Rabu, 15 Juli 2015

Karena Kau Tak Perlu Melakukannya





Aku berlari, menghabiskan garis pantai di tepian laut ini.
Aku berlari berharap aku meninggalkan kesedihan yang kamu tinggalkan untukku.
Aku, berlari secepat mungkin demi aku terlepas dari kenyataan bahwa kamu akan pergi.
Namun sayangnya, tak perduli sejauh apapun garis pantai yang kuhabiskan, tak perduli secepat apapun aku berlari, keadaannya tetap sama. Sakit itu masih terasa. Dan kamu tetap akan pergi.!

Aku mengurangi kecepatan, tenagaku untuk berlari terpecah karena tangis yang mulai tak bisa aku tahan, dadaku terasa sakit atas setiap tetesan air mata yang terjatuh, menyatu dengan air laut. Hingga akhirnya aku benar-benar berhenti, demi tak membiarkan tubuh ini menyatu dengan pasir pantai, dadaku benar-benar terasa sesak, jantungku sudah berdetak terlalu cepat setelah aku paksakan untuk berlari sejauh ini.
Aku tertunduk, berdiri di garis pantai, diantara biru laut dan putihnya pasir pantai. Aku memejamkan mataku, menikmati setiap sakit yang beradu di dadaku, menikmati perihnya lubang luka atas keputusanmu untuk pergi. Menutup mata dari rasa takut yang membayangi, takut dengan masa setelah kamu tidak di sini, tidak denganku. “Kita tidak akan benar-benar berpisah, Jurina.” Katamu, selalu setiap saat aku menyampaikan rasa takutku padamu. Kamu selalu tersenyum dihadapanku dan aku selalu menangis setiap senyuman yang kamu perlihatkan diantara kekhawatiranku. Ntah kenapa, sejak hari dimana kamu benar-benar mengumumkannya, senyummu terasa selalu membuat perih di dada ini. Aku egois jika meminta kamu untuk tetap tinggal, tapi jiwa ini terlalu butuh kamu di dekatku. Aku egois, aku berpikir bahwa kita akan jauh ketika kamu meninggalkanku, karena kenyataannya, hanya dengan kita disibukkan dengan aktifitas kita di tim yang berbeda saja sudah membuat jarak di antara kita. Aku merasa kamu jauh, aku merasa kamu tak perduli lagi dengan aku seiring aku yang bertumbuh dewasa. Aku egois, aku membayangkan sulitnya kamu aku raih, jika kamu di luar sana. Ini yang aku takutkan, ketika jarak di antara kita semakin jauh, lalu tanganku tak lagi bisa menggapaimu dan kamu semakin tak perduli denganku. Aku takut, Rena.
Aku menengadahkan kepalaku, menatap langit biru dihiasi awan-awan berbentuk bulu domba lucu.
“Minumlah, kau terlalu jauh berlari.” Suara itu dengan lembutnya menembus gendang telingaku, mengirimkan pesan kepada otakku, lalu merespon dengan mata yang kufokuskan pada kamu yang tiba-tiba sudah ada di sampingku. Aku menerima minuman yang kamu tawarkan, demi menutupi kegugupanku yang tak mampu berkata dihadapanmu.
“Kau berlari terlalu cepat, bahkan aku tak bisa mengejarmu.” Katamu menatapku yang masih memindahkan isi botol kedalam mulutku. Aku berhenti menelan, aku kehilangan mood untuk meminum air.
“Untuk apa kamu mengejarku ?” Kataku menepi ke pasir pantai yang kering untuk aku singgahi agar aku bisa duduk. Kamu berbalik badan, menatapku sebentar lalu duduk di sampingku.
“Untuk berkata padamu bahwa kamu tak perlu melakukan itu.” Seperti biasa, kamu mengatakannya dengan tenang dan seperti tau keadaanku. Aku menengok ke arah tadi aku berlari. Jauh, orang-orang yang sedari tadi bersamaku terlihat kecil saat ini. dan Rena mengejarku ke sini demi untuk mengatakan kalimat itu. Sekarang aku dan Rena, berdua berada jauh dari orang-orang itu.
“Aku hanya ingin berlari saja. Kau tak perlu khawatir.”
“Bohong.” Katamu dengan cepat menyambar kalimatku.
“Tidak.”
“Lalu bagaimana jika aku berkata. ‘Aku hanya ingin pergi saja, kau tak perlu khawatir’. Apa kau akan tetap menangis seperti tadi.?” Lancarmu, kau senang sekali berbicara seolah mematikanku. “Kau berlari hanya karena ingin melupakan sakitmu kan ? Kau berlari dengan berharap aku tak jadi pergi kan ?” Tebakmu, aku tertunduk. Meski tebakkanmu tak sepenuhnya benar, tapi itulah kamu, selalu bisa mengerti rasaku. Aku merasakan hangat di kepalaku, aku tau itu berasal dari sentuhan tanganmu. Kau selalu meletakkan tanganmu di kepalaku setiap saat aku merasa takut, lalu menangis.
“Kau tak perlu melakukan itu, Jurina. Karena aku akan tetap pergi dan sakitmu tak akan begitu saja hilang hanya dengan kamu melupakan aku. Aku memang akan pergi, tapi kita tidak akan benar-benar berpisah, aku akan tetap bisa menemuimu, dan kamu tetap akan menemuiku kan ? Sejauh apapun jarak yang akan tercipta setelah aku pergi, itu tak akan membuat kita terpisah, karena jiwa kita saling membutuhkan. Aku akan tetap mencarimu dan kau pun akan menemukan aku. Kamu tak perlu takut aku aku meninggalkanmu, karena aku akan selalu membawamu dalam ingatanku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar