Mungkin memang salahku, hanya mengagumimu dari kejauhan.
Memang salahku dulu mengagumimu hanya dari sini, kemudian tersenyum
melihat tingkahmu.
Salahku tak pernah berani menghampirimu,
Salahku tak pernah mau, sedikit saja bertindak demi lebih dekat
denganmu,
Semuanya salahku yang tak pernah mau mencoba bicara barang sedikit saja
padamu.
Ya.! Ini salahku, tak pernah mengungkapkan, bahwa aku...cinta kamu.
Kamu...kemana
saja kamu selama ini, apa yang membuat kamu tiba-tiba menghilang dari tempat
itu, apa yang membuat kamu tiba-tiba tak datang lagi, aku ingin melihat kamu
lagi, aku ingin melihat senyummu lagi, aku ingin melihat tingkah lucumu itu
lagi, setidaknya sekali lagi, meskipun setelahnya..aku tak akan lagi dapat
melihatnya. Kenapa kamu tiba-tiba begitu saja hilang tanpa pesan, atau mungkin
aku saja yang tidak datang ketika kamu ingin menyampaikan salammu, harusnya
hari itu aku datang untuk bermain yaa, agar setidaknya aku bisa melihat senyum
terakhirmu, senyum perpisahanmu. Atau memang aku tak pantas untuk kamu beri
salam terakhirmu yaa, lagi pula siapa aku bagimu..hanya orang yang mengagumimu
dari kejauhan.
Hari
ini, aku datang lagi ke lapangan ini, ahh bukan hanya hari ini saja, hampir
setiap hari sepulang kerjaku aku selalu datang ke sini, untuk bermain sebentar,
atau hanya melihat permainan anak-anak muda dari sini, dari tempatmu biasa
duduk dibalik pohon ini. Iya aku menempati tempat ini, hanya ingin tau apa
rasanya duduk dan memandangi pertandingan anak-anak yang tidak serius itu. Tapi
bukan hanya untuk melihat mereka saja, aku....aku menunggu kamu, menunggu
kepulanganmu yang ntah darimana, aku menunggu kamu datang ke tempat ini lagi,
kemudian mengintip pertandingan sepak bola yang berlangsung.
Aku
bodoh yaaa, dulu...ketika kamu setiap hari datang ke sini, aku tak berani
menghampirimu sama sekali, tapi sekarang..lihat saja, setiap hariku datang ke
lapangan ini hanya untuk menunggumu dari sepulang kerjaku hingga senja berubah
menjadi gelap, yang ntah kenapa diri ini justru mencarimu ketika kamu tidak
datang dan benar-benar menghilang. Kenapa tidak sejak dulu yaa aku berniat
menghampirimu, mendekatimu, mengajakmu bicara, kemudian bisa dekat denganmu.
Harusnya dulu aku berani menghampiri kamu, menanyakan nama, sekolah dan alamat
rumahmu, jadi aku tak akan tersiksa rindu ketika kamu menghilang seperti ini,
harusnya aku bisa mencari ke rumahmu, atau ke sekolahmu.
Aku
ingat betul, dulu..ketika aku pertama kali diajak teman untuk bermain sepak
bola di lapangan ini, lalu aku melihat kamu..yang murung di pinggir lapangan di
dekat pohon ini, bahkan saat kamu terlihat sedih, kamu masih terlihat lucu
dengan rambut yang kamu kuncir kuda dan menyisakan poni yang kamu depankan.
Saat itu, aku tak berani mendekatimu..yang aku tau, anak seumuranmu akan lari
jika didekati cowo SMA sepertiku, makanya aku hanya berusaha menarik
perhatianmu dengan mencetak gol dan bertingkah aneh ketika aku bisa memasukan
bola, padahal...aku tak pernah suka dengan permainan bola seperti ini. Aku
mendadak ingin bermain sepak bola setiap hari, demi melihatmu lagi, melihatmu
duduk dibalik pohon, kemudian mengintip pertandingan dari tempat itu. Padahal
waktu itu aku tak tau, apakah kamu akan datang lagi atau tidak. Tapi,
sepertinya Tuhan berpihak padaku, hampir disetiap ku bermain di sini, kamu
selalu ada, meskipun aku juga tak tau, alasan kamu datang setiap hari ke tempat
ini dan memperhatikan permainan sepak bola anak-anak iseng ini. Aku tak pernah
tau alasan kamu tersenyum lucu kemudian bersembunyi itu apa, karena tingkahku
kah ? atau justru orang lain... Kalau saja kamu melihat ekspresimu, kamu begitu
lucu.! Ahh, membayangkan senyum kamu
itu, itu membuat aku benar-benar semakin tersiksa rindu.
Hari,
minggu, bulan, tahun, berlalu bergitu saja. Enam tahun.! aku mulai tak yakin
jika kamu akan kembali, aku mulai bertanya pada diriku sendiri ‘apa yang sedang
kamu lakukan ?’ padahal banyak sekali wanita diluaran sana, banyak sekali
wanita yang berwajah lucu, cantik, menawan, atau bahkan menggoda. Banyak juga
yang bergaya rambut sama, dengan poni didepankan dengan rambut terurai panjang.
Tapi ntah kenapa, yang aku mau..hanya kamu.!
Akhir
tahun..ini artinya sudah enam tahun lebih kamu menghilang. Hari ini juga
akhirnya aku ke tempat ini lagi setelah beberapa hari aku sibuk dengan
pekerjaanku, ahh bukan aku saja yang menyibukan diri agar aku punya alasan
untuk tak datang ke tempat itu. Seperti biasanya aku menghampiri anak-anak yang
bersorak-sorak di pinggir lapangan ikut antusias menyaksikan pertandingan ini. Seperti
biasa pula, setelah berbincang aku memandang ke pohon itu untuk memastikan
keberadaanmu, yang selalu tak ada itu. Yaa benar, seperti biasanya, tak ada
yang berdiri di....tunggu, seperti ada badan yang tertutup batang pohon itu,
ada orang yang bersembunyi di balik pohon itu.
Ntahlah,
aku tak perduli siapa yang berdiri di balik pohon itu, yang paling penting aku
hendak memastikannya dengan mataku sendiri. Dengan segala rasa penasaran
dan.....rindu, akhirnya aku sampai di pohon ini, berdiri di sampingnya yang
masih belum menyadari keberadaanku, kami sama-sama membelakangi lapangan. Ini
kah kamu ? gadis berponi dengan senyum lucu..
“Hey.” Sapaku akhirnya, aku berdiri
menghadapnya. “Kenapa Cuma ngintip dari sini ?” aku menatapnya, dia hanya
mematung dan menatap heran padaku, benar tidak yaa aku datang langsung ke
hadapannya, sampai dia kaget seperti ini, atau...ini bukan dia..orang yang ku
maksud.
“Hey.” Aku mengulang sapaanku,
demi menyadarkannya dari keheranannya.
“Ahh, Hey.” Katanya akhirnya
sadar juga, tersenyum tipis dihadapanku. Senyum ini, akhirnya aku yakin, ini
dia, ini kamu, gadis berponi dengan senyum lucu.!
“Namaku Ivan.” Aku mengenalkan
diri, tak mau kehilangan kesempatan untuk mengenalkan diri dihadapannya.
“Stella.” Sambutnya, dia
tersenyum, kami bersalaman. ‘Stella’ otakku otomatis menyimpan namanya,
akhirnya aku..setidaknya tau namanya. Dia sama sekali tak berubah, senyumnya
masih sama, poninya sama sekali tak ia rubah, pun dengan gaya rambutnya,
meskipun penampilannya berubah menyesuaikan umurnya, dia tetap terlihat lucu.
Ahh akhirnya aku bisa melihat gadis lucu ini lagi.
“Akhirnya kamu datang juga.”
Kataku membuang pandang darinya, dadaku bergetar hebat sedari tadi. apalagi dengan
melihat senyumnya sedekat ini. Aku menyandarkan lengan kananku ke batang pohon,
memandangi lapangan yang riuh dengan permainan anak-anak.
“Eh ?”
“Apa melihat lapangan dari sini
menyenangkan, Stella ?” Tanyaku, iya ini yang selalu aku ingin tanyakan padanya.
“Bukankah ini membosankan, hanya melihat dari kejauhan, tanpa berbuat apa-apa.”
Lanjutku dengan mengubah posisiku, duduk di samping pohon ini. Aku menanyakan
ini, karena selama aku menunggunya dengan melakukan hal yang sama seperti yang
dia lakukan dulu, aku sama sekali tak menemukan kesenangan, justru hanya bosan
saja yang datang.
“Hey, kenapa Cuma berdiri di situ
? dari sini pemandangannya lebih jelas dari pada hanya berdiri di balik pohon
itu.” Kataku menyadari dia yang masih berdiri di balik pohon seperti biasanya,
sungguh dia tak berubah.!
“Aku ngga ngerti maksud omongan
kamu.” Stella duduk di sampingku, iya Stella, si gadis berponi dengan senyum
lucu, hmm..aku akhirnya bisa duduk berdua seperti ini dengannya, menikmati
suasana sore dengan riuh sorak-sorakan dari lapangan bola.
“Kamu suka sepak bola ?” Tanyaku
mencari topik yang enak dibincangkan demi membuatnya tak bosan.
“Hmm, ngga begitu suka. Tapi aku
suka ngeliat orang-orang yang main bola, rasanya ngeliat orang lari-lari ngejar
bola itu, lucu.” Jelasnya sambil menikmati pemandangan senja. Responnya baik
sekali bukan. Ternyata dia seru jika diajak bicara.
“Aku...dulu sama sekali tak suka
bola.” Ceritaku.
“Ha ? Bukannya kamu barusan
dateng ke lapangan sepak bola terus siap-siap mau main bola ?” jawabannya
sungguh. Bukankah itu artinya dia melihatku datang kemudian memperhatikan
tingkahku sebelum aku akhirnya mendatanginya...
“Karena aku menyukai seseorang,
jadi aku senang bermain bola.” Lanjutku “Aku bermain sepak bola hampir di
setiap hariku, demi berlatih untuk mencetak gol, karena setiap gol yang
kuciptakan, akan membuatnya tersenyum lucu, dan membuatku gemas ingin memiliki
senyum itu.”
“Apa dia juga suka kamu ?”
“Aku nggak tau...” Jawabku, hah
bagaimana mungkin aku menjawabnya, sedangkan jawabannya ada di kamu sendiri,
Stella. “Aku hanya menyukainya, diam-diam.” Tutupku, bisa aku rasakan dia
menatapku, ntah apa yang dia pikirkan dengan aku yang tiba-tiba bercerita
tentang kehidupan cintaku.
“Jatuh cinta diam-diam memang
menyakitkan, kita Cuma bisa diam-diam sayang, diam-diam cemburu, diam-diam
sakit hati, bahkan diam-diam rindu” Tanggapnya setelah beberapa saat suasana
menjadi hening. Bukankah yang dia katakan benar, sangat benar malah. Dan aku
menangkap kalimat terakhirnya ‘diam-diam rindu’.
“Diam-diam rindu ?” Aku tertawa
sambil mengatakannya, benar yaa..aku diam-diam rindu dia.!
“Apa yang lucu ?” Tanyanya
heran..aku terdiam sesaat.
“Hmm, apa dia tak rindu yaa, tak
datang ke tempat ini, lebih dari enam tahun.” Heyyy apa yang ku katakan. Ntah
benar atau tidak aku mengatakannya terang-terangan seperti ini, aku hanya ingin
dia tau aku menunggunya selama ini. Harunya aku lebih berani untuk menggunakan
kata ‘kamu’ dibanding ‘dia’. Stella terlihat diam menikmati pemandangan di
lapangan, ntah apa yang dia pikirkan setelah mendengar kalimatku tadi. Aku
hanya menundukkan kepala, sesal. Ntah aku harus bagaimana menggambarkan
perasaanku, bisa berdua duduk dengannya sore ini, setelah sore sore lalu aku
hanya menunggu, menunggu, dan menunggunya. Aku meliriknya sebentar kemudian
membuang pandang ke lapangan, apa yang harus aku katakan lagi untuk mencairkan
suasana, atau yang lebih jauh dengan memberi tahunya bahwa aku sangat senang dia
datang lagi ke sini. Apa harus dengan kata ‘Apa Kabar ?’ sayangnya dia tak
pernah mengerti bahwa aku memperhatikannya dulu dan kemudian menunggunya.
“Stell...”
“Hm ?” Dia meng’hm’kan saja
panggilanku, dengan menengok sedikit ke arahku. Dia tersenyum lagi, lagi lagi
serasa membuat hatiku rontok.
“Kamu baru pertama kali ke tempat
ini ?” Tanyaku, ntah mengarah kemana. Dia membuang pandang lagi, salah ? apa
pertanyaanku salah, dia terlihat tidak nyaman dengan pertanyaanku. Apa aku
terlalu basa-basi.
“Ngga, dulu aku sering ke sini,
sekarang lagi kangen tempat ini aja, makanya aku dateng ke Jakarta lagi.”
Katanya, akhirnya dia menjawab.
“Ke Jakarta lagi ? Emang selama
ini kamu kemana ?” strike.! Pertanyaan pancingan tadi berhasil membukanya untuk
sedikit bercerita.
“Makassar. Aku ikut Papa sejak
orang tua aku cerai.” Jadi itu alasan kamu tak datang ke tempat ini lagi
Stella, kamu pergi ke tempat yang jauh itu, ikut dengan Papa kamu. Pertanyaanku
selama ini..akhirnya kamu jawab.
“Mama kamu ?”
“Mama aku tetep tinggal di sini.”
Ya, itu pasti alasan dia kembali ke sini, karena Mamanya.
“Kamu pasti kangen Mama kamu.”
Tebakku mencoba mengerti perasaannya.
“Siapa juga yang gak kangen
Mamanya setelah 6 tahun gak ketemu.” Dia terlihat begitu tenang menjawab
pertanyaanku. Bukan tenang, tegar. Aku heran bisa-bisanya anak perempuan
seperti dia, bisa tinggal jauh dari Mamanya selama ini, bukankah tinggal hanya
dengan 1 orang tua itu menyakitkan, seberapapun bahagianya kita dengan salah
satu orang tua kita, seberapa banyak pun harta yang kita punya, bukankah itu
akan tetap kurang jika kita hanya hidup dengan salah satu dari orang tua kita,
padahal keduanya masih ada.
“Sorry ya.” Ucapku sungkan.
“Santai aja.” Katanya
tersenyum(lucu) lagi. “Hey, kenapa kamu Cuma duduk di sini ? Bukannya kamu
dateng ke sini buat main bola ?”
“Aku ?” Aku menatapnya sambil
menahan tawa, dia ikut menatapku.
“Mana mungkin aku turun ke
lapangan bersama anak-anak seumuran mereka. Lagipula aku kesini bukan untuk
main bola.” Ucapku tertawa.
“So ?”
“Aku Cuma mau nunggu seseorang
yang udah 6 tahun gak ke sini lagi. Walau sebenernya aku gak yakin dia bakal ke
tempat ini lagi.” Stella menatap wajah sampingku, aku masih memandangi
lapangan, tak berani menatap matanya.
“Tapi ternyata aku salah, karena
akhirnya aku bisa duduk bersebelahan dengan dia kaya gini.” Lega.! Itulah rasanya,
walau aku tak tau bagaimana respon yang akan dia berikan. Stella berhenti
menatapku, di memalingkan wajahnya ketika aku hendak menatapnya.
“Kamu..apa kamu ke Jakarta Cuma karena
kangen tempat ini ?” Tanyaku mengalihkan, sekaligus mencari jawaban, jawaban
yang akan menunjukan perasaannya, begitu maksudku. Tapi....apa aku lagi-lagi
salah bertanya, dia tampak mengusap pipinya, dengan wajah yang ia sembunyikan.
“Aku..ke Jakarta karena mau......”
Katanya kemudian mengalihkan pandangannya ke arahku, aku dapat menatap jelas
matanya yang berkaca-kaca, menunggu pelengkap kalimat sebelumnya,”Karena mau
jemput Mama buat dateng ke pernikahanku, minggu depan.”
-----END-----

Tidak ada komentar:
Posting Komentar