Jatuh cinta diam-diam katanya menyakitkan..
Awalnya saja kita merasa bahagia,
Hanya dengan mencintainya diam-diam,
Hanya dengan memandanginya dari kejauhan.
Tanpa pernah membiarkan bahagia ini juga dirasakan olehnya,
Setidaknya bahagia karena ada seseorang yang mengaguminya,
Ada orang yang selalu tersenyum atas tingkahnya,
Ada orang yang bahagia atas hal kecil yang dia lakukan,
Iya, harusnya dia juga bahagia dengan semua yang kita lakukan
diam-diam...
Padahal, jatuh cinta diam-diam juga akan membuat kita akan diam-diam
rindu, diam-diam cemburu, bahkan sakit hati diam-diam.
Dibalik batang
pohon ini, yaa ntah mana bagian depan
dari suatu batang pohon besar yang menjulang kemudian menyebar daun-daun di
atasnya yang membuat teduh bagian bawahnya. Jika bagian depan pohon ini adalah
sisi yang menghadap lapangan sepak bola, maka dibalik sisi itulah tempatku
berdiri, dan mengintip ke arah lapangan sepak bola. Aku selalu ke tempat itu
sebelum langit berubah senja, berlari kecil dari tempatku memarkirkan sepedaku,
kemudian berhenti sambil berusaha mengintip lapangan sepak bola, setelah
melihat sebentar, kemudian aku berjongkok kemudian duduk di balik pohon itu,
mengatur nafas yang setengah habis akibat mengayuh sepeda dari rumah kemudian
berlari ke tempat ini. Ku tengok lagi lapangan sepak bola, ya dia ada di sana.!
belari mengejar bola, menggiringnya, menendangnya, dan sesekali mencetak gol di
gawang lawan. Wajah lelahnya yang bercampur dengan keringat yang jatuh, selalu
mampu membuat degupan aneh di dadaku, apalagi jika rambutnya sudah mulai agak
basah karena keringat, aku yang memandangnya dari kejauhan saja seperti sudah
sesak nafas dibuatnya, belum lagi kalau dia mampu mencetak gol, biasanya dia
akan berlari keliling lapangan, berteriak-teriak kegirangan, kemudian
menggoyang-goyangkan tubuhnya tak tentu, aku bisa tertawa terbahak-bahak dari
sini kalau itu sudah terjadi. Memalukan yaaa...
Dia, apa yaa
aku menyebutnya. Dia hanya anak SMA dari komplek sebelah yang selalu bermain
sepak bola dengan anak laki-laki sekompleknya di lapangan bola yang letaknya
justru di ujung komplek rumahku. Aku, awalnya aku menemukannya ketika aku keluar
rumah sesaat setelah melihat Mama dan Papaku lagi-lagi bertengkar dengan hal yang
tak aku tau, aku yang masih baru akan menginjak 15 tahun, tak berani melakukan
apapun selain keluar dari rumah kemudian pergi ke lapangan sepak bola yang saat
itu ramai dengan anak laki-laki yang bertanding sepak bola. Aku yang datang dengan
pikiran kosong hanya memandangi lapangan dengan sesekali perhatianku tertarik
oleh salah satu anak laki-laki yang masih mengenakan celana abu-abunya dengan
atasan kaos putih polos, kala itu aku dibuat tersenyum geli melihat tingkahnya
yang konyol. Sejak hari itu, aku selalu ntah kenapa aku selalu ingin mendatangi
lapangan sepak bola itu dan mengintip dari balik pohon ini demi untuk melihat
Kakak itu.
Sampai saat
ini, sampai aku mengenakan rok abu-abu. Kakak itu masih saja di sana, dan aku
masih saja di sini, memandanginya dari kejauhan. Jujur saja, namanya pun aku
tak tau, apalagi sekolahnya, rumahnya, dan hal-hal lain tentangnya. Yang aku
tau, dia gemar sekali bermain sepak bola dan hebat dalam mencetak gol. Ntah kenapa
aku sangat tidak berani sedikit saja berpindah tempat untuk memandanginya, di
sisi depan pohon ini misalnya, agar setidaknya dia melihat ke arahku. Hah,
jangankan berpindah tempat..ketika dia ‘agak’ menengok ke arahku pun dadaku
berdegup tak karuan, ‘agak’ ya kubilang, ntah benar dia menengok ke arahku atau
tidak, aku pun tak tau, karena setelah aku menyadari dia akan menengok, aku
segera bersembunyi di pohon ini. Saat-saat inilah, saat aku akhirnya
menyadari...degupan ini..degupan dari cinta.
Ini
tahun keduaku di SMA dan aku masih saja melakukan kebiasaan itu, Kakak itu pun
masih sesekali memakai celana abu-abunya, aku tebak sekarang dia kelas 3 SMA,
hanya berjarak 1 tingkat denganku. Akhirnya, setidaknya aku mengetahui jarak
umurku dengannya. Teman-teman sekolahku, sering bercerita tentang pacarnya,
tentang lelaki yang menjadi teman hatinya, mereka pernah bertanya “Apa kamu
memiliki pacar ?” aku menggeleng pelan, kemudian dilanjutkan pertanyaan “Apa
kamu sedang jatuh cinta pada laki-laki ?” dan dengan malu-malu aku menganggukan
kepala demi mengiyakan pertanyaan mereka, lalu salah satu dari mereka berkata
“Berjuanglah, cinta itu perlu diperjuangkan.” Aku saat itu hanya mengangguk
tanpa tau apa yang harus aku lakukan untuk ‘memperjuangkan’ cintaku, perlu atau
tidak cintaku diperjuangkan saja aku tidak tau. Yang aku tau, aku bahagia hanya
dengan melihatnya dari kejauhan dan yang pasti aku lebih senang berada di sini
daripada menghadapi suasana rumah yang tak pernah berubah sejak pertama kali
aku datang ke sini.
Memasuki
akhir semester 2 di tahun keduaku, Kakak itu mulai jarang datang untuk bermain
sepak bola, awalnya aku khawatir dengan keadaannya, tapi akhirnya aku dapat
menebak kalau dia sedang fokus pada ujiannya (mungkin). Padahal banyak alasan
lain yang mungkin, seperti urusan dengan keluarganya, atau dengan teman-teman
sekolahnya, atau bahkan....dengan pacarnya, tapi ntah kenapa, jujur saja aku
selalu menolak memikirkan ini, tak pernah mau menerima jika saja dia memiliki
perempuan yang ia cintai seperti aku mencintainya. Seperti hari ini, dia lagi-lagi
tak ada di tengah lapangan bersama anak-anak lain, ntah kenapa aku berani
berdiiri di sisi depan, atau samping pohon ini, kalau dia tidak ada. Ntah
kenapa pula aku selalu datang ke tempat ini meski dia tak datang, bedanya aku
hanya berdiri bersandar di batang pohon dan memandang kosong lapangan, dengan
memikirkan ‘kenapa aku di sini ? kenapa aku begini ?’ kemudian pulang jika
langit mulai berubah warnanya. Setidaknya ini lebih baik daripada suasana rumah
yang tak pernah tenang, atau jika tenang pun, akan menjadi sangat tenang, tanpa
perbincangan ringan di keluarga, tak ada kehangatan. Kadang aku sampai heran,
Mama atau Papa tak pernah menanyakan darimana aku, pulang saat menjelang malam
seperti ini, bahkan terkadang masih mengenakan seragam sekolahku.
“Stella, bisa kita bicara
sebentar ?” kata mama, saat aku melewati ruang keluarga. Aku menuruti tanpa
bicara. Duduk di salah satu kursi kemudian bersiap mendengarkan kalimat-kalimat
yang pasti akan mengejutkan. Tak mungkin Mama mengajakku bicara jika itu tidak
penting.
“Papa kamu akan pindah ke
Makassar.” Kata Mama membuka pembicaraan, aku menatap Papa yang menundukkan
kepalanya, ntah apa yang Papa pikirkan, wajahnya nampak bersalah, menyesal,
ntahlah.
“Kamu pilih, ikut Mama di
Jakarta, atau ikut Papa ke Makassar.” Lanjutnya. Aku mengalihkan pandangan pada
Mama perlahan, aku kembali memandang Papah, meminta penjelasan. Nafas yang
sedari tadi memang belum beraturan karena baru saja sampai di rumah, menjadi
semakin tak beraturan mendengar ‘kamu pilih mana?’.
“Papah dan Mamah, resmi bercerai
minggu lalu.” Tegas Papah. Perih. Dengan satu helaan nafas, aku berdiri dan
bersiap meninggalkan pembicaraan menyakitkan ini.
“Stella...” Panggil Papa sebelum
aku melangkah.
“Kasih Stella waktu Pa, Ma.” Dan
aku berlalu meninggalkan mereka, keluar rumah.
Aku
berdiri di tempat yang sama seperti biasanya, seperti beberapa tahun lalu, di
samping pohon di dekat lapangan sepak bola. Hanya saja saat ini, pandanganku
terhalang oleh gelap. Perih, itu saja yang aku rasa. Ntahlah, tapi...meski aku
sudah menduganya sejak lama, tapi ketika ini benar-benar terjadi, rasanya tetap
sakit. Tak mengurangi sedikitpun perihnya meski aku sudah tau dengan yang akan
terjadi. Aku harus ikut Papa atau Mama, itu juga yang selama ini aku fikirkan,
tapi selama itu pula aku tak pernah mendapat jawaban yang pasti.
Saat
seperti inilah, aku ingin sekali Kakak itu datang, demi melukiskan sedikit saja
senyum di bibirku dan menghibur aku yang kacau, menggantikan perihku dengan
tingkah konyolnya. Namun, apalah aku ini, memintanya datang di malam seperti
ini, apalagi untuk bermain sepak bola. Ternyata memang benar, jatuh cinta
diam-diam juga membuat kita diam-diam merindukan atas dia yang bahkan tak
pernah tau keberadaanku. Kalau sudah seperti ini, siapa yang menanggung
perihnya rindu ini, aku juga....
“Hey.!” Aku memfokuskan mataku
pada pemilik suara, orang yang tengah berlari menuju lapangan. Ya itu suara
Kakak itu, tapi bukan...dia tak memanggilku, dia memanggil temannya yang masih
berdiri di samping motornya. Ntah teman atau apalah, tapi perempuan itu
terlihat mendekat pada Kakak itu, mereka berbicara, sebentar sebentar tertawa,
saling mengejar, kemudian tertawa lagi. Kakak itu terlihat bahagia dengan orang
itu, satu kenyataan yang tak mau kuterima terjadi lagi. Meski aku tau pasti ini
akan terjadi, tapi ternyata benar jatuh cinta diam-diam akan berakhir dengan
sakit hari diam-diam.
Ntah siapa pun perempuan itu,
tapi sudah kuputuskan, Aku akan ikut Papa ke Makassar.!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar