You are always here,
In a little space that called heart
Gril, I also have something special
And that just for you,
I called that is ‘Love’
Stella, would you be mine.?
I promise, u will be the last for me.....
Terbayang kenangan itu. Satu tahun lalu tepatnya, saat dia mengatakan kata-kata itu untukku, yang sejak saat itu pula aku menjadi miliknya, dan dia menjadi milikku. Dia Sosok yang benar-benar kucintai, yang kubanggakan, dan selama ini ada di hatiku, sosok yang selalu menyayangiku, sosok yang seolah melindungiku, sosok yang dewasa , sosok yang seolah selalu bisa membaca perasaan dan pikiranku. Adit :)
“Stella!!!” Suara seseorang mengusik lamunanku, biarlah tohh ini hak-ku untuk melamun, apalagi melamunkan sosok yang selalu mengisi hatiku.
“Stella!! Apa yang sedang kamu lamunkan.!!” Ahh sepertinya orang itu tak mau mengalah, terpaksa kusadarkan diriku dari lamunanku dan astaga aku baru sadar aku sedang mengikuti pelajaran guru paling killer di sekolah ini. ‘Mati gue.!’ Batinku dengan wajah yang dapat dipastikan cengo.
“Ahh i..iyya bu.” Jawabku gugup.
“Jadi siapa namanya.?” Tanya guru tadi.
“Mmm..Adit Bu.” Ucapku spontan, dan langsung membungkam mulutku. ‘Ahh, bego bego bego.!!!’ Umpatku. ‘gimana gue bisa jawab, pertanyaannya aja gue nggak tau.'
“Siapa Adit.?!!”Tanyanya jelas membentak, matanya menyorot tajam kearahku.
“Mmm, bukan siapa-siapa kok Bu.” Jawabku ngeles, menelan ludah.
“Keluar kamu dari kelas saya.!” Bentaknya.
“Tapi Bu…” aku mencoba membela diri, tapi sayang dia tak pernah memberi kesempatan siswa yang membela dirinya. Dengan langkah gontai aku beranjak keluar kelas.
Bell tanda pulang dibunyikan. Nyaring, senyaring teriakan riangnya hati terlepas dari penatnya pelajaran hari ini. Aku melangkahkan kaki menyusuri koridor-koridor sekolah menuju gerbang seraya sesekali menengok mencari-cari seseorang yang bisa ku ajak pulang denganku.
“Heyy ci stell.” Seru seseorang menepuk pundakku dari belakang, sosok yang memiliki bentuk wajah yang hampir mirip denganku, potongan rambut dan model poni yang sengaja dibuat sama, membuat wajah kita bak wajah fotocopyan (?), dialah Sonia, adik kandungku yang tengah duduk di kelas 10 SMA di sekolah yang sama denganku.
“Apaan sih wa.!! Ngagetin aja.” Protesku menyebutnya dengan sebutan ‘wawa’ panggilan sayangku untuknya.
“Hehe, aku pulang sama temen yah ci.” Pintanya merayuku, menggelayut manja di lenganku.
“Mau kemana.? Sama siapa.?” Tanyaku meminta penjelasan, menatapnya dari tempatku.
“Sama Cindy, sama Beby, mau jalan bentar. Boleh yah, yaahhh.” Jawabnya semakin merayuku, menghentikan langkahku.
“Hmm. Iya deh, tapi jangan terlalu sore pulangnya. Ntar gue yang kena marah sama mama.” Pesanku yang biasanya selalu di komen bawel darinya.
“Okeh cici cantik.. hehe.” Ucapnya mencubit kedua pipiku, kebiasaan yang selalu dia lakukan jika kukabulkan permintannya.
“Huhh, pulang sendiri deh.” Gumamku lemas melanjutkan jalanku menuju gerbang. Sampai di depan gerbang, aku justru tetap berjalan, padahal biasanya aku selalu menyetop taksi tepat didepan gerbang.
“Ayo naik.” Seseorang bermotor ninja kuning hitam menghentikan motornya tepat disampingku dan sukses membuatku terperanjak kaget. Aku masih mentapanya heran, siapa dia ?
“Ayo buruan.!!” Ulangnya seraya membuka kaca helm yang sedari tadi menutupi wajahnya.
“Hmm, Kak Adit..aku kira siapa.” Ucapku lega, setelah tau yang ada dihadapanku adalah..... yaa kekasihku.
“Mau Kakak anterin nggak. Ayo cepet naik.” Perintahnya lagi, tanpa ragu aku mengambil posisi di belakangnya.
“Nih helmnya kamu yang pake.” Ucapnya memakaikan helmnya padaku.
“Lho.??terus kakak.?” Tanyaku bingung.
“Kamu yang lebih penting.” Jawabnya singkat dan segera menjalankan motornya. Yah, begitulah dia, cuek tapi sangat perhatian, selalu melindungiku dan membuatku merasa aman berada didekatnya.
Sepanjang perjalanan tak ada perbincangan diantara kami, dia hanya focus ke jalanan dan motornya. Sementara aku hanya memeluknya dari belakang. Jujur saja aku selalu merasa nyaman didekatnya.
“Kita makan dulu yah.” Ucapnya menghentikan laju motornya pada sebuah café . Aku hanya mengangguk mengiyakan tawarannya seraya turun dari motor.
“Kuliah kakak udah selesai.?” Tanyaku membuka perbincangan setelah kami duduk berhadapan di salah satu meja di café ini.
“Udah, kakak cepetin kuliahnya biar bisa jemput kamu terus makan siang sama kamu.” Jawabnya yang sejurus membuatku melayang dan sudah dapat dipastikan keadaan pipiku saat ini kemerahan.
“Ohh, emang kakak nggak ke kantor gitu.?” Tanyaku berusaha santai dengan jawabannya tadi.
“Nanti aja, toh kerjaan di kantor udah beres semua.” Jelasnya, aku hanya mengangguk paham. Yah asal kalian tau, Kak Adit adalah sosok yang sibuk, dia masih menjalani kuliahnya tapi dia juga sudah menjalankan perusahaan Ayahnya yang menjadi tanggung jawab dia.
“Gimana sekolah kamu tadi.?” Tanyanya menatapku dengan tatapan khasnya.
“Nggak ada yang special selain tadi aku dikeluarin dari kelas gara-gara aku nglamunin kakak. Hehe.” Jawabku terang-terangan, ntah kenapa aku tak dapat berbohong jika dia sudah menatap mataku.
“Kenapa nglamunin kakak.?? Yang harus kamu pikirin itu sekolah kamu, pelajaran.! Bentar lagi kamu Ujian lho.” Jawabnya sangat santai.
“Hehe iya. Abis tadi gurunya ngebosenin banget.” Elakku membela diri.
“Kenapa nglamunin kakak nggak bosen.?” Tanyanya yang kurasa menggodaku, aku gusar dengan pertanyaannya, bingung hendak aku jawab apa.
“Yaa, soalnya wajah kakak nggak ngebosenin, lagian kakak muncul terus di otak aku. Heheh.” Candaku balas menggodanya, menggeser sedikit posisi dudukku.
“Dasar anak kecil.” Ucapnya tertawa renyah seraya mengacak lembut poniku, aku hanya tersenyum atas sikapnya yang seolah sangat menyayangiku.
Tak lama makanan yang kami pesan tadi telah selesai dibuat dan sekarang tlah tertata rapi dimejaku. Setelah itu segera saja kami menyantap makanan pesanan kami, sambil sesekali diselingi dengan candaan. Ahh, aku bahagia siang ini, jarang sekali aku makan siang bersamanya, alasannya yah tadi, dia sibuk dengan kuliah dan urusan kantornya.
“Kita langsung pulang yah.” Ucapnya ketika hendak keluar dari café ini.
“Iya. Terserah.” Jawabku ‘yang penting sama kakak.’ Lanjutku dalam hati
“Iya kamu pasti capek kan abis sekolah.?” Tanyanya perhatian, seraya merangkul pundakku, membimbingku menuju tempat parkir. Jujur saja sebenarnya aku masih ingin bersamanya,rasa lelahku hilang ketika melihatnya, dan mendapatkan senyumnya. Namun apa daya, dia tak mungkin percaya dengan kata-kataku jika aku menjawab ‘tidak lelah’.
Setelah mengantarku ia pun segera pulang, sebenarnya ingin kupaksa untuk istirahat dirumahku barang sebentar tapi ia menolak, katanya ada urusan mendadak di kantornya. Yah apa boleh buat.
“Siang ma.” Sapaku pada mama yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
“Kok sendirian.? Wawa Mana.?” Tanya Mama menyambutku.
“Katanya sih jalan sama Cindy ama Beby.” Jelasku.
“Terus kenapa kamu baru sampe.??Mama kira kamu pergi sama Wawa.”
“Iya tadi ketemu kak Adit di jalan, terus makan siang dulu.” Jawabku jujur.
“Ya udah, istirahat dulu sana.” Ucap Mama yang mungkin bisa membaca pikiranku, atau mungkin melihat wajahku yang lesu.
“Iya deh..hehe.” aku pun menuju kamarku.
‘Hmmbbbhhh’ aku menghela nafas panjang seraya membanting tubuhku ke atas kasur busaku, yang jelas setelah berganti baju.
“Masih kangen, tapi kakaknya sibuk. Dasar kakak kece. Super cuek tapi perhatian. Hehe.” Gumamku, ntah kenapa wajahnya seolah tergambar dilangit-langit kamarku.
“Bentar deh ini tanggal berapa yahh.” Bisikku meraih kalender di meja samping kasurku.
“Tuhh kan bener, besok tepat 1 tahun hubungan gue ama kak Adit.” Ucapku setelah melihat kalender yang telah kutandai besar-besar.
“Mau ngasih apa yah sama kakak kece gue.” Tanyaku yang sudah jelas tak kan ada yang menjawab, seketika aku memutar otak memikirkan sesuatu untuk surprise anniversaryku dengan Kak Adit.
“Hehh ci. Nglamun aja sih!!” seru Wawa sukses membuatku terperanjat.
“Apaan sih, siapa juga yang nglamun.” Protesku meletakkan kembali kalender tadi. Aku memang sekamar dengan Sonia, ya itu membuatnya mudah sekali menggangguku jika aku sedang memikirkan Kekasihku.
“Kok udah pulang, cepet banget jalannya.?” Tanyaku membaringkan tubuhku.
“Iya dong, emangnya ci stell kalo jalan lamanya nggak manusiawi.” Ledeknya seraya melepas tas gendongnya.
“Enak aja loe, lebay ahh.” Elakku tak trima.
“Kata Mama ci stell baru pulang juga kan.?” Tanyanya menyelidik mengikuti ku berbaring disisi kasur yang lain.
“Iya kenapa.???” Jawabku balik bertanya.
“Kemana?? sama kak Adit yah??” Tanyanya lagi memiringkan tubuhnya menghadap padaku.
“Sama siapa yahhhhh.” Aku menggantung jawabanku, melirik sekilas wajah Kepo Sonia.
“Kepo loe. Haha.” Lanjutku melempar guling tepat ke wajahnya.
“Ihh ci stelaaaa.” Protesnya sementara aku tengah terkikik melihat wajah kesalnya. Wajahnya sangat lucu jika ia sudah kesal, yaa itu jadi salah satu alasan kenapa aku sering sekali menjailinya.
Malam menjelang, aku masih terduduk di meja belajarku sibuk memikirkan apa yang akan ku beri besok pada Kak Adit yang notabene kekasihku.
“Kenapa gue nggak beli blackforest kesukaan dia aja. Sekalian buat ngerayain anniversary deh.” Seruku bangga telah menemukan ide cemerlang.
“Apaan sih cii, berisik tau.” Gumam Sonia yang tengah tertidur dikasurnya
“Ups, sorry.” Ucapku lupa, sekaligus merasa bersalah telah mengganggu tidur adikku.
“Jadi besok gue pulang sekolah harus ke toko kue, abis itu ke rumah Kak Adit deh. Hehe.” Ucapku lirih takut terdengar Sonia.
“Nha sekarang waktunya bobo...” Lanjutku meloncat ke tempat tidur.
***
To be continued .... :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar