Sabtu, 23 November 2013

Tuhan, ini suratku......



Tuhan, ini suratku.
Ntah hendak kunamai apa dan kuberi pada siapa. Tuhan, aku tak tau betul apa yang hendak kukatakan di surat ini. Tapi Tuhan, aku begitu sakit. Aku terlalu sakit menerima kenyataan ini, aku lelah untuk sakit, aku bosan untuk sakit Tuhan. Tuhan, apa harus aku ? apa harus sesakit dan semenyesakan ini ?
Tuhan, aku sayang dia, tapi aku kecewa atasnya. Aku tau seberapa besar pun kecewaku tak akan bisa rasa itu kan menjadi benci, sebab darahnya mengalir di tubuhku Tuhan, dia orang yang kau titipi untuk menjagaku selama hidupku. Tapi Tuhan, bagaimana dengan keadaannya sekarang ?
Tuhan, semua memang terasa indah di awal. Tapi apa itu artinya aku tak dapat lagi merasakan keindahan dalam lingkup kecil ini, lingkup keluargaku Tuhan. Lingkup keluarga yang dulu mampu membuatku selalu bisa tersenyum bahagia, selalu bisa membuatku merasa aman, membuatku merasa nyaman, lingkup yang membuatku merasa tak pernah kekurangan perhatian, Tuhan.
Tuhan dimana semua itu ?? apa aku tak bisa menemukannya lagi ?? hilangkah ?? Tuhan, jika kini aku tengah berlayar, dimana tepian itu ? dimana tepian yang menjanjikan kebahagiaan, Tuhan ??? harus kuarahkan ke arah mana perahuku agar sampai di tempat itu, tempat bahagia itu ??
Tuhan aku ingin lagi merasakan hangatnya kebersamaan keluarga, hangatnya suasana saat aku, dan keluarga berkumpul dalam ruangan nan mungil itu. Ruang tamu yang sering kami gunakan untuk ruang keluarga, ruang yang selalu hangat di tengah hujan deras sekalipun. Ruangan yang juga sering kami gunakan untuk bercerita akan keseharian masing-masing, bermimpi dengan bayangan indah yang kami buat, tertawa dengan candaan ringan. Tuhan, tak bolehkah aku merasakannya kembali ?? atau mungkin saat kami keluar bersama, saat kami menghabiskan waktu di salah satu pusat perbelanjaan di kota kami, atau saat kami makan malam di luar. Tak bisakah Tuhan ??
Terlalu sakit, ketika mengingat kebahagiaanku dulu yang tak dapat lagi kurasakan, terlalu deras air mata yang mengalir jika ingat kekecewaanku, terlalu sesak jika mengingat kesakitanku, terlalu bosan aku berlaga biasa saja dengan luka di dalam tubuh ini.
Tuhaaannn, aku lelah, aku lelah menangis, aku lelah sakit hati, aku lelah kecewa, aku lelah menahan emosi, aku lelah tersenyum di atas kesakitanku, aku lelah dengan semua ini Tuhan.
Tuhan, tak bolehkah aku meminta untuk Engkau mengembalikan ‘dia’ agar menjadi dirinya yang dulu, mengembalikan dia yang kukenal sama seperti saat dia mengumandangkan adzan di telingaku ketika aku sampai di dunia ini. Dia yang kukenal sangat menyayangi keluarganya, dia yang kukenal rela meninggalkan apapun untuk keluarganya, dia yang memiliki saaaannnnggggaaaatttt banyak waktu untukku, dan keluarganya. Dia yang kukenal sangat menjaga kami, dia yang kukenal sangat memperhatikan kami.
Tuhan, aku rindu, aku rindu belaiannya, aku rindu perhatiannya, aku rindu caranya memanjakanku, aku rindu kata-kata lembutnya ketika berbicara denganku, aku rindu dia yang selalu melindungiku, aku rindu dia yang selalu kubanggakan, aku rindu dia yang selalu bisa membuatku merasa aman, merasa nyaman, dan merasa diperhatikan, aku rindu dia yang selalu berusaha membahagiakanku, aku rindu dia.....dia yang mempunyai baaaaaannnyyyaaakkkk waktu untukku.
Tuhan, belum cukupkah cobaan yang sampai saat ini tak berakhir ?? Tuhan, 4 tahun.! Belum cukupkah ??
Tidakkah kau melihat penderitaan kami ?? kami yang semakin hari semakin di tinggalnya, kami yang semakin hari semakin dilupakannya, kami yang semakin hari semakin kehilangan waktunya, kehilangan sosoknya yang dulu.
Tuhan, tolong kembalikan dia, kembalikan dia untuk kami yang selalu mengharapkan waktunya, kembalikan dia untuk kami, kami yang seharusnya lebih berhak atas dia dibanding wanita itu.!
Tuhan, apa.....apa yang harus aku lakukan agar dia kembali, Tuhan.! Kesakitan seperti apa lagi yang harus ku rasa agar aku bisa merasakan kebahagiaan seperti dulu, agar dia kembali, Tuhann.
Tuhan, tidakkah kau lihat keluargaku sekarang ??? Kami semua terpisah dengan jarak, aku kakak mamah, dan papah yang ntah dimana...Tuhan, jika aku tak boleh lagi bahagia, setidaknya kembalikan lagi dia untuk istri sah-nya. Aku hanya tak ingin lagi melihat penderitaan istrinya itu, istrinya yang mengandungku selama 9 bulan, Tuhan. Aku hanya ingin melihat kedua orang tuaku kembali seperti dulu lagi, aku ingin ibuku tak sendiri lagi, menunggu kepulanganku atau kakaku. Tuhan, hanya itu.....setidaknya aku bisa melihat mereka bahagia lagi, cukup Tuhan :’)
Tuhan, jika boleh aku kembali minta tolong. Tolong sampaikan perasaanku pada Ayah Tuhan, sampaikan bahwa aku saaaaannnnggggaaattt merindukan sosoknya yang dulu, bahwa aku ingin dia kembali menemani ibuku, ingin dia kembali memiliki banyak waktu untuk kami, kembali menyayangi kami sepenuh hatinya, kembali memperhatikan kami sebanyak dia punya waktu untuk kami, kembali.........kembali untuk kami Tuhann..... sampaikan juga kesakitan kami karena tingkahnya Tuhan, dan kami selalu menunggunya Tuhan :’)
Tuhan, aku mohon sekali lagi, bantu dia merubah dirinya, bantu dia melawan setan yang menggandrunginya, bantu dia mengingat kenangan-kenangan indahnya bersama kami, bantu dia melepas semua yang membuatnya berubah, bantu dia mengingat bagaimana panjangnya jalan yang ia tempuh bersama istrinya dan anak-anaknya, bantu dia mengingat betapa berharganya kami di matanya sewaktu dulu. Tuhan...secepatnya, aku ingin secepatnya dia berubah Tuhan, aku mohon, jangan sampai terlambat, aku mohon Tuhan :’)
Tuhan, kau pasti tau. Suatu malam aku bermimpi, aku pulang ke rumahku, dengan keadaan rumah yang seperti dulu, ada ayah ada ibu ada kakak :’) kami semua kembali berkumpul, ayah meminta maaf atas segala kesalahannya, dan berjanji untuk kembali ke keluarga kami, kami saling menangis, menangis bahagia, kami terharu, tangis kerinduan, rindu akan kehangatan yang lama tak kami rasakan. Tapi begitu aku terbangun, aku tersadar bahwa itu semua itu hanya mimpi semata, sebuah kebahagiaan yang ternyata hanya ada dalam mimpi. Tuhan taukah, bahkan aku ingin larut dalam mimpiku jika hanya dalam mimpi lah aku kembali merasakan bahagia itu, bahagia saat kami bersama, bahagia berkumpul dengan keluarga utuhku, aku rela untuk tak bangun Tuhan. Bisakah Kau sampaikan mimpiku ini pada dia Tuhan ?? dan pintaku yang terakhir, tolong Tuhan jangan buat aku terus bermimpi dengan keindahan, buatlah mimpi ini menjadi kenyataan Tuhann.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar