Minggu, 28 Juli 2013

Cinta Terakhir Untuk Stella Part 4






‘Hmmmhhh’ aku membentangkan tanganku menggeliyat bagai orang yang baru terlepas dari beban yang berat, padahal baru saja aku terbangun dari tidurku. Untuk pagi ini, tiada orang yang mengganggu tidurku, membangunkanku dengan paksanya. Yah, ini hari minggu, aku bebas bangun sesiang yang aku mau.
“Si pemalas baru bangun.” Sindir Sonia yang baru keluar dari kamar mandi dan tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Berisik loe, yang ngomong aja baru mandi.” Jawabku tak mau kalah.
“Seenggaknya aku bangun lebih cepat dari pada ci stell.” Ucapnya santai, menatap bayangannya di cermin.
“Eh Wa, temenin gue jalan yukk hari ini.” Pintaku yang masih duduk di kasurku.
“Nggak .Males.” Jawabnya cuek tak mengalihkan pandangnya.
“Sekarang, siapa yang pemalas.?” Tanyaku menyindir.
“Lagian juga aku mau jalan sama…..” ucapnya menggantung.
“Sama siapa.?? Pacar deh pasti.” Silidikku semangat, dan beranjak mendekat pada Sonia.
“Hah.? Enggak kok enggak. Aku mau jalan sama Cindy, iya aku mau jalan sama cindy.” Jawabnya penuh keraguan.
“Hayah, loe mah. Bilang aja sama pacar, susah banget.!” Candaku menggodanya seraya menuju kamar mandi.
“Ih ci stella mah, sotoy.” Ucapnya manyun tetap pada tempatnya, sedangkan aku sudah berada di kamar mandi.

Akhirnya pagi ini, mungkin lebih tepatnya siang ini aku keluar sendiri menggunakan Honda Jazz putihku. Mengitari kota ini, hingga aku sampai pada taman, tempat penuh kenanganku bersama Adit. Aku menghentikan mobilku pada pinggiran taman, ku pandangi setiap tempat di taman itu dari dalam mobil, rasanya semua kenangan itu tergambar jelas di otakku. Perasaaanku berkecambuk, aku masih kecewa atas sikapnya, bahkan dadaku terlalu sesak jika mengingatnya. Tapi jujur saja, jauh didalam hatiku, aku masih mengharapkannya, aku merindukannya, aku ingin bertemu, melihatnya tersenyum dan merasakan tulus kasih sayangnya.
‘Ah jangan banyak berharap Stell.’ Pikirku yang sangat bertentangan dengan hatiku.
Kuputuskan untuk melajukan kembali mobilku, tapi tiiba-tiba
“Auuuu, heh kalau jalan liat-liat donk.!” Teriak seseorang dari depan mobilku. Segera saja aku kelluar untuk melihat apa yang terjadi.
“Aduuhh, maaf mbak maaf. Tadi nggak liat ada orang.” Ucapku merasa bersalah kepada orang tengah terduduk di depan mobilku.
“Ya makanya liat-liat donk.” Gerutu orang tadi berusaha bangun, aku membantunya. ‘Tunggu, kayanya gue kenal ini orang.’ Batinku memerhatikannya yang masih menunduk merapikan pakaiannya.
“Shania.?” Tanyaku, dia berpaling menatapku.
“Ya ampun bener. Aduh, loe nggak papa kan.?” Ucapku panic begitu tau dia Shania, orang yang baru kukenal kemaren.
“Hmm, ka stella. Nggak kok ka, nggak papa Cuma lecet doank dikit.” Jawabnya santai.
“Mau ke dokter.?” Tanyaku lagi.
“Haha, nggak usah lah ka, lagian Cuma gini doank.” Ucapnya diselingi tawa.
“Beneran nih.?” Tanyaku memastikan.
“Iya, ikh ternyata kak stella bawel yah..haha.” candanya menertawaiku.
“Yee, gue kan panic. Ya udah loe mau kemana.? Biar gue anterin.” Tawarku.
“Beneran nih ka.?” Tanyanya Girang.
“Iya, yah itung-itung tanggung jawab udah nabrak loe.” Jelasku.
“Ya udah deh ayo.” Ucapnya dan langsung melesat ke dalam mobilku. Aku hanya menggelengkan kepala dan mengikutinya masuk ke dalam mobil.


“Kak stella ngapain tadi di taman.?” Tanyanya membuka pembicaraan.
“Gue ngapain.?? Ngapain yah.?? Suka aja ke taman.” Jawabku ngasal masih tetap focus pada jalanan.
“Oh, aku kirain mau ketemu ama pacar. Hehe.” Tanyanya polos.
“Pacar.?” Aku terhenyak, teringat waktu aku masih bersama Kak Adit sering sekali aku menghabiskan hari minggu bersamanya di taman.
“KAK STELLA.!!” Teriak Shania yang sukses merusak gendang telingaku.
“Apaan sih Shan, teriak teriak dalam mobil.!” Rutukku sedikit memarahinya.
“Lagian kak Stella dipanggil-panggil juga nggak nyaut, ya udah aku teriak.” Jelasnya.
“Ya nggak usah teriak kan bisa, gendang telinga gua rusak nih.” Candaku mengelus telingaku.
“Yee, Kak Stella-nya aja. Lagi nyetir kok malah nglamun. Pantesan tadi aku ketabrak.” Ucapnya menyindir.
“Hah. Siapa yang nglamun.?? Orang tadi gue lagi focus ke jalan kok.” Jelasku penuh dusta.
“Hayah, pinter banget ngelesnya, pasti guru les yah. Hahah.” Ucapnya diikuti tawanya yang menggelegar, aku pun ikut tertawa bersamanya. Padahal baru sehari aku mengenalnya, tapi ntah mengapa aku sangat nyaman dengannya, bahkan aku bisa tertawa sepuas ini, mungkin karena memang Shania yang begitu ramah dan friendly.
“Eh kak, kak stoopppp.” Teriak Shania tiba-tiba. Reflek aku pun menginjak rem dan menepi di pinggir jalan.
“Huhh, apaan sih Shan.” Ucapku setelah mobilku berhasil berhenti.
“Ayo turun.” Ucapnya seraya melepas safety belt dan segera keluar, aku yang tak tau apa-apa hanya mengikutinya.
“Mau kemana sih.?” Tanyaku berjalan dibelakangnya.
“Ke sini, aku laper kak. Hehe.” Ucapnya tanpa dosa setelah sampai di penjual ketoprak pinggir jalan.
“Hadaah, gue kirain kenapa.” Gerutuku kesal.
“Hehe. Kakak mau makan nggak.?” Tanyanya, aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Bang dua yah.” Teriak Shania memesan.
“Kok mukanya bête gitu sih ka.? Nggak suka aku ajak makan disini.?” Tanyanya memerhatikan wajahku.
“Nggak kok. Malah gue suka banget makan ditempat ini.” Jawabku jujur. Ah kenapa dia harus mengajakku makan di tempat ini, bukan tak suka, tapi ini membuatku kembali teringat pada Ka Adit. Dulu jika aku sedang kesal pasti dia membawaku ke tempat ini, yah karena aku sangat menyukai ketoprak di tempat ini.

Sore menjelang, aku pun mengantarkan Shania pulang ke rumahnya, awalnya dia menolak, tapi mana mungkin aku membiarkan Shania yang notobene umurnya dibawahku pulang sendirian.
Hari ini aku cukup senang, setidaknya aku masih bisa tertawa dengan Shania, dan sejenak melupakan Ka Adit. Meski aku belum lama mengenalnya, tapi apalah artinya waktu lama, jika dengan waktu singkat pun aku bisa begitu akrab dengannya. Padahal umurnya masih 3 tahun dibawahku, tapi aku sama sekali tak merasa jika dia lebih muda dariku.
***

Semakin hari aku semakin dekat saja dengan Shania, bahkan aku sering jalan keluar bersamanya. Aku sangat nyaman dengannya, dengannya aku selalu bisa tersenyum, bahkan tertawa terbahak.
Seperti hari ini, dia sedang berada dalam kamarku, aku mengajaknya ke sini memang, karena dirumah ini juga tak ada siapa-siapa hanya aku, pembantuku, dan supirku.
“Itu foto Kak Stella ama Pacar yah.?” Tanya Shania melihat foto yang kupajang di meja belajarku.
“Bukan.” Jawabku singkat seraya duduk di atas kasurku.
“Terus.?” Tanyanya lagi meminta penjelasan.
“Dia mantan gue.” Jawabku seadanya.
“Hah.? Foto mantan kok masih dipajang terus.?” Tanyanya seolah mengintrogasiku, dan duduk tepat dihadapanku. Sejenak aku melirik foto itu lalu menatap Shania.
“Gue masih sayang sama dia.” Jawabku jujur.
“Kenapa putus, kalo masih sayang.?” Tanyanya lagi semakin ingin tahu tentangku.
“Jadiiii……” aku pun menceritakan semua yang terjadi. Ntah kenapa kali ini aku bisa seterbuka ini. Padahal sebelumnya aku tak pernah menceritakan perasaanku pada orang lain, walaupun itu Melody sahabat yang sudah kukenal hampir 3 tahun, tapi ini satu bulan pun tak ada aku mengenal Shania aku seperti sudah sangat percaya padanya dan nyaman mencurahkan perasaanku.
“Kenapa Kakak nggak coba dateng aja kerumah Kak Adit. Minta penjelasan dia gitu.” Saran Shania setelah mendengar ceritaku.
“Gue masih kecewa, gue masih sakit, walaupun jujur gue kangen banget sama dia.” Jawabku tak menatapnya.
“Terus sekarang mau Kak Stella apa.?” Tanyanya lagi, membuatku berfikir.
“Gue nggak tau, yang jelas gue masih pengen sendiri, gue belum mau ketemu dia.”
“Kalo saran aku, mending Kak Stella lupain Kak Adit aja. Toh nggak ada gunanya juga Kakak ngarepin Kak Adit. Kak Adit juga udah minta Kak Stella nglupain dia kan.? Buat apa Kak Stella masih mikirin dia yang belum tentu juga mikirin kakak. Kan aku udah bilang, hidup kita masih luas kak, seluas langit diluar sana.” Ucap Shania panjang lebar. Aku terdiam, memikirkan semua yang dikatakan Shania, benar aku harus berusaha melupakan Kak Adit.
“Peluk gue donk.” Pintaku yang langsung dituruti Shania. Ah, pelukan seorang sahabat memang sangat bisa membuat tenang, ini pelukan terhangat setelah pelukan Sonia dan orang tuaku.
Shania, aku belum tau benar siapa dia sebenarnya, dia tiba-tiba muncul dalam kehidupanku, membuatku merasa nyaman, membuatku tenang dengan kata-katanya, dan yang terpenting dia membantuku melupakan sosok Adit, membuatku terbangun dari kesakithatianku, membuatku lebih ceria. Yang perlu kalian tau, dia lebih dewasa dibandingku, walau secara umur aku memang diatasnya, tapi justru dia yang mampu menasehatiku, disetiap kata-katanya terselip kata-kata yang menggambarkan kedewasaanya.
***
Minggu pagi yang cerah, jarang sekali aku terbangun sepagi ini di hari minggu. Ku buka jendela kamarku, yang sebelumnya telah terbuka tirainya. “Hmm, seger banget ternyata udara pagi.” Gumamku menarik nafas panjang, merasakan udara pagi di sekitar rumahku.
“Baru nyadar kalo udara pagi itu seger.? Makanya bangun pagi. Dasar cici pemalas.” Celetuk Sonia yang baru masuk dan membawa cemilan dengan gaya khasnya.
“Yee, biarin.” Ucapku masih berdiri di depan jendela.
“Ci stell itu yang lebih tua, harusnya ngasih contoh ke aku, malah gini, pemalas.! Untung akunya nggak ngikut-ngikut.” Ceramahnya sebelum memasukkan  cemilan ke dalam mulutnya, ternyata dia sudah duduk di atas kasur dan memerhatikanku.
“Emang harus gue yang ngasih contoh.?” Celetukku berbalik menatapnya.
“Iya donk. Ci stell kan disini kakak aku.” Ucapnya santai tak berhenti makan.
“Manusia itu diciptakan penuh perbedaan. Gunanya ya buat saling melengkapi. Kalo gue rajin, loe rajin kan nggak seru. Udah takdirnya gue males, loe rajin.” Jelasku seraya berjalan ke arahnya dan mengikutinya duduk di kasur.
“Terus  mau selamanya, ci stell males gitu.?” Tanyanya lagi.
“Mmm, perubahan itu perlu, tapi perubahan juga butuh waktu.” Jawabku seadanya.
“Terus mau kapan ci stell berubah.? Umur ci stell aja bentar lagi 17.”
“Sampai saatnya gue harus berubah.” Ucapku ngasal.
“Udah akh, apaan sih loe nanyanya kaya gitu.” Aku memotong Sonia yang mungkin masih memiliki segudang pertanyaan di benaknya.
“Bagi donk.” Ucapku hendak mengambil cemilan ditangannya.
“Jorok.! Belum mandi.!! Udah sana mandi.” Perintahnya bak dialah kakakku.
“Issh nih anak ngeselin banget.” Rutukku beranjak ke kamar mandi.
“Eh ci, Abis mandi jalan-jalan yah. Bete nih.” Pintanya membuatku terhenti di ambang pintu kamar mandi.
“Kaga.” Teriakku nyaring.
“Ih ci stell.” Balasnya tak kalah nyaring.

Aku menatap bayangan diriku, menatap wajah segar dengan rambut basahnya. Banar kata Sonia kapan aku akan berubah, umurku pun sudah menginjak 17 th, sampai kapan aku jadi pemalas seperti ini.? Bukankah seharusnya aku memberi contoh yang baik untuk adikku.?
“Wawa, biasa banget loe bikin gue mikir.” Gumamku tersenyum masih menatap bayanganku.
“Bête juga ternyata, ngapain yahh.??” Tanyaku yang jelas tak ada yang menjawab.
“Eh, tadi kan Wawa ngajakin jalan, gue iyain aja deh.” Ucapku dan segera menemuinya di ruang keluarga, ia tengah menonton kartun kesayangannya ‘Doraemon’. Dengan jailnya aku berdiri tepat di depan TV, menutupi pandangan Sonia dengan tubuhku.
“Ci stell apaan sih.? Minggir.!” Seru Sonia dengan wajah kesalnya.
“Jadi jalan nggak.? Mumpung gue lagi free nih.” Tawarku masih dalam posisi tadi.
“Ih awas itu lagi seru tau.” Serunya lagi tak memperdulikan tawaranku dan kali ini dia melempar bantal ke arahku, dengan lincah aku menangkapnya, tak mungkin juga aku menghindar dan membiarkan bantal itu mengenai TV.
“Ya udah kalo nggak mau. Jalan sendiri aja deh.” Putusku beranaj ke garasi.
“Eitss, iya iya bentar aku siap-siap.” Cegahnya berdiri dihadapanku dan segera setelah itu dia beranjak ke kamar.
“Gue tunggu di mobil.” Teriakku dan lengsung melesat ke garasi.


“Lama amat.” Celetukku seketika saat Sonia masuk ke dalam mobil.
“Sorry sorry.” Jawabnya dengan santainya, aku pun mulai menginjak gas mobil.
“Ke mana.?” Tanyaku ditengah perjalanan.
“Ke taman. Beli ice cream.” Ucapnya dengan nada kekanakannya.
Tanpa menjawabnya aku pun mengarahkan mobilku menuju taman, tak apalah untuk membahagiakan adikku satu-satunya.
“Ci beli balon dulu yahh.” Pintanya begitu turun dari mobil.
“Balon.? Loe udah gede Wawa.” Ucapku menolak.
“Nggak mau pokoknya beli balon.” Dia memaksa dan berlari menuju penjual balon. Dengan langkah gontaiku, aku pun mengikutinya.

“Yeii. Makasih yah ci. Nih buat ci stell satu.” Ucapnya girang saat balon sudah ada di tangannya dan memberikan satu untukku.
“Hmm. Heran loe udah gede minta balon kaya gini.” Aku menggeleng heran menerima balonnya.
“Yee, biarin. Sekarang beli ice cream.” Serunya menarik tanganku menuju gerobak ice cream. Aku hanya bisa mengerutkan dahiku, mengikuti keinginannya.

“Pa yang ini dua.”ucap Sonia menunjuk sebuah gambar di gerobak ice cream itu.
“Nih Neng. Dua aja.?” Tanya penjual ice cream itu.
“Iya pa. Ci bayar donk.” Ucapnya padaku, bak preman yang memalakku.
“Issh, gue kira mau ditraktir.” Rutukku seraya membuka dompet & membayarnya.
***
“Ci belepotan noh.” Celetuk Sonia menunjuk wajahku yang tengah asik menikmati ice creamku.
“Hah, serius.?” Tanyaku segera mengelap sisi-sisi bibirku.
“Masih ci, itu “ ucapnya menunjuk wajahku lagi. Aku masih berusaha membersihkannya, namun dia malah mencolek ice creamku dan dengan jailnya dia mencolekannya di pipiku.
“Ini nih, haha.” Seru Sonia dengan tawanya dan berlari meninggalkanku.
“Wawa.!” Teriakku kesal dan membersihkan wajahku.
“Awas loe.” Seruku lagi dan mengejar Sonia yang mulai menjauh.
“Kejar ci, kalo dapet. Haha.” Teriaknya membuatku semakin geram. Akhirnya aku pun dapat mengejarnya, namun bukan balasan yang kuberi, malah canda tawa yang tercipta.
“Jelek banget muka ci stell tadi.” Ejeknya di tengah canda kami.
“Loe yang bikin jelek. Lagian jeleknya gue, masih tetep cantikan gue daripada loe. Haha.” Gurauku kembali memakan ice creamku.
“Kebiasaan banget. Nggak ada kata kata lain apa.” Ucapnya mengejekku.
“Nggak. Haha.” Jawabku mengalihkan pandang ke sekeliling taman. Tapi tunggu, ada yang menghentikan pandanganku.
“Nggak kreatif ci, nggak jadi cantiknya. Haha.” Canda Sonia lagi, tapi aku masih tertegun dengan pemandangan tadi. Dua sejoli yang sedang bercanda tawa dengan akrabnya.
“Ci.! Ih ngliatin apaan sih.?” Tegur Sonia yang lagi-lagi tak ku gubris. Bukan aku iri dengan dua sejoli itu, tapi aku jelas mengenal keduanya.
“Lho ci itu kan Kak Adit.? Sama siapa, kok sama cewe lain.?” Tanya Sonia yang tau arah pandanganku. Aku masih menatap tajam ke arah mereka, hatiku serasa kembali tersambar petir, namun kali ini petir itu lebih besar, hingga aku menjatuhkan ice cream dan balon yang ada ditanganku, sesak di dadaku timbul begitu saja, mataku terasa panas, bahkan sangat panas, air mataku pun menetes dengan sendirinya.
“Ternyata jahat yah loe, Shan.” Seruku dengan suara parau dan langsung meninggalkan mereka, Sonia mengikutiku.
“Stella.” Kudengar ucapan mereka yang sangat kompak , tapi sama sekali aku tak perduli dan terus berjalan meninggalkannya hingga tanganku berhasil di raih Shania.
“Kak tunggu.! Aku bisa jelasin.” Ucapnya, aku berbalik dan menatap tajam matanya, ntah kekuatan dari mana, tanganku berhasil melayang dan mendarat tepat di wajah mulus Shania. Segera setelah itu aku menarik kasar tangan Sonia agar ikut pulang denganku.

“Ci biar aku yang nyetir yah.” Ucap Sonia begitu kami sampai di tempat kami memarkirkan mobil.
“Nggak.! ” Jawabku dengan nada tak bersahabat.
“Tapi ci, pikiran ci stell lagi kacau.!” Serunya mencegahku membuka pintu mobil.
“Loe mau ikut atau gue tinggal.!” Ancamku geram.
“Iya iya aku ikut.” Ucapnya dan langsung masuk ke dalam mobil.

Aku mengendari mobilku, kencang bahkan sangat kencang. Aku kecewa, sangat kecewa. Dan aku ingin melampiaskannya. Aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat tadi. Dua orang yang mengaku menyayangiku tapi justru mengecewakanku.
Sampai dirumah aku langsung masuk ke kamarku, kukunci pintu kamarku, aku terduduk di balik pintu kamarku, menangis sejadi-jadinya.

“Arrrgghtt, apa maksud kalian.? Gue kecewa.!! Gue kecewa.!!” Seruku melampiaskan.
“Apa ini maksud Kak Adit nggak mau bikin aku kecewa lagi. Loe salah kak.! Gue bahkan lebih kecewa dari kejadian kemarin.! Loe jahat, mana  janji loe buat jadiin gue yang terakhir!! Mana.??” Air mataku semakin deras saja, aku benar-benar sakit.
“Ini alasan loe mutusin gue.?? Loe lebih milih Shania dari pada gue kak.??”  Tanyaku jelas tak ada yang menjawab.
“Kenapa harus loe Shan.??? Ini alasan loe nyuruh gue lupain Kak Adit. Loe jahat Shan.!! Argghtt.! Gue benci kalian. Gue benci.!” Teriakku lagi.

Saat ini aku benar-benar hancur. Dua orang yang kusayang, dua orang yang membuatku bahagia kini sama-sama mengecewakanku. Shania, kata-katanya manis, kata-katanya mampu membuatku tergugah, tapi dengan sikapnya ini membuatku sangat kecewa. Dan kak Adit, bukankah dia memutuskanku dengan alasan tak ingin membuatku kecewa lagi, tapi mengapa kali ini dia membuatku lebih kecewa. Bagaimana pula janjinya untuk menjadikanku yang terakhir. Dan mengapa Kak Adit sama sekali tak mengejarku, apa dia benar-benar sudah tak menyayangiku, apa aku sudah benar-benar tak ada dihatinya, semudah itu kak Adit melupakanku.? Mengapa harus seperti ini akhirnya.??

Malam mulai larut, aku masih berdiam diri di atas kasurku. Menekuk kedua kakiku, memeluknya dan menenggelamkan wajah di lututku, aku lelah, aku lelah dengan kekecewaan ini, aku lelah disakiti, aku lelah bahkan sangat lelah. Pintu kamarku terbuka, Sonia muncul dari baliknya dan perlahan ia mendekatiku, aku tau pasti, dia ragu dan dia takut. Dia takut bila tiba-tiba saja emosiku meledak dan dia yang menjadi sasarannya.

“Ci.” Panggilnya lirih menyentuh pundakku. Ku angkat wajahku menatap Sonia sekilas dan kembali membuang pandang.
“Mau sampai kapan ci stell kaya gini.?” Ucapnya pelan, takut kubentak mungkin.
“Loe nggak tau perasaan gue Wa, gue sakit.! Hati gue hancur.!” Ucapku sepelan mungkin.
“Aku emang nggak ngerasain apa yang ci stell rasain. Tapi aku tau perasaan ci stell.” Ucapnya merangkul pundakku. Aku masih diam, kata-kata Sonia membuatku ingin kembali menangis.
“Aku memang nggak bisa ngerasain apa yang ci stell rasain, tapi aku tau ci stell pasti sakit banget. Aku kenal ci stell selama hidup aku ci, aku tau banget gimana hati dan perasaan ci stell. Ci stell sakit, aku lebih sakit liat ci stell kaya gini, aku sakit liat ci stell nyiksa diri kaya gini. Jujur aja, aku nggak trima mereka bikin ci stell kaya gini, aku nggak trima kakak aku dibikin nangis mereka.” Ucapnya yang kurasa sudah menangis, tak jauh dariku yang juga telah kembali menangis karena kata-katanya yang terdengar sangat tulus.

“A..aku…..aku sayang ci stell.” Lanjutnya dengan suara parau, mendengarnya aku segera berbalik dan memeluknya, aku dibuat kembali menangis karenanya. Aku menangis dalam pelukanya, begitu juga dengannya yang menangis dalam pelukkanku.
“Makasih wa. Makasih.” Ucapku masih dalam pelukannya. Aku semakin memperat pelukanku, rasa sakit yang sedari tadi hinggap di hatiku seolah hilang berkat pelukan hangat dan tulus seorang adik. Adikku yang memang benar-benar menyanyangiku.


To be continued......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar