang
bertemu. Tapi Stella yang masih memiliki tanggung jawab sebagai kakak, masih
dengan sabarnya mengurus Sonia, masih mau menyempatkan memasak untuk dirinya
dan Sonia, masih sempat mengkhawatirkan Sonia, meski dalam sikap yang berbeda
seperti yang dilakukan kakak beradik lain.
***
“Hay Kak.” Sapa Sonia membuka pintu rumahnya, yang di
depannya sudah ada Veranda yang berdiri di ambang pintu.
“Hayy.” Veranda memerhatikan penampilan Sonia. “Tumben rapi
banget Son. Eh ya Stella nya mana ?” Lanjut Veranda.
“Cistell, udah berangkat kerja. Iya kan aku mau pergi.”
Jawab Sonia.
“Hayooo, pergi sama siapa ?” Goda Veranda menatap jail Sonia
yang menatap Veranda bingung.
“Kata cistell, Kak ve ngajakin aku jalan.” Polos Sonia,
wajahnya benar-benar polos, membuatnya terlihat lucu.
“Nggak tuh.” Jawab Veranda membuang pandang, bergaya seperti
sedang berfikir.
“Lho kata ci stella......” Sonia terunduk malu.
“Haha, iya iya. Iya Kak Ve mau ngajak kamu jalan. Lucu
banget mukamu dek.” Veranda terkikih memandangi wajah Sonia, yang kini berubah
menjadi kesal.
“Ih, kak ve ngerjain aku yaaa, jahat.!” Kesal Sonia ngambek.
“Ko jahat ? jadi mau jalan nggak nih ?” Tanya Veranda
mengacak rambut Sonia.
“Jadiii” Jawab Sonia cepat. Tak ingin kehilangan kesempatan
lagi.
“Yaudah ayoo..” Veranda menggandeng tangan Sonia yang terasa
kecil di tangan Veranda. *tangan Veranda kepanjangan kali ya ?*
Veranda
tak begitu akrab dengan Sonia, tapi belakangan dia ingin mengakrabkan diri pada
Sonia, karena belakangan dia sering bertemu Sonia dan bercanda dengannya.
Biasanya sepulang kuliah, ketika dia mengantarkan Stella, dia beristirahat
sejenak di rumah Stella, kadang jika Sonia sudah pulang sekolah, dia ikut
nimbrung perbincangan Veranda dengan Stella. Awalnya Stella melarang, Veranda
pun merasa risih dengan Sonia, tapi pada akhirnya Sonia berhasil mendekati
Veranda, dan akhirnya mereka jadi dekat. Unik memang kedekatan mereka, bahkan
cara mereka berkenalan pun lain daripada yang lain.
Saat itu Stella masih saja
menangis di makam kedua orang tuanya, Veranda yang kebetulan sedang mengunjungi
makam ibunya, tak tega melihat orang yang pernah ia lihat, tapi tak pernah
mengenalnya menangisi makam kedua orang tuanya.
“Orang datang dan pergi, inilah kehidupan.” Kata Veranda
ikut berjongkok di samping Stella. Stella yang merasa kalimat itu ditujukan
untuk dirinya, menengok ke arah suara lembut itu.
“Dulu waktu mama aku meninggal, aku nangis berhari-hari.
Tapi hasilnya sama aja, mama nggak balik lagi.” Cerita Veranda menatap Nisan
makam yang ada dihadapan mereka, seperti tak memerdulikan Stella yang
menatapnya heran.
“Tapi, gue ditinggal kedua orang tua gue.” Stella menjawab
dan mengalihkan pandang ke nisan mamahnya kembali.
“Yaa berat memang, tapi kamu gak sendiri kan ??” Tanya
Veranda menatap wajah samping Stella.
“Gue ditinggal berdua sama adik gue.” Singkat Stella.
“Adik, maka adik kamu yang akan menguatkan kamu.” Veranda
sok tau. “Adik kamu pasti lebih kehilangan mereka, dia butuh sandaran juga,
kenapa kamu disini tanpa adik kamu ?” Veranda tak henti bertanya dengan Stella
yang masih cuek menghadapi Veranda.
“Aku tau, ini nggak semudah melupakan mantan kita, tapi
percayalah kamu tak sendirian, akan ada orang-orang baru yang akan datang, dan
adik kamu pasti membutuhkan kamu sebagai sandarannya.” Jelas Veranda, Stella mencerna kalimat
Veranda, dia sama sekali tak ingin menimpalinya hingga, suasana menjadi sangat
hening.
“Namaku Veranda.”
Dengan Senyum lembutnya Veranda memperkenalkan diri. Stella menengok,
menatap Veranda sebentar, binar ketulusan dari mata Veranda mampu mengukir
senyum di bibir Stella.
“Stella.” Sejak hari
itu, Veranda dan Stella jadi sering bertemu, dan mereka akhirnya sadar kalau
mereka benar-benar satu kampus, terlebih satu jurusan. Setelah itu mereka
memutuskan untuk mengambil jadwal yang sama untuk semester berikutnya, hingga
pada akhirnya mereka semakin dekat, dan percaya satu sama lain, saling
mengetahui cerita kehidupan mereka masing-masing. Sama-sama menjadi sandaran,
sama-sama saling menguatkan, dan sama-sama mengingatkan tentang mimpi-mimpi
mereka. Dan yang terpenting, mereka saling menggenggam untuk menjalani hidup
mereka yang tidak mudah.
Veranda,
dia anak dari keluarga sangat berkecukupan, tapi tidak lantas membuat hidupnya
sempurna, Ibunya meninggal sejak dia masih di bangku SMP, sejak saat itu pula
ayahnya jadi jarang ada di rumah, Ayahnya seorang direktur utama sebuah
perusahaan besar di Jakarta, dengan saham yang dia sebar dimana-mana, mungkin
karena itulah dia jadi terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Pernah Veranda
memprotes akan hal itu, tapi hanya dijawab ‘Ayah seperti ini untuk kamu dan
sekolah kamu.’ Kemudian Veranda hanya diam, meski dalam hati berteriak ‘Ayah,
ini semua sudah lebih dari cukup.’
Stella
sendiri, hidupnya jauh berbeda dengan Veranda. Dia seorang yatim piatu yang
ditinggal dengan adiknya. Orang tuanya mengalami kecelakaan besar yang langsung
menewaskan mereka seketika, dia hidup sendiri dengan adiknya menuntut Stella
mencari-cari pekerjaan untuk tetap bisa hidup, melanjutkan kuliah dan membiayai
adiknya sekolah.
“Ve, loe dimana ??” Stella menghubungi Veranda melalui
ponselnya.
“Aku lagi di jalan, ini macet banget.” Jawab Veranda dari
seberang.
“Buruan, gue sendirian.” Kata Stella dengan nada manjanya
berjalan menyusuri koridor di kampusnya.
“Iya iya..”
“Gue tunggu di perpus fakultas ya ?” kata Stella lagi seraya
berjalan menuju tempat yang di sebutkan.
“Iya.” jawab Veranda kemudian memutuskan sambungan.
Stella
telah sampai di Perpustakaan Fakultas, mencari-cari buku yang menjadi bahan
untuk tugasnya. Kemudian menuju meja untuk sekedar membacanya terlebih dahulu,
5 menit berjalan, 10 menit Veranda tak kunjung datang, hingga seseorang mengambil
tempat di samping Stella.
“Hay.” Sapa orang tadi pada Stella, basa basi sambil
melempar senyum. Stella hanya membalas senyum lalu mempersilahkan orang tadi
duduk.
“Loe yang kemaren gue tabrak ya ?” Orang tadi menelisik
wajah Stella.
“Hahh, emm. i..Iya, kemaren. Hehe.” Jawab Stella salah
tingkah tertunduk malu.
“Gue Ray.” Orang tadi mengenalkan dirinya dan menyodorkan
tangannya, mengajak Stella berjabat tangan.
“Stella.” Stella menyambut uluran tangan Ray, kemudian
keduanya sama-sama tersenyum, salah tingkah. Stella melanjutkan lagi kegiatan
membacanya tadi, tapi lebih tepatnya hanya mengarahkan matanya ke buku itu,
tanpa ada satu kata pun yang Stella baca, dia hanya menggingiti bibir bawahnya,
yang membentuk senyum penuh arti, hatinya riuh teriakan bahagia.
“Oh ya, loe ambil jurusan apa ?” Ray kembali bertanya pada Stella yang masih saja kegirangan.
“Desain Komunikasi Visual.” Singkatnya memberanikan diri
menatap Ray.
“Oh ya ya. Ko sendirian ? temen loe yang kemaren mana ?” Ray
sepertinya masih ingin berbincang dengan orang yang kemarin ia tabrak.
“Oh Veranda, iya dia masih di jalan ke sini.” Jawab Stella
seadanya.
“Oh namanya Veranda.” Ray mengangguk paham, ada helai
penasaran menyelimuti otak Stella, kenapa di saat seperti ini, Ray justru
menanyai tentang Veranda.
“Mmm, loe nggak ada kuliah emang ?” Stella mencoba
mencairkan suasana yang sempat mendingin gara-gara ‘Veranda’.
“Nggak. Sebenernya sih ada, tapi dosennya nggak masuk, Cuma
ngasih tugas doang.” Dan obrolan mereka pun berlanjut hingga tanpa Stella
sadari dia telah lama berada di perpustakaan itu, dan malah asik berbincang
dengan Ray membuat bunga di sekitar ruangan hatinya kembali hidup, dan mulai
merekah. Dia seperti membiarkan Ray menyirami bunga-bunga itu untuk tetap hidup
dan menjadi hiasan di hatinya, 2 tahun bunga itu tak di siram tak di pupuk dan
dibiarkan layu begitu saja, hingga sampai saat ini, Stella menemukan kembali
orang yang mungkin akan membuat bunga-bunga itu mekar.
“Hey Stell, sorry lama soal..nya.” Veranda yang baru datang
berucap dengan semangatnya namun menurun di akhir kalimatnya karena menyadari
keberadaan Ray. “Eh ada Ray, sorry sorry ganggu.” Ucap Veranda merasa tak enak
karena melihat mereka tengah asik berbincang.
“Nggak ko Ve, lagian ini gue juga udah mau pulang.” Kata Ray
seraya membereskan buku yang ia ambil di rak-rak tapi tak sempat ia baca. “Gue
tadi Cuma nemenin Stella nungguin loe ko. Yaudah gue duluan ya ?” Lanjut Ray
kemudian berlalu dari hadapan keduanya, Stella tertegun mendengar kalimat Ray
‘nemenin Stella nungguin lo’.
“Sorry stell, aku ganggu acara PDKT kamu ya ?? duhh sorry
yaa ? jangan marah dong.” Veranda yang ntah sejak kapan jadi cerewet di depan
Stella menempati kursi yang di duduki Ray.
“Hmm, lagian loe lama banget. Jadi gue keasikan ngobrol sama
Ray.” Kata Stella menyalahkan Veranda. Yang disalahkan justru mencerna kalimat
sahabatnya ‘Keasikan ngobrol.’ Dan sama sama sekali dia tak menampik kalimat
Veranda tentang ‘acara PDKT.’
“Kamu beneran lagi PDKT sama Ray stell ? Kamu serius suka
sama....” Belum selesai Veranda berucap, Stella lebih dulu membekap mulut
Veranda.
“Bawel.! Udah nih bukunya, tinggal loe cari yang kita
perluin buat tugas kita.” Stella menyerahkan buku yang tadi sempat ia baca
namun terhenti gara-gara ‘tukang bunga’.
“Kirain kamu udah nyari.” Kesal Veranda menerima buku yang
Stella serahkan dengan kasar. Beberapa menit suasana jadi hening, Veranda
sedang mencari bahan untuk tugasnya, Stella sibuk dengan Handphonennya.
“Anyway, kamu beneran naksir ya sama Ray ?” Tanya Veranda lirih
yang matanya ia pakukan pada tulisan-tulisan yang membuatnya jenuh. Stella
mengalihkan matanya dari handphonenya ke Veranda yang begitu santai mengucapkan
kalimat itu.
“Kenapa ngeliatinnya gitu ?” Kembali Veranda bertanya karena
ia tak kunjung mendapat jawaban dari Stella yang tengah menatap dirinya lekat.
“Apa Ray itu cowo baik ?” Tanya Stella tanpa menjawab salah
satu pertanyaan Veranda.
“Setau aku baik, dia populer di kampus ko. Terus juga
cewe-cewe sini pada naksir dia, tapi nggak ada satu pun yang nyangkol sama
Ray.” Jelas Veranda, Stella mengangguk angguk paham.
“Tapi, aku baru liat Ray ngobrol sama cewe kaya tadi sama
kamu.” Ucapan Veranda kali ini mampu mengukir senyum di bibir Stella, dan
matanya membayang-bayangkan yang akan terjadi.
“Kalo kamu mau dapetin dia, harus kerja keras Stell.” Kali
ini Veranda berbisik di telinga Stella, dia sudah dapat menyimpulkan jawaban
dari pertanyaan yang ia lemparkan pada Stella.
“Tau deh Ve, gue ngatur hidup gue yang berantakan aja susah.
Apalagi harus jaga perasaan dan hati orang lain.” Kata Stella mengungkapkan
keraguannya.
“Justru itu, orang lain itu yang akan buat hidup kamu rapi
lagi.”
Stella
tak menjawabi kalimat terakhir Veranda, Cerita dari sahabatnya mampu membuat
ilusi-ilusi tentang Ray di otak Stella, membayang-bayangkan dirinya dan Ray di
waktu yang akan datang. Sesaat dia menanyakan hatinya yang masih belum berhenti
bergemuruh, ‘Iyakah aku jatuh cinta pada Ray ? atau hanya emosi sesaat ?
benarkah debaran ini debaran cinta ?’ ‘Apa Ray bener-bener bisa bantu gue
rapiin hidup gue ?’ batin Stella yang tangannya sedari tadi ia pakai untuk
menopang dagunya, kini ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk meja dengan
jari-jarinya. ‘Terus apa Ray juga...’
“Stell, kamu malah nglamun. Ke kantin yu.” Kata Veranda yang
membuat Stella gagal meneruskan ilusinya.
“Hmm, Udah ketemu bahannya ?” Tanya Stella terusik, dan
masih ingin melanjutkan lamunannya.
“Udah, baru sebagian tapi. Nanti aku cari di buku-buku aku
di rumah, kayanya ada.” Jawab Veranda membereskan buku-buku yang diambil Stella
tapi menjadi tugas Veranda untuk membacanya.
“Yaudah. Tadi ngajak kemana ?” Tanya Stella merapikan
penampilannya.
“Makanya jangan nglamunin Ray mulu.!” Sindir Veranda sebelum
akhirnya berjalan keluar perpustakaan.
“Heh.!”
Hari berikutnya, Stella kembali
bertemu dengan Ray, semakin dekat, sengaja atau tidak tapi sekarang mereka jadi
lebih sering bertemu, kemudian berbincang sebentar bahkan lama, dengan atau
tanpa Veranda, yang jelas Veranda mendukung penuh kedekatan Stella dengan Ray. Bagaimana
tidak, selama Veranda mengenal Stella, dia berhasil mendobrak pintu sebuah
tempat Stella menyimpan rahasia-rahasianya, hingga Veranda mengetahui
cerita-cerita masa lalunya, termasuk tentang kisah cintanya. Kedekatan yang Stella
dan Ray perlihatkan membuat gadis-gadis kampus tak mampu lagi berharap bisa
dekat dengan Ray, si cowo populer dengan gaya cool-nya.
“Stella.!” Seorang berpostur tinggi lebih dari Stella
menghalangi langkah Stella ketika ia hendak menemui Veranda yang sudah
menunggunya sedari tadi di parkir mobil kampusnya.
“Iya.” Jawabnya santai, mengetahui orang yang memanggilnya,
kini posisi mereka saling berhadapan.
“Gue minta loe jauhin Ray.” Ucap orang tadi lebih dari kata
tanpa dosa.
“Maksud loe Shan ?” Stella masih belum mengerti ucapan
Shania, orang yang telah menghalangi jalannya.
“Gue minta loe nggak usah deket-deket lagi sama Ray. Paham ?”
Jelas Shania kali ini penuh penekanan.
“Apa urusan loe ?” Kadar emosi Stella meningkat, menatap
lekat orang yang matanya berada 10 centi di atasnya.
“Nggak ada sih..tapi...” Jawab Shania santai membuang
pandang dari mata tajam Stella.
“Yaudah gue nggak akan jauhin Ray.” Stella memotong kalimat
Shania, dan mengambil langkah untuk melewati Shania.
“ Yaa, loe tinggal pilih aja. Loe jauhin Ray, atau sahabat
loe akan tau siapa itu LIA.” Kalimat itu cepat Shania luncurkan ketika mereka dalam posisi
sejajar namun saling berbeda arah. Stella menghentikan langkahnya ketika
mendengar kata ‘LIA’, menelan ludahnya, terdiam belum bisa menjawab.
“Kenapa ?? loe tau dia kan ??” Shania berbalik menghadap
Stella yang menatapnya dengan seribu pertanyaan di benaknya.
“Gimana ???” Shania meminta jawaban Stella dengan senyum
kemenangannya. Tanpa Jawaban, dengan kesal Stella melangkah menjauh dari
Shania.
Stella
melangkahkan kakinya cepat, bukan marah, ntah apa yang bergemuruh di hatinya, pertanyaan-pertanyaan
muncul di benaknya, semakin bertambah seiring dengan langkahnya untuk menemui
Veranda ‘Darimana Shania tau Lia ?’ ‘Kenapa ?’ ‘Kenapa orang selicik Shania
bisa tau tentang Lia ?’ ‘Kenapa orang paling menyebalkan di kelasnya tau tentang
orang itu.’ Stella tak menjawab persetujuan yang Shania buat, bukan menolaknya
apalagi mengiyakan. Dia tau benar siapa yang mengancamnya, bagaimana
kelakuannya di kampus, bagaimana kelicikannya ketika berhadapan dengan orang
yang tak ia sukai. Shania.!!
“Stell, ko gitu mukanya ?” Veranda menyambut Stella yang
telah lama ia tunggu untuk pulang bersama.
“Nggak ko. Yu pulang.” Kata Stella mendahului masuk ke mobil
Veranda. Veranda ikut masuk ke dalam mobil dengan segala pertanyaannya tentang
perubahan air muka Stella yang berbeda drastis sejak 20 menit terakhir ia
melihat Stella.
Mobil
melaju, menjauh dari universitas swasta terpandang itu. Suasana menjadi dingin,
Stella masih diam dengan ekspresi yang tak karuan, sementara Veranda masih
menyimpan pertanyaannya, dia tau betul sahabatnya yang tak akan menjawab
pertanyaannya ketika dalam keadaan perasaan yang tak benar.
Stella
melirik Veranda sekilas. ‘Bagimana jika Veranda tau tentang Lia ?’ itu yang menjadi
bahan pikirannya, menahan mulutnya untuk bercerewet ria ketika dalam mobil
menuju rumahnya. Pikirannya bermain-main pada kejadian-kejadian yang mungkin
jika Shania membongkar semuanya pada Veranda. Menjauhi Ray pun, pasti akan
sulit untuknya, terlebih kejadianya bukan Stella yang berusaha mendekati Ray,
tapi Ray yang lebih sering mencuri-curi waktu untuk dekat dengan Stella.
Setibanya
di rumah Stella, dia hanya berterimakasih kemudian turun dari mobil Veranda
masih dengan ekspresi yang sama saat dia masuk mobil. Veranda yang biasanya
mampir di rumah Stella barang 10 menit, pun tak ada niatan untuk mampir, dia
memberi kesempatan Stella untuk menenangkan dirinya. Hanya sesaat sebelum
Stella keluar dari mobilnya dia sempatkan untuk memberi pesan ‘Kalau kamu mau
cerita, telefon aku aja ya.’ Kemudian Stella jawab dengan senyumannya, senyuman
ampuh yang katanya ingin ia gunakan untuk menaklukan dunia.
*Brakkk* Suara jatuhan tubuh Stella di kursi ruang tamu,
adiknya belum pulang dari sekolahnya, katanya ada tambahan pelajaran untuknya.
Menghela nafasnya, Stella menghela risau dari dalam hatinya. Hingga tanpa sadar
dia tertidur dalam duduknya.
17.15 .! Suara gaduh berhasil membuat Stella menarik diri
dari buaian alam relaksasinya.
“Hssshhh” *Bruuk* Stella menyipitkan matanya mengadaptasi cahaya
dari luar, dari dunia yang baru saja ia tinggalkan.
“Sonia.” Ucap Stella berhasil menangkap visualisasi adiknya
yang terduduk di kursi di hadapannya.
“Son, loe kenapa ?” Nada Stella berubah, melihat adiknya
yang pucat dengan keadaan wajah dan rambut yang sama-sama berantakan.
“Hsshhh, Kepala aku pusing ci.” Jawab Sonia, menutup
matanya, menahan sakit yang berputar-putar di kepalanya. Stella menghampiri
Sonia, menyentuh tubuh Sonia.
“Badan loe panas banget.” Tanya Stella menyentuh leher
adiknya dengan tangannya. Tanpa jawaban, Sonia masih menahan sakitnya
“Kita ke dokter ya.” Putus Stella setelah mengecek dan
melihat keadaan adiknya yang tidak wajar.
“Nggak usah ci....” Jawab Sonia berusaha menjawab kakaknya
yang terlanjur mengangkat tubuhnya dan memapahnya keluar rumah. Selama di
tinggal kedua orang tuanya ini pertama kali Sonia sakit separah ini, biasanya
hanya sekedar flu atau demam biasa yang dengan obat di apotik saja dia akan
sembuh, tapi untuk kali ini sepertinya tidak. Khawatir luar biasa, cemas,
ntahlah Stella benar-benar takut kalau-kalau ada yang salah dengan adiknya.
“Adik saya sakit apa dok ?” Tanya Stella pada dokter yang
telah memeriksa Sonia dan memintanya masuk ke dalam ruangannya.
“Saya belum dapat memfonis penyakit yang ada di tubuh adik
kamu. Tapi berdasarkan gejalanya, ada kemungkinan adik kamu terkena
Meningitis.” Jelas dokter dengan wibawanya.
“Meni....” Stella berusaha mengulang penyakit yang dokter
sebutkan.
“Radang selaput otak.” Dokter tersebut memperjelas bahasa
kedokteran yang tak mampu Stella cerna dengan baik.
“Untuk lebih jelasnya kamu bisa bawa adik kamu ke rumah
sakit dan di rawat inap.......” Kalimat dokter tidak lagi sampai di kepala
Stella. Sonia...radang selaput otak ?
kenapa penyakit berbahaya itu ada di tubuh Sonia sekarang. ? Sejak kapan ?
Bagaimana ? Apa penyebabnya ? darimana virus itu masuk ke tubuh Sonia ? Pertanyaan
itu berputar-putar di kepala Stella. Dia merasa gagal menjaga adiknya, dia tak
rela adik kesayangannya terserang virus mematikan itu. Kenapa harus Sonia,
kenapa harus dia yang menanggung.
“Ci, aku nggak papa kan ? aku udah boleh pulang kan ?” Sonia
yang menunggu di depan ruangan dokter bertanya dengan lemahnya, pusing dan
demamnya sudah membaik sejak dokter menyuntikan obat yang tak tau apa.
“Ci....” Lagi Sonia menegur kakaknya yang setelah keluar
dari ruangan dokter hanya duduk di samping Sonia tanpa sepatah kata pun.
“Kita pulang yahh.” Kata Stella tanpa menjawab pertanyaan
Sonia. Ya.! Stella membawa adiknya ke rumah, padahal di dalam tadi dia mengiyakan
apa yang dokter perintahkan, yang ada dalam otaknya adalah bagaimana
mendapatkan uang sebanyak itu untuk membawa Sonia ke rumah sakit dengan sakit
yang pasti akan membutuhkan dana banyak untuk pengobatannya, sedangkan hari ini
saja dia meninggalkan kerjanya untuk membawa Sonia ke sini.
*Tok tok tok* “Mbak Ve.”
Suara nyaring itu menggema di ruangan privasi Veranda.
“Iya Bi, masuk aja.” Jawab Ve sedikit berteriak dari
tempatnya.
“Makan malem dulu mbak.” Suara itu muncul berbarengan dengan
munculnya sosok ibu-ibu yang umurnya sangat jauh dari Veranda.
“Iya nanti bi, ini lagi nanggung.” Jawab Ve tanpa mengalihkan
pandangannya dari buku yang ada di hadapannya.
“Tapi mbak, Tuan sudah menunggu di meja makan.” Kata Ibu-ibu
itu yang belakangan di ketahui dia adalah pembantu rumah tangga di Istana
Veranda dan Ayahnya.
“Tuan ?? Ayah pulang bi ?” Tanya Veranda kali ini membuang
bukunya lalu berdiri dari kasurnya.
“Iya mbak, itu lagi nunggu di meja makan.” Veranda langsung
berlari menuju tempat yang di katakan.
“Ayyahhhhh.” Girang Veranda memeluk ayahnya dari belakang.
“Kamu...sudah selesai belajarnya ?” Tanya Ayah melepaskan
tangan Veranda kemudian membimbingnya untuk
duduk di kursi samping Ayahnya.
“Hehe. Udah yah, masa Ayah udah sempet-sempetin makan malam
di rumah, Veranda nggak sempetin sih.” Kata Veranda diiringi tawanya seraya
duduk di samping ayahnya.
“Gimana kuliah kamu ?” Tanya Ayah membuka perbincangan.
“Baik yah. Baik banget malah, hehe. Ayah mau makan apa, biar
Veranda ambilin.” Veranda dengan luwesnya, mengambil piring kemudian
menambahkan nasi di piring ayah.
“Apapun kalo yang ngambilin anak Ayah, pasti ayah makan.”
Senyum Ayah, senyum yang begitu Veranda rindukan.
“Ayah ini bisa aja.” Kata Veranda meletakkan piring yang
telah diisi nasi lengkap dengan lauknya di hadapan Ayahnya. Kemudian mengulang
hal yang sama di piring miliknya.
“Kerjaan Ayah gimana ?” Tanya Veranda setelah makanannya
tersaji di depannya.
“Kerjaan Ayah baik-baik aja. Kamu nggak perlu mikirin
kerjaan Ayah, yang penting kamu kuliah dulu yang bener.” Kata Ayah sebelum
menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“Veranda kan Cuma pengen perhatian ke Ayah paling hebat
sedunia. Hehe.” Canda Veranda yang terlihat sangat riang dengan Ayahnya. Senyum
di bibirnya tidak luntur sedari tadi, sejak pembantu di rumahnya mengatakan
‘Tuan sudah menunggu di meja makan.’ . Baginya melihat Ayah pulang di saat dia
belum terlelap adalah hal yang langka, pernah ia menunggu sampai Ayahnya pulang
tapi malam itu justru Ayah Veranda memutuskan untuk menginap di kantornya.
Sejak itu Veranda tidak menunggui Ayahnya, dia hanya berharap saat dia membuka
mata ayahnya belum berangkat dan sebelum menutup mata ayahnya sudah pulang,
ntah kapan harapan itu akan terkabul, tapi Veranda sangat yakin akan ada
saatnya dimana dia akan merasakan kebahagiaan itu lagi. Pasti.!
***
“Stell, aku seneng deh. Semalem Ayah aku pulang, terus makan
malem gitu.” cerita Veranda begitu sumringah ketika berjalan menuju kelas untuk
kuliah selanjutnya.
“.....”
“ Udah lama banget rasanya nggak makan malem sama ayah,
walaupun Cuma di rumah sih.” Lanjutnya, yang diajak bicara hanya diam mengikuti
langkah Veranda dengan tatapan kosong.
“Stell..” Veranda memanggil nama sahabatnya, yang sedari
tadi tak menanggapi bawelannya. “Aduh aku lupa. Maaf yaa, aku nggak maksud.
Kamu nggak marah kan ?” Veranda baru menyadari perubahan sikap sahabatnya, yang
sebenarnya sudah aneh dari kuliah pertama, sebelum Veranda menceritakan tentang
Ayahnya.
“......” Stella masih tak bergeming
“Stell....” Veranda menghentikan langkahnya kemudian
menyimpan kedua tangannya di pundak Stella, lalu menghadapkan tubuh Stella
padanya dengan kepala yang Stella tundukan.
“Sonia sakit.” Jawab Stella akhirnya menegakkan kepalanya
menatap sendu Veranda.
“Sakit, udah dibawa ke dokter ?” Tanya Veranda lega karena
penyebab Stella diam bukan dirinya, tapi sisi lain dari Veranda khawatir dengan
keadaan Sonia.
“Udah.” Stella menghela nafas kemudian menyingkirkan tangan
Veranda dari pundaknya lalu berjalan kembali menuju kelas yang dimaksud.
“Terus ?” Veranda mengikuti Stella yang melangkah tanpa
semangat.
“Dia kena radang selaput otak.” Jawab Stella ringan. Veranda
kembali menghentikan langkahnya, meraih pergelangan tangan Stella, membuat
tubuhnya berbalik.
“Kamu nggak lagi bercanda kan Stell ?” kecemasan Veranda naik
180 derajat.
“Gue nggak mungkin bercandain masalah seserius ini Ve.”
Jawab Stella melepaskan tangannya dari Veranda, kemudian melanjutkan jalannya.
“Tapi..... Terus sekarang Sonia gimana ?” lagi Veranda
berusaha menyamakan langkah dengan Stella.
“Kata dokter dia harus di rawat inap, tapi gue bawa dia
pulang.”
“Kenapa gitu ?” Protes Veranda.
“Ve, biaya rumah sakit dan operasi itu nggak murah.” Kata
Stella menjelaskan alasan dirinya membawa pulang Sonia.
“Kamu bisa pa...”
“Gue bisa cari uang sendiri Ve.”
Perbincangan
berhenti atas titik yang dibuat Stella. Kalimat terakhirnya membuat Veranda tak
bergerak dari tempatnya, sedangkan Stella telah berjalan cepat meninggalkan
Veranda. Itulah Stella yang tak pernah mau menerima bantuan dari sahabatnya,
dia hanya mengandalkan uang dari hasil kerjanya yang tak seberapa.
Kuliah
berlangsung, dengan pikiran Stella yang masih tak fokus dan Veranda pun jadi
ikut tak fokus. Ikut memikirkan Sonia yang belakangan sedang dekat dengannya,
yang belakangan ia anggap adik sendiri. Stella, masih sibuk dengan ‘darimana
gue dapet duit buat ngobatin Sonia’ sejak dia pulang dari dokter sampai saat
ini, masih sama. Dia belum memberi tau pada Sonia tentang ini, dia belum siap,
atau tak akan siap, atau apalah.
“Stell, ntar aku mampir di rumah kamu ya.” Kata Veranda di
dalam perjalanannya mengantar Stella ke rumahnya.
“Biasanya juga gitu kan.” Cuek Stella memainkan
handphonenya.
“Hehe, aku mau jengukin Sonia.” Kata Veranda membuat Stella
berpaling, menatap Stella dan menurunkan tangannya yang sedari tadi di hadapkan
ke wajahnya.
“Gue belum ngasih tau Sonia tentang penyakitnya.” Ucap
Stella kemudian membuang pandang keluar mobil.
“Maksudnya, Sonia nggak tau dia sakit apa ? gitu ?” Cerocos
Veranda, Stella mengangguk kecil.
“Kenapa ?” Veranda melambatkan laju mobilnya, membagi
fokusnya antara jalanan dan Stella.
“Ya..semalem gue Cuma mikirin keadaan Sonia. Dia tanya pun
gue nggak jawab, sekarang gue bingung harus ngomongnya gimana.”
“Lagi pula, kata dokter dia belum bisa memfonis kalo Sonia
beneran kena penyakit itu. Kalo emang mau lebih jelas ya gue harus bawa dia ke
rumah sakit dulu.” Jelasnya kali ini mau berbicara panjang lebar. Veranda diam
sebentar ketika mendengar kata ‘rumah sakit’.
“ Terus sekarang dia berangkat sekolah nggak ?” Tanya
Veranda setelah beberapa saat suasana jadi hening.
“Nggak, gue nggak bolehin dia masuk sekolah. Kayanya udah
biasa aja sih, tapi setau gue sakitnya itu bisa dateng kapan aja.”
“Yaudahlah terserah kamu, kamu tau yang terbaik buat adik
kamu.” Singkat Veranda, sebenarnya ia ingin kembali menawarkan bantuan untuk
biaya rumah sakit Sonia, tapi dia tahan. Menghindari perdebatan seperti tadi siang yang menumbuhkan atmosfer
dingin di keduanya.
“Hey. Udah sehat ?” Sapa Veranda pada Sonia yang tengah
berbaring di sofa panjang di depan televisi.
“Eh Kak Ve.” Sambutnya mengubah posisinya jadi duduk,
Veranda duduk di tempat yang bebas dari tubuh Sonia. Stella langsung menuju
kamarnya, tanpa menengok Sonia.
“Kamu udah sehat ?” Ulang Veranda memperhatikan wajah Sonia.
“Udah, aku udah baik. Baik banget malah, ci stellanya aja
yang lebay, nggak bolehin aku masuk sekolah segala.” Omelnya sengaja dikeraskan
nadanya.
“Heh gue denger ya.!” Teriak Stella dari kamarnya.
“Kamu udah baikan, tapi kalo tiba-tiba kamu drop lagi gimana
? mending istirahat dulu kan ?” Jelas Veranda dengan lembutnya.
“Yah Kak, tapi kan aku bosen di rumah sendirian. Lagian kalo
aku sekolah juga nggak akan cape-cape banget.”
“Tuh kan Ve, dia mah kalo dibilangin susah.” Stella muncul
ke ruang tengah, dengan pakaiannya yang sudah ia ganti dan rambutnya yang sudah
ia ikat sembarangan.
“Orang aku Cuma sakit kepala biasa ko, kenapa harus
banyak-banyak istirahat.” Kata Sonia kini membuat Veranda dan Stella bungkam,
keduanya saling bertukar pandang.
“Tau lah, gue mau masak.! Tuh Ve, bilangin dia biar mau
dengerin gue.” Stella kemudian beranjak menuju dapurnya. Veranda yang dititipi
pesan oleh Stella jadi tak tau harus bagaimana.
“Kak. Ko Kak Veranda tau kalo aku lagi sakit ?” Tanya Sonia
menyelidik dan duduk mendekat pada Veranda.
“Kan di kampus ci stella cerita kalo kamu sakit.” Jawab
Veranda enteng sambil memainkan ponsel pintarnya.
“Berarti Kak Ve tau aku sakit apa dong.” Cecar Sonia,
menatap Veranda ingin tau.
“Iya.” Jawab Veranda tak begitu fokus dengan pertanyaan
Sonia karena ada chat dari teman kampusnya yang cukup penting untuk ia jawab.
“Emang aku sakit apa kak ?” Tanya Sonia kini menyingkirkan
smartphone Veranda dari pandangannya. Veranda yang tersadar menatap Sonia ragu,
meneguk ludahnya kemudian menghela nafasnya.
“Kamu nggak papa ko.” Kata Veranda diikuti senyum yang ntah
asli atau tidak, kemudian kembali mengetikkan jawaban atas chat temannya.
“Kak, ini tentang aku, dan aku berhak tau tentang sakit yang
ada di tubuh aku.!” Tegas Sonia tapi masih dalam suara yang ia kecilkan.
Veranda menatap Sonia lagi, meyakinkan diri untuk menyampaikan apa yang tadi
Stella sampaikan di mobil.
“Kata Cistella, dokter belum bisa memfonis penyakit apa yang
ada di tubuh kamu.” Jawab Veranda membuat tanda tanya di atas kepala Sonia
muncul begitu saja.
“Tapi, berdasarkan gejalanya, kamu.....” Veranda
menggantungkan kalimatnya, dia takut, takut pada respon Sonia dan juga pada
Stella, karena dia telah melangkahi Stella untuk menyampaikan ini pada Sonia.
“Aku kenapa ka ?” Sonia menggenggam tangan kanan Veranda,
dia semakin penasaran dengan kalimat yang Veranda buat.
“Loe kena radang selaput otak.” Celetuk Stella yang
mendengar percakapan keduanya, lalu memunculkan diri setelah mendengar Veranda
akan mengatakan hal ini. Sonia melepaskan tangannya, menatap Stella tak
percaya.
“Radang selaput otak ?” Ulang Sonia, dia membuang
pandangannya. Menyandarkan tubuhnya di sofa, tatapannya kosong. Dia tak tau
betul tentang penyakit yang ada di tubuhnya itu, yang dia tau penyakit itu
berbahaya. Otaknya mulai bermain dengan bayangan-bayangan yang ia ciptakan
sendiri, tentang penyakit itu, tentang dirinya, dan bagaimana dia menjalani
hidupnya dengan penyakit yang membahayakan nyawanya. Dia sibuk dengan pertanyaannya
sendiri, apa dia akan sembuh ? atau justru dia akan mati ? apa yang bisa ia
lakukan agar ia akan tetap hidup, dan membuang penyakitnya itu, bagaimana cara
mengobatinya, dan darimana uang untuk dia menjalani pengobatannya. Dia bahkan
tak perduli dengan Veranda yang meluncurkan kalimat kalimat penenangnya untuk
menengkan dirinya, dia tak perduli dengan janji-janji Stella yang akan berusaha
mengobati dirinya dengan segala usahanya. Yang ia fikirkan hanya hidup dan
matinya. ‘Mah, Pah, Sonia takut.! Kenapa penyakit ini harus ada di tubuh
Sonia.’ Batinnya mengadu pada orang tuanya.
Waktu
terus berjalan, tanpa perduli siapapun yang menginginkannya untuk berhenti
barang sebentar saja, dia terus menyeret orang yang mau tak mau harus mengikuti
jalannya, membiarkan orang menjadi repot karena dirinya yang selalu egois. Pun
dia tak memerdulikan orang-orang yang akan berteriak untuk dia mempercepat
geraknya, menjadikan 24 jam seperti 60 menit. Tidak.! dia tidak akan pernah
perduli.! Dia hanya akan berjalan semaunya, tanpa pengaruh apapun.!
8 hari
berlalu semenjak Sonia mengetahui tentang kebenaran yang ada di tubuhnya. Dia
telah menerima apa yang Tuhan titipkan untuknya, dia juga masih semangat
menjalani hidupnya. Stella telah membawanya ke rumah sakit sesuai perintah
dokter, dan penyakit itu memang benar adanya, tapi Stella bersikukuh membawa
Sonia pulang ke rumah, dengan janji dia akan tetap melakukan pengobatan pada
Sonia, agar virusnya tidak terus berkembang. Untuk beberapa hari ini, Stella
seperti tak mengurus tentang dirinya, hanya sibuk bekerja dan merawat adiknya,
kuliahnya tetap berjalan, dan Veranda tetap ada di samping Stella dan
menggenggam tangannya untuk menghadapi masalahnya yang mulai dirasa sulit.
“Hay.” Seseorang
menepuk pundak Stella dari belakang.
“Oh, Hayy Ray.” Jawab Stella menyadari orang yang menepuk
pundaknya adalah Ray.
“Kenapa sekarang jarang keliatan ?” Tanya Ray mengikuti
langkah Stella.
“Jarang ? Emm, kamu aja kali yang terlalu mikirin aku.” Goda
Stella, yapp tepat.! Membuat Ray bungkam dengan tangannya ia simpan di
tengkuknya. Yah, Stella sekarang jadi lebih sering pulang cepat, dan jarang
memunculkan diri di depan Ray. Bukan, bukan karena Shania, justru ancaman itu seperti tertumpuk di urutan paling
bawah, membuatnya lupa tentang Shania dan ancamannya :)
“Oh ya, kamu ko tumben jam segini masih di kampus.” Alih Ray
berusaha menguasai perbincangan.
“Emm, iya tadi ada urusan dulu sama dosen.” Jawab Stella
santai. Ntah sejak kapan perbincangan keduanya menjadi ‘aku-kamu’, membuat mereka
terdengar sudah sangat dekat.
“Oh, terus ?” Tanya Ray, memancing Stella untuk berbicara
lebih banyak.
“Ya nggak terus-terus ntar nabrak dong.” Canda Stella
membuat senyum di bibir Ray terkembang, senyum menjadikan orang yang jatuh
cinta setiap kali melihat senyumnya.
“Maksudnya, terus kamu sekarang mau kemana ?”
“Mau pulang.” Jawab Stella singkat-singkat saja.
“Emm, sama dong.”
“Oh yaa ?”
“Aku anterin kamu pulang ya ?” Tawar Ray ragu.
“Nggak usah, tuh di depan masih ada angkutan umum ko.” Jawab
Stella santai, meski hatinya berteriak kegirangan. Sejak dia dekat dengan Ray
ini kali pertamanya Ray mengajaknya pulang bersama.
“Kamu naek angkutan umum ??” Heran Ray, tak percaya orang
seperti Stella mau menggunakan kendaraan panas itu.
“Yaiyalah, tapi lebih sering nebeng Veranda sih.” Cerita
Stella, mereka masih berjalan beriringan menyusuri koridor-koridor kampus.
“Yaudah karena sekarang Veranda udah pulang, mending aku
yang kamu tebengin.” Kata Ray mengulang tawarannya dengan kalimat yang berbeda.
“Hah ?”
“Udah ayoo ikut aja...” Stella yang ditarik tangannya oleh
Ray hanya senyum-senyum dari tempatnya, mengikuti langkah Ray. Inilah moment
yang Stella tunggu dengan Ray. Dia melupakan begitu saja Shania, yang
mengancamnya tentang seseorang yang bernama Lia yang sempat membuatnya
uring-uringan tak jelas. Baginya saat ini, dia bisa pulang dengan orang yang ia
cintai saja sudah cukup menenangkan hatinya yang beberapa hari ini berantakan.
“Kamu mau langsung aku bawa pulang ?” Tanya Ray di tengah
perjalanan mereka menggunakan motor gede milik Ray.
“Mmm. Iya langsung pulang aja.” Kata Stella dari belakang
Ray. Satu sisi Stella meminta untuk masih bisa bersama Ray dan menikmati waktu
yang mungkin tak bisa terulang lagi, tapi sisi lainnya memunculkan nama Sonia
di benaknya, membuatnya memutuskan untuk lebih memilih mengurus Sonia dan
mengesampingkan emosinya untuk bersama Ray.
“Makasih yah.” Ucap Stella sedetik setelah turun dari motor
Ray.
“Iya, sama-sama. Kapan-kapan, aku boleh anter kamu lagi ?”
Tanya Ray, Stella menaikan alisnya heran.
“Oh..emm. Yaudah, aku pulang dulu. Kamu masuk gih.” Lanjut
Ray salah tingkah menyadari ekspresi Stella.
“Iya, ati-ati yahh.” Sambut Stella kemudian memasuki halaman
rumahnya. ‘Lucu banget sih.’ Batinnya dengan senyum yang terkembang di bibirnya
dengan otaknya yang melayang-layang ntah kemana.
“Seneng banget, punya pacar baru.” Celetuk Sonia yang duduk
di ruang tamu, tepat di samping pintu rumah.
“Astaga Sonia.! Loe ngagetin gue aja.” Kata Stella yang
sukses dibuat kaget, karena otaknya yang belum kembali dari acara pikniknya
bersama Ray (?)
“Halah, makanya jalan jangan sambil ngelamun.” Kata Sonia,
Stella mengambil tempat di kursi lain yang berhadapan dengan kursi yang di
tempati Sonia.
“Siapa juga yang nglamun son.” Timpal Stella menyandarkan
tubuh lelahnya.
“Pacar baru ya ci ?” Tanya Sonia serius, menelisik wajah
Stella.
“Bukan.”
“Terus kenapa tadi senyum-senyum sendiri pas masuk rumah ?”
Tanya Sonia, Stella menatap Sonia lekat, ternyata Sonia memperhatikan
gerak-geriknya.
“Loe ngintipin gue ya ?” Stella menyimpulkan.
“Nggak ngintipin, Cuma tadi nggak sengaja liat aja.” Kata
Sonia enteng namun memang begitu kenyataannya, tadinya ia hanya berniat keluar
rumah untuk melihat siapa yang datang dengan suara motor yang tak pernah ia
dengar, tapi setelah tau orangnya, justru ia memutuskan diam di ambang pintu
dan memerhatikan mereka.
“Sama aja, kampret.! Udahlah gue mandi.!”
Pacar ?
iyakah, Stella akan menjadikan sosok Ray sebagai pacarnya.Iyakah Stella akan
membiarkan Ray mendobrak pintu hatinya yang lama ia kunci, Iyakah dia akan
menjalin hubungan dengan cowo populer di kampusnya, terlebih dia adalah mantan
Shania. ‘Shania.!’ Pikir Stella dalam kegiatannya mengeringkan rambutnnya di
depan cermin di kamarnya. ‘Kenapa gue bisa lupa sama dia, ah bukan. Sama
ancamannya.’ Lanjutnya, tangannya yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut
terhenti sesaat,
“Apa dia liat gue sama Ray pulang bareng ?” Ucapnya, memikirkan scene tadi siang.
“Apa dia liat gue sama Ray pulang bareng ?” Ucapnya, memikirkan scene tadi siang.
“Tau ah. Ngapain juga mikir gituan.” Tutupnya kemudian
melanjutkan acaranya mengeringkan rambutnya.
***
“Heh Kampret.” Sapa Shania yang lagi-lagi menghalangi jalan
Stella. “Gue udah bilang loe jauhin Ray, itu aja. Susah buat loe ?” Kali ini
tanpa basa basi Shania berkata di depan Stella yang baru saja keluar dari
Toilet.
“Apa nih ?” Belum sempat Stella menjawab, Veranda muncul
dari balik tubuhnya dan langsung menyambar Shania yang sedang melaukan aksinya.
“Nha kebetulan.!” Girang Shania melihat sosok Veranda yang
ternyata sedang bersama umpannya(Stella).
“Mau kamu apa ? Bilang aja, nggak usah maen kaya gini.”
Ungkap Veranda, ntah sejak kapan bibir tipisnya berani mengeluarkan nada-nada
tinggi. Stella yang menjadi korban di sini hanya berdiri diam menatap dua orang
yang tingginya sejajar sedang beradu, membela dan menjatuhkan dirinya.
“Bilangin sama sahabat loe ini, jauhin Ray. Gampang kan ?”
Kata Shania menunjuk ke arah Stella.
“Ray ?? kenapa sama Ray ? Kamu nggak berhak larang-larang
Stella buat deket sama Ray.” Veranda masih tak mau mengalah dari Shania yang ia
kenal liciknya. Meski selama ini ia tak pernah berurusan dengan gadis jangkung
itu.
“Verandaaa....kenapa sih loe belain terus sahabat loe yang
busuk ini.” Kata Shania menekankan kata ‘Sahabat’ dan ‘busuk’ dalam kalimatnya.
“Jaga mulut kamu Shania.”
“Ve udah, nggak usah dengerin dia.” Stella berusaha menarik
tubuh Veranda menjauh dari Shania. Tapi Veranda menahannya, dia masih ingin
meneruskan acara adu mulutnya dengan Shania yang sangat langka.
“Ve.! Loe yakin temen loe yang selalu loe bela ini,
bener-bener orang baik yang kaya loe pikir ?” Veranda tak langsung menjawab,
dia mencerna sebentar kata-kata Shania.
“Ve, udahlah masa loe ngeladenin orang kaya gini sih.”
Stella tau betul arah pembicaraan Shania, dia masih berusaha menarik tubuh
Veranda agar mau ikut dengannya dan menyudahi adu mulutnya dengan Shania,
mencegah adanya kalimat yang akan Shania kembali luncurkan.
“Apa urusan kamu, mau Stella baik atau tidak itu urusanku.”
Veranda masih membela sahabatnya, yang ia pikir benar, dan memang benar.!
“Bahkan jika sahabat loe itu seorang ......!”
“Shania.!!” Seru Stella menghentikan kalimat Shania. “Oke
gue turutin permintaan loe.! Gue bakal jauhin Ray.!” Tegas Stella kemudian
menarik Veranda yang kali ini tak lagi menahan tubuhnya.
“Loe liat aja, siapa yang akan menang Stel.” Kata Shania
memasang tatapan kosong namun tajam penuh emosi pada orang yang ia pikir telah
merebut Ray darinya. Sekedar info saja, Shania adalah mantan Ray. Dia sempat
memiliki Ray untuk beberapa bulan, yang kemudian Ray tau tentang Shania yang
menjadikannya bahan taruhan dengan teman-teman komplotannya, membuat Ray sangat
membenci dirinya, dan memutuskan hubungan secara sepihak. Sejak saat itu,
Shania selalu mengagalkan usaha siapa saja yang ingin dekat dengan Ray, dia
mendekati Ray memang karena taruhan, tapi cintanya tulus, tumbuh dari hati
kecilnya, yang sebenarnya menolak Ray untuk di jadikan bahan taruhan. Otaknya
memang licik, tapi urusan cinta dia tak pernah main-main, dia tipe sosok
pecinta yang setia, tulus, walau cara mendapatkannya salah. Shania, sudah
terkenal licik di kampusnya, kelakuannya terkadang masih membuatnya terlihat
seperti anak SMA yang nakal dan tak tau aturan, dia pikir apa yang dia mau
harus dia dapatkan, apapun caranya.!
***
‘Tuuutt....tuuuuttt....tuuutt..’ Suara sambungan ke nomor
Stella masih saja terdengar sama, Veranda masih menyimpan Handphonenya di
telinga kanannya, menunggu orang yang ia maksud menyahut atas panggilannya.
“Hmm, Stella kemana sih.” Keluh Veranda memutuskan
sambungannya, kemudian melempar Handphonennya ke tempat tidurnya.
“Sesibuk itu ya kerja Stella ? Sampai Stella nggak pernah
bisa aku hubungin kalo malem.” Lanjutnya.
“Eh tapi Stella kerja di cafe mana ya ? kenapa nggak pernah
ngomong sama aku.” Pikirnya lagi, kalau diingat-ingat memang Stella tak pernah
menjawab di cafe mana dia mencari nafkah untuk dirinya dan adiknya. Dia memang
tak secara langsung tidak menjawab, hanya mengalihkan setiap di singgung
tentang pekerjaannya.
“Shania..kenapa Stella.....ah kertas itu.!” Veranda teringat
sesuatu yang Shania berikan siang tadi di kampus sebelum ia pulang. Ia mencari
tasnya kemudian mencari kertas yang tadi hanya ia masukkan ke dalam tas tanpa
ia baca sehuruf pun.
“Zodiak, Jl. Pemuda no 67...” Veranda mengeja huruf yang di
tulis Shania di kertas itu.
“Alamat apa ?” Gumam Veranda.
Veranda
diam di atas kasurnya, menatap kertas tadi. apa ? untuk apa ? Veranda sendiri
tak tahu. Dia mengingat-ingat kalimat Shania ketika menyerahkan kertas itu.
“Mau apa lagi kamu ?”
Veranda yang di cegah Shania di parkiran akhirnya berucap setelah ia tak
kunjung mendapatkan suara dari tubuh yang tingginya nyaris sama dengannya
“Tenang, gue nggak
akan nyakitin loe. Gue Cuma mau ngasih ini ke loe.!” Kata Shania menarik tangan
kanan Veranda, kemudian meletakan sesuatu di atasnya.
“Apa ini ?” Heran
Veranda.
“Dateng kesana diatas
jam 10 malem, nggak perlu masuk, tunggu
diluar. Gue bakal kasih tau siapa orang selama ini loe bela.!” Jelas Shania
tanpa menatap orang yang tengah menatapnya penasaran.
“Gue nggak maksa ko,
gue Cuma mau bikin loe sadar siapa temen loe sebenernya.” Lanjut Shania,
Veranda semakin tak tau arah pembicaraan Shania. Hanya terus mencoba mencerna
apa saja kalimat yang di keluarkan orang yang tak begitu ia kenal.
“Terserah mau dateng
kapan, karena semuanya terjadi setiap hari.!” Tutup Shania kemudian
meninggalkan Veranda yang masih belum menangkap maksud Shania sebenarnya.
“Jam 10 ?” Veranda mengingat, kemudian melirik jam di meja
belajarnya.
“10.15, artinya aku udah bisa ke sana. Apa Shania ada di
sana ? Apa dia nunggu aku ?” Pikir Veranda.
“Ke sana nggak yaa ??” Ragu Veranda. “Ke sana deh.!”
Putusnya, “Tapi kan udah malem, masa iya gitu aku keluar sendiri jam segini.”
Dia kembali menarik keputusannya.
“Minta temenin Stella deh, kali aja udah pulang kerja.
Lagian udah malem juga.” Ide Veranda, kemudian mencari Handphone yang tadi ia
buang begitu saja, kemudian melakukan sambungan pada orang yang ia maksud. 5
detik, 10 detik, tidak ada jawaban. Hingga akhirnya Veranda memutuskan
sambungannya. Niat awalnya yang tidak menggubris Shania, akhirnya Veranda
menarik tubuhnya dari tempat tidur, meraih cardigan hitamnya dan kunci mobil,
kemudian meluncur ke garasi rumah dan melajukan mobilnya ke alamat yang Shania
beri.
“Stell, tolong jangan biarin aku percaya sama omongan
Shania.” Gumam Veranda dalam pikirannya yang bermain dengan kalimat-kalimat
Shania.
“Aku harap semua dugaan aku salah.” Kata Veranda lagi sambil
terus melajukan mobil miliknya.
“Zodiak.” Veranda mengeja papan nama gedung itu, ia telah
sampai di tempat yang ia atau lebih tepatnya Shania maksud.
“Ini kaya.....Club malam ?” Veranda mengamati gedung itu
dari tempatnya menghentikan mobil. Beberapa meter dari pintu masuk gedung itu.
Dia masih penasaran dengan tempat itu, mengamati setiap orang yang keluar masuk
dengan pasangannya, atau yang keluar
dengan keadaan mabuk, tapi mana Shania. Veranda mengecek.
“Hmm, Shania ngapain ngajak ketemuan di tempat kaya gini
sih.” Veranda menghempaskan tubuhnya pada jok mobil. Dia telah puas mengamati
gedung yang dapat ia simpulkan bahwa
tempat itu benar-benar club malam. Tapi matanya masih ia pakukan pada pintu
gedung itu, barang kali saja ia menemukan Shania.
“Ssss.....” Veranda tak dapat melanjutkan kalimatnya, hanya
menganga menatap orang yang keluar gedung itu, orang yang sangat ia kenal. Ntah
apa yang menguasai dirinya, hingga akhirnya dia mengeluarkan diri dari mobil.
Di
samping mobilnya, Veranda hanya mematung menatap Stella yang dalam keadaan ntah
sadar atau tidak, melangkah sempoyongan dan menggelayut manja di lengan laki-laki
yang sudah berumur. Hingga mereka masuk ke dalam mobil yang terpakir di depan
pintu masuk, mata Veranda menatap kosong mobil yang baru saja dimasuki
sahabatnya, otaknya bermain sendiri dengan scene-scene yang akan atau telah
dilakukan Stella. Kecewa.! Itu saja, tapi cukup membuat dada Veranda bergemuruh. Mobil itu perlahan memutar balik
dan melaju mengarah ke Veranda yang matanya masih mengikuti pergerakannya,
hingga mobil itu dan mobilnya dalam posisi sejajar, dan penumpang di dalamnya
dapat menangkap bayangan Veranda dari kaca jendela mobilnya, dan mata mereka
sempat bertabrakan satu sama lain.
“Ve....” Lirihnya, air mukanya yang sedari tadi menggoda
berubah seketika, kaget, heran, takut, melihat Veranda sekilas sedang
menatapnya kecewa, ‘Ve, kenapa dia bisa disana, kenapa...darimana dia tau ? apa
maksudnya ? Dia tau profesiku ? Dia...dia pasti marah..’ batinnya.
“Sayang, kenapa ?” laki-laki itu melingkarkan tangannya di
pinggang Stella. Tapi dia masih bungkam ‘Apa yang sedang dia lakukan ada di sana
? apa dia tau pekerjaanku ? kenapa ??’
“Heyy, aku telah membayar mahal untukmu malam ini..”
Laki-laki itu mencoba menyadarkan Stella, dan usahanya berhasil ketika kecupan
mengenai pundak Stella yang bebas dari pakaiannya.
“Hah, mmm kenapa om ?” Stella masih belum fokus dengan
pekerjaan yang sedang ia lakoni, di otaknya masih berputar-putar wajah Veranda
yang abstrak ketika memergokinya.
‘Stell, apa itu bener kamu ? walaupun gelap, tapi aku hafal
betul tubuhmu, gesturemu, walaupun dandananmu berbeda. Kenapa Stell, kamu
ngapain disana .......’ Veranda masih asik dengan fikirannya dengan tangannya
yang memegang kendali mobil dan mengarahkannya ntah kemana. ‘Ini yang selama
ini kamu tutupi, ini yang katamu bekerja untuk....sonia...’ kata terakhirnya
membawanya menuju rumah yang tak asing lagi baginya, rumah yang selalu jadi
tujuannya sepulang kuliah sebelum ia kembali ke rumah.
Dia telah berada di depan pintu rumah itu, hanya berdiri menatap
kosong papan yang menjadi penutup rumah ini
dengan bayangan-bayangan yang sedari tadi masih hinggap di otaknya.
‘stell kalau karena ini, tapi caramu salah.....apa stell ? kenapa ? kenapa
harus menyembunyikannya ?’ suara dari balik pintu menyadarkan Veranda, sedetik
kemudian pintu terbuka.
“Cistell udah pu...eh Kak Veranda.” Sambut Sonia polos
dengan wajah kantuknya dan piyama yang melekat pada tubuhnya.
“Kak Ve, ngapain malam-malam kesini ?” Veranda masih bungkam
dengan pertanyaan Sonia, menatap iba pada Sonia yang menatapnya dengan polos.
“Kak Ve nyari ci stella ya ? ci stella nya belum pulang, dia
masih kerja. Terus dia kalo pu...” Kalimat Sonia terhenti ketika tubuhnya
berada dalam dekapan Veranda, tanpa satu kata pun Veranda berucap, dia memeluk
erat tubuh mungil Sonia dengan matanya yang berkaca.
“Ka Ve, kenapa ?” polos Sonia tangannya dilingkarkan di
pinggang Veranda.
“Ka Ve berantem ya sama ci Stella.?” Tebak Sonia dalam
pelukan Veranda.
“Hah ?” Ve melepaskan pelukannya dan sedikit mengusap
matanya yang sempat basah. “ Nggak ko, Kakak nggak berantem sama Ci stella.”
Jawabnya diikuti senyum.
“Terus ?” Sonia mendahului duduk di kursi di depan rumahnya,
disamping pintu.
“Nggak papa. Oh ya ci Stella kerja dimana ?” Tanya Veranda
mengalihkan, mengikuti Sonia duduk.
“Nggak tau sih, pokoknya kalo pulang malem banget, kadang
sampe aku nggak sadar ci stella udah pulang, akunya udah tidur.” Jawabnya
jujur, Veranda memakukan pandangannya pada Sonia dengan otaknya yang tak
bekerja tanpa mendengarkan kalimat orang yang menurutnya menjadi alasan
sahabatnya seperti ini. “Kalo ditanya, ci stella bilang yang penting kita bisa
makan dan pengobatan aku lancar.” Lanjut Sonia.
“Kamu kalo butuh apa-apa bilang Kakak aja yang dek.” Seperti
tak menghiraukan kalimat Sonia, Veranda justru berucap diluar topik yang sedang
mereka bahas.
“Maksud Kak Ve ?” Sonia mengerutkan dahinya, masih belum
menemukan titik topik yang dimaksud Veranda.
“Yaa, kalau kamu butuh apa-apa bilang Kak Ve aja, kamu punya
nomer Kak Ve kan ?” Sonia mengangguk. “Nha kalau kamu kenapa-kenapa kamu bisa
telefon kakak aja, ci stella kan sahabat kakak jadi kamu boleh ko anggep kakak
sebagai kakak kamu juga.” Ve berucap ntah kemana alurnya, Sonia hanya
mengangguk, mencoba mengerti apa yang dikatakan Veranda.
“Eh itu, pasti ci stella.” Sonia mengalihkan pandangan ke
jalan raya, pada mobil yang berhenti di depan rumahnya.
“Mobil itu, pasti....” Lirih Ve menyadari mobil yang
berhenti adalah mobil yang tadi dia lihat.
“Karena ci Stella nya udah pulang, kakak pulang dulu ya.”
Veranda bersiap meninggalkan Sonia.
“Tapi Kak..”
“Oh ya, pokoknya kalau kamu butuh apa-apa telefon Kak Ve
aja, oke ??” Kata Veranda menutup perbincangannya dengan Sonia.
“Verandaa, ngapain ?” Stella yang sedari tadi memerhatikan
mobil Veranda dari kejauhan akhirnya kini dapat menemukan pemiliknya.
“Ini rumah kamu ?” Kata Laki-laki tadi yang ternyata
mengantarkan Stella pulang, katanya dia tak akan memaksa Stella ‘melakukannya’
kalau Stella memang sedang tidak mengingikannya.
“Iya om. Yaudah makasih yah om udah nganterin aku sampai
rumah.” Tutup Stella segera keluar, untuk mencegah Veranda yang nampak
terburu-buru keluar rumahnya.
“Ve.!” Stella menghalangi langkah Veranda, tanpa berucap
Veranda hanya mengambil jalan lain untuk melangkah, tapi berhasil di halang
Stella lagi.
“Ve dengerin gue dulu.!” Pinta Stella memegang kedua lengan
Veranda.
“Nggak usah sentuh gue.!” Bentak Ve yang ia tahan suaranya
agar Sonia yang masih di tempatnya tak mendengar. Stella yang dibentak tertegun
sebentar, sejak awal dia mengenal Veranda tak pernah sama sekali dia berbicara
dengan nada tinggi, apalagi membentak dirinya, ketika emosi pun Veranda tak
pernah marah-marah seperti yang dilakukan orang biasanya. Terlebih air muka
yang ditunjukkan Veranda, sangat jarang Stella lihat, kecewa, marah, dingin bahkan
terlihat abstrak.! Ketika Stella tersadar, mobil yang dikendarai Veranda sudah
menjauh dari rumahnya.
“Ka Ve kenapa ci ?” Sonia menyambut kakaknya yang memasang
wajah baik-baik saja di depan Sonia.
“Nggak papa ko. Yaudah ayo masuk.” Stella merangkul tubuh
Sonia. Membimbingnya masuk.
01.09
Stella telah berbaring di tempat tidurnya, berbalutkan selimut, tapi masih
belum bisa memejamkan matanya. Otaknya terpusat pada satu nama ‘Veranda’,
bagaimana besok ketika dia bertemu di kampus, akankah semua terlihat biasa
saja. Apa yang akan dilakukan Veranda setelah dia tau kebiasaan Stella di malam
hari yang selama ini dia tak tau, apa yang ada dalam pikiran Veranda sekarang,
apa yang harus dilakukan Stella, apa yang harus Stella katakan, bagaimana harus
menjelaskan, apa veranda akan menjaga privasinya itu, bagaimana jika semua tau.
Shania benar-benar melakukan apa yang ia katakan, dan Veranda telah mengetahui
siapa dirinya. Otak Stella terus bermain dengan pikirannya.
Tak beda jauh dengan Stella,
Veranda pun masih dalam keadaan yang sama, dia duduk di atas kasurnya dengan
novel di tangannya dan tatapan mengarah ke tulisan, tapi otaknya sama sekali
tak bekerja untuk membaca satu kata pun di novel itu. Stella.! Selama ini...begitu rapat Stella
menyembunyikan darinya. Dia, ntah perasaan apa yang ada di hatinya, kecewa,
ingin marah, tapi tak tau apa yang membuat dia marah, karena stella mengambil
pekerjaan itukah, atau karena dia tak pernah tau tentang stella yang
sebenarnya. Veranda tau betul dia tak bisa sepenuhnya menyalahkan Stella. Dia
yakin stella memiliki alasan yang kuat kenapa dia melakukan hal bodoh ini,
untuk mempertahankan hidupnya mungkin, atau pegobatan Sonia yang pasti tidak
murah. Tapi...tapi kenapa harus itu.!
***
Keesokan harinya, Veranda datang
lebih siang, Stella menunggu. Veranda biasanya selalu mengambil tempat
disebelah Stella, di barisan pertama, tapi kali ini dia hanya melewati Stella
dan mengambil tempat di barisan paling belakang, dengan wajah tanpa dosanya,
dan seakan tak menyadari keberadaan
Stella. Stella sendiri, langsung berdiri, niatnya ingin menghampiri Veranda
tapi belum sempat ia melakukan, dosen sudah terlanjur masuk. Perkualiahan hari
ini di mulai, Stella yang berada di barisan depan justru tak fokus dengan dosen
yang sedari tadi berbincang ke sana kemari, Veranda sendiri sedang berusah
memaksa otaknya untuk berpikir jernih dan mendengarkan apa yang dosen sedang
bicarakan.
“Oke, sampai di sini kuliah hari. Kalian boleh keluar.”
Tutup dosen seraya membereskan peralatannya, Veranda langsung meninggalkan
kelas, Stella yang menyadari segera mengambil langkah seribu untuk mengejar
Veranda.
“Veranda tunggu.” Seru Stella mengejar Veranda yang tak
kunjung menghentikan langkahnya.
“Ve.!” Pergelangan tangan Veranda berhasil Stella kunci.
Tapi tidak ada 3 detik, Veranda reflek menariknya.
“Maaf.” Kata Stella, Tanpa jawaban, Veranda melanjutkan
jalannya.
“Ve, biar gue jelasin.!” Veranda menghentikan langkahnya,
karena di hadang oleh Stella.
“Aku nggak butuh penjelasan kamu.” Kata Veranda kemudian
hendak berjalan lagi, tapi lagi-lagi Stella menghalanginya.
“Ve, gue nggak mau kaya gini yah. Gue mau semuanya jelas.”
Stella masih mencoba peruntungan untuk berbicara dengan Veranda, sebenarnya dia
tak tau bagaimana mengatasi Veranda kalau dia sedang marah padanya, karena ini
pertama kalinya dia marah sebesar ini.
“Oke, sekarang aku tanya sama kamu. Apa yang kamu lakuin di
dalem gedung itu ? ah nggak, apa yang kamu lakuin sama om-om yang semalem, atau
malem-malem lainnya” Veranda bertanya dengan nada dinginnya, nada yang yang tak
pernah ia lontarkan sebelumnya kepada siapapun.
“Gue...” Stella, ntah kenapa rasanya sulit sekali ia
mengatakan jawabannya.
“Stell, aku tau kamu ada di tempat itu udah dari orang lain,
jangan sampe aku tau pekerjaan kamu, dari orang lain juga.!” Tegas Veranda,
meminta jawaban yang sebenarnya sudah ia tebak sejak semalam. Stella diam,
ntahlah darimana dia akan menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya.
“Jawab Stell, jangan bikin aku percaya sama omongan shania,
kalau kamu ternyata busuk.” Pelan sekali suara Veranda, tapi masih mampu Stella
dengar jelas.
“Omongan Shania bener Ve.” Tidak ada 3 detik untuk Stella
mengatakan kalimat itu, dan cukup untuk Veranda membuat kesimpulan. Sepersekian
detik Veranda menatap sahabatnya kecewa.
“Berarti selama ini kamu bilang kamu kerja di cafe yang ntah
cafe mana, itu kamu bohongin aku ?” Veranda menyimpulkan. Stella mengangguk
pelan, membuat emosi Veranda meninggi.
“Tapi Ve...” Hendak Stella meraih tangan Veranda, dia telah
menariknya terlebih dahulu.
“Kasih aku waktu, sekedar buat nyari sisi baik dari kamu
yang mungkin masih ada, dan bisa buat aku ngakuin kalo kamu pernah jadi bagian
dari hidup aku.” Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut manis Veranda,
untuk sedetik kemudian dia berbalik badan berniat meninggalkan TKP.
“Ve, tolong jangan
lepasin genggaman loe, gue....gue buta tanpa genggaman loe Ve.” Ucapan Stella
membuat Veranda yang hendak melangkahkan kaki justru berdiam di tempatnya,
mencerna sebentar kalimat Stella kemudian mencari jawaban yang tepat.
“Bukannya, tanpa aku lepas genggaman tangan aku pun kamu
udah berjalan di luar jalur yang seharusnya, lalu apa gunanya aku stell ?” Skak.!
Veranda memberi titik di pembicaraan mereka, kemudian melangkah mantap
meninggalkan Stella.
“Ve.!” Seru Stella lagi pada Veranda yang telah berlalu dari
hadapannya. Berdiri terpaku menatap sahabatnya yang berjalan cepat menghindar
dari dirinya.
“Ehemm.” Shania yang sedari tadi memerhatikan kejadian itu,
kini menghampiri Stella dan berdiri di sampingnya. Stella sendiri tak merespon
kehadirannya.
“Gimana ? Sahabat loe udah tau yaa siapa itu stella
corneLIA.!” Ucap Shania menekan kata ‘Lia’. Sejurus Stella memindahkan tatapan
tajamnya ke arah Shania.
“Wooopss, serem.....” Shania memasang wajah takutnya yang
dibuat-buat. Stella tak bergeming menanggapi orang di hadapannya, hanya
memakukan tatapannya pada orang yang membuat Veranda mejauh darinya.
“Stella stella.” Shania memainkan rambut Stella,
merapikannya tapi melecehkan. “Makanya, jangan main-main sama Shania.”
Lanjutnya, tangannya berpindah ke kerah kemeja Stella. “Sekarang loe tau kan
akibatnya.!” Tegas Shania tepat di telinga Stella, kemudian mendorong Stella
hingga tubuh Stella mengenai tembok. Shania sudah puas melaukan aksi bully nya,
kemudian meninggalkan Stella yang terdiam di tempatnya. Stella bukan tak mampu
melawan, dia tau betul Shania, semakin dia melawan semakin Shania akan mencari
celah untuk menjatuhkan, darimana pun celah itu.
Di
jalan pulang menaiki angkutan umum, dia melamun, pikirannya berlarian
kemana-mana, ntah sudah berapa lama Stella tak menaiki angkutan umum, sejak dia
mengenal Veranda dia selalu diantar pulang oleh Veranda, selama itu pula tak
pernah terfikir sedikit pun di benak Stella, Veranda akan semarah ini padanya,
setaunya Veranda adalah sosok berhati malaikat. Stella memang menutupi hal ini
pada Veranda, awalnya dia hanya mencobanya dan akan bercerita pada Veranda
nanti, sampai akhirnya hanya dengan cara itu dia mendapatkan penghasilan, dan
semakin asik dengan profesinya, hingga akhirnya dia benar-benar menyembunyikannya
pada Veranda, dia takut Veranda akan kecewa, marah bahkan membencinya.
Melepaskan genggamannya dan pergi meninggalkan Stella. Veranda sendiri
percaya-percaya saja dengan kalimat Stella bahwa dia bekerja di cafe setiap
malam. Tapi, bangkai di tutup serapat apapun pasti akan tercium juga, terlebih
oleh orang terdekatnya.
“Darimana loe, jam segini baru pulang.” Tanya Stella tak
bersahabat pada adiknya yang baru melangkahkan kaki di pintu, Stella tengah
menunggunya di ruang tamu. Sonia melirik jam dinding di ruang tamu. 18.15.!
“Abis ngerjain tugas di rumah temen.” Jawab Sonia santai,
hendak menuju ke kamarnya.
“Lain kali ijin dulu kek.” Ucap Stella menghentikan langkah
Sonia.
“Aku kan tadi udah sms cistell.” Kata Sonia berbalik badan
menghadap Stella, yang sedang tidak dalam keadaan baik.
“Handphone gue lagi gue matiin.” Ucap Stella mudah, tanpa
salah.
“Yaudah, bukan salah aku dong.” Gampang Sonia, menyandarkan
tubuhnnya di tembok penghubung kamarnya ruang tamu dengan ruang tengah.
“Makan gih.” Stella mengalihkan.
“Udah makan tadi.” jawab Sonia seraya melangkahkan lagi
menuju kamarnya.
“Loe tuh gue udah masakin, malah makan diluar.” Emosi Stella
terpantik oleh ucapan adiknya, yang tidak terlalu menghiraukan dirinya.
“Iya.! nanti aku makan masakannya.!” Jawab Sonia sempat
menghentikan kembali langkahnya.
“Bukan masalah loe makan atau nggak makanan itu, loe
harusnya bisa .....”Stella meluncurkan kalimat-kalimatnya dengan nada
tingginya, membuat Sonia kembali ke ruang tamu.
“Yaudah, nggak usah marahin aku. Aku cape.!” Kata Sonia
kemudian melangkah kembali menuju kamarnya.
“Loe nya nggak mau nurut, loe tau nggak sih gue cape.” Tanpa
jawaban lagi Sonia masuk kamarnya, membanting pintu kamarnya hingga suaranya
membuat kalimat Stella terhenti. Emosi Stella meluap begitu saja, dia bukan
hanya lelah, tapi juga sedang ingin di mengerti, emosinya tak tau harus ia bawa
kemana tapi dengan polosnya Sonia menyerahkan diri -_- jadilah Sonia menjadi
pelampiasan Stella, yang sebenarnya tidak salah dalam pertengkaran yang dibuat
Stella. Dia tak tau harus bagaimana menghadapi Veranda, dia ingin marah, tapi
tak bisa, ingin menjelaskan, tapi Veranda tak mau, ingin bercerita tapi pada
siapa, ingin menyalahkan dirinya, tapi tak mungkin. Dia akhirnya hanya diam di
tempatnya, menyesal telah membentak adiknya, tak tau harus dia arahkan kemana
amarahnya, hanya bisa menangis dalam duduknya. Menit-menit berlalu, Stella
masih dalam posisinya, hingga seseorang datang mengetuk pintu rumahnya.
Dihapusnya air mata yang meleleh begitu saja di pipi, kemudian membukakan pintu
dan
“Vera..”
“Kak Ve.” Stella terpotong oleh Sonia yang keluar kamarnya
dan menyerobot keluar. Stella sempat bertatapan dengan Veranda, yang sedetik
kemudian Veranda mengalihkan tatapannya.
“Diluar aja yuk ka.” Kata Sonia menyeret Veranda, Stella
masih belum mengerti kejadian yang ada di hadapannya.
“Kamu kenapa telefon Kak Ve ?” Ucapan Veranda terdengar
jelas oleh Stella yang masih berdiri di balik pintu.
“Nggak papa bete aja sama ci Stella.” Cerita Sonia. ‘Tuh
anak ngaduan banget sih.!’ Kesal Stella mendengarkan perbincangan keduanya.
“Oh,,yaudah kita jalan-jalan aja yuk, ceritanya di mobil ya
?” Ajak Veranda.
“Yaudah aku ganti baju dulu ya kak.” Beberapa detik kemudian
Sonia lewat di depan Stella yang masih mematung di balik pintu.
“Ve, kenapa loe nurutin Sonia sih ?” Stella keluar dan
menemui Veranda yang terlihat biasa saja.
“Ve...” Stella memanggil nama Veranda untuk mendapatkan
jawaban.
“Ve gue ngomong sama loe.!” Dia berseru di depan Veranda, dan berhasil
membuat mata dingin Veranda menatapnya.
“Ada yang salah ?” Ucap Veranda santai menghadapi Stella
yang dipenuhi emosi.
“Kalo loe nurutin semua yang dia pengen, ntar dia jadi
manja.!” Stella menaikan nadanya.
“Kalo loe nggak sanggup ngurus Sonia, gue bisa ko.” Giliran
Ve menjawab pertanyaan Stella, berdiri dari tempatnya, hendak Stella berbicara
lagi, tapi Sonia sudah terlanjur selesai berganti pakaian, dan langsung
menggandeng Veranda menjauh dari Stella. Veranda menuruti saja yang dilakukan
Sonia, hingga akhirnya mereka telah berada dalam mobil dan Veranda mulai
melajukan mobilnya. Dia terdiam, mengingat air muka Stella yang terlihat
berantakan, dia tau betul bagaimana wajah sahabatnya ketika hatinya dalam
kondisi tidak baik, terlebih dirinya lah yang menjadi penyebab Stella
berantakan. Apa lagi dia sempat menatap mata Stella yang merah, dan bengkak. Ada
gurat sesal, tapi......salahkah jika dia melakukan ini, dia kecewa atas
kelakuan sahabatnya, dia kecewa karena dia tak bisa menjadi penolongnya,
diaa....
“Kak, ko bete gitu sih ?” Ucapan Sonia berhasil membuat
Veranda menarik kembali otaknya untuk berada di posisi yang sama dengan
tubuhnya.
“Hah ? emm, nggak ko dek.” Kata Veranda, Sonia masih menatap
heran Veranda, dia merasa tidak enak pada orang yang telah ia mintai tolong
untuk datang ke rumahnya dan melarikannya dari jeratan kakaknya yang mulai tak
bersahabat.
“Ohh ya, kamu kenapa ?” Veranda mengalihkan, masih tetap
fokus pada jalanan.
“Nggak papa sih, bete aja tadi dimarahin sama cistell.”
Cerita Sonia, mulai santai dengan Veranda.
“Berantem lagi ?” Tanya Veranda.
“Iya, tau tuh. Dia tiba-tiba marah-marah nggak jelas.” Kata
Sonia, Veranda kembali asik dengan pikirannya. Itulah Stella, ketika
perasaannya sedang berantakan maka yang terjadi adalah marah-marah tak jelas, emosi yang meletup-letup pada
siapa saja yang ada di hadapannya.
“Hehe, yaudah sekarang kita seneng-seneng aja.” Bujuk
Veranda, Sonia mengangguk kecil.
“Kata orang, ice cream itu bisa bikin hati kita tenang lho.”
Kata Veranda. “Gimana kalo sekarang kita beli ice cream ?” Usul Veranda, yang
disambut kegirangan Sonia. Veranda tersenyum kecil, membuat pipinya terangkat
lucu dengan tetap fokus ke jalanan, hingga mereka sampai di salah satu mall
kemudian mencari ice cream yang Veranda maksud.
“Ka, makasih yah udah mau ajak aku jalan.” Kata Sonia di
tengah kesibukannya menikmati ice cream yang dibelikan Veranda.
“Biasa aja dek, Ka Ve udah anggep kamu kaya adek Kak Ve
sendiri.” Jelas Veranda yang juga sedang menikmati ice creamnya dengan
kalemnya.
“Ya nggak Kak, masalahnya ci stell aja nggak pernah ngajak
aku jalan-jalan kaya gini.” Veranda terdiam sesaat mendengar jawaban Sonia,
menghentikan laju tangannya.
“Tapi, aku sayang banget sama cistell, aku bangga punya
kakak kaya dia. Dia rela bagi waktunya buat kuliah, ngurus aku, sama kerja
malem hari.” Kalimat terakhir Sonia membuat Veranda meneguk ludahnya. “Aku
salut sama cistell, biasanya cewek seumuran ci stell kan lagi pengen
seneng-seneng sama temen-temennya.” Veranda membuat bayangan-bayangan Stella
yang selalu menolak jika Veranda mengajaknya jalan-jalan kemudian berujung
nasehat untuk tidak menghamburkan uang yang dia miliki.
“Aku sering ngerasa aku jadi beban buat cistell, aku kasian
liat cistell pulang malem terus, wajahnya kecapean banget. Kadang aku juga
pengen bantu cistell, tapi....aku nggak bisa apa-apa, malah aku tambah
ngerepotin cistell.” Cerita Sonia, nadanya terdengar sudah sangat ingin
menceritakan semuanya, tapi ntah pada siapa. Veranda menyimak Sonia dengan
seksama, bak mendengar penjelasan dosen untuk mata kuliah yang sangat penting.
“Kadang juga cistell, marah-marah nggak jelas sama aku,
padahal aku nggak tau apa-apa. Aku sering ngambek, tapi nggak bisa lama-lama
ngambek sama cistell, aku kasian sama dia yang udah banting tulang buat aku.” Sonia
panjang lebar menceritakan tentang kakaknya, Veranda bermain sendiri dengan
bayangannya. Benar kata Sonia, Stella begitu hebat melakukan dan menutupi
semuanya, dia begitu kuat menjalani kehidupan keras ini, bahkan Veranda tak
pernah mendengar keluhan Stella tentang kehidupannya, apalagi tentang
profesinya itu. Stella benar-benar hebat.
“Maaf ya ka, aku jadi cerita-cerita gini sama kak Ve.”
Kalimat Sonia yang ini membuat Veranda tersadar. Dan mengulaskan senyum untuk
orang yang ada di hadapannya.
“Kenapa harus ngerasa nggak enak ? cerita aja semau kamu,
kalau itu bisa bikin kamu lega :) Kak Ve sama sekali nggak keberatan ko :)”
kata Veranda merangkul Sonia, dia tak menjawab, hanya menunduk dan meletakkan
ice creamnya di bangku sebelahnya.
“Dek..” Veranda yang menyadari perubahan pada Sonia, dia
menatap Sonia yang menyembunyikan wajahnya di balik uraian rambut panjangnya.
“Kamu kenapa ?” Cemas Veranda, Sonia perlahan mengangkat
kepalanya, memegangi tengkuknya yang terasa kaku untuknya.
“Nggak papa ko kak. Cuma kepala aku sakit banget.” Jawab
Sonia masih menahan sakitnya, pucat.
“Sakit kamu kambuh ya dek ? Kak Ve bawa ke rumah sakit ya ?”
Veranda benar-benar khawatir dengan keadaan Sonia.
“Nggak usah Kak, aku udah sering gini ko. Kita pulang aja
yahh, lagian udah malem juga.” Jawab Sonia yang mulai bisa menguasai dirinya.
“Yaudah, tapi kamu bener nggak papa kan ?” Veranda
memastikan, Sonia hanya tersenyum detik selanjutnya Veranda membantu Sonia
berdiri kemudian membantunya berjalan menuju mobilnya.
Hari berjalan
begitu saja. Sonia, tanpa Stella ketahui, penyakit itu kembali sering
menghantuinya, membuatnya sering asik di kamar dengan sakit di kepala dan
sekitaran lehernya. Ray, Stella melakukan apa yang Shania minta, dia
benar-benar menghindar dari Ray dan memutuskan hubungan dengannya. Veranda, hubungannya
dengan Stella semakin merenggang. Beberapa kali Stella meminta sedikit saja
waktu Veranda untuk mendengarkan penjelasannya, tapi sama sekali tak Veranda
gubris permintaannya, hingga bosan menggandrungi Stella, dan jengah untuk
terus-menerus berkata ‘Ve tolong beri waktu aku buat jelasin semuanya.’ . Di
kelas, tak lagi ada Veranda dan Stella yang duduk berjajar di barisan depan,
mereka saling memisahkan diri. Kini mereka berjalan masing-masing, tanpa ada lagi
genggaman itu, genggaman yang saling menguatkan.
***
“Hay Ve.!”
“Ray..hay.” Sambut Veranda pada orang yang menyapanya
kemudian menyamakan langkah kakinya.
“Sendirian ? Stella mana ?” Tanya Ray basa basi.
“Stella, mmm tadi sih dia keluar duluan, mungkin di kantin.”
Kata Veranda berlaga seperti tidak ada apa-apa dengan Stella dan dirinya.
“Oh ya, kenapa Stella belakangan berubah ya Ve.” Ray membuka
perbincangan, Veranda terdiam sebentar.
“Berubah gimana Ray ?”
“Ya..dia ngejauh dari gue, padahal awalnya fine-fine aja,
nggak ada yang salah.” Cerita Ray, mereka berdua akhirnya berhenti di salah
satu koridor yang telah di sediakan kursi untuk mahasiswanya.
“Loe kan deket sama dia, kali aja loe tau dia kenapa.”
Lanjut Ray, Veranda berpikir sebentar, mencari alasan yang pasti, ‘Stella
bukannya suka sama Ray, kenapa jauhin ? apa dia bener-bener nurutin Shania.’
“Ve, loe tau sesuatu ?” Tanya Ray yang memperhatikan
ekspresi Veranda yang berubah.
“Ahh, nggak ko. Setau aku sih Ray, dia nggak kenapa-kenapa,
nggak cerita apa-apa juga sama aku.” Kata Veranda, Ray nampak berfikir, masih
sibuk mencari alasan yang mungkin.
“Oh ya, ko kamu takut banget Stella ngejauh dari kamu.” Alih
Veranda, memasang wajah jailnya.
“Emang, kamu beneran suka sama Stella ya Ray ?” Goda Veranda, yang digoda hanya senyum-senyum
seraya memberantakan rambut bagian belakangnya.
“Haha, kamu kalo salting mukanya lucu juga ya.” Tawa Veranda
tak dapat tertahan melihat wajah orang dihadapannya yang memerah. Sedang asik
Veranda tertawa, orang yang sedang mereka bicarakan melintas di hadapan mereka.
Stella yang telah melihat keduanya dari jauh, hanya menatap Ray dan Veranda
bergantian. Mata Veranda dan Stella sempat saling mengunci, untuk kemudian
mereka buang. Veranda menghentikan tawanya, Ray yang menyadari keberadaan
Stella hendak mengejar namun ditahan Veranda.
“Nggak usah dikejar.” Saran Veranda.
“Tapi....”
“Percuma Ray, lagian dia juga lagi jauhin kamu kan ?” Ucapan
Veranda mampu membuat Ray diam dalam gelisahnya.
“Ray, Aku tau Stella. Dia anak yang baik. Dan aku tau kamu
suka sama dia, kalau kamu mau dapetin dia, kamu harus sabar. Dan kamu nggak
perlu takut dia jatuh ke tangan orang lain, karena dia juga suka kamu. Yang
penting kamu usaha, nanti aku bantuin cari tau kenapa Stella ngejauh dari kamu.”
Jelas Veranda panjang lebar, tapi benar-benar cukup membuat Ray tenang dan
setidaknya bisa tersenyum ringan.
“Jadi loe mau bantuin gue nih ?” Ray memastikan.
“Sebenernya sih bukan bantuin kamu, aku bantuin Stella biar
bisa dapet pacar lagi. Hehe.” Canda Veranda mengangkat kedua sudut bibirnya.
Langkahnya tak berarah, Stella
masih terus menyusuri jalanan tanpa memerhatikan kemana dia melangkah. Setelah
kejadian tadi, pikirannya tak ada lagi di tubuhnya, masih terus berlarian di
antara bayangan Ray dan Veranda. Ntahlah, tapi keduanya terlihat dekat di
mata Stella. Candaannya, ntah sedang
menertawai apa, tapi cukup membuat hati Stella memanas dan membawa dirinya
berjalan hingga sejauh ini. Stella tak habis pikir dengan apa yang tadi ia
lihat, dia tak tau betul bahkan sama sekali tak tau apa maksud Veranda dan Ray
terlihat dekat, apa tujuan Veranda
mendekati Ray, atau Ray mendekati Veranda, mana Veranda yang ia bilang
mendukung Stella dengan Ray, mengapa jadinya dia malah berduaan dan terlihat
sangat asik dengan Ray, memberi tahu keburukan Stella kah ??
Langit sore mulai memerah,
mentari mulai senja, membuat suasana menjadi teduh, tapi masih tidak untuk
Stella. Dia akhirnya memutuskan menyetop ojek, kemudian minta di antarkan ke
tempatnya mencari nafkah. Sampai di
sana, langit sudah menjadi gelap, namun masih belum waktunya gedung itu
beraktifitas dengan dentuman dan lampu-lampunya. Stella memasuki gedung itu,
masih sepi. Hanya ada beberapa teman sepekerjaannya, dan bartender yang nampak
masih santai dengan gelas-gelas yang tengah ia lap. Musik belum menggema di
ruangan ini, Stella duduk di kursi di depan meja bar, tanpa bersuara, dengan
hanya menggerakan jari tangannya sebagai kode kepada bartender untuk menyiapkan
1 botol minuman beserta gelasnya tak selang berapa lama pesanan sudah ada di
depan matanya.
“Lia, ini belum jam kamu tugas lho. Tumben udah sampe.” Kata
seseorang berperawakan tak lebih tinggi dari Stella, namun lebar badannya lebih
darinya dan dandanan yang menor menyapa Stella kemudian duduk di sebelahnya.
‘Lia’, Ya panggilan akrab Stella di lingkungan ini, katanya untuk menutupi
identitas aslinya, ntahlah.
Stella masih belum menjawab, dia asik menuangkan minuman
yang telah ia pesan ke dalam gelas lalu menenggaknya.
“Ada berapa tamu yang harus gue layani malem ini mih.” Tanya
Stella tak mengubris pertanyaan orang yang ia sebut ‘mamih’
“Malem ini banyak yang minta sama loe.” Jawab Mamih
menghirup benda panjang yang terbakar di bagian ujungnya. “terserah loe mau
ambil berapa.” Lanjutnya kemudian membuang asapnya ke udara. Stella, untuk
kesekian kalinya menenggak isi botol yang sudah ia tuangkan berkali-kali ke
gelasnya, matanya berarah ntah kemana, tatapannya kosong, namun tampak tengah
mengjangkau sesuatu di otaknya.
“Kalo loe lagi ada masalah, loe bisa libur buat hari ini.”
Kata mamih setelah beberapa saat memerhatikan anak buah kesayangannya. Stella
masih tak bergeming untuk menimpali bosnya, malah menuangkan lagi minuman itu,
dan hendak menenggaknya lagi.
“Anak muda gabagus minum banyak-banyak.” Cegah mamih yang
tangannya ia gunakan untuk menyetop gerak tangan Stella yang tengah
mengantarkan gelas ke bibirnya. Stella menatap pemilik tangan yang kini
mengunci pergelangan tangannya. Bukan marah, hanya heran atas perlakuan orang
tersebut.
“Gue tau loe jarang minum. Gausah banyak-banyak.” Lanjutnya
dalam tatapan Stella, ucapannya berhasil menurunkan tangan Stella dan meletakan
gelas tadi di meja.
“Badan loe emang udah terjamah sama laki-laki manapun, tapi
jangan biarin organ tubuh loe ikutan rusak gara-gara minuman itu.” Kata mamih
sebelum akhirnya dia meninggalkan Stella dalam diamnya. Kalimatnya, membuat
Stella memandangi botol yang ¾ isinya sudah berpindah di tubuhnya.
“Badan gue emang udah kotor.” Katanya, memainkan jarinya di
tepian gelas bekas dirinya. “Dan hidup gue udah berantakan.” “Ve...ternyata loe
salah, Ray bukan bantu gue rapiin hidup gue, tapi justru bikin gue tambah
ancur.” Lanjut Stella, sudah berada dalam pengaruh minuman itu mungkin.
Sonia,
dia tengah memaksa dirinya untuk melanjutkan tugas sekolah. Sakit kepalanya
sudah meminta untuk mengistirahatkan tubuhnya, tapi tugas itu membuat Sonia mengesampingkan
sakitnya. Namun ntahlah, sepertinya sakit itu tak mau mengalah, hingga dengan
pejaman matanya Sonia mencoba membereskan buku-bukunya, lalu berusaha mencari
obat, meminumnya dengan satu gelas air putih yang sudah dia siapkan, kemudian berjalan
menuju ranjangnya, berbaring kemudian menarik selimut, memejamkan mata, menahan
sakit yang menekan kepalanya, hingga berapa lama akhirnya ia tertidur.
Stella
setelah beberapa saat termenung dengan minuman yang tak ia habiskan, dan
mencoba meraih kesadarannya kembali, akhirnya ia pulang. Pukul sembilan lebih
sedikit Stella sampai di rumahnya, masuk dan ntah kenapa ia ingin sekali
bertemu Sonia, ia cari dan ia temukan sudah dalam keadaan tertidur pulas.
Stella duduk di tepi ranjang Sonia, menatap wajah adiknya yang begitu polos di
matanya, kemudian mencium keningnya.
“Gue nggak tau gimana reaksi loe, kalau loe tau gue
sebenernya.” Lirih Stella dalam tatapannya pada sang adik. “Maafin gue, gue
nggak pernah jujur sama loe.” Sesal Stella.
“Gue terlalu sayang sama loe, gue takut loe marah, dan gue
bakal kehilangan loe, kaya gue kehilangan Veranda. Gue takut Son.” Pandangan
Stella mulai buram, linangan air membuat matanya tak dapat menatap dengan jelas
wajah Sonia.
“Kehilangan satu genggaman pun gue pincang Son, gue buta,
dan gue nggak tau harus gimana.” Air itu telah mengalir di aliran yang ia buat
sendiri di sekitaran wajah halus gadis yang merasakan sesak di dadanya. Stella
membekap mulutnya, menahan isakan dari tangisnya yang ia takut akan menganggu
tidur Sonia. Malam ini,ntah mengapa, Stella begitu merasa bersalah pada
adiknya, aliran air dari matanya semakin deras, rongga dadanya semakin sesak,
membuatnya menarik diri dari kamar Sonia. Stella menyandarkan tubuh di depan
pintu kamar Sonia, tangisnya sudah tak bisa ia tahan, dan kini dengan bebas
isakannya mengudara begitu saja.
‘Mah, Pah. Stella tau ini salah, Stella tau ini kotor, ini
nggak pantas, ini hina.! Kalian pasti kecewa, tapi tubuh Stella terlanjur sudah
di jamah pria-pria itu. Maafin Stella mah, pah.’ Batin Stella dalam tangisnya.
‘Mah, Sonia sakit. Stella nggak tau harus gimana, Stella takut Sonia pergi,
Stella takut sendirian, Stella takut semua orang bakal ninggalin Stella.’
Rapuh.!
Mungkin gambaran yang tepat untuk Stella saat ini, tak ada lagi pegangan untuk
berjalan, tak ada lagi penerang di gelap kehidupannya. Semuanya membludak, air
mata derasnya sama sekali tak sepadan dengan sesak di dadanya, tak sepadan
dengan beban di otaknya, dan tak sepadan dengan sakit di hatinya. Hancur, down,
lemah, putus asa, ntah kata apalagi yang pantas untuk Stella yang masih
menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.
“Hahhh.” Keluh Veranda menyibakkan selimut yang sedari tadi
menutupi dirinya, usahanya untuk mengistirahatnya tubuhnya gagal. Memejamkan
mata ia bisa, tapi untuk meraih nyaman dan rileksnya sangat sulit, dia masih
saja gelisah dengan scene siang tadi. Veranda akhirnya menarik diri menuju meja
belajarnya, duduk di kursinya, kemudian melirik sebuah bingkai foto
bergambarkan dirinya dan Stella.
“Stell, apa kamu marah sama aku ?” gumam Ve dengan mata yang
ia arahkan pada bingkai tadi yang sudah ada di tangannya.
“Aku emang kecewa sama kamu, tapi aku sama sekali nggak mau
kamu marah gara-gara kejadian tadi siang.” Lanjutnya menggambarkan scene tadi
siang di otaknya. Veranda, sangat merasa bersalah dengan Stella, yang pasti
berfikiran ada apa-apa antara Ve dengan Ray.
“Kamu apa kabar ? Hmm, aku salah ya ternyata... aku bilang
nggak mau ketemu kamu, tapi aku sendiri malah kangen kamu. Tapi...ntah kenapa
setiap aku liat kamu, gambaran-gambaran kamu di tempat itu muncul begitu aja,
sampe buat aku nggak mau deket-deket kamu.”
“Aku tau, aku egois, aku salah, dan pasti aku bikin kamu
kepikiran.” Sesal Veranda, bergejolak antara rindu, menyesal, dan kecewa.
“Stella, aku tau kamu kuat, kamu itu tegar, kamu harus bisa
ngelewatin ini, bahkan tanpa genggaman aku sekalipun. Kamu pasti bisa.”
“Aku tau kamu kaya gini karena terpaksa, tapi....tapi tetep
aja aku nggak suka cara kamu.”
Ntah,
cemistri macam apa yang ada di antara mereka, tapi Veranda merasa betul hatinya
gelisah, meski ia tak tau apa sebenernya yang menjadikan ia gelisah, namun
otaknya terpusat pada satu nama ‘Stella’. sedangkan Stella, dia tak bermaksud
mengirimkan sinyal ke-putus-asa-annya, tapi getaran itu sampai pada Veranda
ketika dalam tangisnya ia berkata ‘Veranda, gue butuh loe.’
***
Malam
lainnya, ntah ada badai darimana, Ayah Veranda terlihat tengah menghamburkan
waktu luangnya di ruang tengah dengan koran dan segelas kopi yang ia minta
untuk dibuatkan Veranda. Dan Veranda pun sama sekali tak keberatan dengan itu,
dia justru sangat senang bisa melakukan hal kecil itu untuk Ayahnya.
“Yah...” Veranda akhirnya bersuara.
“Hmm, kenapa sayang ?” Jawab Ayah lembut pada putri
tunggalnya.
“Mmm, di kantor Ayah ada lowongan pekerjaan ?” Tanya
Veranda, akhirnya bisa juga meluncurkan kalimat yang sedari tadi mengganjal di
lidahnya. Kalimat Veranda kali ini membuat Ayah mengalihkan pandangannya dari
koran tadi.
“Kamu mau kerja ?” Tanyanya menatap putrinya heran.
“Bukan Veranda yah, tapi temen.” Kata Veranda ragu-ragu.
“Stella ?”
“Iya Yah, dia.....dia di keluarin dari tempat kerjanya yang
lama gara-gara...gara-gara dia mentingin kuliah daripada kerja.” Dusta Veranda,
mungkin ini pertama kalinya dia bohong pada Ayahnya.
“.....”
“Nggak ada ya Yah ?” Tebak Veranda melihat ekspresi Ayahnya
yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Ya kalo nggak ada ya udah sih.” Tutup Veranda, sebenarnya
ia masih ragu untuk menanyaka hal ini pada Ayahnya, hatinya saja masih
bergejolak untuk bisa kembali dekat dengan Stella, tapi ntahlah satu sisi dari
dirinya berkata dialah yang bisa menolong Stella dari gelap hidupnya. Setelah
itu, tanpa jawaban lagi dari Ayahnya Veranda akhirnya masuk kamar dan kembali
sibuk dengan pikirannya. ‘Kenapa juga aku mikirin Stella, dia juga udah
bohongin aku.’ Batin Veranda membaringkan bebas tubuhnya di kasur. ‘Tapi kan
gimana pun dia sahabat aku. Harusnya aku nolong dia....Tapi kalo dia anggep aku
sahabat dia ng...’ Suara Ponsel Veranda membuyarkan ilusinya, dan segera meraih
benda bersuara nyaring itu.
“Halo...” Sapa Veranda menyimpan Handphonennya di telinga
kanannya.
“Kak aku.....” Suara Sonia dari seberang tak begitu Veranda
dengar jelas di telinganya.
“Dek kamu kenapa.” Ucap Veranda khawatir, dia membuang novel
yang sedari tadi asik dia baca.
“Aaa....”
“Haloo, dek...kamu nggak papa kan ??”
“....” Hanya suara berisik saja yang sampai di telinga
Veranda melalui phone pintarnya.
“Dek..Kamu dimana ? biar Kak Ve ke sana sekarang.”
“Aku di rumah Kak. Hssss ” Jawab Sonia mengaduh sakit,
penyakit itu datang lagi.! Kali ini benar-benar dahsyat menyerang Sonia, hingga
dia yang biasanya mampu mengatasi sakitnya sendiri, kali ini menyerah dan
menghubungi Veranda, dia yang awalnya menelpon Stella akhirnya memutuskan
sambungan kemudian mengganti sambungan ke Veranda.
“Yaudah Kak Ve kesana sekarang. Kamu tungguin Kak Ve ya.!”
Veranda memutuskan sambungan, kemudian meraih tas dan kunci mobil yang dia
letakkan di meja belajarnya, langsung berjalan cepat, seperti tak mau waktu
berlalu lebih cepat dari gerakannya. Dia begitu mengkhawatirkan Sonia yang
suaranya begitu lemah sampai di telinganya.
“Kamu kuat dek, tunggu Kak Ve.” Batin Veranda sambil memacu
mobilnya untuk cepat sampai di rumah Sonia, fokus namun fikiran kemana-kemana,
menebak-nebak apa yang sedang terjadi.
*Brakk* Veranda membuka kasar pintu rumah Sonia yang tak di
kunci, dia langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Mencari keberadaan
Sonia dengan sangat amat tidak tenang.
“Dek..” Veranda
sampai di kamar Sonia. Melihat keadaan Sonia yang melemah, pucat.
“Kamu....” Veranda mendekat pada Sonia, dia begitu ketakutan
melihat kondisi Sonia,
“Kepala aku sakit banget kak.” Jawab Sonia, dilanjutkan
dengan acara kejang-kejangnya, yang membuat Veranda semakin panik.
“Ki..kita ke rumah sakit sekarang yaa..” Dia membangunkan
Sonia dari ranjangnya, kemudian memapahnya menuju mobil. Dengan susah payah dia
membawa Sonia, memasukkannya ke mobil, kemudian langsung menancap gas menuju
rumah sakit terdekat.
“Dek, bertahan..! Jangan bikin Kak Ve takut.” Kata Veranda
fokus ke jalanan, sesekali menengok ke arah Sonia yang tubuhnya tak mau diam,
dia masih saja sibuk dengan kejang-kejangnya. Sempat terfikir di benak Veranda
untuk menghubungi Stella, tapi kepanikkannya pada Sonia membuat dia tak
menghiraukan pikiran itu, yang terpenting adalah Sonia cepat sampai di Rumah
sakit dan segera di tangani dokter.
“Dek.!” Seru Veranda ketika ntah keberapakalinya dia
menengok namun tubuh Sonia tak bergerak lagi, dia tak lagi kejang-kejang, namun
dia tak merespon seruan Veranda. Pingsan.!
Veranda semakin cepat memacu mobilnya, berharap akan cepat sampai di
Rumah sakit. Kepanikan yang dari tadi membuat kabut di otak Veranda meningkat
86%.
“Dokter lakukan yang terbaik buat adik saya.!” Kata Veranda
sesaat sebelum Dokter masuk ke dalam ruang UGD untuk menangani Sonia.
“Saya akan berusaha semampu saya.! Silahkan tunggu di kursi
tunggu, tenanglah. Serahkan pada Nya.” Kata dokter dengan tenangnya kemudian
dokter itu masuk ke ruangan itu. Ucapan dokter itu sama sekali tak Veranda
hiraukan, dia tetap saja panik, duduk sebentar kemudian berdiri kembali,
berjalan ke kiri, kemudian berbalik berjalan lagi, dan kembali duduk. Hingga
akhirnya ia mengambil handphonenya, untuk menghubungi Stella. Satu panggilan
tak di jawab, 2, 3, hingga telah 20 kali Veranda menghubungi Stella, tapi tak
kunjung ada jawaban. Menjadikan Veranda membuat gambaran yang sedang Stella
lakukan di sana.
15 menit berselang, pintu ruangan terbuka, dokter yang tadi
sempat berbicara dengan Veranda muncul dari balik pintunya.
“Dokter bagaimana keadaannya ?” serbu Veranda bangun dari
duduknya.
“Sakit adik kamu sudah terlalu parah, bakteri-bakteri itu
membuat adik anda sekarang dalam kondisi kritis.” Jelas dokter itu.
“Lakukan yang terbaik dok.”
“Adik anda harus segera di operasi.!”
“O...operasi ??” Veranda terhenyak, dokter itu terus
melanjutkan kalimatnya tapi tak Veranda tangkap, dia sibuk dengan pikirannya.
Dia memang menganggap Sonia sebagai adiknya, tapi Stella...
“Mbak, cepatlah. Penanganan yang terlambat akan membuat adik
anda semakin kritis.”
“Ahh, ii..iya dok. Saya setuju dengan operasi itu.” Veranda
akhirnya meluncurkan kalimat itu, dan mengenyampingkan pikirannya tentang
Stella. Untuk selanjut mengurus keperluan Sonia, menandatangani data-data, ntah
data apa, Veranda tak sempat membacanya. Setelah semuanya beres dan Sonia telah
di pindah ke ruang operasi Veranda memutuskan kembali menguhubungi nomor yang
sudah berkali-kali ia hubungi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari
rumah sakit dan meninggalkan Sonia yang tengah berjuang.
Veranda
menghentikan mobilnya di seberang gedung tak begitu tinggi dengan warna-warni
lampu sekitar papan nama gedung itu. Memperhatikan setiap pasangan yang keluar
masuk pintunya berharap seseorang yang ia tunggu segera memunculkan diri. Untuk
kesekian kalinya Veranda melirik jam tangannya, sudah sekitar satu jam setelah
Sonia masuk ruang operasi, dan Veranda yang tadinya ingin menunggui Sonia
justru meninggalkan Rumah Sakit hingga sampai ke tempat ini. ‘apa operasinya
lancar ? kamu baik-baik aja kan dek ?’ batin Veranda mencemaskan adik
sahabatnya itu.
Sebuah
mobil berhenti tepat di depan gedung itu, membuat pandangan Veranda terhalang.
Sepasang perempuan laki-laki keluar dari mobil, sekilas mereka tampak sedang
berbincang, kemudian diakhiri kecupan sang laki-laki yang mendarat di kedua
pipi perempuan itu. Veranda masih memakukan pandangannya pada pasangan itu, terutama
pada perempuan yang nampaknya ia kenal. Laki-laki itu masuk mobilnya beberapa
detik kemudian mobil itu melaju, dan menyisakan perempuan itu yang langsung
masuk ke dalam gedung. Tak begitu jelas, tapi Veranda dapat memastikan dia
adalah Stella.!
Diam
sebentar, Veranda gelisah di dalam mobil.! Dia tidak tau bagaimana harus
memberi tau sahabatnya itu tentang keadaan adiknya, masuk ke tempat itu Veranda
enggan, menunggunya sampai ia keluar pun tak mungkin. Beberapa menit kemudian,
setelah satu tarikan nafas panjang akhirnya Veranda memutuskan keluar dari
mobil dan menarik dirinya untuk masuk ke dalam tempat itu. Tak sampai 1 menit
untuk dia sampai ke dalam tempat terlarang itu. Ve menghentikan langkahnya
persis satu langkah setelah ia melewati pintu masuk, dia memicingkan matanya,
mengadaptasi telinga dan matanya untuk menerima dentuman musik yang keras dan
lampu warna warni yang menyorot, memutari ruangan. Sepersekian detik akhirnya
mampu mengendalikan dirinya, dan mulai mengitarkan pandangannya mencari sosok
Stella di tengah kerumunan orang yang ntah sadar atau tidak. Matanya terhenti
pada satu titik, disatu meja dengan pria yang tengah menenggak botol minumannya
untuk kemudian menjatuhkan kepalanya di tubuh wanita di sampingnya, sang wanita
tak mau kalah, dia ikut menenggak gelas yang sudah penuh dengan alkohol, sama
sekali ia tak marah dengan perlakuan sang lelaki yang memanja di tubuhnya dan
seolah melecehkannya. Tak tahan dengan pemandangan itu, akhirnya Veranda
melangkahkan kakinya menuju meja itu. Sampai, dan berdiri di depan meja, di
samping wanita itu, menatap kelakuan sahabatnya, tapi tak wanita itu sadari.
Sang lelaki yang sudah duduk normal akhirnya menyadari keberadaan Veranda, dan
dengan sukses membuat pasangannya ikut menengok ke arah Veranda.
“Veerrr......” Belum sempat Stella meneruskan kalimatnya,
Veranda terlebih dahulu menarik tangan dan menyeret tubuh Stella dari tempat
asing bagi Veranda yang telah menjadi rumah kedua untuk Stella.
Bak
supir memperlakukan majikannya, Veranda membukakan pintu mobilnya dan
mempersilahkan Stella masuk, untuk kemudian menutupkan pintu lalu berlari
menuju pintu lain. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka, padahal
sudah hampir 15 menit mereka di dalam mobil menyusuri jalan kota malam hari.
“Ve, kita mau kemana ?” Stella akhirnya meluncurkan
kalimatnya yang sedari tadi berputar-putar dalam kalimatnya.
“Nggak bisa gue jelasin sekarang.” Kata veranda dingin tanpa
menatap Stella sedikitpun. Stella diam, bukan puas dengan jawaban Veranda, tapi
justru semakin menebak-nebak apa yang sebenarnya ada dalam fikiran Veranda.
Kenapa dia bisa ada di dalam tadi, apa yang membuat dia nekat masuk ke tempat
laknat itu. Diam-diam Stella memerhatikan Veranda, menatap wajahnya yang lama
tak ia tatap, tangannya yang lama tak ia genggam, tubuhnya yang lama tak ia
peluk, sejak hari itu sejak veranda selalu menolak sentuhan Stella di tubuhnya.
“Kita udah sampai.!” Kata Veranda membuyarkan ilusi-ilusi
Stella yang masih saja menatap rindu Veranda. Di lepaskannya seat belt dan
kemudian turun dari mobil.
“Ve tunggu.!” Stella meneriaki Ve yang telah berjalan
mendahuluinya.
“Ve, kenapa kita kesini.?” Stella terengah mengikuti langkah
panjang Veranda. Namun Veranda masih bungkam dengan langkah cepatnya yang
membuat Stella kualahan mengikutinya.
“Di dalem ada Sonia, dia lagi di operasi.!” Singkat Veranda
berhenti tepat di depan ruang operasi.
“Son..ia ? Operasi ???” Stella akhirnya menemukan jawaban
atas tebakan-tebakannya.
“Keadaannya melemah, radang selaput otaknya sudah parah,
jadi dia harus segera operasi.” Lanjut Veranda.
“Dapet darimana duit gue buat bayar operasi Sonia.!” Stella
terduduk di kursi tunggu. Veranda mengikuti Stella, duduk tepat di sebelahnya.
Dia hendak berkata namun seperti tertahan, menatap Stella yang shock dengan
kalimat yang baru saja ia luncurkan, hatinya bergemuruh melihat sahabatnya
dengan wajah yang berantakan, ingin rasanya dia memeluk atau sekedar
menggenggam tangannya untuk menenangkannya dan berkata ‘Semuanya akan baik-baik
saja.’
“Mamih.!” Stella menyebutkan nama yang sama sekali tak
pernah Veranda dengar, memberantakkan tasnya mencari barang yang bisa ia
gunakan untuk menelfon orang yang dimaksud. Menekan tombolnya cepat, lalu
meletakannya di telinga kanannya, menjauh dari Veranda.
“Halo, gue lagi di rumah sakit mih” Stella mulai
perbincangan dengan orang yang dia sapa dengan panggilan ‘Mamih’ “Bukan, adek
gue. Mih, tolong cariin orang yang bisa bayar mahal buat gue dong, gue lagi
butuh uang banyak buaat....” Stella yang tengah asik meminta bantuan pemasok
(?) perempuan-perempuan jalang itu terhenti oleh Veranda yang tiba-tiba
mengambil handphonenya kemudian memutuskan sambungannya dengan ‘Mamih’.
“Ve.!!” Hendak marah, tapi tertahan.
“Kamu mau ngeracunin adek kamu pake uang yang kamu dapet
dari tempat kotor itu ?” Ucap Veranda begitu saja, menatap sinis Stella yang
juga menatapnya penuh emosi.
“Seenggaknya gue harus berusaha cari uang buat kesembuhan
adek gue.” Jawab Stella ringan, masih dalam posisinya menatap Veranda emosi.
“Kamu b*odoh stell. Apa kamu nggak mikir kenapa adek kamu
nggak sembuh-sembuh ? kenapa adek kamu semakin hari semakin parah ? itu karena kamu
bayar pengobatan dia pake uang kotor.!” Tutup Veranda kemudian meninggalkan
Stella dalam emosinya. Ucapan Veranda tepat mengenai lubuk hati Stella,
menusuknya hingga dia tak dapat melakukan lagi perlawanan. Dia terduduk kembali
di kursi tunggu ruang operasi, kalimat veranda berputar-putar di otaknya,
sesak, takut, gelisah, marah, kecewa, semuanya berkumpul di hati dan pikiran Stella,
belum lagi memikirkan darimana dia akan mendapat uang untuk membayar pengobatan
Sonia kali ini yang pasti akan lebih mahal lagi. Jiwa raganya telah ia gunakan
sepenuhnya untuk mencari uang untuk Sonia, lelah, bosan, kesal, putus asa.! Dia
tak tau lagi harus bagaimana, harus berjalan ke arah mana.
Ingatannya kembali pada saat dia masih bisa tertawa riang
dengan adik, mamah dan papahnya, selagi
dia hanya tau tertawa dan makan, selagi badannya masih belum tersentuh oleh
siapapun, hingga kecelakaan itu yang membunuh kedua orang tuanya, membuatnya
menjadi yatim piatu, kemudian dia mulai kehabisan uang untuk makan, dan mulai
mencari pekerjaan yang layak sampai akhirnya dia terjerumus ke dunia malam
hingga dia menemukan pekerjaan yang dia kira bisa dia pakai untuk
menghidupi Sonia, menyekolahkan Sonia
dan membayar uang kuliah untuk dirinya sendiri, sampai-sampai kehidupannya berantakan
seperti saat ini.
***
“Kamu udah siuman dek ?” Veranda menyambut Sonia yang mulai
membuka matanya, Sonia masih mengadaptasi matanya untuk menerima cahaya yang
masuk melalui jendela kamar tempat dia dirawat. Sonia sudah dipindahkan ke
kamar biasa setelah operasi semalam dinyatakan berhasil dan dia dalam keadaan
baik, tinggal menunggu hingga dia siuman. Stella yang menunggunya, ternyata
tertidur di kursi tunggu, hingga Veranda yang memang sedari tadi juga menunggu
operasi Sonia di tempat lain akhirnya membawa Stella pulang tanpa mengganggu
tidur Stella sedikitpun.
“Ada yang sakit ?” Tanya Veranda lagi memperlakukan Sonia
dengan sangat lembut.
“Ci Stella mana kak ?” Sonia mengabaikan pertanyaan Veranda.
“Stella..mmm ci stella ada ko di rumah, semaleman dia jagain
kamu, terus tadi pagi kakak suruh pulang buat istirahat.” Dusta Veranda dengan
senyum khasnya yang membuat Sonia percaya dengan ucapan Veranda.
“Kak, apa aku sudah sembuh ?” Sonia bertanya setelah
beberapa menit dia terdiam dalam lamunannya.
“Kenapa tanya gitu dek ?” Veranda yang tadinya sibuk dengan
handphonenya jadi menghentikan kegiatan jarinya.
“Nggak ko nggak papa, kakak jawab aja, apa aku udah sembuh
?”
“Lho ko gue di rumah sih ?” Kaget Stella begitu membuka
matanya, setelah beberapa detik dia berfikir.
“Sonia.! Sonia kan lagi di rumah sakit.! Bego, kenapa gue
bisa ada di rumah...” Stella menengok pakaian yang ia kenakan, dan jelas itu
bukan pakaian yang semalam ia gunakan untuk bekerja.“siapa yang gantiin baju
gue...” sayangnya otaknya bekerja dengan sangat lambat hingga tak bisa menebak
siapa yang mengantarkannya sampai ke rumah dan mengganti pakaian yang bau
minuman dan asap rokok khas tempat pekerjaannya.
“Heh, ngapain gue mikir itu. Sonia.!” Dia tersadar kemudian
langsung mengambil handphone dan tasnya lalu meluncur menuju rumah sakit. Dia
kalang kabut memikirkan adiknya, tak habis pikir bagaimana dia bisa sampai
tertidur bahkan sampai di kamarnya, tanpa merasa dipindah sedikitpun.
Bisa-bisanya dia meninggalkan Sonia yang pasti butuh dirinya.
“Sus, pasien bernama Sonia Natalia di rawat di ruang berapa
?” tanya Stella di receptionist rumah sakit.
“Sonia...Natalia di kamar nomer 388.” Jawab Suster itu
cepat. Kemudian setelah berterimakasih, Stella melanjutkan jalannya, ‘bego,
bahkan kamar rawat adik sendiri pun gue nggak tau.!’ Batin Stella memaki
dirinya sendiri.
“388” Stella mengeja angka yang tertera di depan kamar yang
hendak ia masuki. Kemudian memegang gagang pintunya, sedetik kemudian terdengar
decitan pintu yang menggema di ruangan membuat orang yang ada di dalam ruangan
itu menengok ke sumber suara.
“Ci...” Sapa Sonia tersenyum girang menyambut kehadiran
kakaknya.
“Loe nggak apa-apa kan Son ?” ucap Stella setelah berdiri di
samping ranjang Sonia.
“Nggak papa ci.” jawab Sonia yang ntah benar atau tidak.
“Sorry gue nggak bisa ja....”
“Oh ya ci, ko kesini lagi, kata Kak Veranda ci stella di
suruh pulang buat istirahat. Bukannya istirahat abis jagain aku semaleman malah
kesini lagi.” Cerewet Sonia membuat Stella mencerna kalimat adiknya ‘Ve ? jadi
Ve yang nganter gue pulang, tapi semalem kan gue nggak jagain Sonia, dia
selesai operasi aja gue nggak tau’ batin Stella.
“Ci ? ko nglamun sih ? pasti masih ngantuk kan ?” Sonia
menyadarkan Stella.
“Hah mmmm, nggak ko. Oh ya Kak Veranda nya sekarang mana ?”
Tanya Stella mengalihkan, dan mengembalikan ekspresinya menjadi biasa.
“Ka ve lagi ke ruang dokter.”
“Ngapain ?”
“Tadi dokter manggil ka ve, sebenernya cari keluarga pasien
tapi adanya ka ve, jadi ka ve ngaku jadi kakak aku.” Jelas Sonia. Stella
meneguk ludahnya, ‘Veranda, dia yang selalu ada buat Sonia, dia yang membawa
Sonia ke rumah sakit saat dia benar-benar kritis, dia yang ada di depan mata
Sonia saat sonia siuman, bahkan dia sampai mengaku kakaknya untuk...’ pintu
berdecit lagi, veranda hendak masuk ke kamar Sonia tapi dia urungkan setelah
melihat keberadaan Stella.
“Ve.! Son, bentar ya, gue mau ngomong sama Ve dulu. Nggak
papa kan loe sendiri ?” Ucap Stella yang sudah bersiap mengejar Veranda. Hanya
dengan anggukan kecil Sonia menjawab kemudian Stella langsung melejit menemui
Veranda yang sudah jauh meninggalkan kamar Sonia.
“Ve tunggu.!” Veranda menghentikan langkahnya.
“Loe mau keman.. .” stella membalikkan tubuh veranda hingga
“Ve, muka loe pucet banget.!” Bagaimana tidak, sejak awal dia menjemput sonia,
kemudian mengantarkannya ke rumah sakit, lalu mencari Stella, kembali ke rumah
sakit, di lanjut mengantarkan Stella yang tertidur ke rumahnya dan kembali lagi
ke rumah sakit, tanpa istirahat.
“Aku mau pulang.!” Veranda melepaskan genggaman Stella di
pundaknya, nada bicara dan tatapannya masih saja dingin.
“Tapi lo...”
“Aku nggak papa. Operasi Sonia berjalan lancar, tadi dokter
bilang keadaan Sonia udah mulai membaik, dia Cuma tinggal dirawat beberapa hari
aja disini, sampai keadaannya bener-bener pulih.” Kata Ve menyimpulkan apa yang
dokter jelaskan panjang lebar padanya.
“Dan karena kamu udah disini, kayanya tugas aku udah
selesai, aku harus pulang.!” Veranda membalikkkan tubuhnya dan kemudian hendak
berjalan.
“Ve tapii kan...”
“Oh ya satu lagi...” ucap Veranda kembali menghadap Stella
seraya mencari sesuatu dalam tas-nya.
“Ve, gue nggak tau harus ngomong apa tapi...” ucapan Stella
terhenti dengan tangan Veranda yang mengambil tangannya dan meletakkan sesuatu
pada tangan kanannya.
“Ini atm, sama kartu kredit aku .! Gunain buat bayar semua
pengobatan adek kamu.! Jangan
sekali-kali lagi kamu bayar pengobatan adek kamu pake duit kotor itu, dan aku
harap kamu nggak akan nglakuin itu lagi.” Jelas Veranda, nada dinginnya sama
sekali tak sinkron dengan kalimat yang ia ucapkan, Stella tak mengeluarkan sepatah kata pun. “Oke
kayanya aku harus balik sekarrr..” Veranda menghentikan kegiatan berbicaranya
karena tubuhnya yang telah ada didekapan Stella.
“Ve makasih.! Makasih banget buat semuanya.!” Kata Stella
mendekap Veranda begitu erat.
“Gue nggak tau harus gimana bales semuanya.” Lanjut Stella.
Veranda hanya diam dalam pelukan Stella, tak bereaksi sedikitpun, bahkan untuk
sekedar membalas pelukannya.
“Gue sayang loe Ve, plis jangan marah lagi sama gue. Gue
buta tanpa loe Ve, gue nggak tau harus melangkah kemana tanpa genggaman tangan
loe.” Bendungan air mata Stella hancur, pundak Veranda basah karena air mata
Stella yang dia biarkan begitu saja.
“Ve, gue Cuma butuh loe di samping gue buat ngadepin semua
ini Ve. Cuma loe sama Sonia yang bikin gue kuat, plis jangan tinggalin gue.” Mata
Veranda berair, Stella berhasil membob ol pertahanan Veranda dengan kalimatnya,
hingga akhirnya tangan Veranda bergerak dan membalas pelukan sahabatnya.
“Gue kangen loe Ve, gue sayang loe.” Kata Stella yang
merasakan dekapan di tubuhnya.
“A...aku juga kangen kamu Stell.” Ucap Veranda lirih, tapi
terdengar jelas oleh Stella.
“Loe nggak marah lagi kan sama gue ?” Stella melepaskan
pelukannya, lalu menatap Veranda yang tertunduk menghapus air matanya.
“Aku nggak akan marah lagi sama kamu Stell.” Ucap Veranda
mengangkat kepalanya, menatap Stella yang telah lebih dulu menatapnya. Tatapan
itu telah kembali, tatapan hangat itu, pelukannya, nada bicaranya yang lembut,
dia kembali, Veranda kembali menjadi Veranda.!
“Gue nggak akan sia-sia loe lagi Ve. Sahabat terbaik gue.!”
Ucap Stella, kemudian saling berpelukan lagi.
Hanya setitik masalah kecil penguji
persahabatan, kadang emosi dan ego
mebuat seseorang merasa paling benar, saling menjauhkan diri dan bahkan kecewa
yang kadang melingkupi hati, bisa menjadi sebuah kebencian yang membuat
seseorang enggan mendekat. Tapi percayakah, seseorang yang telah kita namakan
ia sebagai ‘sahabat’ tanpa kita sadari, ia dan bahkan kita sendiri akan menarik
kembali diri kita dari emosi dan ego yang membuat kita sempat menjauh dari
sahabat. Kadang sebesar apapun masalah yang datang, asal dalam hati seseorang
masih tersimpan kata ‘sahabat’. Masalah, itu bukan apa-apa bagi sebuah hubungan
persahabatan. Karena seorang sahabat yang sebenarnya, namanya telah mengalir di
darah kita. Tanpa perintah, hati kita akan merasa terpanggil ketika sahabat
mengalami sesuatu, meski dalam keadaan emosi sekalipun.
“Ci, ko ci stella nggak pernah aku liat kerja ?” Tanya Sonia
di sela-sela acara makan malamnya bersama Stella.
“Mmm, gue....gue berhenti kerja.” Jawab Stella menghentikan
laju sendoknya yang hendak mendarat di mulutnya.
“Kenapa ? Terus....”
“Udah, loe nggak usah mikirin itu, kita masih bisa makan ko.
Buat check up loe juga masih ada.” Kata Stella mengurungkan niatnya memasukkan
sendok ke dalam mulutnya.
“Uang dari mana Ci ?” Tanya Sonia polos.
“Ada orang yang baik banget mau nolong kita.” Jawab Stella
menyembunyikan nama Veranda di balik kalimatnya. Bukan menutupinya, tapi
Veranda sendiri yang meminta untuk Stella tak mengatakan apa-apa tentang
bantuannya yang tak seberapa baginya.
“Tapi...”
“Iya, besok gue pulang kuliah mau cari-cari kerjaan baru.”
Stella tau arah pembicaraan Sonia, lagi-lagi memotong ucapan adiknya.
“Cii.....” Sonia menatap Stella sendu, mata polosnya menatap
Stella kasian, bukan! tapi sayang, bukan! Seperti tak tega. Ntahlah, tatapan
Sonia terlalu abstrak untuk dijelaskan.
“Loe tenang aja, kan gue udah bilang ini udah tanggung jawab
gue. Selagi gue mampu, gue akan tetep cari uang buat kehidupan kita. Udah tugas
gue juga buat ngelindungin loe. Yang penting loe jaga kesehatan loe, jangan
sampe yang kemaren kejadian lagi.” Jelas Stella panjang lebar, mengungkapkan
isi hatinya.
“Makasih ya ci...” Kata Sonia kemudian dibalas senyum
Stella.
Scene
ini, mungkin Mama Papa Stella di sana tersenyum bahagia melihat kedua putrinya
seakur ini. Scene yang tak pernah terjadi setelah mereka pergi meninggalkan
keduanya. Apalagi mereka, Sonia saja sangat bahagia dapat merasakan kembali
saat makan berdua dengan kakaknya...ah ‘kakaknya yang sangat menyanyanginya’ .
Stella ?? dia gengsi, dia menolak untuk batinnya mengatakan dia sangat bahagia,
tapi pengaruh dari dalam hati terlalu besar, hingga gesture Stella tak dapat
menyembunyikan lagi rasa bahagianya.
Keesokan
harinya, seperti rencana Stella semalam, ia akan mencari pekerjaan yang layak
sepulang kuliah. Setelah dosen mata kuliah terakhir, Stella langsung beranjak
dari tempatnya.
“Hey mau kemana, aku maen di tinggal-tinggal aja.” Seru
Veranda pada Stella yang nampak terburu-buru.
“Gue pulang duluan ya.” Kata Stella membalikkan badannya
menghadap Veranda.
“Mau kemana ? Padahal aku mau minta tolong sama kamu.”
Veranda memasang wajah kesalnya, berdiri menyamai Stella.
“Ve, sorry...tapi kali ini nggak bisa.” Jawab Stella ,Veranda
menatap Stella penuh curiga.
“Nggak, gue nggak akan ke tempat itu lagi.” Lanjut Stella,
paham dengan kecurigaan Veranda.
“Terus ?” Tanya Veranda masih kesal.
“Gue mau cari kerja, nggak akan selamanya juga gue pake duit
loe.” Jelas Stella, akhirnya jujur juga dengan sahabatnya.
“Yaudah sini balikin atm sama kartu kredit aku.” Ketus
Veranda menatap kecewa pada Stella.
“Ve....” Yang diajak bicara heran dengan sikap Veranda yang
mendadak dingin padanya.
“Ya katanya kamu udah nggak butuh.” Sinis Veranda masih
menodong Stella, meminta atm nya.
“Bukan...”
“Aku minta anter, aja kamu nggak mau, sini balikin atmnya.”
Stella semakin terpojok dengan kalimat-kalimat sindirian Veranda. Benar memang
kalimatnya, dan membuat dirinya merasa menjadi orang paling jahat untuk
Veranda.
“Ahh, aku kasih kamu pilihan. Kamu balikin atm aku, atau
kamu ikut aku sekarang.” Usul Veranda menurunkan tangannya, menatap Stella
licik.
“Loe kenapa sih ? Nggak usah kaya anak kecil deh Ve.” Kata
Stella akhirnya, masih heran dengan sikap sahabatnya yang tak pernah seperti
ini. Mudah memang mengembalikkan apa yang telah Veranda pinjami, tapi bagaimana
dia akan hidup dan mengobati Sonia tanpa kartu itu, sedangkan selama ini hanya
dengan kartu itulah Stella bisa menafkahi hidupnya.
“Yaudahlah, buruan ikut aku.” Putus Veranda menarik tangan
Stella, menyeret tubuhnya untuk ikut dengannya, memutuskan pilihan secara
sepihak, Stella hanya mengikuti Veranda, dengan hatinya yang masih menyimpan
kesal pada tingkah sahabatnya yang kekanakkan. Niatnya mencari pekerjaan dia
urungkan, demi untuk sahabatnya tidak marah padanya.
Veranda menarik Stella hingga sampai di parkiran kemudian
masuk mobil. Di perjalanan pun tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka,
Stella mengalihkan kegiatan pada handphonenya, pura-pura sibuk dengan aplikasi
yang dia pasang di sana. Veranda tak bergeming dan sibuk dengan fokusnya ke
jalanan. Dia bukan kesal dengan Stella karena Stella tak mau menemaninya, tapi
karena jika Stella lebih memilih mengembalikan atm-nya, maka rencananya akan
gagal.
“Ngapain kita kesini.?” Tanya Stella penasaran, ketika
Veranda menghentikan mobilnya di sebuah gedung tinggi, yang sama sekali tak
pernah Stella sambangi.
“Aku ada urusan penting, makanya aku minta temenin kamu.”
Jawab Veranda bersiap keluar dari mobil.
“Ve, gue aja nggak tau urusan loe...” kata Stella masih
kesal dengan tingkah Veranda.
“Udah, ayoo keluar.” Dia sama sekali tak menggubris Stella
yang memprotes. Hanya keluar mobil kemudian berjalan memasuki gedung itu, Stella
membuntut di belakangnya. Dalam langkahnya Stella masih belum mengerti tempat
apa sebenarnya, semua karyawan disini nampak tunduk pada Veranda.
“Masuk gih.” Kata Veranda berhenti di salah satu ruangan,
setelah jalan dan naik lift tanpa prebincangan sedikitpun.
“Direktur utama.” Stella mengeja tulisan yang tertera di
pintu ruangan itu.
“Loe gila ? apa urusan gue masuk-masuk ruangan direktur kaya
gini. ?” Lanjutnya, memprotes keras. Konyol memang sahabat Stella yang satu
ini, meminta Stella mengurus urusan pentingnya tapi dia sendiri tak memberi tau
apa urusannya.
“Udah masuk, bilang aja kamu temen aku.” Santai Veranda.
“Ve..” Tanpa jawaban lagi, Veranda mengetuk pintu ruangan
itu, kemudian jawaban terdengar, mempersilahkan pengetuk pintu masuk.
“Udah sana.!” Veranda mendorong tubuh Stella untuk masuk
ruangan, yang di dorong setengah kesal, tapi penasaran akhirnya mau juga masuk
ruangan direktur utama perusahaan besar yang sama sekali ia tak ketahui apa
maksudnya dia masuk ke dalam ruangan itu.
Veranda hanya menunggu Stella
menemui Ayahnya di depan ruangan direktur utama itu. Siang tadi, akhirnya dia
mendapat kabar kalau ada bagian di kantor yang kosong dan bisa diisi oleh
Stella yang akan bekerja part time, dengan syarat Ayahnya ingin bertemu dengan
Stella secara langsung, sekedar untuk tau kepribadian Stella, dan semangat
kerja Stella. Karena perusahaan yang Ayah Veranda jalankan bukan perusahaan
sembarangan yang menerima karyawannya dengan begitu mudah. Untuk karyawan
biasa, mereka harus melewati beberapa tes dan wawancara untuk bisa menjadi
bagian dari perusahaan itu, sedangkan Stella hanya perlu menemui Ayah Veranda.
Sudah
hampir 30 menit Veranda menunggu di depan pintu, dia berharap-harap cemas,
‘kenapa lama banget.! Ayah tanya apa aja sama Stella.’ ‘Jangan-jangan Ayah
nggak suka sama Stella.’ ‘Atau, jangan-jangan Ayah tau kalau Stella pernah...’
*cklak* suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Veranda. Stella menatap Veranda
dingin, seperti ada kekecewaan. ‘Stella kenapa’ batinnya.
“Verandaaaaa....” Seru Stella kemudian mendaratkan pelukan
di tubuh Veranda.
“Kenapa ?” heran Veranda yang masih penasaran dengan jawaban
Stella.
“Ya ampun, gue nggak tau harus ngomong apa lagi sama loe
Ve.! Loe emang sahabat gue yang paaaalllllliiiing baik.!” Stella melepas
pelukannya sesaat, kemudian mendaratkan kecupan di pipi Veranda.
“Kamu diterima ?” Tanya Veranda tak bereaksi dengan kecupan
yang membuat pipinya berbekas lipstick merah berbentuk bibir Stella.
“Iyalah, loe kan yang nyuruh bokap loe nerima gue.!” Kata Stella
santai masih menyimpan tangan kanannya di pundak Veranda.
“Syukurlah kalo ayah suka sama kamu.” Senang Veranda
menghelakan nafas gelisahnya.
“Ve....ihh loe baik banget sihh. Ya ampun, gue sayang banget
sama loe.” Kembali Stella mendekap tubuh Veranda, erat.! Sangat erat.
“Jadi, masih nggak mau nemenin aku ke tempat ini ?” sindir
Veranda melingkarkan tangannya di pinggang Stella.
“Haha, mau lah kalo kaya gini akhirnya.!” Kata Stella
menjauhkan tubuhnya. Untuk kemudian memeluk lagi Veranda. “Ih Ve, sumpah gue
seneng banget.!”
“Gimana kalo, loe gue traktir makan.!” Kata Stella kini
benar-benar melepas pelukannya.
“Makan ?? uang darimana ??” sindir Veranda.
“Uang daariiiii...yah anggep aja itu uang gue dehh Ve..yah
yaa.!”
“Iya deh iyaa..ini yang di pipi gimana ?” Kata Veranda
menunjukkan pipinya pada Stella.
“Udah biarin aja, lucu tau.!” Stella tertawa ringkih pada
Veranda yang memasang wajah kesalnya seraya mengusap-usap pipi bekas bibir
Stella.
Hari-hari
berganti dengan semuanya yang sudah kembali normal, Sonia keadaannya mulai
pulih dan sudah diperbolehkan berkegiatan, dan Stella yang sudah aktif bekerja
di perusahaan Ayah Veranda. Veranda sendiri menjalani kehidupan dengan biasa
saja, hanya saja Ayahnya kini sudah sering pulang dan mengurangi kegiatannya di
luar, membuat Veranda tak lagi kesepian di istana megahnya, apa yang terjadi
pada Ayah Veranda ? ntahlah, hanya dia dan Tuhan saja yang tau.
“Nih gue kembaliin atm sama kartu kredit loe.” Kata Stella
menyerahkan kedua kartu yang selama ini menghidupinya. Veranda yang tengah
memandang bebas pemandangan dari atas gedung tinggi perusahaan Ayahnya melirik
Stella sekilas kemudian membuangnya kembali.
“Mmm, belum gue balikin semuanya sih, tapi gue janji bakal
balikin kalo gue udah ada uang.” Kata Stella yang berpikiran kalau Veranda tak
mau menerima jika uangnya tak kembali utuh.
“Pegang aja, buat kamu.” Kata Veranda dengan senyum khas seraya membalikkan
badannya, menyandarkan punggungnya di tembok pembatas yang tingginya tak lebih
dari 1,5 meter.
“Tapi ini bukan hak gue, lagian kalo bokap loe tau kan, ntar
jadi masalah.” Stella mengikuti gerakan Veranda.
“Aku nggak butuh itu Stell, lagian Ayah udah tau ko.”
“Tapi....”
“Kalo kamu masih anggep aku sahabat pegang aja. Anggep aja
itu kartu biasa.” Kata Veranda. “Aku nggak butuh itu, aku ada di dekat kamu,
Sonia sembuh, dan Ayah kembali kaya dulu, itu semua yang aku ingin, dan semua
udah tercapai. Aku nggak butuh uang, yang aku butuh Cuma kalian.” Lanjutnya,
merapikan rambut yang tertiup angin dan nyasar ke wajah mulusnya. Beberapa saat
suasana jadi hening.
“Hmm..makasih yah
buat semuanya.” Senyum Stella, di balas Veranda.
“Makasih juga udah mau jadi sahabat aku.” Lanjut Stella
meraih tangan Veranda, kemudian memasukkan jari-jarinya di sela-sela jari
Veranda.
“Dan..makasih buat genggaman tangan kamu yang tak pernah
kamu lepas.” Veranda masih tak merespon genggaman Stella, dia sibuk menatap
heran Stella yang ntah sejak kapan menggunakan kata ‘aku kamu’ dalam
kalimat-kalimatnya, selama dia mengenal Stella, Stella selalu menggunakan ‘gue
loe’ sebagai pengantar, meski Veranda selalu menimpali dengan ‘aku kamu’.
Senyum bahagia mengembang di bibir Veranda, kemudian membalas genggaman Stella.
Ntah
bagian buruk Veranda ada di mana, Stella tak pernah mengetahuinya, baginya
Veranda adalah malaikat yang di turunkan dalam hidupnya untuk selalu mendampinginya,
membuatnya kuat, menunjukan jalan dan memberinya terang di gelapnya dunianya.
Kini semuanya usai, Sonia telah sembuh berkat bantuan Veranda, dan hubungan
mereka pun membaik, Stella juga telah mendapat pekerjaan layak untuk
kehidupannya, dan Veranda sudah bahagia dengan ayahnya yang kini semakin
memperhatikannya, dan bahkan dia telah bahagia dengan........
“Vee..” Stella
menatap ragu Veranda.
“Yaa ?” Santai Veranda masih menikmati pemandangan dari atas
gedung Ayahnya.
“Aku boleh nanya ?” Nada Stella berubah menjadi serius.
“Apa sih, orang tinggal nanya.”.
“Ray.” Singkatnya.
“Kamu kan belakangan lagi deket sama dia.” Lanjut Stella
karena Veranda masih tak bergeming untuk menjawabnya.
“Stella, aku nggak pernah suka sama Ray. Selama ini dia
deket sama aku Cuma tanya kenapa kamu menjauh dari dia.” Kata Veranda mengingat
scene kedekatannya dengan Ray. “Dia buat kamu aja.....Lagian aku kan masih ada
aturan anti cinta, kalau kamu kan udah grad, jadi boleh pacaran. Hehe”
“Ya ampun Ve itu dunia nyata, ini mah cerita buatannya cule
doang. Haha.”
“Oh ya, berarti Ayah kamu sekarang udah balik kaya dulu
nih.” Tanya Stella menatap senang Veranda, yang di tatap hanya mengangguk kecil
dengan senyum yang melengkung tipis di bibirnya.
“Syukurlah, ternyata aku masih bakat ngerayu bapak-bapak.”
Senyum Stella terkembang puas, membuat Veranda mengubah ekpresinya 180o
dan menatap kaget pada sahabatnya yang masih senyum-senyum puas.
“Stellaaaaaaaaaa.!”
-End-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar