Hari berikutnya, aku dan Sonia sedang menonton TV di ruang
keluarga. Melepas lelah kegiatan hari ini.
“Wa bukain pintu.. ada yang mencet bell.” Perintahku begitu
mendengar bunyi bell rumahku.
“Ih tinggal buka sendiri kok.” Protesnya tak berganti posisi
sedikitpun.
“Yee disuruh malah nyuruh balik. Udah sonoh buka.” Perintahku
kesekian kali.
“Huh, bawel amat deh.” Omelnya seraya berjalan menuju pintu
utama. Sedangkan aku tetap asik dengan TV dan cemilanku.
“Kok lama banget.” Gumamku mengingat Sonia. Kudengar sedikit
keributan di luar.
“Siapa Wa.?” Teriakku dari tempatku, tak ada jawaban aku pun
menghampirinya.
“Siapa sih wa, berisik amat.?” Tanyaku ketika hampir sampai di
depan pintu. Belum sempat Sonia menjawab aku lebih dulu mengetahui siapa yang
datang dan membuatku tertegun dan dengan tajam menatapnya.
“Tuhh ci, dia kan yang kemaren sama Kak Adit.” Ucap Sonia
mengadu. Aku masih menatap tajam dia yang berdiri di ambang pintu.
“Aku mau ngomong bentar sama Kak Stella.” Ucapnya begitu
melihatku. Aku masih menatapnya tajam, dia membalas tatapanku dengan tatapan
penuh harapnya.
“Loe masuk wa, biar gue ngomong sama dia.” Perintahku yang
segera di patuhi Sonia. Aku pun berjalan keluar dan duduk di kursi yang telah
disediakan di luar, Shania mengikutiku dan duduk dihadapanku.
“Ngapain loe kesini.?” Tanyaku dengan nada yang tak bersahabat.
“Aku ke sini mau minta maaf dan ngejelasin semuanya.” Ucapnya
tak berani menatapku.
“Aku tau dan aku yakin Kak Stella pasti marah sama aku, tapi aku
punya alesan kak.” Lanjutnya.
“To the point aja lah.” Ucapku malas, tak menatapnya.
“Ok, aku mau ngejelasin semuanya, tapi nggak disini. Aku mau
ngajak Kak Stella ke suatu tempat.” Jawabnya.
“Gue nggak punya banyak waktu.” Aku mulai tak sabar.
“Pliis ka, ok kak stella marah sama aku, tapi aku mohon kali ini
kak Stella mau ikut aku. Kali ini aja kak.” Pintanya dengan wajah memelas.
Sejenak kami terdiam, aku masih memikirkan permintaannya.
“Ok, gue ganti baju dulu.” Ucapku dan langsung beranjak masuk
untuk mengganti pakaianku.
Aku pun mengikuti apa yang Shania inginkan.
Kini aku sedang berada dalam mobil yang cukup mewah dengan supir yang
menjalankannya. Aku duduk bersebelahan dengan Shania, tapi sama sekali tak ada
pembicaraan yang keluar dari mulut kami. Keadaan sangat hening, hanya suara
kendaraan diluar saja yang samar-samar terdengar. Hingga akhirnya mobil ini
berhenti di rumah yang mewah, dan jelas aku sangat mengenal rumah ini.
“Ngapain kita ke sini.?” Tanyaku seolah tak trima Shania
membawaku ke sini.
“Biar aku jelasin di dalem kak.” Ucapnya segera keluar dari
mobil, dengan rasa ingin tauku akupun keluar dari mobil dan mengikutinya.
“Kak Stella pasti tau kan ini rumah Kak Adit.?” Tanyanya seraya
membuka pintu utama rumah ini.
“Iya lah.” Jawabku masih heran, mengapa dengan mudahnya dia
masuk ke rumah Kak Adit. Kami terus berjalan mengelilingi rumah ini, hingga dia
membawaku ke suatu ruangan. Aku memutar pandanganku ke sekeliling ruangan ini,
banyak bingkai-bingkai foto yang terpampang di dinding ruangan ini, ada foto
Kak Adit disana, ada fotonya bersama orang tuanya dan tunggu ada foto Shania juga
bersama Kak Adit.
Aku menatap Shania meminta penjelasan.
“Ini ruang keluarga, itu ada foto Kak Adit sama Mamah Papah dan
Aku.” Jelasnya santai tersenyum memandangi foto-foto itu.
“Maksudnya loe itu.???” Tanyaku
“Iya, seperti yang ada dalam pikiran Kak Stella sekarang.”
Jawabnya mampu menebak pikiranku.
“Ayoo, masih belum selesai.” Ajaknya kembali berjalan dan aku
dengan bodohnya mengikutinya. Dia mengajaku ke sebuah kamar
“Ini kamar aku.” Ucapnya membuka pintu kamarnya, dan terlihat
olehku kamar yang rapi wallpaper besar di atas tempat tidurnya bergambarkan
dirinya. Beberapa bingkai foto pun terpajang disana, ada fotonya bersama
teman-teman SMPnya, foto bersama orang tuanya, Kak Adit, dan ada juga fotonya
denganku. Aku seolah tercengang, bahkan dia memajang fotoku dengannya. Aku
menatapnya, dia hanya tersenyum ke arahku.
“Masih ada satu ruangan lagi.” Ucapnya mengajakku keluar
kamarnya. Dan membawaku ke kamar disebelah kamarnya.
“Pasti udah ketebak kamarnya siapa.?” Tanyanya sebelum
membukakan pintu kamar ini.
“Siapa.? Kak Adit.?” Tanyaku memastikan. Dia hanya tersenyum dan
membukakan pintu kamar ini.
“Liat aja sendiri.” Ucapnya seraya membuka pintunya.
Jantungku seolah berhenti melihat apa yang ada didepan mataku.
Sebuah wallpaper yang mirip dengan yang ada di kamar Shania,
bergambarkan aku dan Kak Adit dengan beberapa editan dan sebuah
tulisan ‘My
Gril My Last Love’ membuat gambar terlihat sangat romantis.
“Ayo masuk.” Ajak Shania melihatku yang tertegun di ambang
pintu. Aku melihat sekeliling kamar ini, hanya ada foto aku, dan kak Adit. Bahkan
foto diriku sendiri di kamarku pun tak sebanyak fotoku di kamar Kak Adit. Ada
foto dimana aku baru mengenalnya, mulai dekat dengannya, hari dimana dia
menembakku, dan segala moment ada di dinding kamar ini. Air mataku tak
tertahankan, terjatuh juga memandang foto-foto bahagiaku bersama Kak Adit.
“Kenapa nangis.? Sekarang Kak Stella tau kan, betapa berharga,
betapa pentingnya Kak Stella di hidup Kak Adit, bahkan foto Kak Stella yang
mungkin Kak Stella sendiri nggak punya pun ada disini.” Ucapnya membuat air
mataku terus mengalir.
“Kenapa loe baru ngasih tau gue sekarang.? Kenapa loe nggak
pernah bilang kalo loe adik Kak Adit.? Terus dimana Kak Adit sekarang.?”
Tanyaku merasa dibohongi.
“Ayo, ada satu lagi yang mau aku tunjukin sama Kak Stella.”
Ucapnya mengabaikan pertanyaanku.
“Jawab dulu.! Selama ini gue Cuma loe bohongi Shan.?” Seruku
menatapnya tajam.
“Ikut aku, aku akan jelasin semuanya nanti.” Katanya sangat
santai dan menggandengku keluar kamar Kak Adit dan keluar rumah ini. Kami
kembali menaikki mobil tadi, menuju suatu tempat yang aku sendri belum tau.
“Kenapa rumah sakit.?” Tanyaku begitu mobil berhenti di depan
rumah sakit, jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya, perasaan tidak enak
menggandrungiku, hati mulai cemas, fikiran negative datang begitu saja.
“Ada yang mau aku tunjukkin.” Ucapnya santai seraya keluar dari
mobil, dengan segudang pertanyaanku aku pun mengikutinya. Kami terus berjalan
menyusuri lorong-lorong rumah sakit ini, hingga akhirnya Shania menghentikan
langkahnya tepat di depan sebuah kamar.
“Nggak ada yang boleh masuk, karena keadaanya lagi kritis.”
Ucapnya menyembunyikan wajahnya, tanpa banyak kata aku menengok siapa orang
yang didalam. Aku hanya dapat melihatnya dari kaca yang tak begitu besar yang
terpasang di tengah pintu kamar ini. Tak begitu jelas wajah orang itu karena
separuh wajahnya tertutupi oleh alat bantu pernafasan. Tapi batinku mengatakan
itu adalah sosok yang kukenal selama ini.
“Itu bukan Kak Adit kan Shan.?” Tanyaku memastikan.
“Itu Kak Adit Kak.” Jawabnya dengan suara paraunya, mataku kembali terasa panas, air matapun telah mengalir di pipiku.
“Kak Adit kena leukemia. Stadium akhir, umurnya nggak lama lagi
kak.” Jelasnya,seketika dada ini sesak.
“Kak Adit mutusin Kak Stella bukan karena dia nggak sayang sama
kakak, tapi Karena dia nggak mau Kak Stella punya pacar penyakitan dan hidupnya
udah nggak lama lagi.”
“Tapi dia juga nggak mau Kak Stella
kesepian, dan terus terpuruk mikirin dia, makanya Kak Adit nyuruh aku muncul ke
kehidupan kak Stella, buat ngehibur kak Stella, bantu Kak Stella nglupain kak
Adit, jagain Kak Stella, sekaligus biar Kak Adit tau kabar tentang Kak Stella.
Karena sebenarnya kak Adit itu nggak mau Kak Stella kenapa-kenapa. Semua
pertemuan kita, semua yang aku lakuin ke kakak itu semua rencana Kak Adit. Dari
mulai aku tau Kak Stella suka ke danau, ke taman, dan kakak suka ketoprak itu
kak Adit yang ngasih tau.” Lanjutnya membuatku tertegun, tak percaya akan semua
penjelasannya.
“Tapi Kak Adit masih bisa sembuh kan, Shan.?” Tanyaku dan
langsung dijawab dengan gelengan lemah kepalanya, dadaku semakin sesak atas
jawabannya.
“Kak Stella masih bisa nyalahin dia kak.?” Tanyanya, menyindir kurasa.
“Cinta Kak Adit besar buat Kak Stella, bahkan dia lebih
mementingkan perasaan Kak Stella dari pada dirinya Kak.”
“Kak Stella inget, waktu anniversary hubungan kalian, Kak Stella
nyari Kak Adit ke rumah, ke kantor tapi nggak ketemu.? Kak Stella tau Kak Adit
dimana.? Kak Adit di rumah sakit Kak, dia lagi bertarung sama penyakitnya, dan
Kak Stella masih bisa ngediemin dia.??” Ucapnya membuatku menyesal. Aku masih
memandangi Kak Adit yang tengah berbaring lemah di ranjangnya.
“Dan apa yang Kak Adit lakukan saat dia sadar dan baca sms dari
Kak Stella.?? Dia maksa bangun buat nemuin Kak Stella.! Dia nggak perduli
tubuhnya yang saat itu sangat lemah Kak!! Tapi untung Dokter bisa nenangin dia,
dan janji bahwa malamnya Kak Adit bisa keluar dari rumah Sakit ini. Makanya Kak
Adit janji sama Kakak buat ketemu di taman malam itu dan udah nyiapin kejutan
buat Kakak.” Dia memberi jeda pada penjelasannya, aku menunggu lanjutannya.
“Nyatanya... iya Kak
Adit bisa keluar buat nemuin Kakak, tapi baru beberapa langkah dia keluar dari
rumah sakit dia kembali pingsan, keadaanya kritis lagi.” Kali ini, aku benar
benar merasa bahwa aku lah orang terjahat di dunia ini. Aku masih bisa
menyalahkan Kak Adit sedangkan dia sedang berjuang dengan penyakitnya.
“Kenapa dia nggak pernah bilang sama gue kalo dia punya penyakit
yang bahaya itu.? Kenapa
dia nggak ngasih tau yang sebenarnya, kenapa dia malah mutusin gue.?” Tanyaku
ditengah rasa sesalku.
“Aku pun tau Kak Adit punya penyakit itu setelah aku liat dia
pingsan waktu mau jemput Kak Stella, dan aku bawa dia kerumah sakit. Dia nggak
pernah mau bikin orang khawatir, dia takut orang menjauhinya kalau mereka tau
Kak Adit punya penyakit itu.” Jelasnya lagi.
“Terus yang kemaren.?” Tanyaku lagi.
“Kemaren Kak Adit minta ke taman, karena keadaanya yang emang
lagi bagus, dokter akhirnya ngasih ijin. Kak Adit minta ke taman karena dia
ngrasa umurnya udah nggak lama lagi, jadi dia mau ngunjungin tempat yang dulu
sering dia kunjungi sama Kak Stella, katanya juga Kak Adit kangen sama Kak
Stella, jadi buat ngobatin kangennya, dia Cuma bisa ke taman nginget masa lalu
kalian. Tapi malah yang ada salah paham kaya gini.”
“Dan kalo kemaren Kak Stella marah
gara-gara Kak Adit nggak ngejar Kak Stella, yang perlu Kak Stella tau keadaanya
sangat lemah, baru beberapa langkah dia jatuh terus pingsan, dan karena itu
keadaanya memburuk, sampai sekarang dia belum sadar.” Jelasnya lagi semakin
membuatku merasa bersalah. Aku terus memandangi tubuh Kak Adit dari tempatku,
air mataku seolah tak ada habisnya menangisinya.
“Sekarang Kak Stella udah tau kan semuanya.? Maafin aku yang
baru jelasin ini sekarang, maafin aku yang mungkin sempet bikin Kak Stella
kecewa, maafin aku juga kalau tadi aku ngebentak Kak Stella.” Ucapnya
menundukkan kepalanya.
“Gue mau masuk Shan.” Ucapku seraya mencoba membuka pintu
ruangan ini.
“Kak nggak ada yang boleh masuk selain dokter.!” Cegahnya menarik
tubuhku menjauh dari pintu. Aku semakin menangis, tubuhku terasa sangat lemas,
kakiku pun rasanya tak sanggup menahan tubuhku, hingga aku terjatuh.
“Gue nyesel Shan. Gue Nyesel. Gue pengen ketemu Kak Adit, gue
mau minta maaf.” Ucapku ditengah tangisanku.
“Nggak ada yang perlu disesali dan di maafkan Kak.” Katanya menenangkan
seraya memelukku.
Malam harinya aku diantarkan pulang oleh Shania
dan supirnya. Shania memaksaku untuk pulang dan beristirahat, dengan janjinya
jika terjadi apa-apa dengan Kak Adit dia akan menelfonku. Sesampainya dirumah
aku segera saja masuk ke kamar, aku yakin Sonia tlah menungguku.
“Darimana aja ci baru pulang.” Tanya Sonia menatapku begitu aku
membuka pintu kamar.
“Dari rumah sakit.” Jawabku lemah dan langsung membaringkan tubuhku
di kasur.
“Siapa yang sakit.? Ci Stell nggak apa-apa kan.?” Tanyanya
khawatir.
“Nggak gue nggak papa kok. Tadi abis njengukin Kak Adit.”
Jawabku jujur.
“Kak Adit.? Emang Kak Adit kenapa.? Kak Adit sakit apa Kak.?”
Tanyanya bertubi-tubi.
“Critanya panjang, sekarang loe tidur aja yah.” Perintahku dan
diikuti Sonia yang langsung membaringkan tubuhnya disampingku.
Aku menatap langit-langit kamarku, berkali-kali aku memejamkan
mata, tapi hasilnya aku masih saja belum bisa tidur. Bayangan Kak Adit jelas terlihat
disana, senyumnya terus berputar-putar diotakku.
***
Pagi pun datang kali ini aku bangun lebih awal dari biasanya,
padahal semalam aku tidur sangat larut. Aku tlah berpakaian rapi, memandang
diriku di cermin, mataku sedikit membengkak, mungkin karena efek semalam
tertidur dalam keadaan menangis.
“Pagi ci.!” Seru Sonia yang masuk ke kamar tiba-tiba.
“Tumben nyapa gue. Biasanya juga pagi-pagi udah ngomel.” Tanyaku
seraya menyisir kembali rambutku.
“Kan hari ini bukan hari biasa. Lagian juga Ci Stell udah
bangun. Nggak perlu ngomel-ngomel deh.” Jelasnya berdiri di belakangku, aku
menatapnya lewat bayangannya di cermin.
“Loe tuh ada-ada aja.” Aku tertawa melihat sikapnya yang sangat
kekanakan.
“Happy Birthday, happy sweet seventeen Ci Stella.” Ucapnya
seraya berpindah tempat ke hadapanku.
“Happy birthday.???” Tanyaku mengingat kembali tanggal dan bulan
hari ini.
“Lupa apa lupa nih.?” Tanyanya menyindir. Aku baru ingat hari
ini tanggal 3 November, itu adalah hari ulang tahunku.
“Lupa, iya gue baru inget, kalo gue ulang tahun hari ini.”
Jawabku datar menatap kosong diriku di cermin.
“Kok biasa aja.?” Tanyanya Nampak kecewa. Aku menatapnya sedetik
kemudian tersunggingkan senyum di bibirku.
“Makasih yah Wa, loe yang pertama, dan loe yang inget kalo hari
ini sweet seventeen gue.” Ucapku berdiri dan memeluknya. Buliran air mata ini
mulai keluar, ntah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi sangat cengeng.
“Iya, yang penting jangan lupa aja makan-makannya. Hehe.”
Ucapnya dalam pelukanku.
“Ya udah akh, yukk berangkat.” Ajaknya melepas pelukannya.
Kami pun berangkat pagi itu, meski hari ni
adalah ulangtahunku, tapi aku masih saja belum bisa bahagia. Bagaimana mungkin
aku bahagia, sedangkan orang yang kucintai sedang bertarung memperjuangkan
hidupnya. Sekolah hari ini berlangsung seperti biasa, aku masih duduk
bersebelah dengan Melody, masih terus mengikuti pelajaran walaupun dengan
pikiran yang entah kemana.
“Stell, kenapa sih loe.? Nglamun mulu dari tadi.” Tegur Melody
ketika jam istirahat datang.
“Nggak kok gue nggak papa.” Jawabku seadanya.
“Kenapa sih stell, loe nggak pernah cerita sama gue.? Gue tau
loe lagi ada masalah, meskipun loe nggak pernah cerita, gue kenal loe udah
hampir 3 tahun stell, tapi selama itu juga gue nggak pernah tau tentang kehidupan
loe sebenarnya. Sebenernya gue sahabat loe bukan.?” Ucap Melody sedikit
membentakku.
“Apaan sih mel, bukan gitu maksud gue. Loe sahabat terbaik gue kok.” Jawabku
mencoba sabar menghadapi Melody yang tengah naik darah.
“Akh, bulshit loe Stell.” Bentaknya dan meninggalkanku.
“Apalagi ini Tuhan.???” Ucapku menatap kepergian Melody.
Jam sekolah hari ini pun berakhir, meski tak
ada satupun pelajaran yang masuk ke dalam otakku, Melody yang sedari tadi duduk
disebelahku pun tak berkata sedikitpun, masih marah (mungkin.?).
Aku membereskan buku-bukuku, tumben keadaan kelas sudah sepi,
hanya ada aku. ‘Cepat sekali mereka pergi.’ Batinku. Aku pun mempercepat
gerakanku, dan segera keluar dari kelas ini. Dan ternyata….
“Happy birthday Stella.” Teriak seluruh teman sekelasku yang
ternyata telah menungguku di luar. Tampak Melody yang membawakan kue dan
tersenyum ke arahku. Hatiku bahagia kala itu juga.
“Happy sweet seventeen sahabat terbaikku, Stella.” Ucapnya penuh
ketulusan. Aku dibuat menangis olehnya.
“Tiup donk lilinnya.” Perintahnya meyodorkan kue yang tengah
dibawanya.
“Makasih yah Mel. Makasih semua.” Ucapku penuh kebahagiaan.
Handphone berdering, membuatku menghilang dari keramaian teman-temanku. Kulihat
layar handphone-ku. ‘Shania’ nama yang tertera disana. Segera saja aku
mengangkatnya.
“Kenapa shan.?” Tanyaku langsung tanpa basa basi.
“Kak, Kak Stella bisa ke rumah sakit sekarang.?” Ucapnya yang
seketika membuat hatiku kembali resah.
“Ada apa sama Kak Adit Shan.??” Tanyaku bergetar.
“Kak Stella cepetan kesini.” Ucapnya lagi dan langsung mematikan
telfonnya. Tanpa pamit kepada teman-temanku aku segera meluncur ke rumah sakit.
Hatiku sangat resah, aku tak bisa tenang. Aku takut terjadi apa-apa dengan Kak
Adit.
Sampainya disana aku langsung masuk ke ruangan Kak Adit. Ada
Shania dan juga keluarganya disana. Langkahku menjadi pelan melihat keluarga
Kak Adit telah berkumpul mengelilingi Kak Adit.
“Kak Stella.” Sapa Shania yang tau kedatanganku. Semua yang ada
disana menengok ke arahku. Tapi aku tak perduli itu, aku hanya menatap Kak Adit
yang ternyata telah sadar dan kini tengah menatapku.
“Dari tadi Adit mencarimu, temuilah.!” Perintah seorang lak-laki
yang kurasa ia Ayah Kak Adit, aku hanya membalasnya dengan senyumku,seketika
ruangan menjadi sepi, hanya ada aku, Kak Adit dan Shania disana. Aku duduk di
kursi tepat disebelah ranjang Kak Adit.
“Kak Adit.” Ucapku yang tak tahan lagi menahan air mataku. Ntah
air mata apa ini, bahagiakah.? Sedihkah.? Airmata kerinduankah.? Aku tak tau
pasti.
Aku masih menatapnya, dia tersenyum kearahku. Wajahnya sangat
pucat, aku tau keadaanya sangat lemah.
“Kak, berjuanglah Kak. Demi aku.” Ucapku dengan suara parau.
Lagi-lagi dia hanya tersenyum tangannya menyentuh wajahku, menghapus air mata
yang masih terus mengalir dipipiku.
“Jangan tinggalin Stella kak, stella sayang Kak Adit.” Ucapku
lagi, dia hanya meletakkan tangannya di kepalaku, mengusapnya perlahan, aku tau
pasti maksudnya membuatku tenang. Hebatnya dia, mampu tersenyum dan
menenangkanku, sementara aku tau pasti dia menahan sakit yang begitu dahsyat.
Matanya beralih ke sofa yang ada di ruangan ini, aku mengikuti
pandangannya. Nampak sebuah boneka berbentuk hati berwarna pink.
“Buat kamu.” Ucapnya singkat, rasanya telah lama aku tak
mendengar suaranya. Perlahan tanganku di tariknya disatukannya dengan tangan
Shania. Aku heran menatap Kak Adit.
“De, jaga Kak Stella buat Kakak yah. Stell, jaga Shania juga sebagai
adik kamu.” Pesannya, tangisku semakin menjadi mendengar ucapannya, aku menatap
Shania.
“Iya Kak, Shania janji.” Jawab Shania yang juga telah menangis
sedari tadi. Kak Adit menatapku seolah meminta jawabanku, aku hanya mengangguk
tak dapat berkata. Kak Adit tersenyum dan perlahan menutup matanya, hingga
genggaman tangannya melemah, seiring
terlepas juga nyawa Kak Adit dari raganya.
Seketika langit menjadi begitu gelap, hujan
turun dengan derasnya. Aku hanya dapat menyaksikan seorang yang benar-benar
kucintai pergi untuk selama-lamanya, mulutku sama sekali tak dapat berkata,
hanya air mata saja yang mengalir tanpa kupinta. Separuh hati ini seolah
hilang.
Aku melangkah mundur, tanganku membungkam mulutku sendiri, tubuhku
terasa sangat lemas, aku terduduk di sofa ruangan ini. Aku tak percaya Kak Adit
telah benar-benar tiada, aku benar-benar kehilangan dia, tak akan ada lagi
senyumnya, tak akan ada lagi sosok dewasanya.
‘Tuhan mengapa harus seperti ini jadinya, mengapa Kau tak pernah
memberi tau aku tentang ini, mengapa Kau membiarkan aku menyalahkannya. Tuhan
jika saja aku bisa, aku ingin menggantikan tempat Kak Adit denganku, sebagai
permintaan maafku telah menyalahkannya. Tuhan bukankah Kau tau.?? aku belum
sempat membagi kebahagianku, aku belum sempat membuat dia tersenyum, aku masih
ingin bersamanya Tuhan. Aku cinta dia Tuhan.’
Kutengok boneka hati yang Kak Adit berikan untukku, aku
meraihnya dan membaca sebuah pesan yang ditulis sendiri oleh Kak Adit.
Jika kematianku adalah kado terpahit di ulang tahunmu. Maka kado
terindah yang kuberi hanya cinta terakhirku untukmu, Stella.
Happy Birthday and Happy Sweet Seventeen My Last Love ;))
--Adit--
THE END !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar