“Apa kau merindukan aku ?”
“Untuk apa kau tanyakan itu ?”
“Aku hanya ingin tau bagaimana
perasaanmu saat ini padaku.”
“Pertanyaan konyol”
Dia tertawa renyah mengatakan jawaban
terakhirnya di tengah kesibukanku mencari makna dari setiap jawabannya. Ini
pertemuanku kedua kalinya setelah saat tak sengaja aku bertemu dengan dirinya
di sebuah toko buku di salah satu mall di Jakarta. Saat itu aku hendak
mengambil novel yang selama ini kucari, tapi sayangnya dia juga menginginkannya,
dan saat itulah tangan kami bertemu untuk kemudian mata kami mencari si pemilik
tangan yang tengah memegang novel yang kami perebutkan.
‘Adit.’
Gumamku lirih kalau-kalau ternyata salah orang. 2 tahun aku tak bertemu
dengannya wajar saja, jika mungkin orang yang ada didepanku hanyalah memiliki
kemiripan dengan Adit.
‘Stella.?’ Balasnya, Yah ternyata benar dia.
Kami saling bertatapan, matanya sungguh tak berubah, mata yang dulu selalu
kutatap, hanya penampilannya yang sedikit berbeda, dia terlihat lebih rapi
dengan balutan kemeja biru dipadu dengan dasi silver, dan celana hitamnya.
‘Hey, stel. Kau sudah menemukan
novelnya.?’ Tanya
temanku yang menemaniku mencari novel.
‘Ah, emm. Sudah tapi.....’ Jawabku gelagapan setelah dapat menguasai diri dari tatapanku
dengan Adit saat itu.
‘Tapi apa.?’ Tanyanya,
aku menoleh ke arah Adit yang kutau dia juga menginginkannya.
‘Untukmu saja.’ Jawabnya menyerahkan novel itu.
‘Tapii....’ kataku menggantung.
‘Tapi apa ? aku tak terlalu menginginkannya., ambil saja.’ Katanya lagi, akupun menerimanya.
‘Stella Cornelia, ayolah. Sebelum kita diketahui banyak orang.’ Lagi temanku mengusikku ketika aku
bertatapan dengannya.
‘Aku ingin berbicara banyak denganmu. Aku tunggu Di Cafe Royal besok
sore.’ Kataku
padanya sebelum akhirnya berpamitan.
“Aku serius.” Lanjutku mengubah
posisi dudukku sedikit lebih maju.
“Jawabanku pun bahkan tak akan
merubah status kita.” Jawabnya santai memainkan sedotan minumannya.
“Setidaknya aku tau perasaanmu, dan
aku bisa menjaga hatiku untukmu.” Jawabku terang-terangan.
“Percuma.” Singkatnya membuang
pandang ditengah tatapan dalamku untuknya.
Ahh, sikapnya masih saja seperti ini
padaku, dia sama sekali tak berubah sejak terakhir kali aku berbincang
dengannya, 2 tahun lalu tepatnya.
“Apa kau sama sekali tak merindukan
aku.?” Telusurku masih menatapnya, guratan kecewa pasti terlihat dimataku saat
ini.
“Jangan tanyakan itu, kau tau pasti,
aku merindumu di setiap hariku.” Jawabnya menyamai posisi dudukku, hingga jarak
kami tak lagi jauh seperti sebelum ini.
“Lalu mengapa kau tak pernah datang
di setiap performanceku?” Tanyaku meminta pertanggung jawaban atas jawabannya
sendiri.
“Untuk apa?” Dia balik bertanya dan
kembali menyandarkan tubuhnya di tempat dia duduk. Gayanya sungguh mengesalkan,
seolah meremehkanku.
“Setidaknya kau bisa melepas rindumu,
Adit.” Jawabku mencoba tetap santai. Dia sedikit menegakan tubuhnya tapi tetap
bersandar di sandaran kursinya.
“Aku merindumu atas nama ‘Stella
Cornelia’, bukan ‘Stella’ dengan embel-embel nama tenarmu itu.” Jawabnya
memainkan tangannya di meja yang memisahkan posisi duduk kami.
“Tapi mereka sama Al, dan itu aku.” Jawabku
kesal dan menyandarkan tubuhku keras ke sandaran kursiku. Beberapa saat suasana
hening, dia tak kunjung berucap, aku pun lelah terus menanyainya. Yah, memang benar
katanya. Dia tak layak merindukanku atas nama ‘Stella JKT48’ beserta embel-embel
lainnya yang bahkan dia tak pernah mengenalnya, tapi bukankah kami itu sama,
‘Stella Cornelia’ dan ‘Stella JKT48’ itu sama saja.
“Hmmh, apa kau sama sekali tak ingin
melihat performanceku secara langsung.?” Tanyaku mengalah. Dia menenggak
minumannya sedikit.
“Kau pun tak akan tau jika aku
hadir.” Jawabnya membuatku semakin kesal saja.
“Aku bisa mencarimu di kerumunan
penggemarku.” Jelasku menegakkan posisiku untuk kemudian kembali
menyandarkannya.
“Sayangnya kau telah berubah.”
Jawabnya menatapku dalam.
“Aku tak pernah merubah diriku,
apalagi perasaanku.” Jawabku mengangakat tanganku menunjukan ‘inilah aku’
“Dulu, aku bisa dengan bebasnya
menemuimu Stel , dan sekarang kau minta aku ikut berjejal dikerumunan
penggemarmu.” Jelasnya, aku tercengang. Menatapnya kembali dengan rasa kecewa.
“Apa kau tak mau berjuang demi untuk bertemu
aku ? Bahkan penggemarku rela berpanas-panasan dan mengantri hanya untuk
melihat perfomanceku.” Emosiku terpacu karna jawabannya.
“Kalaupun aku harus berjuang, aku
lebih memilih hidup tanpa cinta untuk menunggumu daripada harus berjejal
bersama mereka yang ingin melihatmu dengan tanpa kepastian darimu.” Jawabnya tak
begitu meyakinkan, tapi cukup untuk menurunkan kadar emosiku.
“Tapi mengapa kau sama sekali tak
menyapaku, lewat account twitter ku misalnya.” Tanyaku kembali menelusurnya.
“Aku tau pasti ribuan sapaan sudah
diucapkan penggemarmu. Sapaanku pun mungkin tak akan terlihat dan menjadi
special untukmu, lagi pula kau pun tak akan membalasnya bukan?” Jawabnya seolah
membuat titik dalam bahasan ini.
“Oke, lantas mengapa kau sama sekali
tak menghubungiku ?” Tanyaku kembali merubah bahasan tadi.
“Aku tak mau mengganggu kesibukanmu.”
Jawabnya santai.
“Hey, aku tak setiap waktu sibuk.”
Aku mencoba merubah jalan fikirnya.
“Lalu apa aku harus menghubungimu di
waktu luangmu, yang bahkan aku pun tak tau kapan itu.” Masih dengan nada
santainya dia menjawab pertanyaanku yang seolah hanya pertanyaan remeh.
“Setidaknya kau bisa mengirimku
pesan, dan pasti akan kubalas jika aku sudah tak sibuk.” Cobaku lagi.
“Aku hanya tak mau kau lebih
mementingkan pesanku daripada waktu istirahatmu.” Lagi dia membuat titik dalam
bahasan ini, aku terbungkam lagi dengan jawabannya.
“Lantas, apa ini artinya kau tega
membiarkan aku perlahan terkikis rinduku ini?” tanyaku menyimpulkan dari semua
jawaban-jawabannya.
“Ini keputusan yang kau ambil
bukan.?” Jawabnya sekaligus bertanya, menyindir kurasa. Otakku jadi kembali
pada 2 tahun silam.
‘Apa yang ingin kau bicarakan, kau terlihat sedih, mengapa kau mengajakku
bertemu saat ini.’
Tanyanya begitu aku sampai di tempat janjianku.
‘Aku ingin jujur padamu.’ Balasku tak berani menatap wajahnya.
‘Aku pasti menerima kejujuranku.’ Katanya meraih tanganku dalam genggamannya.
‘Aku
harus ke Jakarta memenuhi panggilan management yang telah mengontrakku untuk
menjadi artisnya.’ Ungkapku masih tertunduk, jujur saja. Ini moment
terberatku saat aku harus jujur padanya.
‘Ah, baguslah. Ini mimpimu selama ini bukan?’ Jawabnya dengan tampang gembira yang
dibuat-buat.
‘Tapi...’ Aku
menggantungkan kalimatku, mencoba menatap matanya.
‘Tapi apa ?’
Tanyanya begitu ingin tahu.
‘Tapi dalam managementku, setiap artisnya dilarang memiliki hubungan
khusus dengan lawan jenisnya.’ Kataku akhirnya, genggaman tangannya melemah hingga akhirnya
tanganku terlepas juga. Dia membuang pandangnya, menghindar dari tatapanku.
‘Tapi, aku janji tak akan ada cinta lain dalam hatiku.’ Kataku meyakinkannya. Beberapa saat
suasana hening, kami saling terdiam.
‘Kau tak perlu berjanji, aku tau itu.’ Ucapnya menyimpan tangannya di pundakku.
‘Kejar mimpimu, aku tau kau sangat menginginkannya. Aku akan menunggumu
disini Stella.’
Lanjutnya dengan senyum khasnya.
‘Benarkah kau merelakanku .?’ Aku memastikannya, menatap matanya dengan pandangan buram
tertutup genangan air.
‘Untuk mimpimu Stell.’ Jawabnya menebar kembali senyumnya. Aku memeluknya, dan
sudah dapat dipastikan genangan air di mataku tumpah juga dipundaknya.
“Tapi bukan berarti kau harus
membiarkan ku beku karna rinduku.” Elakku atas pernyataannya yang jelas
menyindirku.
“Bahkan aku pun menjadi lemah karna
rinduku.” Jawabnya sedikit menundukkan kepalanya. Benarkah jawabnya, bahkan dia
terdengar sangat melemah. Aku memang kesal dengan nada bicaranya sedari tadi
yang seolah terus menyalahkanku. Tapi matanya tak dapat menyembunyikan sebuah
binar kebahagiaan dalam hatinya.
“Apa sekarang kau senang bertemu
denganku.” Tanyaku memintanya kembali jujur.
“Bahkan aku tak ingin waktu berjalan
untuk saat ini.” Jawabnya tak langsung meng’iya’kan tapi cukup untukku membuat
kesimpulan perasaannya. Aku menyamankan posisi dudukku menunggunya yang seperti
ingin kembali berbicara.
“Bahkan dari semalam aku tak bisa
tidur, aku tak sabar menunggu esok datang.” Katanya terang-terangan, cukup
menarik ujung bibirku dan mengulaskan sebuah senyuman.
“Aku bahkan sangat bahagia ketika
kemarin bisa menatap matamu kembali. 2 tahun aku tak dapat melakukannya, dan
saat itu jujur saja aku sangat ingin memelukmu, tapi aku sadar kau saat ini
adalah seorang publlic figur yang tidak bisa dengan bebasnya melakukan apa saja
di depan umum.”
“Tapi toh dengan aku melihat kau baik-baik
saja pun aku cukup bahagia.” Ungkapnya menerawang hari kemarin, saat kami
bertemu di toko buku.
“Ngomong-ngomong, apa kau juga suka
novel itu.?” Tanyaku sekaligus menebaknya.
“Tidak.” Jawabnya menggeleng pelan.
“Lantas.?” Keningku berkerut begitu
saja mendengar jawabannya.
“Aku tau kau suka novel itu, dan aku
berencana membelikannya untukmu dengan uangku sendiri.” Katanya tak berani
menatapku.
“Kau bekerja disini.?” Tanyaku
mengalihkan.
“Yah, mencari kegiatan lain di kota
orang.” Jawabnya enteng kembali memainkan tangannya di meja.
“Dimana ? apa ada yang mau menerima
orang sepertimu ?” Gurauku menopang daguku dengan tangan kananku yang
kusandarakan di meja yang sama.
“Aku juga tak percaya, direktur di
perusahaan tempat kerjaku, mengangkatku menjadi manager.” Jelasnya santai
mengatakan jabatannya sebagai seorang ‘manager’ yah kuulang ‘MANAGER’.
“Oh, jadi kau sekarang seorang manager.”
Aku mengulangnya kalimatnya.
“Yah, setidaknya aku bisa memiliki
bekal untuk mimpiku.” Katanya merendah mengulas sedikit senyum.
“Apa mimpimu ?” Aku penasaran dan megangkat
tangan kiriku untuk ikut menopang daguku.
“Membawamu ke KUA.” Jawabnya
diselingi senyum yang tak dapat kupastikan itu serius atau hanya gurauan.
“Menemuiku pun kau tak mau, apalagi
membawaku ke KUA, pengecut kau.” Gurauku dengan tawa ringan membanting lembut
tubuhku ke sandaran kursi.
“Kalau aku pengecut, tak mungkin aku
menemuimu disini dan menjawab segala pertanyaan konyolmu itu Stella.” Katanya
tersenyum dengan khasnya.
“Itu pun karena aku yang memintamu
bukan.” Elakku mendekatkan wajahku.
“Yah, setidaknya jika aku hendak di
pukuli managementmu karena beraninya menemuimu di cafe ini aku memiliki alasan
karena kau yang mengajakku.”
“Apalagi kalau bukan pengecut
namanya.” Sindirku.
“Aku tau segala peraturan yang
menghalangimu untuk bertemu denganku Stell.” Katanya sok tau.
“Kita bisa bertemu diam-diam seperti
ini kan.? Dan pasti tak akan ketahuan managementku.” Usulku.
“Tapi aku bisa mati dikeroyok ribuan
penggemarmu.” Jawabnya mencari alasan lain.
“Pandai sekali kau beralasan.”
Cibirku memandangnya remeh.
“Oke, tapi apa kau rela aku mati
hanya untuk bertemu denganmu, sedangkan masih banyak cara agar kita bisa
bersama.?” Tanyanya berhasil mengena di hatiku.
“Aku hanya ingin tau seberapa besar
perjuanganmu dan pengorbananmu untukku.” Aku mengutarakan maksudku, menegakkan
posisi dudukku, dan meletakkan kedua tangannku di atas meja, bersiap untuk
kembali berdebat.
“Apa selama ini perjuanganku tak
cukup untukmu ?” Tanyanya mendekatkan wajahnya.
“Perjuangan yang mana?” Tanyaku
mempertemukan kedua alis mataku.
“Oke, Bukan aku perhitungan. Tapi apa
belum cukup aku menunggumu selama ini, menjaga hatiku untukmu, menolak cinta
yang datang menggodaku, menahan rinduku untukmu.?”
“Mungkin itu tak seberapa, tapi apa
kau tau perjuanganku menahan kecemburuanku, ketika kau dikelilingi
penggemar-penggemarmu yang notabene itu lawan jenismu, ketika mereka menyapamu
dengan kata-kata manis mereka, ketika mereka menyatakan rasa sayangnya, dan
ketika kau dengan lantangnya membanggakan mereka, ketika kau bersikap manja
dengan penggemarmu, mencari perhatian mereka, kau pikir aku tak cemburu.?” Jelasnya
agak berbisik dengan posisi tetap seperti tadi.
“Kau memperhatikanku.?” Kembali aku
terheran atas jawabannya, bagaimana dia bisa tau semua itu, sedangkan aku tak
pernah tau jika sebenarnya dia memerhatikanku.
“Aku tau segala info tentangmu, aku
mengikuti setiap kabarmu, aku melihat performancemu lewat layar kaca yang
kupunya, aku tak pernah ketinggalan segala tentangmu.” Lanjutnya masih dengan
nada bicara santainya.
“Fans layar kaca.” Cibirku. Ah
ternyata dia tak jauh beda dengan penggemar-penggemarku yang sering kulihat,
tapi yang mengherankan, aku sama sekali tak tau dia turut mencari infoku, aku
terlalu buta mungkin (?)
“Hah, aku lebih memilih mengantongi
uangku untuk masa depan kita.” Dia menyandarkan kembali tubuhnya.
“Aku tak mau dengan pengecut
sepertimu.” Jawabku dengan senyum sinis, yah kurasa begitu.
“Stella Cornelia, sayangnya kau
mencintaiku sebagai seorang pengecut.” Katanya seraya menegakkan tubuhnya dan
meraih tanganku untuk digenggamnya.
“Aku...” Aku hendak berbicara, tapi
sepertinya aku bisu mendadak karena genggaman tangannya yang bahkan terasa
sangat hangat.
“Aku hanya ingin kau fokus dengan
mimpimu, aku sama sekali tak mau jika aku hadir di hidupmu aku akan merusak
karirmu.” Katanya memotong kalimatku, dan sekaligus menyelamatkanku dari acara
gelagapanku tadi.
“Aku hanya menunggu waktu yang tepat
untuk menemuimu, aku pun sedang berjuang meraih suksesku. Awalnya aku ke
Jakarta untuk bisa menemuimu, tapi akhirnya setelah kufikir-fikir, aku ingin
bertemu jika kita sudah sama-sama dewasa dengan tidak mencampurkan urusan cinta
dengan karier. Aku ingin terlebih dahulu sukses sebelum menemuimu.” Jelasnya
panjang lebar, menatap dalam mataku. Dan sialnya, aku dibuat salah tingkah
karena sikapnya.
“Dan sekarang kita bertemu, aku harap
kita bisa lebih dewasa.” Lanjutnya diakhiri senyum khas yang kutau itu hanya
miliknya.
“Lalu bagaimana dengan hubungan kita
sekarang ?” Tanyaku setelah berhasil menguasai diri dari tatapannya.
“Aku akan menunggumu, sampai kau bisa
memiliki hubungan denganku, dan aku bisa memilikimu seutuhnya.”
--End--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar