Tuhan, ini suratku.
Ntah hendak kunamai apa dan
kuberi pada siapa. Tuhan, aku tak tau betul apa yang hendak kukatakan di surat
ini. Tapi Tuhan, aku begitu sakit. Aku terlalu sakit menerima kenyataan ini,
aku lelah untuk sakit, aku bosan untuk sakit Tuhan. Tuhan, apa harus aku ? apa
harus sesakit dan semenyesakan ini ?
Tuhan, aku sayang dia, tapi aku
kecewa atasnya. Aku tau seberapa besar pun kecewaku tak akan bisa rasa itu kan
menjadi benci, sebab darahnya mengalir di tubuhku Tuhan, dia orang yang kau
titipi untuk menjagaku selama hidupku. Tapi Tuhan, bagaimana dengan keadaannya
sekarang ?
Tuhan, semua memang terasa indah
di awal. Tapi apa itu artinya aku tak dapat lagi merasakan keindahan dalam
lingkup kecil ini, lingkup keluargaku Tuhan. Lingkup keluarga yang dulu mampu
membuatku selalu bisa tersenyum bahagia, selalu bisa membuatku merasa aman,
membuatku merasa nyaman, lingkup yang membuatku merasa tak pernah kekurangan
perhatian, Tuhan.
Tuhan dimana semua itu ?? apa aku
tak bisa menemukannya lagi ?? hilangkah ?? Tuhan, jika kini aku tengah
berlayar, dimana tepian itu ? dimana tepian yang menjanjikan kebahagiaan, Tuhan
??? harus kuarahkan ke arah mana perahuku agar sampai di tempat itu, tempat
bahagia itu ??
Tuhan aku ingin lagi merasakan
hangatnya kebersamaan keluarga, hangatnya suasana saat aku, dan keluarga
berkumpul dalam ruangan nan mungil itu. Ruang tamu yang sering kami gunakan
untuk ruang keluarga, ruang yang selalu hangat di tengah hujan deras sekalipun.
Ruangan yang juga sering kami gunakan untuk bercerita akan keseharian
masing-masing, bermimpi dengan bayangan indah yang kami buat, tertawa dengan
candaan ringan. Tuhan, tak bolehkah aku merasakannya kembali ?? atau mungkin
saat kami keluar bersama, saat kami menghabiskan waktu di salah satu pusat perbelanjaan
di kota kami, atau saat kami makan malam di luar. Tak bisakah Tuhan ??
Terlalu sakit, ketika mengingat
kebahagiaanku dulu yang tak dapat lagi kurasakan, terlalu deras air mata yang
mengalir jika ingat kekecewaanku, terlalu sesak jika mengingat kesakitanku,
terlalu bosan aku berlaga biasa saja dengan luka di dalam tubuh ini.
Tuhaaannn, aku lelah, aku lelah
menangis, aku lelah sakit hati, aku lelah kecewa, aku lelah menahan emosi, aku
lelah tersenyum di atas kesakitanku, aku lelah dengan semua ini Tuhan.
Tuhan, tak bolehkah aku meminta
untuk Engkau mengembalikan ‘dia’ agar menjadi dirinya yang dulu, mengembalikan
dia yang kukenal sama seperti saat dia mengumandangkan adzan di telingaku
ketika aku sampai di dunia ini. Dia yang kukenal sangat menyayangi keluarganya,
dia yang kukenal rela meninggalkan apapun untuk keluarganya, dia yang memiliki
saaaannnnggggaaaatttt banyak waktu untukku, dan keluarganya. Dia yang kukenal
sangat menjaga kami, dia yang kukenal sangat memperhatikan kami.
Tuhan, aku rindu, aku rindu
belaiannya, aku rindu perhatiannya, aku rindu caranya memanjakanku, aku rindu
kata-kata lembutnya ketika berbicara denganku, aku rindu dia yang selalu
melindungiku, aku rindu dia yang selalu kubanggakan, aku rindu dia yang selalu
bisa membuatku merasa aman, merasa nyaman, dan merasa diperhatikan, aku rindu
dia yang selalu berusaha membahagiakanku, aku rindu dia.....dia yang mempunyai
baaaaaannnyyyaaakkkk waktu untukku.
Tuhan, belum cukupkah cobaan yang
sampai saat ini tak berakhir ?? Tuhan, 4 tahun.! Belum cukupkah ??
Tidakkah kau melihat penderitaan
kami ?? kami yang semakin hari semakin di tinggalnya, kami yang semakin hari
semakin dilupakannya, kami yang semakin hari semakin kehilangan waktunya,
kehilangan sosoknya yang dulu.
Tuhan, tolong kembalikan dia,
kembalikan dia untuk kami yang selalu mengharapkan waktunya, kembalikan dia
untuk kami, kami yang seharusnya lebih berhak atas dia dibanding wanita itu.!
Tuhan, apa.....apa yang harus aku
lakukan agar dia kembali, Tuhan.! Kesakitan seperti apa lagi yang harus ku rasa
agar aku bisa merasakan kebahagiaan seperti dulu, agar dia kembali, Tuhann.
Tuhan, tidakkah kau lihat
keluargaku sekarang ??? Kami semua terpisah dengan jarak, aku kakak mamah, dan
papah yang ntah dimana...Tuhan, jika aku tak boleh lagi bahagia, setidaknya
kembalikan lagi dia untuk istri sah-nya. Aku hanya tak ingin lagi melihat
penderitaan istrinya itu, istrinya yang mengandungku selama 9 bulan, Tuhan. Aku
hanya ingin melihat kedua orang tuaku kembali seperti dulu lagi, aku ingin ibuku
tak sendiri lagi, menunggu kepulanganku atau kakaku. Tuhan, hanya
itu.....setidaknya aku bisa melihat mereka bahagia lagi, cukup Tuhan :’)
Tuhan, jika boleh aku kembali
minta tolong. Tolong sampaikan perasaanku pada Ayah Tuhan, sampaikan bahwa aku
saaaaannnnggggaaattt merindukan sosoknya yang dulu, bahwa aku ingin dia kembali
menemani ibuku, ingin dia kembali memiliki banyak waktu untuk kami, kembali
menyayangi kami sepenuh hatinya, kembali memperhatikan kami sebanyak dia punya
waktu untuk kami, kembali.........kembali untuk kami Tuhann..... sampaikan juga
kesakitan kami karena tingkahnya Tuhan, dan kami selalu menunggunya Tuhan :’)
Tuhan, aku mohon sekali lagi,
bantu dia merubah dirinya, bantu dia melawan setan yang menggandrunginya, bantu
dia mengingat kenangan-kenangan indahnya bersama kami, bantu dia melepas semua
yang membuatnya berubah, bantu dia mengingat bagaimana panjangnya jalan yang ia
tempuh bersama istrinya dan anak-anaknya, bantu dia mengingat betapa
berharganya kami di matanya sewaktu dulu. Tuhan...secepatnya, aku ingin
secepatnya dia berubah
Tuhan, aku mohon, jangan sampai terlambat, aku mohon Tuhan :’)
Tuhan, kau pasti tau. Suatu malam
aku bermimpi, aku pulang ke rumahku, dengan keadaan rumah yang seperti dulu,
ada ayah ada ibu ada kakak :’) kami semua kembali berkumpul, ayah meminta maaf
atas segala kesalahannya, dan berjanji untuk kembali ke keluarga kami, kami
saling menangis, menangis bahagia, kami terharu, tangis kerinduan, rindu akan
kehangatan yang lama tak kami rasakan. Tapi begitu aku terbangun, aku tersadar
bahwa itu semua itu hanya mimpi semata, sebuah kebahagiaan yang ternyata hanya
ada dalam mimpi. Tuhan taukah, bahkan aku ingin larut dalam mimpiku jika hanya
dalam mimpi lah aku kembali merasakan bahagia itu, bahagia saat kami bersama,
bahagia berkumpul dengan keluarga utuhku, aku rela untuk tak bangun Tuhan.
Bisakah Kau sampaikan mimpiku ini pada dia Tuhan ?? dan pintaku yang terakhir,
tolong Tuhan jangan buat aku terus bermimpi dengan keindahan, buatlah mimpi ini
menjadi kenyataan Tuhann.....
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar