Jumat, 06 Februari 2015

Sakit Hati Diam-Diam



Jatuh cinta diam-diam katanya menyakitkan..
Awalnya saja kita merasa bahagia,
Hanya dengan mencintainya diam-diam,
Hanya dengan memandanginya dari kejauhan.
Tanpa pernah membiarkan bahagia ini juga dirasakan olehnya,
Setidaknya bahagia karena ada seseorang yang mengaguminya,
Ada orang yang selalu tersenyum atas tingkahnya,
Ada orang yang bahagia atas hal kecil yang dia lakukan,
Iya, harusnya dia juga bahagia dengan semua yang kita lakukan diam-diam...
Padahal, jatuh cinta diam-diam juga akan membuat kita akan diam-diam rindu, diam-diam cemburu, bahkan sakit hati diam-diam.


Dibalik batang pohon ini,  yaa ntah mana bagian depan dari suatu batang pohon besar yang menjulang kemudian menyebar daun-daun di atasnya yang membuat teduh bagian bawahnya. Jika bagian depan pohon ini adalah sisi yang menghadap lapangan sepak bola, maka dibalik sisi itulah tempatku berdiri, dan mengintip ke arah lapangan sepak bola. Aku selalu ke tempat itu sebelum langit berubah senja, berlari kecil dari tempatku memarkirkan sepedaku, kemudian berhenti sambil berusaha mengintip lapangan sepak bola, setelah melihat sebentar, kemudian aku berjongkok kemudian duduk di balik pohon itu, mengatur nafas yang setengah habis akibat mengayuh sepeda dari rumah kemudian berlari ke tempat ini. Ku tengok lagi lapangan sepak bola, ya dia ada di sana.! belari mengejar bola, menggiringnya, menendangnya, dan sesekali mencetak gol di gawang lawan. Wajah lelahnya yang bercampur dengan keringat yang jatuh, selalu mampu membuat degupan aneh di dadaku, apalagi jika rambutnya sudah mulai agak basah karena keringat, aku yang memandangnya dari kejauhan saja seperti sudah sesak nafas dibuatnya, belum lagi kalau dia mampu mencetak gol, biasanya dia akan berlari keliling lapangan, berteriak-teriak kegirangan, kemudian menggoyang-goyangkan tubuhnya tak tentu, aku bisa tertawa terbahak-bahak dari sini kalau itu sudah terjadi. Memalukan yaaa...

Dia, apa yaa aku menyebutnya. Dia hanya anak SMA dari komplek sebelah yang selalu bermain sepak bola dengan anak laki-laki sekompleknya di lapangan bola yang letaknya justru di ujung komplek rumahku. Aku, awalnya aku menemukannya ketika aku keluar rumah sesaat setelah melihat Mama dan Papaku lagi-lagi bertengkar dengan hal yang tak aku tau, aku yang masih baru akan menginjak 15 tahun, tak berani melakukan apapun selain keluar dari rumah kemudian pergi ke lapangan sepak bola yang saat itu ramai dengan anak laki-laki yang bertanding sepak bola. Aku yang datang dengan pikiran kosong hanya memandangi lapangan dengan sesekali perhatianku tertarik oleh salah satu anak laki-laki yang masih mengenakan celana abu-abunya dengan atasan kaos putih polos, kala itu aku dibuat tersenyum geli melihat tingkahnya yang konyol. Sejak hari itu, aku selalu ntah kenapa aku selalu ingin mendatangi lapangan sepak bola itu dan mengintip dari balik pohon ini demi untuk melihat Kakak itu.

Sampai saat ini, sampai aku mengenakan rok abu-abu. Kakak itu masih saja di sana, dan aku masih saja di sini, memandanginya dari kejauhan. Jujur saja, namanya pun aku tak tau, apalagi sekolahnya, rumahnya, dan hal-hal lain tentangnya. Yang aku tau, dia gemar sekali bermain sepak bola dan hebat dalam mencetak gol. Ntah kenapa aku sangat tidak berani sedikit saja berpindah tempat untuk memandanginya, di sisi depan pohon ini misalnya, agar setidaknya dia melihat ke arahku. Hah, jangankan berpindah tempat..ketika dia ‘agak’ menengok ke arahku pun dadaku berdegup tak karuan, ‘agak’ ya kubilang, ntah benar dia menengok ke arahku atau tidak, aku pun tak tau, karena setelah aku menyadari dia akan menengok, aku segera bersembunyi di pohon ini. Saat-saat inilah, saat aku akhirnya menyadari...degupan ini..degupan dari cinta.

                Ini tahun keduaku di SMA dan aku masih saja melakukan kebiasaan itu, Kakak itu pun masih sesekali memakai celana abu-abunya, aku tebak sekarang dia kelas 3 SMA, hanya berjarak 1 tingkat denganku. Akhirnya, setidaknya aku mengetahui jarak umurku dengannya. Teman-teman sekolahku, sering bercerita tentang pacarnya, tentang lelaki yang menjadi teman hatinya, mereka pernah bertanya “Apa kamu memiliki pacar ?” aku menggeleng pelan, kemudian dilanjutkan pertanyaan “Apa kamu sedang jatuh cinta pada laki-laki ?” dan dengan malu-malu aku menganggukan kepala demi mengiyakan pertanyaan mereka, lalu salah satu dari mereka berkata “Berjuanglah, cinta itu perlu diperjuangkan.” Aku saat itu hanya mengangguk tanpa tau apa yang harus aku lakukan untuk ‘memperjuangkan’ cintaku, perlu atau tidak cintaku diperjuangkan saja aku tidak tau. Yang aku tau, aku bahagia hanya dengan melihatnya dari kejauhan dan yang pasti aku lebih senang berada di sini daripada menghadapi suasana rumah yang tak pernah berubah sejak pertama kali aku datang ke sini.

                Memasuki akhir semester 2 di tahun keduaku, Kakak itu mulai jarang datang untuk bermain sepak bola, awalnya aku khawatir dengan keadaannya, tapi akhirnya aku dapat menebak kalau dia sedang fokus pada ujiannya (mungkin). Padahal banyak alasan lain yang mungkin, seperti urusan dengan keluarganya, atau dengan teman-teman sekolahnya, atau bahkan....dengan pacarnya, tapi ntah kenapa, jujur saja aku selalu menolak memikirkan ini, tak pernah mau menerima jika saja dia memiliki perempuan yang ia cintai seperti aku mencintainya. Seperti hari ini, dia lagi-lagi tak ada di tengah lapangan bersama anak-anak lain, ntah kenapa aku berani berdiiri di sisi depan, atau samping pohon ini, kalau dia tidak ada. Ntah kenapa pula aku selalu datang ke tempat ini meski dia tak datang, bedanya aku hanya berdiri bersandar di batang pohon dan memandang kosong lapangan, dengan memikirkan ‘kenapa aku di sini ? kenapa aku begini ?’ kemudian pulang jika langit mulai berubah warnanya. Setidaknya ini lebih baik daripada suasana rumah yang tak pernah tenang, atau jika tenang pun, akan menjadi sangat tenang, tanpa perbincangan ringan di keluarga, tak ada kehangatan. Kadang aku sampai heran, Mama atau Papa tak pernah menanyakan darimana aku, pulang saat menjelang malam seperti ini, bahkan terkadang masih mengenakan seragam sekolahku.
“Stella, bisa kita bicara sebentar ?” kata mama, saat aku melewati ruang keluarga. Aku menuruti tanpa bicara. Duduk di salah satu kursi kemudian bersiap mendengarkan kalimat-kalimat yang pasti akan mengejutkan. Tak mungkin Mama mengajakku bicara jika itu tidak penting.
“Papa kamu akan pindah ke Makassar.” Kata Mama membuka pembicaraan, aku menatap Papa yang menundukkan kepalanya, ntah apa yang Papa pikirkan, wajahnya nampak bersalah, menyesal, ntahlah.
“Kamu pilih, ikut Mama di Jakarta, atau ikut Papa ke Makassar.” Lanjutnya. Aku mengalihkan pandangan pada Mama perlahan, aku kembali memandang Papah, meminta penjelasan. Nafas yang sedari tadi memang belum beraturan karena baru saja sampai di rumah, menjadi semakin tak beraturan mendengar ‘kamu pilih mana?’.
“Papah dan Mamah, resmi bercerai minggu lalu.” Tegas Papah. Perih. Dengan satu helaan nafas, aku berdiri dan bersiap meninggalkan pembicaraan menyakitkan ini.
“Stella...” Panggil Papa sebelum aku melangkah.
“Kasih Stella waktu Pa, Ma.” Dan aku berlalu meninggalkan mereka, keluar rumah.

                Aku berdiri di tempat yang sama seperti biasanya, seperti beberapa tahun lalu, di samping pohon di dekat lapangan sepak bola. Hanya saja saat ini, pandanganku terhalang oleh gelap. Perih, itu saja yang aku rasa. Ntahlah, tapi...meski aku sudah menduganya sejak lama, tapi ketika ini benar-benar terjadi, rasanya tetap sakit. Tak mengurangi sedikitpun perihnya meski aku sudah tau dengan yang akan terjadi. Aku harus ikut Papa atau Mama, itu juga yang selama ini aku fikirkan, tapi selama itu pula aku tak pernah mendapat jawaban yang pasti.

                Saat seperti inilah, aku ingin sekali Kakak itu datang, demi melukiskan sedikit saja senyum di bibirku dan menghibur aku yang kacau, menggantikan perihku dengan tingkah konyolnya. Namun, apalah aku ini, memintanya datang di malam seperti ini, apalagi untuk bermain sepak bola. Ternyata memang benar, jatuh cinta diam-diam juga membuat kita diam-diam merindukan atas dia yang bahkan tak pernah tau keberadaanku. Kalau sudah seperti ini, siapa yang menanggung perihnya rindu ini, aku juga....
“Hey.!” Aku memfokuskan mataku pada pemilik suara, orang yang tengah berlari menuju lapangan. Ya itu suara Kakak itu, tapi bukan...dia tak memanggilku, dia memanggil temannya yang masih berdiri di samping motornya. Ntah teman atau apalah, tapi perempuan itu terlihat mendekat pada Kakak itu, mereka berbicara, sebentar sebentar tertawa, saling mengejar, kemudian tertawa lagi. Kakak itu terlihat bahagia dengan orang itu, satu kenyataan yang tak mau kuterima terjadi lagi. Meski aku tau pasti ini akan terjadi, tapi ternyata benar jatuh cinta diam-diam akan berakhir dengan sakit hari diam-diam.

Ntah siapa pun perempuan itu, tapi sudah kuputuskan, Aku akan ikut Papa ke Makassar.!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar