Aku
selalu menangis dibalik hujan itu, merindukan terang yang dulu selalu datang. Aku
menangis atas cahaya yang tak lagi menerangiku. Aku meratap atas hujan yang
merampas terangku.
Aku
selalu meratap dibalik hujan itu, menderita siksa atas dingin akibat terpaan
hujan berangin. Aku meradang karena dingin yang selalu menyelimutiku. Aku
merindu hangat yang tak kunjung datang padaku.
Aku
selalu terpojok dibalik hujan itu, tersudut dalam suatu tempat bernama
kenangan. Aku tersudut dalam ruang depresiku. Frustasi akan terang yang tak
lagi kudapat.
Terangku
tak datang karena hujan, terangku seolah lenyap seiring mendung dan hujan yang
mengguyur. Hujan itu berhasil membuat aku tersiksa oleh dingin yang ditimbulkan
darinya. Aku terpojok. Aku mengalah. Aku mengalah atas tekanan masa lalu di
dalam ruang kenangan. Hujan itu seperti menjadi bully atas aku dan terangku.
Aku
sempat berharap hujan itu berhenti, awan mendung itu memudar, lalu terangku
datang.
Tapi
selama aku berharap, selama itu juga hujan tak kunjung reda, mendung tak
kunjung menghilang, harapan adanya cahaya pun semakin pudar, terangku..bisakah
kembali kudapat ?
Suatu
hari, ditengah ratapanku, ditengah kerinduanku pada terang, aku melihat
pelangi. Lalu aku tersenyum mengartikan kemunculan pelangi itu. Pelangi berasal
dari bias cahaya yang menembus air hujan bukan ? Yaa, dari cahaya..cahaya dari
terangku. Terang yang selalu aku rindukan, terang yang menghangatkanku, terang
yang menemaniku. Meskipun sudah beberapa hari pelangi itu tak lagi muncul, tapi
bukankah itu cukup melegakan diri ini, meriangkan hati, bahwa terangku tak
benar-benar hilang, terangku tak benar-benar pergi, dia hanya tersembunyi di
balik hujan itu, dibalik mendung itu, dan pelangi lah yang akan menghantarkan
terangku. Masih ada pelangi, masih ada harapan atas terangku.
Pelangi
itu, kunamai Pelangi Harapan.
Pelangi
itu memunculkan lagi semangatku, meyakinkanku bahwa dibalik awan mendung itu,
sehabis hujan deras selama ini, masih ada terang yang akan datang. Pelangi itu
memunculkan harapan padaku bahwa terangku masih bisa kudapat. Aku jadi semakin
tak sabar, menunggu hujan itu habis, mendung itu pergi, lalu terangku akan
datang, menyinariku atas gelap selama ini, menghangatkanku dari dingin yang
membekukanku.
Seperti pelangi, menjanjikan terang setelah
hujan deras.
