Kamis, 19 Februari 2015

Jawaban.!



Mungkin memang salahku, hanya mengagumimu dari kejauhan.
Memang salahku dulu mengagumimu hanya dari sini, kemudian tersenyum melihat tingkahmu.
Salahku tak pernah berani menghampirimu,
Salahku tak pernah mau, sedikit saja bertindak demi lebih dekat denganmu,
Semuanya salahku yang tak pernah mau mencoba bicara barang sedikit saja padamu.
Ya.! Ini salahku, tak pernah mengungkapkan, bahwa aku...cinta kamu.


                Kamu...kemana saja kamu selama ini, apa yang membuat kamu tiba-tiba menghilang dari tempat itu, apa yang membuat kamu tiba-tiba tak datang lagi, aku ingin melihat kamu lagi, aku ingin melihat senyummu lagi, aku ingin melihat tingkah lucumu itu lagi, setidaknya sekali lagi, meskipun setelahnya..aku tak akan lagi dapat melihatnya. Kenapa kamu tiba-tiba begitu saja hilang tanpa pesan, atau mungkin aku saja yang tidak datang ketika kamu ingin menyampaikan salammu, harusnya hari itu aku datang untuk bermain yaa, agar setidaknya aku bisa melihat senyum terakhirmu, senyum perpisahanmu. Atau memang aku tak pantas untuk kamu beri salam terakhirmu yaa, lagi pula siapa aku bagimu..hanya orang yang mengagumimu dari kejauhan.

                Hari ini, aku datang lagi ke lapangan ini, ahh bukan hanya hari ini saja, hampir setiap hari sepulang kerjaku aku selalu datang ke sini, untuk bermain sebentar, atau hanya melihat permainan anak-anak muda dari sini, dari tempatmu biasa duduk dibalik pohon ini. Iya aku menempati tempat ini, hanya ingin tau apa rasanya duduk dan memandangi pertandingan anak-anak yang tidak serius itu. Tapi bukan hanya untuk melihat mereka saja, aku....aku menunggu kamu, menunggu kepulanganmu yang ntah darimana, aku menunggu kamu datang ke tempat ini lagi, kemudian mengintip pertandingan sepak bola yang berlangsung.

                Aku bodoh yaaa, dulu...ketika kamu setiap hari datang ke sini, aku tak berani menghampirimu sama sekali, tapi sekarang..lihat saja, setiap hariku datang ke lapangan ini hanya untuk menunggumu dari sepulang kerjaku hingga senja berubah menjadi gelap, yang ntah kenapa diri ini justru mencarimu ketika kamu tidak datang dan benar-benar menghilang. Kenapa tidak sejak dulu yaa aku berniat menghampirimu, mendekatimu, mengajakmu bicara, kemudian bisa dekat denganmu. Harusnya dulu aku berani menghampiri kamu, menanyakan nama, sekolah dan alamat rumahmu, jadi aku tak akan tersiksa rindu ketika kamu menghilang seperti ini, harusnya aku bisa mencari ke rumahmu, atau ke sekolahmu.

                Aku ingat betul, dulu..ketika aku pertama kali diajak teman untuk bermain sepak bola di lapangan ini, lalu aku melihat kamu..yang murung di pinggir lapangan di dekat pohon ini, bahkan saat kamu terlihat sedih, kamu masih terlihat lucu dengan rambut yang kamu kuncir kuda dan menyisakan poni yang kamu depankan. Saat itu, aku tak berani mendekatimu..yang aku tau, anak seumuranmu akan lari jika didekati cowo SMA sepertiku, makanya aku hanya berusaha menarik perhatianmu dengan mencetak gol dan bertingkah aneh ketika aku bisa memasukan bola, padahal...aku tak pernah suka dengan permainan bola seperti ini. Aku mendadak ingin bermain sepak bola setiap hari, demi melihatmu lagi, melihatmu duduk dibalik pohon, kemudian mengintip pertandingan dari tempat itu. Padahal waktu itu aku tak tau, apakah kamu akan datang lagi atau tidak. Tapi, sepertinya Tuhan berpihak padaku, hampir disetiap ku bermain di sini, kamu selalu ada, meskipun aku juga tak tau, alasan kamu datang setiap hari ke tempat ini dan memperhatikan permainan sepak bola anak-anak iseng ini. Aku tak pernah tau alasan kamu tersenyum lucu kemudian bersembunyi itu apa, karena tingkahku kah ? atau justru orang lain... Kalau saja kamu melihat ekspresimu, kamu begitu lucu.!  Ahh, membayangkan senyum kamu itu, itu membuat aku benar-benar semakin tersiksa rindu.

                Hari, minggu, bulan, tahun, berlalu bergitu saja. Enam tahun.! aku mulai tak yakin jika kamu akan kembali, aku mulai bertanya pada diriku sendiri ‘apa yang sedang kamu lakukan ?’ padahal banyak sekali wanita diluaran sana, banyak sekali wanita yang berwajah lucu, cantik, menawan, atau bahkan menggoda. Banyak juga yang bergaya rambut sama, dengan poni didepankan dengan rambut terurai panjang. Tapi ntah kenapa, yang aku mau..hanya kamu.!

                Akhir tahun..ini artinya sudah enam tahun lebih kamu menghilang. Hari ini juga akhirnya aku ke tempat ini lagi setelah beberapa hari aku sibuk dengan pekerjaanku, ahh bukan aku saja yang menyibukan diri agar aku punya alasan untuk tak datang ke tempat itu. Seperti biasanya aku menghampiri anak-anak yang bersorak-sorak di pinggir lapangan ikut antusias menyaksikan pertandingan ini. Seperti biasa pula, setelah berbincang aku memandang ke pohon itu untuk memastikan keberadaanmu, yang selalu tak ada itu. Yaa benar, seperti biasanya, tak ada yang berdiri di....tunggu, seperti ada badan yang tertutup batang pohon itu, ada orang yang bersembunyi di balik pohon itu.

                Ntahlah, aku tak perduli siapa yang berdiri di balik pohon itu, yang paling penting aku hendak memastikannya dengan mataku sendiri. Dengan segala rasa penasaran dan.....rindu, akhirnya aku sampai di pohon ini, berdiri di sampingnya yang masih belum menyadari keberadaanku, kami sama-sama membelakangi lapangan. Ini kah kamu ? gadis berponi dengan senyum lucu..
“Hey.” Sapaku akhirnya, aku berdiri menghadapnya. “Kenapa Cuma ngintip dari sini ?” aku menatapnya, dia hanya mematung dan menatap heran padaku, benar tidak yaa aku datang langsung ke hadapannya, sampai dia kaget seperti ini, atau...ini bukan dia..orang yang ku maksud.
“Hey.” Aku mengulang sapaanku, demi menyadarkannya dari keheranannya.
“Ahh, Hey.” Katanya akhirnya sadar juga, tersenyum tipis dihadapanku. Senyum ini, akhirnya aku yakin, ini dia, ini kamu, gadis berponi dengan senyum lucu.!
“Namaku Ivan.” Aku mengenalkan diri, tak mau kehilangan kesempatan untuk mengenalkan diri dihadapannya.
“Stella.” Sambutnya, dia tersenyum, kami bersalaman. ‘Stella’ otakku otomatis menyimpan namanya, akhirnya aku..setidaknya tau namanya. Dia sama sekali tak berubah, senyumnya masih sama, poninya sama sekali tak ia rubah, pun dengan gaya rambutnya, meskipun penampilannya berubah menyesuaikan umurnya, dia tetap terlihat lucu. Ahh akhirnya aku bisa melihat gadis lucu ini lagi.
“Akhirnya kamu datang juga.” Kataku membuang pandang darinya, dadaku bergetar hebat sedari tadi. apalagi dengan melihat senyumnya sedekat ini. Aku menyandarkan lengan kananku ke batang pohon, memandangi lapangan yang riuh dengan permainan anak-anak.
“Eh ?”
“Apa melihat lapangan dari sini menyenangkan, Stella ?” Tanyaku, iya ini yang selalu aku ingin tanyakan padanya. “Bukankah ini membosankan, hanya melihat dari kejauhan, tanpa berbuat apa-apa.” Lanjutku dengan mengubah posisiku, duduk di samping pohon ini. Aku menanyakan ini, karena selama aku menunggunya dengan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan dulu, aku sama sekali tak menemukan kesenangan, justru hanya bosan saja yang datang.
“Hey, kenapa Cuma berdiri di situ ? dari sini pemandangannya lebih jelas dari pada hanya berdiri di balik pohon itu.” Kataku menyadari dia yang masih berdiri di balik pohon seperti biasanya, sungguh dia tak berubah.!
“Aku ngga ngerti maksud omongan kamu.” Stella duduk di sampingku, iya Stella, si gadis berponi dengan senyum lucu, hmm..aku akhirnya bisa duduk berdua seperti ini dengannya, menikmati suasana sore dengan riuh sorak-sorakan dari lapangan bola.
“Kamu suka sepak bola ?” Tanyaku mencari topik yang enak dibincangkan demi membuatnya tak bosan.
“Hmm, ngga begitu suka. Tapi aku suka ngeliat orang-orang yang main bola, rasanya ngeliat orang lari-lari ngejar bola itu, lucu.” Jelasnya sambil menikmati pemandangan senja. Responnya baik sekali bukan. Ternyata dia seru jika diajak bicara.
“Aku...dulu sama sekali tak suka bola.” Ceritaku.
“Ha ? Bukannya kamu barusan dateng ke lapangan sepak bola terus siap-siap mau main bola ?” jawabannya sungguh. Bukankah itu artinya dia melihatku datang kemudian memperhatikan tingkahku sebelum aku akhirnya mendatanginya...
“Karena aku menyukai seseorang, jadi aku senang bermain bola.” Lanjutku “Aku bermain sepak bola hampir di setiap hariku, demi berlatih untuk mencetak gol, karena setiap gol yang kuciptakan, akan membuatnya tersenyum lucu, dan membuatku gemas ingin memiliki senyum itu.”
“Apa dia juga suka kamu ?”
“Aku nggak tau...” Jawabku, hah bagaimana mungkin aku menjawabnya, sedangkan jawabannya ada di kamu sendiri, Stella. “Aku hanya menyukainya, diam-diam.” Tutupku, bisa aku rasakan dia menatapku, ntah apa yang dia pikirkan dengan aku yang tiba-tiba bercerita tentang kehidupan cintaku.
“Jatuh cinta diam-diam memang menyakitkan, kita Cuma bisa diam-diam sayang, diam-diam cemburu, diam-diam sakit hati, bahkan diam-diam rindu” Tanggapnya setelah beberapa saat suasana menjadi hening. Bukankah yang dia katakan benar, sangat benar malah. Dan aku menangkap kalimat terakhirnya ‘diam-diam rindu’.
“Diam-diam rindu ?” Aku tertawa sambil mengatakannya, benar yaa..aku diam-diam rindu dia.!
“Apa yang lucu ?” Tanyanya heran..aku terdiam sesaat.
“Hmm, apa dia tak rindu yaa, tak datang ke tempat ini, lebih dari enam tahun.” Heyyy apa yang ku katakan. Ntah benar atau tidak aku mengatakannya terang-terangan seperti ini, aku hanya ingin dia tau aku menunggunya selama ini. Harunya aku lebih berani untuk menggunakan kata ‘kamu’ dibanding ‘dia’. Stella terlihat diam menikmati pemandangan di lapangan, ntah apa yang dia pikirkan setelah mendengar kalimatku tadi. Aku hanya menundukkan kepala, sesal. Ntah aku harus bagaimana menggambarkan perasaanku, bisa berdua duduk dengannya sore ini, setelah sore sore lalu aku hanya menunggu, menunggu, dan menunggunya. Aku meliriknya sebentar kemudian membuang pandang ke lapangan, apa yang harus aku katakan lagi untuk mencairkan suasana, atau yang lebih jauh dengan memberi tahunya bahwa aku sangat senang dia datang lagi ke sini. Apa harus dengan kata ‘Apa Kabar ?’ sayangnya dia tak pernah mengerti bahwa aku memperhatikannya dulu dan kemudian menunggunya.
“Stell...”
“Hm ?” Dia meng’hm’kan saja panggilanku, dengan menengok sedikit ke arahku. Dia tersenyum lagi, lagi lagi serasa membuat hatiku rontok.
“Kamu baru pertama kali ke tempat ini ?” Tanyaku, ntah mengarah kemana. Dia membuang pandang lagi, salah ? apa pertanyaanku salah, dia terlihat tidak nyaman dengan pertanyaanku. Apa aku terlalu basa-basi.
“Ngga, dulu aku sering ke sini, sekarang lagi kangen tempat ini aja, makanya aku dateng ke Jakarta lagi.” Katanya, akhirnya dia menjawab.
“Ke Jakarta lagi ? Emang selama ini kamu kemana ?” strike.! Pertanyaan pancingan tadi berhasil membukanya untuk sedikit bercerita.
“Makassar. Aku ikut Papa sejak orang tua aku cerai.” Jadi itu alasan kamu tak datang ke tempat ini lagi Stella, kamu pergi ke tempat yang jauh itu, ikut dengan Papa kamu. Pertanyaanku selama ini..akhirnya kamu jawab.
“Mama kamu ?”
“Mama aku tetep tinggal di sini.” Ya, itu pasti alasan dia kembali ke sini, karena Mamanya.
“Kamu pasti kangen Mama kamu.” Tebakku mencoba mengerti perasaannya.
“Siapa juga yang gak kangen Mamanya setelah 6 tahun gak ketemu.” Dia terlihat begitu tenang menjawab pertanyaanku. Bukan tenang, tegar. Aku heran bisa-bisanya anak perempuan seperti dia, bisa tinggal jauh dari Mamanya selama ini, bukankah tinggal hanya dengan 1 orang tua itu menyakitkan, seberapapun bahagianya kita dengan salah satu orang tua kita, seberapa banyak pun harta yang kita punya, bukankah itu akan tetap kurang jika kita hanya hidup dengan salah satu dari orang tua kita, padahal keduanya masih ada.
“Sorry ya.” Ucapku sungkan.
“Santai aja.” Katanya tersenyum(lucu) lagi. “Hey, kenapa kamu Cuma duduk di sini ? Bukannya kamu dateng ke sini buat main bola ?”
“Aku ?” Aku menatapnya sambil menahan tawa, dia ikut menatapku.
“Mana mungkin aku turun ke lapangan bersama anak-anak seumuran mereka. Lagipula aku kesini bukan untuk main bola.” Ucapku tertawa.
“So ?”
“Aku Cuma mau nunggu seseorang yang udah 6 tahun gak ke sini lagi. Walau sebenernya aku gak yakin dia bakal ke tempat ini lagi.” Stella menatap wajah sampingku, aku masih memandangi lapangan, tak berani menatap matanya.
“Tapi ternyata aku salah, karena akhirnya aku bisa duduk bersebelahan dengan dia kaya gini.” Lega.! Itulah rasanya, walau aku tak tau bagaimana respon yang akan dia berikan. Stella berhenti menatapku, di memalingkan wajahnya ketika aku hendak menatapnya.
“Kamu..apa kamu ke Jakarta Cuma karena kangen tempat ini ?” Tanyaku mengalihkan, sekaligus mencari jawaban, jawaban yang akan menunjukan perasaannya, begitu maksudku. Tapi....apa aku lagi-lagi salah bertanya, dia tampak mengusap pipinya, dengan wajah yang ia sembunyikan.
“Aku..ke Jakarta karena mau......” Katanya kemudian mengalihkan pandangannya ke arahku, aku dapat menatap jelas matanya yang berkaca-kaca, menunggu pelengkap kalimat sebelumnya,”Karena mau jemput Mama buat dateng ke pernikahanku, minggu depan.”
                                                                                        -----END-----


Tidak ada komentar:

Posting Komentar